Anda di halaman 1dari 24

Elektronika daya menggabungkan daya,

4.2 Sistem Pengendali elektronika dan kontrol. Daya terkait


Elektronika Daya dengan peralatan-peralatan daya baik
yang tidak bergerak maupun yang
4.2.1 Pendahuluan berputar untuk pembangkitan, transmisi
dan distribusi daya listrik. Elektronika
Elektronika daya merupakan salah satu terkait dengan piranti-piranti dan
bagian bidang ilmu teknik listrik yang rangkaian solid-state untuk pemrosesan
berhubungan dengan penggunaan sinyal listrik guna mendapatkan tujuan
komponen-komponen elektronika untuk pengendalian yang dikehendaki. Kontrol
pengendalian daya yang besar. Era menyangkut sistem kontrol operasi
elektronika daya dimulai dengan peralatan dan sistem agar dapat
teknologi tabung daya tinggi seperti beroperasi sesuai yang diharapkan.
thyratron, ignitron dan penyearah Jadi, Elektronika daya merupakan
merkuri. Dengan ditemukannya aplikasi dari elektronika solid-state untuk
komponen-komponen semikonduktor kontrol dan konversi tenaga listrik.
seperti SCR, triac, dan lain-lain Berikut ini adalah gambaran tentang
membuat elektronika daya menjadi ruang lingkup elektronika daya yang
bagian yang sangat penting dalam meliputi: penyearah, inverter, DC
pengendalian daya listrik yang besar chopper, dan regulator AC.
dan sangat luas penggunaannya.

Gambar 4.25 Ruang lingkup


elektronika daya

297
4.2.1.1 Penyearah • Pembangkitan tegangan AC tetap
frekuensi 50 Hz dari sumber DC yang
Penyearah adalah suatu alat yang
diperoleh dari baterai, pembangkit
digunakan untuk mengubah arus AC
listrik tenaga angin, sel surya.
menjadi DC. Pada umumnya, dari
• Kontrol kecepatan motor induksi fasa-
sumber tegangan AC dan frekuensi
yang tetap menjadi tegangan DC baik tiga dan motor sinkron
tetap maupun berubah. Penyearah yang • Uninterrupted Power Sistems (UPS)
mempunyai tegangan keluaran tetap, • Catu daya standby, dan lain-lain
atau penyearah tak terkontrol,
digunakan untuk mencatu daya DC 4.2.1.4 Dc-Chopper
pada peralatan-peralatan yang tidak
memerlukan pengaturan daya masukan Dc-chopper digunakan untuk mengubah
dalam operasinya. tegangan DC tetap menjadi tegangan
DC variabel. Dc-chopper digunakan
Sedangkan penyearah yang mempunyai untuk mengendalikan kecepatan motor
tegangan keluaran dapat diubah-ubah, DC dengan sumber dari baterai atau
atau penyearah terkontrol, terutama catu daya DC.
untuk peralatan-peralatan listrik yang
dalam operasinya memerlukan penga-
turan daya, misalnya untuk kontrol 4.2.2 Komponen
kecepatan pada motor DC. Semikonduktor Daya
4.2.1.2 Regulator AC 4.2.2.1 Dioda Daya
Regulator AC digunakan untuk Dioda daya merupakan salah satu
mendapatkan tegangan keluaran AC komponen semikonduktor yang banyak
yang dapat diubah-ubah dari sumber digunakan dalam rangkaian elektronika
tegangan AC yang tetap. Alat ini banyak daya seperti pada rangkaian penyearah,
digunakan untuk mengatur freewheeling (bypass) pada regulator-
pencahayaan lampu, pemanas, dan regulator penyakelaran, rangkaian
motor-motor AC. Ada dua macam pemisah, rangkaian umpan balik dari
regulator AC, yaitu kontrol On-Off dan beban ke sumber, dan lain-lain. Dalam
kontrol sudut fasa. penerapannya, seringkali, dioda daya
4.2.1.3 Inverter dianggap sebagai saklar ideal walaupun
dalam prakteknya ada perbedaan.
Inverter adalah alat yang digunakan • Konstruksi dioda
untuk mengubah tegangan DC menjadi Konstruksi dioda daya sama dengan
tegangan AC. Jenis-jenis tegangan DC dioda-dioda sinyal sambungan pn.
yang dikonversikan ke AC antara lain Bedanya adalah dioda daya mempunyai
adalah: kapasitas daya (arus, tegangan) yang
• Tegangan DC baterai diubah menjadi lebih tinggi dari dioda-dioda sinyal biasa,
tegangan AC dengan frekuensi tetap namun kecepatan penyaklarannya lebih
atau berubah, fasa-satu atau fasa-tiga rendah. Dioda daya merupakan
• Tegangan sumber AC disearahkan, komponen semikonduktor sambungan
kemudian diubah menjadi AC kembali PN yang mempunyai dua terminal, yaitu
dengan frekuensi tetap maupun terminal anoda (A) dan katoda (K).
berubah, fasa-satu atau fasa-tiga Gambar 4.26 menunjukkan simbol dan
Aplikasi inverter, antara lain adalah: konstruksi dioda.

298
tegangan anoda lebih positif dibanding-
kan dengan katoda, dioda dikatakan
dalam keadaan bias-maju (forward
biased). Sebaliknya, bila tegangan
anoda lebih negatif dari katoda, dioda
dikatakan dalam keadaan bias-mundur
(reverse biased).
• Karakteristik bias-maju

Gambar 4.26 Simbol dan konstruksi dioda


Bila dioda dihubung dalam keadaan
bias-maju, di mana potensial Anoda
• Karakteristik Dioda lebih tinggi dibandingkan Katoda atau
Karakteristik dasar dioda dikenal VAK > 0 dan bila tegangan VAK lebih be-
dengan karakteristik V-I. Karakterisik ini sar dari tegangan cut-in atau tegangan
penting untuk dipahami agar tidak terjadi threshold atau tegangan turn-onnya, Vct
kesalahan dalam aplikasi dioda. Dalam (0,7 V untuk silikon, 0,4 V germanium),
karakteristik ini dapat diketahui maka dioda akan konduksi (mengalirkan
keadaan-keadaan yang terjadi pada arus) atau ON. Besar arus yang
dioda ketika mendapat tegangan bias- mengalir ditentukan oleh tegangan
maju (forward biased) dan tegangan sumber dan beban yang terpasang.
bias-mundur (reverse biased) seperti Dalam keadaan konduksi ini ada satu
ditunjukkan pada Gambar 4.27. hal yang sangat penting untuk diketahui
adalah terjadinya tegangan jatuh maju
yang besarnya tergantung pada proses
produksi dan temperatur sambungan-
nya. Namun bila VAK < Vct , dioda masih
dalam keadaan OFF, walaupun ada
arus yang mengalir namun sangatlah
kecil. Arus disebut arus bocor arah
maju.
• Karakteristik bias-mundur dan
tegangan dadal
Jika VA K < 0 atau anoda lebih negatif da-
ri katoda dikatakan dioda dalam kea-
daan bias-mundur. Dalam keadaan ini
dioda dalam keadaan tidak konduksi
atau OFF. Dalam keadaan ini ada arus
yang yang mengalir dari arah katoda ke
anoda yang sangat kecil, dalam orde
mikro atau miliamper. Arus ini disebut
Gambar 4.27 Karakteristik dioda arus bocor.
a) Bias-maju, Jika tegangan mundur (VKA) melebihi
b) Bias-mundur, suatu tegangan yang telah ditentukan,
c) Karakteristik V-I
yang dikenal dengan tegangan dadal
(breakdown voltage), VBR , maka arus
Jika kedua terminal dioda disambung- arah mundur akan meningkat tajam
kan ke sumber tegangan dimana

