Anda di halaman 1dari 12

Penyakit Akibat Kerja Sick Building Syndrome

Tiffany
10.2012.368
F7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email: christina.tiffany10@yahoo.com

Pendahuluan
Dalam sejarah ilmu kedokteran modern, disiplin ilmu kesehatan kerja
merupakan perkembangan yang relatif baru. Saat ini organisasi buruh internasional
(ILO) dan organisasi kesehatan dunia (WHO), mendefinisikan kesehatan kerja
sebagai peningkatan dan pemeliharaan keadaan kaum pekerja dalam semua pekerjaan
baik secara fisik, mental, dan sosial pada derajat tertinggi. Kesehatan kerja adalah
kesehatan total setiap pekerja. 1
Kesehatan dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
faktor fisik, biologis dan kimia. Pada makalah ini akan dibahas penyakit akibat kerja
yang secara khusus mengenai Sick Building Syndrome.
Diagnosis Klinis
Rinitis
Gejala klinis
Rinitis dibagi menjadi rinitis alergi dan rinitis non alergi (vasomotor). Rinitis
alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya
suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut.
Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Gejala lain
ialah keluarya ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan
mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar(lakrimasi).
Kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala
yang diutarakan oleh pasien. 2

Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi, namun
gejala yang dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung
pada posisi pasien. Keluhan ini jarang disertai dengan gejala mata. 2

Pemeriksaan Fisik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema basah, berwarna pucat/livid

disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior
tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan

bila fasilitas

tersedia.2

Pemeriksaan Penunjang
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian

pula pemeriksaan IgE total sering kali menunjukkan nilai normal kecuali bila tanda
alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit misalnya pasien juga menderita
asma bronkial atau urtikaria. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan
RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atai ELISA. Pemeriksaan sitologi hidung dari
sekret hidung atau kerokan mukosa walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap
berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan, jika ditemukan sel PMN
menunjukkan adanya infeksi bakteri.

Alergen penyebab juga dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cubit kulit,
uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri. 2
ISPA
ISPA sering disalah-artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. ISPA
merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, yang meliputi saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Penyakit infeksi akut
yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari saluran napas mulai dari hidung
(saluran bagian atas) hingga jaringan di dalam paru-paru (saluran bagian bawah).3
Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran
mukosa bersilia (silia = rambut-rambut halus). Udara yang masuk melalui rongga
hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel debu yang kasar dapat

disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang halus
akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukosa ke
posterior/belakang ke rongga hidung dan ke arah superior/atas menuju faring.3
Secara umum, efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan
pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan
saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat
dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik
dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan
memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.3
Menurut WHO (World Health Organization = organisasi kesehatan dunia),
pengeluaran lendir atau gejala pilek terjadi pada penyakit flu ringan disebabkan
karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan/atau coronavirus. Penyakit ini
dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari. Sedangkan
pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran napas bagian
atas.3
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.
KLASIFIKASI ISPA
Program Pemberantasan Penyakit ISPA (P2 ISPA) membagi penyakit ISPA
dalam 2 golongan yaitu pneumonia (radang paru-paru) dan yang bukan pneumonia.
Pneumonia dibagi lagi atas derajat beratnya penyakit, yaitu pneumonia berat dan
pneumonia tidak berat.3
Penyakit batuk-pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan
napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari
sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan
terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita.
Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin.
Berikut ini adalah klasifikasi ISPA berdasarkan P2 ISPA :

PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

PNEUMONIA BERAT : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke
dalam.

BUKAN PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.3
TANDA-TANDA BAHAYA
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhankeluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejalagejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan
kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal.3
Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan
yang lebih rumit dengan mortalitas yang lebih tinggi. Maka, perlu diusahakan agar
yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong
dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Berikut ini adalah tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada seorang penderita ISPA :

Tanda-tanda bahaya secara umum :

Pada sistem pernafasan : napas cepat dan tak teratur, retraksi/tertariknya kulit

ke dalam dinding dada, napas cuping hidung, sesak, kulit wajah kebiruan, suara napas
lemah atau hilang, mengi, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar keras

Pada sistem peredaran darah dan jantung : denyut jantung cepat dan lemah,

tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah dan gagal jantung.

