Anda di halaman 1dari 38

Otopsi terhadap Kasus Pembunuhan Anak Sendiri

Samantha
102011399
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana
Jalan Terusan Arjuna Utara no. 6, Jakarta 11510
Email: violinchoco@gmail.com
Kasus
Sesosok mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat
melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang
perempuan yang menghentikan mobilnya didekat sampah tersebut dan berada di sana cukup
lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter
direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang
dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus
mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan
membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.
Pendahuluan
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya di sungai, got, atau
seperti pada kasus ini di tempat sampah, maka bayi tersebut mungkin adalah korban
pembunuhan anak sendiri (PAS), pembunuhan, lahir mati kemudian dibuang, atau bayi yang
ditelantarkan sampai mati. Untuk membedakan hal-hal tersebut, harus dapat ditentukan
apakah bayi lahir hidup atau lahir mati, dan lain sebagainya sehingga diperlukan pemeriksaan
forensic pada mayat bayi tersebut serta barang bukti yang dibawa bersamanya, pemeriksaan
terhadap wanita tersangka, serta adakah hubungan antara keduanya.
Kematian bayi yang terjadi di Indonesia bisa dimasukan ke dalam kategori Kinderdoodslag
yaitu tanpa rencana atau Kindermoord yaitu dengan rencana, tergantung dari motif tersangka
yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri saat melakukan pembunuhan bayi.

Pembunuhan Anak sendiri (PAS) menurut undang-undang di Indonesia adalah pembunuhan


yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama
setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.1,3
Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa
yang unik sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri,
dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut
ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak; oleh karena anak tersebut umumnya adalah hasil
hubungan gelap. Cara yang paling sering digunakan dalam kasus PAS adalah membuat
keadaan asfiksia mekanik yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan. Di
Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per tahun dilakukan dengan
cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasan tumpul di kepala (5-10%)
dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7 tahun).
Pembunuhan bayi yang dilakukan dengan rencana dan dilakukan lebih dari 24 jam setelah
bayi lahir maka disebut pembunuhan bayi biasa sedangkan pembunuhan tanpa rencana yang
dilakukan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir maka disebut dengan infantisida.
Infantisida adalah tindakan perampasan nyawa bayi yang berusia dibawah satu tahun.
Menurut hukum di Indonesia infantisida adalah perampasan nyawa anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian karena alasan tertentu.
Infanticide tidak termasuk kematian pada bayi selama proses persalinan ketika fetus
dihancurkan dengan craniotomy atau decapitasi yang dikerjakan oleh ahli kandungan yang
dilakukan dengan tujuan menyelamatkan nyawa ibu ketika kondisi persalinan tidak dapat
selesai tanpa menyebabkan kematian pada ibu dan anak.

Aspek Hukum
Sampai tahun 1922, menghilangkan nyawa bayi yang baru lahir (dalam segala keadaan)
adalah pembunuhan. Keadaan ini tidak mengijinkan fakta bahwa melahirkan dapat berefek
yang secara sementara mengganggu keadaan jiwa ibu sehingga dia harus bertanggung jawab
atas tindakan membunuh anaknya. Undang-undang Infantisida tahun 1922, yang mengatur
tentang kejahatan infantisida membatasi kemungkinan terjadinya hal ini, namun tidak
mendefinisikan keadaan baru lahir dan apakah benar adanya kemungkinan lanjut bahwa
menyusui juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan mental secara sementara. 2

Undang-undang Infantisida tahun 1938 bagian 1 menyebutkan Ketika wanita melakukan


tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian anak kandungnya
yang berusia di bawah 12 bulan, tetapi pada saat itu kegiatan melakukan tindakan atau tidak
melakukan tindakan tersebut keadaan pikirannya terganggu dengan alasan belum pulih dari
pengaruh melahirkan dan pengaruh menyusui setelah melahirkan, walaupun demikian
keadaan demikian tetap berlaku sebagai pembunuhan dia dinyatakan bersalah telah
melakukan infantisida secara kejam dan kemungkinan dapat diancam atau dihukum seperti
dia telah membantai manusia. Pencegahan juga dibuat pada keadaan, jika dia didakwa
melakukan pembunuhan, sebagai tuduhan alternatif dari pembantaian, bersalah namun gila
atau menyembunyikan kelahiran tergantung keputusan juri.
Dalam KUHAP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa
orang. Pasal-pasal yang berhubungan adalah seperti berikut :
Pasal 341.
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau
tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh
anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
Pasal 342.
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 343.
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut
serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 181.
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut atau menghilangkan mayat, dengan
maksud hendak menyembunyikan kematian dan kelahiran orang itu, dihukum penjara selama
lamanya 9 bulan atau denda sebanyak banyak 4500 rupiah.
Pasal 304.

Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan,
sedangkan ia wajib memberi kehidupan perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena
hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian, dihukum penjara selama 2
tahun 8 bulan atau denda sebanyaknya 4500 rupiah.
Pasal 305.
Barang siapa yang menaruhkan anak yang dibawah umur 7 tahun di suatu tempat supaya
dipungut oleh orang lain, atau dimaksud akan terbebas daripada pemeliharaan anak itu,
meninggalkannya, dihukum penjara sebanyak-banyaknya 5 tahun 6 bulan.
Pasal 306.
(1) Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 304 dan 305 itu menyebabkan
luka berat, maka si tersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun 6 bulan.
(2) Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang lain mati, si tersalah itu dihukum
penjara selama-lamanya 9 bulan.
Pasal 307.
Kalau si tersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam pasal 305 adalah bapa atau ibu
dari anak itu, maka baginya hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat
ditambah dengan sepertiganya.
Pasal 308.
Kalau ibu menaruh anaknya di suatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak lama
sesudah anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anak atau
dengan maksud akan terbebas dari pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, maka hukuman
maksimum yang tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi hingga seperduanya.
Dengan demikian, pada kasus pembunuhan anak terdapat tiga unsur yang penting, yaitu: 1,2,3
1.
2.

Pelaku: Pelaku haruslah ibu kandung korban.


Motif: Motif atau alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan telah

melahirkan anak.
3. Waktu: Pembunuhan dilakukan segera setelah anak dilahirkan atau tidak beberapa
lama kemudian, yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan.

Prosedur Medikolegal

Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang
berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur
medikolegal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan
pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. Ruang
lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang berikut:
1. Pengadaan visum et repertum,
2. tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.
3. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan
ahli di dalam persidangan,
4. kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran
5. tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik ,
6. tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.
Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958 yang isinya
menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia, maka suatu
perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan
pidana yang telah ada, sesuai dengan ketentuan Pasal 1 KUHP.

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada jenazah bayi adalah autopsi. Hal ini dapat
membantu dokter forensic untuk mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu
penyidik mengetahui cara kematian korban. Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang
menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pada persidangan kasus pidana, dokter forensic akan dipanggil sebagai saksi ahli. Sesuai
dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang diminta pendapatnya
sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan.
Berikut dinyatakan pasal-pasal KUHAP yang berhubungan:
1. Kewajiban dokter membantu peradilan
Pasal 133KUHP

a. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,keracunan ataupun mati yang didiuga karena peristiwa yang merupakn tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter ahli lainnya.
b. Permintaan keterangan ahli sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (a) dilakukan
secara tertulis, dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka dan
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
c. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman tau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dengan dieri cap jabatn yang
dilekatkankan pada ibu jari kaki tau bahagin lain badan mayat.
2. Hak menolak menjadi saksi/ahli
Pasal 120 KUHAP
a. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat seorang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.
b. Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa
ia akan memberi keterangan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatan yang mewajibkan ia
menyimpan rahsia dapat menolak untuk memberi keterangan yang diminta.
3. Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.
4. Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter
Pasal 216 KUHP
a) Barang siapa dengan sengaja tidak menurut perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang
diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian pula barang
siapa yang dengan sengaja mencegah, menghalangi atau menggagalkn tindakan guna
menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan
dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

PEMERIKSAAN DAN INTERPRETASI TEMUAN


PEMERIKSAAN KASUS
INFANTICIDE

PELAKU/TERTUDUH
(ibu kandung)