299
dengan sedikit perubahan pada tegang- ini mempunyai rating arus lebih kecil
an Vbr. Keadaan ini tidak selalu dari 1 A sampai ratusan ampere,
merusak dioda bila masih terjaga pada dengan dari 50 V sampai 3 kV.
level aman seperti yang ditentukan
• Dioda Schottky
dalam data sheetnya. Bila tidak, maka
Dioda Schottky dibangun dengan mere-
dioda akan rusak.
kayasa pada sambungan PN sehingga
• Rating dioda sangat cocok untuk aplikasi-aplikasi
Ada dua rating dioda daya yang paling catu daya DC dengan arus tinggi dan
penting untuk diketahui, yaitu tegangan tegangan rendah. Rating tegangan
dadal arah-mundur (reverse breakdown dibatasi sampai 100 V dengan arus dari
voltage), dan arus arah-maju 1 – 300 A. Walaupun begitu, diode ini
maksimumnya (forward current). Harga juga cocok digunakan untuk catu daya
dioda meningkat dengan semakin tinggi arus rendah untuk meningkatkan
kedua rating ini. Oleh karena itu, dalam efisiensinya.
aplikasinya, dioda dioprasikan
4.2.2.3 Thyristor
mendekati tegangan puncak-mundur
maksimum dan rating arus majunya. Thyristor atau SCR (Silicon-Controlled
Jadi, dioda akan konduksi bila VAK > Vcut - Rectifier) adalah piranti semikonduktor
yang sangat penting dalam aplikasi
in. Dioda akan Off bila VA K < Vcut -in atau
VAK < 0. elektronika daya. Hal ini tidak lepas dari
kemampuan yang dimiliki, yakni
4.2.2.2 Jenis-jenis dioda kemampuan penyakelarannya yang
Berdasarkan karakteristik dan batasan- cepat, kapasitas arus dan tegangan
batasan dalam penerapannya, dioda yang tinggi serta ukurannya yang kecil.
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, Komponen ini dioperasikan sebagai
yaitu dioda standard (dioda untuk saklar dari keadaan tidak konduksi (Off)
keperluan umum), dioda kecepatan menjadi konduksi (On).
tinggi, dan dioda Schottky.
• Konstruksi dan Karakteristik SCR
• Dioda standard Thyristor merupakan piranti
Dioda standar ini merupakan jenis dioda semikonduktor empat lapis pnpn, yang
yang digunakan untuk keperluan umum. mem-punyai tiga terminal, yaitu Anoda,
Dioda ini digunakan dalam aplikasi- Katoda dan Gate seperti ditunjukkan
aplikasi kecepatan rendah, seperti pada Gambar 4.28.
penyearah dan konverter dengan
frekuensi masukan sampai 1 kHz. Dioda
ini mempunyai rating arus dari 1 sampai
ribuan ampere dan tegangan dari 50 V
sampai 5 kV.
• Dioda kecepatan tinggi
Dioda jenis ini mempunyai kemampuan
penyaklaran dengan dengan kecepatan
yang lebih tinggi dari dioda standard.
Gambar 4.28 Simbol dan konstruksi thyristor
Oleh karena itu, dalam penggunaannya
biasa diaplikasikan pada rangkaian DC- Jika tegangan anoda dibuat positif
chopper (DC-DC) dan inverter (DC-AC) terhadap katoda maka sambungan J 1
di mana aspek kecepatan merupakan dan J3 mendapat bias maju sebaliknya
faktor yang sangat penting. Diode jenis J2 mendapat bias mundur sehingga ada

300
arus bocor kecil yang mengalir dari akan kembali pada keadaan off. Arus
katoda ke anoda. Dalam keadaan holding ini dalam ukuran miliampere dan
seperti ini, thyristor dalam keadaan off lebih rendah dari arus latchingnya. Jadi
(terhalang) dan arus bocor keadaan off. arus holding IH adalah arus anoda
minimum yang menjaga agar thyristor
Jika tegangan anoda-katoda, VA K
dalam keadaan on.
dinaikkan terus sampai suatu harga
tertentu sehingga mampu menjebol J2, Apabila tegangan katoda lebih tinggi
thyristor dikatakan dalam keadaan terhadap anoda, sambungan J2 meng-
breakdown bias maju. Tegangan yang alami bias maju sementara J1 dan J3
menyebabkan breakdown ini disebut mengalami bias mundur. Thyristor akan
VBO. Karena J1 dan J3 dalam keadaan menjadi dalam keadaan off dan akan
bias maju maka akan mengalir arus ada arus kecil yang mengalir yang
yang sangat besar dari anoda ke katoda disebut arus bocor bias mundur, IR .
dan thyristor dikatakan dalam keadaan Namun bila tegangan katoda-anoda
konduksi atau On. Jatuh tegangan maju dinaikkan terus sampai mencapai
merupakan jatuh tegangan akibat tegangan dadalnya, maka akan ada
resistansi dari keempat-lapisan, yang arus yang tinggi mengalir dari arah
besarnya, tipikal 1 V. Dalam keadaan katoda ke anoda yang mengakibatkan
On ini arus anoda dibatasi oleh beban rusaknya thyristor.
luar. Arus anoda harus lebih besar dari
Dalam operasi normalnya, tegangan VA K
arus latchingnya, IL agar piranti ini tetap
selalu ada di bawah VB O, dan VKA selalu
dalam keadaan On. IL merupakan arus
di bawah VBD . Dengan VAK yang lebih
anoda minimum yang diperlukan agar
rendah dari VBO , untuk membuat thyris-
thyristor tetap dalam keadaan On, bila
tor menjadi on dilakukan dengan mem-
tidak, piranti ini akan kembali pada
berikan tegangan positif pada terminal
keadaan Off bila tegangan anoda ke
gate-nya terhadap katoda. Dengan
katodanya diturunkan. Karakteristik v-i
memberikan tegangan positif pada gate
tipikal thyristor ditunjukkan pada
sama halnya dengan memberikan arus
Gambar 4.29.
gate, IG membuat thyristor dari off
menjadi on. Semakin besar IG maka
tegangan arah maju untuk membuat
thyristor konduksi semakin rendah
seperti yang ditunjukkan pada Gambar
2.29, karakteristik forward. Sekali arus
trigger diberikan akan membuat thyristor
on dan selama arus anodanya tidak
kurang dari arus holdingnya maka
thyristor akan tetap on walaupun arus
triggernya dihilangkan.
Gambar 4.29 Karakteristik thyristor • Rangkaian trigger
Ada tiga hal yang penting dalam kaitan-
Sekali thyristor konduksi maka sifatnya nya dengan rangkaian penyalaan
sama seperti dioda dalam keadaan (trigger) suatu thyristor, yaitu:
konduksi dan tidak dapat dikontrol. 1. pemilihan rangkaian yang cocok
Namun, apabila arus diturunkan sampai guna mencatu sinyal penyalaan
dengan arus holdingnya, IH thyristor

301
2. penentuan tegangan dan arus • Proteksi di/dt
trigger maksimum agar rating di/dt adalah tingkat perubahan arus
gatenya tidak dilampaui yang mengalir melalui thyristor ketika
3. penentuan tegangan dan arus gate terjadi perubahan kondisi dari off ke on.
minimum untuk memastikan bahwa Ketika terjadi perubahan keadaan dari
bila sinyal penyalaan diberikan off ke on, maka akan terjadi tingkat
thyristor akan konduksi (on). perubahan arus di/dt ini. Tingkat peru-
Banyak model rangkaian yang bisa bahan arus ini harus dibatasi untuk
dipilih sebagai rangkaian trigger untuk menghindari pemanasan lebih pada
menyalakan thyristor. Sebelum daerah sambungan (junction) yang bisa
rangkaian dirancang untuk mentrigger mengakibatkan rusaknya komponen.
suatu thyristor, spesifikasi gate harus Oleh karena itu, di/dt harus di bawah
diperhatikan. Spesifikasi gate untuk spesifikasi di/dt maksimum komponen.
dapat dilihat dari data sheet pabrik Hal ini dapat dilakukan dengan mema-
pembuatnya. sang induktor L secara seri dengan
komponen. Secara pendekatan, di/dt
• Proteksi thyristor maksimum dapat dihitung melalui
Setiap thyristor akan mengalami persamaan:
pemanasan akibat arus yang mengalir di
di/dt maks = Vm/L [A/s],
dalamnya. Pemanasan ini harus dibatasi
untuk mencegah dari panas lebih yang di mana Vm adalah tegangan masukan
bisa mengakibatkan rusaknya maksimum (V) dan L adalah induktansi
komponen. Untuk menghindari dari (L) induktor yang dipasang seri.
pemanasan lebih, setiap thyristor atau
satu kelompok thyristor selalu dipasang • Proteksi dv/dt
dengan alat pendinginnya sesuai Proteksi terhadap tegangan lebih
dengan kapa-sitasnya. dilakukan dengan memasang rangkaian
Selain itu komponen ini juga harus RC secara paralel dengan thyristor
diamankan dari: (a) arus beban lebih, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
(b) di/dt dan c) dv/dt). 4.31.
• Proteksi dari arus beban lebih
Untuk mengatasi dari arus beban lebih,
thyristor diamankan dengan sekering
(pengaman lebur). Pemasang-an peng-
aman ini bisa dilakukan melalui peng-
amanan fasa atau pengamanan cabang
seperti ditunjukkan pada Gambar 4.30.

