Anda di halaman 1dari 6

Fasisme

Fasisme adalah ideologi yang mulai menonjol pada awal abad ke-20 di Eropa.
Fasisme berasal dari Italia saat perang dunia I. Fasisme bertentangan dengan
liberalisme dan komunisme. Akar fasisme sudah ada sejak tahun 1880-an.
Walaupun sebagian besar tujuan negara fasis sama, pelaksanaannya berbedabeda. Contohnya meskipun fasisme menentang demokrasi liberal, Fasis Italia
menggunakan demokrasi otoriter atau demokrasi palsu.
Orang orang fasis menganggap bahwa sistem demokrasi-liberal sudah usang,
menurut mereka diperlukan sistem pemerintahan yang otoriter dengan negara
satu partai seperti yang dilakukan oleh partai NAZI di Jerman. Ini dilakukan
dengan alasan mempertahankan persatuan nasional dan kestabilan masyarakat.
Mereka juga menganggap bahwa perang, kekerasan, dan imperialisme sebagai
alat untuk mencapai tujuan mereka.
Istilah fasis berasal dari Italia fascio yang bermakna seikat jerami, sesuai dengan
fasisme yang menganut prinsip Batang yang tunggal akan mudah patah,
sedangkan jika dikumpulkan akan sulit untuk mematahkannya. Doktrin utama
fasisme adalah menentang perjuangan kelas, yang dianggapnya menyebabkan
perpecahan di dalam masyarakat dan melemahkan bangsa. Tentunya biang kerok
perjuangan kelas ini, yang mereka lihat sebagai sumber ketidakstabilan, adalah
kelas buruh, dan merekalah yang pertama dibereskan oleh kekuatan fasis.
Para pengikut Hitler menyebut diri mereka lebih sebagai Sosialis Nasionalis
daripada Fasis. Meski begitu, pada dasarnya Fasisme Italia dan NAZI Jerman
adalah sama.
Fasisme adalah bentuk pemerintahan yang populer antara tahun 1919 hinga
1945. Namun setelah Holocaust dan kekalahan kekuatan Poros pada tahun 1945,
fasisme menjadi sesuatu yang tabu. Sejak saat itu, istilah ini menjadi julukan
universal untuk sesuatu yang buruk.
Pada tahun 2005, Richard Griffiths menyatakan bahwa fasisme merupakan
kata yang paling disalahartikan dan terlalu sering digunakan.
Secara khusus, fasisme sering dianggap identik dengan kekuasaan kulit putih,
meskipun banyak negara-negara dengan ras non-putih dan ras campuran
memiliki pemerintahan fasis pada suatu waktu termasuk Brazil, Meksiko,
Jepang, dan Zaire.
Fasisme berakar dari pemerintahan Fasis Italia di bawah Benito Mussolini.

Dokumen tentang fasisme bisa ditemui dalam The Doctrine of Fascism yang
muncul sebagai entri dalam Ensiklopedia Italia yang diterbitkan pada tahun
1932.
Penulis The Doctrine of Fascism terdaftar sebagai Mussolini, tetapi penulis
sebenarnya mungkin saja adalah filsuf Giovanni Gentile, yang membantu
Mussolini merumuskan filsafat politiknya.
Ciri fasisme antara lain meliputi nasionalisme (termasuk nasionalisme
ekonomi), korporatisme (termasuk perencanaan ekonomi), totalitarianisme
(termasuk kediktatoran dan intervensi sosial), dan militerisme.
Menurut Doktrin Fasisme, Negara dalam konsep fasisme adalah meliputi
semua; di luar itu, tidak ada nilai-nilai kemanusiaan atau spiritual yang eksis,
apalagi memiliki nilai.
Dengan demikian bisa dipahami bahwa fasisme bersifat totaliter dengan negara
mengontrol segala sesuatunya.
Filosofi ini bisa diringkas dalam berbagai motto berikut: Everything in the
State, nothing outside the State, nothing against the State, Believe, Obey,
Fight, The book and the musket make the perfect Fascist, dan War is to man
as motherhood is to woman.
Selama masa keemasannya, fasisme dipropagandakan sebagai Posisi Ketiga
antara komunisme dan kapitalisme.
Di Italia, simbol fasisme adalah batang yang diikatkan di sekeliling kapak yang
melambangkan solidaritas dan kekuatan negara.
Kata fasis berasal dari kata Italia fascio yang berarti ikatan atau persatuan.
Rezim fasis meletakkan kekuasaan di atas segalanya serta mencapai tujuan
politik melalui intimidasi, ancaman, dan penyiksaan.

