Anda di halaman 1dari 9

PERBANDINGAN KODE ETIK PROFESI ADVOKAT

DAN
UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT
TUGAS 1
ETIKA PROFESI

Disusun Oleh:
Wong Michelle H 13.20.0029

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1. Tunjukkan persamaan dan perbedaan antara Kode Etik Profesi Advokat dengan UU No.
18 Tahun 2003 tentang Advokat!
PERSAMAAN:
a. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
memuat norma mengenai profesionalitas Advokat dalam menjalankan profesinya
dan norma tersebut sama-sama bersifat mengikat bagi organisasi Advokat dan
anggotanya.
b. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
mendefinisikan Advokat sebagai penegak hukum yang bebas dan mandiri sehingga
harus dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan, tepatnya pada Pasal 2
huruf h Kode Etik Profesi Advokat dan Pasal 5 UU No. 18 Tahun 2003 tentang
Advokat.
c. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat juga samasama memiliki tujuan sosial yang sama, yaitu supaya organisasi Advokat dan
anggotanya mematuhi peraturan yang ada dan bagi pihak yang melanggar akan
dikenai sanksi, yang dapat berupa teguran biasa, teguran keras, pemberhentian
sementara untuk waktu tertentu, dan pemecatan dari keanggotaan organsisasi
profesi, tepatnya pada Pasal 16 Kode Etik Profesi Advokat dan Pasal 6 UU No. 18
Tahun 2003 tentang Advokat.
d. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
mewajibkan Advokat untuk merahasiakan segala sesuatu yang diketahui dari Klien
karena hubungan profesinya, tepatnya pada Pasal 4 huruf h Kode Etik Profesi
Advokat dan Pasal 19 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
e. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
mengatur bahwa Advokat tidak boleh membedakan perlakuan terhadap Klien
berdasarkan jenis kelamin, agama, politik, keturunan, ras, atau latar belakang sosial
dan budaya, tepatnya pada Pasal 3 huruf a Kode Etik Profesi Advokat dan Pasal 18
UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
f. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
melarang Advokat untuk merangkap jabatan yang dapat merugikan kebebasa,
derajat, dan martabat Advokat, tepatnya pada Pasal 3 huruf f Kode Etik Profesi
Advokat dan Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
g. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
mewajibkan Advokat untuk memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada
pencari keadilan yang tidak mampu, tepatnya pada Pasal 7 huruf h Kode Etik Profesi
Advokat dan Pasal 22 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

h. Kode Etik Profesi Advokat dan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat sama-sama
memuat ketentuan peralihan, tepatnya pada Pasal 22 Kode Etik Profesi Advokat dan
Pasal 32 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
PERBEDAAN:
No
.
1

Kode Etik Profesi Advokat

UU No. 18 Tahun 2003 tentang


Advokat (UU Advokat)

Disebutkan dalam Pembukaan, bahwa

Berdasarkan bagian Menimbang UU

Kode Etik Profesi Advokat merupakan

Advokat, dapat disimpulkan bahwa

hukum tertinggi dalam menjalankan

keberadaan UU Advokat bukan lebih

profesi Advokat.

tinggi daripada Kode Etik Profesi


Advokat. Bahkan hampir semua norma
dalam UU Advokat mengacu pada
Kode Etik Profesi Advokat. Keberadaan
UU Advokat sendiri hanya sebagai
upaya penegakan supremasi hukum.

Tidak memuat dasar hukum yang

Memuat 11 dasar hukum yang menjadi

menjadi landasan pembentukan Kode

landasan pembentukan UU Advokat,

Etik Profesi Advokat. Kode Etik Profesi tepatnya pada bagian Mengingat.
Namun menurut saya, pencantuman 11
Advokat murni hanya untuk
dasar hukum tersebut terlalu berlebihan.
membebankan kewajiban sekaligus
Berdasarkan Lampiran II No. 28 UU
sebagai perlindungan hukum bagi para
No. 12 Tahun 2011 tentang
Advokat di Indonesia.
Pembentukan Peraturan Perundangundangan, dasar hukum cukup memuat
dasar kewenangan pembentukan
peraturan perundang-undangan dan
peraturan perundang-undangan yang
memerintahkan pembentukannya.
Sedangkan yang dicantumkan pada UU
Advokat seolah-olah seperti daftar
pustaka. Semua peraturan yang
kiranya ada kaitannya dengan UU
Advokat dicantumkan pada bagian

tersebut. Padahal tidak diperlukan


pencantuman sedemikian rupa.
3

Bab I Kode Etik Profesi Advokat sama

Bab I Ketentuan Umum UU Advokat

seperti UU Advokat, yaitu mengatur

memberikan definisi lebih lengkap

mengenai Ketentuan Umum. Hanya

daripada Kode Etik Profesi Advokat,

saja Kode Etik Profesi Advokat

antara lain dalam hal:


a. Jasa Hukum;
b. Organisasi Advokat;
c. Pembelaan Diri;
d. Advokat Asing;
e. Bantuan Hukum; dan
f. Menteri.

memberikan definisi yang agak berbeda


daripada UU Advokat, antara lain
dalam hal:
a. Teman Sejawat;
b. Teman Sejawat Asing; dan
c. Dewan Kehormatan.
4

Kode Etik Profesi Advokat justru tidak

UU Advokat memuat ketentuan

memuat ketentuan mengenai

mengenai pengangkatan (Pasal 2),

pengangkatan, sumpah, status,

sumpah (Pasal 4), status (Pasal 5),

penindakan, dan pemberhentian

penindakan (Pasal 6-8), dan

Advokat.
Kode Etik Profesi Advokat juga tidak

pemberhentian Advokat (Pasal 9-13).


