Anda di halaman 1dari 36

Modul Praktikum Jaringan Komputer

Laboratorium Jaringan Komputer

http://www.ee.ui.ac.id/netlab

Departemen Teknik Elektro


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
2009
Modul 1
Pengenalan software analisa dan simulasi jaringan

Tujuan :

1. Mengenali perangkat lunak jaringan berdasarkan fungsinya

2. Menggunakan software packet tracer untuk simulasi jaringan sederhana

Terdapat berbagai macam software yang dapat membantu kita dalam menganalisa ataupun
mendisain jaringan komputer. Dalam masa 1 semester praktikum jaringan komputer kali ini
kita akan menggunakan 3 jenis tools yang bisa membantu kita dalam kegiatan praktikum.

A. Packet Tracer

Packet tracer adalah sebuah simulator protocol jaringan yang dikembangkan oleh Cisco
System. Paket Tracer dapat mensimulasikan berbagai macam protocol yg digunakan
pada jaringan baik secara realtime maupun dengan mode simulasi.

Workspace

Select
Device
Box

Gambar.1 Tampilan Packet Tracer


Membuat jaringan peer-to-peer menggunakan packet tracer :

1. Ambil 2 buah PC dari select device box pada bagian end devices ke logical
workspace seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

2. Hubungkan 2 PC tadi dengan kabel yang sesuai (kabel cross) pada masing-masing
port Ethernet
Jaringan peer to peer selesai dibuat, untuk melihat mengecek apakah kedua PC sudah
benar-benar tersambung, kita dapat melakukan perintah ping atau memberikan paket ICMP
dari PC0 ke PC1 atau sebaliknya seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

1. Set alamat IP tiap-tiap PC yang berada dalam 1 network (dalam hal ini PC0
192.168.1.1; PC1 192.168.1.2

2. Ping dapat dilakukan melalui virtual command line tiap PC atau mengirimkan paket
ICMP yang dapat kita klik langsung dari objek PC0 ke PC1.

3. Selain mode realtime kita juga dapat memilih mode simulation, dimana pada saat
kita melakukan perintah, kita dapat mengetahui prorokol yang digunakan dan apa
yang sebenarnya terjadi pada setiap layer. Contohnya pada saat perintah ping pada
gambar dibawah ini.

Membuat jaringan sederhana dengan menggunakan fitur multi user pada


packet tracer :

Pada aplikasi packet tracer kita dimungkinkan untuk membuat simulasi jaringan
gabungan antara simulasi jaringan menggunakan packet tracer di 2 atau lebih PC
yang saling terhubung dalam satu network. Contoh penggunaan :

1. Buat jaringan sederhana lalu masukkan awan multiuser :


2. Klik pada awan multi user peer0, lalu set mode ke outgoing, dan ip address PC lain
dimana terdapat simulasi jaringan yang akan dikoneksikan, set peer network name
dan password

3. Tekan tombol connect dan tunggu konfirmasi koneksi (mode incoming) di PC yang
dituju muncul. Setelah terkoneksi, kita langsung dapat menjalankan 2 simulasi di PC
yang berbeda.
Modul 2

Network Analysis Tool, Application Layer Protocol, dan


Transport Layer Protocol

1. Network Analysis Tool


a. Tujuan
- Mendeskripsikan fungsi dari Wireshark sebagai salah satu network analysis
tool.
- Melakukan capture dengan Wireshark

b. Latar Belakang
Wireshark merupakan salah satu network analysis tool, atau disebut juga dengan
protocol analysis tool atau packet sniffer. Wireshark dapat digunakan untuk
troubleshooting jaringan, analisis, pengembangan software dan protocol, serta
untuk keperluan edukasi. Wireshark merupakan software gratis, sebelumnya,
Wireshark dikenal dengan nama Ethereal.
Packet sniffer sendiri diartikan sebagai sebuah program atau tool yang memiliki
kemampuan untuk ‘mencegat’ dan melakukan pencatatan terhadap traffic data
dalam jaringan. Selama terjadi aliran data dalam, packet sniffer dapat
menangkap protocol data unit (PDU), melakukan dekoding serta melakukan
analisis terhadap isi paket berdasarkan spesifikasi RFC atau spesifikasi-
spesifikasi yang lain.
Wireshark sebagai salah satu packet sniffer diprogram sedemikian rupa untuk
mengenali berbagai macam protokol jaringan. Wireshark mampu menampilkan
hasil enkapsulasi dan field yang ada dalam PDU.
c. Prosedur
Pada bagian ini akan diberikan bagaimana menggunakan Wireshark serta contoh
melakukan capture PDU.
1) Jalankan Wireshark
2) Untuk melakukan capture dengan memilih pilihan yang tersedia, pilih menu
Capture > Options... akan tampil jendela semacam ini:
3) Pada jendela Capture Option, pilihlah interface Ethernet yang akan di-
capture. Terlihat pada screenshot di atas terdapat 3 buah highlight. Highlight
paling atas menunjukkan pilihan untuk melakukan capture pada Promiscuous
Mode. Jika pilihan ini diaktifkan, maka Wireshark akan melakukan capture
terhadap paket-paket yang ditujukan untuk komputer ini dan paket-paket
yang terdeteksi oleh NIC dari komputer-komputer dalam satu segmen
jaringan.
Highlight kedua menunjukkan pilihan-pilihan untuk mengatur tampilan atau
informasi yang akan ditampilkan oleh Wireshark. Jika pilihan hide capture
dialog info dinonaktifkan, ketika kita memulai capture, Wireshark akan
menampilkan jendela tambahan yang memberikan statistik persentase
protokol yang ter-capture sebagai berikut:
Highlight ketiga memberikan pilihan bahwa Wireshark akan menerjemahakan
alamat jaringan dalam PDU menjadi nama. Mengaktifkan pilihan ini akan
menambah PDU ekstra ke dalam data yang ter-capture.
Jendela Wireshark terdiri atas tiga bagian, seperti ditunjukkan pada
screenshot berikut:

