Anda di halaman 1dari 16

ACCOUNTING THEORY

I.

OVERVIEW

What is Accounting Theory? Is it an art, science or technology?


Art:
Keterampilan mengerjakan sesuatu atau menerapkan suatu konsep atau pengetahuan yang memerlukan perasaan, intuisi, pengalaman, bakat, dan
pertimbangan (judgement). Keahlian dan pengalaman untuk memilih perlakuan terbaik dalam rangka mencapai suatu tujuan. Nilai (moral,
ekonomis, dan sosial) menjadi basis pertimbangan. So Akuntansi as art artinya Akuntansi sebagai bidang pengetahuan keterampilan, keahlian, dan
kerajinan yang menuntut praktik untuk menguasainya. Akuntansi menuntut pertimbangan (judgement) dalam penerapannya. Pertimbangan harus
dituntut oleh pangalaman dan pengetahuan (profesionalisme).
Science:
Pengetahuan untuk menjelaskan dan meramalkan gejala alam dan sosial seperti apa adanya dengan metode ilmiah. Menguji dan menetapkan
kebenaran penjelasan atau pernyataan tentang suatu masalah. Jadi as science Akuntansi sebagai bidang pengetahuan yang menjelaskan fenomena
akuntansi secara obyektif, apa adanya, dan bebas nilai. Penjelasan dinyatakan dalam bentuk aksioma, proposisi, prinsip umum atau hipotesis yang
tidak langsung berkaitan dengan kebijakan. Pertimbangan dan penyimpulan dituntut oleh kaidah ilmiah (rules of science).Teori akuntansi bersifat
positif.
Perkembangan TA:
Pre Theory
Goldberg:
No theory of accounting was devised from the time of Pacioli down to the opening of the nineteenth century.
Pragmatic accounting (1800 1955)
The general scientific period based on empirical observation of practice, provided an explanation of accounting practice, focused on the
existing viewpoint of accounting
Normative accounting (1956-1970)
Sought to establish norms for the best accounting practice, Focused on what should be (the ideal) v. what is. Degenerated into battles
between competing viewpoints Two groups dominated:
conceptual framework proponents
critics of historical cost
Factors prompting the demise of the normative period include: the unlikelihood of one particular normative theory being generally accepted.
the application of financial economic principles. the availability of empirical data and new testing methods
Positive accounting (1950 to the present day)
Seseorang yang belum belajar teori akuntansi mungkin akan tercengang-cengang jika ada peneliti yang menguji suatu teori dalam Akuntansi-nguji
opoo, gtu kali dalam hatinya. Akuntansi bukan sekedar catat mencatat transaksi, itu bookkeeping. Akuntansi amat luas cakupannya dari hal-hal
teknis soal catat dan ukur sampai dengan isu sosial dan politik. Sebagai contoh soal asset dari yang sederhana bagaimana mengukurnya?harga
beli, harga jual, harga perolehan, harga pasar, harga PV of Money?? Atau lebih hot lagi, untuk apa perusahaan merubah teknik akuntansi,
menghabiskan dana untuk meloby penyusun standar dan para politisi dst. Akuntansi dapat mempengaruhi hidup banyak orang. As such, it is
important to ensure that it is understood.
a. A Range Of Accounting Theories

Accounting as an historical record

Accounting as a languange

Accounting as intracorporate politics

Accounting standard setting as politics

Accounting as mythology

Accounting as a magic

Acconting as communication-decision information

Accounting as economic good

Accounting as social commodity

Accounting as ideology and exploitation

Acoounting as a social club


b. Theory Formulation
Theories are logical argument; their concluding statement of beliefs (whether there are explanations,predictions or prescriptions) are hypotheses.
Theory is the logical flow of argument leading from fundamental assumptions and connected statements to final conclusion. Teori dapat
diformulasikan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan deduktif dan induktif. Hipotesis biasanya dinyatakan dalam kalimat positif
yang artinya terdapat hubungan antara dua variabel atau dinamakan hipotesis alternatif-lawannya adalah hipotesis nol. Kayak metolit ya..
Dalam memformulasikan teori maka kita bicara tentang epistemology-ilmu mencari kebenaran. Ilmu Ilmiah menunjukan bahwa metodenya
(metode ilmiah) dapat memberikan suatu jawaban, sehingga akuntansi merujuk padanya untuk mengembangkan teori akuntansi. Meskipun ini
tidak berarti metode ilmiah dapat memberikan seluruh jawaban atas seluruh pertanyaan. Banyak perdebatan soal metode ilmiah dalam akuntansi
yang merupakan sosial science..tapi sejenak lupakanlah saja.
Struktur Teori terdiri atas 3 hal yaitu:

Hubungan Sintaksis

Hubungan Semantis

Hubungan Pragmatis
c. Testing A Theory
Dalam pendekatan menggunakan metode ilmiah adalah penting untuk menguji suatu teori untuk menentukan apakah teory tersebut worthy to
acceptance. Apa itu kebenaran? apa kriterianya?? Perdebatannya panjang..skip aja
Ada banyak macam cara orang mempercayai sesuatu atau tidak mempercayai sesuatu. Berikut kriteria/basis yang biasa digunakan:

Dogma
Whenever we believe in statements made by others because they have been made by an AUTHORITY.

Self-Evidence
Reasonableness- base on general knowledge, experience and observation.

Scientific
Panjang perdebatannya, yang termasuk dalam metode ilmiah ini :
- Syntatctic rules and Induction
- Popper and Falsification
- Research Programs
- Kuhnian Paradigms and Disciplinary Matrics
- Feyerabends Approach
CHAPTER 2 REASONING
a. Pengertian Reasoning/Penalaran
Penalaran: Proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi.
Menentukan secara logis dan objektif apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut.
b. Unsur dan struktur penalaran
Unsur dan proses penalaran terdiri dari tiga konsep penting yaitu:
Asersi (masukan)
Merupakan suatu pernyataan yang menegaskan bahwa sesuatu adalah benar.
Argumen (proses)
Merupakan serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu
keyakinan. Argumen menjadi unsur penting dalam penalaran karena digunakan untuk membentuk, memelihara, atau mengubah suatu
keyakinan.
Keyakinan (keluaran)
Merupakan tingkat kebersediaan (willingness) untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori (penjelasan) mengenai suatu fenomena
atau gejala (alam atau sosial) adalah benar.
c. Asersi
Asersi (pernyataan) memuat penegasan tentang sesuatu atau realitas umumnya dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan. Beberapa
asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua (all), tidak ada (no), dan beberapa (some). Biasanya asersi dinyatakan dalam bentuk struktur atau
bentuk (form). Contoh penyajian struktur umum asersi:

Semua A adalah B.

Tidak ada satupun A adalah B.

Beberapa A adalah B.
Dengan cara penyajian struktur umum asersi seperti diatas, asersi lebih dapat dinilai dengan valid dalam mengevaluasi argumen, karena tidak akan
terpengaruh dari segi makna dan realitas sebenarnya. Dapat juga disajikan dalam diagram.
1) Jenis Asersi
Asersi dapat diklasifikasikan menjadi asumsi (assumption), hipotesis (hypothesis), dan pernyataan fakta (statement of fact). Asumsi adalah asersi
yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat mengajukan atau menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara meyakinkan atau asersi yang
orang bersedia untuk menerima sebagai benar untuk keperluan diskusi atau debat. Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum atau tidak
diketahui tetapi diyakini bahwa asersi tersebut dapat diuji kebenarannya. Pernyataan fakta adalah asersi yang bukti tentang kebenarannya
diyakini sangat kuat atau bahkan tidak dapat dibantah.
2) Fungsi asersi
Asersi memegang fungsi yang sangat penting dalam pembentukan argumen, yaitu dapat berfungsi sebagai premis dan konklusi. Premis adalah
asersi yang digunakan untuk mendukung konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari serangkaian asersi. Konklusi dari suatu argumen
dapat menjadi premis dalam argumen yang lainnya.
Prinsip yang dipakai adalah suatu kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis yang digunakan untuk
menurunkan konklusi. Artinya, kalau konklusi diturunkan dari serangkaian premis yang salah satu merupakan pernyataan fakta dan yang lain
asumsi, konklusi tidak dapat dipandang sebagai pernyataan fakta. Dengan kata lain, keyakinan terhadap konklusi dibatasi oleh keyakinan terhadap
premis.
d. Keyakinan
Kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut
benar atau tidak. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan (confidence) tentang kebenaran yang dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat
dipercaya karena adanya bukti yang kuat untuk menerimanya sebagai hal yang benar. Orang dikatakan yakin terhadap suatu asersi bila dia
menunjukkan perbuatan, sikap, dan pandangan seolah-olah asersi tersebut benar karena dia percaya bahwa asersi tersebut benar. Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa keyakinan merupakan produk, hasil, atau tujuan suatu penalaran. Karakteristik (sifat) asersi menentukan mudahtidaknya keyakinan seseorang dapat diubah melalui penalaran. Semua penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang
menjadi konklusi penalaran. Argumen dianggap berhasil kalau argumen tersebut dapat mengubah keyakinan. Berikut ini dibahas properitas
keyakinan yang perlu disadari dalam berargumen :
Keadabenaran (Plausibility)
Sebagai produk penalaran, untuk dapat menimbulkan keyakinan, suatu asersi harus ada benarnya (plausible).
Bukan Pendapat
Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah karena berkaitan dengan kesukaan (preferensi) atau selera.
Berbeda dengan keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat ditentukan.
Bertingkat
Keyakinan yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi mulai dari sangat maragukan sampai sangat meyakinkan
(convincing).
Berbias

Idealnya, dalam menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap objektif dengan pikiran terbuka (open mind). Pada umumnya, bila
orang mempunyai kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap objektif.
Bermuatan Nilai
Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keyakinan mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, sistem nilai, martabat,
pendapatan potensial, dan perilaku orang tersebut.
Berkekuatan
Orang yang nyatanya tidak mengerjakan apa yang terkandung dalam asersi menandakan bahwa keyakinannya terhadap kebenaran asersi
lemah.
Veridikal (Veridicality)
Veridikalitas (veridicality) adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas. Dengan kata lain, veridikalitas adalah mudah tidaknya fakta
ditemukan dan ditunjukkan untuk mendukung keyakinan.
Berketertempaan (Malleability)
Ketertempaan (malleability) atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi
yang relevan (tidak perlu realitas kaya diatas itu).
e. Argumen
An argumen is an effort to convince someone to believe or to do something. An argumen is a set of assertion, one of which is a conclusion or key
assertion, and the rest of which are intended to support that conclusion or key assertion Nickerson (1986). Dalam arti positif, argumen dapat
disamakan dengan penalaran logis untuk menjelaskan atau mengajukan bukti rasional tentang suatu asersi.
Argumen terdiri atas serangkaian asersi. Asersi dapat berfungsi sebagai premis atau konklusi (atau asersi kunci) yang merupakan komponen
argumen. Berikut ini adalah beberapa contoh argumen:
Merokok adalah penyebab kanker karena kebanyakan penderita kanker adalah perokok.
Karena akuntansi menganut kesatuan usaha ekonomik, beberapa perusahaan yang secara yuridis terpisah harus dianggap sebagai satu
kesatuan ekonomik kalau perusahaan-perusahaan tersebut ada di bawah satu kendali. Oleh karena itu, laporan konsolidasian harus disusun
oleh perusahaan pengendali.
Sebagai suatu argumen, asersi yang satu harus mendukung asersi yang lain yang menjadi konklusi. Kata-kata dengan huruf miring di atas
merupakan kata indikator argumen yang dapat digunakan untuk menunjuk mana premis dan mana konklusi.
Prinsip principle of charitable interpretation (prinsip interpretasi terdukung) menyatakan bahwa bila terdapat lebih dari satu interpretasi
terhadap suatu argumen, argumen harus diinterpretasi sehingga premis-premis yang terbentuk memberi dukungan yang paling kuat terhadap
konklusi yang dihasilkan.
1) Argumen Deduktif
Argumen atau penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari suatu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke
pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi). Argumen deduktif disebut juga argumen logis karena kalau premis-premisnya benar
konklusinya harus benar (valid). Salah satu bentuk penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang disebut silogisma. Silogisma terdiri
atas tiga komponen yaitu premis major (major premise), premis minor (minor premise), dan konklusi (conclusion). Dalam silogisma,
konklusi diturunkan dari premis yang diajukan seperti contoh berikut:
Premis major :
Semua pegwai DJBC berangkat kerja berseragam.
Premis minor :
Kasino pegawai DJBC.
Konklusi
: Kasino berangkat kerja berseragam.
Penalaran deduktif berlangsung dalam tiga tahap yaitu: (1) penentuan pernyataan umum (premis major) yang menjadi basis penalaran, (2)
penerapan konsep umum ke dalam situasi khusus yang dihadapi (proses deduksi), (3) penarikan simpulan secara logis yang berlaku untuk
situasi khusus tersebut. Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas). Kalo mau
rada pusing berikut hubungannya:
2)

