Anda di halaman 1dari 4

Jembatan Ampera

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jembatan Ampera

Nama resmi
Mengangkut
Melintasi
Daerah
Panjang total
Lebar
Tinggi
Rentang
terpanjang
Jumlah
rentangan
Ruang vertikal
Koordinat

Jembatan Ampera
4 lajur
Sungai Musi
Kota Palembang, Provinsi Sumatera
Selatan
1,117 meter (3,665 ft)
22 meter (72 ft)
63 meter (207 ft)
75 meter (246 ft)
1 (jembatan utama)
1 (keseluruhan)
11.5 meter (38 ft)
2,9917LS
104,7635BTKoordinat:
2,9917LS 104,7635BT

Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan,
Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengahtengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang
dipisahkan oleh Sungai Musi.

Daftar isi

1 Struktur

2 Sejarah

3 Keistimewaan

4 Referensi

5 Lihat pula

6 Pranala luar

Struktur
Panjang : 1.117 m[butuh rujukan] (bagian tengah 71,90 m)
Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton

Sejarah

Pemandangan Jembatan Ampera di waktu malam


Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang Seberang Ulu dan Seberang Ilir dengan
jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan
Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan
dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq
berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang
kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk

na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober
1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang
akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia
pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun
Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M.
Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung
rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang
didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno
kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun
dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat
kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman
terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana
pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar
USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari
Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan
hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.[1]
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan
Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu.
Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk
memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.[2]

Pemandangan dari menara (tower) Jembatan Ampera.


Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung
Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia
tenggara.[3] Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno
sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan
Rakyat).[4]
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama
Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian
masyarakat.[1]

Keistimewaan
Pada awalnya, bagian tengah dan bagian belakang dan bagian depan badan jembatan ini bisa
diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan.
Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masingmasing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per
menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan
tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan
ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya
sembilan meter dari permukaan air sungai.[4]
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi.
Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus
lalu lintas di atasnya.
Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari
jatuhnya kedua beban pemberat ini.