UU Advokat juga memuat persyaratan

memuat persyaratan supaya seseorang

dapat diangkat menjadi Advokat,

dapat diangkat menjadi Advokat.

tepatnya pada Pasal 3 ayat (1).

Kode Etik Profesi Advokat memuat

UU Advokat tidak memuat ketentuan

ketentuan bahwa Advokat harus

khusus bahwa Advokat harus memiliki

memiliki kepribadian yang jujur, satria,

kepribadian yang jujur, satria, adil,

adil, bermoral tinggi, luhur, dan mulia,

bermoral tinggi, luhur, dan mulia, serta

serta menjunjung tinggi hukum. Hal

menjunjung tinggi hukum. Hanya saja

tersebut tepatnya ada pada Pasal 2.

hal tersebut dapat disimpulkan secara


implisit dari ketentuan lainnya.

Kode Etik Profesi Advokat ketentuan

UU Advokat juga memuat ketentuan

Dewan Kehormatan Organisasi

mengenai Dewan Kehormatan

Advokat dengan lebih lengkap, mulai

Organisasi Advokat sebagai pengawas

dari ketentuan umum (Pasal 10),

perilaku Advokat. Namun

pengaduan dan tata cara pengaduan

pengaturannya hanya sedikit, tepatnya

(Pasal 11-12), pemeriksaan (Pasal 13

hanya di Pasal 27.

dan 18), sidang (Pasal 14), cara


pengambilan keputusan (Pasal 15),
sanksi (Pasal 16), dan penyampaian
salinan keputusan (Pasal 17).
7

Kode Etik Profesi Advokat memang

UU Advokat memuat ketentuan

tidak mencantumkan bab mengenai

mengenai hak dan kewajiban

hak dan kewajiban Advokat secara

Advokat secara khusus. Akan tetapi

eksplisit. Akan tetapi, pengaturan

pengaturan mengenai hak dan

mengenai hak dan kewajiban

kewajiban Advokat dalam UU

Advokat justru lebih lengkap daripada

Advokat justru tidak lengkap.


Terlihat pada Pasal 14 dan Pasal 15, UU

yang ada di UU Advokat.


Pengaturannya termuat pada Pasal 3Pasal 7.

Advokat memberikan delegasi bahwa


pengaturan mengenai hak Advokat
diatur lebih lanjut dalam Kode Etik
Profesi Advokat.

Kode Etik Profesi Advokat memuat

UU Advokat tidak memuat ketentuan

ketentuan mengenai hubungan antara

mengenai hubungan antara Advokat

Advokat dengan Teman Sejawat dan

dengan Teman Sejawat dan Sejawat

Sejawat Asing. Hal tersebut tepatnya

Asing.

pada Pasal 5 dan Pasal 6.


9

Kode Etik Profesi Advokat lebih

Pengaturan mengenai etika dan

banyak menjelaskan mengenai etika

profesionalitas Advokat pada UU

dan profesionalitas Advokat dalam

Advokat lebih banyak mengacu pada

bekerja secara rinci, antara lain pada:


a. Pasal 3 huruf a (Advokat dapat

Kode Etik Profesi Advokat, seperti

menolak memberi bantuan hukum


karena tidak menguasai bidang
tertentu atau bertentangan dengan
hati nurani);
b. Pasal 3 huruf b (Advokat tidak

pada:
a. Pasal 6 huruf f (mengenai
penindakan);
b. Pasal 8 (mengenai penindakan oleh
Dewan Kehormatan Organisasi
Advokat);

hanya bertujuan untuk memperoleh

c. Pasal 12 ayat (2) (mengenai

imbalan saja, tetapi lebih

pengawasan);
d. Pasal 14-24 (mengenai hak dan

mengutamakan tegaknya hukum,


kebenaran, dan keadilan);
c. Pasal 3 huruf c (Advokat harus
bebas dan mandiri dalam bekerja);
d. Pasal 3 huruf d (Advokat wajib
memelihara solidaritas dengan

kewajiban advokat);
e. Pasal 26 (mengenai Kode Etik
Profesi Advokat);
f. Pasal 33 (penetapan Kode Etik oleh
Organisasi Advokat).

teman sejawat);
e. Pasal 3 huruf e (Advokat wajib
memberikan bantuan hukum pada
teman sejawat yang didakwa);
f. Pasal 3 huruf h (Advokat harus
bersikap sopan terhadap semua
pihak);
g. Pasal 4 (pengaturan mengenai
hubungan Advokat dengan Klien);
h. Pasal 5 (pengaturan mengenai
hubungan Advokat dengan teman
sejawat);
i. Pasal 7 (pengaturan mengenai cara
bertindak dalam menangani
perkara);
10

11

Kode Etik Profesi Advokat tidak

UU Advokat menjamin Advokat tidak

memberikan jaminan bahwa Advokat

dapat dituntut baik secara perdata

tidak dapat dituntut baik secara perdata

maupun pidana dalam menjalankan

maupun pidana dalam menjalankan

tugas profesinya dengan itikad baik

tugas profesinya dengan itikad baik

untuk kepentingan pembelaan Klien,

untuk kepentingan pembelaan Klien.

tepatnya pada Pasal 16.