Argumen Induktif
Penalaran ini berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan berakhir dengan pernyataan umum yang merupakan generalisasi
dari keadaan khusus tersebut. Karena konklusi (generalisasi) didasarkan pada pengamatan atau pengalaman yang nyatanya terjadi, penalaran
induktif disebut pula generalisasi empiris (empirical generalization). Dalam penalaran induktif, kebenaran premis tidak selalu
menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi. Kebenaran konklusi hanya dijamin dengan tingkat keyakinan (probabilitas) tertentu.
Artinya, jika premis benar, konklusi tidak selalu benar (not necessarily true). Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan
argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument). Cth:
Dika bersin saat bermain dengan kucing milik Kadir
Dika bersin saat bermain dengan kucing milik Ifa
Dika alergi terhadap kucing (bisa benar alergi,bisa flu juga)
Penalaran dengan analogi adalah penalaran yang menurunkan konklusi atas dasar kesamaan atau kemiripan (likeness) karakteristik, pola,
fungsi, atau hubungan unsur (sistem) suatu objek yang disebutkan dalam suatu asersi. Cth? "Mencintai dan dicintai oleh seseorang itu seperti
makan makanan enak yang pedas, walaupun mejalani cobaan cinta itu pedas, kita masih dapat merasakan kenikmatannya.
Sebab-Akibat menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi tertentu disebut juga dengan argumen dengan penyebaban (argument by
causation) atau generalisasi kausal (causal generalization). Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh
faktor yang lain. Hubungan akibat sebab merupakan suatu proses berfikir dengan bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat,
kemudian bergerak menuju sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tadi. Cth? Doni memperoleh IPK 3,9 karena ia rajin belajar.
Apabila terdapat suatu asersi yang nyatanya membujuk dan dianut oleh banyak orang padahal tidak karena argumen yang diajukan mengandung
cacat (faulty) apapun faktornya, maka dapat dipastikan terjadi kesalahan yang disebut kecohan atau salah nalar (fallacy). Ada perbedaan antara
kecohan lantaran taktik atau akal bulus (stratagem) dan kecohan lantaran salah logika atau nalar dalam argumen (reasoning fallacy). Ciri yang
membedakan keduanya adalah maksud atau niat (intention) untuk berargumen.
Aspek manusia merupakan salah satu bagian terpenting dalam penalaran, karena suatu proses untuk mengubah keyakinan melalui argumen
bergantung pada manusia yang meyakini dan asersi yang menjadi objek keyakinan. Kendala yang jamak terjadi adalah manusia tidak selalu rasional
dan tidak semua asersi dapat ditentukan kebenarannya secara objektif dan tuntas.
All sciences advance through disagreement.

II.

THEORY CONSTRUCTION

Salah satu cara untuk memahami teori akuntansi adalah dengan mengklasifikasikannya menurut asumsi-asumsi yang mendasarinya, bagaimana
teori-teori ini terbentuk dan pendekatan yang digunakannya untuk menjelaskan dan menelaah kejadian saat terbentuknya teori tersebut.
a. Pragmatic Theories
Teori ini memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai laporan. Dengan kata lain, teori ini
membahas reaksi pihak yang dituju oleh informasi akuntansi. Teori pragmatis terdiri dari dua pendekatan, sebagai beikut:
1) Descriptive Pragmatic Approach
Pendekatan pragmatis deskriptif merupakan suatu pendekatan induktif. Pendekatan ini didasarkan pada pengamatan perilaku akuntansi secara
terus menerus dengan tujuan untuk meniru prosedur dan prinsip-prinsip akuntansi. Teori ini dapat dikembangkan dari pengamatan bagaimana
akuntan bertindak dalam situasi tertentu serta diuji dengan mengamati apakah pada kenyataannya akuntan melakukan apa yang dianjurkan
oleh teori tersebut.
Kritik terhadap Pendekatan Pragmatik Deskriptif :
tidak ada pertimbangan analitis terhadap kualitas tindakan akuntan dan tidak ada penilaian yang logis terhadap tindakan-tindakan yang
dilakukan akuntan.
metode tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan perubahan, karena pendekatannya tidak berujung pangkal.
pendekatan ini cendurung dipusatkan pada perilau-perilaku akuntan bukan pada pengukuran atribu-atribut perusahaan seperti asset, utang
dan laba.
2) Psychological Pragmatic Approach
Pendekatan pragmatis psikologis didasarkan pada pengamatan atas rekasi para pengguna terhadap output (sebagai contoh laporan keuangan)
yang dihasilkan oleh akuntan. Kritik terhadap pendekatan pragmatis psikologis :
Beberapa pengguna mungkin bereaksi dengan cara yang tidak logis
Beberapa pengguna mungkin tidak bereaksi ketika mereka seharusnya bereaksi
Oleh karena itu Teori diuji dengan menggunakan sampel besar orang
b. Syntactic & Semantic Theories
Teori sintaktik dalam pengembangannya menekankan pada penalaran logis (logical reasoning) tanpa memperhatikan kebenaran/akurasi pernyataan
yang mendasari teori tersebut dengan praktik yang ada pada dunia nyata. Dalam teori sintaktik, jika pernyataan-pernyataan (premis) yang disajikan
adalah benar maka kesimpulan (konklusi) dari pernyataan tersebut harus sesuai dengan penalaran logis (logical reasoning) meskipun pada
kenyataannya konklusi tersebut bertentangan dengan praktik yang sebenarnya ada pada dunia nyata. Penjelasan lebih lanjut dapat terlihat dari cth?
berikut :
Premis 1 : Semua akun yang terkait dengan asset dicatat pada saldo debit.
Premis 2 : Akun akumulasi depresiasi asset memiliki keterkaitan dengan akun asset.
Konklusi : Akun akumulasi depresiasi asset dicatat pada saldo debit.
c.
Normative theories
Sesuai dengan namanya, pendekatan normatif merupakan pendekatan yang lebih fokus pada apa yang seharusnya dilakukan atau metode yang
lebih baik digunakan dalam akuntansi dibandingkan dengan menganalisa atau menjelaskan praktik akuntansi yang diterima. Teori normatif
berkembang pada periode 1950-1960 dan fokus pada true income dan decision-usefulness. Penganut teori True Income fokus pada upaya
membentuk ukuran tunggal untuk aset dan nilai laba yang benar. Namun, belum ada kesepakatan bersama terkait ukuran nilai dan laba yang benar.
Pendekatan Decision-usefullness mengasumsikan bahwa tujuan dasar dari akuntansi adalah membantu proses pengambilan keputusan dari
pengguna laporan akuntansi dengan menyediakan data akuntansi yang relevan, misalnya membantu investor memutuskan apakah akan membeli,
menahan, atau menjual saham. Biasanya ada penyesuaian pada ukuran historical cost terkait adanya inflasi atau nilai pasar dari suatu aset. Hal
tersebut bersifat normatif dengan menggunakan beberapa asumsi, yaitu :
1) Akuntansi sebaiknya merupakan suatu sistem pengukuran
2) Laba dan nilai dapat diukur dengan tepat
3) Akuntansi keuangan berguna untuk membuat keputusan ekonomi
4) Pasar bersifat tidak efisien dan mudah untuk dikelabui oleh akuntan yang kreatif
5) Akuntansi konvensional bersifat tidak efisien
6) Ada sebuah ukuran laba yang unik
d. Positive theories
Teori positif bersifat menjelaskan atau meramalkan suatu gejala atau peristiwa akuntansi. Teori ini mulai dikenal pada tahun 1970. Penelitian
pertama fokus pada test empiris dari asumsi yang digunakan oleh pendukung teori normatif. Pendekatan ini bertujuan untuk meneliti opini dari
analis keuangan, pegawai bank, dan akuntan terkait manfaat perbedaan metode akuntansi inflasi dalam pengambilan keputusan. Teori positif antara
lain mencoba menjelaskan pertanyaan:
Apakah perusahaan mengubah metode pembiayaan aset ketika peraturan terkait leasing berubah?
Tipe perusahaan apa yang cenderung menggunakan metode penyusutan garis lurus dan mengapa?
Teori yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut biasanya berkisar pada dorongan manajemen untuk meningkatkan bonus berdasarkan
laba perusahaan, dorongan untuk mengurangi biaya utang, atau usaha mengalihkan perhatian pemerintah pada laba perusahaan yang sangat besar.
Perbedaan utama antara teori normatif dan teori positif adalah teori normatif bersifat menentukan/prescriptive sedangkan teori positif bersifat
menjelaskan, menggambarkan, dan meramalkan. Teori normatif menentukan bagaimana akuntan seharusnya menerapkan akuntansi untuk
mencapai hasil yang dinilai benar. Teori positif tidak menentukan hal tersebut, tetapi menjelaskan mengapa seseorang lebih memilih suatu metode
tertentu, atau meramalkan apa yang sudah dan akan dilakukan oleh seseorang.
e. Different Perspectives
Pendekatan ilmiah menganggap sebuah praktik yang tak sesuai dengan teori adalah sebuah anomali, yang merupakan masalah penelitian yang
harus ditindaklanjuti. Sebuah teoripun dikembangkan, kemudian dilakukan uji hipotesa. Prosedur uji hipotesa dilakukan dengan mengumpulkan
data lalu menerjemahkannya melalui teknik matematis atau statistik. Jika hipotesa sesuai dengan teori tersebut, maka hipotesa itu kuat. Asumsi
yang tersirat dari sini, teori yang baik adalah teori yang dapat diberlakukan dalam lintas perusahaan, industri, dan waktu.
f. Scientific approach applied to accounting

Para ilmuan bukan praktisi akuntansi yang bekerja khusus melakukan penelitian dan pengujian terhadap kejadian-kejadian ekonomi yang untuk
menghasilkan informasi akuntansi. Sebuah logika dasar yang dipelajari secara umum sebagai bentuk perbedaan profesi.
Scientific approach memungkinkan suatu simpulan atau statement dapat dihasilkan bukan hanya oleh para peneliti, namun praktisi yang
berkompeten mampu melihat sisi objektif berdasarkan fakta logik dan bukti empiris. Scientific approach tidak menghasilkan kebenaran absolut,
namun melalui pengumpulan bukti yang meyakinkan akan menghasilkan simpulan yang mampu menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi
suatu kejadian.
g. Issues for auditing
The normative era of accounting coincided with a normative approach to auditing theory. The positive ere of accounting has led to a positive
approach to auditing theory
III.

MEASUREMENT

a. What is Measurement?
Menurut Campbell, pengukuran dapat diartikan sebagai berikut: The assignment of numerals to represent properties of material systems other
than numbers, in virtue of the laws governing these properties yang berarti penentuan suatu angka untuk mewakili sifat/karakteristik dari suatu
sistem kebendaan sesuai dengan kebijakan hukum yang mengatur sifat tersebut. Sedangkan menurut Stevens seorang ahli teori pengukuran ilmu
sosial, pengukuran adalah: assignment of numerals to objects or events according to rules yang berarti penentuan angka-angka terhadap objekobjek ataupun peristiwa-peristiwa sesuai dengan aturan. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Campbells melihat pengukuran
sebagai suatu sistem sedangkan Stevens melihatnya sebagai objek atau peristiwa. Dapat kita simpulkan bahwa mengukur artinya
memberikan/menentukan bilangan untuk mewakili sifat/karakteristik (kira2 begitu). Sebagai misalnya bagaimana cara mengukur warna?. Ya,
kita dapat melakukan pengukuran terhadap warna dengan mengukur properties/karakteristik/sifat dari warna misalnya panjang gelombangnya.
Bagaimana mengukur Mesin, yang memiliki sifat/properties seperti panjang, lebar, berat, harga dan tinggi. Jika kita hilangkan saja atribut fisik
yang dimilikinya (akuntansi mengukur menggunakan unit moneter), masih ada beragam cara untuk mengukur mesin tersebut. Bisa diukur
dengan historical cost, replacement cost, harga jual atau present value dari nilai uang yang dihasilkan mesin. Amazing.
b. Scales
Sebuah sekala dibuat ketika kaidah semantik digunakan untuk menghubungkan pernyataan matematis kepada sebuah objek atau kejadian. Skala
menunjukan informasi apa yang diwakili oleh angka sehingga memberikan arti kepada angka tersebut. Berikut empat jenis skala yang sering
digunakan dalam pengukuran ilmu sosial :
Nominal Scale bagan akun
In this scale, numbers used only as labels, Numbers represent classification
Ordinal Scale rangking
In this scale, rank orders objects with respect to a given property, Intervals between the numbers are not necessarily equal.
Interval Scale skala
In this scale, rank orders objects with respect to a given property. The distance between each interval is equal and known. An arbitrarily
selected zero point exists on the scale
Ratio Scale
In this scale, rank orders objects with respect to a given property, Intervals between objects are known and equal, A unique origin exists.
Mudah2an masih ingat dan gambarnya cukup mewakili penjelasannya..
c. Permissible Operations Of Scales
Tidak semua skala yang telah disebutkan sebelumnya dapat diproses ke dalam operasi aritmatika. Dalam sebuah skala rasio terdapat invarian atas
seluruh transformasi ketika dikalikan dengan sebuah konstanta. Sebagai contoh:
X = cX
Apabila X digambarkan semua titik-titik pada skala tertentu, dan setiap titik dikalikan dengan kontanta c, maka hasil skala X juga menjadi skala
rasio. Alasannya adalah karena struktur skalanya adalah:
1. Urutan peringkat titik-titiknya tidak berubah
2. Rasio titik-titik tidak berubah
3. Titik nol tidak berubah
Dengan adanya invarian skala dapat memudahkan kita untuk mengetahui kejadian atau peristiwa dimana teori atau ketentuan yang berlaku pada
dasarnya adalah sama, meskipun skalanya dinyatakan dalam unit-unit yang berbeda, misalnya dengan sentimeter hingga meter atau dari nominal
dollar hingga dollar konstant. Perubahan invarian skala rasio akan mengalami perubahan keutuhan bentuk keumuman hubungan variabelvariabel yang sama. Invariance of a scale means that the measurement system will provide the same general form of the variables, and the
decision maker will make the same decisions. This is not the case in accounting there is more than one accounting system. The information
they provide will differ and different decisions will be made