Gambar 4.31 Proteksi terhadap tegangan


lebih
Setiap thyristor mempunyai spesifikasi
dv/dt maksimumnya. Ketika thyristor
berubah dari keadaan off ke on, maka
akan terjadi tingkat perubahan tegangan
yang sangat cepat yang disebut dengan
Gambar 4.30 Proteksi dari arus beban lebih:
proteksi fasa dan proteksi cabang dv/dt. Tingkat perubahan tegangan ini
tidak boleh melebihi dv/dt maksimum-

302
nya. Bila ini terjadi, maka thyristor akan Piranti dengan struktur lima-lapis ini
on dengan sendirinya sehingga tidak dapat dibentuk secara tunggal seperti
bisa dikendalikan lagi. Hal ini harus di- ditunjukkan pada Gambar 4.33.
cegah, yaitu dengan memasang RC ini
paralel dengan thyristor. Rangkaian RC
ini dikenal dengan rangkaian Snubber.
Secara pendekatan dv/dt dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan:

dv V L
= dan R =
dt LC C
Jadi, dengan pemilihan L, C, dan R Gambar 4.33
pada rangkaian, dv/dt pada thyristor Komponen semikonduktor lima-lapis:
dapat dibatasi pada harga yang aman. a) tanpa gate, b) dengan gate
Tipikal, C = 0,1µF, R=100 O – 1 k O.
Apabila terminal A1 positif terhadap A2
Dari uraian yang telah dijelaskan di atas
sebesar suatu tegangan yang besarnya
dapat disimpulkan hal-hal sebagai
melampaui tegangan breakovernya,
berikut:
piranti ini akan break over sebagaimana
• Thyristor akan On pada dua kondisi: thyristor (P2, N2, P1, N1). Untuk arah
(1) VAK = VBO ; (2) 0 < VAK < BO dan IG
terbalik lapisan P1, N2, P2, N3 akan
> 0; dan dv/dt melebihi spesifikasi
breakover pada arah tegangan yang
dv/dt (data sheet) komponen.
berlawanan.
• Thyristor dalam keadaan Off pada
kondisi: (1) VAK < VBO dan IG = 0; (2) Piranti lima-lapis tanpa gate dapat
VAK > 0, IG > 0; (3) VAK<0 dengan IG dirancang untuk bermacam-macam
> 0 atau IG <0 tegangan dan arus break over.
• Diac dan Triac Bangunan piranti ini ditunjukkan pada
gambar 4.33 (a). Piranti ini akan break
Piranti semikonduktor empat-lapis over pada kuadrant 1 dan kuadrant 3
hanya dapat mengalirkan arus pada sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
satu arah saja. Agar dapat mengalirkan 2.34, dengan rating tegangan dan arus
arus dua arah dapat diperoleh dengan ditentukan sesuai dengan tipenya.
menghubungkan dua piranti empat-lapis Piranti ini disebut Diac. Jadi, diac
secara berlawanan sehingga merupakan piranti semikonduktor lima-
membentuk struktur lima-lapis seperti lapis tanpa gate yang bekerjanya pada
yang ditunjukkan pada Gambar 4.32. tegangan break overnya baik pada arah-
maju maupun mundur. Karena
karakteristik inilah diac digunakan dalam
rangkaian trigger guna mentrigger
(mengaktifkan) piranti semikonduktor
daya lain.

Gambar 4.32 Dua komponen 4-lapis


dihubungkan secara berlawanan

303
Dalam pengoperasian triac, diperlukan
pentriggeran sebagai berikut:
1. Apabila A2 positif terhadap A1,
begitu juga gatenya, maka triac akan
beroperasi pada kuadrant 1;
2. Apabila A2 positif terhadap A1,
sedangkan gate negatif terhadap A1
maka triac juga akan beroperasi
pada kuadrant 1;
3. Apabila A2 negatif terhadap A1, dan
Gambar 4.34 Simbol dan karakteristik diac gatenya positif terhadap A1, maka
triac akan beroperasi pada kuadrant
3;
4. Apabila A2 negatif terhadap A1, dan
gatenya negatif terhadap A1, maka
Gambar 4.35 Contoh diac triac akan beroperasi pada kuadrant
Piranti semikonduktor lima-lapis dengan 3 juga.
gate disebut Triac, yang konstruksinya Catatan: Kondisi 3 biasanya tidak
ditunjukkan pada Gambar 4.33 (b). digunakan dalam praktek karena kondisi
Dengan adanya gate pada triac triac kurang sensitif.
memungkinkan untuk mengubah
karakteristik V-I dengan memasukkan
atau mengeluarkan arus ke/dari piranti
ini sehingga dapat break over pada
tegangan yang lebih rendah dari
tegangan break over normalnya (tanpa
arus gate).
Gambar 4.37 Contoh spesifikasi triac

4.2.3 Penyearah
Penyearah adalah alat yang digunakan
untuk mengubah arus AC menjadi DC.
Secara umum, penyearah dibagi men-
jadi dua, yaitu penyearah tidak terken-
dali dan penyearah terkendali. Dari
masing-masing kelompok kemudian
dibagi berdasarkan sumber tegangan
masukannya, yaitu fasa-satu atau fasa-
tiga. Penyearah fasa-tiga dimaksudkan
untuk daya yang lebih besar. Berikut ini
Gambar 4.36 Simbol dan karakteristik Triac adalah ikhtisar penyearah.
Bila thyristor hanya beroperasi pada
daerah forward, triac bekerja pada
kedua bias-nya, arah maju dan mundur
(Gambar 4.36). Sinyal trigger
diaplikasikan antara gate dan A1.

304
• Penyearah fasa-satu satu pulsa
E1U
Penyearah fasa-tunggal setengah
gelombang merupakan jenis penyearah
yang paling sederhana, dan tidak biasa
digunakan dalam aplikasi industri.
Walaupun begitu, konsep yang dimiliki
sangat membantu dalam memahami
prinsip operasi penyearah. Penyearah
fasa-tunggal setengah gelombang atau
sering disebut penyearah satu pulsa
dengan beban R ditunjukkan pada
Gambar 4.38 Ikhtisar penyearah dan simbol-
simbolnya
Gambar 4.39.

4.2.3.1 Penyearah Tidak


Terkontrol
Dioda digunakan dalam elektronika
daya terutama untuk mengubah daya
AC menjadi DC. Pengubah daya AC
menjadi DC disebut penyearah
(rectifier). Penyearah yang menggu-
nakan dioda adalah penyearah yang
tegangan keluarannya tetap.
Untuk memberikan gambaran yang
mendasar tentang aplikasi dioda dalam
elektronika daya, pada bagian ini akan
dibahas tentang rangkaian-rangkaian
dioda yang melibatkan jenis-jenis beban
dan penyearah tidak terkendali. Gambar 4.39 Penyearah E1U
Rangkaian dioda dengan bermacam-
macam beban dimaksudkan untuk Selama setengah gelombang pertama
memberikan landasan dasar tentang tegangan masukan, dioda D1 mendapat
dampak beban dalam rangkaian. tegangan bias maju dan menjadi
konduksi sehingga arus mengalir ke
Sedangkan jenis-jenis rangkaian beban dan tegangan masukan muncul
penyearah dimaksudkan untuk pada beban yang disebut tegangan
memberikan pemahaman tentang keluaran DC, Vd. Kemudian setengah
perilaku penyearah yang tidak hanya gelombang berikutnya, D1 mendapat
penting untuk aplikasi dioda saja namun bias mundur membuat dioda dalam
sangat diperlukan bagi pengembangan keadaan terhalang (blocking state)
konsep untuk aplikasi-aplikasi sehingga tegangan pada beban atau
elektronika daya selanjutnya. Untuk tegangan keluaran, Vd, adalah nol
mempermudah pemahaman, pada sebagaimana ditunjukkan secara
bahasan ini dioda ditinjau dari sisi lengkap pada Gambar 4.39. Karena
idealnya, di mana faktor kecepatan dan gelombang tegangan yang muncul pada
jatuh tegangan maju diabaikan. beban hanya satu gelombang atau