Pada sistem saraf : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang,

dan koma.

Gangguan umum : letih dan berkeringat banyak.3

Pajanan yang dialami


Konsep lingkungan kantor terbagi dua yaitu lingkungan fisis terdiri dari
faktor-faktor fisis, kimia dan lingkungan sosial terdiri dari faktor organisasi, aturan
dan norma; keduanya berpengaruh pada kesehatan manusia. Lingkungan kantor
merupa- kan kombinasi antara penerangan, suhu, kelembaban, kualitas udara dan tata
ruang. Hubungan antara pekerja dengan lingkungan kantor dapat menimbulkan
keluhan fisik (objektif ) dan mental (subjektif ). 4

Sick building syndrome disebabkan multifaktor termasuk faktor fisik, kimia,


biologis dan fisiologis. Jika faktor tersebut terpelihara baik maka lingkungan kantor
menjadi tempat yang nyaman dan sehat untuk bekerja. Di beberapa kantor pekerjanya
dapat mengalami gangguan kesehatan karena ketidakimbangan lingkungan kantor.
Sistim pendingin merupakan penyebab terbanyak SBS karena tidak terjadi pertukaran
udara optimal dan menjadi sumber infeksi mikroorganisme serta menambah
kontaminasi tempat kerja. 4
Sistim pendingin gedung dirancang dan dioperasikan tidak hanya untuk pendinginan tetapi juga untuk mencukupi pertukaran udara dari dalam dan luar gedung.
Masalah timbul saat sistim pendingin tidak dapat membawa udara luar ke dalam
gedung, hal ini menyebabkan kualitas udara dalam gedung menjadi buruk. Buruknya
ventilasi dapat juga terjadi jika sistem pemanasan atau heating, ventilasi dan air
conditioning (HVAC) tidak efektif mendistribusikan udara dan menjadi sumber polusi
udara dalam ruangan, menyebabkan gangguan kesehatan dan kenyamanan para
pekerja. 4
Sumber polusi dalam ruangan antara lain berasal dari karpet, perekat (lem),
mesin fotokopi dan bahan pembersih yang mengandung gas toksik dan mudah menguap seperti formaldehid atau volatile organic compounds (VOCs). Identifikasi dan
mekanisme iritasi senyawa atau zat dalam ruangan yang dapat me- nimbulkan SBS
masih belum diketahui dengan jelas. Para pekerja kantor juga merupakan sumber
polutan dalam ge- dung. Virus, bakteri, karbon dioksida, karbon monoksida, aseton,
alkohol, dan gas organik lain merupakan polutan yang dapat dikeluarkan oleh pekerja
kantor melalui pernapasan dan keringat. Partikel yang melekat pada pakaian yang
berasal dari luar dapat disebarkan ke dalam ling- kungan kantor. Asap rokok
merupakan sumber terbesar partikel kimia iritatif di dalam gedung. 4
Manusia dapat bekerja nyaman pada suhu 20-26C dengan kelembapan 4060%. Suhu ruangan dapat mempengaruhi secara langsung saraf sensorik membran
mukosa dan kulit serta dapat memberikan respons neurosensoral secara tidak
langsung yang mengakibatkan perubahan sirkulasi darah. 4

Hubungan Pajanan dengan Penyakit

Pendingin udara (air conditioning) AC yang jarang dibersihkan serta


ventilasi udara yang kurang menjadi lokasi ideal bagi perkembangbiakan
rombongan bakteri. Kawanan Chlamidia sp, Escherichia sp, Legionella sp,
akan bersarang dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan lembab.
Ketika udara AC menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula koloni
kuman menyusup ke saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung.

Debu di dalam ruang kerja Sumber alamiah partikulat atmosfir adalah debu
yang memasuk atmosfir karena terbawa oleh angin. misalnya untuk indoor,
penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu. Karena
ukurannya yang kecil, debu dapat terhirup dan tersangkut di dalam paru
sehingga dapat mengganggu aktivitas pernapasan manusia.