d. Types of Measurement
1) Pengukuran Fundamental
Pengukuran fundamental merupakan pengukuran dimana angka-angka dapat diterapkan pada hal dengan mengacu pada hukum alam dan
tidak bergantung pada pengukuran variabel apapun. Seperti panjang,berat, hambatan listrik, dan nomor, merupakan hal-hal yang secara
fundamental dapat diukur.
2) Pengukuran Turunan (Derived Measurement)
Menurut Campbell, pengukuran turunan merupakan pengukuran yang bergantung dari pengukuran dua atau lebih besaran lain. Contohnya
adalah pengukuran masa jenis, yang bergantung pada pengukuran massa dan volume.. Dalam akuntansi, contoh pengukuran turunan adalah
profit yang diturunkan dari penjumlahan dan pengurangan atas pendapatan dan beban.
3. Fiat Measurement
Jenis pengukuran ini terdapat dalam ilmu sosial dan akuntansi, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang dikembangkan secara
acak untuk dihubungkan dengan hal-hal yang dapat diamati dengan pasti (variabel) pada konsep yang telah ada, tanpa perlu konfirmasi
untuk mendukung hubungan tersebut. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita tidak tahu bagaimana mengukur konsep keuntungan secara
langsung. Kita mengasumsikan variabel pendapatan, laba, beban, dan kerugian yang dihubungkan dengan konsep keuntungan dan dapat

digunakan untuk mengukur keuntungan secara tidak langsung. Karena itu, cara seperti ini merupakan salah satu dari sekian banyak cara
mengukur profit. Salah satu alasan perlunya dilakukan pengukuran pada pendekatan formulasi teori akuntansi adalah dengan harapan apabila
teori akuntansi dapat secara empiris teruji, pengukuran secara fiat dapat menjadi pengukuran yang mendasar dan seseorang dapat lebih yakin
terhadap hasil pengukuran.
AKUNTANSI PAKE DERIVED DAN FIAT
e. Reliability dan Accuracy MENGUKUR YANG DICARI ADLAH
RELIABLE SIAPAPUN YG MENGUKUR DENGAN CARA YANG SAMA AKAN MENGHASILKN HASIL YG SAMA Keandalan/andal
adalah salah satu karakteristik dari pengukuran dimana kondisi ini tercapai ketika suatu informasi dinyatakan verifabel, obyektif (tidak subyektif)
dan dapat diandalkan. Kita harus ingat bahwa tidak ada pengukuran yang bebas dari kesalahan kecuali menghitung (counting, terlalu kalo sampe
counting juga salah), semua pengukuran mengandung kesalahan atau error yang dapat disebabkan oleh hal-hal sbb:
Measurement operations stated imprecisely
Dalam mengukur biasanya terdiri dari serangkaian operasi. Serangkaian operasi dapat saja tidak dijelaskan secara akurat dan oleh karenanya
dapat juga diinterpretasikan secara tidak akurat oleh pengukur. Sebagai contoh misalnya, penghitungan pendapatan mencakup berbagai operasi
seperti klasifikasi dan alokasi antara aset dan pengeluaran yang sering diinterpretasikan secara beragam oleh akuntan yang lain.
Pengukur
Pengukur dapat salah menginterpretasikan peraturan, sehingga menjadi bias, atau dapat mengaplikasikan atau membacara instrumen secara
tidak benar. Sebagai contoh, apabila 10 orang yang akan mengukur luas ruangan tertentu, maka kemungkinannya akan ada 10 hasil yang
berbeda.
Instrumen
Banyak operasi yang memerlukan penggunaan instrument fisik, seperti halnya penggaris, termometer atau barometer, yang mempunyai
kelemahan-kelemahan. Terdapat potensi kesalahan sekalipun apabila instrumen bukan peralatan yang berbentuk fisik, misalnya, bagan, grafik,
At no stage has the principle of capital maintenance been explicitly discussed.tabel atau indek harga.
Lingkungan
Lingkungan adalah tempat atau posisi di mana operasi pengukuran yang dilakukan dapat mempengaruhi suatu hasil. Kita dapat mengambil
contoh adalah kebisingan. Kebisingan ketika pengukuran dapat mempengaruhi pengukurnya, atau dalam akuntansi bisa diambil contoh tekanan
dari manajemen dapat mempengaruhi atas keputusan dari akuntan.
Atribut yang tidak jelas
Apa yang harus diukur mungkin tidak jelas, terutama jika pengukuran melibatkan suatu konsep yang tidak dapat diukur secara langsung. Sebagai
contoh ketika kita hendak mengukur value of non current asset? Harus jelas dulu apa yang dimaksud dengan value.
Jika semua pengukuran kecuali menghitung secara inheren mengakibatkan kesalahan, maka yang kita butuhkan adalah untuk menetapkan batas
kesalahan yang diterima. Jika pengukuran masih dalam batas-batas toleransi error ini maka hasilnya dapat dianggap benar.
Reliable Measurement
What is reliable measurement? : proven consistency, repeatable or reproducible and precision. Reliability incorporates two aspects: accuracy and
certainty of measurement and representative faithfulness.
Accurate Measurement
Consistency of results, precision and reliability do not necessarily lead to accuracy. Accuracy has to do with how close the measurement is to the
true value of the attribute measure representation. True value may not be known e.g. in accounting accuracy relates to the pragmatic notion
of usefulness. Many accounting measurements are on a ratio scale. This is the most informative scale. Weakest theoretical foundation as they are
fiat measurements.
f. Measurement in Accounting
Konsep pengukuran yang paling fundamental dalam akuntansi adalah pengukuran capital (modal) dan profit (laba). Sesuai dengan standar
akuntansi internasional yang berlaku saat ini, profit berasal dari perubahan modal selama satu periode dari semua aktivitas, termasuk kenaikan dan
penurunan fair value net assets, dan tidak termasuk transaksi dengan pemilik modal. Modalberasal dari pengukuran fair value net assets dan net
liabilities. Itu berarti kita harus mengukur nilai modal awal, jumlah income yang diterima, jumlah penggunaan modal, dan perubahan fair value
net assets. Peningkatan modal selama satu periode kemudian digunakan untuk mengukur jumlah laba dari berbagai sumber termasuk operasi
perusahaan dan pengukuran kembali modal(setelah disesuaikan dengan tambahan modal baru atau pembayaran deviden). Penyajian kembali nilai
wajar dari aktiva bersih merupakan modal awal pada periode berikutnya.
g. Issues for Auditor
The focus of profit measurement has shifted from matching revenues and expenses to assessing the changes in the fair value of net assets e.g.
immediate recognition of impairment losses. Auditors must determine whether management has made appropriate and reasonable valuations e.g.
at least 12 methods of valuing intangibles. (tambahan 12 cara menilai Intangible NPV, CAPM,CoC,MBC,RRM,RV,BS,CM,Bench,BW,BPA and
KB)
It is possible for several different but reasonable measurements and impairment losses to be recognised by management. These would all be
acceptable to an auditor if management have applied the valuation models correctly, used appropriate data, made appropriate assumptions and
acted in a consistent manner
IV.

PERSPECTIVE

a. Accounting Viewpoints
Pelaporan dan akun-akun dari organisasi lebih dari sekedar transaksi ekonomi serta nilai dari aset dan kewajiban sehingga menimbulkan perubahan
yang signifikan dalam pelaporan oleh entitas baik privat maupun publik. Faktor lainnya yang mempengaruhi sudut pandang akuntansi adalah
adanya beberapa pengguna yang potensial dari informasi akuntansi yang mewakili beberapa perspektif, sehingga perlu ditentukan menggunakan
sudut pandang apa dalam memenuhinya. Australian Accounting Research Foundation lewat perumusan Statement of Accounting Concept (SAC)
2 Objective of General Purpose Financial Reporting menyatakan tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk menghasilkan informasi yang
berguna untuk pengambilan dan evaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. SAC 2 menyebutkan ada 3 kategori pengguna yaitu:
1. Resource Provider (shareholders and debtholders)
2. Recipients of goods and services (customers)
3. Parties performing a review or oversight function (independent auditors, management and government).

Pengguna-pengguna tersebut merupakan kelompok yang heterogen sehingga tujuan umum dari SAC 2 tidak akan memenuhi semua kebutuhan
dari pengguna-pengguna di atas.
b. The Boundary Assumptions
Serangkaian asumsi atau prinsip mengenai batasan yang dikehendaki dari suatu entitas. Batasan ini dimaksudkan untuk mengukur dan melaporkan
aktifitas suatu entitas. Dengan kata lain, untuk mengukur dan melaporkan informasi, aktifitas dan faktor pendukung dari aktifitas entitas tersebut
harus didefinisikan.
Pada tahun 1980an, Hines: perspektif akuntansi pada dasarnya merupakan proses penciptaan realitas/kenyataan yang sesuai dengan pandangan
penganutnya. Premis dasar Hines adalah dalam penciptaan realitas/kenyataan (yang dirasakan oleh pihak-pihak yang melakukan pengukuran dan
pelaporan informasi akuntansi), akuntan sebenarnya membangun sebuah realitas/kenyataan.
Pada tahun 1988, Australian Accounting Research Foundation (AARF) menerbitkan Accounting Theory Monograph 8, Definition of the Reporting
Entity, ditulis oleh Dr. Ian Ball. Perhatian utama Ball adalah batasan dari entitas laporan yang teridentifikasi dapat didefinisikan dengan mengacu
kepada ownership atau control (kemampuan untuk mengarahkan penggunaan sumber daya). Akan tetapi, ini mengabaikan fakta bahwa
banyak pengguna tanpa control yang terkait dengan aktifitas dari entitas serta gagal mendefinisikan entitas selain yang dianggap sebagai kandidat
yang tepat untuk tujuan umum akun.
Seperti semua sudut pandang, Ball menciptakan versinya sendiri mengenai realita/kenyataan. SAC 1 Definition of The Reporting Entity, dirilis
oleh AARF tahun 1990 menghasilkan definisi yang lebih luas mengenai entitas pelaporan yaitu semua entitas yang mengharapkan adanya
pengguna yang bergantung pada informasi dari tujuan umum laporan keuangan yang akan berguna untuk mereka untuk mengambil dan
mengevaluasi keputusan dalam alokasi sumber daya yang langka.
Pendekatan umum dengan triple bottom-line reporting yaitu pelaporan untuk mengukur kesuksesan sebuah entitas dapat dilihat dari tiga kriteria,
yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial yang dikembangkan oleh John Elkington. Pelaporan triple bottom-line dimaksudkan untuk memberikan
sarana untuk mengkomunikasikan dampak dan manfaat dari kegiatan suatu entitas ke berbagai stakeholder. Ini merupakan pengembangan yang
signifikan dari Laporan Keuangan Laba Rugi dan Neraca yang tradisional.
c. Proprietary Theory
Pada tahun 1933, AC. Littleton memaparkan pandangan bahwa kepemilikan adalah hakikat dari sistem pembukuan berpasangan (double-entry
system). Istilah berpasangan (double-entry) muncul karena setiap transaksi dicatat dua kali, satu sisi disebut debet dan sisi yang lain disebut kredit.
Teori pemilik ini muncul sejak abad kedelapan belas saat beberapa penulis mencoba memperkenalkan logika akuntansi berdasarkan pada tujuan
sebuah perusahaan, sifat modal, dan pengertian akun dari sudut pandang pemilik usaha. Seluruh konsep-konsep, prosedur-prosedur, dan
pedoman-pedoman dalam akuntansi disusun berdasarkan kepentingan pemilik.
Pada tahun 1965, L. Goldberg memperdebatkan pendapat Littleton mengenai tujuan perusahaan. Goldberg menyatakan beberapa contoh dari
sistem double-entry yang digunakan serta pengukuran keuntungan dari sudut pandang pemilik bukanlah tujuan utama dari pencatatan dan
pelaporan. Contoh dari pendapat Goldberg adalah pencatatan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba (universitas).
Akun-akun dalam neraca memberikan penegasan terhadap teori pemilik melalui sebuah persamaan:

AL=P
A = Asset (aset) L = Liability (kewajiban)
P = proprietorship
Kepemilikan mencerminkan kekayaan bersih yang dimiliki oleh pemilik bisnis. Neraca kepemilikan merupakan penjumlahan semua elemen yang
terdiri atas kekayaan satu orang atau sekumpulan orang dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal ini tujuan dari kegiatan bisnis adalah untuk
meningkatkan kekayaan, yaitu meningkatkan kepemilikan. Aset merupakan hak pemilik dan kewajiban menjadi beban pemilik. Sehingga, tujuan
akuntansi adalah menentukan kekayaan bersih pemilik bisnis. Kesimpulan tersebut menyebabkan beberapa akuntan meyakini bahwa nilai saat ini
lebih relevan daripada biaya historis. Teori ekonomi yang mengambil sudut pandang pemilik menanggap konsep profit sebagai
pengembalian (return) kepada pengusaha. Konsep nilai saat ini juga lebih disukai oleh para ahli ekonomi.
Prinsip kepemilikan (proprietorship) mencakup pendapatan (income) dan biaya (expense). Pendapatan merupakan kenaikan dalam kepemilikan
dan biaya merupakan penurunan dalam kepemilikan. Pertanyaan yang muncul dalam konsep keuntungan/profit adalah apakah seluruh
peningkatan nilai tetap dicatat walaupun tidak ada transaksi eksternal yang terjadi? Saat Teori Pemilik diterapkan, maka peningkatan tersebut
harus dicatat. Praktik akuntansi saat ini didasarkan pada Teori Pemilik. Contohnya adalah dividen dipertimbangkan sebagai distribusi
keuntungan daripada biaya karena merupakan pembayaran kepada pemilik. Sebaliknya, bunga utang dan pajak penghasilan dipertimbangkan
sebagai biaya karena keduanya mengurangi kekayaan pemilik. Dalam laporan keuangan konsolidasi, metode perusahaan induk didasarkan pada
teori pemilik. Perusahaan induk dilihat sebagai pemilik anak perusahaan, sehingga dengan pendekatan kepemilikan, tindakan logis apabila
mempertimbangkan penurunan nilai utang anak perusahaan sebagai keuntungan perusahaan induk.
Teori pemilik melihat tidak adanya perbedaan antara aset pemilik dengan aset entitas. Oleh karena itu, seluruh keuntungan entitas dapat
didistribusikan kepada pemilik perusahaan. Dari sudut pandang ini, modal merepresentasikan kas yang diinvestasikan oleh pemilik ditambah
keuntungan yang diinvestasikan kembali pada bisnis. Kebanyakan orang mengadopsi sudut pandang modal keuangan (financial capital concept)
dan ini merupakan posisi yang diambil dalam praktik akuntansi tradisional.
Sudut pandang teori pemilik dikembangkan saat bisnis masih sederhana, kebanyakan masih berbentuk perusahaan perorangan dan persekutuan
komanditer (partnership). Secara hukum, perusahaan merupakan entitas yang berbeda dari pemilik, baik hak maupun kewajibannya.
Perusahaanlah yang menguasai aset dan terbebani utang-utang, bukannya pemilik/pemegang saham.
d. Entity Theory
Teori ini dimulai dengan fakta bahwa perusahaan itu entitas terpisah dan perusahaan memiliki identitas sendiri. Teori ini lebih dari accounting
entity assumption yang memandang secara terpisah bisnis dan urusan pribadi. Martin menguraikan dua asumsi yang berhubungan mewujudkan
ide dari entitas akuntansi:
- Pemisahan. untuk kepentingan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.
- Sudut pandang. prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.
Meskipun teori entitas sangat sesuai untuk akuntansi dari korporasi, pendukungnya percaya bahwa teori ini dapat digunakan untuk proprietorship,
partnership, dan bahkan organisasi non-profit, asalkan:
- Akun dan transaksinya diklasifikasikan dan dianalisa dari sudut pandang entitas sebagai unit operasi
- Prinsip akuntansi dan prosedurnya diformulasikan sebagai single interest seperti pada proprietorship.
Kekayaan bersih tidak begitu berarti dalam konsep ini, karena entitas merupakan pusat perhatian. Pemilik dan kreditor pemilik dan kreditur
dipandang sebagai pemegang ekuitas, yaitu penyedia dana. Persamaan akuntansinya adalah:

Aset = Ekuitas

Paton percaya bahwa persamaan tersebut yang paling mengekspresikan logika dari kondisi keuangan perusahaan. Ekuitas merupakan hak atau
klaim atas aset entitas. Pemegang saham tidak mengklaim aset tertentu, bahkan dengan laba perusahaan. Mereka memiliki hak terhadap total aset
dan dividen saat diumumkan oleh dewan direksi. Namun, ini adalah hak yang diterima oleh perjanjian kontrak, bukan karena kepemilikan. Asset
milik dari perusahaan dan kewajiban merupakan kewajiban dari perusahaan, bukan pemilik.
Untuk teori entitas, penekanan pada penentuan keuntungan dan karena itu laporan laba rugi adalah lebih relevan daripada neraca. Laba
ditekankan untuk dua alasan:
- Pemegang saham tertarik pada laba, karena jumlah ini menunjukan hasil dari investasi pada suatu periode
- Alasan kenapa perusahaan tetap ada adalah untuk menciptakan laba. Ini penting bagi kelangsungan perusahaan
Teori akuntansi konvensional didasarkan pada konsep entitas, namun teori Pemilik tampaknya memiliki dampak yang lebih besar pada prosedur
sekarang ini. Contohnya berdasarkan Teori Pemilik, beban bunga merupakan biaya dan deviden merupakan distribusi dari keuntungan. Teori
entitas mempunyai akibat pada beberapa prosedur. Sebagai contoh, gaji untuk karyawan yang sekaligus juga pemegang saham dianggap sebagai
biaya. Menggunakan perspektif entitas, di luar ekuitas diperlakukan tidak ada perbedaan dari holding company memegang kepentingan perusahaan
pada anak perusahaan. Pada konteks akuntansi manajemen, penggunaan laba dan biaya untuk tujuan internal didasarkan pada konsep entitas.
e. Physical Capital Concept
Berdasarkan entity view, syarat utamanya adalah untuk mempertahankan kemampuan entitas dalam melaksanakan fungsi-fungsi yang merupakan
tanggung jawabnya dan karena itu berkaitan dengan mempertahankan kapasitas operasi fisik perusahaan. Hal ini juga dikenal sebagai 'physical
capital' view, yang berfokus pada kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Bagi mereka yang percaya pada konsep physical
capital maintenance, 'well-offness' terdiri dari kemampuan untuk mencapai tingkat fisik yang sama antara produksi pada akhir periode dan di awal.
Melalui konsep ini, pemeliharaan modal melibatkan mempertahankan kapasitas operasi perusahaan untuk mengganti aset perusahaan telah pada
awal periode. Laba diperoleh hanya setelah mempertahankan kemampuan perusahaan untuk mengganti aset pembukaannya. Satu-satunya nilai
yang relevan adalah biaya saat ini atau biaya penggantian (current/replacement cost), karena idenya adalah untuk mempertahankan (atau
mengganti) kapasitas produktif sama seperti yang diberikan oleh aset ini.
Perbedaan utama antara model proprietary and entity, sehubungan dengan keuntungan, adalah bahwa perubahan nilai moneter dari aset dan
kewajiban telah diperhitungkan dalam penentuan laba dengan model proprietary dan dikecualikan dengan model entity. Pendukung pandangan
proprietary (financial capital) yang juga percaya pada current cost accounting, bahwa perubahan dalam nilai-nilai assest dan kewajiban
merupakan holding gains and losses. Para pendukung pandangan entity view (physical capital), berpendapat bahwa kenaikan harga dari item yang
perusahaan yang terus-menerus dalam bisnis bukan merupakan unsur keuntungan, tapi 'capital maintenance adjustment' untuk ditempatkan secara
langsung dalam ekuitas. Jumlah ini adalah yang diperlukan untuk mengganti aset.
Contoh berikut menggambarkan dua pendekatan. Misalnya kita memiliki perusahaan kecil yang bergerak untuk membeli dan menjual satu printing
press per tahun. Asumsikan bahwa pada Tahun pertama pemilik membeli mesin
cetak seharga
Aktiva = Pembatasan Aktiva
$700 dan menjualnya $1000, sehingga keuntungan tunai $300. Selama Tahun
pertama,
biaya penggantian mesin cetak meningkat menjadi $800. Jika mereka menghitung
keuntungan
mereka pada konsep biaya perolehan, maka akan menunjukkan keuntungan $300 ($1000 - $700). Jika mereka menarik keuntungan, $700 yang
tersisa di perusahaan tidak cukup bagi mereka untuk melanjutkan bisnis di Tahun kedua. Mereka membutuhkan $800 untuk mempertahankan
kemampuan mereka untuk membeli mesin cetak yang lain.
Pendukung financial capital (proprietary view) menganggap laba bisnis sebagai jumlah yang dapat didistribusikan tanpa mengurangi modal,
jumlah uang yang diinvestasikan pada awal periode, $300. Pendekatan physical view (entity view) melihat keuntungan $200 dan $100 akibat
kenaikan biaya sebagai penyesuaian pemeliharaan modal. Penyesuaian ini memungkinkan pemilik untuk mempertahankan posisi yang sama
sebelumnya, dimana harus mampu membeli dan menjual satu percetakan. Dalam pandangan ini, jika keuntungan sebesar $200 ditarik, ada $800
tersisa untuk melanjutkan bisnis. Contoh di tabel.
f. fund theory/cash flow
William Vatter telah mengusulkan pandangan teori yang terpusat pada dana publik daripada perseorangan. Ia tidak sependapat dengan Teori
Pemilik dan Teori Entitas karena pandangan pribadi pada kedua teori tersebut cenderung mengarahkan pada interprestasi spesifik dan metode
penilaian tertentu bukan pada sifat dari masalah yang dihadapi. Sebagai suatu alternatif, Vatter menyarankan Teori Dana (fund theory).
Menurut konsep teori ini, yang menjadi pusat perhatian dari pencatatan akuntansi dan penyajian laporan keuangan adalah bukan pada pemilik
maupun entitas, melainkan pada sekelompok aset yang penggunaannya telah dibatasi untuk membayar atau memenuhi sejumlah kewajiban
tertentu. Aset yang penggunaannya dibatasi ini dinamakan sebagai dana, di mana masing-masing pos dana memiliki ketentuan dan tujuan
penggunaan yang berbeda. Menurut konsep teori ini, persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:

Dalam konsep teori ini, unit akuntansi didefinisikan sebagai aset (unit dana), di mana penggunaan atas aset ini sifatnya terbatas (tertentu).
Kewajiban merupakan suatu pembatas ekonomi secara hukum terhadap penggunaan aset. Konsep teori ini berorientasi pada laporan sumber dana
dan penggunaan dana, yaitu laporan yang menggambarkan dari mana saja sumber dana diperoleh dan untuk apa saja dana dikeluarkan.
Teori ini menjelaskan pelaporan keuangan dari suatu organisasi dalam tiga term yang digarisbawahi, sebagai berikut :
Dana ( Fund ) - suatu daerah perhatian yang didefinisikan sebagai aktivitas dan operasi yang dilingkupinya dari setiap seperangkat pencatatan
akuntansi dan di mana seperangkat keseimbangan akuntansi dibuat.
Aset jasa-jasa dan potensi-potensi ekonomi.
Ristrictions pembatasan dalam penggunaan aset.
Dalam Teori Dana, neraca dianggap sebagai inventory statement dari aset dan batasan-batasan yang berlaku untuk aset. Penyusunan informasi
dan metode penilaian akan bervariasi tergantung pada tujuan digunakannya neraca. Sebagai contoh, sebuah neraca untuk tujuan kredit akan berbeda
dari yang disajikan kepada pemegang saham.
Pendapatan merupakan kenaikan aset pada dana yang benar-benar bebas dari pembatasan ekuitas selain pembatasan akhir yang dikenakan oleh
ekuitas residual. Beban adalah pemberian layanan untuk tujuan tertentu yang ditentukan dalam tujuan dana. Definisi ini mencakup konsep biaya
yang menghasilkan pendapatan, dalam pengertian yang lebih luas juga berlaku bagi organisasi nirlaba juga. Pada umumnya, konsep teori ini
diterapkan pada organisasi pemerintah atau organisasi yang bukan pencari laba, di mana pengguna atas dana-dana tertentu terkendali sedemikian
rupa berdasarkan pada pos-pos pembiayaan yang telah ditentukan atau ditetapkan. Meskipun kurang diterima, konsep luas dana berkontribusi
untuk kerangka teoretis yang mendasari pengenalan laporan arus kas, yang saat ini merupakan bagian integral dari laporan keuangan di banyak
entitas.

g. Commander Theory
Goldbert (1965) berpendapat bahwa baik Teori Pemilik dan Teori Entitas yang didasarkan pada kepemilikan, merupakan konsep yang sulit untuk
didefinisikan dan dianalisis. Hal yang perlu diutamakan adalah fokus pada kontrol ekonomi yang efektif atas sumber daya. Penekanan informasi
menurut konsep teori ini adalah terletak pada pertanggungjawaban atau stewardship, dengan kata lain bagaimana pihak-pihak yang telah diberikan
kepercayaan (commander) mengelola sumber daya perusahaan yang dipercayakan tersebut. Yang ditekankan dalam Teori Pemilik adalah hak
milik, bukan pada kontrol atas sumber daya. Kepemilikan merupakan hubungan hukum, sedangkan kontrol adalah fungsi ekonomi. Pada dasarnya
pemilik tunggal perusahaan adalah commander, sedangkan dalam sebuah perusahaan besar, pemegang saham adalah bagian pemilik perusahaan,
namun tidak menguasai sumber daya perusahaan. Komando atas sumber daya perusahaan hirarkinya ada di tangan komandan, yang disebut
commander oleh Goldberg.
Jika neraca disusun oleh dan atas nama commander perusahaan, maka pernyataan tersebut menunjukkan sumber dari mana commander menerima
sumber daya dan penggunaan dari sumber daya tersebut. Jadi, neraca lebih ke pernyataan pertanggungjawaban daripada kepemilikan (pernyataan
akuntabilitas). Neraca merupakan laporan yang menunjukan sumber daya yang dipercayakan kepada commander dibawah kendalinya, tetapi ia
tidak memilikinya. Sedangkan, laporan laba rugi adalah penjelasan dari hasil kegiatan-kegiatan dalam periode tertentu oleh Commander dan
timnya, sesuai dengan sudut pandang mereka. Teori Commander tidak memiliki efek langsung pada praktik akuntansi sampai sekarang.
h. Investor Theory
Salah satu tujuan akuntansi adalah untuk memberikan informasi kepada pemilik modal/investor atau pemegang saham. Staubus berpendapat
bahwa fungsi akuntansi dan laporan keuangan perlu menggunakan sudut pandang investor. Investor adalah pemegang saham dan kreditur.
Persamaan akuntansi dalam teori ini adalah:
Aset = Ekuitas spesifik + Ekuitas residual