1. Tanda telah melahirkan.


2. Berapa lama telah melahirkan
3. Mencari tanda-tanda partus
precipitatus
4. Pemeriksaan gol. Darah.
5. Pemeriksaan Histopatologi

KORBAN
(bayi yang baru dilahirkan)

1. Viabilitas
2. Penentuan umur bayi
3. Pernah atau tdk pernah bernafas
4. Berapa lama bayi hidup
5. Apa sebab kematiannya
6. Periksa gol. Darah
7. Tanda-tanda perawatan

Terhadap Mayat Bayi


Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelumnya, pembunuhan Anak sendiri (PAS) menurut
undang-undang di Indonesia adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas
anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut
ketahuan bahwa ia melahirkan anak.1,3
Dengan demikian, dari unsur-unsur pembunuhan anak sendiri di atas dapat ditarik beberapa
hal penting:
(1) pengertian pembunuhan mengharuskan kita untuk membuktikan bahwa bayi lahir
hidup, terdapat tanda kekerasan dan sebab kematian akibat kekerasan(termasuk peracunan);
(2) pengertian baru lahir mengharuskan penilaian atas: cukup bulan atau belum, usia
gestasi, usia pasca lahir serta memberikan pula asupan baik hidup (viable) atau tidaknya bayi
tersebut;
(3) pengertian takut diketahui diasosiasikan dengan belum timbulnya rasa kasih saying si
ibu kepada bayinya yang diperlihatkan dengan belum tampaknya tanda-tanda perawatan.
Anggapan ini ingin mengatakan bahwa adanya perawatan menunjukkan adanya kasih sayang
ibu kepada bayinya, sehingga dapat diartikan bahwa rasa takut diketahui telah melahirkan
tersebut telah hilang;

(4) pengertian si ibu membunuh anaknya sendiri mengharuskan kepada kita untuk
berupaya membuktikan apakah mayat bayi yang diperiksa adalah anak dari tersangka ibu
yang diajukan.1,3,4
Seorang dokter yang melakukan investigasi dari kasus yang diduga sebagai infanticide harus
menentukan jawaban dari beberapa pertanyaan ini:
1. Apakah bayi baru dilahirkan sudah dirawat atau belum dirawat?
2. Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu (viable) atau belum (nonviable)?
3. Umur bayi dalam kandungan, premature, matur, atau postmatur?
4. Sudah bernapas (lahir hidup) atau belum (lahir mati)?
5. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat, berapa jam/hari umur bayi tersebut (umur
setelah dilahirkan)?
6. Adakah tanda-tanda kekerasan?
7. Bila terbukti lahir hidup, apakah sebab matinya? 3,7
Untuk membuktikan PAS harus dapat ditentukan apakah bayi lahir hidup atau lahir mati.
Penentuan apakah anak dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati, pada dasarnya adalah
sebagai berikut :
1. Adanya udara di dalam paru-paru,
2. Adanya udara di dalam lambung dan usus,
3. Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan
4. Adanya makanan di dalam lambung.
Pemeriksaan Luar
Pada prinsipnya sama seperti pada orang dewasa. Diperiksa:

Kaku mayat, lebam mayat, warna kulit, panjang tubuh, berat tubuh, rambut kepala
(warna, panjang, dan sifat:lurus/tipis?), alis mata(warna, panjang, dan
sifat:lurus/tipis?), bulu mata (warna, panjang, dan sifat:lurus/tipis?), mata: selaput
bening mata kanan dan kiri, teleng mata (bentuk dan diameter), warna tirai mata,
bercak perdarahan, selaput kelopak mata kanan dan kiri, serta ada atau tidak pelebaran

pembuluh darah. Juga diperiksa hidung, telinga, dan gigi geligi.


Kuku tangan, garis-garis telapak kaki, diameter tonjolan puting susu, rawan telinga
(sudah terbentuk/belum), jika laki-laki, adakah teraba kedua buah zakar pada

kantongnya, lingkar kepala, dan lingkar dada.


Walaupun pemeriksaan terhadap mayat bayi pada prinsipnya sama seperti pada orang
dewasa, namun, harus lebih memperhatikan beberapa hal tersebut di bawah ini:
Bayi sudah cukup bulan, premature atau nonviable.

Kulit, sudah dibersihkan atau belum, keadaan verniks kaseosa, warna, berkeriput atau

tidak.
Mulut, adakah benda asing yang menyumbat.
Tali pusat, sudah terputus atau masih melekat pada uri. Bila terputus diperiksa apakah
terpotong rata atau tidak (dengan memasukkan ujung potongan ke dalam air), apakah
sudah terikat dan diberi obat antiseptic, adakah tanda-tanda kekerasan pada tali pusat,
hematom, atau Whartons Jelly berpindah tempat. Apakah terputusnya dekat uri atau

pusat bayi, serta panjang tali pusat.


Uri (ukuran, berat, insersi tali pusat, kotiledon (lengkap/tidak lengkap?).
Kepala, apakah terdapat kaput suksedaneum, moulage tulang-tulang tengkorak.
Tanda kekerasan. Diperhatikan tanda pembekapan di sekitar mulut dan huidung, serta
memar pada mukosa bibir dan pipi. Tanda pencekikan atau jera pada leher, memar

atau lecet pada tengkuk, dan lain-lain.


Interpretasi Temuan
Dari hasil pemeriksaan luar dapat disimpulkan mayat bayi merupakan bayi yang lahir hidup
atau lahir mati:
Tanda-tanda maserasi (aseptic decomposition)
Maserasi merupakan autolisis yang aseptik pada fetus yang sudah mati dan tersisa di
dalam kantung amnion. Bakteri pembusuk tidak terlibat dalam proses ini. Perubahan
maserasi hanya dapat terlihat ketika fetussudah mati beberapa hari sebelum
pengiriman. Normalnya, perubahan terjadi dalam satu minggu. 7,14
Adapun syarat-syarat terjadinya maserasi intrauterin adalah:14
- Fetus telah mati dan sisanya masih tersimpan dalam uterus dalam waktu lebih dari
24 jam, bahkan akan lebih baik jika pembentukan maserasi terjadi dalam 3-4 hari
atau lebih (jika fetus mati dalam uterus dan dikeluarkan dalam 24 jam, maka sulit
untuk mengetahui apakah fetus mati sebelum atau selama kelahiran dan tidak ada
-

bukti terjadinya maserasi ataupun mummifikasi)


Fetus dikelilingi dengan banyak cairan amnion (jika jumlah cairan amnionnya
sedikit, kekurangan darah, dan tidak ada sirkulasi udara dalam uterus, maka fetus

akan mengering yang disebut mummifikasi)


- Membran luar masih tersisa (sehingga tidak ada sirkulasi udara yang terjadi)
- Ibu dari janin masih hidup
Ciri-ciri dari maserasi intarauterin:7,14,15
- Tubuh yang sudah mati akan halus, odematous, faksid, dan mendatar. Jika
diletakkan pada permukaan yang datar, fetus yang sudah mati akan terlihat lurus
-

dan datar tanpa menunjukkan kurvaktur yang normal


Berwarna merah-tembaga atau seprti merah-daging.
Kavitas serous terisi cairan merah keruh
Tubuh berbau asam yang khas (racid odour) tapi tidak ada gas yang terbentuk.

Adanya spalding sign yaitu tanda radiologis terjadinya overlapping dari tulangtulang tengkorak. Overlapping dari tulang-tulang tengkorak terjadi karena
penyusutan serebrum dan kematian fetus dalam uterusmenyebabkan fetus yang
sudah mati tersebut dianggap sebagai benda asing dan uterus akan berusaha untuk

mengeluarkannya dengan kontraksi yang kuat.


Dada belum mengembang. Iga masih datar dan diafragma masih setinggi iga ke 3-4.

Sering sukar dinilai bila mayat sudah membusuk.


