Anda di halaman 1dari 17

MAKALA TEKNOLOGI HASIL HUTAN

PAPAN PARTIKEL DAN PAPAN SERAT

OLEH
MAKSIMILIAN S. KOLBE WAJA
142385033

MANAJEMEN PERTANIAN LAHAN KERING


MANAJEMEN SUMBERDAYA HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI
KUPANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Potensi hutan dari tahun ke tahun terus berkurang seiring dengan
meningkatnya kebutuhan manusia akan penggunaan kayu dan hasil hutan lainya
dimana kayu memiliki sifat dan karakteristik yang unik dan merupakan bahan yang
paling banyak digunakan untuk keperluan konstruksi. Sampai saat ini kebutuhan kayu
sebagian besar masih dipenuhi dari hutan alam. Persediaan kayu dari hutan alam
setiap tahun semakin berkurang, baik dari segi mutu maupun volumenya. Hal tersebut
menuntut adanya penggunaan kayu yang efisien dan bijaksana, antara lain dengan
memanfaatkan limbah berupa serbuk kayu menjadi produk yang bermanfaat.
Limbah pengolahan kayu dapat digunakan untuk beberapa keperluan dan
dapat dibedakan menjadi : kulit kayu, potongan kayu, serpihan dan serbuk hasil
gergajian. Menurut pengalaman dari pengolahan kayu secara tradisional, limbah kayu
yang diperoleh mencapai 25% dari volume bahan kayu. Jika dalam satu pabrik diolah
sekitar 100 m3 per hari, maka akan diperoleh limbah sekitar 25 m3. Dalam satu bulan
(25 hari kerja) akan diperoleh sekitar 625 m 3. Yang menjadi masalah adalah limbah
tersebut jika akan dibuang, dibuang kemana atau dimanfaatkan untuk apa. Serbuk
kayu dapat bermacam bentuknya, tapi yang penting serbuk kayu dapat dimanfaatkan
sebagai campuran gipsum untuk pembuatan plafon.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa limbah merupakan buangan yang
dihasilkan dari suatu proses produksi, suatu limbah ada yang tidak dapat lagi
digunakan, tapi ada juga yang masih dapat digunakan untuk menciptakan sesuatu
yang bermanfaat, limbah yang masih bisa digunakan ini salah satunya adalah limbah
kayu. Salah satu pemanfaatan serbuk kayu adalah untuk pembuatan papan partikel
atau sering disebut partikel board.
Menurut Boerhendly (2006), Papan partikel atau partikel board merupakan
salah satu kebutuhan masyarakat yang berbahan dasar utama kayu dan merupakan
salah satu jenis produk komposit atau panil kayu yang terbuat dari partikel-partikel
kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya, yang diikat menggunakan perekat sintesis
atau bahan pengikat lain dan dikempa panas.
Kayu, bambu dan produknya lama-kelamaan akan rusak, terutama disebabkan
oleh organisme perusak kayu (OPK), seperti: bakteri, jamur, dan serangga.
Pencegahan OPK dapat dilakukan dengan proses pengawetan, yaitu memasukkan

bahan kimia beracun ke dalam kayu. Keberhasilan pengawetan selain ditentukan oleh
sifat efikasi bahan pengawet juga bergantung pada sifat keterawetan kayu yang
dicirikan oleh jenis kayu itu sendiri, keadaan kayu pada saat diawetkan, teknik dan
bahan pengawet yang digunakan. Untuk dapat menjamin mutu hasil pengawetan yang
baik diperlukan sistem pengawasan yang ketat. Guna keperluan pengawasan
diperlukan ada spesifikasi atau standar yang memuat syarat dan proses pengawetan
untuk berbagai jenis komoditas sebagai pedoman. Selain papan partikel adapun
pembuatan papan serat.
Papan serat adalah salah satu produk panel hasil rekonstitusi kayu atau bahan
berserat ligno-selulosa lain. Papan serat dibuat dengan pertama-tama