Karpet yang tidak dirawat Bila karpet tidak terawat, jarang dibersihkan dan
dijemur, partikel debu yang dibawa oleh manusia dari luar ruangan, pestisida
yang disemprotkan ke ruangan akan menempel pada karpet. Selain itu ada
juga kutu debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet, mengkonsumsi
partikel-partikel kulit mati yang diproduksi oleh manusia setiap harinya.
Sebagian iritasi pada Sick Building Syndrome disebabkan oleh alergen yang
terdapat pada karpet, seperti tungau atau kapang. Juga alas karpet serta perekat
yang digunakan untuk merekatkan karpet yang ikut masuk ke dalam sistem
pernafasan manusia sehingga dapat mengganggu kesehatan.

Pajanan biologi seperti kutu debu, jamur, bakteri, serbuk sari tanaman, dan
organisme lain Humidifier fever yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh
organisme yang menyebabkan sakit pada saluran pernafasan dan alergi.
Organisme ini biasanya terdapat dan hidup pada air yang terdapat di sistem
pendingin. Legionnaire disease penyakit ini juga berhubungan dengan system
pendingin dalam ruang namun disebabkan oleh spesifik bakteri terutama
bakteri legionella pneumophila. Penyakit ini terutama akan lebih berbahaya
pada pekerja dengan usia lanjut. Reaksi legionella memang sering tidak
disertai gejala mencolok bahkan seperti flu biasa. Paling-paling hanya demam,
menggigil, pusing, batuk berdahak, badan lemas, tulang ngilu dan selera

makan lenyap.

Pajanan kimia. Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab


polusi dalam ruang karena pewangi ruangan tersebut akan memaparkan
bermacam bahan yang serba kimiawi. Ada yang bisa menyebabkan alergi,
pusing, hingga mual. Dilaporkan bahwa 95% bahan kimia dalam pewangi
adalah senyawa sintesis yang berasal dari petrokimia, termasuk turunan
benzene, aldehida. Pajanan yang berulang-ulang akan memicu peningkatan
sensitivitas dan reaksi yang semakin kuat. Bahan-bahan ini dapat
menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk reaksi alergi, masalah
pernapasan dan sensitivitas.pada pajanan berulang, Selain itu, juga
penyemprot nyamuk, rokok, mesin fotokopi yang mengeluarkan ozon,
penggunaan berbagai desinfektan, hingga tanaman hidup yang tidak pernah
dikeluarkan dari ruangan. Tanaman yang jarang dikeluarkan dari ruangan juga
kurang baik karena pada malam hari tanaman mengeluarkan karbondioksida
dan mengkonsumsi oksigen. Terlebih jika tanaman tersebut berada di dalam
ruangan kantor yang jarang dibuka ventilasi udara segarnya. Selain itu juga
banyak materi bangunan modern, seperti cat diding yang masih baru
diaplikasikan, papan partikel (particle board), papan fiber (fiber board), dan
berbagai macam perabotan plastik yang mengeluarkan gas organik dalam
jangka tahunan.

Pajanan Ergonomi. Posisi tubuh yang membungkuk dan jongkok saat bekerja
dan leher menoleh menekuk.

Pajanan Psikososial. Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, dan


lain-lain.

Jumlah Pajanan
Pada pasien perlu ditanyakan berapa jam dalam sehari ia bekerja (rata-rata 8
jam/hari) dan sudah beberapa tahun ia bekerja.

Faktor Individu

Apakah pasien ada riwayat atopi/alergi?

Apakah adanya riwayat pajanan serupa sebelumnya sehingga resikonya


meningkat?

Higiene perorangan.

Faktor Lain diluar Pekerjaan

Apakah ada faktor pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit?