Tanda-tanda di atas merupakan tanda bahwa bayi tersebut lahir mati. Namun masih
diperlukan pemeriksaan dalam untuk mengkonfirmasikannya.
Dapat juga diketahui sama ada bayi belum dirawat atau sebaliknya.
Tali pusat
Tali pusat yang belum diikat merupakan petunjuk terpenting dari keadaan belum
dirawat. Tali pusat tidak dibutuh lagi pada minggu pertama kehidupan. Selama 12
sampai 24 jam pertama tali pusat mengalami pengeringan dan mengkerut namun
keadaan ini juga ditemukan pada lahir mati. Pada 36 jam akan ditemui warna
kemerahan pada daerah kulit sekitar tali pusat. Tali pusat mulai terlepas dari tubuh
pada hari ke-4 dan 5 dan terlepas seluruhnya pada hari ke-6 sampai 7; jaringan parut
aktif pada tubuh bayi dapat terlihat sampai 12 hari. Tidak satupun pada perubahanperubahan ini (yang menandakan reaksi intravital) ditemukan pada lahir mati, karena
perubahan ini akan tampak setelah 36 jam maka adanya perubahan ini menandakan
bahwa bayi lahir dalam keadaan hidup. Cara pemotongan tali pusat juga penting. Ibu
bisa saja mengaku bahwa tali pusat terkoyak saat anak jatuh di kepala setelah partus
presipitatus. Hal itu bisa ditunjukkan bahwa tali pusat telah dipotong bukan terkoyak.
Saat terkoyak secara tidak sengaja, biasanya terputus di dekat tempat penempelannya
apakah dekat plasenta atau tubuh bayi; pada keadaan lanjut perdarahan yang timbul
tidak banyak dan tidak akan dapat menyebabkan kematian bayi.
Moris dan Hunt (1966) menemukan bahwa tali pusat relatif mudah diputuskan dengan
tangan. Mereka menggambarkan berbagai tampilan ujung tali pusat yang dihasilkan
dari cara pemotongan yang berbeda-beda.
Ujung tali pusat harus diperiksa dengan meletakkan kedua bagian di air atau papan
dan ujungnya dipaparkan secara halus; sebaiknya juga diperiksa dengan kava
pembesar. Tepi yang ireguler sesuai dengan pengoyakan sedangkan ujung linear
dengan tepi reguler menandakan pemotongan. Bagaimanapun juga kesimpulan harus
juga memperhitungkan kemungkinan penggunaan alat tumpul, menghasilkan
potongan kasar dan juga mungkin bisa menghasilkan koyakan pada daerah superfisial
saja samapi terpotong secara rapi. Pada berbagai kejadian perubahan pasca mati atau

pengeringan biasanya menyingkirkan pendapat mengenai cara pemotongan yang telah

digunakan.
Verniks kaseosa (Lemak bayi)
Pada bayi yang telah dirawat, verniks kaseosa telah dibersihkan, demikian pula bekasbekas darah. Pada bayi yang dibuang ke dalam air verniks kaseosa tidak akan hilang
seluruhnya. Ia masih dapat ditemukan di daerah lipatan kulit (ketiak, belakang telinga,

lipat paha, dan lipat leher).


Pakaian
Jika bayi diberi pakaian atau tubuhnya ditutup, dapat merupakan tanda-tanda bahwa
bayi dirawat.

Dari pemeriksaan luar juga dapat ditentukan berapakah usia bayi intra-uterin. Untuk
penentuan janin/embrio dalam kandungan (usia gestasi) ada rumus empiris yang
dikemukakan oleh De Haas, yaitu menentukan umur bayi dari panjang badan bayi.

Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan, umur sama dengan akar
pangkat dua dari panjang badan. Jadi bila dalam pemeriksaan didapati panjang bayi
20 cm, maka taksiran umur bayi adalah 20 yaitu antara 4 sampai 5 bulan dalam
kandungan atau lebih kurang 20 22 minggu kehamilan.

Untuk janin yang berumur di atas 5 bulan, umur sama dengan panjang badan
(dalam cm) dibagi 5 atau panjang badan (dalam inchi) dibagi 2.
Umur (bulan)

Panjang badan (kepala


tumit) cm

1x1=1

2x2=4

3x3=9

4x4=16

5x5=25

6x5=30

7x5=35

8x5=40

9x5=45

Namun untuk lebih tepatnya haruslah dipakai pengukuran panjang femur (Femur Length)
dengan cara mengukur mulai dari trokhanter mayor sampai dengan distal femur. Usia gestasi

dalam minggu akan didapatkan dengan melihat tabel hubungan antara panjang femur dengan
usia gestasi. Teori mengatakan bahwa penaksiran usia gestasi yang paling baik pada kasus
PAS adalah lingkar kepala dan ciri-ciri eksternal.
Penentuan umur bayi adalah untuk menentukan apakah bayi tersebut cukup bulan atau belum
cukup bulan (premature), ataukah non-viable, karena pada keadaan premature dan nonviable, kemungkinan bayi tersebut meninggal akibat proses alamiah besar sekali sedangkan
kemungkinan mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil.
Viable ialah keadaan bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan lepas dari ibunya.
Bayi dikatakan Viable jika memenuhi persaratan:
Telah dikandung ibunya selama paling tidak 28 minggu,
Panjang badan kepala-tumit >35 cm,
Panjang badan kepala-tungging >23 cm,
Berat badan >1000g,
Lingkar kepala >32 cm,
Tidak mempunyai cacat bawaan yang fatal, seperti misalnya anencephali.
Bayi yang tidak dapat hidup diluar kandungan ibu (non-viable):
Dalam kasus-kasus tertentu meskipun bayi yang dilahirkan itu telah cukup usia kandunganya,
akan tetapi bayi tersebut mengalami kelainan pertumbuhan yang menyebabkan anak tidak
dapat hidup di luar kandungan :
anak lahir tanpa dinding dada sampai terlihat jantungnya (Ectopia kordis)
anak dilahirkan dengan tulang punggung terbuka tanpa ditutupi kulit (Rakiskisis)
saluran kerongkongan tidak terbentuk (Atresia Esofagus)
batang tengkorok dan kerongkongan berubah menjadi satu (Fistula Tracheo
oesophagus)
anak dilahirkan tanpa otak besar (Anensefalus)
Umur bayi cukup bulan (aterm/matur)
Pada bayi yang lahir genap bulan setelah dikandung selama 37 minggu atau lebih tetapi
kurang dari 42 minggu penuh didapatkan (259 sampai 293 hari).
Ukuran Antopometrik:
Berat badan 3000 gram (2500-4000).
Panjang badan kepala-tumit 46-50 cm
Panjang kepala tungging 30 cm atau lebih
Lingkar kepala oksipito-frontal 33-34 cm
Lingkar dada 30-33 cm
Lingkar perut 28-30 cm
Ciri-Ciri Eksternal :

o Daun telinga pada bayi lahir cukup bulan, menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada
bagian dorsokrnialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula.
o Puting susu pada bayi yang matur, sudah berbatas tegas, areola menonjol diatas
permukaan kulit dan diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih.
o Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas dan
relative keras sehingga tersa bila digarukkan pada telapak tangan.
o Terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan hingga tumit. Yang
dinilai garis yang relative lebar dan dalam.
o Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna, yakni sampai pada
dasar skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Dan pada bayi
perempuan yang matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor.
o Rambut kepala relative kasar, masing-masing helai terpisah satu sama laindan
tampak mengkilat, batas rambut pada dahi jelas.
o Skin opacity cukup tebal sehingga pembuluh darah yang agak besar pada dinding
perut tidak tampak atau tampak samara-samar.
o Processus xyphoideus membengkok kedorsal, sedangkan bayi premature
membengkok keventral atau satu bidang dengan korpus manubrium sterni.
o Alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah ada.
o Pada bayi cukup bulan terdapat pusat penulangan epifisial diujung distal femur
dengan diameter 4-5 mm.dan adanya pusat penulangan pada tallus dan
calcaneus.3,7
Umur bayi tidak cukup bulan (prematur)
Untuk menentukan umur anak dalam kandungan selain mengukur panjang badan menurut
rumus Haase, perlu diperiksa initi penulangan, sentrum osifikasi.
Calcaneus (24 minggu)

Talus (28 minggu)


Distal Femur (38 minggu)
Proximal tibia (genap bulan)
Kesimpulannya bila tidak ditemukan inti penulangan adalah anak belum sampai unur tersebut
di atas atau mungkin pembentukan inti penulangan terlambat. 7
Untuk menilai lamanya bayi itu hidup adalah dengan memperhatikan hal-hal dibawah ini:
Perubahan pada kulit.
Perubahan pada kaput suksedadaneum
Perubahan pada tali pusar.
Perubahan pada sirkulasi
Pemeriksaan Dalam
Seperti pada pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam terhadap mayat bayi juga pada prinsipnya
sama seperti pada orang dewasa. Diperiksa:

Mulut, apakah terdapat benda asing, robekan palatum mole.