dengan

menceraiberaikan kayu atau bahan berserat berligno-selulosa lain menjadi serat- serat
terpisah (pulping), dan selanjutnya dibentuk menjadi lembaran papan serat
menggunakan media air (proses basah) atau media udara (proses kering). Ikatan antar
serat bisa berasal dari bahan kimia serat sendiri (lignin), dengan demikian bahan
perekat tidak selalu diperlukan. Guna memperbaiki sifat-sifat papan serat (seperti
kekuatan, ketahanan air, dan ketahanan api), bahan lain bisa ditambahkan selama
pembentukan lembaran (aditif internal) atau sesudah lembaran terbentuk (aditif
external/finishing), seperti perekat thermosetting atau thermoplastic, emulsi lilin,
bahan laminasi/coating, bahan pengawet, bahan tahan api, dan perlakuan minyak (oil
tempering). Salah satu keuntungan papan serat adalah dapat dibuat dari kayu bermutu
rendah, limbah kayu, atau kayu (bahan berserat ligno-selulosa lain) berukuran kecil.
Kegunaan papan serat banyak menyamai, atau bahkan bisa melebihi, papan kayu solid
(Anonim, 2003; 2009; 2012).
Berdasarkan kerapatan, papan serat terdiri dari 3 macam, yaitu rendah
(insulation board; 0,02-0,40 g/cm3), sedang (medium density fiberboard/MDF; 0,400,80 g/cm3), dan tinggi (hardboard; 0,80-1,20 g/cm3). Semakin tinggi kerapatan
papan serat, maka semakin besar pula potensi kemampuannya untuk tujuan
konstruksi/struktural (Tsoumi, 1993; Anonim, 2003; 2009a; 2012; 2012a).
Di Indonesia arti penting kegunaan papan serat tercermin dari kecenderungan
lebih besarnya volume impor papan serat (termasuk hardboard) dibandingkan volume
impornya periode 2008-2012. Selama periode tersebut kisaran volume expor papan
serat adalah 73,9-112,8 juta kg, sedangkan volume impornya 191,2- 244,7 juta kg
(Anonim, 2009; 2012i; 2013a). Pada periode tersebut pula, volume impor papan serat
Indonesia jauh melebihi expornya. Ini berindikasi produksi papan serat Indonesia
dalam negeri saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan domestik.

Hal yang

mengkhawatirkan, sejalan dengan laju pertambahan penduduk Indonesia di masa


mendatang, diperkirakan kebutuhan produk kayu (termasuk papan serat) akan
meningkat pula. Ini akan lebih memperparah lagi kesenjangan (defisit) yang sudah
terjadi antara kemampuan produksi papan serat Indonesia dan kebutuhan domestiknya
(Anonim, 2009, 2013a). Hal ini mengingat sumber/potensi persediaan bahan baku
serat konvensional papan serat (khususnya kayu hutan alam), semakin langka dan
terbatas (Anonim, 2012h).
Sehubungan dengan itu, perlu dipikirkan pemanfaatan bahan serat alternatif
non-kayu yang potensinya berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan, seperti rumput
gelagah, tandan kosong kelapa sawit, dan bambu (Pasaribu dan Roliadi, 2006;
Anonim, 2008a; Puspitasari, 2011). Terkait dengan hal tersebut, pada tahun 2013
telah dilakukan percobaan pembuatan papan serat tipe hardboard menggunakan
campuran bahan baku serat rumput gelagah, TKKS, dan serat bambu andong di Pusat
Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (P3KKPHH, Bogor).
Hardboard tersebut dibuat dari campuran bahan serat (sudah dibentuk pulp) yaitu pulp
rumput gelagah (RG) + pulp tandan kosong kelapa sawit (TKKS) + pulp bambu
andong, pada berbagai proporsi (Anggraini et al., 2013). Bahan aditif yang digunakan
berkomposisi perekat tanin formaldehida (TF) + alum + emulsi lilin.
Hasil mengindikasikan penggunaan rumput gelagah paling berprospek;
sedangkan penggunaan TKKS menimbulkan masalah pada pembentukan lembaran
hardboard yang diduga masih terdapatnya sejumlah tertentu sisa lemak/minyak,
sehingga berpengaruh negatif pada sifat terutama kekuatan, kestabilan dimens, dan
warna permukaan lembaran agak gelap. Juga, berdasarkan sifat fisis-mekanisnya,
sebagian besar produk hardboard tidak memenuhi persyaratan standar JIS (Anonim,
2003) dan ISO (Anonim, 2013)
1.2 Rumusan Masalah
Apakah pengertian Partikel Board?
Apakah Bahan Baku Partikel Board?
Apakah jenis jenis dari Partikel Board?
Bagaimana proses pengawetan Partikel Board ?
Bagaimana pengolahan Partikel Board ?
Apakah faktor faktor yang mempengaruhi mutu Partikel Board?
Apakah pengertian papan serat?
Bagaimana cara pembuatan papan serat?
Apakah bahan baku pembuatan papan serat?
Apa saja kelebihan dari papan serat?