Pasal 4 huruf d Kode Etik Profesi

Pasal 21 UU Advokat mengatur bahwa

Advokat menyatakan bahwa, Dalam

besarnya honorarium Advokat

menentukan besarnya honorarium

ditetapkan secara wajar berdasarkan

Advokat wajib mempertimbangkan

persetujuan kedua belah pihak.

kemampuan Klien. Selanjutnya dalam


Pasal 4 huruf e dijelaskan bahwa,

Advokat tidak dibenarkan membebani


Klien dengan biaya-biaya yang tidak
perlu. Pengaturan tersebut seolah-olah
mengatur bahwa honorarium Advokat
hanya ditetapkan oleh Advokat semata,
tanpa meminta persetujuan Klien.
12

Kode Etik Profesi Advokat tidak

UU Advokat memuat larangan bahwa

memuat larangan bahwa Advokat Asing

Advokat Asing tidak diperbolehkan

tidak diperbolehkan beracara di sidang

beracara di sidang pengadilan,

pengadilan, berpraktik, dan/atau

berpraktik, dan/atau membuka kantor

membuka kantor jasa hukum di

jasa hukum di Indonesia, tepatnya pada

Indonesia.
Hanya memuat ketentuan mengenai

Pasal 23.

kewajiban advokat asing untuk tunduk


pada Kode Etik Profesi Advokat,
tepatnya di Pasal 6.
13

14

Kode Etik Profesi Advokat tidak

UU Advokat memuat ketentuan

memuat ketentuan mengenai Atribut

mengenai Atribut yang wajib dikenakan

yang wajib dikenakan Advokat dalam

Advokat dalam menjalangkan tugas

menjalangkan tugas dalam sidang di

dalam sidang di pengadilan. Hal

pengadilan.

tersebut tepatnya pada Pasal 25.

Kode Etik Profesi Advokat sama sekali

UU Advokat memuat ketentuan pidana

tidak memuat ketentuan pidana.

bagi orang yang dengan sengaja


menjalankan pekerjaan profesi Advokat
dan bertindak seolah-olah sebagai
Advokat, tetapi bukan Advokat dengan
ancaman pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak
Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah). Hal tersebut diatur pada Pasal
31.

15

Kode Etik Profesi Advokat dibuat oleh

UU Advokat dibuat oleh Presiden

Komite Kerja Advokat Indonesia yang

dengan persetujuan Dewan Perwakilan

terdiri dari:
a. Ikatan Advokat Indonesia

Rakyat.

(IKADIN);
b. Asosiasi Advokat Indonesia (AAI);
c. Ikatan Penasihat Hukum Indonesia
(IPHI);
d. Asosiasi Konsultan Hukum
Indonesia (AKHI);
e. Himpunan Konsultan Hukum
Pasar Modal;
f. Serikat Pengacara Indonesia (SPI);
dan
g. Himpunan Advokat dan Pengacara
Indonesia (HAPI).

2. Apakah UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat diperlukan? Jelaskan.


Ya. Walaupun UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat dan Kode Etik Profesi
Advokat kurang lebih sama dan terlihat seperti ada dualisme pengaturan, akan tetapi UU
No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tetap diperlukan. UU No. 18 Tahun 2003 tentang
Advokat adalah sebagai bentuk intervensi negara untuk mengontrol kemandirian
berbagai organisasi Advokat. UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat juga memberikan
kesempatan bagi negara untuk mengatur jalannya organisasi Advokat supaya mereka
tidak menjadi super kritis terhadap pemerintah dan militer, melainkan tetap pro rakyat
dan negara. Apabila semua organisasi Advokat sangat pro rakyat sebagai korban rezim
negara, maka Pemerintah tidak akan bertahan lama.
Cara negara mengontrol kemandirian organisasi Advokat dapat terlihat pada Pasal
31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang mengatur sanksi pidana bagi setiap
orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak
seolah-olah sebagai Advokat tetapi bukan Advokat. Pasal tersebut memungkinkan
berbagai kelompok profesi Advokat bisa saling melaporkan Advokat yang melanggar
kode etik kepada aparat penegak hukum sehingga negara juga dapat mengontrol
kelahiran Advokat asli yang pro negara dan organisasi kekerasan.
Namun alangkah lebih baik apabila UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak
mengatur mengenai profesionalitas karena profesionalitas sudah diatur dalam Kode Etik

Profesi Advokat. Hal tersebut diperlukan supaya tidak terjadi dualisme hukum sehingga
dapat lebih menjamin terwujudnya kepastian hukum.