Lidah (warna, adakah tanda-tanda kekerasan seperti memar), tulang lidah.
Leher, adakah tanda penekanan, resapan darah pada kulit sebelah dalam, rawan
gondok dan cincin (utuh/tidak). Adakah bintik-bintik perdarahan pada kelenjar

kacangan dan pangkal tenggorok.


Rongga dada, pemeriksaan makroskopik paru, pemeriksaan histopatologik paru dan

tes apung paru.


Daerah dada: Sekat rongga badan kanan dan kiri (setinggi iga berapa), tulang dada
(utuh/tidak), resapan darah, rongga dada kanan dan kiri (apakah berisi cairan dan

darah), kandung jantung.


Jantung, paru, (warna, perabaan: spons/bukan, adakah gambaran mozaik dan keluar
darah serta busa pada pemijatan, adakah resapan darah, bintik-bintik perdarahan,

tanda-tanda kekerasan seperti robekan).


Limpa, hati, kelenjar empedu, kelenjar liur perut dan kelenjar anak ginjal.
Lambung, ginjal.
Kepala: seluruh kulit kepala, tulang ubun-ubun kanan dan kiri, selaput tulang ubunubun kanan dan kiri, dasar tengkorak, selaput lunak otak, otak besar, kecil, dan batang
otak (berat). Kulit kepala disayat dan dilepaskan seperti pada orang dewasa. Tulang
tengkorak dibuka, diperhatikan keadaan falx serebri dan tentorium serebeli terutama

pada perbatasannya (sinus rektus dan sinus transverses) apakah terdapat robekan.
Tanda asfiksia, Tardieus spots pada permukaan paru, jantung, timus dan epiglotis.
Tulang belakang, apakah terdapat kelainan kongenital atau tanda kekerasan.

Pusat penulangan pada distal femur, proximal tibia, kalkaneus, talus dan kuboid.
Interpretasi temuan
Gambaran makroskopis paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah muda tidak
homogen tetapi berupa bercak-bercak (mottled) dan menunjukkan gambaran mozaik berupa
daerah-daerah poligonal yang berwarna lebih muda dan menimbul di atas permukaan
berselang-seling dengan yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul. Gambaran tersebut
tampak jelas pada tepi lobus paru. Tepi-tepi paru tumpul. Paru-paru bayi yang belum
bernapas (belum teraerasikan) berwarna merah hitam seperti warna hati bayi, homogen, tidak
menunjukkan gambaran mozaik dan tepi-tepinya tajam. Kadang-kadang tampak guratanguratan yang membentuk pola daerah-daerah poligonal pada permukaan paru. Warna daerahdaerah yang poligonal itu tidak berbeda satu sama lain dan juga tidak berbeda dengan warna
paru di bagian lainnya.
Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru.
Dengan cara mengeluarkan seluruh alat rongga dada kemudian dimasukkan dalam air, dan
memperhatikan apakah kedua paru terapung. Kemudian dilanjutkan dengn mengapungkan
paru kanan dan kiri secara tersendiri. Dan lobus paru dipisah dan diapungkan diair.
Selanjutnya membuat 5 potongan kecil ( 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-masing
lobus dan diapungkan kembali. Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan kecil
dari paru dapat mengapung sekalipun paru belum pernah bernapas. Hal ini disebabkan oleh
pengumpulan gas pembusukan pada jaringan interstisial paru, yang dengan menekan
potongan paru yang bersangkutan antara 2 karton, gas pembusukan dapat didesak keluar. Uji
apung paru dinyatakan positif bila potongan paru yang telah ditekan antara dua karton
sebagian besar masih tetap mengapung. Penekanan tersebut bertujuan untuk menyingkirkan
gas pembusukan dan tidal air, yang terdapat dalam jaringan intertisial paru-paru yang
membusuk. Namun, bila paru tersebut sudah mebusuk sekali, alveoli sudah pecah atau
menjadi pecah pada penekanan, maka residual air tersingkirkan sehingga jaringan paru akan
tenggelam. Dengan demikian bayi yang telah bernapas dapat dinilai sebagai belum bernapas
setelah dilahirkan. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa pada hasil uji apung paru
yang negatif tidak dapat dibuat kesimpulan bahwa bayi pasti belum bernapas. Bila uji apung
paru negatif, hanya dapat dibuat kesimpulan bayi mungkin belum bernapas. Kepastian bahwa
bayi belum bernapas baru diperoleh setelah dipadu dengan tidak ditemukannya gambaran
mozaik pada permukaan paru dan tidak ditemukannya gambaran histologik yang khas untuk
paru-paru yang belum mengalami aerasi, yakni crumpled sac alveoli atau karusselalveolen.

Pada pemeriksaan mikroskopik paru akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah
terbuka dengan dinding alveoli yang tipis. Cara pengambilan jaringan untuk pemeriksaan
mikrosopis, yaitu dengan memasukkan seluruh paru kanan ke dalam formalin netral 10%.
Setelah kira-kira 12 jam dibuat beberapa irisan melintang pada paru untuk memungkinkan
fiksatif meresap dengan baik ke dalamnya. Setelah difiksasi selama 48 jam diambil potonganpotongan melintang dari ketiga lobus dengan menggunakan scalpel yang tajam atau pisau
silet. juga dari sisa paru kiri diambil beberapa potongan jaringan. Biasanya digunakan
pewarnaan hematoksilin eosin, namun untuk paru yang sudah membusuk , Reh (34)
menganjurkan pewarnaan cara Gomori, tatapi dapat pula dilakukan dengan pewarnaan cara
Ladewig yang lebih murah. Dengan pewarnaan cara Gomori, ruang kosong akibat gas
pembusukan atau akibat aerasi dapat dibedakan, karena serabut-serabut retikulin yang terdapt
pada septa alveoli relatif resisten terhadap pembusukan. Pada pembusukan, ruang kosong
menunjukkan batas yang tidak rata karena tidak dibatasi oleh serabut retikulin yang tegang,
sebaliknya pada ruang kosong akibat aerasi, menunujukkan batas yang rata dimanan tampak
serabut yang tegang. Di sini sukar untuk menentukan, apakah anak bernapas pada waktu
sebelum atau sesudah dilahirkan. Ada kalanya anak masih dalam kandungan sudah bernapas
dan menangis, vagitus uterinus/vaginalis. Dimana apabila selaput ketuban pecah dan air
ketuban keluar, sehingga terjadi hubungan antara dunia luar dengan anak dalam kandungan.
Pada saat yang singkat ini, udara terisap oleh anak, anak benapas kemudian menangis. Bila
rahim berkontraksi kembali, vagitus uterinus tidak terjadi lagi.3,5,7
Adanya udara dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa si anak menelan udara
setelah ia dilahirkan hidup, dengan demikian nilai dari pemeriksaan udara di dalam lambung
dan usus ini sekedar memperkuat saja. Seperti halnya pada pemeriksaan untuk menentukan
adanya udara dalam paru-paru, maka pemeriksaan yang serupa terhadap lambung dan usus
baru dapat dilakukan bila keadaan si-anak masih segar dan belum mengalami proses
pembusukan serta tidak mengalami manipulasi seperti pemberian pernafasan buatan. Caranya
adalah dengan mengikat bagian bawah esofagus di bawah thyroid proksimal dari cardia dan
colon, kemudian dilepaskan dari organ lainnya. Bila yang terapung adalah lambung, hal ini
tidak berarti apa-apa. Bila usus yang terapung berarti bayi telah pernah menelan udara dan ini
berarti bayi telah pernah bernafas.
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah hanya dapat terjadi bila si-anak
menelan udara dan udara tersebut melalui tuba eustachii masuk ke dalam liang bagian tengah.