Ekuitas spesifik adalah kewajiban dan saham preferen. Pada umumnya ekuitas residual setara dengan ekuitas saham biasa. Jika ekuitas saham
biasa dihapuskan, maka ekuitas saham preferen akan menjadi ekuitas residual. Persamaan akuntansi ini mengungkapkan ketergantungan ekuitas
residual pada nilai-nilai aset dan ekuitas spesifik.
Investor menginginkan informasi untuk memprediksi penerimaan kas masa depan sebagai hasil dari hubungan mereka dengan perusahaan tertentu.
Staubus menyatakan bahwa penerimaan kas investor di masa yang akan mendatang bergantung pada:
1) Kapasitas moneter perusahaan mengeluarkan kas, Laporan keuangan dapat menjadi basis untuk memprediksi jumlah kas masa mendatang.
2) Kesediaan manajemen untuk membayar investor. Laporan keuangan membantu investor memastikan kesediaan dan kemampuan perusahaan
untuk mengeluarkan kas kepada mereka.
3) Prioritas hukum atas klaim investor. Informasi tersebut tidak dapat diperoleh dalam laporan keuangan.
Teori Investor menekankan pentingnya kebutuhan pengguna eksternal, terutama para pemegang saham. Meskipun teori kepemilikan (proprietary)
juga termasuk pemegang saham, mereka dipandang sebagai pemilik yang memiliki kekuatan lebih besar daripada yang sebenarnya pada
kebanyakan perusahaan. Karena fokus terhadap investor, kebutuhan akan informasi arus kas adalah tepat.
i. Enterprise Theory
Teori ini dikembangkan oleh Suojanen yang bermula dari tulisan Drucker mengenai perusahaan besar. Dalam teori ini, pihak manajemen tidak
hanya menjadi wakil dari para pemegang saham, namun juga berperan sebagai pelindung perusahaan sehingga memiliki tanggung jawab terhadap
kelancaran & pertumbuhan perusahaan. Karena penerimaan perusahaan berasal dari para pemegang saham, kreditur, kinerja pegawai, dan juga
ada yang berasal dari pemerintah, sehingga perusahaan memiliki tanggung jawab kepada mereka. Pandangan ini konsisten dengan konsep triplebottom line yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan yang memiliki hubungan dengan perusahaan. Perusahaan besar dalam keputusannya memiliki
kewajiban sosial kepada lingkungan berpengaruhnya: investor, pegawai, kreditur, customer, pemerintah, dan masyarakat. Melihat perusahaan
secara lebih luas sebagai bagian dari society.
Value added atau laporan pertambahan nilai adalah laporan yang berisi pengukuran kinerja yang mengukur nilai/kondisi keberlangsungan
perusahaan dalam periode tertentu. Atau dengan kata lain, pendekatan ini mengukur kinerja dari pihak-pihak yang berpengaruh dalam perusahaan,
seperti pegawai, pemegang saham & kreditor, dan juga pemerintah yang dapat menambah nilai bagi perusahaan. Value Added Statement
menggambarkan alur produk yang terjual, jumlah kontribusi perusahaan kepada masyarakat, matched dengan alur perolehan laba dalam laporan
pimpinan terhadap para penerima laba (pemegang saham).
j. The Reporting Entity Concept
Menurut PP 71 tahun 2010, entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi atau entitas pelaporan
yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggung jawaban berupa laporan keuangan.
Tujuan umum dari Pelaporan Keuangan (General Purpose Financial Report) bertujuan untuk memberikan kebutuhan informasi yang umum untuk
pengguna yang tidak dapat menuntut pengolahan laporan sesuai dengan kebutuhan untuk kepuasan, kejelasan, dan kebutuhan akan informasi
mengenai perusahaan.
V.

HISTORICAL COST

Overview Sejenak
Three main income and capital measurement systems:

The historic cost accounting system emerged after the 1929 Wall Street collapse

In the 1960s several alternatives were developed


o current cost accounting
financial capital maintenance (the purchasing power of the financial capital)
physical capital maintenance (the physical ability to produce goods and services)
o exit price accounting
a. Basic Concept
Tujuan penggunaan historical cost accounting menekankan hubungan kontrak antara perusahaan dan pihak yang menyediakan sumber informasi
tersebut. Kritikus historical cost berpendapat bahwa laporan ekuitas yang hanya memperhatikan biaya historis saja tanpa memperhatikan
perubahan nilai asset dan kewajiban akan menyesatkan dan menghasilkan kebijakan dividen yang tidak tepat. Berdasarkan akuntansi konvensional,
net worth adalah pengukuran yang tidak relevan. Pemilik perusahaan hanya ingin mengetahui hasil investasi mereka pada perusahaan. Maka dari
itu fungsi akuntan yang paling penting bukanlah menunjukkan net worth pemilik melainkan menunjukkan profit.

Separation of ownership and control- information asymmetry. Most critical objective of accounting is accountability - stewardship (conservatism).
The income statement is paramount: transaction based, revenue recognition, matching, profit measurement.
Profit dalam metode Historical Cost
Dalam pandangan akuntansi tradisional:
1. Income adalah capaian perusahaan selama satu periode.
2. Expense adalah usaha yang dilakukan
3. Profit adalah efektivitas perusahaan sebagai unit operasi.
Hubungan antara perubahan nilai asset dan kewajiban sebagai konsekuensi aktivitas operasi dijabarkan dalam Framework for the
Preparation and Presentation of Financial Statement sebagaimana dijelaskan dalam definisi expense dan income berikut:
1. Income adalah kenaikan manfaat ekonomis selama satu periode akuntansi berupa penambahan asset atau menurunnya kewajiban sehingga
menghasilkan kenaikan ekuitas.
2. Expense adalah penurunan manfaat ekonomis selama satu periode akuntansi berupa berkurangnya asset atau bertambahnya kewajiban
sehingga menghasilkan penurunan ekuitas.
FASB menyesal pernah menggunakan istilah revenue-expense view dan asset-liability view karena sekarang istilah tersebut disalahartikan
sebagai historical cost accounting dan current value accounting.ada2 aja.
b. Defence Of Historical Cost
Penggunaan historical cost pada akuntansi konvensional telah mengundang perdebatan dari banyak pihak. Pihak-pihak yang masih bertahan
dengan konsep historical cost memberikan beberapa argumen, antara lain:
1) Historical cost relevan dalam membuat keputusan ekonomis.
Saat para manajer membuat keputusan yang berpengaruh terhadap komitmen di masa depan, mereka mebutuhkan data mengenai transaksi di
masa lalu. Mereka harus mereviu kejadian di masa lalu, dan kejadian di masa lalu itu diukur dengan historical cost.
Ijiri mengungkapkan tiga alasan mengapa historical cost relevan dalam membuat keputusan:
a) Historical cost mempengaruhi evaluasi dan pemilihan keputusan. Harga di masa lalu (historical cost) adalah dasar untuk melakukan
perkiraan (forecasting).
b) Para manajer lebih memperhatikan berapa banyak yang sudah dihasilkan daripada yang dapat dihasilkan. Untuk kasus ini, historical cost
adalah ukuran yang tepat.
c) Historical cost digunakan karena adanya paksaan. Historical cost digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya perpajakan.
2) Histoical cost berdasarkan transaksi aktual, bukan possible.
Dalam penggunaan historical cost, pembukuan dibuat berdasarkan transaksi aktual. Ijiri mengungkapkan bahwa jika menggunakan current cost
atau exit price, pencatatan transaksi ke dalam neraca dapat menggunakan dasar harga pasar akhir tahun tanpa mengacu pada transaksi aktual.
Historical cost memberikan bukti untuk menentukan seberapa efektif manajemen dalam memenuhi tanggung jawabnya. Pencatatan transaksi
masa lalu penting untuk tujuan akuntabilitas. Ijiri menyatakan bahwa selama akuntabilitas dianggap penting, maka historical cost harus
digunakan.
3) Sepanjang sejarah, laporan keuangan yang disusun berdasarkan historical cost dinilai memberikan manfaat.
Mautz menyatakan bahwa jika laporan keuangan yang disusun berdasarkan historical cost selama bertahun-tahun tidak memberikan manfaat
bagi manajemen dan tujuan investasi, maka perubahan dalam akuntansi sudah lama dilakukan.
4) Konsep keuntungan yang dapat dipahami adalah kelebihan harga jual terhadap historical cost.
Konsep keuntungan diterima sebagai ukuran kinerja. Mautz menyatakan bahwa usaha untuk mendapatkan keuntungan memerlukan penggunaan
waktu, tempat dan bentuk yang akan ditambahkan ke material, produk atau jasa yang akan dibeli orang lain sehingga material, produk, atau jasa
tersebut dapat dijual di atas biaya pembuatannya. Akuntansi tradisional yang menggunakan historical cost sejalan dengan konsep keuntungan.
5) Akuntan harus menjaga integritas datanya terhadap modifikasi internal.
Banyak orang yang berpendapat bahwa penggunaan historical cost meminimalkan tindakan manipulasi jika dibandingkan current cost atau exit
price.
6) Apakah informasi keuntungan yang didasarkan pada current cost atau exit price berguna?
Apakah ada gunanya menunjukkan keuntungan dari penambahan nilai aset jika perusahaan tidak berniat untuk menjualnya?. Current cost dan
exit price hanya mempertimbangkan keuntungan jangka pendek. Padahal ada alasan lain untuk mempertahankan aset selain mendapatkan
keuntungan dengan segera.
7) Perubahan dalam harga pasar dapat diungkapkan sebagai data pendukung.
Dalam banyak kasus, historical cost tidak berbeda jauh dibandingkan current cost. Data pendukung dapat disediakan untuk menyediakan
informasi current cost tanpa harus beralih menggunakan current cost.
8) Tidak ada bukti yang cukup untuk menolak menggunakan historical cost.
Akuntan tradisional berargumen bahwa tidak ada bukti empiris yang menyatakan bahwa informasi current cost dan exit price lebih berguna.
Banyak penelitian mengatakan bahwa data current cost tidak menyediakan data yang lebih baik dibandingkan historical cost.

c. How Objective Is Historical Cost


Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya yang sebenarnya dikeluarkan adalah lebih objektif dan konkrit dalam pengukuran nilai suatu aset dibandingkan
dengan perkiraan jumlah uang yang akan diterima andaikan aset tersebut dijual saat ini (fair value). Biaya akuisisi (historical cost) lebih menggambarkan kenyataan yang ada dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku saat ini. Namun perlu diingat bahwa dalam menilai objektivitas
biaya historis, harus diasumsikan bahwa transaksi akuisisi atas sebuah aset di masa lalu terjadi secara fair (tidak terdapat hubungan istimewa antara
penjual dan pembeli sehingga harga transaksi yang disepakati saat itu benar-benar mencerminkan harga pasar sebenarnya atas aset tersebut).
Selain itu juga perlu diingat bahwa biaya akuisisi atas suatu aset tidak hanya yang tercantum dalam invoice saja, melainkan meliputi seluruh biayabiaya yang dikeluarkan dalam rangka menjadikan aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diharapkan dan siap digunakan oleh
perusahaan. Sebagai contoh dalam pengukuran biaya persediaan, beberapa elemen biaya tersebut diantaranya:
1. Cost of purchase: terdiri dari harga beli, biaya impor dan pajak lainnya, transportasi, handling dan biaya lainnya yang terkait langsung yang
dapat diatribusikan terhadap kepemilikan barang jadi, material, dan jasa. Diskon dan rabat menjadi pengurang dari biaya persediaan tersebut.
2. Cost of convertion: merupakan biaya yang secara langsung berhubungan dengan unit produksi, contohnya biaya direct labor dan overhead
pabrik yang dialokasikan dalam rangka proses produksi raw material menjadi barang jadi.
3. Other costs: biaya-biaya lain yang diperlukan dalam rangka menjadikan persediaan pada lokasi dan kondisi yang diharapkan.

