Anda di halaman 1dari 82

Bahan Ajar Kursus & Pelatihan Tata Busana Level II

SIAP MENJAHIT dan MENGENAL TE KSTIL

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014

Bahan Ajar Kursus & Pelatihan


TATA BUSANA LEVEL II

SIAP MENJAHIT dan


MENGENAL TEKSTIL
Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014

Bahan Ajar Kursus dan Pelatihan


Tata Busana Level II

SIAP MENJAHIT DAN


MENGENAL TEKSTIL

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

KURSUS TATA BUSANA LEVEL II


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Penulis
Amelia Prihanto
Desain Cover
Amelia dan Myrna Amalia Hermanto
Foto dan Materi Foto
Amelia Prihanto
Desain Layout dan Editor Bahasa
Syahrul Anwar, Dony Setiawan dan Deden Jopandi

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014
Gedung E Lantai VI, Jl. Jenderal Sudirman
Senayan Jakarta 19720
Telepon (021) 57904363, 572041
Faximile (021) 57904363, 5725041
website: www.infokursus.net
email: ditbinsus@yahoo.co.id

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP ME NJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami menyampaikan puji syukur ke hadirat Allah Yang
Maha Kuasa, berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga bahan ajar kursus dan
pelatihan selesai disusun dan selanjutnyasiap dipergunakan oleh peserta
didik,pendidik, maupun penyelenggara kursus dan pelatihan serta satuan
pendidikan nonformal lainnya.
Sumber daya manusia yang berketerampilan dan tersertifikasi dapat
diperoleh melalui uji kompetensi. Uji kompetensi merupakan upaya yang terus
dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Ditjen PAUDNI,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk meningkatkan ketersediaan,
memperluas keterjangkauan, mewujudkan kesetaraan dan menjamin kepastian
mutu, relevansi, dan daya saing lulusan kursus dan pelatihan serta satuan
pendidikan nonformal lainnya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu didukung oleh tersedianya sarana dan
prasarana yang memenuhi kebutuhan pembelajaran.
Dalam menghadapi persaingan global pada Asean Free Trade Area
(AFTA) dan World Trade Organization (WTO), Indonesia dituntut dapat
menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia
yang memiliki keterampilan yang tersertifikasi sehingga diakui dunia
internasional. Sumber daya manusia yang dibekali dengan keterampilan serta
karakter dan sikap-sikap positif akan menjadikan daya saing bangsa Indonesia
semakin diperhitungkan di kancah pergaulan dunia.
Bahan ajar kursus dan pelatihan merupakan salah satu sarana
pembelajaran untuk mengoperasinalisasikan substansi kurikulum berbasis
kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang
berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada masing-masing
jenis keterampilan. Penerapan bahan ajar yang relevan dan kontekstual
dengan kebutuhan peserta didik akan sangat membantu mereka dalam
mempersiapkan diri untuk mengikuti uji kompetensi, sehingga peserta didik
memiliki kompetensi yang mampu bersaing di pasar global.
Akhirnya tidak lupa kami sampaikan terima kasih dan penghargaan
kepada tim penyusun yang telah bekerja keras serta meluangkan waktu,
pikiran, dan tenaga demi terwujudnya bahan ajar ini.
Jakarta, Januari 2014
Direktur,

Muslikh, S.H.
NIP 19580915 198503 1 001

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR GAMBAR
BAB I

PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Tujuan Pembelajaran
C.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
BAB II
PERSIAPAN MENJAHIT
A.
Mempersiapkan Tempat Kerja yang Nyaman
dan Sesuai dengan Standar Kesehatan Dan
Keselamatan Kerja (K-3)
B.
Melakukan Penyetelan Mesin Jahit
C.
Melakukan Pemeliharaan Mesin Jahit
D.
Mengatasi Masalah Sederhana pada Mesin Jahit
E.
Menjaga Kerapian Area dan Alat Kerja
BAB III
MEMILIH TEKNIK MENJAHIT
A.
Teknik Menjahit dengan Mesin
B.
Kampuh Dasar
C.
Teknik Menjahit dengan Tangan
D.
Tusuk Dasar Menjahit
BAB IV
PENGEPASAN (FITTING)
A.
PERSIAPAN
B.
PENGEPASAN
C.
Evaluasi Hasil Jahitan
D.
Revisi Hasil Evaluasi Fitting
BAB V
PRESENTASI HASIL JAHITAN
A.
Penyetrikaan (Pressing)
B.
Pelipatan
C.
Pengemasan (Packaging)
BAB VI
MENGENAL JENIS DAN SIFAT TEKSTIL
A.
Jenis Tekstil Berdasarkan Serat Penyusunnya
B.
Penggunaan Tekstil pada Busana
C.
Sifat dan Teknik Pencucian Tekstil
BAB VII ETIKET DAN TEKNIK BERKOMUNIKASI
A.
Etiket Berkomunikasi
B.
Teknik Berkomunikasi
C.
Berkomunikasi di Tempat Kerja
DAFTAR PUSTAKA

5
7
9
9
9
10
15
15
18
19
20
22
25
25
29
31
33
39
39
40
41
42
44
44
49
49
53
53
55
57
74
74
76
78
82

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1:
Gambar 2:
Gambar 3:
Gambar 4:
Gambar 5:
Gambar 6:
Gambar 7:
Gambar 8:
Gambar 9:
Gambar 10:
Gambar 11:
Gambar 12:
Gambar 13:
Gambar 14:
Gambar 15:
Gambar 16:
Gambar 17:
Gambar 18:
Gambar 19:
Gambar 20:
Gambar 21:
Gambar 22:
Gambar 23:
Gambar 24:
Gambar 25:
Gambar 26:
Gambar 27:
Gambar 28:
Gambar 29:
Gambar 30:
Gambar 31:
Gambar 32:
Gambar 33:
Gambar 34:
Gambar 35:
Gambar 36:
Gambar 37:
Gambar 38:

Lengan Licin
Lengan Kop
Lengan Poff
Lengan Raglan
Lengan Setali
Kerah Rebah
Kerah Kemeja
Kerah Setali
Kerah Shiller
Pemasangan Tutup Tarik
Rumah Kancing
Kampuh Terbuka
Kampuh Balik
Kampuh Pipih
Kampuh Sarung
Tusuk Jelujur
Tusuk Tikam Jejak
Tusuk Flanel
Tusuk Feston
Tusuk Balut
Tusuk Batang
Tusuk Rantai
Tusuk Silang
Bantalan Setrika
Bantalan Setrika dan Point Presser
Setrika Konvensional
Sprayer
Tailors Ham
Pressing Roll
Point Presser
Sleeve board
Gantungan Blus
Gantungan Celana
Gantungan Kemeja
Plastik Busana Ekonomis
Dress Cover Eksklusif
Dress Box
Plastik Kemas Busana

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

DAFTAR GAMBAR

Gambar 39:
Gambar 40:
Gambar 41:
Gambar 42:
Gambar 43:
Gambar 44:
Gambar 45:
Gambar 46:
Gambar 47:
Gambar 48:
Gambar 49:
Gambar 50:
Gambar 51:
Gambar 52:
Gambar 53:
Gambar 54:
Gambar 55:
Gambar 56:
Gambar 57:
Gambar 58:
Gambar 59:
Gambar 60:
Gambar 61:
Gambar 62:
Gambar 62

Serat Penyusun Tekstil


Katun
Katun Jepang
Katun Paris
Katun Linen
Katun Rayon
Wol
Sutra Satin
Sutra Sifon
Raw Silk
Lame
Lame
Songket
Brokat
Brokat
Poliester
Sifon
Beludru
Flanel
Drill
Tulle
Jersey
Jersey Sport
Organdi
Label pencucian

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

BAB I

PENDAHULUAN

Keterampilan tata busana adalah suatu kompetensi atau kemampuan


yang selalu dapat diandalkan sepanjang masa. Seseorang yang memiliki
keterampilan ini, bisa segera menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
Tambahan lagi dengan pesatnya perkembangan dunia mode sekarang, tak
perlu diragukan bahwa keterampilan tata busana adalah keterampilan yang
sangat diperlukan dan sangat menjanjikan.

A. Latar Belakang
Keunggulan sumber daya manusia di Indonesia, perlu dilengkapi
dengan keterampilan yang memadai sehingga mengalami peningkatan mutu
dan memiliki daya saing yang tinggi, baik dalam skala nasional ataupun
internasional. Dalam rangka meraih tujuan ini, pemerintah telah membentuk
program Kerangka Kualikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang salah satunya
mencakup program dalam industri tata busana.
Dalam pembelajaran tata busana itu sendiri, diperlukan praktik-praktik
pembuatan busana dan pemahaman yang terperinci terhadap teori, mulai
teknik pembuatan busana hingga tahap presentasi hasil jahitan.

B. Tujuan Pembelajaran
Sesuai dengan standar kompetensi kelulusan dan kurikulum kursus
tata busana di level II, tujuan dari pembuatan buku ini adalah membuat
peserta didik mempelajari tentang
1.
persiapan tempat menjahit yang sesuai dengan prosedur K- 3,
menjahit dengan tangan yang digunakan untuk menyelesaikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan

2.
3.
4.
5.
6.

C.

jahitan serta menjahit dengan mesin yang digunakan untuk


menyatukan dua potongan kain sesuai dengan pola;
pemeliharaan mesin jahit, cara mengatasi masalahnya, serta
cara menyimpan alat jahit yang baik;
pengepasan busana, evaluasi dan revisinya;
presentasi hasil jahitan dengan teknik pressing, pelipatan, dan
pengepakan.
pengenalan jenis kain beserta sifat, kegunaan, teknik pencucian,
dan penyimpanannya.
etiket berkomunikasi yang baik dalam lingkungan kerja.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


Kemampuan di Bidang Kerja (Skill atau Keterampilan) Pembuat Busana Pemula
Setara dengan Level II KKNI
Mampu melakukan
pekerjaan menjahit busana
sebagai Pembuat Busana
Pemula dengan kemampuan
Mampu mempersiapkan
tempat kerja, alat jahit
tangan, dan mesin jahit
monofungsi untuk siap
dioperasikan

Mampu mempersiapkan
tempat kerja secara
ergonomis untuk melakukan
pekerjaan menjahit dengan
tangan dan dengan mesin

Kesiapan tempat kerja


untuk melaksanakan
pekerjaan menjahit
dengan tangan

Mampu mempersiapkan alat Kesiapan tempat kerja


jahit tangan pada pekerjaan untuk melakukan
penjahitan busana
pekerjaan menjahit
dengan mesin jahit

10

Mampu melakukan
pekerjaan menjahit busana,
dengan alat jahit tangan
dan mesin jahit mono fungsi
sesuai standar menjahit
yang dipersyaratkan,
sebagai Pembuat Busana
Pemula

Mampu mempersiapkan
mesin jahit monofungsi
yang dibutuhkan pada
pekerjaan penjahitan busana

Kesiapan alat jahit


tangan yang dibutuhkan
pada pekerjaan
penjahitan busana
Kesiapan alat jahit
mesin monofungsi
yang dibutuhkan untuk
pekerjaan penjahitan
busana

Mampu melaksanakan
pekerjaan menjahit busana
dengan alat jahit tangan

Ketepatan
melaksanakan
pekerjaan menjahit
dengan alat jahit tangan
sesuai standar menjahit
yang dipersyaratkan

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Kemampuan di Bidang Kerja (Skill atau Keterampilan) Pembuat Busana Pemula


Setara dengan Level II KKNI
Mampu melaksanakan
Ketepatan menjahit
pekerjaan menjahit bagian- bagian bagian potongan
bagian potongan pakaian
pakaian dengan mesin
dengan mesin jahit sesuai
jahit menjadi busana
teknik penyelesaian
sesuai teknik menjahit
busana
yang dipersyaratkan
Mampu bersama
pembimbing atau pengawas
melakukan evaluasi dan
revisi atas hasil kerjanya

Mampu mempresentasikan
hasil busana yang telah
dijahit sesuai dengan
keinginan pelanggan
dengan rapi melalui proses
penyetrikaan, pelipatan, dan
pengepakan

Mampu melakukan evaluasi Ketepatan melakukan


hasil kerja bersama
evaluasi hasil kerja
pembimbing atau pengawas bersama pembimbing
atau pengawas
Ketepatan melakukan
Mampu melakukan revisi
revisi hasil kerja
hasil kerja bersama
pembimbing atau pengawas bersama pembimbing
atau pengawas
Mampu mempresentasikan Ketepatan melakukan
penyeterikaan hasil
hasil busana yang telah
busana yang telah
dijahit sesuai dengan
keinginan pelanggan dengan dijahit sesuai dengan
rapih melalui proses proses jenis dan sifat
penyeterikaan, pelipatan
bahannya
dan pengepakan
Ketepatan
mempresentasikan
hasil busana yang telah
dijahit sesuai dengan
keinginan pelanggan
Ketepatan melakukan
pelipatan hasil busana
yang telah dijahit sesuai
keinginan pelanggan
Ketepatan melakukan
pengepakan hasil
busana yang telah
dijahit sesuai keinginan
pelanggan

Mampu melakukan
pekerjaan menjahit busana
dan pemeliharaan alat jahit
dengan menerapkan prinsip
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K-3) dalam lingkungan
kerja

Mampu mengikuti prosedur


Kesehatan Keselamatan
Kerja (K-3) dalam
lingkungan kerja

Ketepatan menerapkan
prosedur Kesehatan
dan Keselamatan Kerja
(K-3)dalam melakukan
pekerjaan menjahit
busana sesuai prosedur

11

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Penguasaan Pengetahuan (Knowledge) Pembuat Busana Pemula


Setara dengan Level II KKNI
1 Menguasai pengetahuan
faktual tentang jenis
dan karakteristik tekstil
khususnya sifat-sifat bahan
tekstil terhadap temperatur
dan kelenturan bahan

Pengetahuan faktual
tentang jenis dan
karakteristik tekstil
khususnya sifat-sifat
bahan tekstil

Menguasai pengetahuan
tentang operasional dasar
(fungsi dan penggunaan)
alat jahit tangan dan mesin
jahit mono fungsi (jahitan
lurus)

Pengetahuan
tentang operasional
dasar (fungsi dan
penggunaan)
alat jahit tangan
dan mesin jahit
monofungsi (jahitan
lurus)

Menguasai pengetahuan
faktual tentang penyetelan
mesin jahit dan
penanganan masalah
sederhana dalam
prosedur menjahit

12

Menguasai pengetahuan
operasional dasar (fungsi
dan penggunaan) alat
penyeterika konvensional
serta teknik menyeterika
dengan alat penyeterika
konvensional

Ketepatan mengaplikasikan
pengetahuan faktual tentang jenis
dan karakteristik tekstil khususnya
sifat-sifat bahan tekstil terhadap
temperatur
Ketepatan mengaplikasikan
pengetahuan faktual tentang
kelenturan bahan tekstil terhadap
desain
Ketepatan mengaplikasikan
pengetahuan operasional dasar
(fungsi dan penggunaan) alat jahit
tangan dalam pembuatan busana

Ketepatan mengaplikasikan
pengetahuan operasional dasar
(fungsi dan penggunaan) mesin jahit
mono fungsi (jahitan lurus) dalam
pembuatan busana
Pengetahuan faktual Ketepatan mengaplikasikan
tentang penyetelan pengetahuan faktual tentang
mesin jahit dan
penyetelan mesin jahit dalam
penanganan
prosedur menjahit
masalah sederhana
dalam prosedur
Ketepatan mengaplikasikan
menjahit
pengetahuan faktual tentang
penanganan masalah sederhana
dalam prosedur menjahit
Pengetahuan
Ketepatan mengaplikasikan
operasional
pengetahuan operasional dasar
dasar (fungsi dan
(fungsi dan penggunaan) alat
penggunaan)
penyeterika konvensional dalam
alat penyeterika
penyeterikaan busana
konvensional
serta teknik
Ketepatan mengaplikasikan
menyeterika dengan pengetahuan operasional dasar
alat penyeterika
tentang teknik menyeterika dengan
konvensional
alat untuk menyeterika konfensional

Menguasai etika dan teknik Pengetahuan


Ketepatan mengaplikasikan tentang
berkomunikasi dengan
tentang etika dan
etika berkomunikasi dengan atasan
atasan
teknik berkomunikasi dalam lingkup kerja
dengan atasan
Ketepatan mengaplikasikan tentang
teknik berkomunikasi dengan atasan
dalam lingkup kerja.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Hak dan Tanggung Jawab (Managerial Aspect) Pembuat Busana Pemula


Setara dengan Level II KKNI
Bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab
membimbing calon asisten penjahit busana yang sedang magang
atau sesama asisten penjahit busana yang baru sekali direkrut.