Perlu adanya anamnesis lebih lanjut mengenai apakah ada kebiasaan merokok,
pajanan dirumah

Diagnosis PAK
Dari 6 langkah diagnosis diatas, maka diagnosis penyakit diatas adalah
penyakit akibat kerja atau lebih spesifik penyakit Sick Building Syndrome.
Sick Building Syndrome
Penyakit paru akibat pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh penghirupan
debu, akan tetapi juga penyakit yang disebabkan oleh kondisi bangunan dan aksesori
gedung tempat bekerja, seperti penyejuk hawa (air conditioner, humidifier). Gedung
yang sering menyebabkan timbulnya sick building syndrome adalah gedung yang
mempunyai arsitektur tertutup rapat yang dimaksudkan untuk menjaga temperatur
ruangan agar tetap hangat atau agar tetap sejuk sehingga jendela tidak pernah dibuka.
Biasanya gedung seperti itu memiliki sistem penghangat atau pendingin, dan kadar
CO2 nya sering meningkat. Sumber udara yang diambil untuk dialirkan ke dalam
gedung sering telah tercemar dengan gas CO atau gas buangan mesin disel. Pegawai
yang bekerja dalam gedung dan terkena sindrom ini akan mengalami hiperventilasi,
gelisah, sesak napas dan tetani. 5

Penyakit yang mengenai paru akibat penggunaan AC, disebabkan oleh


mikroorganisme yang mirip dengan penyebab farmers lung. Mikroorganisme tersebut
hidup di pipa AC dan menyalurkan udara dingin ke seluruh gedung. Udara yang
dihembuskan oleh AC menebarkan spora. 5
Terdapat dua komponen diagnosis SBS, pertama apakah gejala terjadi pada
satu atau beberapa pekerja dalam gedung yang sama dan kedua adalah gejala muncul
saat berada di dalam gedung dan menghilang bila berada di luar gedung. Sick building
syndrome bukan penyakit tunggal yang dapat didiagnosis segera pada pekerja di
dalam gedung. Asma, rinitis dan konjungtivitis alergi adalah penyakit alergi yang
mempunyai gejala sama dengan SBS. Sakit kepala dan lethargy merupakan gejala
nonspesifik yang dapat terjadi pada sebagian besar penyakit dan dapat berkaitan
dengan pajanan okupasi. Pengenalan gejala, pemeriksaan fisis serta laboratorium bila
tersedia merupakan langkah awal dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan SBS
bertujuan untuk menyingkirkan kondisi lain yang mempunyai gejala sama.4
Pekerja dengan SBS lebih sensitf terhadap stimuli dibandingkan dengan
pekerja tanpa SBS. Keluhan wheezing dan atau dada tertekan memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut dengan peakflow meter atau spirometri sebelum dan sesudah
kerja. Jika hasil pemeriksaan tidak ditemukan kelainan maka tidak terdapat penyakit.
Waktu saat timbulnya penyakit merupakan salah satu faktor penting pada SBS.
Beberapa metode dapat digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis SBS.4
Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penyebab SBS. Stres akibat
lingkungan kerja mekanismenya belum jelas diketahui, diduga karena tidak ada
keseimbangan antara kebutuhan dengan kemampuan. Stres merupakan gabungan
antara beban kerja di kantor dengan lingkungan sosial dan faktor ini dapat
memberikan fenomena fisiologis maupun psikologis. Kuantitas kerja dapat
menghambat kenyamanan bekerja dan berperan pada iritasi mukosa dan keluhan
umum lainnya. Hal ini merupakan indikator tidak langsung akibat stres kerja.4