Untuk dapat mengetahui keadaan tersebut pembukaan liang telinga bagian tengah harus
dilakukan di dalam air; tentunya baru dilakukan pada mayat yang masih segar.
Adanya makanan di dalam lambung dari seorang anak yang baru dilahirkan tentunya baru
dapat terjadi pada anak yang dilahirkan hidup dan diberi makan oleh orang lain, dan makanan
tidak mungkin akan dapat masuk ke dalam lambung bila tidak disertai dengan aktivitas atau
gerakan menelan.
Adanya udara di dalam paru-paru, lambung dan usus serta di dalam liang telinga bagian
tengah merupakan petujuk pasti bahwa si-anak yang baru dilahirkan tersebut memang
dilahirkan dalam keadaan hidup. Sedangkan adanya makanan di dalam lambung lebih
mengarahkan kepada kenyataan bahwa si-anak sudah cukup lama dalam keadaan hidup; hal
mana bila keadaannya memang demikian maka si-ibu yang menghilangkan nyawa anak
tersebut dapat dikenakan hukuman yang lebih berat dari ancaman hukuman seperti yang
tertera pada pasal 341 dan 342.
Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir
Apabila bayi tersebut sudah pernah bernafas atau lahir hidup, untuk mengetahui sudah berapa
lama bayi tersebut hidup sebelum dibunuh dengan memperhatikan kulit, kepala dan
umbilicus mayat tersebut.
Pada bayi yang baru lahir, warna kulit merah terang. Adanya vernix caseosa pada ketiak, sela
paha dan leher. Vernix akan menghilang setelah dua hari lalu kulit menjadi gelap dan menjadi
normal kembali.
Setelah 1 minggu, kulit akan mengelupas, terutama di bagian abdomen kulit akan mengelupas
setelah 3 hari. Caput succedaneum akan menghilang setelah 24 jam sampai 2 3 hari setelah
dilahirkan. Setelah 2 jam kelahiran, terdapat bekuan darah pada ujung pemotongan tali pusat.
Dua belas jam kemudian akan mengering. Setelah 36 48 jam terbentuk cincin peradangan
pada pangkal tali pusat. Tali pusat mengering setelah 2 3 hari. Enam sampai tujuh hari tali
pusat akan lepas membentuk cicatriks. Tali pusat akan sembuh sempurna lebih kurang 15
hari.
Feses bayi juga dapat membantu menentukan sudah berapa lama bayi hidup. Feses bayi yang
baru lahir disebut meconium, biasa dikeluarkan dari usus setelah 24 28 jam, tetapi kadang
kala bisa lebih lama.

Penyebab Kematian Bayi


Penyebab kematian bayi dapat diketahui bila dilakukan autopsi, dari autopsi tersebut dapat
ditentukan apakah bayi tersebut lahir mati, mati secara almiah, akibat kecelakaan atau akibat
pembunuhan.
Penyebab kematian alamiah antara lain:

Prematuritas.

Kelainan kongenital, misalnya: sifilis, jantung.

Perdarahan / trauma lahir.

Kelainan bentuk / anatomi, misalnya: anecephalus.

Kelainan plasenta, misalnya: plasenta previa.

Erythroblastosis foetalis dan lain-lain.

Penyebab kematian akibat kecelakaan dapat terjadi di waktu lahir atau sesudah lahir. Pada
waktu proses kelahiran, kematian dapat terjadi karena partus yang lama, prolaps tali pusat,
terlilitnya tali pusat. Beberapa saat sebelum dilahirkan, misalnya: trauma pada perut ibu
hamil akibat tersepak, jatuh dari tempat yang tinggi, dan lain-lain.
Kematian yang diakibatkan oleh tindakan kriminal atau pembunuhan, dilakukan dengan
mempergunakan kekerasan atau memberi racun terhadap bayi tersebut. Cara yang digunakan
untuk membunuh anak antara lain:

Pembekapan, menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan, menekan dengan
bantal, selimut dan lain-lain.

Penekanan dada, sehingga mengganggu pergerakan pernafasan.

Dengan menjerat leher bayi (strangulasi). Kadang-kadang dengan memakai tali


pusat.

Dengan menenggelamkan bayi.

Menusuk fontanella, epicanthus mata, ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil, jantung,


sumsum tulang dengan menggunakan jarum atau peniti.

Memukul kepala bayi atau melintir kepala bayi.

Memberi

obat-obatan,

seperti: opium, arsen dan

lain-lain

misalnya

dengan

mengoleskan opium di sekitar putting susu, lalu diisap oleh bayi tersebut.

Begitu bayi lahir, dibungkus dan dimasukkan ke dalam kotak kemudian dibuang.

Cara atau metode yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan pembunuhan anak adalah
cara atau metode yang menimbulkan mati lemas (asfiksia) seperti: penjeratan, pencekikan
dan pembekapan serta pembenaman ke dalam air. Adapun cara atau metode yang lain seperti
menusuk atau memotong serta melakukan kekerasan dengan benda tumpul relatif lebih jarang
dijumpai.
Dengan demikian pada kasus yang diduga merupakan kasus pembunuhan anak, yang harus
diperhatikan adalah:
Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis pada bibir dan ujung-ujung jari, bintik-bintik
perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta jaringan longgar lainnya,
lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa halus berwarna putih atau putih kemerahan yang
keluar dari lubang hidung dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat-alat dalam.
Keadaan mulut dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan dibibir atau sekitarnya yang tidak
jarang berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gusi,
serta adanya benda-benda asing seperti gumpalan kertas koran atau kain yang mengisi rongga
mulut.
Keadaan di daerah leher dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan yang melingkari sebagian
atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai akibat tekanan yang ditimbulkan
oleh alat penjerat yang dipergunakan, adanya luka-luka lecet kecil-kecil yang seringkali
berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung kuku si-pencekik, adanya
luka-luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapat terjadi akibat tekanan yang
ditimbulkan oleh ujung-ujung jari si-pencekik.
Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh lainnya,
dimana menurut literatur ada satu metode yang dapat dikatakan khas yaitu tusukan benda
tajam pada langit-langit sampai menembus ke rongga tengkorak yang dikenal dengan
nama tusukan bidadari.
Adanya tanda-tanda terendam seperti: tubuh yang basah dan berlumpur, telapak tangan dan
telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman`s hand), kulit yang berbintil-bintil (cutis
anserina) seperti kulit angsa, serta adanya benda-benda asing terutama di dalam saluran
pernafasan (trakhea), yang dapat berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan air atau binatang air.
TERHADAP WANITA YANG DICURIGAI/TERSANGKA

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam (autopsi).


Pemeriksaan ditujukan pada:

Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini diperiksa :
a. Payudara secara makroskpis maupun mikroskopis.
b. Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik.
c. Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik adanya
sel-sel trofoblast dan sel-sel deciduas.
Adanya bekas-bekas kehamilan
a. Adanya garis-garis pada perut bekas peregangan kehamilan (striae gravidarum)
b. Dinding perut kendur
c. Rahim dapat diraba di atas symphisis (tulang di dekat alat kencing)
d. Payudara besar
Adanya bekas persalinan
a. Adanya robekan pada perineum (daerah panggul)
b. Keluaran cairan di pintu lahir
Pemeriksaan tes kehamilan masih bisa dilakukan beberapa hari sesudah bayi

dikeluarkan dari kandungan, dijumpai adanya colostrum pada peremasan payudara, nyeri
tekan di daerah perut, kongesti pada labia mayora, labia minora dan serviks. Tanda-tanda
tersebut biasanya tidak mudah dijumpai karena kehamilan masih muda. Bila segera sesudah
melahirkan mungkin masih didapati sisa plasenta yang pemastiannya perlu pemeriksaan
secara histopatologi (patologi anatomi), luka, peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim
dalam liang senggama, sisa bahan abortivum.