305
setengah gelombang penuh, maka • Faktor ripel (ripple factor) yang
penyearah ini sering disebut penyearah merupakan ukuran dari muatan ripel,
satu pulsa atau setengah gelombang. didefinisikan sebagai:
RF = Vac /VDC
4.2.3.1.1 Parameter-parameter
• Faktor ripel juga dapat dinyatakan
unjuk kerja penyearah dalam bentuk:
Unjuk kerja suatu penyearah penting RF = v ((Vrms/VDC )2-1) =v(FF2-1)
untuk diketahui sebagai antisipasi
terhadap dampak negatif yang ditimbul- Contoh:
kannya baik yang terkait dengan hasil Sebuah penyearah seperti pada
penyearahan maupun terhadap kualitas Gambar 4.39 mempunyai beban resistif
daya pada sisi sumber. Sebagai contoh, murni R. Tentukan (a) efisiensi, (b)
terlihat nyata bahwa hasil penyearahan faktor bentuk, (c) faktor ripel, dan (d)
merupakan bentuk gelombang pulsa faktor pemanfaatan trafo.
yang mengandung harmonisa.
Jawaban:
Harmonisa ini, disamping
Tegangan keluaran DC:
mempengaruhi kualitas hasil
VDC = Vm /p = 0,318 Vm ,
penyearahan juga sumber dayanya.
IDC = VDC /R = 0,318 Vm /R.
Banyak jenis penyearah, namun pada Tegangan keluaran efektif (rms):
umumnya, unjuk kerja dievaluasi melalui Vrms = Vm /2 = 0,5 Vm
parameter-parameter seperti yang akan Irms = Vrms/R = 0,5 Vm /R
dijelaskan berikut ini. Daya keluaran DC:
PDC =VDC IDC = (0,318 Vm )2/R
• Tegangan keluaran rata-rata, arus
Daya keluaran AC:
keluaran rata-rata, IDC ,
Pac = Vrms Irms = (0,5 Vm )2/R
• Daya keluaran DC: Efisiensi
PDC = VDC IDC
? =PDC /Pac=VDC . VDC /R
• Tegangan keluaran efektif (rms), =(0,318 Vm )2/(0,5 Vm )
Vrms = 40,5 %
• Arus keluaran efektif, Irms Faktor bentuk FF=Vrms/VDC
• Daya keluaran AC: =0,5 Vm /0,318 Vm
Pac = Vrms Irms = 1,57 atau 157 %
• Efisiensi penyearah merupakan hasil Faktor ripel RF = v (FF2-1) = 1,21
bagi antara daya keluaran DC dan atau 121 %
daya keluaran AC atau:
? = PDC /Pac 4.2.3.1.2 Penyearah dua-pulsa,
• Tegangan keluaran dari suatu rangkaian jembatan B2U
penyearah terdiri atas dua
komponen, yaitu komponen DC dan Penyearah dua-pulsa atau fasa-satu
komponen AC atau ripel (denyut). gelombang penuh dapat dibentuk
• Harga efektif komponen AC adalah: dengan menggunakan rangkaian trafo
Vac = v(V2rms – V2DC ) center-tap atau rangkaian jembatan.
• Faktor bentuk (form factor) yang Penyearah center-tap hanya
merupakan ukuran dari bentuk menggunakan trafo center-tap dan dua
tegangan keluaran adalah: dioda. Sedangkan penyearah rangkaian
FF = Vrms/VDC jem-batan menggunakan empat dioda.
Rangkaian ini merupakan rangkaian

306
penyearah fasa-tunggal gelombang sehingga kedua dioda menjadi Off.
penuh yang paling umum digunakan. Dalam keadaan D1 dan D4 On, maka
Rangkaian selengkapnya ditunjukkan arus IZ1 akan mengalir dari polaritas
pada Gambar 4.40. tinggi sumber (trafo) melalui D1 ke
beban kemudian ke D4 dan kembali ke
4.2.3.1.3 Prinsip kerja rangkaian polaritas rendah sumber sehingga
tegangan muncul pada sisi keluaran,
Diketahui bahwa tegangan masukan v 1
yang disebut tegangan keluaran DC, Vd
adalah sinusoidal dan arus listrik
dan arus arus beban Id sama dengan IZ1.
mengalir dari polaritas tinggi ke polaritas
rendah pada sumbernya (dalam hal ini Pada setengah perioda berikutnya, pola-
sumber diperoleh dari sekunder ritas sumber berubah yang tadinya ren-
tranformator). dah menjadi tinggi. Dalam keadaan ini
D3 dan D2 mendapat bias-maju
sehingga kedua dioda tersebut menjadi
On, dan sebaliknya D1 dan D4
mendapat bias-mundur sehingga kedua
dioda dalam keadaan Off. Arus mengalir
dari sumber IZ2 melalui D3 ke beban dan
kemudian ke D1 dan kembali ke sumber
sehingga tegangan Vd muncul pada sisi
keluaran.
Untuk rangkaian ini berlaku rumus-
rumus sebagai berikut:
• Tegangan dan arus keluaran DC:
2 2Vm
Vd c = Vm sin ωt dt = = 0, 6336 Vm
T π
Vdc 0,6366 Vm
I dc = =
R R

• Tegangan dan arus keluaran rms


1/ 2
Gambar 4.40 Penyearah B2U Ø2
Vrms = Œ
T /2 ø
(Vm sin ω t ) 2 œ =
Vm
= 0, 0707Vm
a) Rangkaian; b) tegangan masukan; c) ºT 0
ß 2
tegangan keluaran Vrms 0,707Vm
I rms = =
R R
Walaupun sama fungsinya, di pasaran
ada beberapa gambar dengan bentuk
tampilan yang berbeda seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 4.41.
Gambar 4.41 Jenis tampilan rangkaian
jembatan 4.2.3.1.4 Penyearah fasa-tiga,
Pada setengah perioda pertama dari v 1, tiga-pulsa, tidak
dioda D1 dan D4 sama-sama dalam terkendali M3U
keadaan bias-maju sehingga kedua Penyearah penyearah fasa-tiga, tiga
dioda menjadi On (konduksi), sebaliknya pulsa, tidak terkendali fasa-tiga, disebut
D3 dan D2 mendapat bias-mundur juga penyearah fasa-tiga hubungan

307
bintang tidak terkendali. Tegangan 4.2.3.1.5 Prinsip kerja rangkaian
masukan dari penyearah ini adalah
tegangan fasa-tiga, yaitu L1, L2, dan L3. Apabila rangkaian dihubungkan dengan
Pada masing-masing saluran dipasang sumber fasa-tiga sebagaimana yang
satu dioda. Rangkaian dan hubungan ditunjukkan oleh Gambar 4.43, maka
antara gelombang tegangan masukan akan mengalir arus IZ 1 melalui D1 mulai
sudut fasa 30° selama 120°, sementara
dan keluaran ditunjukkan pada Gambar
D2 dan D3 dalam keadaan off.
4.42.
Kemudian setelah D1 mengalirkan arus
Pada gambar ini memperlihatkan dua selama 120°, D1 kemudian kembali off
rangkaian yang berbeda. Gambar 4.42 dan D2 mulai konduksi dan
a) memperlihatkan bahwa ketiga saluran menghantarkan arus IZ 2, sementara D3
masukan, masing-masing dihubung ke dan D1 masih dalam keadaan off. Baru
anoda masing-masing dioda, sedangkan setelah D2 menghantarkan arus selama
katoda dari ketiga dioda dihubung 120°, baru D3 dalam keadaan konduksi
menjadi satu (dihubung bintang). dan menghantarkan arus IZ3, D2 kembali
Karena ujung-ujung katoda yang off dan D1 masih dalam keadaan off.
disatukan, rangkaian ini disebut Demikian, proses ini terjadi berulang.
rangkaian M3UK. Sebaliknya Gambar
4.42 b) anoda dari ketiga dioda yang 4.2.3.1.6 Penyearah fasa-tiga,
dihubung menjadi satu, oleh karena itu, enam-pulsa, rangkaian
rangkaian tersebut disebut M3UA. jembatan, tidak
terkendali B6U
Penyearah fasa-tiga jembatan seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 3.44,
sangat umum digunakan dalam aplikasi
daya-tinggi. Penyearah ini merupakan
penyearah fasa-tiga gelombang penuh.

Gambar 4.42 Rangkaian penyearah M3U

Gambar 4.44 Penyearah B6U

Penyearah ini mempunyai tegangan


keluaran 6-pulsa. Dioda-dioda diberi
penomoran sesuai dengan urutan
konduksinya dan masing-masing dioda
Gambar 4.43 Bentuk tegangan keluaran konduksi selama 120°. Urutan konduksi
penyearah M3U dioda adalah 12, 23, 34, 45, 56, dan 61.

