Anda di halaman 1dari 9

TRANSFORMATOR UJI

Peralatan pembangkitan tegangan tinggi bolak balik frekwensi rendah (50 Hz untuk Indonesia
dan eropa, 60 Hz untuk Amerika Utara, 50 dan 60 Hz untuk jepang) disebut dengan Testing
Transformer, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Didesign menggunakan input tegangan distribusi 1 phasa (127-220 Volt), olehkarena


trafo uji ini dipasang dalam sebuah laboratorium, dan umumnya semua bentuk pengujian
peralatan dilakukan phasa demi phasa, untuk memudahkan pengukuran dan pengamatan ,
sedangkan tegangan outputnya dalam nilai ratusan kV

2. Mengingat jumlah lilitan pada sekunder cukup banyak (perbandingan kumparannya


tinggi), maka Kapasitansi tersebar (distributed capacitance) diantara kumparan dan inti
atau tangki sangat besar sekali. Oleh sebab itu meskipun trafo uji tidak dibebani, arus
pemuat (charging current) tetap mengalir didalamnya. Arus pemuat ini selalu lebih besar
dari arus exitasi, walhasil arus yang mengalir di dalam trafo atau specimen yang diuji
mendahului (leading) dari tegangan. Akibatnya tegangannya lebih tinggi dari pada
tegangan yang ditentukan oleh perbandingan lilitan. Untuk itu dibutuhkan pengukuran
yang teliti dengan alat ukur yang khusus pula.

3. Kapasitas kVA nya kecil disbanding transformator tenaga, olehkarena untuk tujuan
pengujian yang diperlukan adalah tegangan yang besar, bukan daya besar.

4. Pada belitan sekundernya, difasilitasi dengan belitan exitasi untuk keperluan kaskade
trafo, agar diperoleh tegangan tinggi yang lebih besar. Untuk itu atas pertimbangan teknis
dan ekonomis, kontruksi trafo uji dengan tegangan output yang sangat besar jarang
digunakan

5. Ujung belitan tegangan tinggi, umum dibumikan untuk keperluaan pengamanan dan
keamanan, kecuali pada pembangkitan tegangan tinggi DC.

6. Design isolasinya, hanya memperhitungkan tegangan pengujian maximum, olehkarena


trafo uji ditempatkan dalam sebuah laboratorium, dan tidak diharapkan mengalami
tegangan lebih akibat gangguan luar maupun dalam.

7. Tidak ada masalah dengan pendinginan trafo, olehkarena trafo uji selain kapasitasnya
kecil, waktu pemakaiannya pun pendek (30 menit sampai 1 jam)

8. Konstruksi lilitan dan isolasinya di rencanakan sedemikian rupa sehingga diperoleh


gradien tegangan yang seragam dan osilasi tegangan dalam lilitannya dapat diabaikan.

9. Konstruksi trafo uji dengan isolasi minyak, dapat dirancang dengan model tangki atau
model selubung (mantel) isolasi. Pada model tangki memerlukan bushing yang besar dan
mahal, tegangan kerja yang tinggi, inti dan kumparan ditempatkan dalam wadah logam
1
sehingga memperbaiki proses pendinginan, sedangkan model selubung isolasi tidak
memerlukan bushing, namun proses pendinginannya lambat karena menggunakan banyak
minyak.

10. Tegangan maksimum yang dapat dihasilkan sebuah trafo uji saat ini adalah 1600 kV, dan
menaikkan tegangan yang lebih tinggi sudah dianggap tidak ekonomis, baik ditinjau dari
sudut material maupun ruangan yang diperlukan. Untuk itu bila diperlukan tegangan uji
yang lebih besar, maka dapat digunakan beberapa trafo uji yang dihubungkan secara
kaskade. Beberapa keuntungan dengan tegangan output yang tidak terlalu besar, yaitu;
material isolasi tidak terlalu tebal, konstruksinya tidak besar dan berat, pemeliharaan
menjadi lebih baik (jika 1 rusak, yang lain masih dapat digunakan), fleksibiltas (variasi
tegangan lebih besar), transportasi menjadi mudah dan rugi-rugi korona menjadi kecil.

KINERJA TRAFO UJI

Mengingat trafo uji memiliki jumlah lilitan yang relative banyak dan tegangan pada sisi
sekunder cukup tinggi, maka kapasitansi akan tersebar antara kumparan dengan inti atau tangki
besar sekali (efek kapasitansi tidak dapat diabaikan). Kadaan ini akan menyebabkan tegangannya
akan lebih tinggi dari tegangan yang ditentukan oleh perbandingan lilitan, khususnya dalam
keadaan tanpa beban.

Untuk itu kinerja trafo tidak dapat dengan sempurnah digambarkan dengan rangkain
ekuivalen trafo biasa, karena pengaruh kapasitansi sendiri Ci dari belitan tegangan tinggi dan
kapasitansi objek uji Ca (umumnya berupa beban kapasitif). namun demikian arus magnetisasi
dapat diabaikan selama inti besi belum mengalami saturasi. Adapun bentuk rangkaian dan
rangkaian equivalen serta diagram fasornya dapat dilihat pada gambar 1. Dibawah ini.
2
Dengan menganggap bahwa Rk << ω Lk dan tegangan sekunder U2 hampir sefasa dengan
tegangan primer U1, maka berlaku persamaan:

U 2 ≈ U1' 1
dimana: 1 −ωLk C <1
1−ω 2 Lk C ,

Maka terlihat bahwa resonansi seri menghasilkan peningkatan kapasitif terhadap tegangan
sekunder. Besar peningkatannya dapat dihitung dari tegangan hubung singkat trafo uk sewaktu
beban kapasitif C menyerap arus nominal In pada tegangan nominal Un dan frekwensi nominal.