1.3 Tujuan
a) Mengetahui pengertian Partikel Board
b) Mengetahui Bahan Baku Partikel Board
c) Mengetahui jenis jenis dari Partikel Board
d) Mengetahui proses pengawetan Partikel Board
e) Mengetahui pengolahan Partikel Board
f) Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi mutu Partikel Board
g) Mengetahui pengertian papan serat
h) Mengetahui bahan baku pembuatan papan serat
i) Mengetahui pengolahan papan serat

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Partikel Board
Papan partikel merupakan salah satu jenis produk komposit atau panil kayu
yang terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya, yang
diikat menggunakan perekat sintesis atau bahan pengikat lain dan dikempa panas
(Putra, 2011). Sifat bahan baku kayu sangat berpengaruh terhadap sifat papan
partikelnya. Sifat kayu tersebut antara lain jenis dan kerapatan kayu, penggunaan kulit
kayu, bentuk dan ukuran bahan baku, penggunaan kulit kayu, tipe, ukuran dan
geometri partikel kayu, kadar air kayu, dan kandungan ekstraktifnya. Papan partikel
mempunyai beberapa kelebihan dibanding kayu asalnya yaitu papan partikel bebas

dari mata kayu, pecah dan retak, ukuran dan kerapatan papan partikel dapat
disesuaikan dengan kebutuhan, tebal dan kerapatannya seragam dan mudah
dikerjakan, mempunyai sifat isotropis, sifat dan kualitasnya dapat diatur. Kelemahan
papan partikel adalah stabilitas dimensinya yang rendah (Bowyer et al, 2003).
Papan partikel adalah papan buatan yang terbuat dari serpihan kayu dengan
bantuan perekat sintetis kemudian mengalami kempa panas sehingga memiliki sifat
seperti kayu, tahan api dan merupakan bahan isolasi serta bahan akustik yang baik
(Dumanauw, 2003). Menurut Badan Standar Nasional (2002) papan partikel adalah
produk kayu yang dihasilkan dari pengempaan panas antara campuran partikel kayu
atau bahan berlignoselulosa lainnya dengan perekat organik serta bahan perekat
lainnya yang dibuat dengan cara pengempaan mendatar dengan dua lempeng datar.
2.2 Menurut Haygreen dan Bowyer (2006), tipe partikel yang digunakan untuk bahan
baku pembuatan papan partikel adalah :
1) Pasahan (shaving), partikel kayu kecil berdimensi tidak menentu yang
dihasilkan apabila mengetam lebar atau mengetam sisi ketebalan kayu.
2) Serpih (flake), partikel kecil dengan dimensi yang telah ditentukan
sebelumnya yang dihasilkan dalam peralatan yang dikhususkan.
3) Biskit (wafer), serupa serpih dalam bentuknya tetapi lebih besar. Biasanya
lebih dari 0,025 inci tebalnya dan lebih dari 1 inci panjangnya.
4) Tatal (chips), sekeping kayu yang dipotong dari suatu blok dengan pisau yang
besar atau pemukul, seperti dengan mesin pembuat tatal kayu pulp.
5) Serbuk gergaji (sawdust), berupa serpih yang dihasilkan oleh pemotongan
dengan gergaji.
6) Untaian (strand), pasahan panjang, tetapi pipih dengan permukaan yang
sejajar.
7) Kerat (silver), hampir persegi potongan melintangnya dengan panjang paling
sedikit 4 kali ketebalannya.
8) Wol kayu (excelsior), keratin yang panjang, berombak, ramping juga
digunakan sebagai kasuran pada pengepakan.
2.3 Jenis Partikel Board
Menurut Sutigno (2004) ada beberapa macam papan partikel yang dibedakan berdasarkan :
Bentuk
Papan partikel pada umumnya berbentuk datar dengan ukuran relatif panjang tipis sehingga
disebut panel. Ada beberapa papan partikel yang tidak datar (papan partikel lengkung) dan
mempunyai bentuk tertentu tergantung pada cetakan yang dipakai seperti bentuk kotak radio.