Packet List Pane

Packet Detail Pane

Packet Byte Pane

Packet List Pane menampilkan ringkasan dari paket-paket yang tertangkap


oleh Wireshark. Memilih salah satu paket yang tampil pada bagian ini akan
memperlihatkan detail dari paket tersebut pada dua panel di bawahnya.
Packet Detail Pane menampilkan detail dari paket yang dipiliha pada Packet
List Pane.
Packet Byte Pane menunjukkan isi data dari sebuah paket dalam
heksadesimal serta menunjukkan detail dari field yang dipilih pada Packet
Detail Pane.
Untuk memulai proses capture, klik pada tombol Start.
4) Buka command prompt dengan cara klik Start > Run... > ketikkan cmd >
klik OK. Lakukan ping ke komputer sebelah anda dengan mengetikkan
perintah ping IPkomputerDiSebelahAnda.
5) Aktivitas ping tersebut akan terekam oleh Wireshark, simpan hasil capture
dengan memilih menu File > Save As... pada Wireshark.
6) Berdasarkan hasil capture Wireshark tersebut, isikan informasi yang diminta
pada borang yang disediakan.
2. Application Layer Protocol
a. Tujuan
- Menggunakan Wireshark untuk menangkap PDU
- Mengamati protokol HTTP sebagai protokol pada Application Layer

b. Latar Belakang

Application Layer merupakan layer paling atas, baik pada model OSI, maupun
model TCP/IP. Layer ini menyediakan antarmuka antara aplikasi-aplikasi yang
kita gunakan, dengan jaringan yang digunakannya untuk melakukan pertukaran
informasi. Pada pertukaran informasi antar aplikasi yang berjalan pada host
pengirim dan host tujuan digunakan berbagai protokol Application Layer.

Protokol pada application layer menentukan bagaimana pesan dipertukarkan


antara host pengirim dan tujuan, sintaks dari perintah-perintah kontrol (control
command), jenis dan format data yang dipertukarkan, metode yang digunakan
untuk mengetahui terjadinya kesalahan dan bagaimana mengatasi kesalahan
tersebut, serta bagaimana interaksi dengan layer yang berada di bawahnya.

Terdapat banyak protokol untuk apllication layer, antara lain Domain Name
Service Protocol (DNS), Hypertext Transfer Protocol (HTTP), Simple Mail
Transfer Protocol (SMTP), Telnet, Filet Transfer Protocol (FTP), dan sebagainya.
Pada praktikum ini akan dilakukan analisis terhadap protokol yang sering kita
gunakan, yaitu HTTP.

Hypertext Transfer Protocol (HTTP), pada awalnya merupakan prokol yang


dikembangkan untuk mempublikasikan maupun mengunduh halaman HTML.
Saat ini, HTTP yang merupakan protokol pada application layer yang paling
sering digunakan juga dimanfaatkan untuk transfer data. HTTP menentukan
mendefinisikan protokol dalam melakukan request dan response antar klien dan
server. Dengan HTTP, terdapat tiga jenis pesan yang dipertukarkan, yaitu GET,
POST, dan PUT. GET digunakan oleh klien untuk melakukan request. POST dan
PUT digunakan untuk melakukan upload data ke server.

c. Prosedur
1) Jalankan Wireshark dan mulailah capture.
2) Buka web browser yang ada pada komputer
3) Masukkan alamat www.google.com. Setelah halaman www.google.com terbuka,
tekanlah tombol Refresh pada web browser.
4) Hentikan capture Wireshark dan simpanlah hasil capture Wireshark tersebut.
Tutuplah web browser.
5) Analisislah hasil capture dan isikan informasi yang diminta pada borang yang
tersedia.

3. Transport Layer Protocol


a. Tujuan
- Mengetahui protokol pada transport layer
- Mengetahui cara kerja TCP dan mengidentifikasi TCP header menggunakan
wireshark dan sesi FTP
b. Latar Belakang
Transport Layer memiliki beberapa fungsi. Ia bertugas untuk melakukan
identifikasi aplikasi yang saling berkomunikasi dan menjaga komunikasi antara
aplikasi dari pengirim ke penerima. Selain itu, layer ini juga memiliki fungsi
melakukan pembagian data menjadi bagian-bagian kecil yang disebut sebagai
segment serta menggabungkan kembali segment tersebut pada host yang
menerima.
Dalam TCP/IP Transport Layer digunakan 2 macam protokol, yakni TCP dan
UDP. Masing-masing protokol memiliki karakteristik tertentu dan mendukung
protokol-protokol pada layer di atasnya. Misalnya TCP mendukung HTTP dan
FTP, sementara UDP mendukung DNS dan TFTP. Perbedaan antara kedua
protokol tersebut ada pada reliabilitasnya.
Untuk menjalanakan tugasnya baik TCP dan UDP menambahkan header pada
data yang akan dikirim. Isi header antara kedua protokol tersebut berbeda,
sesuai dengan karakteristik masing-masing protokol. Header yang dipasang oleh
kedua protokol tersebut dapat iidentifikasi dan dianalisis dengan menggunakan
network analyzer tool, salah satunya adalah Wireshark. Header pada protokol
TCP dapat dilihat pada gambar berikut:
Untuk protokol UDP, header yang ditambahkan adalah sebagai berikut:

c. Prosedur
1) Jalankan program FileZilla yang ada pada komputer.
2) Jalankan Wireshark dan mulai proses capture.
3) Pada jendela program FileZilla, isi bagian Host, Username, Password, dan
Port. Kemudian klik pada tombol Quickconnect.
4) Download file labjaringan.html dari FTP server, tunggu hingga terdapat pesan
“file transfer successful” pada FileZilla.
5) Hentikan capture Wiershark dan simpan hasil capture tersebut.
6) Analisis hasil capture Wireshark dan isikan informasi yang diminta pada
borang.
MODUL 3
SUBNETTING & PENGATURAN IP PADA LOKAL AREA
NETWORK

TUJUAN PRAKTIKUM :

1. Memahami Format IP Addressing versi 4 beserta pembagian kelasnya.


2. Memahami Subnetting Classfull & Classless secara CIDR / VLSM.
3. Dapat mengkonfigurasi IP pada jaringan Local Area Network.