13

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB II

PERSIAPAN MENJAHIT

14

Seseorang dikatakan siap menjahit apabila telah melakukan persiapan


yang cukup. Setiap pekerjaan yang ingin dilakukan dengan baik, pastinya
akan memiliki persiapan yang mendekati ideal dan juga terencana pula.
Hal ini berlaku juga saat akan melakukan proses menjahit yang
baik. Agar bisa berjalan dengan lancar dan nyaman, proses menjahit akan
memerlukan persiapan yang tidak sedikit, mulai pengetahuan tentang teknik
menjahit hingga pengetahuan untuk menyediakan tempat yang sesuai
dengan standar.
Persiapan yang dilakukan dan pengetahuan yang perlu dimiliki
seseorang sebelum mulai menjahit adalah
a.
mempersiapkan tempat kerja yang nyaman sesuai dengan
standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3);
b.
melakukan penyetelan jahit;
c.
melakukan pemeliharaan mesin jahit;
d.
mengatasi masalah sederhana pada mesin jahit;
e.
menjaga kerapihan area dan alat kerja.
Kelima hal tersebut adalah pengetahuan secara teori yang perlu
diketahui sebelum mulai menjahit. Adapun pengetahuan secara praktik
akan dibahas dalam bab berikutnya.

A.

Mempersiapkan Tempat Kerja yang Nyaman dan Sesuai


dengan Standar Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K-3)

Tempat kerja merupakan bagian yang penting dalam suatu usaha.


Kondisinya akan sangat berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan,

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

dan keselamatan para pekerjanya. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum


bahwa suasana kerja yang nyaman dan aman akan menimbulkan gairah
produktivitas kerja.
1.

Tempat kerja yang nyaman

Pada dasarnya kenyamanan tidak memiliki batasan yang tegas.


Kenyamanan kerja bisa berbeda-beda pada setiap orangnya dan juga dari
jenis pekerjaannya. Contohnya, saat seseorang mempersiapkan kenyamanan
tempat untuk menjahit dengan mesin, akan berbeda pengaturannya dengan
mempersiapkan tempat kerja yang nyaman untuk menjahit dengan tangan.
Salah satu prinsip penting dalam menyusun kenyamanan tempat kerja
ini adalah sebuah kata yang dikenal dengan sebutan ergonomi. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ergonomi memiliki dua arti. Pertama, adalah
penyerasian antara pekerja, jenis pekerjaan, dan lingkungannya. Kedua,
adalah ilmu tentang hubungan di antara manusia, mesin yang digunakan,
dan lingkungan kerjanya.
Dalam hal menciptakan tempat kerja yang nyaman, ergonomi bisa
diartikan dengan adanya keserasian antara manusia dengan mesin dan
lingkungan kerjanya.
Suatu hal yang disebut ergonomis, bisa diartikan memiliki sifat yang
ergonomi. Dengan kelengkapan perabot yang ergonomis, seseorang
bisa melakukan kerja dalam waktu yang lama dengan rasa nyaman pada
tubuhnya.
Contohnya, seseorang yang akan menjahit dengan tangan bisa disebut
ergonomis atau mendapatkan keserasian dengan bangku yang menggunakan
jok cukup empuk dan sebuah meja yang lebar untuk meletakkan jahitannya.
Sebaliknya, dikatakan tidak ergonomis jika pekerjaan menjahit tangannya
dilakukan di atas sofa yang terlalu empuk sehingga posisi badan tidak bisa
mendukung pekerjaan, juga apabila dilakukan tanpa sebuah meja.
2.

Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja (K-3)

Memahami kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja pada suatu


pekerjaan menjahit adalah prioritas utama dan perlu mendapatkan perhatian
dari semua pihak, baik dari guru, pemilik kursus, bahkan dari peserta kursus
itu sendiri.
Di antara contoh kecelakaan yang mungkin terjadi saat menyetrika
adalah tersengat listrik, mengalami luka bakar. Saat menjahit dengan
tanganpun, seseorang akan memiliki risiko tertusuk jarum, tangan tergunting,
bahkan jarum yang tercecer bisa menyebabkan orang lain juga ikut tertusuk

15

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

jarum. Contoh lainnya adalah kecelakaan yang mungkin terjadi saat menjahit
dengan mesin. Tubuh tersengat listrik, tertusuk jarum, atau terkena patahan
jarum, menjadi hal yang perlu dicermati.
Pada penerapannya, guru bertugas mengingatkan peserta kursus
akan risiko kecelakaan yang bisa terjadi saat proses menjahit. Peserta
kursus juga bertugas melakukan pekerjaan menjahit dengan mengikuti
panduan keselamatan kerja dan arahan guru. Bahkan pemilik kursus secara
hukum wajib memfasilitasi tempat kursusnya sesuai dengan SOP (Standard
Operational Procedure) yang sesuai dengan prinsip K-3 (kesehatan,
keselamatan, dan keamanan kerja).
SOP Kesehatan di Tempat Kerja/Kursus

16

Beberapa hal di bawah ini adalah faktor-faktor yang menjadi perhatian


dalam menentukan standar kesehatan di tempat kerja.
1.
Sumber pencahayaan (buatan/lampu dan alami/cahaya
matahari)
2.
Posisi pegawai dalam bekerja
3.
Jenis pekerjaan yang dilakukan
4.
Lingkungan pekerjaan secara keseluruhan
5.
Desain ventilasi harus mampu mengontrol kesilauan, pantulan,
dan bayang-bayang yang ada di tempat kerja
6.
Lama bekerja
7.
Penggunaan warna dalam pencahayaan
karena pentingnya faktor pencahayaan dalam bekerja,
Pemerintah telah membuat standar pencahayaan kerja yang
ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (PMP) No. 7
Tahun 1964, tetang Syarat-Syarat Kesehatan, Kebersihan, dan
Pencahayaan.
SOP Keselamatan dan Keamanan di Tempat Kerja/Kursus
Untuk standar keselamatan dan keamanan kerja pada tempat kursus,
hal berikut adalah faktor penting yang perlu dipenuhi.
1.
Tempat kursus wajib menyediakan alat-alat perlindungan
keselamatan kerja. Contoh : masker, sarung tangan, kacamata,
tangga, dan sebagainya disesuaikan dengan jenis pekerjaan.
2.
Pemilik kursus wajib menempatkan alat-alat pemadam kebakaran
di tempat yang mudah terjangkau dan terlihat, dengan diberi
tanda sesuai dengan pedoman UU No. 1 Tahun 1970.
3.
Setiap guru dan peserta kursus wajib mengetahui tempat alatalat pemadam kebakaran dan mengetahui cara penggunaannya

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

4.
5.
6.
7.

B.

serta ketentuan kerja sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1970.


Pemilik kursus wajib melakukan tindakan pencegahan bahaya
kebakaran terhadap benda atau bahan yang mudah terbakar.
Pemilik kursus wajib memberi tahu jalan evakuasi tercepat
apabila terjadi kebakaran atau kecelakaan lainnya.
Setiap peserta kursus dan guru wajib dibekali pengetahuan untuk
menanggulangi bahaya kebakaran.
Pemilik kursus wajib memberikan pembinaan dengan tujuan untuk
mencegah dan mengurangi kecelakaan dan cara memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan (P-3-K).

Melakukan Penyetelan Mesin Jahit

Mesin jahit monofungsi adalah mesin jahit yang dengan cukup mudah
kita temukan. Bentuk dan jenisnya sudah merupakan bentuk yang sangat
akrab dan terlihat sederhana. Kesederhanaan bentuk ini juga diikuti dengan
kesederhanaan pemakaian dan kepraktisan yang maksimal sehingga sangat
mudah digunakan.
Secara teknis, mesin jahit monofungsi menggunakan dua benang dasar
yang berfungsi menyatukan dua helai kain. Benang pertama diletakkan di
bagian atas mesin sedangkan benang kedua ada di bagian bawah mesin.
Untuk pemasangannya, benang pertama yang berwarna merah
dimasukkan ke tiang benang di bagian atas mesin sebelah kanan. Tarik
benang, cukup panjang kemudian masukkan benang ke tempat tegangan
benang dilanjutkan ke bagian kait di kepala mesin yang bergerak turun dan
naik saat mesin dijalankan. Perjalanan terakhir benang atas ini ada di ujung
jarum. Apabila dirasakan cukup sulit, memasukkan benang ke lubang jarum
mesin bisa dilakukan dengan bantuan mata nenek.
Selanjutnya, gulung benang kedua yang berwarna biru ke dalam spull,
kemudian masukkan ke dalam sekoci. Buka lembar penutup mesin di bagian
bawah ujung jarum, kemudian masukkan sekoci hingga berbunyi klik.
Mulailah menjahit secara perlahan dengan mengecek hasil setik jahitan.
Untuk setikan yang baik, atur tegangan benang di tempat yang normal yang
disarankan oleh produsen mesin. Salah satu tanda setikan yang baik adalah
yang memiliki ciri sebagai berikut.
1.
Jarak setik teratur.
2.
Benang atas dan bawah terjalin dengan sama kencang dan tidak
longgar.
3.
Hasil jahitan normal di kain katun tidak terlihat berkerut.

17

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

C.

Melakukan Pemeliharaan Mesin Jahit

Pemeliharaan mesin jahit adalah cara-cara yang bisa dilakukan agar


mesin jahit selalu dalam kondisi yang baik sehingga selalu siap untuk
digunakan. Hal itu dilakukan mulai persiapan mesin sebelum digunakan
hingga cara menyimpan kembali alat-alat jahit dan mesin setelah digunakan
dengan cara yang benar.
Seperti halnya semua mesin buatan manusia, mesin jahit juga perlu
dipelihara agar tidak mudah rusak. Beberapa cara pemeliharaan mesin jahit
agar bisa berfungsi secara optimal saat digunakan mencakup beberapa hal
seperti yang diuraikan berikut ini.
Cara Pemeliharaan Mesin Jahit

18

1.

Membersihkan debu dan sisa benang


Dalam proses menjahit, debu bisa berdatangan dari luar
mesin dan juga dari serpihan benang dan kain yang sedang dijahit.
Jika dibiarkan, serpihan kain dan benang ini bisa menumpuk dan
mengganggu kelancaran jalannya mesin atau menyebabkan
macet. Guna mencegah debu pada mesin, tindakan yang harus
diambil adalah sebagai berikut.
a.
Bersihkan selalu badan mesin dari debu luar dan serpihan
benang setiap selesai menjahit dengan lap kering.
b.
Bersihkan bagian sekoci, rumah sekoci di bawah mesin
dan bagian kepala mesin dari debu dan serpihan benang
dengan menggunakan kuas kecil.

2.

Mengatur penyetelan mesin dengan baik


Pastikan tegangan benang dan setelan mesin lainnya berada
dalam posisi normal sehingga memudahkan pengoperasian
mesin jahit. Penyetelan yang baik akan sangat diperlukan untuk
menjaga posisi bagian mesin tetap pada tempatnya dan tidak
mengganggu bagian mesin lainnya.

3.

Meminyaki mesin jahit secara rutin


Mesin yang dilumasi dengan baik bisa berjalan lebih mulus
dan lebih tahan karat dibandingkan yang tidak dilumasi. Cara
melakukannya adalah dengan memberikan minyak mesin pada
titik-titik yang disarankan (tiap merek mesin mempunyai titik yang
berbeda).
Lakukan peminyakan seminggu sekali atau dua minggu
sekali. Gunakan minyak khusus dalam botol khusus untuk mesin
jahit agar tidak merusakkan mesin.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Tips meminyaki mesin jahit :


a.
Masukkan ujung botol minyak mesin ke dalam titik-titik
mesin yang disarankan diberikan dengan minyak mesin.
Berikan secukupnya karena jika berlebihan minyak hanya
akan terbuang percuma.
b.
Hindari meminyaki mesin sesaat sebelum menjahit karena
minyak bisa menodai bahan yang akan dijahit. Lakukan
proses meminyaki mesin setelah proses menjahit selesai.
c.
Sebelum mesin dipakai kembali, lakukan tes jahit tanpa
benang dengan kain perca. Sisa minyak akan terserap
pada perca.
4.

Menyimpan mesin dengan alat perawatannya dengan baik


Setelah selesai digunakan, mesin jahit yang telah dicabut
sambungan listriknya, sebaiknya diperlakukan dengan baik
yaitu dengan cara dibersihkan sisa-sisa benangnya, kabel
dinamo dan kabel sambungan listriknya digulung rapi, ditutup,
atau dimasukkan ke dalam kotaknya atau sarungnya. Terakhir,
tempatkan di tempat yang kering dan tidak mudah terjatuh.

Selain mesinnya, alat-alat bantu yang diperlukan untuk perawatan


mesin juga sebaiknya disimpan dalam tempat yang mudah dicari atau mudah
dilihat. Alat yang umumnya diperlukan adalah sebagai berikut.
a.
Obeng berukuran kecil, untuk sekoci
b.
Obeng berukuran sedang untuk bagian kepala mesin
c.
Kuas besar untuk membersihkan sisa benang
d.
Pinset panjang berukuran kecil untuk membersihkan bagian
yang sulit dijangkau
e.
Gunting kecil untuk mempermudah pemotongan benang setelah
menjahit
f.
Jarum mesin pengganti

D.

Mengatasi Masalah Sederhana pada Mesin Jahit

Demi kelancaran proses menjahit, setiap penjahit dituntut memiliki


kemampuan untuk mengatasi beragam masalah sederhana yang sering
terjadi saat menjahit. Tanpa kemampuan ini, proses menjahit akan menjadi
sangat tersendat dan kurang mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pengoperasian mesin jahit ini kerap tidak semudah dalam bayangan.
Ada saja masalah yang timbul, mulai masalah pada tegangan benang,
lompatan benang yang tidak teratur, hingga penumpukan benang di salah
satu permukaan jahitan.

19

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Berikut ini beberapa saran solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi
masalah sederhana yang sering terjadi saat penjahitan.
Masalah 1: Mesin jahit tidak lancar dan berisik
Penyebab: S ala h sa tu p e n yeba b n y a a d a la h k u ra n g n y a min y a k
pelumas pada mesin jahit. Selain itu, pelumas yang digunakan tidak
bermutu baik. Adanya benang-benang yang lepas menyangkut pada mesin
dan penumpukan debu dan sisa serat kain pada gigi mesin juga menjadi
penyebab.
Solusi: Berikan minyak pelumas pada throat plate (penutup gigi)
dengan pelumas yang berkualitas baik. Bersihkan mesin dari serat-serat
kain dan benang yang tertinggal dengan kuas atau sikat.
Masalah 2 : Benang jahitan atas sering putus
Penyebab: Salah satu penyebabnya adalah benang jahit menyangkut
karena menjahit dengan arah yang salah. Memasang jarum tidak tepat
pada tempatnya menyebabkan jarum cepat tumpul atau bengkok sehingga
ketegangan benang menjadi terlalu besar. Benang terlalu kasar atau terlalu
halus yang tidak sesuai dengan jenis kain yang digunakan juga menjadi
penyebab.
Solusi: (1) Ganti jarum dengan jenis yang baik. (2) Sesuaikan nomor
benang dengan nomor jarum yang akan digunakan. (3) Setel kembali rumah
sekoci dan kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan
dengan benang jahit bawah. (4) Tarik kain kearah belakang mesin jahit.

20

Masalah 3 : Benang jahit bawah sering putus


Penyebab: Benang jahit tidak rapi digulung pada spull atau kumparan,
tegangan benang pada sekoci (bob bin case) terlalu besar, benang tidak
sempurna lewat rumah sekoci, dan banyak debu terdapat pada mekanisme
mesin.
Solusi: (1) Bersihkan bagian mekanisme mesin. (2) Garis tengah
sekoci harus rata secara keseluruhan sehingga benang lewat pada arah
yang seharusnya. (3) Kurangi ketegangan benang dan sesuaikan dengan
tegangan benang atas.
Masalah 4 : Benang sering putus
Penyebab: (1) Jarum tidak pada tempatnya sehingga sering mengenai
hook dan menyebabkan jarum tumpul. (2) Jenis jarum tidak sesuai dengan
kain yang digunakan. (3) Setelah selesai menjahit kain ditarik kearah yang
salah.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Solusi: 1) Ganti jarum dengan yang tajam dan pasang pada tempat
yang tepat. (2) Sesuaikan antara benang jahit, jarum, dan kain. Semakin
tebal kain, makin besar pula ukuran jarumnya. (3) Setelah selesai menjahit,
kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan antara benang
atas dan benang bawah jahitan.
Masalah 5: Jerat benang mengerut
Penyebab: Tegangan benang terlalu kuat, benang tidak melewati jalan yang
benar, jarum terlalu besar untuk jenis kain yang digunakan, dan benang
bagian bawah tidak digulung dengan rapi.
Solusi: (1) Kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan
dengan benang jahitan bawah. (2) Sesuaikan jarum sehingga benang atas
melewati jalan yang benar. (3) Sesuaikan nomor jarum dengan bahan yang
digunakan.
Masalah 6: Jerat benang kendur
Penyebab: Tegangan benang atas terlalu kendur atau terlalu kencang,
pegas pengatur tegangan pada rumah sekoci terlalu besar, dan ukuran jarum
tidak sesuai dengan jenis kain.
Solusi: (1) Kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan
dengan benang jahitan bawah. (2) Sesuaikan tegangan benang atas dengan
benang bawah. (3) Sesuaikan antara benang jahit, jarum, dan kain yang
akan digunakan.
Masalah 7: Jalan kain tidak lancar
Penyebab: Banyak serat berkumpul di sekitar gigi penyuap dan tinggi
rendahnya gigi penyuap tidak sesuai.
Solusi: (1) Bersihkan bagian gigi penyuap, beri pelumas, kemudian
tutup kembali dengan cepat. (2) Atur mekanisme dan knop gigi penyuap.