308
Pasang-dioda yang terhubung dengan
dua tegangan saluran yang mempunyai
tegangan tertinggi akan konduksi.
Tegangan antar saluran adalah v3 kali
tegangan fasa dari sistem fasa-tiga
hubungan bintang.

Gambar 4.45 Bentuk gelombang tegangan


dan dioda-dioda yang konduksi

Tabel 4.1 Ikhtisar penyearah

Penyearah
Jenis Penyearah Penyearah Dua- Penyearah Enam-
Tiga-Pulsa, Titik
Rangkaian Satu-Pulsa Pulsa Jembatan Pulsa Jembatan
Bintang
Kode E1U B2U M3U B6U
Rangkaian

Tegangan
tanpa
beban

Vdi
0,45 0,9 0,68 1,35
V1
Faktor
1,21 0,48 0,18 0,04
ripel
PT
3,1 1,23 1,5 1,1
Pd
Id Id Id
IZ Id
2 3 3
Vdi : tegangan DC-tanpa beban, V1: tegangan AC, PT: daya trafo, Pd: daya DC, Vd: tegangan DC-
berbeban, I d: arus DC, I Z: arus yang mengalir melalui satu dioda

309
4.2.3.2 Penyearah Terkendali Gambar 4.46 menunjukkan prinsip kerja
dari penyearah satu-pulsa terkendali
Seperti yang telah dijelaskan sebelum- E1C. Jika thyristor dirangkai seperti
nya bahwa, penyearah tak terkendali gambar ini, tegangan masukan berupa
menghasilkan tegangan keluaran DC tegangan sinusoidal dan beban R, maka
yang tetap. Bila dikehendaki tegangan pada setengah gelombang pertama
keluaran yang bisa diubah-ubah, digu-
thyristor mendapat bias-maju.
nakan thyristor sebagai pengganti dioda.
Tegangan keluaran penyearah thyristor Bila thyristor disulut pada sudut a,
dapat diubah-ubah atau dikendalikan thyristor Q1 akan konduksi maka te-
dengan mengendalikan delay atau sudut gangan keluaran v1 akan muncul pada
penyalaan, a, dari thyristor. Penyalaan beban. Keadaan konduksi ini berlang-
ini dilakukan dengan memberikan pulsa sung hingga tegangan kembali ke nol
trigger pada gate thyristor. Pulsa trigger dan mulai negatif (komutasi alamiah).
dibangkitkan secara khusus oleh Ketika tegangan negatif, maka Q1
rangkaian trigger. dalam keadaan bias-mundur. Waktu dari
tegangan mulai beranjak ke arah positif
sampai dengan thyristor mulai konduksi
disebut sudut penyalaan atau sudut
penyulutan a.
Dengan demikian, tegangan keluaran
penyearah dapat diatur-atur dengan
mengatur sudut penyalaan pulsa
gatenya, dalam hal ini, dari 0 - 180°.
Bila sudut penyalaan a kecil, berarti
thyristor konduksi secara dini sehingga
tegangan (vd) dan daya keluaran akan
besar. Sebaliknya, bila sudut a besar,
tegangan dan daya keluarannya akan
kecil.

4.2.3.2.1 Hubungan tegangan dan


arus keluaran pada
beban R dan beban L
Dalam kenyataannya sifat beban mem-
pengaruhi perilaku suatu penyearah.
Gambar 4.46 Penyearah E1C
Rangkaian trigger dirancang untuk
memberikan pulsa dengan ketinggian
dan kelebaran tertentu disesuaikan
dengan thyristor yang digunakan. Pulsa
ini juga dapat digeser-geser sudutnya
sehingga penyalaan thyristor dapat
dilakukan setiap saat dalam ranah
(range)nya.

310
Gambar 4.48 Dioda free-wheeling
Gambar 4.47 Bentuk gelombang arus dan Jika Vd0 adalah tegangan keluaran
tegangan keluaran pada E1C
ketika a = 0, dan Vda adalah tegangan
Bila penyearah pada Gambar 4.46 diberi pada sudut a, maka karakteristik
beban resistif R, maka arus keluaran i pengaturan Vd0/Vda untuk beban
dan tegangan keluaran vd mempunyai resistif R dan beban induktif L
polaritas yang sama sehingga mempu- ditunjukkan pada Gambar 4.49.
nyai kesamaan dalam bentuk gelom-
bang seperti ditunjukkan pada Gambar
4.47 untuk beban Resistif. Ketika vd nol
maka i juga nol, ketika tegangan vd
maksimum maka arus i juga maksimum.
Perilaku rangkaian menjadi berbeda
ketika dibebani dengan L. Seperti yang
terlihat pada Gambar 4.48 untuk beban
induktif L, ketika thyristor disulut pada
sudut a, ketika tegangan vd nol arus i
juga nol. Namun ketika tegangan vd Gambar 4.49 Karakteristik pengaturan E1C
maksimum, arus i tidak mengikuti Dari gambar ini jelas terlihat prubahan
tegangan seperti pada beban R, namun tegangan keluaran vda pada sudut
mengikuti proses penyimpanan energi penyalaan untuk beban R dan beban L.
pada induktor. Oleh karena itu, ketika Di sini terlihat jelas bahwa sudut penga-
tegangan kembali ke nol, induktor turan pada beban R dapat dilakukan
melepaskan arus pada arah yang sama pada daerah 0-180°, sedangkan pada
sehingga tegangan berubah menjadi beban L terbatas dari 0-90° saja.
negatif.
4.2.3.2.2 Penyearah dua-pulsa
Kejadian ini tidak dikehendaki dalam terkendali B2C
aplikasi penyearahan. Untuk meng-
hilangkan pengaruh induktansi tersebut Penyearah dua-pulsa rangkaian
dipasang dioda free-wheeling seperti jembatan terkendali, B2C, seperti yang
yang ditunjukkan pada Gambar 4.48. ditunjukkan pada Gambar 4.50
Dioda ini berfungsi menyalurkan arus merupakan salah satu tipe penyearah
balik ke beban lagi (tidak ke sumber) se- yang banyak diaplikasikan karena
hingga peristiwa tegangan negatif bisa keandalannya.
dihilangkan.

311
Prinsip kerja dari penyearah ini, secara Kelebihan penyearah ini adalah kemam-
prinsip hampir sama dengan penyearah puannya dalam mengumpanbalikkan
B2U. Bedanya, di sini dibutuhkan unit energi beban ke sumber. Dengan beban
trigger sebagai sumber pulsa trigger. yang induktansinya tinggi, aliran arus
akan kontinyu tidak seperti penyearah-
Rangkaian ini membutuhkan 2 pasang
penyearah terkendali fasa-satu lainnya.
pulsa trigger, yaitu 1 pasang bekerja di
daerah setengah gelombang positif dan
1 pasang yang lain pada setengah 4.2.3.2.3 Penyearah fasa-tiga
gelombang negatif. Bila penyearah dihu- terkendali
bung dengan sumber tegangan seperti Penyearah fasa-tiga memberikan
yang terlihat pada gambar, pada tegangan keluaran rata-rata yang lebih
setengah gelombang positif thyristor Q1 tinggi, dan faktor ripelnya lebih rendah
dan Q4 mendapat bias-maju. Dalam dari penyearah fasa-satu sehingga
keadaan ini, bila kedua thyristor tersebut masalah filteringnya juga semakin
disulut pada sudut a yang sama maka simpel. Karena itulah, penyearah fasa-
tegangan masukan akan dikirim ke tiga terkendali sangat banyak digunakan
beban sejak awal sudut penyulutan dalam pengendalian kecepatan motor
sampai kedua thyristor mengalami berdaya tinggi.
komutasi (tegangan nol). Kemudian
pada setengah peiode berikutnya, Salah satu bentuk aplikasi penyearah
thyristor Q3 dan Q2 mendapat bias fasa-tiga terkendali adalah penyearah
maju. Sama halnya dengan keadaan M3C, penyearah fasa-tiga, tiga-pulsa,
pada setengah perioda pertama, bila terkendali (Gambar 4.51). Tiga thyristor,
kedua thyristor ini disulut pada sudut a masing-masing disambungkan pada
yang sama, pada daerah negatif terse- masing-masing saluran, dan setiap
but maka tegangan negatif masukan thyristor mendapat pulsa trigger sesuai
akan ditransfer ke beban sehingga dengan daerah operasi masing
tegangan keluaran Vda terlihat seperti sehingga keluarannya terdiri dari 3 pulsa
yang ditunjukkan oleh Gambar tersebut. yang dapat diatur sesuai sudut
penyulutan.