PEMBUKTIAN ADA ATAU TIDAKNYA HUBUNGAN ANTARA MAYAT BAYI DAN


WANITA YANG DICURIGAI
Pembuktian ada atau tidaknya hubungan antara mayat bayi dan wanita yang dicurigai dapat
dilakukan dengan:
1. Penentuan golongan darah
Meskipun pemeriksaan golongan darah ini memiliki derajat kepercayaan yang kecil
namun usaha ke arah itu sudah ada. Pemeriksaan golongan darah termasuk jenis
pemeriksaan per-ekslusionem, yang akan bermakna bila darah bayi tidak cocok dengan
pola turunan golongan darah dari kedua orang tuanya.
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan
jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis
penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor
Rh). Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:

Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di
permukaan membran

selnya

dan menghasilkan

antibodi

terhadap antigen B

dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.

Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah
merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya.
Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari
orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif

Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan
B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang
dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan
darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah
AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah
O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO
apapun dan disebutdonor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif
hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

American Association of Blood Banks mendefinisikan golongan darah sebagai kumpulan


antigen yang diproduksi oleh alel gen. Bagaimanapun, golongan darah secara genetic
dikontrol dan merupakan karakteristik yang seumur hidup dapat diperiksa karena berbeda
pada tiap individual.
Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh
Penentuan golongan darah dapat dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan
darah orang hidup, yaitu dengan meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan
dilihat terjadinya aglutinasi. Aglutinasi yang terjadi pada suatu antiserum merupakan
golongan darah bercak yang diperiksa, contoh bila terjadi aglutinasi pada antiserum A maka
golongan darah bercak darah tersebut adalah A.

Figure1. Penentuan golongan darah ABO cara makroskopik


Bila sel darah merah sudah rusak
Penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis aglutinin dan
antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Di
antara system-sistem golongan darah, yang paling lama bertahan adalah antigen dari system
golongan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi elusi atau
aglutinasi campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusi dengan prosedur
sebagai berikut:
Cara pemeriksaan :
2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil alcohol selama 15
menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian benang
tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum. Lakukan juga terhadap
benang yang tidak mengandung bercak darah sebagai control negative.
Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama diteteskan
serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut benang tersebut
teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin
dengan suhu 4 derajat Celcius selama satu malam.

Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat Celcius)
sebanyak 5-6 kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indicator (sel daram merah
golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua), pusing dengan
kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi aglutinasi, cuci sekali lagi dan
kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat
Celcius selama 10 menit dan pindahkan eluat ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes
suspense sel indicator ke dalam masing-masing tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing
selama 1 menit pada kecepatan 1000 RPM.
Hasil :
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti darah
mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indicator.
Pemeriksaan golongan darah dapat membantu mengatasi kasus paternitas berdasarkan
Hukum Mendel yang mengatakan bahwa antigen tidak mungkin muncul pada anak, jika
antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu atau kedua orang tuanya. Orang tua yang
homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya. (Anak dengan
golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB).
Perlu diingat bahwa Hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas), sehingga
penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat dipastikan, namun sebaliknya kita dapat
memastikan seseorang adalah bukan ayah seorang anak (singkir ayah/paternity
exclusion).

Tabel 1. Pewarisan golongan darah kepada anak

2. Pemeriksaan DNA
Analisis DNA merupakan penemuan mutakhir bagi ilmu kedokteran forensik, uji
keayahan dan hubungan saudara (sibling test). 6,7,8 DNA
ditemukan di semua sel tubuh.

(deoxyribonucleic acid)

Sampel dapat diambil dari darah, apus mukosa mulut(buccal swab), akar rambut,janin
(sel-sel janin dalam cairan amnion) atau dari setiap sel bagian tubuh; juga bisa dari
sperma pada kasus pemerkosaan.
Untuk menentukan status keayahan (test paternitas), DNA yang digunakan adalah DNA
inti. Dalam sel manusia, DNA dapat ditemukan di inti sel dan mitokondria. DNA yang
diturunkan oleh ayah kepada anaknya adalah DNA inti. Pada saat fertilisasi sang ayah
akan memberikan informasi genetiknya dalam bentuk DNA saja, sedangkan sang ibu
akan menurunkan komponen inti sel beserta selnya (ovum), sehingga DNA mitokondria
merupakan turunan atau warisan dari sang ibu.
Test yang digunakan untuk mengungkap ibu biologis dari seorang anak disebut sebagai
test maternitas. Dalam test ini, material yang diperlukan adalah DNA seperti halnya test
paternitas. Namun DNA yang digunakan bukan hanya DNA inti, melainkan dapat
menggunakan DNA mitokondria. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria
menyebabkan DNA ini dapat digunakan sebagai penanda untuk mengidentifikasi
hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu.
Tes maternitas bertujuan untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis
dari seorang anak. Tes ini juga membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu untuk
menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu.
Identifikasi DNA untuk tes paternitas dan maternitas dilakukan dengan menganalisa pola
DNA menggunakan marker/penanda STR (Short Tandem Repeat). STR adalah lokus
DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat ditentukan
pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Identifikasi DNA dengan penanda
STR merupakan salah satu prosedur tes DNA yang sangat sensitif karena penanda STR
memiliki tingkat variasi yang tinggi baik antara lokus STR maupun antar individu. 2,3
STR pada penurunan paternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih lakilaki mempunyai hubungan keluarga melalui ayah (secara paternal/garis ayah). Tes ini
sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada paternitas yang sulit dimana
terduga ayah tidak dapat tes. Hasil tes ini juga dapat digunakan untuk konfirmasi
hubungan biologis dari anak laki-laki angkat. Yang perlu diperiksa untuk tes paternitas
adalah ibu, anak, dan terduga ayah. Tes paternitas dapat dilakukan pada terduga ayah dan
anak. Tetapi hal ini hanya bila ibu biologis tidak bersedia di tes. Partisipasi ibu pada tes
paternitas dapat membantu menyingkirkan separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi
dapat di bandingkan dengan DNA terduga ayah. Tes paternitas dapat dilakukan tanpa
partisipasi ibu, dengan menggunakan analisis tambahan (penambahan penanda)
memberikan hasil yang sama akuratnya. Tes paternitas dapat dilakukan sebelum anak

dilahirkan (prenatal), yaitu dengan analisis DNA. Tes DNA dapat dilakukan dengan
sampel dari jaringan janin(Chorionic Villi Sampel/ CVS) umumnya pada umur kehamilan
10-13 minggu, atau dengan cara amniosentetis pada umur kehamilan 14-24 minggu.
Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan.
Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli
kebidanan/kandungan.Apabila anak belum dewasa maka diperlukan fotokopi surat
kelahiran dan atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak
memiliki hak untuk membawa anak tersebut untuk melakukan tes paternitas. Untuk
melakukan tes paternitas maupun tes maternitas, tidak diperlukan surat pengantar dokter
untuk melakukan tes DNA. Pengguna jasa dapat meminta dan menjadwal tes paternitas
maupun maternitas secara langsung. Keakuratan tes DNA 100% bila di kerjakan dengan
benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99.99% probabilitas paternitas bila DNA
terduga ayah dan DNA anak cocok. Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok
maka terduga ayah yang di tes 100% bukanlah merupakan ayah biologis anak tersebut.
Konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah. Hasil tes DNA dapat
selesai dalam 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel. Hasil tes ini hanya
digunakan sebagai refrensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui
prosedur hukum, maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum. 1,3,5
Tes MtDNA penurunan maternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih
individu mempunyai hubungan keluarga melalui ibu mereka (secara maternal/garis ibu).
Tes ini sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada kasus maternitas yang
sulit dimana terduga ibu tidak dapat dites. Hasil tes ini juga dapat digunakan untuk
konfirmasi hubungan biologis dari anak angkat. Dalam tes MtDNA yang diturunkan
secara maternal, identifikasi DNA dilakukan dengan membandingkan MtDNA ibu
dengan MtDNA anak. Pada tes ini, karena DNA mitokondria hanya diwariskan secara
maternal pada anaknya, bila polaMtDNA seorang ibu sama dengan pola MtDNA anak
maka dikatakan bahwa kedua individu tersebut memiliki garis keturunan maternal yang
sama. Jika pola MtDNA nya tidak cocok, maka kedua individu tersebut dinyatakan 100%
bukan berasal dari keturunan ibu. 2,3,5,6

Pemeriksaan DNA memang lebih baik namun hal ini belum rutin dilakukan di Indonesia.