Kelainan
Iritasi membran mukosa

Gejala
Iritasi mata, hidung, dan

Gejala neurologis

tenggorokan
Nyeri kepala

Kelelahan
Sulit konsentrasi
Gejala menyerupai asma

Cepat marah
Dada terasa tertekan

Gangguan kulit

Wheezing
Kulit kering

Gejala gastrointestinal

Iritasi kulit
Diare

Tabel 1. Gejala dan tanda SBS

Terdapat 3 hipotesis untuk menjelaskan gejala SBS antara lain hipotesis kimia
bahwa volatile organic compounds (VOCs) yang berasal dari perabot, karpet, cat serta
debu, karbon monoksida atau formaldehid yang terkandung dalam pewangi ruangan
dapat menginduksi respons reseptor iritasi terutama pada mata dan hidung. Iritasi
saluran napas menyebabkan asma dan rinitis melalui interaksi radikal bebas sehingga
terjadi pengeluaran histamin, degradasi sel mast dan pengeluaran mediator inflamasi
menyebabkan bronkokonstriksi. Pergerakan silia menjadi lambat sehingga tidak dapat
membersihkan saluran napas, peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan
pencemar, rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran napas, membengkaknya saluran
napas dan merangsang pertumbuhan sel. Akibatnya terjadi kesulitan bernapas,
sehingga bakteri atau mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dan memudahkan
terjadinya infeksi saluran napas.4
Hipotesis kedua adalah hipotesis bioaerosol; penelitian cross sectional
menunjukkan bahwa individu yang mempunyai riwayat atopi akan memberikan reaksi
terhadap VOCs konsentrasi rendah dibandingkan individu tanpa atopi. Hipotesis ke
tiga ialah faktor pejamu, yaitu kerentanan individu akan mempengaruhi timbulnya
gejala.6 Stres karena pekerjaan dan faktor fisikososial juga mempengaruhi timbulnya
gejala SBS.

Building related illness (BRI) berbeda dengan SBS, adalah suatu

penyakit yang dapat didiagnosis dan diketahui penyebabnya berkaitan dengan


kontaminasi udara dalam gedung.4
Penatalaksanaan terbaik adalah pencegahan dan atau menghilangkan sumber
kon- taminasi penyebab SBS. Pasien dianjurkan menghindari gedung yang dapat
menimbulkan keluhan meskipun tidak selalu dapat terlaksana karena dapat
menyebabkan kehilangan pekerjaan.

10

Menghilangkan sumber polutan, memperbaiki laju ventilasi dan distribusi


udara, membuka jendela sebelum menggunakan pendingin, menjaga keber- sihan
udara dalam gedung, pendidikan dan komunikasi merupakan beberapa cara mengatasi
SBS. 4
Laju ventilasi dalam gedung harus adekuat, direkomendasikan minimum 15
L/detik/ orang. Jendela dan atau pintu yang dapat terbuka serta pemeliharaan rutin
sistim HVAC dengan membersihkan dan mengganti penyaring secara periodik (setiap
3 bulan) dapat memberikan ventilasi yang baik, kenyamanan bekerja serta lingkungan
kerja yang sehat. Larangan merokok di ruangan harus dilaksanakan. Pencegahan SBS
dengan menentukan lokasi dan arsitektur gedung yang sehat, jauh dari sumber polutan
dengan bahan bangunan ramah lingkungan, merancang pemeliharan yang baik dan
dikhususkan pada sistim HVAC sebagai penyebab tersering SBS. Diperlukan
komunikasi yang baik antara pekerja, manager dan pemelihara gedung untuk
mengetahui, mencegah serta mengatasi masalah SBS. 4

Kesimpulan
Untuk menentukan diagnosis penyakit akibat kerja membutuhkan 7 langkah
yang meliputi diagnosis klinis, pajanan yang dialami, hubungan pajanan dengan
penyakit, jumlah pajanan, faktor individu yang berperan, faktor lain diluar pekerjaan,
dan diagnosis penyakit akibat kerja.
Berdasarkan pada kasus seorang perempuan 30 tahun dengan keluhan batuk pilek
berulang sejak 3 minggu sudah berobat tapi belum ada perbaikan disertai keluhan
multiple dan bekerja di gedung bertingkat menderita penyakit akibat kerja Sick
Building Syndrome.

11

Daftar Pustaka
1. Jeyaratnam J, Koh D. Praktik kedokteran kerja. Jakarta : EGC ; 2010. h. 1-2.
2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala & leher. Ed 7. Jakarta : FKUI; 2014. h. 106-13.
3. Pedoman pengendalian infeksi saluran pernapasan akut. Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan; 2012. h.10,13,17.
4. Yulianti D, Ikhsan M, Wiyono WH. Sick building syndrome. CDK189.
vol.39(1);2012.Diunduhdari
http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_189Sick%20Building
%20Syndrome.pdf,11Oktober2015.
5. Djojodibroto D. Respirologi. Jakarta : EGC ; 2009. h.205

12