E.

Menjaga Kerapian Area dan Alat Kerja

Tempat kerja yang terlihat rapi secara psikologis dapat memberikan


dorongan dan semangat kepada seseorang untuk melakukan kreasi. Nilai
plus lainnya dari tempat dan alat jahit yang teratur rapi adalah membuat kerja
menjadi lebih efektif dan esien serta membantu penerapan keselamatan
dan keamanan kerja yang baik.
Ada sebuah prinsip dari Jepang yang menitikberatkan pada pentingnya
penataan dan kebersihan di tempat kerja secara berkesinambungan. Prinsip
ini dikenal dengan sebutan 5-S yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan

21

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

shitsuke. Prinsip ini kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia menjadi


prinsip 5-R.
1.
Ringkas
Menyusun barang-barang dan alat-alat menjahit sesuai
kelompoknya. Hal ini bisa dilakukan berdasarkan urutan tingkat
kepentingannya atau jenis alatnya. Apa pun urutannya, secara
pasti penyusunan itu bisa membuat tempat terlihat sistematis
dengan alat dan barang yang tersusun ringkas.
2.
Rapi
Simpan kembali barang di tempat yang tepat sesuai dengan
pengaturannya sehingga dapat cepat ditemukan pada waktu
yang dibutuhkan.
3.
Resik
Barang-barang, peralatan, dan lokasi kerja, ataupun lingkungan
kerja selalu terjaga dan dalam keadaan bersih.
4.
Rawat
Lakukan perbaikan alat rusak yang masih bisa diperbaiki serta
membuang jarum berkarat agar tidak memberikan reaksi pada
jarum-jarum lainnya.
5.
Rajin
Kegiatan ringkas, rapi, resik, dan rawat di atas dilaksanakan
secara disiplin sehingga tidak terasa memberatkan, bahkan
menjadi kebiasaan hidup yang positif.

22

Bekerja dengan budaya kerja 5-R ini akan mendatangkan banyak


manfaat. Selain membuat tempat kerja menjadi lebih teratur dan efesien,
melakukan pekerjaan pun menjadi lebih mudah dan menimbulkan rasa
senang.
Alat jahit yang tertata dengan rapi, secara pasti dapat memudahkan
penjahitan. Tindakan ini juga bisa membuat alat jahit bertahan lebih lama
dan pada akhirnya bisa membuat penjahit lebih berhemat.
Saat ini, cara terbaik menyimpan alat-alat jahit adalah dalam kotak
plastik transparan yang dilengkapi sekat. Nilai positif yang bisa dinikmati dari
penyimpanan yang rapi ini adalah sebagai berikut.
1.
Jarum jahit dan jarum pentul yang disimpan dalam wadah
tertutup, lebih sedikit terpapar udara. Oleh karena itu, jarum
tersebut menjadi lebih awet dan tidak cepat berkarat.
2.
Jarum yang tertata rapi akan memudahkan pemakaian sekaligus
meminimaliskan terjadinya kehilangan jarum yang secara tidak
langsung juga dapat membahayakan orang lain pada kemudian
hari jika tertusuk.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

3.

Warna benang yang disimpan dalam tempat tertutup, lebih


bertahan lama dan tidak cepat pudar. Selain itu, benang yang
disimpan secara terbuka lebih cepat menjadi rapuh karena
terpapar udara dan debu rumah.

RANGKUMAN
1.

2.
3.

4.

5.

6.

7.

Persiapan yang dilakukan dan pengetahuan yang perlu dimiliki


seseorang sebelum mulai menjahit adalah:
a.
mempersiapkan tempat kerja yang nyaman sesuai dengan
standar kesehatan dan keselamatan kerja (K-3);
b.
melakukan penyetelan jahit;
c.
melakukan pemeliharaan mesin jahit;
d.
mengatasi masalah sederhana pada mesin jahit;
e.
menjaga kerapian area dan alat kerja.
Tempat kerja yang nyaman bisa diusahakan dengan menerapkan
prinsip ergonomi atau keserasian antara manusia, mesin, dan
lingkungan kerjanya.
Penerapan K-3 adalah prioritas utama dari sebuah proses
pekerjaan. Hal-hal yang bersangkutan dengan K-3 tertuang
dalam SOP yang dibuat oleh pemilik kursus, mengikuti standar
yang ditentukan oleh undang-undang yang ditetapkan oleh
negara.
Setelan mesin yang terjaga dalam posisi normal akan
memudahkan pengoperasian mesin jahit. Penyetelan yang baik
akan sangat diperlukan untuk menjaga posisi bagian mesin tetap
pada tempatnya dan tidak mengganggu bagian mesin lainnya.
Pemeliharaan mesin dengan baik dapat dilakukan dengan cara
membersihkan debu dan sisa benang, memastikan penyetelan
mesin yang baik, meminyaki mesin dengan teratur, dan
menyimpan alat dengan baik.
Penyimpanan mesin dengan baik setelah selesai digunakan
dapat dilakukan dengan cara membersihkan sisa-sisa benang
sisa jahitan, kabel dinamo, dan kabel sambungan listriknya
digulung rapi, ditutup atau dimasukkan dalam kotaknya atau
sarungnya, serta ditempatkan di tempat yang kering dan tidak
mudah terjatuh.
Sebuah prinsip dari Jepang yang menitikberatkan pada
pentingnya penataan dan kebersihan di tempat kerja secara
berkesinambungan, dikenal dengan sebutan 5-S yaitu seiri,
seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke. Prinsip ini kemudian
diadopsi dalam bahasa Indonesia menjadi prinsip 5-R.

23

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

EVALUASI
1.
2.
3.
4.
5.

24

Sebutkan manfaat dari melakukan perawatan mesin dengan


baik!
Bagaimana cara merapikan mesih setelah selesai digunakan?
Bagaimana mengatasi masalah jerat benang yang kendur saat
menjahit?
Hal apa saja yang perlu diketahui sebagai persiapan menjahit?
Sebutkan beberapa contoh dari SOP yang dibutuhkan untuk
kesehatan kerja!

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

BAB III

MEMILIH TEKNIK MENJAHIT

Saat melakukan proses menjahit, seseorang secara pasti akan


melakukan dua tahapan menjahit, yaitu menjahit dengan tangan dan
menjahit dengan mesin. Dua tahapan ini dilakukan karena pada bagianbagian tertentu penggunaan mesin jahit tidak bisa dilakukan.
Tahapan menjahit dengan mesin adalah penjahitan pada bagian utama
potongan bahan dari busana. Biasanya bagian busana itu berbidang luas
atau terdapat di bidang yang lurus dari busana. Kebalikan dari penjahitan
dengan mesin, penjahitan dengan tangan kebanyakan dilakukan saat
penyelesaian busana, yang mencakup bidang-bidang sempit, kecil, atau
memerlukan ekstra kehati-hatian.
Dalam pengerjaan penjahitan, baik yang dilakukan dengan mesin
ataupun dengan tangan, setiap penjahit akan bertemu dengan istilah kampuh
dan tusuk dasar menjahit. Kedua istilah yang merupakan pengetahuan dasar
yang harus dimiliki seseorang sebelum mulai menjahit itu akan diuraikan
pula dalam bab ini.

A.

Teknik Menjahit dengan Mesin

Proses menjahit dengan mesin dilakukan untuk menyambungkan


bagian-bagian utama dari potongan busana. Pemasangan bagian sisi
busana, bagian lengan, bagian pipa celana, dan bagian pinggang adalah
contoh bagian yang bisa dikerjakan dengan jahitan mesin. Untuk lebih
jelasnya, berikut adalah rincian dari bagian busana yang dijahit dengan
mesin.
1.
Pemasangan Bagian yang Lurus dari Busana
Bagian sisi busana yang lurus biasanya adalah bagian
yang terpanjang dari suatu potongan bahan yang telah digunting.

25

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Bidangnya luas dan lurus. Penjahitannya dilakukan cukup


mudah, yaitu dengan menggabungkan dua sisi bahan depan
dan belakang, kemudian jahit dari arah buruk kain.
Bagian yang dijahit seperti ini biasanya terdapat pada sisi
blus, sisi lengan, sisi celana, sisi rok, dan bagian lurus lainnya,
seperti bagian depan busana dan bagian kupnat.
2.

Pemasangan Lengan
Sesuai dengan teknik penjahitannya, ada tiga bentuk lengan
yang berbeda teknik pemasangannya yaitu lengan dengan
kerung lengan, lengan raglan, dan lengan setali.
a.
Lengan dengan kerung lengan
B entu k lengan ini me mp u n y a i g a ris d e s a in y a n g
melingkari pangkal lengan. Bentuknya beragam, di
antaranya lengan licin lengan kop dan lengan poff.

Gb. 1 Lengan Licin


(sumber : Amelia Prihanto)

26

Lengan Licin
Lengan dengan bentuk
lingkar kerung lengan
tanpa kerutan

Gb. 2 Lengan Kop


(sumber : Amelia Prihanto)

Lengan Kop
Bentuk lengan dengan
kerutan pada puncak
(atas) kerung lengan

Gb. 3 Lengan poff


(sumber : Amelia Prihanto)

Lengan poff
Lengan yang mempunyai
kerutan pada lingkar
bawah lengan

b.

Lengan raglan
Lengan raglan adalah jenis lengan
yang tidak mempunyai lingkar kerung
lengan, tetapi mempunyai garis serong
dari leher sampai ketiak (sisi badan)
Gb. 4 Lengan raglan
pada bagian muka maupun bagian
(sumber : Amelia Prihanto)
belakang busana.

c.

Lengan setali
Lengan setali adalah lengan yang
tidak mempunyai lingkar kerung
lengan dan dibuat menyatu dengan
badan.

Gb. 5 Lengan setali


(sumber : Amelia Prihanto)

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

3.

Pemasangan Kerah
Kerah merupakan salah satu penyelesaian pinggir pakaian
yang dipasangkan pada leher dengan jahitan mesin. Kerah itu
sendiri mempunyai bermacam-macam bentuk, desain, dan
ukuran. Beberapa contoh kerah yang banyak digunakan adalah
sebagai berikut.
Kerah rebah

Kerah kemeja

Kerah rebah adalah kerah yang


dibentuk menempel pada busana.
Kerah ini disebut juga kerah baby
karena banyak dipakai untuk
busana bayi dan busana anakanak.

Kerah kemeja mempunyai dua


bagian kerah, yaitu kerah bord
(kerah mandarin) yang berfungsi
sebagai penegak kerah dan kerah
setengah berdiri sebagai bagian
pelengkapnya.

Gb. 6 Kerah Rebah


(sumber : Amelia Prihanto)

Gb. 7 Kerah Kemeja


(sumber : Amelia Prihanto)

Kerah setali

Kerah shiller

Kerah setali (shawl collar) adalah


kerah yang dikontruksi sejalan
dengan pola bagian depan dan
dijahit menyatu dengan badan.
Garis luar kerah umumnya dibuat
melengkung walaupun ada juga
yang dibentuk seperti kerah jas
atau seperti kerah baju pramuka.

Kerah shiller adalah kerah yang


mempunyai dua bagian. Kelepak di
bagian bawah dibentuk dari bagian
lipatan tengah muka belahan busana
dan kelepak kedua ditambahkan
dengan pola terpisah.

Gb. 8 Kerah Setali


(sumber : Amelia Prihanto)

Gb. 6 Kerah Shiller


(sumber : Amelia Prihanto)

27

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

28

4.

Pembuatan Belahan Busana


Satu lagi bagian busana yang dijahit dengan mesin adalah
belahan busana. Belahan busana adalah guntingan pada pakaian
yang berfungsi untuk memudahkan membuka dan menutup
pakaian. Bagian itu juga bisa berfungsi untuk hiasan atau variasi
pada pakaian karena pada belahan nantinya akan dilengkapi
dengan kancing/penutup belahan.
Beberapa jenis belahan yang biasa digunakan dalam
busana adalah sebagai berikut.
a.
Belahan Langsung
Belahan langsung adalah belahan dan lapisan
belahan yang dibuat sejalan dengan pola bagian badan.
Pola belahan ini umumnya dipakai untuk blus, kemeja, dan
gaun di tengah muka atau di tengah belakang.
b.
Belahan berlapis
Belahan berlapis adalah belahan yang dilapisi dengan
kain. Belahan yang dilapisi ini ada beberapa macam,
yaitu belahan satu lajur, belahan dua lajur, belahan kumai
serong, dan belahan yang dilapis menurut bentuk.

5.

Pemasangan Tutup Tarik (Ritsleting)


Tutup tarik adalah salah satu istilah yang digunakan untuk
menyebut ritsleting. Fungsi utama dari tutup tarik adalah untuk
memudahkan membuka dan memakai pakaian serta untuk
menambah keindahan pakaian.
Pemasangan tutup tarik pada busana dilakukan dengan
jahitan mesin. Setiap pemasangan tutup tarik akan memerlukan
alat utama, yaitu sepatu mesin khusus dan belahan busana
khusus. Belahan ini umumnya dipakai pada bagian tengah
belakang rok, gaun, baju kurung, celana, dan sebagainya.

Gb. 10 Pemasangan tutup tarik


(sumber : www.april 1930s.com)

Jika dilihat dari teknik pemasangannya, tutup tarik bisa


dibedakan menjadi beberapa jenis berikut.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

a.
b.
c.
d.
6.

Tutup tarik simetris


Tutup tarik asimetris
Tutup tarik tersembunyi (tertutup)
Tutup tarik celana

Pembuatan Rumah Kancing


Kancing dan rumah kancing adalah bagian busana yang
dipakai sebagai penutup bagian busana yang terdiri atas dua
lapis yang bertumpukan, yaitu bagian kiri dan kanan busana.
Ada tiga macam rumah kancing yang biasa digunakan
dalam pembuatan busana, yaitu rumah kancing biasa, rumah
kancing passpoille (kumai serong), dan rumah kancing sengkelit.
Posisi rumah kancing ada yang memanjang dan ada yang
melebar/membujur, bergantung pada jenis belahannya. Belahan
yang pelapisnya mengarah ke dalam, rumah kancingnya dibuat
melebar. Adapun, belahan yang pelapisnya mengarah keluar
atau belahan yang memakai serip, letak lubang kancingnya
dibuat membujur.
Biasanya busana wanita menggunakan rumah kancing di
sebelah kanan dan kancing baju terletak di sebelah kiri. Adapun
untuk pria adalah kebalikannya.

Gb. 11 Rumah kancing


(sumber : www.wikipedia.org)

B.

Kampuh Dasar

Dalam proses menjahit dengan mesin jahit, seseorang akan menemukan


istilah kampuh. Kampuh adalah bagian yang disisakan pada sisi kain
yang akan dijahit.
Kampuh dipersiapkan sejak peletakan pola di atas kain untuk kemudian
digunting. Kampuh dibentuk dengan tujuan untuk mencegah jahitan terlepas
karena tiras kain yang terbuka.
Jenis dari kampuh itu sendiri mempunyai nama khusus yang
disesuaikan dengan teknik penyelesaiannya. Beberapa jenis kampuh yang
umum digunakan dalam menjahit busana adalah seperti yang diuraikan
berikut ini.

29

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

1.

Kampuh Terbuka
Kampuh terbuka adalah kampuh yang sisa sambungannya
dibiarkan terbuka dan tiras kainnya diselesaikan dengan beberapa
cara, yaitu dengan setik mesin, tusuk balut, obras, atau dengan
kain serong (rompok). Sementara itu, untuk pemakaiannya,
kampuh terbuka digunakan pada bagian busana yang relatif
lurus, seperti sisi badan, bahu, sisi lengan, sisi rok, dan sisi
celana.

Gb. 12 Kampuh Terbuka


(sumber : Amelia Prihanto)

2.

Kampuh Balik/Kampuh Prancis


Kampuh balik adalah kampuh yang dapat menyembunyikan
tiras kain dengan baik ke dalam lipatan kampuh. Kampuh balik
sangat cocok digunakan untuk menjahit kebaya atau gaun yang
dibuat dari bahan tipis, serta menjahit kemeja atau pakaian
tidur.

30
Gb. 13 Kampuh Balik
(sumber : Amelia Prihanto)

3.

Kampuh Pipih
Kampuh pipih adalah kampuh yang mempunyai bekas jahitan
pada satu sisi sebanyak dua setikan dan sisi yang sebelahnya
memiliki satu setikan. Kampuh ini bisa dipakai untuk dua sisi
dan biasa digunakan untuk menjahit kain sarung, kemeja, celana,
jaket, pakaian bayi, dan sebagainya.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Gb. 14 Kampuh Pipih


(sumber : Amelia Prihanto)

4.