Oleh karena itu dalam akuntansi biaya historis, basis pengukuran yang digunakan untuk mengukur nilai persediaan dalam neraca adalah biaya
historis.
Namun dalam prakteknya banyak terjadi perbedaan dalam penerapan aturan mengenai penguku-ran biaya historis. Banyak hal yang terjadi di
lapangan yang belum diatur secara jelas dalam standar akuntansi keuangan mengenai penerapan biaya historis sehingga diperlukan professional
judgement dalam menentukan cost dari suatu aset pada saat akuisisi. Pertanyaan terkait mengkapitalisasi atau membebankan pengeluaran juga
mempengaruhi biaya suatu aset. Untuk beberapa item jawabannya sudah jelas, tetapi untuk lain tidak. Jika interior sebuah bangunan kantor dicat,
sebaiknya pengeluaran harus dikapitalisasi atau dibebankan? Haruskah biaya atau penataan ulang peralatan dikapitalisasi atau dibebankan?.
d. Kritik Atas Historical Cost
Historical cost accounting telah lama digunakan dalam praktik akuntansi dan sudah memberikan banyak manfaat. Namun pendekatan ini tetap
memiliki beberapa kelemahan yang banyak dikritik terutama oleh para pendukung current cost accounting. Berikut beberapa kritikan terhadap
cost accounting historis:
1) Menyediakan informasi dalam rangka melaksanakan stewardship function manajemen merupakan interprestasi yang terlalu sempit
atas tujuan akuntansi.
Dalam historical cost accounting atau conventional accounting bertujuan untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi yang diperlukan untuk memberikan informasi tentang stewardship function manajemen. Tujuan utama akuntansi adalah
untuk memenuhi kebutuhan para pengguna dalam membuat keputusan. Oleh karenanya, penting untuk menerapkan pendekatan yang melihat
ke depan (a forward-looking), yang dapat memberikan informasi lebih relevan, daripada hanya menyajikan informasi di masa lampau.
Semakin terkini informasi maka semakin objektiflah informasi. Oleh karenanya, menggunakan historical cost tidaklah logis untuk memenuhi
tujuan akuntansi. Historical cost accounting gagal dalam fungsinya memberikan informasi yang objektif. Banyak keputusan mengenai
pencatatan, pengukuran, dan pelaporan informasi yang jauh dari objektif dan rentan manipulasi.
2) Historical cost accounting meskipun bermanfaat, namun tidak cukup untuk mengevaluasi keputusan bisnis.
Historical cost mempunyai manfaat, akan tetapi tidak cukup untuk mengevaluasi keputusan bisnis. Ketika gain diperoleh, Historical cost
adalah tepat karena nilainya mengacu pada kejadian saat ini (mutakhir). Akan tetapi, segera setelah periode akuisisi lewat, nilai ini tidak lagi
mutakhir dan oleh karenanya tidak lagi logis.
Sedangkan laba dalam historical cost accounting tidak memiliki interprestasi prospektif melainkan restropektif. Modal dianggap sebagai
nominal investasi pada perusahaan bukan daya beli (purchasing power) investasi tersebut. Setelah tahun akuisisi, historical cost tidak
berhubungan dengan kejadian pada tahun tersebut. Historical cost menyajikan laba terlalu tinggi saat harga-harga naik karena mengoffset
biaya historis dengan pendapatan sekarang (inflasi). Angka laba berdasarkan Historical cost dapat memperdaya manajemen lebih luas lagi
bahwa dividen yang dibayarkan dapat melebihi laba real tahunan dan menghilangkan basis modal.
3) Basis Historical cost yaitu going concern tidaklah realistis.
Salah satu pembelaan penggunaan historical cost adalah prinsip going concern dimana menganggap umur perusahaan adalah tidak dapat
ditentukan sehingga ekspektasi normal mengenai item non moneter akan terpenuhi. Namun, pada kenyataannya tidak ada bisnis yang
berlangsung tidak pasti ke masa depan. Jadi, akan lebih beralasan untuk mengasumsikan penghentian daripada keberlangsungan.

4) Penggunaan konsep penandingan tidak menghasilkan informasi yang relevan dan terpercaya.
Kritik terhadap historical cost muncul bahwa penandingan tidak memerlukan konsep pendapatan untuk berfungsi sebagai dasar untuk
penilaian tersebut. Pada kenyataannya, dalam banyak kasus, penandingan biaya dan revenue tidak mungkin dipraktekkan. Penandingan
adalah sebuah proses untuk keputusan acak yang harus dibuat daripada analisis yang konsisten. Selain itu, konsep penandingan dan alokasi
khusus biaya tidak dapat dibenarkan yaitu tidak dapat diverifikasi dan disanggah. Tidak ada cara untuk memilih metode lain kecuali secara
arbitrari.
Konsep penandingan konvensional meletakkan neraca dalam posisi kedua setelah laporan rugi laba. Karena historical cost accounting lebih
memfokuskan pada net profit, maka neraca hanya dipandang sebagai ringkasan saldo yang dihasilkan setelah menghitung laba. Penggunaan
konsep penandingan tidak menghasilkan informasi yang relevan dan terpercaya. Hal ini membawa pada kritik bahwa konsep ini bias terhadap
neraca dimana laporan rugi laba meletakkan neraca pada posisi kedua.
Historical cost accounting hanya menduga kebutuhan investor yang tertarik pada analisa pasar. Praktek akuntansi konvensional menekankan
pada tingkat pengembalian saat ini dibanding profitabilitas jangka panjang dan investor diasumsikan naif. Hal ini mendorong kretivitas
pelaporan keuangan yang memungkinkan penyimpangan data yang dilaporkan seperti aset dan revenue yang dilaporkan lebih tinggi atau
beban dan kewajiban yang dilaporkan lebih rendah.
5) Munculnya beberapa peraturan, standar akuntansi dan exposure draft yang menyerang teori cost accounting.
Untuk beberapa tahun, telah terjadi perpindahan dari pelaporan dengan historis cost accounting. Khususnya, beberapa peraturan, standar
akuntansi, dan exposure draft diterbitkan oleh Australian standard yang menandakan berkahirnya pelaporan dengan historis cost accounting.
BAB 7 CURRENT COST ACCOUNTING
a. Rationale for current cost accounting
Current Cost Accounting adalah sistem akuntansi penilaian aset menggunakan harga pasar saat membeli (current market buying price) dan
penilaian profit menggunakan alokasi berdasar pada biaya saat ini (current cost to buy). Current entry price didasarkan pada replacement
cost atau reproduction cost. Pada tahun 1961, Edwards dan Bell mengusulkan current cost accounting dalam karya klasik mereka, The Theory
and Measurement of Business Income. Proposal mereka ditulis sejak terjadi banyak perdebatan. Mereka adalah yang pertama kali
mempresentasikan current cost accounting. Konsep mendasar Current Cost ialah adanya pengakuan Holding Gain/Loss.
Mengapa Current Cost?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mempertimbangkan kebijakan-kebijakan manajer yang dihadapkan untuk menjalankan bisnis.
Satu asumsi yang dapat kita buat adalah manajer perusahaan ingin mengetahui bagaimana seharusnya mengalokasikan sumber daya perusahaan
untuk memaksimalkan laba.Edward dan Bell mengungkapkan masalah mendasar yang terbagi dalam 3 pertanyaan:
- Berapa jumlah aset yang harus dipertahankan pada waktu tertentu? Ini adalah masalah ekspansi.
- Aset berbentuk apa yang harus dipertahankan ? Ini adalah masalah komposisi.
- Bagaimana seharusnya aset dibiayai? Ini adalah masalah pembiayaan.
Manajer membuat kebijakan-kebijakan dari 3 pertanyaan tersebut yang diperlukan untuk merumuskan ekspektasi di masa depan. Ekspektasi
didasarkan pada harapan masa lalu. Jika informasi yang termasuk peristiwa periode sebelumnya dicampur dengan peristiwa periode berjalan, maka
proses evaluasi menjadi membingungkan. Juga, jika beberapa peristiwa periode berjalan dihilangkan, akan mengakibatkan kebingungan dalam

proses evaluasi. Edward dan Bell menganggap bahwa perubahan harga dalam suatu periode tertentu adalah peristiwa-peristiwa yang penting dalam
manajemen.
Berdasarkan teori ini, informasi akuntansi menyajikan 2 tujuan:
- Evaluasi oleh manajer dari kebijakan masa lalu mereka dalam rangka untuk membuat kebijakan yang terbaik untuk masa depan.
- Evaluasi manajer oleh pemegang saham, kreditur, dan lain-lain. .
Masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan Akuntansi Nilai Sekarang adalah pengukuran dari nilai sekarang (current value) itu sendiri.
Menurut Martin A. Miller ada dua metode yang paling sering digunakan dalam perhitungan yaitu:
- Sistem Nilai Masukan (Entry Value System)
Entry Value System didasarkan atas dasar harga pokok penggantian (Replacement Cost) atau harga pokok, untuk memproduksi (Reproduksi
Cost). Yang dimaksud dengan Replacement Cost adalah estimasi biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh aktiva baru atau
ekuivalennya pada harga sekarang (current prices) setelah disesuaikan dengan depresiasi. Sedangkan Reproduction Cost dimaksud sebagai
estimasi biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi aktiva baru atau ekuivalennya pada harga sekarang setelah diasumsikan dengan
depresiasinya.
- Sistem Nilai Keluaran (Exit Value System)
Exit Value Sistem biasanya didasarkan atas nilai bersih yang dapat direalisasi (Net Realizable Value) dalam keadaan usaha yang biasa atau
kadang-kadang berdasarkan atas Discounted Cash Flow. Yang dimaksudkan dengan Net Realizable Value adalah estimasi harga penjualan
atas aktiva setelah didukungi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual aktiva tersebut. Sedangkan Discounted Future Cash Flow
dimaksudkan sebagai nilai sekarang (present value) dari estimasi pemasukan kas (Cash Inflow) atau cast saving yang dijual pada tingkat
bunga yang sesuai.
Berkenaan dengan laba, manajemen sering menghadapi dua keputusan:
- Holding decisions tentang apakah akan 'menahan' aset dan kewajiban atau untuk membuangnya (misalnya melalui penjualan aset atau
pembayaran utang).
- Operating decisions tentang bagaimana menggunakan dan membiayai operasional entitas.
Untuk mengevaluasi baik holding dan operating keputusan manajer, Edwards dan Bell menawarkan konsep laba yang mereka sebut 'laba bisnis'
yang terdiri dari:
1) Laba Operasi saat ini (current operating profit)
Laba operasi lancar merupakan selisih lebih dari nilai saat ini dari output terjual dengan biaya beli saat ini.
2) Penghematan biaya realisasi (realisable cost savings)
Penghematan biaya realisasi adalah peningkatan biaya saat ini aset yang dimiliki oleh perusahaan pada periode berjalan. Mencakup perubahan
yang sudah direalisasi maupun yang belum direalisasi.
Laba usaha itu dihitung secara riil, yaitu yang 'fiksi' elemen karena perubahan tingkat harga umum dihilangkan. Istilah untuk penghematan biaya
realisasi adalah holding gains/losses, yang dapat maupun yang belum direalisasi. Karena biaya penggunaan sumber daya yang cocok dengan
harga beli saat ini, semua aset dan kewajiban juga diukur pada harga beli saat ini dan muncul dalam laporan posisi keuangan sebesar nilai
kontemporer.
Holding gain dan losses timbul dikarenakan adanya perbedaan antara harga pokok historis atau aktiva dengan harga pokoknya sekarang. Asumsi
mendasar sebuah laba bisnis adalah bahwa penggabungan holding gains/losses dan operating gains/losses membingungkan evaluasi keputusan
manajemen dan menghalangi alokasi sumber daya dalam perekonomian. Pendukung teori ini percaya bahwa holding gain merupakan tabungan
yang disebabkan oleh fakta bahwa masukan tersebut diperoleh sebelum digunakan. Tabungan ini diperuntukan untuk mengadakan aktivitas.
Revsine menyarankan bahwa masuknya holding gain dalam income memiliki alasan bahwa perubahan dalam current cost aset tertentu
merefleksikan perubahan futurecash flow yang diharapkan dari penggunaan aset tersebut. Holding gains dikualifikasikan sebagai income karena
harga meningkat akibat refleksi dari peningkatan kekuatan untuk memperoleh earning yang lebih besar. Jika pernyataan ini benar, maka angka
pendapatan yang mencakup holding gain sangat relevan bagi pengguna yang mencoba untuk memprediksi future cash flows perusahaan.
Argumen Revsine menyiratkan bahwa current cost income adalah indikator utama future cash flows. Dasar teoritisnya adalah hubungan antara
current cost income dan economic income. Economic income didefinisikan sebagai perbedaan present value dari net cash flow yang diperkiran
perusahaan antara dua waktu yang berbeda, tidak termasuk tambahan investasi dan distribusi ke pemilik. Economic income dapat dibagi menjadi
2: distributable cash flow atau expected income dan unexpected income. Komponen-komponen ini didefinisikan sebagai:
expected income = Market rate of return x nilai awal aktiva bersih
unexpected income = sporadis kenaikan atau penurunan present value dari aktiva bersih akibat perubahan ekspektasi mengenai tingkat future cash
flows
Expected income mengukur cash flow yang dapat dihasilkan perusahaan untuk masa depan yang terbatas. Sedangkan unexpected income
mengukur perubahan cash flow karena faktor lingkungan yang tidak terantisipasi di awal periode. Dalam perekonomian yang bersaing sempurna,
current cost income hampir identik dengan economic income. Current operating profit di bawah current cost adalah sama dengan komponen cash
flow yang didistribusikan atau expected income. Holding gain yang langsung berhubungan dengan unexpected income.
Laba ekonomi dapat dibagi dalam dua bagian : arus kas didistribusikan atau laba yang diharapkan dan laba yang tak terduga. Komponen ini
didefinisikan sebagai:
- Laba yang diharapkan = tingkat pengembalian pasar (market rate of return) dikali nilai awal aktiva bersih (beginning value of net asset)
- Laba tak terduga = kenaikan sporadis atau penurunan nilai kini aktiva bersih karena perubahan ekspektasi tentang tingkat arus kas masa
depan.
Holding gain terdiri atas dua komponen yaitu :
1) Realized Holding Gains yang dihasilkan dari penyelesaian (disposal) aktiva, apakah aktiva itu dijual/digunakan dalam suatu periode
akuntansi.
2) Unrealized Holding Gains yang dihasilkan dari penambahan dalam nilai sekarang (current value) suatu aktiva dalam suatu periode akuntansi
dimana aktiva tersebut masih ditahan oleh perusahaan.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengungkapan Current Cost Accounting adalah sebagai berikut : (Smith-Skousen: 1991:566)
1) Tetapkan jumlah nilai berjalan persediaan, harta tak bergerak, pabrik, dan peralatan.
2) Terapkan tes jumlah yang dapat diganti kembali ke jumlah nilai berjalan dan pilih yang lebih rendah.
3) Berdasarkan hasil langka b), hitunglah harga pokok penjualan, penyusutan dan amortisasi.
4) Tetapkan perubahan dalam nilai berjalan persediaan dan harta tak bergerak, pabrik, dan peralatan menurut jumlah nominal dan juga rupiah
konstan.