I nω Lk
uk = = ω 2 Lk C
Un

Dengan demikian trafo uji dengan uk = 20% akan menghasilkan peningkatan tegangan sebesar
25% pada frekwensi nominal ketika beban kapasitif menyerap arus nominal

Skema rangkaian trafo uji dan data teknik pada laboratorium


U V
U

V u ua ub va vb v

3
PRIMARY SECONDARY OUTPUT Impedance
Voltage CONNECTION Output Voltage (KVA) Voltage
Input (kV) (kV) (%)
ua - ub
u-v 220 U-V 100 5 4
va - vb
u-v 220 vb - va U-V 100 2.5 8

Data teknis Application

TEO 100/10 SINGLE PHASA AC VOLTAGE TEST TRANSFORMER

Ratio: 2x220/100 kV/220 V Exciter Transformer with


Max. Current 50 mA coupling winding for cascade
Output 5 kVA connection to produce
Duty Continous AC,DC, and Impulse Voltage
Impedance Voltage approx. 4%
Frequency 50 and 60 Hz
Partial Discharge
Level: at 80 kV ≤ 1 pC
at 100 kV ≤ 2 pC
Weight 200 kg

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-

Pengujian tegangan tinggi AC

• Pokok-pokok pengujian

Berdasarkan atas kebutuhan dan standarisasi yang berlaku. Maka pokok-pokok pengujian
yang harus dilakukan ditentukan oleh specimen yang diuji. Pada umumnya pengujian yang
lengkap meliputi:

a. Pengujian ketahanan dalam udara

b. Pengujian ketahanan dalam minyak

c. Pengujian ketahanan untuk tiap lapisan isolator

d. Pengujian lompatan api dalam suasana kering

e. Pengujian lompatan api pada suasana basah

f. Pengujian tembus (puncture) atau kegagalan (breakdown)

4
• Faktor koreksi terhadap hasil pengujian

Tabel-tabel normalisasi atau standarisasi menyatakan bahwa untuk suatu macam alat,
berlaku suatu tegangan lompatan api tertentu pada keadaan standar, misalnya menurut Japanse
Industrial Standad (JIS) dan Japanese Electrotechnical Committee (JEC), bahwa keadaan standar
adalah:

Tekanan barometer 760 mmHg (1013 mbar)

Suhu keliling 200C

Kelembaban mutlak 11 gram/m3

Olehkarena tegangan lompatan api kering selalu dipengaruhi oleh keadaan udara, maka
untuk dapat membandingkan hasil-hasil pengujian dengan tabel-tabel normalisasi yang ada,
diperlukan rumus-rumus yang dapat merubah hasil-hasil tersebut menjadi hasil-hasil dalam
keadaan standar. Hal ini diperlukan untuk dapat mengetahui apakah specimen yang diuji
memenuhi syarat teknis atau tidak.

Untuk koreksi hasil pengujian tehadap tekanan dan suhu, digunakan rumus sbb:

V
VS = B (1)
d

b B 273 + 20 0,386 b B
d= =
760 273 + tB 273 + t B

Dimana: Vs = Tegangan lompatan pada keadaan standar


VB = Tegangan lompatan hasil pengukuran (pada keadaan sebenarnya)
d = Kepadatan udara relative
bB = Tekanan udara pada saat pengujian (mmHg)
tB = Suhu keliling pada saat pengujian (0C)

Untuk koreksi terhadap kelembaban udara mutlak, menggunakan rumus empiris, yaitu:

VS = VBk H (2)

Dimana: kH adalah factor koreksi yang dicari, menggunkan gambar a dan b.

5
6
Lengkung-lengkung A,B,C,D,E, dan F didasarkan atas pengalaman di jepang, sedangkan
lengkung G dan H adalah lengkung factor koreksi menurut International Elektrotechnical
Commision

Kelembaban udara mutlak didapat sebagai fungsi dari temperature basah dan kering
sebuah hygrometer, seperti tertera pada gambar b. Apabila persamaan (1) dan (2) digabungkan,
maka didapat rumus koreksi untuk mendapatkan keadaan atmosfer standar:

KH
VS = VB (3)
d

Oleh karena sifatnya yang empiris, maka factor koreksi KH tidak dapat dianggap tepat,
dan tidak selalu dapat dipakai. Oleh sebab itu hanya persamaan (1) yang dipegunakan, namun
disertakan keterangan tambahan tentang harga kelembaban udara pada saat pengujian.

Menurut J. Kucera, bentuk umum dari persamaan (3) adalah sebagai berikut
m
K 
VS = VB  H  (4)
 KD 

7
Dimana: m = Faktor sela, diambil dari tabel 2.2

bB
K D = d = 0,289 (5)
273 + t B

Dimana bB adalah tekanan udara dalam millibar, maka persamaan (3) kelihatan sama saja dengan
persmaan (5). Sebenarnya persamaan (5) hanya berlaku apabila:

0,9 ≤ d ≤ 1,1 (6)

Apabila d = 0,7, maka kD = 0,73 dan apabila d = 0,8, maka KD = 0,82

Secara skematis persoalan diatas dapat dilihat pada gambar 2.6

Hasil pengujian
Pada keadaan
sebenarnya
(tb, bB,hB) : VB

Rumus
Transformasi
VB
VS = 8
d
VS = VBk H
Alat-alat Alat-alat
yang Diuji yang Diuji
Banding
TIDAK TIDAK
kan
BAIK BAIK
VS dan
bila bila
VS VS VS VS < VS

Persyaratan
Pada Keadaan
Standar
(tb, bB,hB) : VB