Kampuh Sarung
Kampuh sarung adalah kampuh yang tampak sama pada kedua
sisinya. Kampuh sarung ini sangat berguna untuk menjahit kain
dalam motif kotak-kotak karena dapat memberikan kesempatan
untuk menyamakan garis pada motif pada saat penjahitannya.

Gb. 15 Kampuh Sarung


(sumber : Amelia Prihanto)

C.

Teknik Menjahit dengan Tangan

Dalam menjahit busana, proses menjahitnya tidak bisa selalu menggunakan


mesin jahit. Ada bagian-bagian tertentu pada busana yang hanya bisa
dilakukan dengan jahitan tangan. Jahitan tangan yang dihasilkan tentunya
harus sesuai dengan harapan, yaitu rapi dan berkualitas.
Untuk membuat jahitan tangan yang rapi dan berkualitas, seorang
yang akan menjahit harus menguasai teknik dasar menjahit dengan tangan.
Teknik jahitan dasar ini nantinya akan digunakan sesuai dengan kebutuhan
busana yang akan dijahit.
Bagian-bagian busana yang harus dijahit dengan tangan adalah
sebagai berikut.
1.
Bagian Tepi Kain (Kelim)
Kelim atau pinggiran bawah busana, bisa diselesaikan dengan
beberapa teknik kelim yang bervariasi. Untuk bagian bawah
busana lebar kelim berkisar dari 1 s.d. 5 cm. Supaya hasil
yang didapatkan lebih indah dan bagus, kelim kebanyakan
dikerjakan dengan tangan. Berikut ini adalah beberapa jenis
kelim yang biasa digunakan dalam penjahitan busana.

31

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

a.
b.
c.
d.
e.

32

Kelim dengan sum


Kelim Sumsang
Kelim Tusuk annel
Kelim yang dirompok (dibungkus)
Kelim palsu

2.

Depun, Serip dan Rompok


Teknik menjahit depun, serip, dan rompok pada umumnya
dipakai untuk penyelesaian bagian leher dan kerung lengan.
a.
Depun adalah lapisan menurut bentuk yang letaknya ke
dalam.
b.
Serip adalah lapisan menurut bentuk atau kain serong
yang hasil lapisannya menghadap keluar.
c.
Rompok adalah penyelesaian pinggir pakaian dengan
menggunakan kumai serong atau bisban.

3.

Kancing
Posisi pemasangan kancing hendaklah tepat di garis tengah
muka atau tengah belakang. Oleh karena itu, untuk belahan
biasa yang sudah dilebihkan lidah belahannya 2 atau 1,5 cm,
jelujur terlebih dahulu tepat pada garis tengah muka atau tengah
belakang, agar tepat.
Kancing berfungsi untuk mengancingkan belahan (penutup
belahan) atau juga untuk hiasan atau variasi busana. Bermacammacam bentuk dan model kancing, adalah kancing lubang dua,
kancing lubang empat, kancing bertangkai, kancing hias, kancing
jepret, dan kancing kait.
a.

Teknik memasang kancing dua dan empat lubang


Teknik pemasangan kancing dua lubang dilakukan
dengan membuat garis sesuai dengan arah lubang.
Pada busana wanita umumnya garis dibuat horizontal,
sedangkan pada busana pria garis benang dibuat vertikal.
Untuk kancing berlubang empat, jahitan kancing dapat
dibuat dengan dua garis sejajar atau garis silang di atas
kancing.
Saat menjahit kancing, selalu siapkan sedikit
kelonggaran benang yang akan dijadikan tangkai di
bawah kancing.

b.

Teknik menjahit kancing bertangkai


Cara memasangnya adalah dengan membuat tusuk pada
tanda tempat kancing, kemudian membuat empat sampai
lima tusukan, dan terakhir memberikan tusukan penguat.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

c.

d.

D.

Teknik menjahit kancing detik


Kancing detik (kancing jepret) dipasangkan di busana
dengan bantuan tusuk balut atau dengan tusuk feston.
Setiap rumah kancing dibuat 4 sampai 5 kali tusukan
dengan mengusahakan tusukan tidak tembus ke luar.
Teknik menjahit kancing kait
Biasanya kancing kait terdiri atas dua bagian, yaitu kaitan
dan matanya. Memasang kancing kait ini diselesaikan
dengan tusuk feston atau tusuk balut.

Tusuk Dasar Menjahit

Sebelum ditemukannya mesin jahit modern, manusia menjahit dengan


alat jahit tangan. Saat itu, jenis jalinan benang yang digunakan dibuat sesuai
kebutuhan.
Saat ini jahitan utama sudah dilakukan dengan menggunakan mesin.
Hal ini secara langsung membuat beragam tusuk jahitan berubah fungsi
hanya menjadi tusuk hias atau jahitan bantuan saja.
Akan tetapi, pada dasarnya untuk mahir menjahit, seseorang haruslah
menguasai macam-macam tusuk dasar yang sering digunakan dalam
menjahit.
Macam tusuk dasar dalam menjahit adalah sebagai berikut.
1.

Tusuk Jelujur

33
Gb. 16 Tusuk Jelujur
(sumber : Amelia Prihanto)

Tusuk jelujur adalah jahitan berbentuk garis yang dibuat


dengan cara menusukkan jarum dari kanan ke kiri. Kegunaan
tusuk jelujur adlah untuk membuat jahitan menjadi sempurna.
Tusuk jelujur dapat dibedakan menjadi tiga bentuk.
a.
Tusuk jelujur biasa adalah tusukan yang menggunakan
jarak tidak selalu harus sama.
b.
Tusuk jelujur dengan jarak tertentu adalah tusukan dengan
jarak yang sama (konsisten). Tusuk ini berguna untuk tusuk
sementara pada saat membuat smoock.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

c.
2.

Tusuk jelujur renggang adalah tusukan jelujur yang


digunakan untuk memindahkan garis pola ke atas kain.

Tusuk Tikam Jejak

Gb. 17 Tusuk Tikam Jejak


(sumber : Amelia Prihanto)

Tusuk tikam jejak adalah tusuk jahitan dengan bentuk


jika dilihat dari bagian atas tusuknya kelihatan seperti jahitan
mesin dan apabila dilihat dari bagian bawah tusuknya seperti
jahitan rangkap. Tusuk ini adalah tusuk yang digunakan sebagai
pengganti jahitan mesin.
Jarak tusukan bagian bawah dua kali jarak tusukan bagian
atas. Teknik menjahitnya adalah dengan langkah maju sebelum
melangkah mundur ke belakang dengan jarak yang sama. Tusuk
tikam jejak berguna untuk pengganti mesin jahit.
3.

Tusuk Flanel

34
Gb. 18 Tusuk Flannel
(sumber : Amelia Prihanto)

Tusuk anel biasa digunakan untuk mengelim pinggiran


busana yang diobras. Tusuk anel sering digunakan, terutama
untuk busana yang dibuat dari bahan yang harganya mahal. Di
samping itu, tusuk anel juga dapat digunakan sebagai hiasan,
sebagai tusuk dasar dan sulaman bayangan. Untuk sulaman
bayangan dengan jarak yang lebih rapat (dirapatkan) dan dapat
juga mengikuti motif dekorasi.
Caranya, jelujur kain yang sudah diobras 3 - 4 cm langkah

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

tusukannya mundur 0,75 cm, turun ke bawah, tusuk jarum ke


kanan, selanjutnya mundur lagi 0,5 cm, tusuk lagi ke atas seperti
tusukan pertama, demikian seterusnya sampai selesai.
Untuk mendapatkan hasil tusukan yang halus pada
bagian bawah busana (pada rok) atau di mana pun tusuk anel
digunakan, lakukan dengan halus/tipis ketika menusukkan jarum
ke bahan busana. Dengan demikian, hasil yang didapatkan juga
halus dan tipis apabila dilihat dari bagian balik (bagian buruk
busana).
4.

Tusuk Feston

Gb. 19 Tusuk Feston


(sumber : Amelia Prihanto)

Tusuk feston berfungsi untuk penyelesaian tiras seperti


tiras lingkar kerung lengan atau pada pinggiran pakaian bayi.
Tusuk feston juga dapat berfungsi sebagai hiasan apabila benang
yang digunakan adalah benang hias atau benang sulam dengan
kombinasi warna yang serasi.
Cara membuat tusuk feston dimulai dengan membuat
penahan benang pada ujung benang. Tusukkan dari permukaan
kain yang buruk, tarik ke bagian depan. Arahkan benang ke arah
kanan, kemudian tusukkan jarum pada titik di bawah titik awal
dan keluarkan jarum sejajar titik awal jahitan. Pastikan benang
dari titik awal berada di bagian bawah jarum.
5.

Tusuk Balut

Gb. 20 Tusuk Balut


(sumber : Amelia Prihanto)

35

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tusuk balut berfungsi untuk menyelesaikan tiras pada kampuh


untuk keliman busana. Tusuk balut juga dapat digunakan untuk
penyelesaian pinggir teknik aplikasi serta pemasangan kancing
kait dan kancing detik.
Teknik menjahitnya dimulai dari kiri ke kanan atau
sebaliknya kanan ke kiri kesan benang dari tusukan balut agak
miring.
6.

Tusuk Batang

Gb. 21 Tusuk Batang


(sumber : Amelia Prihanto)

Walaupun penggunaannya lebih sering digunakan sebagai


tusuk hiasan pada busana, tusuk batang bisa menjadi alternatif
untuk membuat jahitan lurus.
Cara menjahitnya adalah dengan langkah mundur (dari
atas ke bawah). Tusukan pertama jarum diarahkan dari bawah
ke atas kain, kemudian dengan jarak sekitar 0,5 cm ke bawah,
jarum ditusukkan ke bawah dan dikeluarkan ke titik pertama
jarum ditusukkan. Lakukan seterusnya secara memanjang
hingga menyerupai batang.

36
7.

Tusuk Rantai

Gb. 22 Tusuk Rantai


(sumber : Amelia Prihanto)

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Tusuk rantai adalah jahitan dengan bentuk menyerupai


rantai. Tusuk ini biasa dipakai sebagai tusuk hias walaupun
sekarang tusuk ini juga sudah digunakan sebagai pengganti
jahitan lurus pada mesin. Contohnya adalah garmen yang
memproduksi kemeja dan celana jeans.
Pengerjaan tusuk ini dilakukan dengan langkah maju,
bisa dari kanan ke kiri atau dari bawah ke atas. Pertama, jarum
dimasukkan dari bawah ke atas, kemudian lingkarkan sisa
benang ke arah atas, dari kiri ke kanan. Selanjutnya tusukkan
kembali jarum pada titik awal dan langsung arahkan ke titik
berikutnya di bagian atas titik awal.
8.

Tusuk Silang

Gb. 23 Tusuk Silang


(sumber : Amelia Prihanto)

Tusuk silang ini lebih banyak digunakan sebagai tusuk


hiasan. Tusuk silang merupakan tusuk utama pada gambar di
atas kain strimin.
Teknik pengerjaannya dilakukan dari arah kiri ke kanan
dengan cara membuat tusukan awal di pojok kiri atas garis
silang yang akan dibuat. Beri jarak dan masukkan jarum di titik
kanan bawah yang dilanjutkan ke titik kanan atas silang. Secara
otomatis akan terbentuk satu silang. Lanjutkan mengerjakan
seperti ini hingga ke garis akhir gambar, kemudian buatlah silang
dengan arah sebailknya.

RANGKUMAN
1.
2.

Saat menjahit, seseorang secara pasti akan melakukan dua


tahapan menjahit, yaitu tahap menjahit dengan mesin dan tahap
menjahit dengan tangan.
Menjahit dengan mesin dilakukan pada bagian utama dari
potongan busana, seperti berikut.
1.
Bagian yang lurus dari busana
2.
Lengan
3.
Kerah

37

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

3.
4.

5.

6.

38

4.
Belahan busana
5.
Tutup tarik
6.
Rumah kancing
Dalam menjahit dengan mesin, seseorang akan mengenal istilah
kampuh, yaitu bagian yang disisakan di sisi kain yang akan
dijahit.
Jenis kampuh yang banyak digunakan dalam menjahit antara
lain sebagai berikut.
1.
Kampuh terbuka
2.
Kampuh balik/ kampuh Perancis
3.
Kampuh pipih
4.
Kampuh sarung
Tahapan menjahit dengan tangan dilakukan untuk menyelesaikan
bagian busana yang telah dijahit dengan mesin. Bagian-bagian
tersebut adalah
1.
tepi kain (kelim);
2.
depun, serip dan rompok;
3.
kancing.
Dalam tahapan menjahit dengan tangan, seseorang akan
memerlukan pengetahuan dan keterampilan jenis jahitan tangan.
Dalam buku ini, jenis tusuk dasar yang diperkenalkan adalah
sebagai berikut.
1.
Tusuk Jelujur
2.
Tusuk Tikam jejak
3.
Tusuk Flanel
4.
Tusuk Feston
5.
Tusuk Balut
6.
Tusuk Batang
7.
Tusuk Rantai
8.
Tusuk Silang

EVALUASI
1.
2.
3.
4.
5.

Saat memasang kancing kait dan kancing hak, jenis tusuk jahitan
apakah yang sebaiknya digunakan?
Saat menjahit kain bermotif kotak-kotak besar, kampuh apa yang
paling sesuai digunakan?
Penyelesaian apa yang bisa digunakan untuk mengatasi tiras
kain pada kampuh terbuka?
Bagian apa sajakah dari busana yang diselesaikan dengan
jahitan mesin?
Bagian apa sajakah yang diselesaikan dengan jahitan tangan?

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

BAB IV

PENGEPASAN (FITTING)

Pengepasan busana atau juga dikenal dengan tting, adalah suatu


tahapan dalam membuat busana yang dilakukan dengan cara memasangkan
busana setengah jadi kepada orang yang akan dibuatkan busananya.
Tujuan tting adalah untuk menghindari kesalahan lebih lanjut dalam proses
pengerjaan dan juga untuk membuat busana terasa nyaman digunakan dan
lebih sesuai dengan keinginan.
Proses tting dimulai dengan memasangkanbagian badan, lengan
dan kupnat busana yang telah dijahit. Selanjutnya adalah melakukan
pemeriksaan terhadap ketepatan jahitan dan ukuran yang diinginkan. Fitting
kebaya dan baju pesta memerlukan ketelitian lebih banyak karena desain
yang diinginkan adalah pas badan. Sementara itu, tting untuk tunik akan
lebih mudah karena desain yang diinginkan adalah longgar.
Setelah memeriksa bagian yang terlihat memerlukan revisi, bagian
tersebut perlu diberi tanda khusus. Memberi tanda pada hasil tting, bisa
dilakukan dengan cara menggunakan sematan jarum pentul. Jika ingin
lebih baik lagi, penandaan tting bisa dilakukan dengan cara membuat
jahitan jelujur sementara pada busana.
Karena tting sangat bersifat personal, pengepasannya tidak bisa
digantikan oleh orang lain. Ukuran tubuh tiap orang berbeda, demikian juga
dengan keinginan si pemesan busana.

A.

PERSIAPAN

Agar proses tting berjalan lancar, pembuat busana sebaiknya melakukan


persiapan yang cukup. Idealnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh pembuat busana, mulai dari persiapan busana, tempat, hingga
alat-alat yang diperlukannya. Berikut adalah penjelasan lebih jauh mengenai
hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam proses tting.

39

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

1)

2)

3)

40

B.

Tiras kain
Fitting dilakukan setelah bagian kain dari pola telah disambungkan
sehingga sudah berbentuk busana. Tepi kain yang belum diobras
atau ditutup bisban, bisa jadi akan mengganggu proses tting
karena tepi kain yang terlepas bisa mengurangi keleluasaan
proses tting dan juga bisa memengaruhi ukuran kampuh yang
telah disiapkan karena adanya benang-benang yang terlepas
dari tiras kain.
Tempat
Ruangan tting yang dibutuhkan kali ini berbeda dengan ruang
tting di departement store yang kecil. Besar ruangan setidaknya
bisa memuat dua orang dengan posisi kedua lengan pemesan
busana dalam kondisi direntangkan. Selain itu, lantai ruang
tting haruslah bersih, memiliki penerangan yang cukup, serta
mempunyai cermin panjang yang bisa memperlihatkan tampilan
seluruh tubuh pemesan busana tanpa terpotong. Ruang tting
bahkan akan menjadi lebih baik jika memiliki beberapa cermin
sekaligus sehingga pemesan busana bisa melihat seluruh bagian
busana dari berbagai sisi.
Alat
Jarum pentul panjang, bantalan jarum, jarum jahit, benang jahit,
meteran, buku ukuran, dan alat tulis adalah beberapa alat yang
dibutuhkan untuk tting yang sempurna.
Jarum pentul panjang digunakan memberi tanda pada revisi
atau koreksi busana. Pilihlah yang memiliki ketajaman yang baik
dan bagian kepala jarum yang bulat sehingga mudah digunakan.
Jarum pentul ini kemudian ditusukkan di atas bantalan jarum
yang telah diberi karet sehingga bisa dilingkarkan ke pergelangan
tangan pembuat busana.
Buku ukuran dan meteran digunakan untuk memastikan
busana yang dibuat sudah sesuai dengan pesanan atau untuk
mencatat perbaikan yang harus dilakukan sesuai penandaan
pada busana saat tting.
Jarum dan benang jahit akan diperlukan setelah penandaan
dengan jarum pentul selesai dilakukan. Busana dilepaskan
terlebih dahulu, kemudian dijahit dengan jelujur untuk selanjutnya
di-tting kembali di tubuh pemesan busana.

