Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PENETASAN TELUR

MAKALAH AKHIR ILMU TERNAK UNGGAS


PENETASAN TELUR

Disusun Oleh:
Kelompok 6B
Asisten : Faiz Alawi Y.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Fikri Nurul Imam


Fahrul Budi S .
Ridho Tri P.
Kuspriyadi
Gesit Wicaksono
Erlindani Setya M.
Aji Pamukti
Ariesta Dwi A.
Laeli Al- kuriyah

D1E010160
D1E010161
D1E010162
D1E010163
D1E010164
D1E010165
D1E010166
D1E010167
D1E010168

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2012
I.

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk
daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu. Umumnya
unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun), dan
Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang berkembangbiak dengan
cara bertelur.
Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio
sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut
dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan. Bila
tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur
konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya

untuk dikonsumsi saja. Adapun untuk menetaskan telur perlu diperhatikan hal-hal yang
menunjang keberhasilan dalam menetaskan.
Untuk memperbanyak populasi hewan unggas seperti itik, ayam, dan burung puyuh
dibutuhkan cara penetasan telur yang tepat, yaitu pengeraman telur tetas yang akan
diperbanyak. Pengeraman ini dapat terjadi jika sifat mengerami telur pada unggas itu
telah muncul. Misalnya pada ayam buras, sifat mengerami telur tampak jelas sekali. Pada
saat sifat ini muncul, ayam buras tidak akan mau lagi bertelur. Berbeda dengan ayam ras
yang sifat mengeramnya dapat diatur atau dihilangkan dari induknya.
Penetasan pada prinsipnya adalah menyediakan lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan embrio unggas. Lama penetasan telur ditempat pengeraman sangat
tergantung dari jenis hewannya. Semakin kecil hewan, semakin kecil telur yang
dihasilkan. Dan, semakin tinggi suhu badan hewan, semakin pendek waktu penetasan
telurnya. Bila bentuk telur dan ukurannya seragam, waktu penetasan akan selalu hampir
bersamaan. Berbeda dengan ayam, jenis unggas lain seperti itik dan puyuh tidak
mempunyai sifat mengeram. Dahulu, untuk memperbanyak populasinya hanya dengan
seleksi alam, baik oleh induknya maupun oleh lingkungan. Namun saat ini, dengan
adanya alat penetas buatan akan mempermudah perbanyakan populasi unggas ini.
Sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi orang berusaha dan mencoba penetasan
tiruan tanpa melalui induk unggas. Usaha usaha tersebut antaralain dilakukan oleh
orang Mesir kuno yang pada saat itu memang sudah tinggi kebudayaannya. Usaha
usaha lain terdapat pula didaratan Cina, juga ribuan tahun sebelum masehi. Di Mesir
sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan sinar matahari telah dicoba orang kala
itu, jauh sebelum jaman Aristoteles, dan menghasilkan anak ayam yang cukup banyak
(persentase daya tetas yang tinggi). Alatnya sederhana, berupa tungku tungku yang
dapat memuat ribuan telur. Mesin tetas modern pertama kali dikembangkan di Amerika
Serikat sekitar abad 17-an dan berkembang terus hingga kini.
Di Indonesia, sebenarnya mesin tetas buatan telah ada sebelum zaman kemerdekaan
dengan prinsip dan cara pengoperasian mirip dengan mesin tetas sekarang. Usaha itu
mulai dikembangkan pada akhir tahun 1959-an dan berkembang terus hingga kini.
Walaupun masih dalam bentuk yang sederhana, tetapi Indonesia sudah mampu
membuatnya. Mulai dari kapasitas seratus hingga ribuan, karena memang prinsipnya
sederhana.
1.2

Tujuan
1. Mengetahui apa itu penetasan telur.
2. Mengetahui syarat penetasan telur yang baik.
3. Mengetahui tata laksana penetasan telur.
4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi penetasan telur.
II. PEMBAHASAN

2.1 Penetasan telur


Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin
penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk
ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Perbanyakan populasi unggas
biasanya ditempuh dengan cara menetaskan telur yang sudah dibuahi. Menurut Paimin
(2000) penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan
melaui penetasan buatan (mesin tetas). Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman
hanya sekitar 10 15 butir telur. Akan tetapi, untuk mesin tetas sangat bervariasi
tergantung kapasitas mesinnya (minimal 100 butir telur).
1.