PENDAHULUAN

Untuk berkomunikasi dengan host lain didalam suatu jaringan, sebuah host harus
mempunyai IP (Internet Protocol) address. Pada praktikum ini, IP yang digunakan
adalah IPv4 yang memiliki panjang 32 bit (4 byte).

IP address sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian network address dan
node/host address. IPv4 terdiri dari 5 class, yaitu A, B, C, D dan E. Kelas D
digunakan untuk multicasting, sedangkan kelas E untuk riset.

Gambar Contoh Penggunaan IP Address


Berikut adalah alokasi bit untuk alamat IPv4 :

Kelas A :

Kelas B :

Kelas C :

Berikut adalah IP Address Range untuk masing-masing kelas :


Subnetting :

Mengapa dilakukan subnetting ?


1. Untuk mengurangi lalu lintas jaringan (mengurangi broadcast storm/
memperkecil broadcast domain)
2. Mengoptimalisasi unjuk kerja jaringan
3. Pengelolaan yang disederhanakan (memudahkan pengelolaan,
mengidentifikasikan permasalahan)
4. Penghematan alamat IP

Pada dasarnya subnetting adalah mengambil bit-bit dari bagian host sebuah alamat
IP danme-reserve atau menyimpannya untuk mendefinisikan alamat subnet.
Konsekuensinya adalah semakin sedikit jumlah bit untuk host. Jadi semakin banyak
jumkah subnet, semakin sedikit jumlah bit yang tersedia untuk mendefinisikan host
bit.

Contoh Subneting

Misalkan tersedia network address 192.168.1.0 / 24 → “ berarti kelas C ”. (Lihat


tabel di atas) Misal kita membutuhkan 6 kelompok jaringan/network, maka yang kita
lakukan adalah membagi alamat tersebut menjadi 6 subnet. Maka rumus yang
digunakan adalah 2^n >= jumlah subnet. Variabel n menunjukkan jumlah bit yang
dipinjam dari bit-bit host untuk dijadikan bit subnet.

Perhitungan:

2^n >= 6 => 2^3 >= 6 ,sehingga n = 3

Perhitungan dengan metode binary :

- subnet mask default (dlm biner) : 11111111.11111111.11111111.00000000


- tambahkan 3 bit 1 di ruas paling belakang :
11111111.11111111.11111111.11100000
- konversi subnet tsb ke desimal : 255.255.255. 224
(Berarti subnet mask addressnya adalah 255.255.255.224 untuk mendapatkan 6
subnet)

Sekarang untuk mengetahui jumlah IP yang dapat dipakai untuk tiap host di tiap
subnet, lakukan operasi berikut :

256 jumlah rentang dari 0 – 255

224 - nilai ruas terakhir dari subnet yang baru

32 digunakan sebagai range buat subnetnya

Hasil 32 menunjukkan IP yang dapat dipakai untuk tiap subnet mask yang baru.
Berikut ini adalah daftar semua subnet untuk subnet mask class C 255.255.255 224
:
Subnet ke 0 : 192.168.1.0 – 192.168. 1. 31
Subnet ke 1 : 192.168.1.32 - 192.168.1. 63
Subnet ke 2 : 192.168.1.64 - 192.168.1. 95
Subnet ke 3 : 192.168.1.96 - 192.168.1.127
……………….
Subnet ke 7 : 192.168.1.224 – 192.168.1.255

Contoh menghitung broadcast address

Coba hitung broadcast address dan network address untuk IP 192.168.1.4 /29
Jawab : /29 berarti netmask = 255.255.255.248
IP Adress : 192.168.1.4 11000000.10101000.00000001.00000100
netmask : 255.255.255.248 11111111.11111111.11111111.11111000
Network Addr: 192.168.1.0 11000000.10101000.00000001.00000000
(AND)
Broadcast Addr: 192.168.1.7 11000000.10101000.00000001.00000111
(invers)

CIDR ( Classless Interdomain Domain Routing)

Perhitungan subnetting pada CIDR merupakan perhitungan lanjutan mengenai IP


Addressing dengan menggunakan metode VLSM ( Variable Length Subnet Mask ),
namun sebelum membahas VLSM perlu direview terlebih dahulu subnetting
menggunakan CIDR.

Pada tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep perhitungan IP


Address yang dinamakan supernetting atau classless inter domain routing (CIDR),
metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagai
network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang
digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkan
pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif.
Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak
berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai.

Sebelum kita melakukan perhitungan IP address menggunakan metode CIDR


berikut ini adalah nilai subnet yang dapat dihitung dan digunakan :

Subnet Mask CIDR Subnet Mask CIDR


255.128.0.0 /9 255.255.240.0 /20
255.192.0.0 /10 255.255.248.0 /21
255.224.0.0 /11 255.255.252.0 /22
255.240.0.0 /12 255.255.254.0 /23
255.248.0.0 /13 255.255.255.0 /24
255.252.0.0 /14 255.255.255.128 /25
255.254.0.0 /15 255.255.255.192 /26
255.255.0.0 /16 255.255.255.224 /27
255.255.128.0 /17 255.255.255.240 /28
255.255.192.0 /18 255.255.255.248 /29
255.255.224.0 /19 255.255.255.252 /30
Catatan penting dalam subnetting ini adalah penggunaan oktat pada subnet mask
dimana :

- untuk IP Address kelas C yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada oktat
terakhir karena pada IP Address kelas C subnet mask default-nya adalah
255.255.255.0

- untuk IP Address kelas B yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 2


oktat terakhir karena pada IP Address kelas B subnet mask default-nya
adalah 255.255.0.0

- untuk IP Address kelas A yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 3


oktat terakhir karena IP Address kelas A subnet mask default-nya adalah
255.0.0.0

VLSM ( Variable Length Subnet Mask )

Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda


dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, jika
menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask
saja, perbedaan yang mendasar disini juga adalah terletak pada pembagian blok,
pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik Network Address
yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai IP address local dan
IP Address ini tidak dikenal dalam jaringan internet, namun tetap dapat melakukan
koneksi kedalam jaringan internet, hal ini terjadi dikarenakan jaringan internet hanya
mengenal IP Address berkelas.