Bila perusahaan beranggapan bahwa perubahan nilai sekarang (current cost) atau persediaan, harta tak gerak, pabrik, dan peralatan tidaklah besar
dan tidak memberikan pengaruh yang berarti atas laporan keuangan, maka pengungkapan atas current cost ini tidak perlu dibuat, namun dalam
catatan informasi tambahan perlu disebutkan alasan yang mendukung.
b. Financial Capital Versus Physical Capital
Dalam current cost accounting terdapat dua pandangan pokok yaitu konsep modal keuangan (financial capital concept) dan konsep modal fisik
(physical capital). Kedua pandangan tersebut memiliki kesamaan dalam memandang konsep valuasi/penilaian menggunakan current market
buying price/current cost (yakni aset dinilai dari nilai terkini/harga pasar). Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai bagaimana
mendefinisikan capital (modal), dan bagaimana mengukur profit/loss (keuntungan/kerugian) dari perubahan (kenaikan/penurunan) atas capital
tersebut.
Contoh ke bab sebelumnya aja soal physical vs financial capitalsama substansinya.
1) Dukungan atas Physical Capital
Dimasukkannya Holding gain dalam profit (financial capital) didasarkan pada dua argument yaitu merupakan:
cost saving
mencerminkan kenaikan future cashflow aset yang mengalami holding gain
Samuelson berpendapat bahwa perubahan pada current cost seharusnya merupakan capital maintance adjustment. Samuelson menilai bahwa
holding gain bukan cost-saving, melainkan sunk-cost (biaya tenggelam). Holding gain adalah opportunity gain, dimana keuntungan terjadi karena
mengambil satu keputusan (membeli aset lebih murah) daripada memilih yang lain (membeli aset lebih mahal di waktu terkemudian). Namun,
pilihan yang lain tersebut hilang saat perusahaan memilih satu keputusan tersebut. Holding gain mendasarkan perhitungan keuntungannya atas
perbandingan dengan pilihan lain, yang sudah tak ada lagi ini. Hal ini tentunya tidak masuk akal, karena secara konsep profit terkait dengan net
cash flows dan keuntungan tersebut tidak realised (terealisasi) ataupun expected (dapat diharapkan akan muncul), dan merupakan forgone cash
flows (telah lewat). Jika dipaksa masuk sebagai keuntungan, maka kasus lain misalnya pembelian aset yang lebih murah pada satu masa, ataupun
meminjam saat bunga kredit lebih rendah, tentunya juga merupakan cost-saving.
Asumsi pada poin kedua adalah kenaikan pada current cost akan menaikkan net realisable value (nilai bersih yang dapat direalisasi) aset. Meski
demikian, kenaikan expected cashflow (dari kenaikan current cost) tak bisa dihubungkan dengan non-current asset tertentu, karena cashflow
berasal dari penjualan output perusahaan. Yang lebih tepat adalah pencerminan kenaikan expected cashflow dengan kenaikan nilai present value
dari seluruh aset perusahaan. Selain itu, kenaikan aset tertentu dalam satu industri tidak selalu berarti menggambarkan potensi kenaikan future
cashflow dari setiap perusahaan dari industri lain yang menggunakan aset tersebut. Misalkan industri X mengalami kenaikan permintaan pesat
yang membuatnya membutuhkan penggunaan non-current asset A yang lebih. Hal ini membuat harga non-current asset A naik. Kenaikan noncurrent asset A ini belum tentu mencerminkan kenaikan future sales dari industri Y yang juga menggunakan non-current asset Y.
Dikarenakan kesulitan yang dialami dalam pengakuan holding gain sebagai profit tersebut maka holding gain seharusnya tidak termasuk ke
dalam profit, Samuelson condong ke pandangan physical capital.
Phsyical capital maintance didasarkan pada teori alokasi sumber daya optimum (optimum resource allocation) dan pemerolehan tingkat
pengembalian yang diperlukan dari input sumber daya (required rate of return on resource input). Penggunaan physical capital maintanance view
dapat meningkatkan:
kebijakan manajemen aset fisik
Pertimbangan harga terkini dari perbaikan dan pemeliharaan aset akan menjaga tingkat depresiasi dan harga penjualan kembali (resale price),
sehingga aset takkan didepresiasi atau dijual kembali dengan nilai yang lebih rendah dari pasarannya sekarang.
penentuan output dan pengenaan harga penjualan
Biaya yang relevan dalam mencapai output optimum dalam pasar yang kompetitif dimana perusahaan adalah penerima harga (price-taker)
adalah harga terkini dari penyediaan produk (current cost of supplying product); sebaliknya ketika perusahaan memiliki kuasa pasar dan
menjadi penentu harga (price-maker), biaya yang relevan adalah juga current cost of supplying product.
kebijakan dividen
Dalam mendistribusikan keuntungan sebagai dividen, physycal capital dapat memberikan tingkat yang reasonable untuk menjaga
operasional dan basis aset perusahaan sebagai reinvestasi yang menguntungkan.
status keberlangsungan usaha (going concern)
Keberlangsungan usaha terkait erat dengan kemapuan perusahaan menghasilkan tingkat keuntungan yang normal dari investasi pemilik,
dimana semua nilai diukur berdasarkan nilai terkini pasar dari sumber daya. Dengan penjagaan tingkat operasional perusahaan, basis aset
akan terjamin untuk berputarnya roda bisnis perusahaan di masa mendatang.
Major Features of the physical capacity system
Kritik atas Physical Capital
Sterling menganggap bahwa konsep physical capital penuh dengan kelemahan. Sterling berpendapat bahwa profit dalam pandangan physical
capital berarti hanya jika kondisi ini terpenuhi:
terus menerus menggunakan unit output identik
menghadapi kenaikan harga secara terus menerus
jual-beli dalam pasar berbeda
diinvestasikan seluruhnya dalam unit fisik
ada itung2anya silahkan lihat di buku saja..terlalu banyak variasi..intinya jika terdapat kondisi yang tidak terpenuhi maka terdapat permasalahan
yang amat sangat pelik sekali dalam pengukuran profitnyaaa.
c. Current Cost A Global Perspective
Standar Akuntansi International Dan Current Costs
Pada pemaparan sebelumnya diketahui bahwa beberapa negara telah mencoba menerapkan sistem akuntansi current cost akan tetapi sistem
tersebut tidak dapat diterapkan secara menyeluruh. Pada tanggal 15 Juli 2004, AASB mengadopsi standar akuntansi internasional untuk
semua komponen laporan keuangan setelah 1 Januari 2005. Selanjutnya IASB dan FASB sepakat bahwa basis terbaik untuk melakukan
pengukuran adalah nilai wajar. Menurut standar akuntasi internasional, difinisi atas nilai wajar dapat bervariasi mulai dari model biaya
perolehan dan harga penjualan sampai dengan model penilaian yang berdasarkan discounted cash flows atau option pricing. Tidak terdapat
standar yang menentukan konsep capital maintenanced ,oleh karena itu tidak terdapat penerapan yang baku untuk pengukuran pendapatan
berdasarkan perubahan atas modal.

d. Kritik atas current cost accounting;


Kritik terhadap akuntansi current cost terutama berasal dari 2 kubu yang berbeda: mereka yang mengikuti biaya historis dan mereka yang percaya
akuntansi exit price.
1) Para pendukung Biaya Historis
Para pendukung akuntansi biaya historis menolak current cost accounting, terutama karena melanggar prinsip realisasi tradisional. Adapun
yang menjadi perhatian mereka adalah perusahaan bermaksud untuk menggunakan aset bukan menjualnya, jadi perubahan harga pasar tidaklah
relevan. Sebuah aset tetap tidaklah memberi nilai lebih kepada perusahaan hanya karena current cost naik. Nilai aset tetap terletak pada potensi
layanannya bukan nilai pasarnya. Dengan kata lain, current cost accounting mengantisipasi laba operasi.
Masalah terkait adalah subjektivitas (lack of objectivity) dari menentukan jumlah kenaikan biaya. Jika tidak ada pasar barang bekas yang
handal, maka dasar untuk menentukan current cost aset tetap yang digunakan oleh perusahaan harus berupa aset baru diharapkan untuk
menggantikan yang lama. Bukanlah tugas yang mudah untuk menghitung jumlah keuntungan atau kerugian operasi.
Ada banyak industri yang berbeda sehingga sulit untuk diperbandingkan hasil pengukurannya.
2) Para Pendukung Exit Price
Mereka berpendapat bahwa istilah cost menyiratkan opportunity cost atau pengorbanan untuk alternatif terbaik. Hampir dalam semua kasus,
current sacrifice dihadapi oleh perusahaan yakni untuk menjual aset daripada menggunakannya, tetapi tidak untuk membelinya karena
perusahaan telah memilikinya. Oleh karena itu, dalam current cost, harga untuk membeli item, tidaklah relevan. Exit price atau nilai yang
dapat direalisasi yang merupakan ekspresi logis dari biaya peluang.
Pendukung exit price bersikeras bahwa current cost accounting menemui masalah matematika (additivity) dalam kalkulasi karena model yang
dianjurkan untuk praktek melibatkan berbagai metode pengukuran (ada present value, ada NRV ada current cost dll masa dijumlahkan, kan
beda metodenya).
Pendukung exit price accounting mempercayai bahwa informasi current cost secara umum tidak relevan dengan kebanyakan keputusan
investasi karena itu tidak fokus pada kemampuan perusahaan untuk mengendalikan sumber daya financial dalam misi perusahaan untuk
mengadaptasi diri dengan lingkungan. Physical capital concept fraught with weaknesses.
e. Dukungan terhadap Current Cost
1) Prinsip Recognition
Pendukung current cost akan berpendapat bahwa apakah perusahaan berniat untuk menggunakan atau menjual aktiva tetap tidak berhubungan.
Apa yang relevan adalah bahwa harga aset telah berubah. Penentuan pendapatan periodik harus didasarkan pada apa yang sebenarnya terjadi
dalam periode berjalan, bukan pada apa yang mungkin terjadi yaitu, pada niat perusahaan.
2) Objectivitas dari Current Cost
Untuk item yang harga pasar relatif mudah didapat, objektivitas current cost akan diterima oleh akuntan.. Bahkan, persediaan current cost
lebih objektif, dalam arti dispersi kurang, dibandingkan dengan biaya historis ditentukan atas dasar aliran yang diasumsikan, seperti LIFO atau
FIFO. Untuk aset tetap dimana tidak ada harga pasar yang tersedia, penilaian, perhitungan biaya reproduksi dan penggunaan angka indeks
akan diperlukan. Metode ini memerlukan kesepakatan judgment. Karena informasi current cost biasanya diperlukan hanya sebagai data
tambahan dan tidak diaudit. Profesi belum membahas prosedur yang ditentukan untuk penentuan dari current cost.
3) Perubahan Teknologi
Edwards and Bell percaya walaupun kondisi berubah, ada kemungkinan dimana proses produksi dapat menghasilkan laba yang lebih besar
dari alternative proses bila perubahan dipengaruhi factor eksternal karena mereka akan mempengaruhi semua proses dalam hal yang serupa.
Sebuah alternatif mode produksi seharusnya diadaptasi jika hanya jika memberikan profitabilitas yang diharapkan lebih tinggi dari yang telah
ada sebelumnya.
Ketika sebuah mesin baru mengubah biaya produksi, harga dari mesin yang lama harus di sesuaikan. Hal ini dipengaruhi crosselasticity
permintaan antara mesin lama dan mesin baru, mengasumsikan sebuah pasar yang memiliki halangan minim. Setelah penyesuaian dilakukan,
harga dari aset lama akan merefleksikan perubahan teknologi.
f. CCA vs Exit Price
g. Empirical Studies
VI.
EXIT PRICE ACCOUNTING
Exit price accounting merupakan sistem akuntansi yang menggunakan harga jual pasar/fair market value untuk mengukur posisi keuangan
perusahaan dan kinerja keuangan. Exit Price Accounting mempunyau dua hal utama yang berbeda dengan akuntansi biaya historis konvensional
sbb:
Nilai aktiva non-moneter disesuaikan untuk mengukur perubahan harga jual pasar khusus untuk aktiva tersebut.
Perubahan di dalam daya beli uang dipertimbangkan ketika mengukur posisi keuangan dan hasil usaha.
Aset di neraca disajikan kembali sebesar exit value (harga jual) sehingga mereka mewakili 'nilai pasar wajar' kepada perusahaan dalam proses
likuidasi, misalnya sedang tidak dalam situasi 'fire-sale'. Laporan laba rugi merupakan laba (dan rugi) usaha serta keuntungan disesuaikan dengan
inflasi dari aset induk. Oleh karena itu, laba diukur dengan konsep 'komprehensif' yang mengukur total perubahan yang secara nyata dalam nilai
dari semua unsur yang diakui dari ekuitas, dan mewakili clean surplus accounting. Clean surplus accounting adalah ketika laporan laba rugi
menghubungkan opening balance sheet dengan closing balance sheet, dan tidak ada penyesuaian yang dibuat langsung ke cadangan.
a. ln support of Exit Price Accounting;
1) Menyediakan informasi yang berguna
Pada masa sekarang, dengan banyaknya jumlah pemegang saham pada suatu perusahaan menyebabkan laporan keuangan perusahaan sebagai
media informasi utama mengenai perusahaan tersebut. Menurut MacNeal, prinsip-prinsip akuntansi konvensional yang didasari oleh historical
cost berpotensi untuk menghasilkan laporan keuangan yang salah dan menyesatkan serta tidak berorientasi pada keputusan pemilik saham.
Solusi ideal untuk akuntan adalah melaporkan semua keuntungan dan kerugian seperti nilai seperti yang ditentukan dalam pasar yang kompetitif.
Namun, tidak semua aset memiliki nilai pasar. Oleh karena itu MacNeal mengusulkan penerapan penilaian:
- Aset yang dapat dipasarkan pada harga pasar (exit price)
- Aset yang tidak dapat dipasarkan dan yang dapat direproduksi pada biaya pengganti (replacement cost).
- Aset yang tidak dapat dipasarkan yang tidak dapat direproduksi pada biaya historis (historical cost).
Keuntungan harus mencakup semua keuntungan baik yang terealisaasi maupun yang belum direalisasi dan kerugian sesuai dengan clean surplus
principle.