PENGEPASAN

Fitting sangat penting dilakukan untuk mendapatkan busana yang sesuai


dengan bentuk tubuh. Busana-busana yang harus pas badan, seperti kebaya,
gaun pesta, atau kemeja pas badan sering membutuhkan tting hingga

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

lebih dari sekali. Sebaliknya, busana yang didesain longgar biasanya hanya
memerlukan sekali tting.
Proses tting dimulai dengan memasangkan busana setengah jadi
kepada pemesannya. Selanjutnya, dilihat apakah busana sudah sesuai
dengan ukuran tubuh atau belum. Jika masih ada yang kurang pas, lakukan
evaluasi dengan memberi jarum pentul di bagian yang perlu dikoreksi.
Untuk busana yang memerlukan bentuk sangat pas badan, sebaiknya
langsung lakukan koreksi jahitan dengan tangan. Lepaskan busana kemudian
jahit dengan tangan bagian yang perlu diperbaiki. Pasangkan lagi untuk
dilakukan tting ulang. Hal ini akan mempersingkat waktu karena tidak perlu
dilakukan dua tting dalam dua waktu yang berlainan.

C.

Evaluasi Hasil Jahitan

Evaluasi dalam tting adalah melakukan pengamatan dan penilaian terhadap


hasil jahitan. Sebagai contoh, saat membuat sebuah blus pas badan,
hal penting yang perlu diberi penilaian adalah sebagai berikut:
1.
Ukuran blus di tubuh pemakainya sudah tepat.
2.
Kelonggaran blus sudah sesuai dengan desainnya.
3.
Bagian kerung lengan tidak terlalu sempit agar lengan mudah
bergerak.
4.
Tinggi kupnat tidak melebihi puncak dada
5.
Panjang lengan baju harus tepat di pergelangan tangan.
6.
Lingkaran kerah sudah nyaman, tidak terlalu ketat, dan
mencekik.
7.
Panjang blus sudah sesuai desain.
Saat melakukan pengepasan, hasil jahitan akan terlihat pas atau
kurang pas. Beberapa kesalahan dasar berikut merupakan penyebab
busana terasa tidak nyaman saat digunakan dan dilihat. Kesalahan jenis ini
tidak bisa diperbaiki melalui proses tting.
Hal-hal penyebab busana tidak terlihat bagus dan nyaman di tubuh
1.
Kesalahan pemotongan kain dengan arah serat yang tidak benar
yaitu arah serat melintang (horizontal). Secara umum arah serat
kain yang baik dan jatuhnya bagus di atas tubuh adalah arah
yang membujur (vertikal) atau diagonal. Arah serat kain yang
melintang membuat jatuh kain terlihat aneh dan tidak luwes,
bahkan saat pengepasan.
2.
Penggabungan kain yang kurang benar. Misalnya jarak kampuh
terlalu kecil atau terlalu lebar dan meleset dari garis pola.
3.
Kesalahan pola yang terjadi karena kurangnya keterampilan
membuat pola.

41

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

D.

Revisi Hasil Evaluasi Fitting

Revisi adalah melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi yang telah


dilakukan sebelumnya. Masih mengambil contoh tting pada blus ukuran
pas badan, dari tujuh hal yang dievaluasi, jika diperlukan revisi, buatlah
catatan dengan cara berikut:
1.
Tuliskan catatan untuk hasil evaluasi yang tidak bisa ditandai
langsung di blus, seperti bagian untuk
a.
menambah panjang blus atau lengan yang kurang
panjang;
b.
menambah lingkar kerung lengan yang terlalu sempit.
2.

42

Berikan tanda dengan jarum pentul di bagian yang bisa ditandai


langsung seperti revisi berikut.
a.
Jika terlalu longgar, beri tanda di bagian sisi kanan dan
kiri.
b.
Jika bagian pinggang kurang membentuk pinggang,
beri tanda di bagian kupnat untuk ditambahkan besar
kupnatnya.
c.
Jika lingkar leher blus terlalu tinggi, beri tanda dengan
jarum pentul yang disematkan melingkar sesuai dengan
ukuran yang dikehendaki.
Setelah revisi dilakukan, langkah selanjutnya adalah membuat revisi
menjadi permanen dengan jahitan mesin. Lakukan dengan teliti.
Hal penting saat merevisi busana adalah sebagai berikut.
1.
Saat membongkar jahitan yang salah dengan pendedel, bongkar
jahitan lama dengan sabar, jangan ditarik dengan keras karena
bisa menyebabkan kain sobek atau berlubang.
2.
Pastikan antara jahitan baru dan lama saling terkait dan tidak
ada alur jahitan yang hilang.
3.
Pastikan revisi telah selesai sebelum melanjutkan ke proses
penyelesaian busana selanjutnya.

RANGKUMAN
1.

Fitting merupakan suatu tahapan dalam membuat busana


yang dilakukan dengan cara memasangkan busana setengah
jadi kepada orang yang akan dibuatkan busananya dengan
tujuan untuk menghindari kesalahan lebih lanjut dalam proses
pengerjaan busana dan juga untuk membuat busana terasa
nyaman digunakan dan lebih sesuai dengan keinginan.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

2.
3.

4.

Karena tting sangat bersifat personal, pengepasannya tidak bisa


digantikan oleh orang lain. Ukuran tubuh tiap orang itu berbeda,
demikian juga dengan keinginan si pemesan busana.
Tiga tahapan penting saat tting adalah
a.
persiapan dan pengepasan;
b.
evaluasi; dan
c.
revisi hasil evaluasi.
Kesalahan yang membuat busana tidak nyaman digunakan dan
tidak bagus dilihat saat tting adalah:
a.
kesalahan potong dengan serat kain yang tidak sesuai;
b.
penggabungan kain yang tidak benar; dan
c.
kesalahan pola.

EVALUASI
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan tting?


Bagian busana mana saja yang paling penting diperhatikan saat
melakukan evaluasi jahitan busana?
Hal apa saja yang membuat busana terlihat kurang bagus dilihat
saat tting?
Bagaimana cara merevisi bagian pinggang yang kurang pas
badan?
Sebutkan 3 alat penting yang digunakan untuk melakukan
tting!

43

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB V

PRESENTASI HASIL JAHITAN

Mempresentasikan hasil jahitan adalah usaha yang dilakukan untuk


menampilkan hasil jahitan dalam kondisi terbaiknya. Usaha-usaha yang perlu
dilakukan untuk mencapai kondisi terbaiknya adalah dengan melakukan
penyetrikaan (pressing), pelipatan dan pengemasan yang baik.
Ketiga hal ini menjadi kesatuan yang dapat menambah kerapian dan
keindahan busana yang telah selesai dijahit, sekaligus menambah nilai dari
busana itu sendiri karena terlihat terawat dan berharga.

A.

44

Penyetrikaan (Pressing)

Produk berkualitas tinggi pastinya melalui proses yang juga berkualitas.


Salah satu proses membentuk hasil yang berkualitas adalah melakukan
penyetrikaan yang juga disebut dengan pressing.
Penyetrikaan adalah suatu proses menghilangkan kerutan pada jahitan
dan menghaluskan bekas-bekas lipatan pada kain yang tidak diinginkan
dengan bantuan alat setrika.
Pressing merupakan tahap yang tidak bisa ditinggalkan untuk
mendapatkan kesan eksklusif dari suatu jahitan. Karena selain dapat
menghilangkan kerut halus yang dihasilkan dari penyatuan dua benang yang
disatukan mesin jahit, pressing juga secara langsung akan memberikan
pengaruh yang besar pada tampilan busana. Hal ini tentunya akan
meningkatkan kualitas dan harga jual dari busana itu sendiri.
Alat Bantu Pressing
Sesuai dengan namanya, penyetrikaan atau pressing membutuhkan alat
setrika sebagai alat utama untuk melakukan tahapan pembuatan busana

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

ini. Namun, agar pelaksanaan mencapai hasil yang optimal, alat setrika tidak
bisa tidak bisa berdiri sendiri. Ia memerlukan alat lainnya. Berikut adalah alat
yang digunakan dalam melakukan tahap pressing yang baik.

Gb. 24 Bantalan Setrika


(sumber : www.missceliespants.com)

Gambar: Bantalan setrika yang paling sering digunakan: (1 s.d. 2)


pressing roll/seam roll dalam dua motif dan (3 s.d. 5) tailors ham dalam 3
macam bentuk

45
Gb. 25 Bantalan Setrika dan Point Presser
(sumber : www.fitinline.com)

1.

Setrika

Sekarang ini setrika memiliki jenis yang cukup beragam. Ada setrika
standar (konvensional) dan ada pula setrika uap. Setrika yang biasa
digunakan, mudah didapat, dan relatif lebih terjangkau harganya adalah
setrika dengan jenis standar atau konvesional. Setrika ini memiliki plat besi
dengan lapisan anti lengket di bagian bawah dan memiliki pegangan tangan
di bagian atasnya. Jenis setrika konvensional yang baik adalah yang memiliki
pengatur panas sehingga bisa disesuaikan untuk segala macam kain yang

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

bisa berbeda ketahanannya terhadap panas.


Secara fungsi, alat setrika digunakan untuk melicinkan kain dan hasil
jahitan agar terlihat lebih mulus dan rapi. Hasil terbaik untuk pressing dengan
setrika konvensional adalah panas yang tepat sesuai dengan jenis kainnya,
sedikit lembab dengan semprotan air, dan sedikit penekanan pada kain.

Gb. 26 Setrika Konvensional


(sumber : www.ca.uky.edu/hes/fcs)

2.

Sprayer

Sprayer adalah alat semprot berbentuk botol dengan alat tekan


pemompa, yang diisi air atau larutan pelicin pakaian. Fungsinya adalah untuk
membasahi kain pada bagian kampuh yang akan disetrika.
Penyemprotan dengan sprayer dilakukan secukupnya hingga kain
terasa lembap, tetapi tidak basah. Untuk penyemprotran terbaik dan tidak
kelebihan air, pilih mulut sprayer yang bisa memancar lebar, bukan yang
tertuju ke satu arah.

46

Gb. 27 Sprayer
(sumber : www.natereview.com)

3.

Tailors ham

Tailors ham adalah bantalan yang berbentuk menyerupai bulatan


kapuk yang gemuk atau sedikit bantalan melebar yang gemuk. Alat ini
digunakan untuk menyetrika area kurva, seperti kupnat/darts, jahitan-jahitan
melengkung, lingkaran kerah, dan kepala lengan baju/caps.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Gb. 28 Tailors Ham


(sumber : www.ca.uky.edu/hes/fcs)

4.

Press Roll atau Seam Roll

Alat ini berupa bantalan berbentuk panjang dan gemuk yang digunakan
untuk menyetrika semua jahitan kampuh yang terbuka. Alat ini sangat
diperlukan untuk menyetrika jahitan pada lengan baju yang sudah
disambung sisinya.

Gb. 29 Pressing Roll


(sumber : www.ca.uky.edu/hes/fcs)

5.

Point Presser

Alat ini berupa kayu yang berbentuk seperti senapan angin yang digunakan
untuk menyetrika bukaan jahitan/kampuh jahit pada lapel/kelepak, krah, dan
saku. Balok kayu penyangga dipergunakan untuk meratakan/memampat
jahitan, lipatan, kerutan serta pinggiran yang masuk/melipat, seperti krah
dan lapisan-lapisan. Balok kayu mempercepat hilangnya uap seterika.

Gb. 30 Point Presser


(sumber : www.ca.uky.edu/hes/fcs)

6.

Sleeve board

Kayu dengan bantalan yang menyerupai papan setrika mini ini digunakan
untuk menyetrika detail-detail kecil serta bukaan-bukaan sempit, seperti
pada keliman lengan dan kampuh bawah lengan.

Gb. 31 Sleeve Board


(sumber : www.ca.uky.edu/hes/fcs)

47

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahap Pressing
Selama proses pembuatan busana, tahap pressing dilakukan dua kali.
1.
Under pressing, yaitu proses pengepressan yang dilakukan
selama pembuatan busana.
2.
Top pressing, yaitu proses pengepresan yang dilakukan setelah
busana selesai dijahit.
1.

Under Pressing

Bagian-bagian yang perlu dilakukan pengepresan adalah bagian sambungan


dari potongan kain yang telah dipotong sesuai pola. Namun, untuk hasil
yang sempurna, tahap under pressing memerlukan bantuan alat bantu berupa
bantalan-bantalan keras yang berbentuk khusus.
2.

Top Pressing

Pada tahap ini busana yang sudah jadi akan disetrika secara menyeluruh.
Dengan berkonsentrasi pada bagian-bagian yang luas dari busana,
praktek yang dilakukan adalah
a.
menyetrika bagian lengan kanan dan kiri;
b.
menyetrika bagian belakang busana;
c.
menyetrika bagian depan busana.
Hal Penting dalam Pengepresan
1.

48

2.

3.
4.
5.
6.

Lakukan tes panas pada jahitan yang akan di-press. Apabila


perlu, gunakan perca kain terlebih dahulu. Gunakan panas yang
sesuai dengan kain agar tidak terjadi kerusakan.
Berikan kelembapan pada daerah yang akan di-press. Hal ini
bisa dilakukan dengan sprayer berisi air, bisa dengan katun
lembap yang ditimpa di atas kain yang akan di-press dan bisa
pula menggunakan uap (bila menggunakan setrika uap).
Pengepresan utama dilakukan dari arah dalam atau sisi buruk
busana yang dijahit. Lakukan dengan gerakan maju-mundur
agar panas merata dengan baik.
Bersihkan sisa benang dari busana yang akan di-press dan
dari atas alas setrika karena sisa benang atau kotoran dapat
meninggalkan bekas yang tidak bagus pada kain.
Hindari melakukan pressing secara berlebihan karena bisa
merubah tampilan permukaan kain.
Lakukan secara sistematis. Under pressing yang dilakukan
dengan baik dapat menghemat waktu yang diperlukan saat top
pressing.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

B.

Pelipatan

Pelipatan adalah suatu cara meringkas busana dari ukuran besar hingga
berukuran lebih kecil sehingga mudah untuk disimpan dan dipindahkan.
Proses ini dilakukan saat busana yang telah selesai dijahit akan dimasukkan
ke dalam kemasan.
Berikut adalah beberapa contoh cara pelipatan busana.
1)
Melipat gaun lengan panjang dimulai dengan membalikkan
busana sehingga bagian belakang busana berada di bagian
yang terlihat oleh pelipatnya. Selanjutnya lipat secara simetris
sisi kanan dan kiri dengan juga melipat bagian tangan panjang
ke arah belakang busana. Posisi satu lengan dibiarkan lurus
sementara satu lengan sengaja dibelokkan, untuk dilipat ke arah
depan. Lanjutkan dengan melipat dua sama panjang busana
dari bawah ke arah atas. Kemudian, lipat dua lagi sehingga
ukuran mengecil. Balik lipatan dan berikan tampilan ujung lengan
panjang sedikit di bagian depan sebagai tanda busana berlengan
panjang. Setelah selesai, masukkan ke dalam plastik kemasan
dan tutup perekatnya.
2)
Melipat kebaya dimulai dari bagian belakang kebaya yang
dihadapkan ke arah atas. Sisipkan sebuah kertas tipis kemudian
lipat simetris kedua sisi badan yang dilanjutkan dengan bagian
lengannya. bentuk lipatan kecil di bagian ujung kebaya, lalu lipat
dua sama panjang kebaya. Balikkan kebaya dan masukkan ke
dalam kotak khusus yang telah diberi lapisan kertas.
3)
Melipat blus tangan pendek dimulai dari arah belakang blus. Lipat
simetris bagian kanan dan kiri ke arah belakang blus, kemudian
lipat dua blus dengan cara membawa ujung bawah blus ke bagian
belakang leher blus. Balik dan masukkan ke dalam kemasan.
4)
Melipat celana yang baik bisa dimulai dengan mengondisikan
posisi celana seperti sedang dipakai. Caranya adalah
memosisikan jahitan samping celana di tengah pipa celana.
Lakukan pada kedua pipa celana dan rapikan bagian pinggangnya
hingga mengikuti alur lipatan dari pipa celana. Lanjutkan dengan
melipat panjang celana sesuai yang diinginkan. Bantalnya bisa
lipat dua (untuk digantung), lipat tiga atau lipat empat. Setelah
selesai, masukkan dalam kemasan.

C.