Pengempaan
Cara pengempaan dapat secara mendatar atau secara ekstrusi. Cara mendatar ada yang
kontinyu dan tidak kontinyu. Cara kontinyu berlangsung melalui ban baja yang menekan
pada saat bergerak memutar. Cara tidak kontinyu pengempaan berlangsung pada lempeng
yang bergerak vertikal dan banyaknya celah dapat satu atau lebih. Pada cara ekstrusi,
pengempaan berlangsung kontinyudiantara dua lempeng statis. Penekanan dilakukan oleh
semacam piston yang berge
rak vertikal dan horizontal.
Kerapatan
Ada tiga kelompok kerapatan papan partikel, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Terdapat
perbedaan batas antara setiap kelompok tersebut, tergantung pada standar yang digunakan.
Kekuatan (Sifat Mekanis)
Pada prinsipnya sama seperti kerapatan, pembagian berdasarkan kekuatan pun ada yang
rendah, sedang dan tinggi. Terdapat perbedaan batas antara setiap macam (tipe) tersebut,
tergantung pada standar yang digunakan. Ada standar yang menambahkan persyaratan
beberapa sifat fisis.
Macam perekat
Macam perekat yang dipakai mempengaruhi ketahanan papan partikel terhadap pengaruh
kelembaban, yang selanjutnya menentukan penggunaannya. Ada standar yang membedakan
berdasarkan sifat perekatnya, yaitu interior dan eksterior. Ada standar yang memakai
penggolongan berdasarkam macam perekat, yaitu Tipe U (urea formaldehyde atau yang
setara), Tipe M (melamin urea formaldehyde atau yang setara) dan tipe P (phenol
formaldehyde atau yang setara).
Susunan partikel
Pada saat membuat partikel dapat dibedakan berdasarkan ukurannya, yaitu halus dan kasar.
Pada saat membuat papan partikel kedua macam partikel tersebut dapat disusun tiga macam
sehingga menghasilkan papan partikel yang berbedayaitu papan partikel homogeny (berlapis
tunggal), papan partikel berlapis tiga dan papan partikel berlapis bertingkat.
Arah partikel

Pada saat membuat hamparan, penaburan partikel (yang sudah dicampur dengan perekat)
dapat dilakukan secara acak (arah serat partikel tidak teratur) atau arah serat diatur, misalnya
sejajar atau bersilangan tegak lurus. Untuk yang disebutkan terakhir dipakai partikel yang
relatif panjang, biasanya berbentuk untai (strand) sehingga disebut papan untai terarah
(oriented strand board atau OSB).
Penggunaan
Berdasarkan penggunaan yang berhubungan dengan beban, papan partikel dibedakan menjadi
papan partikel penggunaan umum dan papan partikel struktural (memerlukan kekuatan yang
lebih tinggi). Untuk membuat mebel, pengikat dinding dipakai papan partikel penggunaan
umum. Untuk membuat komposisi dinding, peti kemas dipakai papan partikel struktural.
Pengolahan
Ada dua macam papan partikel berdasarkan tingkat pengolahannya, yaitu pengolahan primer
dan pengolahan sekunder. Papan partikel pengolahan primer adalah papan partikel yang
dibuat melalui pembuatan partikel, pembentukan hamparan dan pengempaan yang
menghasilkan papan partikel. Papan partikel pengolahan sekunder adalah pengolahan
lanjutan dari papan partikel pengolahan primer misalnya dilapisi vinir indah, dilapisi kertas
aneka corak.
2.4 Pengawetan Partikel Board
Pengawetan kayu pada dasarnya merupakan tindakan pencegahan terhadap serangan
organisme perusak kayu (OPK), seperti jamur, serangga dan binatang laut penggerek kayu.
Tindakan pencegahan, pertama dilakukan pada dolok segar yang baru dipotong dan kayu
gergajian basah terhadap serangan jamur biru dan kumbang ambrosia atau disebut
pengawetan sementara (prophylactyc treatment). Kedua, pencegahan yang bersifat jangka
panjang atau permanen. Tindakan tersebut lebih dikenal dengan istilah pengawetan, bertujuan
untuk meningkatkan keawetan atau daya tahan kayu terhadap OPK. Dengan demikian,
melalui pengawetan mutu dan volume kayu dapat ditingkatkan. Jenis kayu kurang awet dan
belum digunakan dapat dimanfaatkan dengan baik menjadi berbagai macam produk yang
berarti dapat mencegah pemborosan, menambah ketersediaan kayu dan membuka peluang
pasar. Selain itu, konsumen pemakai kayu akan memperoleh kepuasan dan jaminan berupa
kayu awet. Makalah ini menguraikan berbagai macam metode pengawetan sebagai bahan
pertimbangan dalam standardisasi pengawetan kayu, bambu dan produknya (Barly, 2009).