Perbedaan Fasisme dan Nazisme

Perbedaan utama terletak pada sudut pandang mereka. Ada hubungan yang lebih
erat antara nazisme dan fasisme daripada fasisme dan komunisme dibandingkan.
Fasisme memprioritaskan kepentingan negara diatas segala-galanya. Negara
dengan konsep ini akan menggabungkan semua nilai yang relevan untuk
membuat kekuatan superior, baik itu nasionalisme atau militerisme. Hal ini
berarti menggunakan semua kekuatan orang atau rakyat dalam suatu negara,
terlepas dari ras yang membedakan mereka. Di satu sisi, fasisme dianggap
sebagai bentuk yang lebih agresif dalam nasionalisme. Meski begitu, hal ini
tidak dianggap sebagai tindakan brutal atau orang biadab seperti halnya
nazisme. Sementara hukum militeristik fasisme yang diberlakukan banyak

memberikan kebebasan bagi kebanyakan orang, dan selain itu mereka jarang
menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Nazisme, di sisi lain adalah penekanan pada ras. Lebih khusus lagi adalah ras
Aria. Nazisme masih bercerita tentang negara, tetapi mereka tidak akan
menerima siapa pun dari ras lain untuk hidup bersama dengan mereka sendiri.
Sementara fasisme murni akan menerima orang-orang dari ras dan agama lain
selama mereka berguna bagi negara, nazisme menolak keras langkah-langkah
tersebut. Mereka menyatakan ras Arya sebagai yang utama. Kata Nazi
sebenarnya merupakan singkatan dari kata Nationalsozialistische atau
Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei, yang berarti Partai Nasional
Pekerja Sosial Jerman. Secara historis, nazisme dianggap sangat ekstrim. Cara
mereka menegakkan superioritas Arya adalah kejam dan merusak.

Lahirnya Negara Fasis


Fasisme sebagai salah satu lambing kediktatoran sebenarnya telah muncul jauh
sebelum abad ke-20. Fasisme merupakan faham golongan nasionalis ekstrim
yang menganjurkan dijalankannya kekuasaan pemerintah otoriter. Fasisme
mengutamakan kepentingan diatas segala galanya.
Negara fasis umumnya totalitarian. Negara totalitarian adalah Negara yang
menempatkan pemerintah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.
Ciri ciri Negara totalitarian adalah hanya ada satu partai yang berkuasa dan
dominasi militer yang amat kuat. Ciri lain adalah mereka menganggap ras
mereka lebih tinggi dari ras lainnya.
Negara Negara yang berpaham fasis yaitu : Italia, Jerman dan Jepang
1.

Fasis Italia

Italia menjadi salah satu pemenang dalam perang Dunia I, tetapi Italia amat
kecewa karena hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit, dan membuat
situasai politik dan ekonomi menjadi tidak stabil. Ekonomi egara tersebut terus
memburuk. Dalam keadaan seperti ini muncul tangan besi Benito Amilcare
Andre Mussolini
a.

Terbentuknya fasisme di Italia

Pada tahun 1919, Mussolini membentuk partai Fasis ( Fascio de combbattimento


). Sejak itu ia mengembangkan paham fasis di Italia.
Faktor faktor pendorong terbentuknya fasisme di Italia :
1.

Kekecewaan rakyat Italia atas penyempitan wilayah akibat Perang Dunia I.

2.

Keinginan Italia untuk mengulang masa kejayaan Romawi.

3.

Penderitaan rakyat akibat Perang Dunia I.

4.

Kelemahan atas kebajikan pemerintahan Raja Viktor Emmanuel III.

5.

Kemenangan Partai Fasis saat pemilu tahun 1922.

6.

Berkembangnya Fasisme di Italia

Pada tahuan 1922. Mussolini terpilih menjadi Perdana Menteri, selanjutnya ia


memangkat diri sebagai Il Dauce ( Sang Pemimpin ).
Upaya upaya Mussolini untuk mencapai kejayaan Italia, yaitu :
1.
Menyingkirkan lawan lawan politiknya yang mencoba merintangi
usahanya.
2.

Memperkuat angkatan perang.

3.

Menguasai selurug laut tengah sebagai Mare Nostrum atau laut kita.

4.
Membentuk Re Sorgimento dengan semangat Italia La Prima
( Italia Raya ).
5.

Menduduki Libia, Ethopia ( Absenia ) dan Albania dan lain lain.

2.

Nazisme di Jerman

Setelah perang Dunia I, Jerman mengalami kehancuran terutama dalam hal


Infrastruktur dan ekonomi. Dalam kekacauan ekonomi ini muncul tokoh Adolf
Jitler. Ia mendirikan Partau Nazi ( National Sozialistice Deutsche Albelter
Partai ).
a.

Terbentuknya Naziisme di Jerman

Adolf Hilter merupakan pemimpin Nazisme di Jerman. Visi misi politik Hilter
tercemin dalam bukunya yang berjudul Mein Kamf ( Perjuangan saya ).
Dalam buku tersebut termuat dua hal pokok, yaitu :
1.

Bangsa Jerman ( Ras Arya ) merupakan ras yang paling unggul.

2.
Sebagai bangsa yang besar, maka Jerman memerlukan sejumlah wilayah
taklukan.
3.
Menggeloralan Chauvinisme ( Nasional berlebihan ) untuk
membangkitkan harga diri bangsa Jerman.
4.