Metode VLSM ataupun CIDR pada prinsipnya sama yaitu untuk mengatasi
kekurangan IP Address dan dilakukannya pemecahan Network ID guna mengatasi
kekerungan IP Address tersebut. Network Address yang telah diberikan oleh
lembaga IANA jumlahnya sangat terbatas, biasanya suatu perusahaan baik instansi
pemerintah, swasta maupun institusi pendidikan yang terkoneksi ke jaringan internet
hanya memilik Network ID tidak lebih dari 5 – 7 Network ID (IP Public).

Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat


berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan network-nya dapat
memenuhi persyaratan ; routing protocol yang digunakan harus mampu membawa
informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol :
RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP
1-2), semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung
metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi. Tahapan
perihitungan menggunakan VLSM IP Address yang ada dihitung menggunakan
CIDR selanjutnya baru dipecah kembali menggunakan VLSM, sebagai contoh :

130.20.0.0/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
Dst … sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20

Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :

- Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil
perhitungan subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
- Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini
kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak
menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24, dst..sampai ke 16

- Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun
oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari
32
- sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27, dst

IPv6 Addresses (TAMBAHAN)

IPv6 adalah format IP dengan panjang 128 bit dan umumnya ditulis sebagai 8
bilangan 16 bit hexadecimal.Memiliki jumlah alamat IP = 2128 (sekitar 3.4x 1038).
Bandingkan dengan IPv4 dengan format hanya 32 bit yang berarti memiliki jumlah IP
= 232 (sekitar 4.3x109).

Format penulisannya adalah dengan hexadecimal yang masing-masing 16 bit


dengan dipisahkan dengan tanda titik dua (:) Representasi alamat pada IPv6 ada
beberapa macam

- Model x: x: x: x: x: x: x: x
X adalah nilai berupa hexadecimal 16 bit dari porsi alamat. Karena terdapat 8 buah
‘x’,
jumlah total = 816 = 128 bit.
Contohnya : FEDC:BA98:7654:3210:FEDC:BA98:7654:3210

-Jika format pengalamatan IP mengandung kumpulan group 16 bit bernilai ‘0’, maka
direpresentasikan dengan “::”.
Contohnya : 3FFE:0:0:0:0:0:FE56:3210 dapat direpresentasikan menjadi
3FFE::FE56:3210

-Model x: x: x: x: x: d: d: d
d adalah alamat IPv4 32 bit. Contohnya : 0:0:0:0:FFFF:13.1.68.3
direpresentasikan menjadi ::FFFF:13.1.68.3

Tugas Tambahan

1. Untuk mengelola manajemen pembagian kerja yang baik sebuah perusahaan


akan melakukan pembagian area kerja berdasarkan divisi atau unit kerja
yang spesifik dengan mengalokasikan sejumlah perangkat komputer (host)
sesuai kebutuhan. Sebagai contoh: Perusahaan “Kreatip Corp” membagi
perusahaannya ke dalam 5 divisi dengan distribusi alokasi kebutuhan host-
nya masing-masing

Network 1 :
Network 2 :
Network 3:
Network 4 :
Network 5:

Dengan Metode VLSM tentukan Network Address, First Usable Address, Last
Usable Address, dan Broadcast Address, jika diberikan IP License
………………..

2. Berdasarkan gambar Topologi Jaringan berikut ini, tentukan pembagian


subnetwork dengan metode VLSM, default gateway, dan host pada masing-
masing bagian.
Tugas Pendahuluan

1. Jelaskan ip addressing version 4 dan pembagian kelasnya ! berikan contoh


beserta perinciannya.
2. Jelaskan mengenai IP Public & IP Private, serta metode NAT !
3. Jelaskan yang dimaksud dengan Broadcast Domain dan Default Gateway,
serta berikan berikan penjelasan jika muncul “ Destination unreachable &
Request Time Out pada proses Ping !
4. Jelaskan mengenai IP Subnetting Classfull & Classless menggunakan CIDR
& VLSM !
5. Dengan metode CIDR, berikan perincian subnetwork jika diberikan IP
Network 200.200.200.0/24 dan dibutuhkan 8 subnetwork, tentukan pula
network, first, last, dan broadcast address pada masing-masing subnetwork,
serta gambarkan perhitungannya !
6. Dengan metode VLSM, jika dibutuhkan pembagian jaringan untuk 4 divisi
dengan masing-masing :
Network A : 30 host
Network B : 60 host
Network C : 6 host
Network D : 2 host
Jika diberikan IP License nya : 192.168.1.0/24 tentukan pembagian IP
Address pada masing-masing network beserta Network Address, First Usable
Address, Last Usable Address, & Broadcast Address.
Modul 4

Cabling

I. Tujuan Percobaan

- Memahami tentang pengkabelan pada jaringan computer


- Mampu menghubungkan dua buah perangkat dengan medium kabel UTP

II. Perangakat yang digunakan

1. Kabel UTP cat.5


2. Connector RJ45
3. Lan tester
4. Cramping tool
5. PC

III. Teori Dasar

Untuk dapat menghubungkan divais yang satu dengan divais yang lain, maka di
butuhkanlah media transmisi. Terdapat berbagai macam media yang dapat
digunakan untuk dapat menghubungkan divais dan membentuk jaringan. Secara
umum, media tersebut adalah: Kabel (wired) dan Nirkabel (wireless).