o Partikel board adalah jenis kayu kering, sehingga proses pengawetanya adalah;
1. Pelaburan, pemulasan dan penyemprotan
Pengawetan dengan cara tersebut dapat dilakukan dengan alat sederhana. Cairan bahan
pengawet larut organik atau berupa minyak dengan kekentalan rendah lazim digunakan dalam
pengawetan kayu kering yang sudah siap pakai atau sudah terpasang. Pada kayu yang sudah
terpasang pelaburan dapat diulangi secara periodik setiap 2 3 tahun. Bahan pengawet yang
masuk ke dalam kayu sangat tipis. Penembusan akan lebih dalam apabila terdapat retak. Cara
tersebut hanya dipakai untuk maksud terbatas, yaitu membunuh serangga atau perusak yang
belum banyak pada kayu yang sudah terpasang (represif). Selain pada kayu, juga dapat
dilakukan pada kayu lapis, bambu dan produknya.
2. Pencelupan
Pengawetan kayu dengan cara pencelupan, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan
cara pelaburan atau penyemprotan karena bahan pengawet akan mengenai seluruh
permukaan. Lama waktu pencelupan dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau standar.
Biasanya waktu pencelupan dalam larutan pengawet pelarut organik atau minyak lebih
singkat, yaitu kurang dari satu jam, sementara apabila digunakan bahan pengawet pelarut air
lebih lama. Kelemahan cara tersebut adalah penembusan dan retensi yang diharapkan tidak
memuaskan. Karena hanya melapisi permukaan kayu sangat tipis, tidak berbeda dengan cara
penyemprotan dan pelaburan. Cara tersebut dipraktekkan pada pengawetan bambu dan
industri kayu lapis dalam mengawetkan venir serta di industri penggergajian untuk mencegah
jamur biru.
3. Rendaman panas-dingin
Metode rendaman panas-dingin merupakan salah satu proses sederhana untuk mengawetkan
kayu kering dan setengah kering yang umum digunakan sebagai
bahan konstruksi rumah dan gedung (Anonim, 1999). Dalam cara ini kayu direndam dalam
bak pengawetan yang terbuat dari logam, kemudian larutan bersama isinya

dipanaskan

selama beberapa jam dan dibiarkan tetap terendam sampai larutan dingin. Cara lain
dilakukan, kayu berserta larutan dipanaskan beberapa jam, kemudian kayu diangkat dan
dimasukkan ke dalam bak lain yang bersi larutan dingin. Suhu pemanasan berkisar 70C atau
80 95C apabila kreosot yang digunakan
4. Perendaman dingin

Metode rendaman dingin merupakan salah satu proses sederhana untuk mengawetkan kayu
kering dan setengah kering yang umum digunakan sebagai bahan konstruksi rumah dan
gedung (Anonim, 1999). Bak pengawetannya dapat dibuat dari besi, kayu atau beton
bergantung kepada keperluan. Dalam cara ini kayu direndam dalam bak pengawetan dan
dibiarkan tetap terendam. Lama waktu perendaman bergantung kepada jenis kayu dan ukuran
tebal sortimen atau perendaman dihentikan apabila berat contoh uji sebelum dan semudah
diawetkan menunjukkan nilai retensi yang dikehendaki. Cara tersebut sangat cocok untuk
mengawetkan kayu yang memiliki kelas keterawetan mudah dan sedikit sukar diawetkan
dengan cara tekanan.