Pengemasan (Packaging)

Pengemasan adalah suatu usaha untuk melindungi benda yang memiliki nilai
jual ke dalam suatu wadah khusus sehingga terlihat lebih terawat dan

49

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

lebih menarik. Selain itu, pengemasan yang baik juga akan menghindari hal
yang tidak diinginkan seperti busana cepat kotor terkena debu, tertumpah
cairan, atau terkena noda makanan. Dalam produksi busana, pengemasan
dilakukan setelah pelipatan.
Pengemasan busana bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada
yang menggunakan cara digantung dan diberi pembungkus, dilipat dan
dimasukkan ke dalam kotak atau dilipat dan dimasukkan ke dalam plastik.
Berikut ini adalah beberapa cara pengemasan busana yang bisa dilakukan.
1.

Digantung dan diberi pembungkus

Alat yang diperlukan untuk melakukan pengemasan sederhana ini adalah


sebuah hanger (gantungan baju) dan plastik seukuran busana yang akan
dikemas. Hanger yang digunakan juga sebaiknya disesuaikan dengan
busananya, baik kemeja, blus, gamis/terusan, maupun celana. Masingmasing bisa dipakaikan gantungan yang lebih sesuai, seperti contoh berikut.
a.

b.
c.

50

d.

e.

Gambar tersebut adalah gantungan


untuk blus atau terusan. Sempalan pada
kanan kiri gantungan digunakan untuk
menyampirkan tali penguat busana atau
untuk mencegah busana merosot.
Gambar tersebut adalah contoh
gantungan untuk menggantung bawahan
busana seperti celana atau rok.
Gambar tersebut adalah contoh hanger
untuk busana berbahu lebar dan
berbahan kaku seperti kemeja.
Gambar tersebut adalah contoh plastik
untuk menggantung busana. Panjang
plastik disesuaikan dengan ukuran
busana. Tujuan pemakaiannya untuk
menjaga kebersihan busana yang
telah selesai dijahit dan melindungi
busana dari risiko tersangkut satu sama
lainnya.
Gambar tersebut adalah contoh
pembungkus
baju
(dress
cover)
dari plastik dengan ritsleting untuk
membungkus busana yang digantung.
Pembungkus baju tersebut digunakan
untuk melindungi busana dari resiko
tersangkut dan juga dari debu.

Gb. 32 Gantungan Blus


(sumber : Amelia Prihanto)

Gb. 33 Gantungan Celana


(sumber : Amelia Prihanto)

Gb. 34 Gantungan Kemeja


(sumber : Amelia Prihanto)

Gb. 35 Plastik Busana Ekonomis


(sumber : www.makomceritalucu.blogspot.com)

Gb. 36 Dress over Eksklusive


(sumber : www.containerstore.com)

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

2.

Dilipat dan dimasukkan ke dalam kotak

Busana yang terbuat dari bahan yang renggang


atau memiliki berat yang cukup besar seperti kebaya,
tidak dikemas dalam kondisi menggantung. Tipe busana
seperti ini akan dilipat untuk kemudian di masukkan ke
dalam kotak (box).
Agar payet tidak menarik benang dari lipatan
brokat, saat melipat kebaya bisa disisipkan kertas
tisu.

Gb. 37 Dress Box


(sumber : www.weddinggownpreservationkit.com)

3.

Dilipat dan dimasukkan ke dalam plastik

Pengemasan busana yang paling simpel dilakukan


dengan cara ini. Semua busana bisa diatur menyesuaikan bentuknya.
Akan tetapi, bentuk pengemasan seperti ini paling sering dipilih untuk
busana-busana dari bahan kaos, rajut, atau busana yang berdesain praktis.
Kemasan ini tidak cocok menjadi kemasan untuk busana pesta, busana
formal, atau kebaya.

Gb. 38 Plastik Kemas Busana


(sumber : www.transpack.co.uk)

Rangkuman
1.

2.

3.

Mempresentasikan hasil jahitan dengan cara yang maksimal,


bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu
a.
penyetrikaan (pressing);
b.
pelipatan;
c.
pengemasan (packaging).
Pressing atau penyetrikaan adalah suatu proses menghilangkan
kerutan pada jahitan dan menghaluskan bekas-bekas lipatan
pada kain yang tidak diinginkan dengan bantuan alat setrika dan
bantalan setrika khusus.
Selama pembuatan busana, tahap pressing dilakukan dua kali,
yaitu

51

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

a.

4.

5.

6.

Under pressing, yaitu proses pengepressan yang dilakukan


selama pembuatan busana; dan
b.
Top pressing, yaitu proses pengepresan yang dilakukan
setelah busana selesai dijahit.
Pelipatan adalah suatu cara meringkas busana dari ukuran besar
hingga berukuran lebih kecil sehingga mudah untuk disimpan
dan dipindahkan. Proses ini dilakukan saat busana yang telah
selesai dijahit akan dimasukkan ke dalam kemasan.
Pengemasan adalah suatu usaha untuk melindungi benda yang
memiliki nilai jual ke dalam suatu wadah khusus sehingga terlihat
lebih terawat, lebih menarik, dan terhindar dari hal yang tidak
diinginkan.
Pengemasan busana bisa dilakukan dengan berbagai cara
berikut.
a.
Digantung dan diberi pembungkus.
b.
Dilipat dan dimasukkan ke dalam kotak.
c.
Dilipat dan dimasukkan ke dalam plastik.

EVALUASI
1.
2.
3.
4.

52

5.

Bagaimana cara menampilkan produk hasil jahitan dengan cara


yang maksimal?
Sebutkan 4 alat penting yang digunakan untuk melakukan proses
under pressing!
Bagaimana cara mempresentasikan dan menyimpan kebaya
dengan tepat?
Apa akibat yang bisa didapat jika tidak melakukan pengemasan
dengan baik?
Hal apa saja yang perlu diperhatikan saat melakukan
pengepresan?

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

BAB VI

MENGENAL JENIS DAN SIFAT


TEKSTIL

Tekstil adalah serat yang dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain.
Kegunaannya adalah untuk bahan dasar pembuatan busana dan berbagai
produk kerajinan. Suatu produk tekstil dapat meliputi produk serat, benang,
kain, pakaian, dan berbagai jenis benda yang terbuat dari serat.
Untuk lebih memudahkan pengenalannya, tekstil bisa dikenal menurut
jenisnya, yaitu (1) berdasarkan jenis bentuknya (benang, kain, produk pakaian
jadi atau produk kerajinan), (2) berdasarkan jenis bahan penyusunnya
(serat alam, serat sintetis atau serat logam), (3) berdasarkan jenis warna/
motifnya (putih, berwarna, bermotif/bergambar), dan (4) berdasarkan jenis
konstruksinya (tenun, rajut, renda, kempa, dan lain-lain).
Pemahaman secara bentuk berupa benang atau kain dan berdasarkan
warna dan motif, akan sangat mudah dimengerti hanya dengan melihat tekstil
secara sik. Namun, untuk memastikan bahan penyusun tekstil dan jenis
konstruksinya, akan diperlukan pemahaman bahkan pengujian lebih lanjut.
Pada bab ini, topik yang akan dibahas adalah pemahaman tekstil
berdasarkan jenis bahan penyusunnya.

A.

Jenis Tekstil Berdasarkan Serat Penyusunnya

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang tekstil saat ini,
seseorang akan sangat sulit memastikan bahan penyusun dari sebuah
tekstil.
Berdasarkan bahan penyusunnya, tekstil disusun dari tiga unsur serat,
yaitu serat alam, serat buatan (sintetis), dan serat galian. Dengan bahan
dasar serat itu, tekstil kemudian dikembangkan menjadi jenis-jenis kain yang
sangat bervariasi.

53

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kapas
l Rayon
l Linen
l Sutera
l Wol
l

Poliester
Lycra
l Nilon
l Dakron
l
l

l
l

Asbes
Logam

Gb. 39 Skema Bahan Penyusun Tekstil


(sumber : Amelia Prihanto)

Berdasarkan serat penyusunnya, tekstil digolongkan menjadi tiga jenis


berikut.
1.

54

Serat Alam

Serat alam adalah serat yang berasal dari tumbuhan atau hewan. Serat
yang berasal dari tumbuhan di antaranya serat kapas, linen, rayon, serat
nenas, dan serat pisang. Sementara itu, yang berasal dari serat hewan, di
antaranya serat dari bulu biri-biri (wol) dan serat dari ulat sutra (sutera).
Tekstil yang menggunakan serat dari alam adalah tekstil yang
telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Namun, seiring dengan
perkembangannya, serat alam yang dulunya diolah dengan teknik tradisional,
sekarang telah disempurnakan dengan teknik modern dengan penambahan
kualitas dari serat itu sendiri.
Contohnya adalah serat kapas yang diolah menjadi tekstil katun.
Sekarang katun telah memiliki beragam variasi. Dengan adanya bahan
campuran dari serat tekstil, katun yang awalnya sangat mudah lecek, menjadi
lebih luwes, tetapi tetap memiliki kemampuan kapas sebagai penyerap air
yang baik. Hal itu terjadi pula dengan serat sutera atau wol.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Untuk serat alam lainnya, seperti serat nenas, serat pisang, atau serat
pandan, biasanya tidak digunakan untuk busana, melainkan untuk aksesori
tas atau lenan/perlengkapan rumah tangga.
2.

Serat Buatan

Jenis tekstil yang berasal dari serat ini adalah jenis yang paling mudah
ditemukan. Pengaplikasian jenis tekstil pada pembuatan busana sebaiknya
dilakukan secara cermat karena setiap tekstil memiliki sifat yang berbedabeda, seperti yang akan diuraikan dalam pembahasan berikut.
3.

Serat Logam

Serat logam adalah serat buatan yang terbuat dari logam-logam yang
ditambang seperti emas, perak, dan tembaga. Serat logam ini menghasilkan
banyak jenis benang logam, seperti benang emas, benang perak, tembaga,
dan aluminium, sesuai dengan bahan dasar logamnya. Selain itu, ada pula
benang logam yang dilapisi dengan plastik.
Benang yang terbuat dari serat logam biasanya digunakan sebagai
bahan penghias tekstil. Apabila benang logam tersebut akan ditenun, benang
tersebut akan digabung dengan benang dari bahan lainnya karena benang
logam tersebut memiliki sifat kaku dan perlu perawatan khusus.
Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil, seperti brokat,
lame, dan tenunan songket yang ditemukan di seluruh daerah Indonesia,
seperti songket pandai sikek, songket silungkang, songket kubang, songket
Palembang, songket Kalimantan, dan songket Jambi.
Mengingat banyaknya jenis bahan yang beredar di pasaran, ada
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membedakan serat logam yang
asli dan yang tiruan, yaitu dengan cara tes mikroskopis, tes pembakaran,
dan tes kimia.

B.

Penggunaan Tekstil pada Busana

Setiap jenis tekstil bisa memberikan kesan yang berbeda-beda. Kain


yang mempunyai permukaan mengilap seperti satin atau sutera, akan
memberikan kesan glamor atau mewah pada pemakainya. Sementara itu,
bahan kaos yang memiliki kelenturan dan permukaan yang tidak mengilap,
akan memberikan kesan santai.
Untuk menghindari kesalahan pemilihan bahan dalam penjahitan
busana, sebaiknya lakukan pertimbangan pemilihan bahan pada awal
setelah menentukan model busana yang akan dibuat.

55

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Secara umum busana dapat dikelompokkan menurut kesempatan


pemakaiannya, saat bekerja, bersekolah, berlibur, atau berpesta. Hal ini
bisa dijadikan pedoman pada seseorang untuk memilih tekstil yang sesuai
dengan busana tersebut.
1.

Busana Kerja

Dengan luasnya bidang pekerjaan yang ada, busana kerja harus


disesuaikan dengan jenis pekerjaannya. Pekerja kantor akan memiliki
kebutuhan untuk tampil lebih formal. Oleh karena itu, ia memerlukan tekstil
yang bisa merepresentasikannya. Untuk rok dan celana kantor, bisa dipilih
tekstil dari wol tipis atau katun drill tipis yang beralur. Sementara itu untuk
kemeja, dipastikan bisa dengan bahan katun, sedangkan blus wanitanya
bisa dari bahan yang tipis dengan variasi permukaan yang polos atau
bertekstur.
Kebutuhan ini tentu saja berbeda dengan pekerja lapangan. Seorang
montir kendaraan bermotor akan membutuhkan busana coverall (celana
terusan dan atasan berlengan panjang yang menutup seluruh tubuh) yang
bisa memberikan keleluasaan dalam bergerak sekaligus melindungi kulit dari
kontak langsung dengan bahan-bahan kimia dan kotoran dalam bengkel.
2.

Busana Sekolah

Aktifnya seorang anak sekolah bisa didukung dengan pemilihan bahan


seragam yang bisa menyerap keringat seperti katun. Katun juga dipilih
karena mudah perawatannya dan bisa memiliki campuran poliester yang
membuatnya tidak mudah kusut.

56

3.

Busana Pesta

Memilih tekstil untuk busana pesta perlu mempertimbangkan waktu


pesta itu diadakan, yaitu pagi, siang, sore ataupun malam. Perbedaan waktu
ini akan memengaruhi jenis tekstil, model, dan warna yang akan digunakan.
Namun, pada umumnya busana pesta memerlukan tekstil yang memberikan
kesan mewah. Contoh tekstil yang bisa dipilih adalah sutera, satin, satin
duchess, taffeta, beludru, brokat, songket, lame, dan lain-lain.
4.

Busana Olahraga

Saat berolahraga, seseorang akan mengeluarkan keringat. Kondisi ini


akan membuat kurang nyaman jika tidak menggunakan busana yang tidak
menyerap keringat. Walaupun setiap cabang olahraga mempunyai busana
khusus dengan modelnya tersendiri, hal yang harus diperhatikan dalam

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

memilih busana olahraga, antara lain, dengan memilih tekstil busana yang
elastis, menyerap keringat (hidroskopis), dan sesuai dengan jenis olahraga
yang akan dilakukan. Bahan kaus merupakan pilihan klasik yang nyaman,
selain tekstil modern seperti jenis lycra atau dry-t.
5.

Busana Santai

Saat berlibur, busana yang digunakan akan mengarah pada jenis busana
santai. Dari beragam jenis model dan gaya yang ada, tekstil untuk busana
santai sebaiknya dipilih yang sesuai dengan tujuan wisata. Misalnya untuk
berlibur di gunung yang dingin, busana yang diperlukan adalah yang bisa
memberi kehangatan seperti kemeja anel, jaket dari bahan velt atau
sweater dari rajutan benang wol.
Sebaliknya, saat berlibur ke pantai yang panas, busana yang digunakan
akan adalah busana yang memiliki desain longgar dengan pilihan tekstil yang
tipis, lentur, dan menyerap keringat seperti bahan kaus atau rayon.

C.

Sifat dan Teknik Pencucian Tekstil

Untuk mengenal tekstil lebih jauh, seseorang perlu memahami sifat atau
karakteristik tekstil itu sendiri, mulai dari asal seratnya hingga cara pencucian
atau penyimpanannya. Berikut adalah uraiannya.
1.

Sifat dan Karakteristik Tekstil

Setiap tekstil memiliki sifat dan ciri (karakteristik) masing-masing. Dengan


memahami kondisi suatu tekstil, kita akan lebih mudah menentukan bahan
apa yang cocok digunakan dan bagaimana cara penyimpanan dan
pencucian tekstil tersebut dengan cara yang baik agar bisa bertahan lama.
Berikut adalah jenis tekstil yang paling umum dipakai untuk dibuatkan
menjadi busana.
a.
Katun (Cotton)

Gb. 40 Katun
(sumber : www.fabricmade.etsy.com)

Katun adalah kain yang terbuat dari serat alami berupa serat
kapas. Katun bersifar hidroskopis (mudah menyerap air),

57

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

sehingga sangat nyaman saat dikenakan sebagai pakaian.