Gambar 4.50 Penyearah B2C Gambar 4.51 Penyearah M3C


Gambar 4.50 juga menunjukkan bentuk Tipe penyearah terkendali dan sangat
gelombang tegangan dan arus keluaran, handal adalah penyerah fasa-tiga,
Vda dan Ida, di mana keduanya enam-pulsa sistem jembatan (Gambar
mempunyai polaritas yang sama. 4.52). Penyearah ini sangat ekstensif
digunakan untuk aplikasi-aplikasi daya

312
tinggi sampai ratusan kW, di mana Urutan penyulutan thyristornya sesuai
dibutuhkan operasi dua-kuadrant. dengan indeks angkanya adalah
sebagai berikut: 12, 23, 34, 45, 56, dan
Penyearah ini sangat cocok untuk
61.
beban-beban yang tingkat induktansinya
sangat tinggi.
Gambar 4.52 menunjukkan gelombang
Thyristor-thyristor disulut pada interval tegangan keluaran ketika rangkaian
p /3. Frekuensi tegangan keluaran beroperasi secara penuh dan ketika
adalah 6 kali frekuensi sumber sehingga beroperasi pada sudut penyulutan yang
masalah penapisan (filtering)nya lebih berbeda.
rendah dari M3C.

Gambar 4.52 Penyearah B6C

4.2.4 Pengendali Tegangan Gambar 4.53. Rangkaian pengendalian


dapat dilakukan dengan menggunakan
AC dua-thyristor yang dirangkai anti-paralel
Teknik pengontrolan fasa memberikan (Gambar 4.53 a) atau menggunakan
kemudahan dalam sistem pengendalian triac (4.53 b).
AC. Pengendali tegangan saluran AC
Penggunaan dua thyristor anti paralel
digunakan untuk mengubah-ubah harga
memberikan pendalian tegangan AC
rms tegangan AC yang dicatukan ke
secara simetris pada kedua setengah
beban dengan menggunakan thyristor
gelombang pertama dan setengah
sebagai saklar. gelombang berikutnya. Penggunaan
Penggunaan alat ini, antara lain, triac merupakan cara yang paling
meliputi: simpel, efisien dan handal. Triac
- Kontrol penerangan
merupakan komponen dua-arah
- Kontrol alat-alat pemanas
sehingga untuk mengendalikan
- Kontrol kecepatan motor induksi
tegangan AC pada kedua setengah
Bentuk dasar rangkaian pengendalian gelombang cukup dengan satu pulsa
tegangan AC ditunjukkan pada gambar trigger. Barangkali inilah yang membuat

313
rangkaian pengendalian jenis ini sangat 4.2.4.2 Pengendalian
populer di masyarakat. Keterbatasannya menggunakan triac
terletak pada kapasitasnya yang masih
terbatas dibandingkan bila mengguna- Seperti yang telah disinggung sebe-
kan thyristor. lumnya, bahwa dua thyristor anti-paralel
dapat digantikan dengan sebuah triac.
4.2.4.1 Pengendalian meng- Bedanya di sini hanya pada gatenya,
gunakan dua thyristor yang hanya ada satu gate saja. Namun
kebutuhan sinyal trigger sama, yaitu
Jika tegangan sinusoidal dimasukkan
sekali pada waktu setengah perioda
pada rangkaian seperti pada gambar,
pertama dan sekali pada waktu sete-
maka pada setengah gelombang
ngah perioda berikutnya. Sehingga hasil
pertama thyristor Q1 mendapat bias
pengendalian tidak berbeda dari yang
maju, dan Q2 dalam keadaan
menggunakan thyristor anti-paralel.
sebaliknya. Kemudian pada setengah
gelombang berikutnya, Q2 mendapat Pengendalian yang bisa dilakukan
bias maju, sedangkan Q1 bias mundur. dengan menggunakan metoda ini hanya
Agar rangkaian dapat bekerja, ketika terbatas pada beban fasa-satu saja.
pada setengah gelombang pertama Q1 Untuk beban yang lebih besar, metode
harus diberi sinyal penyalaan pada pengendalian, kemudian dikembangkan
gatenya dengan sudut penyalaan, lagi menggunakan sistem fasa-tiga, baik
misalnya a. Seketika itu Q1 akan yang setengah gelombang maupun
konduksi. Q1 akan tetap konduksi gelombang penuh (rangkaian jembatan)
sampai terjadi perubahan arah
(komutasi), yaitu tegangan menuju nol 4.2.5 Kontrol Kecepatan dan
dan negatif. Setelah itu, pada setengah Daya Motor Induksi
perioda berikutnya, Q2 diberi trigger Fasa Tiga
dengan sudut yang sama, proses yang
terjadi sama persis dengan yang Motor induksi fasa tiga, khususnya
pertama. Dengan demikian bentuk motor induksi rotor sangkar tupai
gelombang keluaran pada seperti yang merupakan salah satu jenis motor yang
ditunjukkan pada gambar. paling banyak digunakan di industri.
Kelebihan dari motor ini, di antaranya
adalah konstruksinya yang sederhana
dan kuat serta memerlukan sangat
sedikit pemeliharaan sebagaimana pada
motor DC.
Berbeda dengan motor DC yang
kecepatannya dapat dikendalikan
a)
dengan mudah (yaitu melalui
pengaturan tegangan armatur dan
pengaturan arus eksitasinya),
pengaturan kecepatan motor induksi
fasa tiga memerlukan penanganan yang
jauh lebih kompleks dan ini merupakan
salah satu kelemahan dari motor
b) induksi. Motor DC mempunyai dua
Gambar 4.53 sumber, yaitu tegangan armatur dan
Bentuk dasar pengendali tegangan AC arus eksitasi, sedangkan motor induksi

314
hanya mempunyai satu sumber, yaitu masukkan stator. Unit pengatur ini
sumber tegangan stator. Kecepatan umum juga disebut sebagai inverter.
motor induksi ditentukan oleh frekuensi
Pengaturan kutub banyak digunakan pa-
tegangan masukan dan jumlah kutub
da beban-beban yang dalam operasinya
motor seperti yang dijelas kan dengan
memerlukan beberapa kecepatan yang
rumus:
berbeda, misalnya kecepatan rendah
N = 120 f/P dan kecepatan tinggi. Sedangkan peng-
di mana: aturan frekuensi pada motor induksi ba-
N = kecepatan putaran rotor, nyak diterapkan untuk beban-beban
f = frekuensi tegangan sumber, yang memerlukan pengaturan kecepat-
P = jumlah kutub motor (ditentukan an dari nol sampai dengan maksimal
oleh belitan stator). seperti yang diterapkan di bidang trans-
portasi seperti kereta listrik.
Jadi, berdasarkan formula di atas dapat
dikatakan bahwa kecepatan putaran 4.2.5.1 Macam-Macam Skema
motor induksi dapat dilakukan dengan Kontrol Kecepatan Motor
dua cara, yaitu pengubahan jumlah ku- Induksi
tub dan pengubahan frekuensi tegangan
masukan ke stator motor. Karena jumlah Kecepatan motor induksi dapat diken-
kutub ditentukan oleh belitan statornya, dalikan dari sumber AC maupun DC.
maka pengubahan kutub ini hanya bisa Berikut ini adalah beberapa macam
dilakukan melalui desain belitan stator skema pengendalian kecepatan motor
motor, sedangkan untuk pengaturan fre- induksi yang memberikan masukan
kuensi dan tegangan masukan memer- frekuensi dan tegangan variabel ke
lukan pengubah frekuensi tengangan stator motor.