Menetaskan telur dengan induk ayam


Pengeraman telur secara alami (dengan induk ayam) untuk memeperbanyak populasi
telah dilakukansejak adanya pemeliharaan ayam. Saat itu belum ada alat pengganti induk
ayam. Semua proses penetasan ditumpukan sepenuhnya pada induk ayam itu sendiri.
Yang perlu disiapkan untuk proses ini adalah tempat penetasan telur yang kelak akan
menghasilkan individu baru. Tempat penetasan ini biasa disebut sarang atau sangkar.
Alasnya terbuat dari rumput atau jerami yang bersih dan lembut. Biasanya induk akan
membuat sendiri sarangnya dengan menggunakan naluri kehewanan nya dan dapat
menentukan baik tidaknya sarang yang telah dibuatnya. Bila hal ini diabaikan, kegagalan
penetasan menjadi lebih besar.
Saat ini campur tangan manusia dalam pembuatan sangkar telah dilakukan, terutama
pada induk ayam yang baru belajar mengerami telurnya (Paimin, 2000). Penetasan telur
secara alami mudah dilakukan karena pengeraman telur sepenuhnya diserahkan pada
induknya sehingga tidak memerlukan pengetahuan khusus, tidak memerlukan peralatan
khusus serta tidak ada ketergantungan terhadap tersedianya sumber panas. Akan tetapi,
kejelekan dari penetasan alami diantaranya adalah kapasitasnya kecil, selama mengerami
telurnya tidak berproduksi telur serta memudahkan penularan penyakit dari induk kepada
yang baru menetas (Sukardi, 1999).

2.

Menetaskan telur dengan alat tetas buatan


Berbeda dengan cara pertama, maka pada cara kedua ini 100% aktivitas penetasan
itu membutuhkan campur tangan manusia dan sang induk tidak tahu menahu masalah
penetasan. Induk unggas itu hanya bertelur dan tidak punya tugas untuk menetaskan telur
tetas melalui aktivitas pengeraman. Selama mengeram hingga anaknya disapih, ayam
atau unggas itu tidak akan bertelur (Rasyaf, 1990).
Penetasan buatan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut mesin tetas atau
inkubator. Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami, yaitu
menyediakan kondisi lingkungan (temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara) yang
sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan optimal, sehingga telur dapat menetas
(Sukardi, 1999). Penetasan dengan alat tetas buatan terbagi atas dua car, yaitu dengan
matahari dan sekam serta mesin tetas. Alat alat ini sederhana, bahkan dapat kita buat

sendiri. Dari kedua jenis ini pun terdapat bermacam macam jenis alat tetas yang prinsip
kerjanya sama, karena umumnya menggunakan tenaga panas, baik panas matahari
maupun panas listrik ataulampu teplok (Paimin, 2000).
Mengapa penetasan telur perlu dilakukan ?
1. Karena ada jenis unggas yang mempunyai naluri atau sifat mengeram sedikit atau bahkan
tidak punya sifat itu seperti itik, ayam arab, dan puyuh. Kalau menggunakan jasa
menthok atau lainnya maka perlu tambahan biaya untuk pemeliharaan menthok tersebut.
2. Jumlah telur yang mampu dierami induk terbatas sehingga menyulitkan manajeman

pemeliharaan. Jika mempunyai 10 ekor induk. Saat sekarang ada yang menetas, tiga hari
kemudian ada yang menetas lagi, dua minggu ada yang menetas lagi, bahkan ada yang
menetas mungkin satu-dua bulan lagi. Betapa kacaunya model pemeliharaannya karena
harus punya beberapa kandang pembesaran.
3. Agar produksi dari seekor induk lebih banyak. Hal ini disebabkan umur untuk