Selain itu, katun juga mempunyai pori-pori untuk mengalirnya
udara sehingga tidak membuat panas.
Pemakaian katun sangat luas, dapat dibuat untuk baju pria
dan wanita pada aneka kesempatan dengan ragam desain yang
sangat variatif, seperti kemeja, pakaian kasual, pakaian tidur dan
pakaian dalam.
Pencucian dan perawatan katun sangatlah mudah. Katun
bisa dicuci dengan air, dicuci menggunakan tangan maupun
mesin, bisa diberi pemutih, serta bisa diperas dan dikeringkan
dengan mesin. Kelemahan kain jenis ini adalah ia mudah kusut.
Akan tetapi, dengan ketahanannya terhadap temperatur tinggi
atau kemudahan disetrika, kelemahannya terasa menjadi imbang
dengan kelebihannya.
Untuk penyimpanan, pakaian yang terbuat dari katun bisa
dilipat ataupun digantung. Hindari suhu lembab agar tidak mudah
menguning dan berbau apek.
Variasi Katun
Berdasarkan komposisi dan tenunannya, katun dibedakan
menjadi banyak varian kain, di antaranya adalah sebagai
berikut.
1)
Katun Jepang

58

Gb. 41 Katun Jepang


(sumber : Amelia Prihanto)

Katun jepang adalah katun yang paling banyak digunakan


pada busana. Permukaan kainnya halus dan sedikit
mengilap sehingga terkesan mewah. Ciri khusus pada
katun jepang adalah pada sisi bahan, yaitu terdapat palet
warna yang digunakan pada bahan tersebut.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

2)

Katun Paris

Gb. 42 Katun Paris


(sumber : Amelia Prihanto)

Tenunannya yang cukup renggang dan sifatnya yang


semi transparan, membuat katun paris terasa nyaman
digunakan karena tembus udara dan tidak panas. Saat
ini penggunaan katun paris terbanyak adalah sebagai
hijab muslimah, selendang, blus wanita, dan kebaya
semiformal.
3)

Katun Linen

59

Gb. 43 Katun Linan


(sumber : www.source4style.com)

Katun linen merupakan campuran serat kapas


dengan serat tanaman rami (ax). Katun yang tidak tahan
klorin (kaporit) ini, sudah mengandung lilin sehingga tanpa
menggunakan kanji pun tetap berbentuk kaku. Penggunaan
katun linen biasanya untuk kemeja, seragam, pakaian
wanita berdesain simpel dan lenan rumah tangga.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

4)

Katun Rayon

Gb. 44 Katun Rayon


(sumber : Klinik Fotografi Kompas)

Katun rayon merupakan campuran serat katun dengan


serat rayon yang terbuat dari selulosa. Permukaan katun
rayon umumnya lebih licin dan mengilap sehingga tidak
mudah mengisap debu dan kotoran. Katun rayon lebih
lembut dari jenis katun lainnya sehingga dapat membuat
pakaian ber-draperry.
Katun ini tidak terlalu mudah kusut tetapi dapat
dengan mudah melar dan berbulu setelah beberapa kali
dicuci. Penggunaan terbanyak dari rayon adalah untuk
pakaian santai, pakaian sehari-hari, atau untuk busana
pantai.
b.

Wol (Wool)

60

Gb. 45 Wol
(sumber : www.threadforthought.net)

Wol adalah serat atau kain yang diperoleh dari bulu


binatang seperti domba atau anak biri-biri. Serat ini
bersifat kenyal sehingga tidak mudah kusut. Bahkan,
dengan bentuk serabutnya yang keriting, wol memiliki pori-

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

pori yang dapat mengikat panas. Hal ini yang menjadikan


wol akan hangat bila dipakai.
Jenis wol cukup beragam. wol yang tebal banyak
digunakan untuk pakaian musim dingin dan selimut.
Sementara itu, wol yang tipis banyak digunakan untuk
setelan jas busana pria (pantalon).
Untuk pencucian, sebaiknya wol dicuci dengan cara
dryclean saja karena wol tidak tahan air dan tidak tahan
panas tinggi. Untuk penyimpanannya pun, wol cukup dilipat
dan disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab
untuk menghindari bau apek dan serangan ngengat (wol
tidak tahan terhadap ngengat).
c.

Sutra (Silk)
Sutra adalah kain yang terbuat dari serat alam berupa
lamen yang berasal dari kepompong ulat sutra. Kain ini
sangat lembut, licin dan berkilau, tetapi juga kuat dan
kenyal. Sutra juga mampu menyerap zat warna dengan
baik sehingga bisa memiliki ragam warna yang sangat
banyak. Salah satu keunikan sutra adalah daya ringkasnya.
Apabila kain diremas, ia bisa menjadi gumpalan kecil
sekalipun kainnya dalam ukuran besar.
Dengan daya serap air (hidroskopis) yang sangat
baik dan permukaan yang lembut, sutera sangat nyaman
digunakan. Ia terasa sejuk di kulit dan bisa mengikuti bentuk
tubuh dengan baik karena memiliki keluwesan yang tinggi.
Pemakaian sutera terbanyak adalah untuk busana pesta
dan scarf.
Dari segi perawatan, sutera termasuk dalam kain
yang memerlukan perhatian ekstra. Kain ini hanya boleh
dicuci dengan cara dryclean, karena tidak tahan terhadap
air dan akan mudah susut jika direndam dalam air.
Penyimpanannya pun harus diperhatikan dan
sebaiknya dilapisi dahulu dengan kain katun yang halus
atau kertas pembungkus baju. Hal ini untuk mencegah
permukaan kain sutera tidak tergores oleh bahan lain
yang kasar dan dapat bernafas dengan baik. Jangan
menyarungkannya dengan plastik karena berisiko berjamur
dan terkena serangan ngengat.
Ada banyak sekali jenis sutera yang saat ini dikenal
di masyarakat, di antaranya sebagai berikut:

61

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

1)

Sutra Satin (satin silk)

Gb. 46 Sutera Satin


(sumber : www.made-in-china.com)

Sutra satin memiliki permukaan yang mengilap


seperti satin, tetapi lebih halus, lebih lembut, dan
lebih tipis jika dibandingkan dengan satin biasa.
2)

Sutra Sifon

Gb. 47 Sutera Sifon


(sumber : www.silktrading.win.mofcom.gov.cn)

Sutera sifon memiliki tekstur permukaan yang


lembut, bertenunan cukup renggang dan tembus
pandang. Sutra ini hanya bisa dicuci dengan
dryclean.

62
3)

Raw Silk

Gb. 48 Raw Silk


(sumber : www.fabricmade.etsy.com)

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Raw silk memiliki permukaan yang cukup


mengilap serta memiliki kekhasan tekstur yang
bergaris-garis.
d.

Lame dan Songket

Gb. 49 Lame
(sumber : www.ebay.com)

Gb. 50 Lame
(sumber : www.ebay.com)

Gb. 51 Songket
(sumber : www.authentique-terengganu.com)

Lame dan songket merupakan kain yang terbuat dari


bahan serat yang mengandung serat logam sehingga
menghasilkan bahan dengan permukaan yang polos dan
sangat mengilap. Motif hanya ada di permukaan dan
terbuat dari benang yang berwarna mencolok dan kadangkadang metalik. Kain-kain tersebut kurang menyerap air
dengan baik sehingga kurang nyaman apabila dipakai
dalam waktu yang lama. Penggunaan kain lame dan
songket biasanya hanya digunakan untuk pakaian pesta
dan kostum panggung.
Dalam perawatannya kain ini dapat dicuci dengan
air, tetapi tidak bisa dicuci dengan mesin. Cukup rendam
dengan larutan sampo yang tidak mengandung minyak
atau deterjen yang tidak terlalu keras. Agar tidak merusak
bentuk serat logam yang tidak lentur, pengeringan bahan
jenis ini tidak bisa diperas, cukup remas sedikit agar airnya
keluar lalu diangin-anginkan. Kain ini pun tidak mudah kusut
sehingga tidak perlu disetrika karena tidak tahan terhadap
temperatur tinggi. Saat disimpan, jangan digantung atau
dilipat, cukup digulung dan simpan di tempat yang kering.
e.

Brokat (Lace)
Brokat atau lace merupakan kain dasar tulle yang
mempunyai corak timbul berbentuk bunga-bunga. Kain ini
sering juga disebut kain renda, kain yang terkesan mewah

63

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

dan dengan hiasan sulaman bunga yang cantik. Coraknya


hanya terdapat pada satu muka kain, tidak bolak-balik.
Kain ini sangat tipis, lentur dan menerawang karena hanya
terjalin dari susunan benang.
Kain brokat memiliki banyak variasi dan kulitas.
Jenis brokat yang memiliki variasi dan kualitas terbaiknya
adalah brokat prancis yang berbahan lembut dan memiliki
kelenturan yang tinggi.
Kain ini sangat sering dan cocok digunakan untuk
membuat gaun atau baju pesta dalam kesempatan formal,
pakaian adat, baju pengantin, serta menjadi pakaian dalam
yang berkesan indah.
Perawatan brokat harus dilakukan dengan hatihati, karena kain ini tidak tahan air dan tidak tahan panas.
Sebaiknya dicuci dengan cara dryclean atau cuci kering
saja. Simpan brokat dengan cara dilipat dan masukkan ke
dalam kotak atau kantung dari bahan katun.

64

Gb. 52 Brokat
(sumber : www.etsy.com)

f.

Gb. 53 Brokat
(sumber : www.etsy.com)

Poliester

Gb. 54 Poliester
(sumber : www.wjruitong.manufacturer.globalsources.com)

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, kini jenis


tekstil dari serat sintetis poliester menjadi sangat banyak

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

hingga tidak terhitung jumlahnya. Bahan poliester adalah


bahan yang terbuat dari 100% serat buatan atau serat kimia.
Secara sik, poliester mudah dikenali yaitu pada
dua bagian permukaan kain yang sama-sama licin. Untuk
karakteristik kainnya, poliester tidak menyerap atau hanya
sedikit menyerap air (non-hidroskopis) sehingga bahan ini
menjadi mudah kering. Daya pakainya luas, sangat tahan
lama, tidak mudah kusut, tetapi tidak tahan panas tinggi.
Kain ini bisa digunakan untuk membuat pakaian
di segala kesempatan, mulai dari pakaian harian hingga
pakaian pesta. Selain itu, poliester juga banyak digunakan
sebagai bahan pelapis pakaian.
Perawatan bahan poliester sangatlah mudah. Bahan
ini dapat dicuci dengan air (baik pencucian dengan tangan
maupun mesin), dapat dikeringkan dengan mesin, dan
dapat dijemur di tempat panas.
g.

Sifon

Gb. 55 Sifon
(sumber : www.etsy.com)

Sifon adalah tektil yang memiliki permukaan yang


halus, ringan dan tipis menerawang. Sifon terbuat dari
lamen dengan gintiran tinggi dari serat rayon atau serat
sintetis. Walaupun tipis, ringan dan lembut di tangan, kain
sifon ini tergolong kain yang kuat dan tidak mudah sobek.
Oleh karena itu, pemakaian sifon banyak digunakan untuk
membuat blus, scarf, selendang, pakaian dalam, dan gaun
malam.
Untuk pencuciannya, sebaiknya dicuci dengan
tangan, walaupun bisa juga dengan mesin cuci setelah
dibungkus dengan pembungkus khusus. Saat dicuci,
gunakan deterjen yang lembut dan cukup ditekan-tekan
secara perlahan. Pastikan tidak dicampur dengan pakaian
dari bahan yang lain karena sifon mudah terkena luntur.

65

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sifon juga tidak tahan dengan panas tinggi, maka saat


penyetrikaan cukup dengan panas sedang. Sementara itu,
untuk penyimpanannya, sifon sebaiknya disimpan dalam
lemari yang kering dan sejuk.
h.

Beludru

Gb. 56 Beludru
(sumber : www.firstsilk.en.made-in-china.com)

Beludru atau velvet adalah kain yang permukaannya


memiliki bulu-bulu halus pendek, bertekstur lembut, dan
berkesan mewah. Aslinya terbuat dari serat sutra, tetapi
ada juga yang terbuat dari serat katun atau campuran.
Pemakaian beludru terbanyak adalah untuk gaun
malam, busana panggung, dan busana pengantin. Setelah
selesai digunakan, pakaian yang terbuat dari kain beludru
sebaiknya diangin-anginkan dan tidak dicuci terlalu dengan
air karena beludru tidak tahan air dan tidak tahan panas
tinggi. Air bisa membuat bulu di permukaan menjadi kasar
dan berantakan, sementara panas tinggi bisa membuat
belang permukaan kain.
Untuk penyimpanannya, simpan beludru dalam
lemari yang tertutup dan dilapisi plastik pakaian. Pastikan
pakaian digantung dan tidak dilipat, karena lipatan akan
meninggalkan bekas kerutan yang sulit dihilangkan. Berikan
juga kapur barus di dalam lemari agar kain beludru tidak
mudah terserang jamur dan serangga pengerat.

66

i.

Flanel
Flanel adalah kain tenun dengan anyaman twill (bergaris)
atau polos yang memiliki bulu-bulu halus pada permukaannya.
Kain ini biasanya digunakan untuk membuat pakaian musim
dingin dan selimut bayi.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Untuk pencucian, pakaian berbahan anel bisa dicuci


dengan menggunakan tangan. Gunakan air hangat yang
telah dicampur sabun yang sedikit mengandung deterjen,
kemudian gosok-gosok perlahan, lalu bilas hingga bersih.
Hindari menggunakan sikat karena akan membuatnya
berserabut dan hindari juga pemutih karena akan
memudarkan warnanya. Untuk mengeringkannya, cukup
diangin-anginkan saja. Hindari sinar matahari langsung
karena akan memudarkan warnanya. Saat menyetrika,
gunakan panas sedang.
Simpan bahan ini pada lemari yang kering dan
jauhkan dari suhu lembap. Apabila kain sudah berserabut
(berbulu), gunting serabut yang berlebih secara perlahan
tanpa menyebabkan kerusakan pada kain.

Gb. 57 Flannel
(sumber : www.5orangepotatoes.com)

j.

Drill

67

Gb. 58 Drill
(sumber : rainatextiles.com)

Drill merupakan kain tenun yang berat dan kuat.


Permukaannya memiliki tekstur bergaris-garis diagonal
(twill). Penggunaan drill pada umumnya adalah untuk
celana panjang, seragam, dan pakaian kerja di bengkel
atau di lapangan.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Karena masih mengandung serat katun, drill juga


memiliki karakter yang serupa dengan katun. Misalnya
adalah daya tahan panas yang tinggi, bisa dicuci dengan
air pada pencucian tangan atau mesin), dan daya serap
airnya juga tinggi.
Untuk penyimpanan, drill bisa dilipat atau digantung
di dalam lemari yang kering.
k.

Tulle

Gb. 59 Tulle
(sumber : www.etsy.com)

Tulle adalah kain yang tipis, ringan, sedikit kaku dan


memiliki struktur kain berbentuk net yang heksagonal.
Bahan ini dapat terbuat dari sutera, rayon atau nilon. Tulle
banyak digunakan pada pakaian penari balet, gaun pesta,
dan pakaian pengantin.
Pencucian tulle sutra sebaiknya hanya dengan cara
dryclean, tetapi untuk tulle rayon atau nilon, bisa dibersihkan
dengan cara dicuci tangan dengan deterjen lembut yang
tidak mengandung pemutih. Peras pelan-pelan saat
mengeringkan tulle. Puntiran yang keras bisa menyebabkan
tulle sobek. Demikian juga saat menghilangkan bekas
lipatan, tulle tidak tahan panas. Beri lapisan katun pada
tulle saat menyetrika atau gunakan saja garment steamer.
Simpan tulle dengan cara dilipat dan dimasukkan ke
dalam kotak. Apabila jarang digunakan, sebaiknya sesekali
diangin-anginkan agar tidak cepat menguning. Jauhkan
bahan ini dari kapur barus.

68

l.

Organdi
Kain yang ringan, transparan dan serupa sifon ini,
awalnya terbuat dari serat katun 100%. Bahan ini dianyam
dengan tenunan polos dan terbuat dari 100% katun.
Yang membedakannya dengan sifon adalah permukaan

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

organdi lebih mengilap dan jatuhnya lebih kaku dari sifon.


Kekakuannya ini dapat sementara atau tetap (tidak hilang
setelah dicuci).
Untuk pencucian, organdi bisa dicuci dengan air dan
dikucek ringan. Khusus organdi sutra, pencucian terbaik
adalah dengan dryclean.

Gb. 60 Jersey
(sumber : www.jerseyfashion.com)

m.

Jersey

Gb. 61 Jersey sport


(sumber : jerseysport@ronghengtex.gmc.globalmarket.com)

Jersey adalah istilah umum untuk jenis kain rajut yang


lembut, licin, polos tanpa lajur-lajur dan berdaya regang.
Nama jersey sendiri digunakan sesuai tempatnya pertama
kali diproduksi, yaitu di Pulau Jersey di Inggris.
Dengan daya lentur yang tinggi, tidak mudah kusut,
dan kemampuannya untuk melekat di badan, bahan
jersey banyak digunakan untuk busana wanita, terutama
yang polos.
Bukan hanya itu, penggunaan bahan jersey terbanyak
adalah untuk pakaian olahraga, khususnya kostum sepak
bola. Dengan teknologi terkini, bahan jersey sport menjadi
makin variatif. Jenis terbarunya adalah dry-t yang
membuat keringat lebih cepat kering dan olahraga menjadi
makin nyaman.

69

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Untuk pencuciannya, jersey bisa direndam air


deterjen dan dibilas dengan air bersih. Keringkan dengan
diperas ringan dan jangan dipuntir. Jersey dapat digantung
dan dijemur di tempat teduh tetapi jangan terkena matahari.
Jersey tidak perlu disetrika karena tidak mudah kusut.
2.