VISUM ET REPERTUM

Disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik
yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati
ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah
sumpah, untuk kepentingan peradilan. ( Visum = dilihat, Repertum = ditemukan ).
Menurut Budiyanto et al, dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana : 2
Pasal 216 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa
tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi
atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Yang berhak meminta visum et repertum adalah :
Penyidik
Penyidik adalah pejabat polisi negara tertentu dengan pangkat serendah-rendahnya pelda,
sedangkan pangkat terendah untuk penyidik pembantu adalah serda. Di daerah terpencil
mungkin saja seorang dengan pangkat serda diberi wewenang sebagai penyidik karena ia
komandan.

Hakim pidana
Hakim pidana biasanya tidak langsung minta visum et repertum pada dokter,tetapi
memerintahkan kepada jaksa untuk melengkapi berita acara pemeriksaan dengan visum et
repertum. Kemudian jaksa melimpahkan permintaan hakim kepada penyidik.
Hakim perdata
Dasar hukumnya: HIR pasal 154
Karena di sidang pengadilan perdata tidak ada jaksa,maka hakim perdata minta langsung
visum et repertum kepada dokter. Sebagai contoh adalah sidang pengadilan mengenai
penggantian kelamin Iwan robyanto iskandar menjadi Vivian rubiyanti iskandar.
Hakim Agama
Dasar hukumnya: Undang-undang No.14.tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan
kehakiman pasal 10.
Hakim agama mengadili perkara yang bersangkutan dengan agama islam, sehingga
permintaan visum et repertum hanya berkenaan dengan hal syarat untuk berpoligami, syarat
untuk melakukan perceraian dan syarat waktu tunggu (idah) seorang janda.(2)
Yang berhak membuat visum et repertum. (KUHAP Pasal 133 ayat 1) :
1. Ahli kedokteran kehakiman
2. Dokter atau ahli lainnya.
1) Peranan dan Fungsi
Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap
kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap
sebagai benda bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter
mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di bagian Kesimpulan.
Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran
dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum dapat diketahui dengan

jelas apa yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan
norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia.
Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan
maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru seperti yang
tercantum dalam KUHAP yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau
penelitian ulang atas barang bukti apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa
atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan (pasal 180 KUHAP).
Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum, yaitu:
Pro Justisia
Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum dibuat untuk
tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di
depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum.
Pendahuluan
Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung dituliskan berupa
kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan :

Identitas pemohon visum et repertum

Identitas dokter yang memeriksa/membuat visum et repertum

Tempat dilakukannya pemeriksaan

Tanggal dan jam dilakukannya pemeriksaan.

Identitas korban,

Keterangan dari penyidik mengenai cara kematian, luka, dimana korban dirawat,
waktu korban meninggal,

Keterangan mengenai orang yang menyerahkan / mengantar korban pada dokter dan
waktu saat korban diterima dirumah sakit.

Pemberitaan
Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan pemeriksaan. Temuan hasil
pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan perkaranya tidak
dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai [rahasia kedokteran].

Identitas korban menurut pemeriksaan dokter (umur, jenis kel,TB/BB) serta keadaan
umum.

Hasil pemeriksaan berupa kelainan yang ditemukan pada korban.

Tindakan-tindakan / operasi yang telah dilakukan.

Hasil pemeriksaan tambahan.

Kesimpulan
Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil pemeriksaan
berisikan:

Jenis luka

Penyebab luka

Sebab kematian

Mayat

Luka

TKP

Penggalian jenazah

Barang bukti

Penutup
Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum ini
saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah
sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP". Dibubuhi tanda tangan
dokter pembuat visum et repertum

Dalam KUHAP pasal 186 dan 187.


Pasal 186:
Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 187(c):
Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarka keahliannya mengenai
sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya.
2) Jenis VeR pada umumnya adalah:

VeR Perlukaan (termasuk keracunan)

Terhadap setiap pasien yang diduga korban tindak pidana meskipun belum ada surat
permintaan visum et repertum dari polisi, dokter harus membuat catatan medis atas semua
hasil pemeriksaan medisnya secara lengkap dan jelas sehingga dapat digunakan untuk
pembuatan visum et repertum. Umumnya, korban dengan luka ringan datang ke dokter
setelah melapor ke penyidik, sehingga membawa surat permintaan visum et repertum.
Sedangkan korban dengan luka sedang/berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke
penyidik, sehingga surat permintaan datang terlambat. Keterlambatan dapat diperkecil
dengan komunikasi dan kerjasama antara institusi kesehatan dengan penyidik.
Di dalam bagian pemberitaan biasanya disebutkan keadaan umum korban sewaktu datang,
luka-luka atau cedera atau penyakit yang diketemukan pada pemeriksaan fisik berikut uraian
tentang letak, jenis dan sifat luka serta ukurannya, pemeriksaan khusus/penunjang, tindakan
medis yang dilakukan, riwayat perjalanan penyakit selama perawatan, dan keadaan akhir saat
perawatan selesai. Gejala yang dapat dibuktikan secara obyektif dapat dimasukkan,
sedangkan yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan tidak dimasukkan ke dalam visum et
repertum.

VeR Kejahatan Susila

Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah
kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan,

perkosaan, persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita
yang belum cukup umur, serta perbuatan cabul).
Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan
atau perbuatan cabul, adanya kekerasan (termasuk keracunan), serta usia korban. Selain itu
juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan
psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian
adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan
di depan sidang pengadilan. Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia
korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan kapan
perkiraan terjadinya, dan ada atau tidaknya tanda kekerasan.
Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda perlawanan berupa
darah pada kuku korban, dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui
pemeriksaan golongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut.

VeR Jenazah

Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat
identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian
tubuh lainnya. Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan
yang diminta, apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan
dalam/autopsi (pemeriksaan bedah jenazah).
Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi :
1. Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan
jenazah secara teliti dan sistematik.
2. Pemeriksaan bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka
rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Kadangkala dilakukan
pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi,
toksikologi, serologi, dan sebagainya.
Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan
penyebabnya, sebab dan mekanisme kematian, serta saat kematian seperti tersebut di atas.

VeR Psikiatrik

Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44 (1) KUHP yang
berbunyi Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit,
tidak dipidana. Jadi selain orang yang menderita penyakit jiwa, orang yang retardasi mental
juga terkena pasal ini.
Visum ini diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana, bukan bagi
korban sebagaimana yang lainnya. Selain itu visum ini juga menguraikan tentang segi
kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga manusia. Karena menyangkut masalah dapat
dipidana atau tidaknya seseorang atas tindak pidana yang dilakukannya, maka adalah lebih
baik bila pembuat visum ini hanya dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa
atau rumah sakit umum.
Dalam Keadaan tertentu di mana kesaksian seseorang amat diperlukan sedangkan ia
diragukan kondisi kejiwaannya jika ia bersaksi di depan pengadilan maka kadangkala hakim
juga meminta evaluasi kejiwaan saksi tersebut dalam bentuk visum et repertum psikiatrik.
Jenis 1,2, dan 3 adalah visum et repertum mengenai tubuh/raga manusia yang dalam hal ini
berstatus sebagai korban tindak pidana, sedangkan jenis ke-4 adalah mengenai jiwa/mental
tersangka/terdakwa tindak pidana.

Contoh visum et repertum jenazah


Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran UKRIDA
Jl. Arjuna Utara, Jakarta Barat
Nomor : 3456-SK.III/2345/2-95
Projustitia

Jakarta, 6 Januari 2011

Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, Fatimatuzzahra, dokter ahli kedokteran forensik
menerangkan bahawa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan
No. Pol.:B/789/VR/XII/2010/Serse tertanggal 1 Januari 2011, maka pada tanggal satu Januari
tahun dua ribu sebelas, pukul tujuh lewat tiga puluh menit waktu Indonesia Barat, bertempat
di ruang pemeriksaan medis Fakultas Kedokteran UKRIDA telah melakukan pemeriksaan ke
atas korban bayi baru lahir akibat peristiwa yang diduga pembunuhan anak sendiri menurut
surat permintaan tersebut adalah :
Nama : X
Jenis kelamin : ............................
Umur: ...........................................
Kebangsaan :..................................
Agama :..........................................
Pekerjaan :......................................
Alamat : .........................................
HASIL PEMERIKSAAN.
PEMERIKSAAN LUAR DAN IDENTIFIKASI:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Keadaan jenazah: ..
Sikap jenazah di atas meja otopsi: ..
Kaku jenazah: ada/tidak ada
Bercak jenazah: ..
Pembusukan jenazah: ..
Ukuran jenazah/Jenazah orok:
Berat jenazah : . Gram
Panjang jenazah : .cm
7) Kepala
Rambut: warna , lurus, beruban/tidak, panjang cm.