berproduksi berkurang dengan adanya sifat mengeram dan mengasuh anak. Sehingga
yang semula seekor induk hanya mampu berproduksi telur hanya 60-75 butir/tahun dapat
meningkat menjadi 100-120 butir/tahun.
4. Sebagai sarana pencegahan penyakit. karena di dalam proses penetasan buatan terdapat

program penyucihamaan telur dan ruangan mesin tetas dengan desinfektan. Kalau
penyucihamaan dilakukan dengan benar maka dapat memutus jalur penyebaran penyakit
yang merugikan dapat merugikan (Harianto, 2008).

2.2 Syarat Syarat Penetasan Telur


Agar mencapai hasil yang diinginkan, maka telur yang ditetaskan harus memenuhi
syarat syarat sebagai berikut :
1. Suhu dan perkembangan embrio
Embrio akan berkembang cepat selama suhu telur tetap di atas 90 0F (32, 220C) dan
akan berhenti berkembang jika suhu dibawah 80 0F (26,660C), sesudah telur diletakan
dalam alat penetasan atau mesin tetas, pembelahan sel segera berlangsung dan embrio
akan terus berkembang sempurna dan menetas. Perlu diperhatikan bahwa suhu ruang
penetasan harus sedikit diatas suhu telur yang dibutuhkan. Sehingga suhu yang
diperlakukan untuk penetasan telur ayam menurut kondisi buatan dapat sedikit berbeda
dengan suhu optimum telur untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Mulai hari pertama
hingga hari kedelapan belas diperlukan suhu ruang penetasan antara99 1000F (35
41,110C), sedangkan pada hari kesembilan belas hingga menetas, sebaiknya suhu
diturunkan sekitar 2 30F (0,55 1,110C). Adapun suhu yang umum untuk penetasan
telur ayam adalah sekitar 101 1050F (38,33 40,550C) atau rata rata sekitar 100,4 0F.
Cara ini bertujuan untuk mendapatkan suhu telur tetas yang diinginkan.

2.

3.

Kelembapan dalam induk buatan


Selama penetasan berlangsung diperlukan kelembapan yang sesuai dengan
perkembangan dan pertumbuhan embrio. Kelembaban nisbi yang umum untuk penetasan
telur ayam sekitar 60 70 %. Kelembaban juga mempengaruhi proses metabolisme
kalsium (Ca) pada embrio. Saat kelembaban nisbi terlalutinggi, perpindahan Ca dari
kerabang ketulang tulang dalamperkembangan embrio lebih banyak. Pertumbuhan
embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu
rendah. Sedangkan pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban nisbi
mendekati 60%.
Mulai hari pertama hiungga hari kedelapan belas kelembaban nisbi yang diperlukan
sebesar 60%, sedangkan untuk hari hari berikutnya diperlukan 70%. Biasanya,
kelembaban dapat diatur dengan memberikan air kedalam mesin tetas dengan cara
meletakannya dalam wadah ceper.
Ventilasi
Perkembangan normal embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan
karbondioksida (CO2) melalui pori pori kerabang telur. Untuk itulah didalam mesin
tetas harus cukup tersedia oksigen.
Jika kerabang tertutup oleh kotoran, pertukaran gas oksigen dan karbondioksida akan
mengalami gangguan. Dala keadaan yang demikian kadar karbondioksida akan
meningkat sekitar 0,5%, sedangkan kadar oksigen menurun sekitar 0,5%. Peningkatan
kadar karbondioksida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya daya teteas
telur. Jika kadar karbondioksida meningkat 1%, maka kematian embrio dapat meningkat.
Sedangkan jika peningkatan sebesar 5%, embrio akan mati sebelum menetas. Penigkatan
kadar karbondioksida yang masih diperbolehkan adalah sebesar 0,5 0,8%, dengan kadar
optimum 0.5%. Menurut Djanah Djamalin (1981), perimbangan udara dalam mesin tetas
selama periode penetasan adalah 0,5% gas CO2 dan 21% O2(Paimin,2000).
Jangka waktu lamanya penetasan yang diperlukan pada masing masing spesies
unggas berbeda satu sama lain. Ada kecenderungan, semakin besar ukuran tubuh dari
masing masing spesies semakin besar pula ukuran telurnya dan semakin lama jangka
waktu yang diperlukan untuk menetaskan telurnya. Jangka waktu yang diperlukan untuk
penetasan telur pada masing masing spesie dapat dilihat pada tabel berikut :
Spesies
Ostrich
Angsa
Itik manila
Kalkun
Itik
Puyuh
bobwhite