5. Vakum tekan
Salah satu keistimewaan dari proses ini adalah waktu pengawetan relatif cepat dan jalannya
dapat dikendalikan sehingga retensi dan penembusan bahan pengawet dapat disesuaikan
dengan komoditas dan tujuan akhir penggunaan kayu. Pengawetan dilakukan dalam tabung
tertutup dengan tekanan tinggi yaitu yaitu antara 800 kPa- 1400 kPa. Banyak variasi dalam
proses tekanan, tetapi prinsip kerjanya sama dan secara garis besar dibagi atas dua golongan
yaitu proses sel penuh (full cell process) dan sel kosong (empty cell process) Proses sel penuh
digunakan apabila menginginkan absorbsi larutan dalam kayu maksimum. Sedangkan proses
sel kosong diperlukan apabila apabila tujuannya untuk memperoleh penembusan sedalamdalamnya dengan retensi yang minimum, menggunakan bahan pengawet creosote dan pelarut
minyak. Dalam proses tekanan, kayu yang akan diawetkan disyaratkan harus dalam keadaan
kering atau kadar air maksimum 30%. Akan tetapi bagi kayu yang rentan terhadap jamur biru
dan kumbang ambrosia dapat dilakukan dalam keadaan segar atau basah dengan proses
tekanan berganti (Alternating Pressure Method) atau vakum-tekan berganti (Oscillating
Pressure Method).
2.5 Pengolahan Partikel Board
Nuryawan et al (2005) menyatakan bahwa proses pembuatan papan partikel terdiri atas
tahap-tahap seperti :
1) Penyiapan partikel kayu
2) Pengeringan
3) Refining

4)
5)
6)
7)
8)
9)

Pemisahan partikel kayu


Perekatan
Pembentukan lembaran papan (mat forming)
Pengempaan (pressing)
Pengkondisian (conditioning)
Finishing

2.6 Mutu Partikel Board


Sutigno (2004) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi mutu papan partikel,
yaitu
Berat jenis kayu
Perbandingan antara kerapatan atau berat jenis papan partikel dengan berat jenis kayu harus
lebih besar dari satu, yaitu sekitar 1,3 agar mutu papan partikelnya baik. Pada keadaan
tersebut proses pengempaan berjalan optimal sehingga kontak antar partikel baik.
Zat ekstraktif kayu
Kayu yang berminyak akan menghasilkan papan partikel yang kurang baik
dibandingkan dengan papan partikel dari kayu yang tidak berminyak. Zat ekstraktif semacam
itu akan mengganggu proses perekatan.
Jenis kayu

Jenis kayu (misalnya meranti kuning) yang kalau dibuat papan partikel emisi
formaldehidanya lebih tinggi dari jenis lain (misalnya meranti merah). Masih diperdebatkan
apakah karena pengaruh warna atau pengaruh zat ekstraktif atau pengaruh keduanya.
Campuran jenis kayu
Keteguhan lentur papan partikel dari campuran jenis kayu ada di antara keteguhan lentur
papan partikel dari jenis tunggalnya, karena itu papan partikel struktural lebih baik dibuat dari
satu jenis kayu daripada dari campuran jenis kayu.
Ukuran partikel
Papan partikel yang dibuat dari tatal akan lebih baik daripada yang dibuat dari serbuk karena
ukuran tatal lebih besar daripada serbuk. Karena itu, papan partikel struktural dibuat dari
partikel yang relatif panjang dan relatif lebar.
Kulit kayu
Makin banyak kulit kayu dalam partikel kayu sifat papan partikelnya makin kurang baik
karena kulit kayu akan mengganggu proses perekatan antar partikel. Banyaknya kulit kayu
maksimum 10%.
Perekat
Jenis perekat yang dipakai mempengaruhi sifat papan partikel. Penggunaan perekat eksterior
akan menghasilkan papan partikel eksterior sedangkan pemakaian perekat interior akan
menghasilkan papan partikel interior. Walaupun demikian, masih mungkin terjadi
penyimpangan, misalnya karena ada perbedaan komposisi perekat dan terdapat banyak sifat
papan partikel.