Gambar 4.54 merupakan skema kontrol dan tegangan variabel. Hasil pengubah-
kecepatan motor induksi dengan catu an ini kemudian digunakan sebagai catu
daya dc tegangan tetap. Proses daya motor induksi.
pengubahan ini dilakukan sebagai Untuk kendali kecepatan dengan catu
berikut. Catu daya DC tegangan tetap daya AC tegangan dan frekuensi tetap
diubah menjadi tegangan dc tegangan ditunjukkan pada gambar 4.56 dan 4.57.
variabel melalui DC-Chopper. Tegangan Gambar 4.56 menunjukkan skema
DC variabel ini setelah melalui filter kontrol dengan menggunakan inverter
dialirkan ke inverter sehingga frekuensi variabel sedangkan Gambar
menghasilkan keluaran ac dengan 4.57 menggunakan inverter PWM. Pada
frekuensi dan tegangan variabel. skema kontrol dengan inverter frekuensi
Keluaran frekuensi dan tegangan variabel kita memerlukan unit penyearah
variabel menjadi masukan motor induksi terkontrol sedangkan yang mengguna-
sehingga kecepatan motor dapat diatur kan PWM cukup dengan penyearah
dengan leluasa. biasa. Keluaran dari kedua skema yang
Gambar 4.55 menunjukkan skema terakhir sama dengan keluaran pada
kontrol kecepatan motor induksi dengan dua skema kontrol terdahulu.
menggunakan catu daya DC dan
inverter pulse-width modulation (PWM).
Catu daya DC tegangan tetap diubah
langsung menjadi tegangan ac frekuensi

315
Catu Tegangan
Daya DC ke
DC Variabel Inverter Motor Induksi
DC Fasa
Chopper Filter
Tiga

Gambar 4.54 Skema kontrol kecepatan motor induksi dengan catu daya DC tegangan tetap

ke
DC Inverter Variable Voltage Motor Induksi
Pulse Width
Modulated (PWM) Variable Frequency

Gambar 4.55 Skema k ontrol kecepatan motor induksi


dengan catu daya DC dan inverter PWM

Tegangan
AC 1 Fasa DC ke
atau 3 Fasa Penyearah Variabel Inverter Motor Induksi
Transformer Terkendali Filter frekuensi
variabel

Gambar 4.56 Skema kontrol kecepatan motor induksi


dengan catu daya AC dan inverter frekuensi variabel

AC 1 Fasa ke
atau 3 Fasa Pulse Width Motor Induksi
Transformer Penyearah Filter Modulated
(PWM)
Inverter

Gambar 4.57 Skema kontrol kecepatan motor induksi


dengan catu daya AC dan inverter PWM

4.2.5.2 Diagram Kotak Kontrol Kecepatan Motor Induksi Fasa Tiga


Diagram kotak kontrol kecepatan motor induksi fasa tiga yang menggunakan sum-
ber daya masukan fasa tiga ditunjukkan pada Gambar 4.58.
Tegangan
Input Ac DC Frekuensi
Fasa Tiga Penyearah Variabel Inverter Variabel Motor
Terkendali Filter Fasa Tiga Induksi Beban
Tegangan
Variabel
Voltage
Transduser
Kecepatan

Elemen Kontrol
dan Rangk.
Trigger

Gambar 4.58 Diagram kotak sistem kontrol kecepatan motor induksi fasa tiga

316
Coba perhatikan baik-baik Gambar 4.58. sama artinya dengan pengaturan
Dalam skema kontrol ini kecepatan daya keluaran motor induksi.
motor merupakan subyek dari 5. Kecepatan putaran motor dideteksi
pengontrolan. Proses pengontrolan dan diukur dengan menggunakan
dilakukan sebagai berikut: transduser kecepatan. Transduser
1. Sumber daya masukan AC fasa tiga ini mengubah variabel putaran
tegangan dan frekuensi tetap diubah menjadi sinyal analog atau digital
menjadi tegangan DC dengan yang proporsional terhadap
tegangan yang bisa diatur-atur kecepatan putaran motor.
melalui penyearah terkendali. 6. Hasil pengukuran oleh transduser ini
Pengaturan pada penyearah ini diinformasikan kepada elemen ken-
dilakukan melalui pengaturan sudut dali.
penyulutan, sebagaimana telah 7. Elemen kendali membandingkan
dibahas pada bagian penyearah antara sinyal hasil pengukuran
B6U, diatur melalui rangkaian (analog atau digital) dengan nilai
trigger. putaran yang dikehendaki (setpoint).
2. Untuk mengurangi faktor denyut Bila antara keduanya ada
keluaran penyearah diberi filter perbedaan maka elemen kontrol
sehingga keluaran dc mempunyai akan mengirimkan sinyal kontrol ke
kualitas yang lebih baik. rangkaian trigger.
3. Keluaran dc ini kemudian diubah 8. Rangkaian trigger ini akan memberi-
menjadi tegangan ac fasa tiga kan sudut penyulutan sesuai dengan
melalui sebuah inverter fasa tiga. perintah elemen kontrol kepada
Pengubahan keluaran dc menjadi ac penyearah dan inverter sehingga
ini dilakukan melalui proses keluaran inverter berubah.
penyulutan yang dikendalikan oleh
Proses ini terus berlanjut sampai terca-
rangkaian trigger. Keluaran ac yang
pai putaran motor sama dengan yang di-
paling handal untuk pengendalian
kehendaki (setpoint).
kecepatan motor induksi fasa tiga
adalah frekuensi dan tegangan 4.2.6 Persiapan, Pengopera-
variabel, di mana ketika frekuensi sian dan Pemeriksaan
dinaikkan atau diturunkan, tegangan
akan mengikuti perubahan ini. Pengendali Elektronika
Keluaran ini dikatakan paling handal Daya
karena motor dapat diatur pada
Seperti yang telah dibahas pada bagian
daerah kecepatan yang sangat lebar
sebelumnya bahwa pengendali elektro-
dan dengan efisiensi tetap tinggi.
nika daya memungkinkan dilakukannya
4. Ketika motor induksi mendapat
pengaturan daya listrik dalam berma-
masukan tegangan dari inverter,
cam-macam cara guna memenuhi
maka sesuai dengan sifat-sifatnya,
kebutuhan. Peralatan ini tergolong
motor beroperasi pada kecepatan
modern dan mahal. Oleh karena itu,
dan daya tertentu sesuai dengan
dalam pemakaiannya membutuhkan
jenis beban motor. Pout = T ?, di
pengetahuan dan keterampilan yang
mana T = torsi poros (Nm), ? adalah
sangat memadai. Pengetahuan tentang
kecepatan putar sudut (rad/detik)
konsep dan prinsip seperti yang telah
(?= 2 p N/60; N dalam putaran
diuraikan di atas, baik yang terkait
permenit). Jadi, pengaturan
dengan komponen-komponen, seperti
kecepatan yang dilakukan disini

317
dioda, thyristor, diac dan triac, maupun masukan fasa tiga 380 V ac,
unit seperti penyearah tak terkendali, tegangan keluaran 400 V dan daya
penyearah terkendali dan juga pengatur keluaran 5 kW. Ini memberitahu kita
listrik ac. Tanpa pengetahuan dasar dan bahwa alat ini bila diberi sumber fasa-
konsep yang memadai adalah mustahil tiga 380 V, akan memberikan
untuk dapat menggunakan pengendali tegangan keluaran 400 V dc dan
elektronika daya dengan baik. daya nominal 5 kW.
Di samping konsep-konsep dasar, ada Contoh lain misalnya, alat pengatur
tiga kemampuan penting yang harus ac (ac regulator) fasa tunggal mem-
Anda miliki untuk dapat menggunakan punyai spesifikasi sebagai berikut:
peralatan ini dengan baik, yaitu: persia- tegangan masukan 220 V, 50 Hz,
pan, pengoperasian dan pemeriksaan. tegangan keluaran 0-220 V ac dan
Langkah persiapan perlu dilakukan un- daya nominal 1 kW. Ini menunjukkan
tuk menyakinkan bahwa komponen dan kepada kita bahwa alat tersebut kalau
rangkaian berada dalam keadaan baik diberi tegangan masukan 220 V akan
dan aman. Kemampuan pengoperasian memberikan tegangan keluaran yang
merupakan kemampuan yang harus bisa diatur mulai dari nol (0) sampai
dimiliki oleh setiap teknisi di lapangan dengan 220 V ac dengan daya
sedangkan kemampuan pemeriksaan sampai dengan 1 kW.
sebagai dasar seseorang untuk
• Pengecekan fungsi alat
mengevaluasi performa suatu sistem
Setelah diketahui spesifikasi alat,
dan juga mencari kesalahan (trouble-
langkah berikutnya adalah
shooting) yang terjadi pada sistem.
pemeriksaan fungsi alat.
Pemeriksaan fungsi ini dilakukan
4.2.6.1 Persiapan Pengendali dengan melakukan pengukuran pada
Elektronika Daya tegangan keluarannya setelah alat
Dalam mempersiapkan pengendali elek- dihubungkan ke sumbernya. Sebagai
tronika daya, ada beberapa hal yang ha- contoh seperti untuk alat penyearah.
rus Anda lakukan, di antaranya mema- Setelah dihubungkan ke sumber
hami spesifikasi alat, dan mengetahui tegangan, tegangan keluaran bisa
kondisi alat. diukur dengan voltmeter. Bila
• Spesifikasi alat tegangan keluarannya 400 V dc
Setiap alat pasti dilengkapi dengan maka alat dapat dikatakan berfungsi
spesifikasi kerja alat yang memberita- dengan baik.
hukan kepada para pengguna alat
tentang kondisi-kondisi kerjanya 4.2.6.2 Pengoperasian pengendali
sehingga dapat digunakan sebagai elektronika daya
dasar pertimbangan penggunaan alat
Setelah dilakukan persiapan seperti
dan kondisi kerjanya. Spesifikasi
yang telah dijelaskan di atas, kita
kerja yang sangat penting dari
sampai pada tahap pengoperasian.
pengendali elektronika daya, minimal
Agar dapat mengoperasikan alat, kita
harus meliputi: jenis (penyearah, tak
harus telah memiliki pemahaman
terkendali, terkendali, regulator ac,
tentang prinsip kerja alat yang akan
dan lain-lain), tegangan masukan,
dioperasikan dan memahami petunjuk
tegangan dan daya keluaran alat.
operasi alat.
Sebagai contoh: penyearah fasa tiga
tidak terkendali mempunyai tegangan • Pemahaman prinsip kerja alat