Periode
penetasan (hari)
42
35
35
35
28
24

Ayam
Puyuh Jepang
Burung
merpati

21
17
17

(Sukardi, 1999).
2.3 Tata laksana Penetasan Telur
Keberhasilan penetasan telur sangat tergantung pada manajemen penetasan. Hal hal
yang perlu diperhatikan pada tatalaksana penetasan adalah :
1. Sesuai dengan kegunaannya, telur dibedakan menjadi dua macam, yaitu telur konsumsi
dan telur tetas. Telur konsumsi umumnya berasal dari unggas yang tidak dikawinkan,
sehingga didalamnya tidak terkandung embrio (infertil). Jika telur tersebut dierami, maka
telur tersebut tidak dapat menetas, telur tetas adalah telur yang berasal dari induk yang
dikawinkan, sehingga Pemilihan telur
didalamnya terdapat embrio yang dapat berkembang bila kondisi lingkungannya
sesuai. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam memilih teluryang akan ditetaskan adalah
:
a. Asal telur ; telur yang akan ditetaskan harus berasal dari induk yang dikawinkan.
b. Besar telu ; telur yang terlalu kecil ataupun terlalu besar mempunyai daya tetas yang
rendah. Disamping itu ukuran (bobot) telur mempunyai korelasi positif dengan bobot
tetas, sehingga telur yang kecil akan menghasilkan bobot tetas yang kecil, demikian pula
sebaliknya.
c. Bentuk telur ; telur mempunyai bentuk oval (bulat telur) dengan dua ujung yaitu ujung
tumpul dan ujung lancip. Telur yang normal memiliki indeks telur sekitar 74%.
d. Kerabang telur ; kerabang telur disamping penting sebagai sumber mineral untuk
pertumbuhan embrio, juga untuk melindungi isi sel telur dari gangguan fisik serta
mencegah masuknya mikroba yang dapat merusak isi telur sehingga daya tetasnya
rendah.
2. Fumigasi
Telur yang baru diambil dari kandang telah tercemar mikroba yang populasinya
tergantung pada tingkat kebersihan telur. Fumigasi merupakan upaya untuk membasmi
mikroba tersebut. Fumigasi dengan menggunakan gas formaldehyde digunakan secara
luas pada perusahaan penetasan telur, karena disamping mudah dilakukan, gas tersebut
mempunytai daya basmi terhadap mikroba yang tinggi ( Sukardi, 1999).
Persiapan penetasan
Dengan melakukan sanitasi / membersihkan mesin tetas dari segala kotoran, kemudian
dilakukan fumigasi dengan menggunakan KMnO4dan Formalin 40%, dengan
perbandingan untuk 1 m diperlukan KMnO4 6 gram dan Formalin 40% 12 ml.