Empat jenis kabel jaringan yang umum digunakan saat ini yaitu:

1. Kabel Coaxial

Kabel coaxial terdiri atas dua kabel yang diselubungi oleh dua tingkat isolasi.
Tingkat isolasi pertama adalah yang paling dekat dengan kawat konduktor
tembaga. Tingkat pertama ini dilindungi oleh serabut konduktor yang menutup
bagian atasnya yang melindungi dari pengaruh elektromagnetik. Sedangkan bagian
inti yang digunakan untuk transfer data adalah bagian tengahnya yang selanjutnya
ditutup atau dilindungi dengan plastik sebagai pelindung akhir untuk menghindari
dari goresan kabel.Beberapa jenis kabel Coaxial lebih besar dari pada yang lain.
Makin besar kabel, makin besar kapasitas datanya, lebih jauh jarak jangkauannya
dan tidak begitu sensitif terhadap interferensi listrik.

2. Kabel Unshielded Twisted Pair (UTP), Kabel twisted pair terjadi dari dua kabel
yang diputar enam kali per-inchi untuk memberikan perlindungan terhadap
interferensi listrik ditambah dengan impedensi, atau tahanan listrik yang konsisten.
Nama yang umum digunakan untuk kawat ini adalah IBM jenis/kategori 3. Secara
singkat kabel UTP adalah murah dan mudah dipasang, dan bisa bekerja untuk
jaringan skala kecil.

3. Kabel Shielded Twisted Pair (STP). Kabel STP sama dengan kabel UTP,
tetapi kawatnya lebih besar dan diselubungi dengan lapisan pelindung isolasi untuk
mencegah gangguan interferensi. Jenis kabel STP yang paling umum digunakan
pada LAN ialah IBM jenis/kategori 1.

4. Kabel Serat Optik (Fiber Optik)

Kabel serat optik mengirim data sebagai pulsa cahaya melalui kabel serat
optik. Kabel serat optik mempunyai keuntungan yang menonjol dibandingkan
dengan semua pilihan kabel tembaga. Kabel serat optik memberikan kecepatan
transmisi data tercepat dan lebih reliable, karena jarang terjadi kehilangan data
yang disebabkan oleh interferensi listrik. Kabel serat optik juga sangat tipis dan
fleksibel sehingga lebih mudah dipindahkan dari pada kabel tembaga yang berat.
IV. Prosedur Praktikum

.Merakit Kabel Cross

1. Potonglah kabel sesuai dengan panjang yang diperlukan, yaitu dengan cara
membuang (mengupas) bagian pelindung luar kabel, kemudian bersihkan dan
rapikan kedua ujung kabel.
2. Susunlah warna urutan kabel sesuai dengan gambar di bawah ini.

3. Urutkanlah pemasangan kabel pada konektor sesuai dengan urutan.


4. Setelah kabel dimasukkan ke konektor, lalu klem (jepitlah) konektor dengan
tang klem hingga terminal-terminal menjepit kabel dengan kuat.
5. Pasang kedua ujung kabel dengan konektor, lalu lakukan pengujian dengan
menggunakan kabel tester.
6. Setelah berhasil melakukan pemasangan kabel pada konektor dengan
pengetesan dengan kabel tester, hubungkan dua buah PC dengan kabel tersebut,
apakah bisa?

Merakit Kabel Straight

1. Potonglah kabel sesuai dengan panjang yang diperlukan, yaitu dengan cara
membuang (mengupas) bagian pelindung luar kabel, kemudian bersihkan dan
rapikan kedua ujung kabel.
2. Susunlah warna urutan kabel sesuai dengan gambar dibawah ini:
3. Urutkanlah pemasangan kabel pada konektor sesuai dengan urutan.
4. Setelah kabel dimasukkan ke konektor, lalu klem (jepitlah) konektor dengan
tang klem hingga terminal-terminal menjepit kabel dengan kuat.
5. Pasang kedua ujung kabel dengan konektor, lalu lakukan pengujian dengan
menggunakan kabel tester.
6. Setelah berhasil melakukan pemasangan kabel pada konektor dengan
pengetesan dengan kabel tester, hubungkan dua buah PC dengan kabel tersebut,
apakah bisa?
Modul 5
Basic Router Configuration

TUJUAN PRAKTIKUM

• mampu melakukan konfigurasi dasar pada Cisco router.

• mampu memberikan password pada Cisco router.

I. Configure Cisco Router Global Configuration Settings.

1. Menghubungkan perangkat menggunakan media fisik yang benar.

Hubungkan kabel konsol ke router dan computer, pada router, masukkan kabel konsol ke
“console port” dan pada computer mesukkan ke port COM 1 menggunakan adapter DB-9
atau DB-25. Hubungkan pula kabel cross antara computer dan interface fastethernet 0/0
pada router.

Pastikan perangkat perangkat dalam keadaan hidup, lalu lanjutkan ke tahap berikutnya.

2. Menghubungkan computer dan router menggunakan HyperTerminal

Dari windows taskbar, aktifkan HyperTerminal dengan mengklik di start| Programs |


Accessories |Communications | HyperTerminal.

Kemudian, konfigurasi HyperTerminal dengan pengaturan berikut:

Connection Description:

Name: Modul 6 <nama praktikan>

Icon: <bebas>

Connect to:

Connect Using: COM 1 (atau COM yang lain yang terhubung)

COM1 Properties

Bits per second : 9600


Data bits :8
Parity : None
Stop bits :1
Flow Control : None

Ketika window HyperTerminal sudah muncul, tekan tombol “ENTER” sampai ada respon
dari router.
Jika tidak ada respon dari router, cek kembali dari langkah pertama.

If the router terminal is in the configuration mode, exit by typing NO.