Sukar/mudah dicabut.
Bagian yang tertutup rambut: ..
Dahi: ..

Mata kanan: terbuka/ tertutup, konjungtiva ., sklera ..,


kornea .., kelopak mata mudah/sukar dibuka, bulu mata ukuran

.cm
Mata kiri: terbuka/ tertutup, konjungtiva ., sklera ..,
kornea .., kelopak mata mudah/sukar dibuka, bulu mata ukuran

.cm
Hidung: warna , ada/tidak cairan keluar dari hidung, luka ..,

hematoma (memar) .., derik tulang


Mulut: mulut terbuka/tertutup, bibir mulut berwarna , gigi .

8) Leher:
9)

Temuan lain.
Dagu: ..
Pipi: .
Telinga:
bekas jeratan.., retak tulang.., memar.., kaku

jenazah di leher, warna .


Dada: dinding dada , kuit

temuan..
10) Perut:

dinding

dada

perut

berwarna

.,
,

temuan.
11) Alat kelamin: jenis kelamin , rambut kelamin ... Rambut pada batang
zakar .., lubang kelamin ., testis..,
12) Anggota atas kanan
Lengan atas: ..
Lengan bawah: ..
Tangan: ..
13) Anggota atas kiri
Lengan atas: ..
Lengan bawah: ..
Tangan: ..
14) Anggota bawah kanan
Paha: ..
Tungkai bawah: ..
Kaki:..
15) Anggota bawah kiri
Paha: ..
Tungkai bawah: ..
Kaki: ..
16) Punggung: ..
17) Pantat: ..
18) Dubur: ..
19) Bagian tubuh yang lain: ..

PEMERIKSAAN DALAM:
1. Setelah kulit dada dibuka: temuan. .
2. Jantung:
Kantung jantung dibuka, di dalam kantung jantung ada/tidak ada cairan, ukuran
. cm, berat . gram, warna .., konsistensi ..
Jantung dibuka: lubang antar bilik kiri dan serambi kiri dan lubang antara bilik kanan
dan serambi kanan selebar.cm, katup jantung warna pada perabaan. dan
konsistensi . Otot papillaris ada/tidak ada kelainan, konsistensi ... Tebal
otot bilik kiri .mm dan serambi kiri mm, bilik kanan mm. Serambi kanan
.mm.
Arteri koronaria dibuka: ada/tidak ada sumbatan aorta, lingkaran .. cm. Warna
. Ada/ tidak ada kelainan. Arteri pulmonalis ukuran .. cm, klep ada/tidak ada
kelainan.
3. Paru-paru kanan: bagian warna ., konsistensi ., tepi
t.., permukaan .., ukuran . cm, berat .. gram, pada
pengirisan:

warna

jaringan

dipijat

.
4. Paru-paru kiri:
bagian warna ., konsistensi ., tepi.., permukaan
.., ukuran . cm, berat .. gram, pada pengirisan: warna jaringan
, dipijat .
5. Hati: warna .., konsistensi , tepi .., permukaan
., ukuran cm, berat gram.
Pada pengirisan: warna jaringan , pembuluh vena centralis
. dan pada pemijatan ..
6. Limpa: warna .., konsistensi .,

permukaan

.., tepi , ukuran .., berat gram, pada


pengirisan warna jaringan .., pada pemijatan .., pada
pisau pengiris dan pada siraman air
7. Ginjal kanan: warna , konsistensi .., permukaan .,
jaringan lemak, selaput .. Ukuran ..cm, berat
..gram pada pengirisan: gambaran jaringan ginjal
8. Ginjal kiri: warna , konsistensi .., permukaan .,
jaringan lemak, selaput .. Ukuran ..cm, berat
..gram pada pengirisan: gambaran jaringan ginjal
9. Lambung, usus halus, usus besar: kelainan

10. Kepala: Kulit kepala dibuka, tampak pada ..


dengan

ukuran

..cm.

Tulang

atap

kepala

dibuka,

temuan... Selaput otak dibuka, otak..,


warna.., berat otak gram, kelainan dasar tulang kepala
.
11. Leher: temuan kelainan
12. Alat-alat dalam yang lain: kelainan..
PEMERIKSAAN LABORATORIUM:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Golongan darah : A/B/AB/O


Alkohol dalam darah : Positif/Negatif
Parasitologi : Jenis:
Toksikologi : ..
Mikrobiologi : ..
Patologi Anatomi : ..

PEMERIKSAAN IDENTIFIKASI:
1. Odontologi : ..
2. Antropologi : ..
3. DNA : ..
KESIMPULAN:
Mayat bayi baru lahir, jantina, usia .. tahun, golongan darah .. ditemukan
di suatu tempat sampah. Berdasarkan pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, pemeriksaan
laboratorium, dan pemeriksaan identifikasi yang dilakukan pada bayi dan tersangka ibu
dinyatakan bahwa cara kematian . dan penyebab kematian.
PENUTUP
Demikian Visum et Repertum ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima
jabatan dan berdasarkan Lembaran Negara No. 350 tahun 1937 serta Undang-undang No. 8
tahun 1981.
Tanda tangan,

Dr. Rudy Hermawan

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa kasus ini merupakan kasus PAS.Beberapa studi menunjukkan
bahwa asfiksia mekanik4,7,8 merupakan metode yang paling sering digunakan, kekerasan
tumpul jarang4,7 dan kekerasan tajam amat jarang, hanya 2,1%7 dari keseluruhan PAS.
Beberapa faktor lain yang mendukung bahwa kasus ini adalah kasus PAS adalah bayi
ditemukan di tempat sampah. Sebuah studi7 menunjukkan bahwa 95% pada kasus PAS bayi
dilahirkan di luar rumah sakit dan 71% PAS dilakukan di rumah tersangka. Tersangka dengan
pendidikan yang rendah, tidak terikat perkawinan, usia muda (<19 tahun) merupakan faktorfaktor prediktor yang mendorong tersangka untuk membunuh anak yang dikandungnya.
Sementara studi lain9 menunjukkan bahwa tersangka yang melakukan PAS adalah perempuan
yang secara sosial berada pada posisi inferior baik dari aspek pekerjaan maupun ekonomi
serta tersangka yang melakukan perselingkuhan. Prediktor lain adalah tersangka tidak pernah
melakukan pemeriksaan kehamilan serta ibu dengan kelainan psikiatri.

KEPUSTAKAAN
1. Stark Margaret M. Clinical Forensic Medicine: A Physician's Guide. 2nd ed. Totowa
(New Jersey): Humana Press Inc.; 2005.
2. Editorial. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia; 1994.h.11,13,18,20,40.
3. Jason Payne-James, Roger W. Byard, Tracey S. Corey, Carol Henderson.
Encyclopedia of Forensic and Legal Medicine. England: Oxford, Elsevier Academic
Press; 2005.
4. Yusti Probowati R. Peran psikologi dalam investigasi kasus tindak pidana. Indonesian
Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):26-31.
5. Timmermans S. Postmortem: How Medical Examiners Explain Suspicious Deaths. N
Engl J Med 2007; 356:2759-60.
6. Djaja Surya Atmadja, Evi Untoro. Mutation of STR in paternity testing. Indonesian
Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):32-34.
7. Made Agus Gelgel Wirasuta. Analisis toksikologi forensic dan interpretasi temuan
analisis. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55.
8. Editorial. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Indonesia; 1997.h.165-176.
9. Editorial. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Indonesia; 2000.h.1-4, 7-8, 12-45, 62, 72-74.