Wadah/bak air diisi dengan air hangat-hangat kuku (38,5C), setelah itu bak air
dimasukkan dalam mesin tetas.
Hidupkan mesin tetas dan stabilkan suhu dalam mesin tetas hingga mendapatkan suhu
yang konstan pada skala 101F. Cara mengatur suhu dengan merubah kedudukan skrup
termostat, apabila suhu belum mencapai 101F lampu sudah mati maka skrup pada
termostat diputar ke kiri sampai menyala, atau sebaliknya apabila suhu sudah mencapai
101F tetapi lampu belum mati maka skrup pada termostat diputar ke kanan sampai
lampu mati. Pekerjaan ini di ulang-ulang hingga diperoleh suhu 101F, kemudian tunggu
selama 24 jam, apabila sudah tidak berubah lagi maka mesin tetas sudah siap digunakan.
Susun telur yang akan ditetaskan pada rak telur dengan posisi kemiringan 45 derajat, dan
bagian ujung tumpul berada diatas.

Penambahan kelembaban, untuk telur itik perlu dilakukan penambahan kelembaban


dengan pengabutan air pada telur maupun dalam mesin atau telur di basahi dengan air
hangat dilakukan setiap pembalikan telur.

Pelaksanaan penetasan.
a. Hari ke 1 : Masukkan telur ke dalam mesin tetas setelah langkah-langkah persiapan sudah
siap. Ventilasi ditutup rapat, suhu 101F, catat posisi telur pada kartu kontrol.Lakukan
pemerikasaan telur (candling) setelah 24 jam.
b. Hari ke 2 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat, Suhu 101F.
c. Hari ke 3 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat, Suhu 101F.
d. Hari ke 4 : Mulai pemutaran telur, pemutaran telur dilakukan sehari 3 kali yakni pagi jam 06.00, siang
jam 14.00, malam jam 22.00 (interval 8 jam) dengan cara membalik, mengeluarkan telur
beserta raknya. Pemutaran dilakukan diluar sambil pendinginan 10 15 menit (Putar 3
kali dan pendinginan), Suhu 101F. Ventilasi dibuka bagian, jangan lupa dicatat.
e. Hari ke 5 : Putar 3 kali dan pendinginan, ventilasi dibuka bagian.
f. Hari ke 6 : Putar 3 kali dan pendinginan, ventilasi dibuka bagian.
g. Hari ke 7 : Putar 3 kali dan pendinginan, dilakukan pemeriksaan telur dan hanya telur yang embrionya hidup
yang dimasukkan kembali kedalam mesin tetas, suhu 101 F, ventilasi dibuka seluruhnya, air
diperiksa dan jangan lupa dicatat.
h. Hari ke 8 : Putar 3 kali dan pendinginan, kontrol air. ventilasi dibuka seluruhnya.
i. Hari ke 9 : Putar 3 kali dan pendinginan.

j. Hari ke 10 : Putar 3 kali dan pendinginan.


k. Hari ke 11 : Putar 3 kali dan pendinginan.
l. Hari ke 12 : Putar 3 kali dan pendinginan.
m. Hari ke 13 : Putar 3 kali dan pendinginan, kontrol air.
n. Hari ke 14 : Putar 3 kali dan pendinginan. dilakukan pemeriksaan telur ke dua.
o. Hari ke 15 : Putar 3 kali dan pendinginan.
p. Hari ke 16 : Putar 3 kali dan pendinginan.
q. Hari ke 17 : Putar 3 kali dan pendinginan.
r. Hari ke 18 : Putar 3 kali dan pendinginan.
s. Hari ke 19 : Putar 3 kali dan pendinginan.
t. Hari ke 20 : Putar 3 kali dan pendinginan.
u. Hari ke 21 : Putar 3 kali dan pendinginan.
v. Hari ke 22 : Putar 3 kali dan pendinginan.
w. Hari ke 23 : Putar 3 kali dan pendinginan.
x. Hari ke 24 : Putar 3 kali dan pendinginan.
y. Hari ke 25 : Putar 3 kali dan pendinginan. dilakukan pemeriksaan telur ke tiga, suhu dikontrol. Ventilasi
dibuka seluruhnya, air diperiksa jika perlu ditambah dengan air hangat.Jangan lupa
dicatat.
z. Hari ke 26 : Tidak dilakukan pemutaran tetapi tetap dikontrol.
aa. Hari ke 28 : Pada hari ini biasanya telur sudah mulai retak.
ab. Hari ke 29 : Pada hari ini biasanya telur sudah menetas, anak itik yang sudah kering dikeluarkan dari
mesin tetas.
Penanganan Anak itik
Setelah anak itik menetas mencapai umur satu hari, anak itik dipindahkan ke
kandang box dan diberi pemanas sebagai ganti induk itik dan diberi pakan starter,
pemeliharaan selanjutnya seperti memelihara itik unggas pada umumnya, untuk itik
seyogyanya pemberian pakan dicampur air (sedikit basah).
Pengakhiran praktikum
Mesin tetas yang sudah selesai digunakan dicuci sampai bersih dan dicucihamakan
kemudian dikembalikan ke ruang penetasan, seperti kondisi saat peminjaman, keadaan
mesin tetas utuh, peralatan thermometer, rak maupun perlengkapan lainnya dikembalikan
untuk disimpan atau digunakan lagi (Nuryati, 2000).