Would you like to enter the initial configuration dialog? [yes/no]:no


Press RETURN to get started!
Router>

Ketika ada di dalam privileged exec command mode, setiap kesalahan atau perintah –
perintah yang tidak dikenalin, akan di anggap domain name oleh router. Ketika tidak ada
domain server yang di configure seperti yang kita ketik tadi, aka nada delay sebelum
pemberitahuan “request time out”. Biasanya ini akan memakan waktu beberapa menit.
Untuk menghentikannya, tekan kombinasi tombol <CTRL><SHIFT>6 lalu tekan x.
Seperti ilustrasi berikut ini:

Router>enabel
Translating "enabel"...domain server (255.255.255.255) %
Tahan kombinasi tombol <CTRL><SHIFT>6, kemudian tekan x
Name lookup aborted
Router>

Dari user exec mode, anda dapat masuk ke privileged exec mode, dengan cara:

Router> enable
Router#

Dari privileged exec mode, anda dapet masuk ke global configuration mode, dengan
langkah berikut:

Router# configuration terminal


Router(config)#

Untuk menset hostname pada router, ikuti langkah berikut ini:

router(config)# hostname Router1


Router1(config)#

3. Configure the MOTD banner.


Message of the day (MOTD) banner merupakan seperti layaknnya Peringatan terhadap
siapa saja yang ingin mengakses router. Sebuah banner seharusnya mencantumkan
informasi tentang hak akses, hukuman bagi pelanggar, dan hukum yang berlaku di daerah.

Configure the MOTD banner. The MOTD banner is displayed on all connections before the
login prompt. Use the terminating character on a blank line to end the MOTD entry:
Router1(config)# banner motd %
Masukkan Banner MOTD yang telah dibuat tadi. Akhiri dengan '%'
***You are connected to an ABC network device. Access is granted to only current ABC
company system administrators with prior written approval. ***
*** Unauthorized access is prohibited, and will be prosecuted. ***
*** All connections are continuously logged. ***
%
Router1(config)#

II. Configure Cisco router password access.

Password dapat diberikan pada privileged exec mode dan titik – titik lain seperti console,
aux,dan virtual lines. Pemberian password pada privileged exec mode adalah hal yang
paling penting, karena mode ini mempunyai control menuju configuration mode.

1. Mengkonfigurasi password privileged exec mode.

Cisco IOS mempunyai 2 perintah untuk memberikan password pada privileged exec mode.
Perintah pertama, enable password, merupakan password yang tidak di enkripsi dan tidak
akan berlaku jika perintah enable secret diaktifkan. Perintah enable secret mempunyai
metode proteksi password yang terenkripsi.

Unruk memberikan password pada privileged exec mode, ikuti langkah berikut:
Sebagai contoh password yang digunakan adalah: cisco.

Router1(config)# enable secret cisco


Router1(config)#

2. Mengkonfigur password console.

Password pada console berguna untuk mengatur hak akses kontrol console pada router.

Sebagai contoh password yang digunakan adalah: class.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Router1(config)# line console 0


Router1(config-line)# password class
Router1(config-line)# login

3. Configure the virtual line password.


Password virtual line berguna untuk mengatur hak akses control Telnet ke router.
Sebagai contoh password yang digunakan adalah: class.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Router1(config-line)# line vty 0 4


Router1(config-line)# password class
Router1(config-line)# login

III. Configure Cisco Router Interfaces.

1. Mengkonfigur interface fa0/0 pada router.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Router1(config)# interface fa0/0


Router1(config-if)# description Connection to Host1 with crossover cable
Router1(config-if)# ip address address mask
Router1(config-if)# no shutdown
Router1(config-if)# end
Router1#
Look for the interface to become active:
*Mar 24 19:58:59.602: %LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface
FastEthernet0/0, changed state to up

2. Mengkonfigur interface fa0/1 pada router.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Router1(config)# interface fa0/1


Router1(config-if)# description Connection to switch with straight-through cable
Router1(config-if)# ip address address mask
Router1(config-if)# no shutdown
Router1(config-if)# end
Router1#
Look for the interface to become active:
*Mar 24 19:58:59.602: %LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface
FastEthernet0/1, changed state to up

3. Save RAM configuration to NVRAM.

Setiap konfigurasi yang talah dilakukan akan disimpan sementara di RAM. Ketika
konfigurasi yang ada di RAM tidak dicopy ke NVRAM sebelum power dimatikan. Maka
konfigurasi tersebut tidak akan dapat di load untuk pemakaian berikutnya.
Untuk dapat memakai konfigurasi dan me-loadnya pada kesempatan lain saat power
dinyalakan. Konfigurasi harus secara manual di simpan di NVRAM. Langkah – langkahnya
adalah sebagai berikut:
Router1# copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]? <ENTER>
Building configuration...
[OK]
Router1#

4. Mengkonfigur PC.

Konfigurasi PC untuk dapat terkoneksi dengan LAN, dengan cara mengklik Start | Control
Panel | Network Connections. Klik kanan pada icon LAN, kemudian pilih Properties. Cari the
Internet Protocol field,kemudial pilih Properties. Kemudian isi lah dengan:
IP Address: The first host address __________________________
Subnet Mask: The subnet mask ____________________________
Default Gateway: Router’s IP Address _______________________
Klik OK, kemudian Close.
Modul 6
Wireless Router / Access Point Configuration

1. Pengantar Jaringan Wireless LAN ( Jaringan lokal tanpa kabel )

Kita telah mengetahui dan mengenal tentang Local Area Network (LAN), dimana ia
merupakan jaringan yang terbentuk dari gabungan beberapa komputer yang
tersambung melalui saluran fisik (kabel). Seiring dengan perkembangan teknologi
serta kebutuhan untuk akses jaringan yang mobile (bergerak) yang tidak membutu
hkan kabel sebagai media tranmisinya, maka muncullah Wireless Local Area
Network (Wireless LAN/WLAN).

Jaringan lokal tanpa kabel atau WLAN adalah suatu jaringan area lokal tanpa
kabel dimana media transmisinya menggunakan frekuensi radio (RF) dan infrared
(IR), untuk memberi sebuah koneksi jaringan ke seluruh penggunadalam area
disekitarnya. Area jangkauannya dapat berjarak dari ruangan kelas ke seluruh
kampus atau dari kantor ke kantor yang lain dan berlainan gedung. Peranti yang
umumnya digunakan untuk jaringan WLAN termasuk di dalamnya adalah PC,
Laptop, PDA, telepon seluler, dan lain sebagainya. Teknologi WLAN ini memiliki
kegunaan yang sangat banyak. Contohnya, pengguna mobile bisa menggunakan
telepon seluler mereka untuk mengakses e-mail. Sementara itu para pelancong
dengan laptopnya bisa terhubung ke internet ketika mereka sedang di bandara, kafe,
kereta api dan tempat publik lainnya.