318
Pemahaman terhadap prinsip kerja misalnya. Jadi, di samping operasi
alat yang akan dioperasikan merupa- alat kendalinya, pemahaman terha-
kan modal utama dalam pengope- dap beban yang akan dikendalikan
rasiannya. Dengan mengetahui juga penting untuk menghindari
prinsip kerja alat, kita telah kondisi yang membahayakan baik
mempunyai bayangan tentang apa bagi alat pengendalinya maupun alat
yang akan terjadi di dalam alat bila yang dikendalikannya.
kita mengoperasikannya. Ini juga
4.2.6.3 Pemeriksaan pengendali
akan sangat membantu dalam
pengoperasian alat secara aman dan elektronika daya
optimal. Untuk mengetahui kebenaran kerja dari
• Pemahaman petunjuk operasi alat penyearah ini perlu dilakukan pemerik-
Setiap alat selalu memiliki petunjuk saan sebagai berikut:
operasi yang dibuat oleh pabrik
pembuatnya. Walaupun kita sudah • Periksalah tegangan keluaran
mempunyai pengetahuan yang dengan menggunakan voltmeter
memadai tentang alat tersebut, kita dc/ac. Bila tegangan keluaran sesuai
tetap harus mempelajari pentunjuk dengan tegangan yang dikehendaki
operasi alat tersebut. Petunjuk berarti rangkaian bekerja dengan
operasi ini disusun oleh pabrik baik seperti yang telah dijelaskan
pembuat alat berdasarkan pengeta- pada tahap persiapan pada bagian
huan dan pengalaman yang dimili- pengecekan fungsi alat. Namun bila
kinya, baik yang terkait aspek kea- tidak maka perlu pemeriksaan lebih
manan alat dan keselamatan manu- lanjut pada rangkaian dan
sia. Indikator kompetensi seseorang komponen-komponennya.
dalam mengoperasikan alat adalah • Pemeriksaan lebih akurat dapat
berdasarkan petunjuk operasi alat. dilakukan dengan menggunakan
Petunjuk operasi dari pabrik bisa osiloskop pada tegangan keluaran
dimodifikasi atau disederhanakan (perhatikan cara pemakaian
sesuai dengan kebutuhan. osiloskop). Jika tegangan keluaran
• Pemahaman terhadap operasi alat tidak sesuai dengan yang
yang dikendalikan seharusnya (biasanya lebih rendah),
Sebagai contoh, suatu pengatur listrik perlu dilakukan pada rangkaian.
ac fasa satu aka digunakan untuk Atau bila dilakukan dengan
mengoperasikan motor induksi fasa osiloskop maka akan dapat diketahui
satu. Sebagaimana yang telah bentuk gelombang tegangan
diketahui bahwa arus asut motor keluaran. Atas dasar bentuk
(starting current) beberapa kali lipat gelombang keluaran ini dapat
arus nominalnya. Oleh karena itu, diketahui bagian mana yang tidak
dalam pengendalian motor ini kita bekerja dengan baik. Untuk dapat
tidak boleh memulai dengan menganalisis secara cermat
tegangan nominalnya, namun perlu terhadap permasalahan ini perlu
dilakukan pengaturan tegangan pemahaman terhadap konsep
secara bertahap melalui knob pengendali elektronika daya.
pengatur yang ada pada pengendali • Bila sudah diketahui permasalahan
elektronika daya, yang dalam hal ini baru diidentifikasi permasalahan-
adalah dengan mengatur sudut permasalahan yang ada pada
penyalaan thyristor atau triac, rangkaian. Permasalahan-

319
permasalahan yang sering terjadi
adalah sebagai berikut: Sistem pendinginan sangat berperan
1. Jumlah pulsa atau gelombang pada performa kerja alat. Sistem
keluaran tidak lengkap. Bila kita pendinginan bisa berupa heatsink dan
menjumpai hal seperti ini, maka atau fan. Heatsink biasanya dipilih
perlu diperiksa: sumber tegangan berdasarkan kapasitas komponen
masukan, sekering pengaman semikonduktor yang digunakan. Oleh
rangkaian/komponen, kabel-kabel karena itu permasalahan terbesarnya
dan koneksinya, komponen adalah pada faktor rekatannya dengan
elektronika daya seperti dioda komponen semikonduktornya. Untuk
thyristor, atau lainnya, dan pendinginan yang menggunakan fan
pengendali yang memiliki rangkaian dapat dengan mudah diketahui bekerja
penyulut (rangkaian trigger) perlu tidaknya.
diperiksa rangkaian triggernya.
Pemeriksaan rangkaian trigger 3. Thyristor tidak dapat dikendalikan.
memerlukan pengetahuan tentang Bila menjumpai unit pengendali
rangkaian trigger dan sistem elektronika daya, ketika dihidupkan,
pembangkitan pulsa triggernya. Bila tegangan keluarannya langsung
salah satu komponen ini tidak dalam tinggi, maka perlu diperiksa pulsa
keadaan baik, sudah dapat trigger dan rangkaian snubbernya.
dipastikan bahwa rangkaian tidak Pengaturan pulsa trigger langsung
akan bekerja dengan baik. pada sudut penyalaan nol akan
2. Panas pada bagian-bagian menyebabkan tegangan keluaran
rangkaian. Suhu panas yang angsung tinggi. Permasalahan ini
berlebihan identik dengan bisa terjadi akibat kegagalan pada
ketidaknormalan kerja rangkaian. rangkaian triggernya (lihat Gambar
Panas ini bisa akibat dari longgarnya 4.48). Rangkaian snubber (Gambar
sambungan, arus lebih, atau sistem 4.31) digunakan untuk membatasi
pendinginannya yang tidak agar tingkat kenaikan tegangan awal
memadai. Longgarnya sambungan dv/dt rangkaian tidak melampaui
menimbulkan efek pengelasan pada dv/dt thyristor. Jika dv/dt komponen
terminal-terminal sambungannya terlampaui maka thyristor akan
sehingga menimbulkan efek panas langsung “on” dan tidak bisa
yang berlebih. Bila ini berjalan dalam dikendalikan lagi. Rusaknya
waktu lama bisa membahayakan rangkaian snubber biasanya adalah
komponen-komponen karena umur. Biasanya ditandai
semikonduktornya dan bahkan bisa dengan pecahnya kapasitornya.
menimbulkan bahaya kebakaran.
Panas akibat arus beban lebih ini Demikianlah persiapan yang perlu
bisa diakibatkan oleh permasalahan dilakukan sebelum, pengoperasian
pada beban dan bisa juga akibat pengendali elektronika daya.
dari kapasitas daya alat yang lebih Pengoperasian perlu mengikuti
rendah dari yang diserap oleh petunjuk operasi alat dan bila terjadi
beban. Namun bila alat ketidaknormalan kerja alat bisa
pengamannya sesuai dengan dilakukan pemeriksaan terhadap
kemampuan alat seharusnya hal ini fungsi komponen-komponen
sudah dapat diatasi melalui rangkaian pengendali elektronika
pemutusan alat pengaman. daya.

320