2.4 Faktor yang mempengaruhi Penetasan.


Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan harus menjadi perhatian khusus selama
proses penetasan berlangsung adalah :
1. Sumber panas, karena mesin tetas ini sumber panasnya dari energi listrik dan sebagai
media penghantar panasnya menggunakan lampu pijar, maka selama proses penetasan
berlansung lampu pijar harus diusahakan tidak terputus, kalau lampu pijar terputus harus
segera diganti. Lampu pijar harus mampu menghantarkan panas yang dibutuhkan untuk
penetasan yakni 101F (38,5C), untuk menjaga kestabilan suhu digunakan alat yang
namanya termoregulator.
2. Air, berfungsi sebagai bahan untuk mempertahankan kelembaban didalam ruangan mesin
tetas, oleh karena itu air didalam mesin selama proses penetasan berlangsung tidak boleh
kering. Kelembaban yang dibutuhkan pada penetasan umur 1 hari 25 hari adalah yang
ideal antara 60% - 70%, sedangkan pada hari ke 26 sampai menetas membutuhkan lebih
tinggi yaitu 75%.
3. Operator, adalah orang yang mengoperasikan mesin tetas. Tugas operator selama
penetasan adalah :
a. Mengatur suhu ruangan mesin tetas sesuai dengan suhu yang ditentukan.
b. Mengatur dan mengontrol kelembaban ruangan mesin tetas.
c. Mengatur ventilasi mesin tetas.
d. Melakukan pembalikan / pemutaran telur.
e. Melakukan pemeriksaan telur dengan alat teropong.
f. Mencatat semua kegiatan yang dilakukan selama penetasan berlangsung.
4. Pemutaran telur, mempunyai tujuan untuk memberikan panas secara merata pada
permukaan telur, Selain itu untuk mencegah agar embrio tidak menempel pada salah satu
sisi kerabang telur. Pemutaran telur dilakukan dengan mengubah posisi telur dari kiri ke
kanan atau sebaliknya, untuk telur dengan posisi mendatar yang bawah diputar menjadi
diatas, apabila telur diberdirikan bagian yang tumpul harus diatas.
5. Peneropongan, dilakukan karena untuk mengetahui keberadaan atau perkembangan embrio
secara dini. Peneropongan biasanya dilakukan sebanyak 3 kali selama penetasan
berlangsung yaitu pada hari ke 1, ke 7 dan hari ke 25 ( Gatot, 2009).

III.

KESIMPULAN
a.

Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin
penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk
ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram.
b. Syarat syarat penetasan telur : suhu dan perkembangan embrio, kelembapan dalam
induk buatan dan ventilasi.
c. Tata laksana meliputi pemilihan telur dan fumigasi.
d. Faktor yang mempengaruhi Penetasan yaitu :
- Sumber panas,
- Air,
- Operator,
- Pemutaran telur,
- Peneropongan