Spesifikasi yang digunakan dalam WLAN adalah 802.11 dari IEEE dimana ini juga
sering disebut dengan WiFi (Wireless Fidelity) standar yang berhubungan dengan
kecepatan akses data. Ada beberapa jenis spesifikasi dari 802,11 yaitu 802.11b,
802.11g, 802.11a, dan 802.11n seperti yang tertera pada tabel berikut :

tabel . Spesifikasi dari 802.11

2. Sejarah Wireless LAN

Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang
WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji
WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100
Kbps. Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka
produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, (FCC) menetapkan pita
Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 2400-2483.5 MHz
dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi, sehingga pengembangan WLAN
secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat
dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada
pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data rate >1 Mbps.

Pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat


spesifikasi/standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11. Peralatan yang sesuai
standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4GHz, dan kecepatan transfer data
(throughput) teoritis maksimal 2Mbps.

Pada bulan Juli 1999, IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama
802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11
Mbps. Kecepatan tranfer data sebesar ini sebanding dengan Ethernet tradisional
(IEEE 802.3 10Mbps atau 10Base-T). Peralatan yang menggunakan standar
802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4Ghz. Salah satu kekurangan peralatan
wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi
dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan lain yang menggunakan
gelombang radio pada frekuensi sama.

Pada saat hampir bersamaan, IEEE membuat spesifikasi 802.11a yang


menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5Ghz, dan mendukung
kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54Mbps. Gelombang radio yang
dipancarkan oleh peralatan 802.11a relatif sukar menembus dinding atau
penghalang lainnya. Jarak jangkau gelombang radio relatif lebih pendek
dibandingkan 802.11b. Secara teknis, 802.11b tidak kompatibel dengan 802.11a.
Namun saat ini cukup banyak pabrik hardware yang membuat peralatan yang
mendukung kedua standar tersebut.

Pada tahun 2002, IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat menggabungkan
kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja
pada frekuensi 2,4Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54Mbps.
Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling
dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan kartu jaringan
802.11g dapat memanfaatkan access point 802.11b, dan sebaliknya.

Pada tahun 2006, 802.11n dikembangkan dengan menggabungkan teknologi


802.11b, 802.11g. Teknologi yang diusung dikenal dengan istilah MIMO (Multiple
Input Multiple Output) merupakan teknologi Wi-Fi terbaru. MIMO dibuat berdasarkan
spesifikasi Pre-802.11n. Kata ”Pre-” menyatakan “Prestandard versions of 802.11n”.
MIMO menawarkan peningkatan throughput, keunggulan reabilitas, dan peningkatan
jumlah klien yg terkoneksi. Daya tembus MIMO terhadap penghalang lebih baik,
selain itu jangkauannya lebih luas sehingga Anda dapat menempatkan laptop atau
klien Wi-Fi sesuka hati. Access Point MIMO dapat menjangkau berbagai perlatan
Wi-Fi yg ada disetiap sudut ruangan. Secara teknis MIMO lebih unggul dibandingkan
saudara tuanya 802.11a/b/g. Access Point MIMO dapat mengenali gelombang radio
yang dipancarkan oleh adapter Wi-Fi 802.11a/b/g. MIMO mendukung kompatibilitas
mundur dengan 802.11 a/b/g. Peralatan Wi-Fi MIMO dapat menghasilkan kecepatan
transfer data sebesar 108Mbps.
3. Komponen Wireless LAN

3.1. Access Point (AP)

Pada WLAN, alat untuk mentransmisikan data disebut dengan Access Point dan
terhubung dengan jaringan LAN melalui kabel. Fungsi dari AP adalah mengirim dan
menerima data, sebagai buffer data antara WLAN dengan Wired LAN, mengkonversi
sinyal frekuensi radio (RF) menjadi sinyal digital yang akan disalukan melalui kabel
atau disalurkan keperangkat WLAN yang lain dengan dikonversi ulang menjadi
sinyal frekuensi radio.
Satu AP dapat melayani sejumlah user sampai 30 user. Karena dengan semakin
banyaknya user yang terhubung ke AP maka kecepatan yang diperoleh tiap user
juga akan semakin berkurang. Ini beberapa contoh produk AP dari beberapa vendor.

Gambar : Access Point dari produk Linksys, Symaster, Dlink

3.2 Extension Point


Untuk mengatasi berbagai problem khusus dalam topologi jaringan, designer dapat
menambahkan extension point untuk memperluas cakupan jaringan. Extension point
hanya berfungsi layaknya repeater untuk client di tempat yang lebih jauh. Syarat
agar antara akses point bisa berkomunikasi satu dengan yang lain, yaitu setting
channel di masing-masing AP harus sama. Selain itu SSID (Service Set Identifier)
yang digunakan juga harus sama. Dalam praktek dilapangan biasanya untuk aplikasi
extension point hendaknya dilakukan dengan menggunakan merk AP yang sama.

Gambar : Jaringan menggunakan Extension Point

3.3 Antena
Antena merupakan alat untuk mentransformasikan sinyal radio yang merambat pada
sebuah konduktor menjadi gelombang elektromagnetik yang merambat diudara.
Antena memiliki sifat resonansi, sehingga antena akan beroperasi pada daerah
tertentu. Ada beberapa tipe antena yang dapat mendukung implementasi WLAN,
yaitu :

1. Antena omnidirectional

Yaitu jenis antena yang memiliki pola pancaran sinyal kesegala arah dengan
daya yang sama. Untuk menghasilkan cakupan area yang luas, gain dari
antena omni directional harus memfokuskan dayanya secara horizontal
(mendatar), dengan mengabaikan pola pemancaran ke atas dan kebawah,
sehingga antena dapat diletakkan ditengah-tengah base station. Dengan
demikian keuntungan dari antena jenis ini adalah dapat melayani jumlah pengguna
yang lebih banyak. Namun, kesulitannya adalah pada pengalokasian frekuensi untuk
setiap sel agar tidak terjadi interferensi

Gambar : Jangkauan area Antena omnidirectional

2. Antena directional

Yaitu antena yang mempunyai pola pemancaran sinyal dengan satu arah tertentu.
Antena ini idealnya digunakan sebagai penghubung antar gedung atau untuk daerah
yang mempunyai konfigurasi cakupan area yang kecil seperti pada lorong-lorong
yang panjang.