Membangun angkatan perang yang kuat.

5.

Membangun Industri secara besar besaran, dan lain-lain.

3.

Militerisme di Jepang

Pada tahun 1914, Jepang di bawah kaisar Hirota mengalami kemajuan pesat
dalam bidang perdagangan, industri, dan militer menganggap dirinya keturunan
Dewa Matahari (Amateraucu Omikami), bangsa Jepang menganggap bangsa
lain lebih rendah. Jepang melancarkan politik eskpansi ke Negara Negara di
kawasan Asia Pasifik.
a.

Terbentuknya Militerisme di Jepang

Dipelopori oleh perdana Menteri Tanaka, masa pemerintahan Inasir Hirohito dan
dikembangkan oleh Perdana Menteri Hideki Tojo.
Terbentuknya Militerisme dipengaruhi oleh faktor faktro berikut :
1)
Keinginan Jepang untuk menduduki daerah sekitarnya yang memiliki
sumber bahan mentah.
2)
Keinginan Jepang untuk mengusai dan memimpin Negara Negara di
sekitarnya.
3)

Keinginan Jepang untuk melemahkan Negara Negara pesaingnya..

4)
Kelemahan pemerintah sipil yang mengakibatkan ketidakmampuan Jepang
dalam mengatasi krisis ekonomi dunia ( Malaise ) pada tahun 1929.
b.

Berkambangnya Militerisme di Jepang

Pada masa pemerintahan kaisar Hirota, Jepang mulai tampil sebagai Negara
industri yang maju. Majunya industri tersebut Jepang mulai melancarkan politik
ekspansi ke Negara Negara di kawasan Asia Pasifik.
Dalam melancarkan politik ekspansinya, kaisar Hirohita melakukan tindakan
tindak sebagai berikut :
1)
Mengobarkan semangat Bushido ( jalan ksatria ) sebagai semangat berani
mati demi Negara dan kaisar.
2)

Menyingkirkan tokoh tokoh politik yang anti militer.

3)

Memodernisasi angkatan perang.

4)
Mengenalkan ajara Shinto Hakko Ichi-u, yaitu dunia sebagai satu keluarga
yang dipimpin oleh Jepang.
5)
Mempropagandakan Jepang sebagai cahaya, pemimpin dan pelindung Asia
yang membebaskan bangsa bangsa dari penjajahan bangsa Barat dll.

Fasisme Jepang
Berbeda dengan Jerman dan Italia, kedua negara tersebut muncul sebagai
negara fasis dengan berlatar belakang Perang Dunia I. Sedangkan kemunculan
Jepang sebagai negara fasis berawal dari adanya Restorasi Meiji. Adapun
Restorasi Meiji sendiri muncul sebagai akibat adanya kekecewaan bangsa
Jepang kepada Keshogunan Tokugawa yang dianggap lemah kepada bangsa
asing, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia dengan cara
membuka pelabuhan untuk perdagangan bangsa-bangsa tersebut.
Selain itu, bangsa Jepang juga merasa kecewa terhadap kekaisaran karena
kaisar dianggap sebagai simbol yang hanya duduk diam di dalam istana.
Sedangkan urusan pemerintahan semuanya diserahkan kepada shogun sebagai
pemimpin pemerintahan tertinggi di Jepang. Kekecewaan-kekecewaan tersebut
telah melahirkan banyaknya berbagai pemberontakan kepada kaisar yang
mengarah kepada timbulnya perang saudara dan munculnya campur tangan
bangsa asing di Jepang.
Ketegangan berakhir setelah adanya penyerahan kekaisaran dari
Tokugawa kepada Kaisar Meiji pada tahun 1866 yang mengakhiri pemerintah
secara militer dan otoriter Keshogunan Tokugawa. Restorasi Meiji membuka
jalan kepada Jepang untuk menuju kepada zaman baru yang lebih baik.
Kekaisaran Meiji kembali mengobarkan semangat bangsa Jepang dengan
mengangkat kembali ajaran Hakko Ichiu.
Ajaran Hakko Ichiu pertama kali ditemukan oleh Kaisar Jimmu sekitar
abad 660 SM. Hakko Ichiu mempunyai arti delapan penjuru bawah satu yang
artinya dunia itu terdiri atas delapan penjuru yang merupakan keluarga besar dan
menempakan Jepang adalah pemimpinnya. Dalam ajaran Hakko Ichiu diajarkan
bahwa bangsa Jepang merupakan keturunan dewa yang paling murni dan paling
kuat sehingga paling berhak memimpin dunia.
Ajaran Hakko Ichiu berhasil mengobarkan semangat bangsa Jepang
menjadi bangsa yang ultranasionalis (nasionalisme militan). Selain itu, Jepang
pun berhasil menjadi negara industri yang kuat dan mampu bersaing dengan
negara-negara maju di Eropa dan Amerika. Meskipun sangat disayangkan,
kemajuan industri tersebut memicu tumbuhnya faham fasisme dan militerisme
yang mengarah kepada imperialisme.