2) Pengambilan Keputusan yang Adaptif


Chambers melihat bahwa perusahaan sebagai suatu entitas yang adaptif terlibat dalam pembelian dan penjualan barang dan jasa. Dalam
bisnisnya, sebuah perusahaan harus dapat ikut serta dalam transaksi pasar dan hal ini diungkap dalam Laporan Keuangan. Pada lingkungan
pasar, aktiva keuangan dan kewajiban dapat ditentukan dengan harga pasar, contohnya harga beli atau current cost tidak menampakkan
kemampuan masuk kedalam pasar dengan cash untuk tujuan adaptasi. Sedangkan harga jual atau Current Cash Equivalent dapat.
Ketika perusahaan membeli aktiva tidak lancar, ia akan mengubah kemampuannya untuk beradaptasi. Jika aktiva tersebut dibeli secara tunai,
penurunan saldo kas perusahaan menyebabkan berkurangnya kebebasan untuk berinvestasi pada yang lain. Jika aktiva tersebut dibeli secara
kredit, hal ini mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh kredit lebih lanjut. Oleh karena itu, perusahaan harus mempertimbangkan
apakah kesempatan alternatif memberi keuntungan yang lebih besar jika aktiva non-lancar mereka jual dan hasilnya diinvestasikan. Konsep
opportunity cost ini, menggunakan harga jual dan bukan harga penggantian aktiva, sebagai dasar pengukuran. Chamber mengakui bahwa setiap
aset, pada prinsipnya merupakan sebuah nilai tukar (exit price) dan nilai guna. Nilai guna pada dasarnya adalah sejumlah nilai yang dihitung
dari harapan masa kini dan menggambarkan tentang masa depan, bukan fakta sekarang.
3) Informasi yang Relevan dan dapat dipercaya.
Sterling yakin bahwa ada suatu metode terbaik dalam menentukan keuntungan. Kriteria dalam menentukan metode penilaian mana yang terbaik
adalah metode yang memberikan informasi lebih banyak dimana isi informasi tersebut harus relevan dan dapat dipercaya.
Kesimpulan Sterling, Present market Method valuation mempunyai unsur:

Relevant ke semua

Dapat dipercaya

Bermakna empiris

Additive

Konsisten

Suatu penilain

Lebih informatif
the present selling price is the only item of information that is relevant to all decisions
4) Additivity
Chambers mempertimbangkan masalah kalkulasi menjadi faktor kunci dalam mendukung akuntansi CCE. Produk utama dari sistem akuntansi
laporan akuntansi - neraca dan laporan laba rugi. Sebagai contoh, kita tidak bisa nilai kewajiban sebesar harga perolehan (surat hutang), beberapa
aset sebesar biaya penggantian (persediaan), yang lain sebesar nilai kini (sewa aset) dan yang lain di setara kas (debitur) dan memperoleh neraca
yang sesuai. Maka, penilaian dari semua elemen dalam neraca dan laporan laba rugi pada setara uang mereka (nilai keluar), menyediakan satu
aturan yang dapat diterapkan secara konsisten terhadap perusahaan manapun. Sistem ini berkonsentrasi pada pengukuran kemampuan keuangan
penting - uang dan setara uang. exit price accounting does not have additivity problem.
5) Alokasi
Thomas mengeluhkan kenyataan bahwa sistem akuntansi biaya (historical dan Current) sangat bergantung pada alokasi biaya untuk penilaian
asset dan penentuan keuntungan. Laporan laba-rugi tidak melaporkan perubahan dalam jumlah yang dialokasikan, tapi melaporkan arus masuk
aktiva dan perubahan nilai-nilai keluar dari aset perusahaan dan kewajiban dalam suatu periode tertentu. Laba menampilkan jumlah perubahan
daya beli riil dari aktiva bersih, tidak termasuk investasi tambahan oleh dan distribusi kepada pemilik.
6) Kenyataan (Reality)
Exit price melibatkan referensi pada contoh-contoh yang nyata karena, setiap contoh mengacu pada saat ini, harga pasar sebenarnya.
Penyusutan tidak didefinisikan dengan cara konvensional, namun dalam arti ekonomi penurunan harga pasar. Penyusutan tidak mungkin terjadi
dalam beberapa tahun jika harga naik atau tetap konstan. Jika tidak ada nilai realisasi da does not produce realistic financial reportspat dikaitkan
dengan item, maka item tersebut akan memiliki saldo nol. Selain itu, exchangeability adalah bagian dari definisi suatu aset sehingga goodwill
tidak dapat dijual secara terpisah, tidak termasuk dari pertimbangan. Dengan dua kendala - dipertukarkan dan adanya harga jual - semua item
pada laporan keuangan dapat dikuatkan dengan bukti nyata.
7) Obyektifitas
Hal ini sering dikatakan bahwa harga pasar saat ini tidak objektif. Namun, beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa harga pasar relatif
lebih objektif daripada kebanyakan orang percaya.
McKeown juga menerapkan model ruang untuk sebuah perusahaan kontruksi jalan berukuran sedang, dan menyimpulkan dengan analisa
statistik bahwa metode yang digunakan untuk menentukan exit price adalah objektivitas lebih (diverifikasi) daripada metode berdasarkan
Financial Accounting Standard. Dalam studi lain, McKoewn dibandingkan empat model (exit price, current replacement, Historical cost in
specific level, Historical cost in general level)yang diusulkan dengan metode GAAP untuk objektivitas mereka (verifiability) dan menyimpulkan
bahwa model CCE adalah yang paling objektif.
8) Ukuran risiko
Exit price dan perubahan exit price juga bisa menjadi indikasi risiko keuangan pembelian aset. Misalnya, jika sebuah perusahaan pembelian
aset dengan exit price yang berbeda secara signifikan dari entry price, maka aset tersebut adalah proposisi berisiko. Informasi keuangan
menunjukkan bahwa pembelian aset tersebut harus merupakan proposisi jangka panjang dimana nilai ekonomi yang ditemukan oleh nilai pakai,
Sebaliknya, jika exit price meningkat secara drastis, biaya peluang meningkat kembali dan harus dioperasikan dengan lebih efisien. Untuk
memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi posisi risiko dan kinerja dalam mengelola risiko keuangan yang signifikan
dengan rancangan standar akan membutuhkan:
1. deskripsi dari setiap risiko keuangan yang signifikan dan tujuan perusahaan serta kebijakan untuk mengelola risiko tersebut.
2. informasi tentang dampak risiko tersebut terhadap laporan posisi keuangan (neraca) dan laporan kinerja keuangan.
3. Informasi mengenai metode dan asumsi utama yang digunakan untuk memperkirakan nilai wajar instrumen keuangan.
b. Kritikatas Exit Price Accounting
1) Profit Concept
Pendapat tentang akuntansi exit price adalah akuntansi harus mengukur kejadian masa lalu yang benar-benar sudah terjadi, bukan yang mungkin
akan terjadi. Weston berpendapat bahwa akuntansi exit price akan memberikan informasi yang relevan hanya jika perusahaan yang
bersangkutan berencana untuk melikuidasi asetnya. Jika perusahaan berencana untuk melanjutkan usahanya, maka informasinya tidaklah
relevan. does not provide a meaningful concept of profit. Maka, mempersiapkan laporan keuangan dengan dasar exit price sebagai data utama
yang dipublikasikan tidaklah diperintahkan. CCA does not produce realistic financial reports.
Pendukung akuntansi exit price merespon kritikan ini dengan menunjukan bahwa akuntansi exit price menyediakan laporan akuntansi yang
mampu dibandingkan karena :

Neraca dari perusahaan yang berbeda dapat di bandingkan untuk menentukan yang mana perusahaan yang memiliki kemampuan
beradaptasi terbesar terhadap kondisi pasar dengan menunjukkan aset mereka yang memiliki high cash equivalent.
Laporan pemasukan dapat dibandingkan untuk menunjukkan yang mana perusahaan yang meningkatkan penjualan aset netto mereka lebih
banyak atau kurang daripada yang lainnya.
Lebih lanjut, pencetus exit price berpendapat bahwa, dengan memperhatikan kemampuan untuk dibandingkan, akuntansi yang dilakukan secara
konvensional tidak memfasilitasi perbandingan terhadap perusahaan lain semudah yang dilakukan sistem mereka, karena akuntansi
konvensional tidak memasukkan efek perubahan harga pada perusahaan. Malah ribut dewek.haha
2) Additivity
Pendukung exit price mengklaim bahwa pengukuran akuntansi, harus didasarkan pada kejadian lampau dan masa sekarang. Kalkulasi sebagai
antisipasi tidak dapat ditambahkan bersamaan dengan kejadian masa sekarang. Jika dalam kenyataannya antisipasi tidak dapat dihindari untuk
memastikan persamaan current cash, maka model exit price melanggar prinsip pengeluaran pada kalkulasi yang dilakukan terlebih dahulu.
Larson dan Schattke menyatakan bahwa persamaan uang kas pada aset individu yang telah dijual secara terpisah dan aset sama yang dijual
sebagai satu paket mungkin sangat berbeda. Staubus berpendapat bahwa hasil dari metode pengukuran yang berbeda membuat satu aset menjadi
barang pengganti untuk nilai saat ini. Dia percaya bahwa pengukuran yang tidak sempurna yang diawali dari metode yang berbeda menemui
persyaratan teknis untuk bahan tambahan. Bahkan nilai aset yang mampu direalisasikan bukanlah informasi yang berguna sampai hal itu dapat
mewakili apa yang dapat atau akan terjadi.
3) Penilaian Kewajiban
Chambers berpendapat bahwa hutang obligasi secara efektif berbentuk modal dan harus dinyatakan sebesar nilai nominal, bukan di nilai pasar.
Ini membuat inkonsistensi, karena obligasi sebagai aktiva harus dinyatakan sebesar nilai pasar. Dalam pertahanan, Chambers menyatakan
bahwa pada waktu tertentu, terlepas dari harga di pasar, perusahaan yang berutang kepada pemegang obligasi hanya sebesar jumlah kontrak
obligasi, karena itu adalah jumlah kontrak yang relevan dalam menilai posisi keuangan saat ini. Dalam kebanyakan kasus, ini setara dengan
nilai nominal. Tapi kritikus tidak yakin karena, menurut definisi, posisi keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk terlibat dalam
transaksi. Hal ini secara logis menyiratkan kemampuan perusahaan untuk pasar untuk membeli obligasi sendiri dengan harga pasar.
Current Cost or Exit price
Satu pertanyaan sangat penting dalam memutuskan apakah akan menggunakan current cost atau exit price. Teori current cost berpendapat bahwa
harga entri adalah ' metode penilaian normal' dibandingakan exit price karena alasan berikut:
Menggunakan harga keluar (exit price) mengarah ke revaluasi anomali atas perolehan karena segera setelah nilai pembelian biasanya
harga jatuh sehingga kurang dari harga perolehan.
Menggunakan harga keluar (exit price) menyiratkan pendekatan jangka pendek untuk operasi bisnis karena salah satu tertarik pada nilainilai disposisi dan likuidasi.
Menggunakan harga keluar (exit price) untuk persediaan barang jadi mengarah pada antisipasi terhadap laba operasi sebelum titik skala
karena persediaan dinilai lebih dari biaya saat ini.
Value In Use Versus Value In Exchange
Similar when markets are liquid and efficient
There are factors common to both

market prices are more relevant for decision making

additivity and reliability are prime requirements

historic cost accounting has too many defects


They are complements not substitutes
Value in use assesses long term survival (solvency), value in exchange assesses the ability to adapt in the short term (liquidity)
c. A Mixed Measurement System And International Standard
Permasalahan dari akuntansi untuk aset-aset finansial memberikan contoh tentang bagaimana exit price dapat digunakan dalam laporan keuangan
dan juga penyatuan kebijakan akuntansi di seluruh dunia. Trading securities diukur dengan harga pasar berdasarkan IAS 39/AASB 139 dan PABU
Amerika Serikat dan Jepang. Sedangkan held to maturity asset diukur dengan harga perolehan di berbagai negara. Bagaimanapun juga, penggunaan
harga pasar untuk semua instrumen keuangan didukung oleh para penyusun standar akuntansi dari IASB, Komisi Eropa, Amerika Serikat, Inggris
Raya, dan Kanada. Konvergensi standar akuntansi global dan FASB dan IASB saat ini, komitmen kepada akuntansi nilai wajar dapat melihat
current value yang diperlukan untuk aset tersebut dalam waktu dekat.
Auditor Issue
The mixed measurement model creates misstatement so that auditors struggle to meet one of their primary objectives determining whether the
financial statements present a true and fair view.