Gambar : jangkauan antena directional


3.4 Wireless LAN Card
WLAN Card dapat berupa PCMCIA (Personal Computer Memory Card International
Association), ISA Card, USB Card atau Ethernet Card. PCMCIA digunakan untuk
notebook, sedangkan yang lainnya digunakan pada komputer desktop. WLAN Card
ini berfungsi sebagai interface antara sistem operasi jaringan client dengan format
interface udara ke AP. Khusus notebook yang keluaran terbaru maka WLAN
Cardnya sudah menyatu didalamnya. Sehingga tidak keliatan dari luar.

Gambar : Wireless LAN Card

Kelebihan dan Kelemahan dalam implementasi Wireless LAN

Kelebihan Kelemahan
• Mobilitas dan Produktivitas • Biaya peralatan mahal
Tinggi, WLAN memungkinkan (kelemahan ini dapat dihilangkan
client untuk mengakses informasi dengan mengembangkan dan
secara realtime sepanjang masih memproduksi teknologi komponen
dalam jangkauan WLAN, sehingga elektronika sehingga dapat
meningkatkan kualitas layanan dan menekan biaya jaringan),
produktivitas. Pengguna bisa • Delay yang besar, adanya
melakukan kerja dimanapun ia masalah propagasi radio seperti
berada asal dilokasi tsb masuk terhalang, terpantul dan banyak
dalam coverage area WLAN. sumber interferensi (kelemahan ini
• Kemudahan dan kecepatan dapat diatasi dengan teknik
instalasi, karena infrastrukturnya modulasi, teknik antena diversity,
tidak memerlukan kabel maka teknik spread spectrum dll),
instalasi sangat mudah dan cepat • Kapasitas jaringan menghadapi
dilaksanakan, tanpa perlu menarik keterbatasan spektrum (pita
atau memasang kabel pada dinding frekuensi tidak dapat diperlebar
atau lantai. tetapi dapat dimanfaatkan dengan
• Fleksibel, dengan teknologi WLAN efisien dengan bantuan
sangat memungkinkan untuk bermacam-macam teknik seperti
membangun jaringan pada area spread spectrum/DS-CDMA) dan
yang tidak mungkin atau sulit keamanan data (kerahasiaan)
dijangkau oleh kabel, misalnya kurang terjamin (kelemahan ini
dikota-kota besar, ditempat yang dapat diatasi misalnya dengan
tidak tersedia insfrastruktur kabel. teknik spread spectrum).
• Menurunkan biaya kepemilikan,
dengan satu access point sudah
bisa mencakup seluruh area dan
biaya pemeliharaannya murah
(hanya mencakup stasiun sel bukan
seperti pada jaringan kabel yang
mencakup keseluruhan kabel)

Acces point merupakan suatu perangkat yang sangat penting dalam membangun
sistem jaringan komputer tanpa kabel atau wireless. Acces point digunakan sebagai
terminal sentral sedangkan untuk komputer - komputer yang terhubung harus
menggunakan wireless LAN Card. Berikut langkah - langkah untuk melakukan
praktikum Acces Point :

MODUL PRAKTIK INSTALASI ACCES POINT

I. Alat dan Bahan :


1. Wireless Router / Acces Point satu unit
2. Laptop Support Wireless ( 2 buah)

II. Langkah Instalasi Wireless Lan Card :


1. Matikan PC Client
2. Buka tutup casing dengan Obeng

III. Langkah Instalasi Access Point :


1. Siapkan AP dan pasang sekaligusnya Antena dan kabel power AP.
2. Gunakan Wireless Laptop Untuk Mengkonfigurasi AP.
3. Pilih Start>>pilih My Network Places dengan klik kanan >>pilih properties
4. Muncul Network Connection, pilih wireless network connection dengan klik
kanan>> pilih properties>>
5. Muncul Wireless Network Connection Properties >>pilih tab Wireless Network,
pada bagian preferred network muncul nama default dari Access Point yang aktif
yakni, linksys.
7. Mengkonfigurasi AP melalui program web browser yakni dengan mengetikkan IP
address pada kolom Address nya. (IP address dapat dilihat pada buku manual AP).
8. Sesuaikan IP Address Laptop dengan IP address AP agar dapat mengakses AP
yang dilanjutkan dengan pengaturan settingan AP. (missal IP Address AP adalah
192.168.1.145 maka IP address Laptop 192.168.1.100)
9. Pilih AP tipe jaringan (infrastruktur) Network only
10. Pada system tray, klik kanan ikon Network, pilih View Available Wireless
Network
11. Muncul kotak dialog, lalu cek Allowme to connect >> pilih connect
12. Jalankan program IE, pada bagian address ketik IP address AP, missal ;
http://192.168.1.145 hingga akan muncul tampilan login yang meminta pengisian
User Name dan Passwor AP (lihat di manual AP).
13. Setelah pengisian login benar antara user name dan password benar, akan
muncul halaman control panel AP.
14. Carilah nama SSID (nama workgroup jaringan wireless) nya dan bisa diganti
sesuai keinginan kita.

Keterangan :
Wireless LAN terdiri dari 2 jenis topologi, yakni :
1. Topologi Ad hock (peer to peer wireless) yakni bahwa setiap komputer dengan
terpasang wireless Lan Card dapat saling terhubung dengan computer yang lain
tanpa melalui perangkat Access Point (AP).
2. Topologi Infrastruktur (point to multi point wireless) yakni bahwa setiap komputer
dapat saling terhubung dengan komputer yang lain melalui perangkat AP sebagai
jalur pusat komunikasinya.