2.7 pengertian papan serat


Papan serat adalah salah satu produk panel hasil rekonstitusi kayu atau bahan berserat
ligno-selulosa lain. Papan serat dibuat dengan pertama-tama dengan menceraiberaikan kayu
atau bahan berserat berligno-selulosa lain menjadi serat- serat terpisah (pulping), dan
selanjutnya dibentuk menjadi lembaran papan serat menggunakan media air (proses basah)
atau media udara (proses kering). Ikatan antar serat bisa berasal dari bahan kimia serat sendiri
(lignin), dengan demikian bahan perekat tidak selalu diperlukan. Guna memperbaiki sifat-

sifat papan serat (seperti kekuatan, ketahanan air, dan ketahanan api), bahan lain bisa
ditambahkan selama pembentukan lembaran (aditif internal) atau sesudah lembaran terbentuk
(aditif external/finishing), seperti perekat thermosetting atau thermoplastic, emulsi lilin,
bahan laminasi/coating, bahan pengawet, bahan tahan api, dan perlakuan

minyak (oil

tempering). Salah satu keuntungan papan serat adalah dapat dibuat dari kayu bermutu rendah,
limbah kayu, atau kayu (bahan berserat ligno-selulosa lain) berukuran kecil. Kegunaan papan
serat banyak

2.8 Bahan Baku Papan Serat


Kayu chip, serutan, dan serbuk gergaji biasanya membentuk bahan baku papan serat.
Namun, dengan daur ulang dan isu lingkungan menjadi norma, limbah kertas, rambut jagung,
dan bahkan ampas tebu (serat dari tebu) yang digunakan juga. Bahan lain sedang didaur
ulang menjadi MDF juga. Salah satu perusahaan yang menggunakan bahan sampah kering
Kayu chip, serutan, dan serbuk gergaji biasanya membentuk bahan baku papan serat. Namun,
dengan daur ulang dan isu lingkungan menjadi norma, kertas bekas, rambut jagung, ampas
tebu (serat dari tebu), kardus, kemasan karton berisi minuman plasfics dan logam, direktori
telepon, dan koran bekas yang digunakan.
Kayu chip, serutan, dan serbuk gergaji biasanya membentuk bahan baku papan serat. Namun,
dengan daur ulang dan isu lingkungan menjadi norma, kertas bekas, rambut jagung, ampas
tebu (serat dari tebu), kardus, kemasan karton berisi minuman plasfics dan logam, direktori
telepon, dan koran bekas yang digunakan.
pada tingkat 100.000 ton per tahun. Selain limbah kayu, kardus, kardus wadah minum yang
mengandung plastik dan logam, direktori telepon, dan koran bekas yang digunakan pada
perusahaan ini. Resin sintetis digunakan untuk obligasi bersama-sama serat dan aditif lain
dapat digunakan untuk meningkatkan sifat tertentu.
2.9 cara pembuatan papan serat
Papan serat adalah lembaran kertas dengan ketebalan tertentu ( jauh lebih tebal dari
kertasnya). Oleh karena itu proses pembuatan papan serat mengacu pada proses pembuatan
lembaran kertas dengan modifikasi tertentu untuk memproduksi ketebalan tertentu. Proses
pembuatan papan serat secara umum mengikuti tahapan tahapan sebagai berikut :

Pengumpulan bahan baku


Pembuatan serpih ( chipping)
Pembuatan pulp ( pulping)
Pemberian bahan penolong ( sizing) dan perekat (adhesifeng)
Membentukan lembaran ( mat forming)
Pengepaan ( pressing)
Perlakuan minyak ( oil trepering)
Perlakuan panas ( heat treatment)
Pengkondisian ( humidify cation)

2.10 Kelebihan Papan Serat


Pembuatan papan serat memberikan jalan pemecahan limbah lignose selulosa disamping
menghasilkan produk dengan sifat spesifik. Industry papan serat secara umum sebagai berikut
1. Industry dapat dibuat sebagai aneksasi dari industry kayu
2. Industry menggunakan limbah serat ataupun termasuk limbah kayu pertanian dan
limbah perkotaann.
3. Limbah papan serat tertentu dapat menggunakan serbuk dan kulit kayu ataupun
partikel lain
4. Modal untuk membangun pabrik papan serat lebih rendah di bandingkan dengan
industry pengelolahan serat lainnya (pulp dan kertas)
5. Bahan kimia hyang di perlukan sangat sedikit sehingga lebih ramah terhadap
lingkungan
6. Teknologi yang di terapkan tidak begitu kompleks
7. Pemasaran produk sebagai papan solid sangat besar

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Papan partikel merupakan salah satu jenis produk komposit atau panil kayu yang
terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya, yang diikat
menggunakan perekat sintesis atau bahan pengikat lain dan dikempa panas Sifat bahan baku
kayu sangat berpengaruh terhadap sifat papan partikelnya. Sifat kayu tersebut antara lain
jenis dan kerapatan kayu, penggunaan kulit kayu, bentuk dan ukuran bahan baku,
penggunaan kulit kayu, tipe, ukuran dan geometri partikel kayu, kadar air kayu, dan
kandungan ekstraktifnya. Bahan baku dari partikel board adalah Pasahan (shaving), Serpih
(flake), Biskit (wafer), Tatal (chips), Serbuk gergaji (sawdust), Untaian (strand), Kerat
(silver) dan Wol kayu (excelsior). Jenis partikel board dapat dibedakan berdasarkan bentuk,
pengempaan, kerapatan, kekuatan (Sifat Mekanis), macam perekat, susunan partikel, arah
partikel, penggunaan dan pengolahan. Pengawetan partikel board dpat dilakukan dengan
cara pelaburan, pemulasan dan penyemprotan, pencelupan, rendaman panas-dingin,
perendaman dingin dan vakum tekan. Faktor faktor yang mempengaruhi mutu partikel
board adalah berat jenis kayu, zat ekstraktif kayu, jenis kayu, campuran jenis kayu, ukuran
partikel, kulit kayu dan perekat

Kayu, bambu dan produknya lama-kelamaan akan rusak, terutama disebabkan oleh
organisme perusak kayu (OPK), seperti: bakteri, jamur, dan serangga. Pencegahan OPK dapat
dilakukan dengan proses pengawetan, yaitu memasukkan bahan kimia beracun ke dalam
kayu. Keberhasilan pengawetan selain ditentukan oleh sifat efikasi bahan pengawet juga
bergantung pada sifat keterawetan kayu yang dicirikan oleh jenis kayu itu sendiri, keadaan
kayu pada saat diawetkan, teknik dan bahan pengawet yang digunakan. Untuk dapat
menjamin mutu hasil pengawetan yang baik diperlukan sistem pengawasan yang ketat. Guna
keperluan pengawasan diperlukan ada spesifikasi atau standar yang memuat syarat dan proses
pengawetan untuk berbagai jenis komoditas sebagai pedoman.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standart Nasional. 2002. Panel kayu Papan serat, papan partikel dan OSB Istilah
dan definisi.
Barly, 2009, Standardisasi Pengawetan Kayu dan Bambu Serta Produknya. Prosiding PPI
Standardisasi. Jakarta.
Bowyer. 2006. Problems of wood preservation in Indonesia. Kehutanan Indonesia 1: 460-469
Browyer et al. 2003. Minstry of Technology Forest Products Research Laboratory. Princes
Risborough, Aleysbury
Cahyadi. R. 2007. Kualitas Papan Partikel Batang Bawah, Batang Atas dan Cabang Kayu
Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.). IPB. Bogor
Dumanaw,I. 2003. Pengaruh senyawa boron terhadap sifat papan partikel kayu karet (Hevea
brasiliensis). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 10(5): 160-166
Nuryawan et al, 2005. Teknologi Pengolahan Kayu. Kanisius. Jogjakarta.
Sutigno,J. R. 2004. Rekayasa Bambu. Nafiri Offset, Yogyakarta