Tabel Teknik Pencucian Busana

Saat membeli busana jadi dari suatu perusahaan garmen, kita akan
menemukan beberapa simbol yang berisi saran pencucian dan pemeliharaan
dari busana tersebut. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Simbol

Arti
Sebaiknya dicuci dengan tangan

Boleh dicuci dengan mesin

Dry clean

70

Boleh diperas

Jangan diperas

Boleh dikeringkan dengan mesin

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Simbol

Arti
Jangan dikeringkan dengan mesin

Boleh di-bleaching

Jangan di-bleaching

Boleh disetrika dengan temperatur rendah

Boleh disetrika dengan temperatur sedang

Boleh disetrika dengan temperatur tinggi

Gb. 62 Label pencucian


(sumber : www.rinso.co.id)

71

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

RANGKUMAN
1.

2.

3.

4.
5.

72

6.

Berdasarkan bahan penyusunnya, tekstil disusun dari tiga unsur


serat, yaitu serat alam, serat buatan (sintetis), atau serat galian.
Dengan bahan dasar serat ini, tekstil kemudian dikembangkan
menjadi jenis-jenis kain yang sangat bervariasi.
Berdasarkan serat penyusunnya, tekstil bisa digolongkan menjadi
tiga jenis, yaitu
a.
serat alam;
b.
serat buatan; dan
c.
serat logam.
Penggunaan tekstil pada busana dapat dikelompokkan menurut
kesempatan pemakaiannya, yaitu
a.
busana kerja;
b.
busana sekolah;
c.
busana pesta;
d.
busana olah raga; dan
e.
busana santai.
Untuk mengenal tekstil lebih dalam, seseorang perlu memahami
sifat atau karakteristik dari tekstil itu sendiri, mulai dari asal
seratnya hingga cara pencucian atau penyimpanannya.
Tekstil yang paling umum dipakai untuk dibuatkan menjadi
busana adalah sebagai berikut.
a.
Katun (Katun Jepang, Katun Paris, Katun Linen dan Katun
Rayon).
b.
Wol
c.
Sutra (Sutra Satin, Sutra Sifon, Raw Silk)
d.
Lame dan Songket
e.
Brokat (Lace)
f.
Poliester
g.
Sifon
h.
Beludru
i.
Flanel
j.
Drill
k.
Tulle
l.
Organdi
m. Jersey
Saat membeli busana dari suatu perusahaan garmen, seseorang
akan menemukan beberapa simbol yang berisi saran pencucian
dan pemeliharaan busana. Beberapa simbol diuraikan dalam
tabel 4.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Evaluasi
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana cara menyimpan tekstil wol yang terbaik?


Sebutkan penggolongan tekstil berdasarkan asal seratnya!
Pada kesempatan liburan, tekstil apa saja yang paling umum
digunakan?
Sebutkan sifat utama dari katun!
Bagaimana cara mencuci tekstil sutra yang terbaik?

73

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB VII

ETIKET DAN TEKNIK


BERKOMUNIKASI

74

Komunikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah


pengiriman pesan antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat
sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Komunikasi dilakukan untuk menyatakan identitas diri, menjalin kontak
sosial dengan orang sekitar, dan untuk memengaruhi orang lain agar bisa
merasa, berpikir atau berperilaku seperti yang kita inginkan.
Secara umum, hal-hal yang terjadi dalam suatu komunikasi adalah
sebagai berikut.
1.
Adanya penyampaian pengertian (pesan) dari seseorang kepada
orang lain.
2.
Penyampaian pesan tersebut memiliki satu tujuan.
3.
Penyampaian pesan bisa secara lisan atau tulisan.
4.
Terjadi hubungan atau kontak antara pemberi pesan dan
penerimanya.
Agar terjalin komunikasi yang baik, setiap orang juga harus memiliki
etiket (tata cara) yang baik. Tata cara inilah yang akan dibahas dalam bab
ini.

A.

Etiket Berkomunikasi

Sebagai makhluk sosial, seseorang pasti melakukan komunikasi, baik


yang disadari maupun yang tidak disadari. Komunikasi secara langsung
adalah saat komunikasi terlihat secara kasat mata ketika seseorang berbicara
langsung dengan mitra bicaranya. Di pihak lain, salah satu komunikasi yang
tidak langsung adalah saat kita melihat iklan di TV, papan iklan, atau di
majalah.

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

Pada intinya komunikasi dilakukan untuk menyatakan identitas diri,


menjalin kontak sosial dengan orang sekitar dan untuk mempengaruhi orang
lain, untuk merasa, berpikir atau berperilaku seperti yang kita inginkan.
Agar komunikasi yang melibatkan mitra bicara secara langsung dapat
berlangsung dengan baik, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Hal ini disebut
etiket berkomunikasi atau tata cara berkomunikasi yang baik. Etiket tersebut
diuraikan sebagai berikut.
1.

Berbahasa sesuai dengan pasangan komunikasinya

Berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang lebih muda,
dalam lingkungan pergaulan atau lingkungan kerja, memiliki etiket dan
batasannya tersendiri. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua, sangat
diharapkan untuk lebih ramah dan menggunakan bahasa yang mengandung
kesantunan walaupun itu bukan bahasa baku atau formal.
Berbicara dengan rekan kerja atau teman, bisa menggunakan bahasa
yang luwes, sesuai dengan gaya bahasa yang berlaku, dengan tetap
menghindarkan ucapan yang berisiko menyakitkan hati.
Berbicara dengan yang lebih muda di luar lingkungan kerja, tetap
dilakukan dengan sopan, hanya tidak perlu terlalu formal. Selain itu, perlu
juga memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi.
2.

Volume suara perlu diatur

Dalam kondisi normal, volume dibuat tidak terlalu kencang atau pelan.
Hal ini agar membuat nyaman mitra bicara. Namun, sebaliknya, jika suara
terlalu keras apalagi jika nadanya ditinggikan, dapat mengakibatkan
perasaan tidak nyaman sekaligus dapat memberi kesan yang berbicara
sedang marah.
3.

Sikap badan

Posisikan badan dan wajah sehingga mudah melakukan kontak mata dengan
mitra bicara. Kontak mata memang perlu, namun sepanjang komunikasi,
pindahkan pandangan ke beberapa tempat. Jangan selalu melihat mata
atau wajah mitra bicara.
4.

Mimik wajah

Walaupun dalam kondisi emosi yang kurang baik, jangan pernah membuat
mimik wajah yang tidak menyenangkan seperti mencibir atau membuang
muka. Mitra bicara perlu diperhatikan. Oleh karena itu, berilah mimik wajah
yang ramah dan menyorotkan bahwa pembicara memperhatikan mitra
bicaranya.

75

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

5.

Perhatian terhadap bahan pembicaraan

Agar tidak perlu mengulang-ulang pembicaraan yang sama, selalu


perhatikan masalah yang disampaikan dalam pembicaraan. Dengan memberi
perhatian pada bahan pembicaraan, sang pembicara juga bisa memberikan
tanggapan yang tepat pada mitra bicaranya.
6.

Hindari membuat gerakan yang meresahkan

Memegang-megang rambut, melipat kedua tangan ke depan, meletakkan


kedua tangan di pinggang, mengunyah-ngunyah sesuatu atau menggoyanggoyangkan kaki merupakan contoh gerakan yang dapat membuat
perasaan kurang nyaman bagi mitra bicara. Posisikan badan dengan rileks
sehingga tidak merepotkan jika harus berada cukup lama dalam kondisi
tersebut.

B.

Teknik Berkomunikasi

Selain mempunyai etiket yang baik, seseorang dianggap sebagai komunikator


yang baik jika memiliki beberapa keahlian penting. Jika dijabarkan
hal ini bisa digunakan sebagai teknik dalam berkomunikasi. Teknik yang
dimaksud adalah sebagai berikut.
1.

76

Berbicara dengan Efektif

Komunikasi dikatakan sukses jika pasangan yang diajak berkomunikasi


dapat mengerti maksud dari yang telah disampaikan. Terlalu banyak
memberikan awalan atau prakata dari maksud dan tujuan akan memberikan
kesan pembicaraan yang bertele-tele. Namun, terlalu langsung membicarakan
hal yang diinginkan akan terkesan kurang sopan.
Bagaimana membuat pembicaraan atau komunikasi menjadi efektif
atau berhasil? Ada beberapa saran yang bisa dicermati, seperti
a.
persiapkan materi pembicaraan;
b.
buatlah sistematikanya dalam pikiran Anda, ada pergerakan dari
salam pembuka hingga masuk ke pokok bahasan;
c.
sampaikan dengan ucapan yang jelas.
2.

Menampilkan Rasa Percaya Diri

Sebagai penyampai pesan (komunikator), seseorang haruslah bersikap


percaya diri. Jika sikap ini tidak ditampilkan, orang lain bisa jadi tidak percaya
dengan apa yang akan disampaikannya.
Rasa percaya diri ini merupakan modal besar yang harus dimiliki setiap
orang, terutama saat berkomunikasi. Apabila orang tersebut yakin terhadap

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

apa yang dilaksanakannya, maka akan terbentuk kesan yang positif dan
hal itu membuat mitra bicara menjadi lebih mudah percaya ataupun mudah
dipengaruhi.
Kepercayaan diri, kerap dihubungkan dengan kesuksesan. Karena itu,
terkadang ada orang yang minder sebab ia belum sukses. Padahal, sukses
juga selalu bermula dari kegagalan.
Tidak perlu takut akan kegagalan karena sikap itu akan menyapu
rasa percaya diri. Kembangkan rasa percaya diri dengan menerima diri apa
adanya serta selalu berorientasi kepada tujuan hidup yang dibentuk.
3.

Memberi Respos Positif

Berpikir positif akan memudahkan seseorang untuk memberikan


respos yang baik kepada pasangan bicaranya. Pikiran negatif dan respos
negatif hanya akan membuat ketidaknyamanan dalam berkomunikasi.
Berpikir positif adalah menanggapi segala kejadian dengan menyadari
bahwa setiap kehidupan mengandung segi baik dan segi buruk. Selalu ada
dua sisi. Sebagai contoh, saat menghadapi kegagalan, seseorang yang
berpikiran positif akan mengatakan, kegagalan adalah sukses yang tertunda
atau hambatan terbesar dari sukses adalah takut akan kegagalan.
4.

Mengembangkan Potensi Diri

Manusia mempunyai potensi (kemampuan) untuk melakukan sesuatu


yang berarti di muka bumi. Potensi akan membuat orang bisa aktif,
bersemangat dan mempunyai motivasi dan dorongan yang kuat untuk
bekerja keras serta melakukan tugas yang berkesinambungan.
Pengembangan potensi diri perlu dilakukan untuk meningkatkan
rasa percaya diri seseorang. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki seseorang. Di antaranya adalah
a.
mengasah jiwa pengabdian atau loyatitas terhadap tugas;
b.
jujur dalam ucapan dan sikap;
c.
berlatih pengendalian diri untuk tidak melakukan hal yang siasia;
d.
selalu menghargai orang lain;
e.
memupuk rasa percaya diri;
f.
mengutamakan kesabaran, dan tidak mudah meluapkan emosi;
g.
bersemangat dalam menjalani hidup;
h.
gigih dalam mencapai tujuan dan prinsip hidup; dan
i.
disiplin.

77

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

5.

Memahami Kondisi Budaya dan Sosial

Budaya adalah seperangkat keyakinan sikap dan cara-cara melakukan


sesuatu yang berlaku dalam sekelompok orang yang cukup homogen.
Kondisi budaya dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat akan berbeda
di setiap daerah. Budaya sangat memengaruhi cara orang berkomunikasi,
bersikap atau berperilaku, serta mengambil tindakan berdasarkan budaya
yang dianut.

C.

78

Berkomunikasi di Tempat Kerja

Komunikasi dalam dunia usaha dapat dilakukan di mana saja, baik di


perusahaan maupun di luar perusahaan. Di mana pun kita bekerja, komunikasi
perlu dibina dengan baik. Contohnya antara atasan dan bawahan, antara
produsen dan konsumen, atau antara rekan kerja.
Kepada siapa pun pasangan komunikasinya, seseorang haruslah tetap
menggunakan etiket berkomunikasi, baik itu komunikasi dengan atasan,
dengan pelanggan, atau dengan rekan kerja. Menjadi seorang yang beretiket
pastinya akan lebih dihargai dalam hidup bermasyarakat, terutama di tempat
kerja. Berkomunikasilah dengan cara yang ramah, profesional, jujur, dan
dengan bahasa yang dapat dipahami oleh lingkungan tempat bekerja.
1.
Berkomunikasi dengan atasan
Agar bisa berkomunikasi yang baik dengan atasan, memerlukan
kiat tersendiri. Selain harus menggunakan bahasa yang lebih
formal atau sebisa mungkin mendekati berbahasa Indonesia
yang baik dan benar. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan
acuan, seperti hal berikut ini.
a.
Tunjukkan rasa hormat dengan mendengarkan terlebih
dahulu, tidak menyela pembicaraan, dan beretiket
komunikasi yang baik.
b.
Perhatikan isi pesan yang disampaikan tidak membawa
komunikasi ke luar jalur pembicaraan.
c.
Lakukan secara tertulis jika menyangkut hal yang penting.
d.
Berikan laporan yang jelas dan teperinci.
e.
Perhatikan waktu pembicaraan yang tepat ketika atasan
sedang emosi terhadap sesuatu, mungkin waktu itu bukan
saat yang baik untuk menyampaikan ide-ide bagus Anda.
2.

Berkomunikasi dengan pelanggan


Bagi pihak produsen atau penyedia jasa penjahitan, proses
komunikasi harus sudah dilakukan pada saat perencanaan
produksi. Hal ini didahului dengan mengetahui keinginan pemesan

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

dengan pencatatan seluruh bagian dari hasil komunikasinya


yang berupa perincian desain yang diinginkan, mulai dari garis
desain hingga penggunaan kancing.
Apabila hasil produksi tepat sasaran, tepat waktu, dan
sesuai dengan kebutuhan konsumen, komunikasi yang telah
dilakukan sebelum produksi dianggap berhasil.
Setiap keberhasilan komunikasi dengan pelanggan
akan membutuhkan keahlian yang lebih dibandingkan jika
melakukan komunikasi dengan rekan kerja atau teman. Kepada
pelanggan, seseorang harus memberikan perhatian penuh
pada keinginannya sehingga bisa memberikan tanggapan yang
paling sesuai dengan kondisi saat itu.
Hal lain yang paling penting adalah penekanan pada
etiket berkomunikasi yang menghasilkan sikap ramah dan
professional.
3.

Berkomunikasi dengan rekan

Walaupun bisa berkomunikasi dengan lebih santai, berbicara dengan


rekan atau teman juga mempunyai batasan tersendiri. Di antaranya adalah
tidak berkata kasar, tidak membuang muka atau melecehkan saat berbicara,
serta tidak melakukan gerakan yang meresahkan seperti memukul ringan
bagian kepala atau mengeluarkan lidah.

RANGKUMAN
1.

2.

Sukses tidaknya suatu pelayanan, terutama penyedia jasa


seperti jasa menjahit, sangat bergantung pada komunikasi yang
baik. Cara melakukannya adalah dengan memberi perhatian
pada etiket berkomunikasi berikut ini.
a.
Pemilihan bahasa yang sesuai dengan mitra bicara atau
pasangan komunikasi
b.
Volume suara
c.
Sikap badan
d.
Mimik wajah
e.
Perhatian terhadap bahan pembicaraan
f.
Menghindari gerakan yang meresahkan
Dalam berkomukasi, selain etiket ada pula teknik komunikasi.
Tiap bagian dari teknik berkomunikasi, bisa merupakan motivasi
bagi pengembangan kemampuan komunikasi seseorang. Teknik
yang dimaksud adalah

79

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

3.

a.
berbicara dengan efektif;
b.
menampilkan rasa percaya diri;
c.
memberi respos positif;
d.
mengembangkan potensi diri;
e.
memahami kondisi budaya dan sosial.
Berikut ini adalah cara berkomunikasi yang baik dengan
atasan.
a.
Tunjukkan rasa hormat.
b.
Perhatikan isi pesan yang disampaikan.
c.
Lakukan secara tertulis.
d.
Berikan laporan yang jelas dan terperinci.
e.
Perhatikan waktu pembicaraan yang tepat.

EVALUASI
1.
2.
3.
4.
5.

80

Apakah yang maksud dengan komunikasi?


Apa saja yang terjadi saat berkomunikasi?
Bagaimana melakukan komunikasi yang baik kepada semua
orang?
Sebutkan enam bagian penting etiket berkomunikasi!
Teknik komunikasi seperti apa yang bisa dilakukan untuk
memotivasi pengembangan kemampuan seseorang?

BAHAN AJAR KURSUS & PELATIHAN


SIAP MENJAHIT DAN MENGENAL TEKSTIL

DAFTAR PUSTAKA

Ernawati, Izwerni, dan Weni Nelmira. 2005. Tata Busana, Jilid 1 (Buku
Sekolah Elektronik). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
---. 2005. Tata Busana, Jilid 2 (Buku Sekolah Elektronik). Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Hadisurya, Irma. 2011. Kamus Mode Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Poespo, Goet. 2009. A to Z Istilah Fashion. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
http://www2.ca.uky.edu/hes/fcs/factshts/CT-LMH.019.PDF (Pressing
Technique)
http://tinline.com/article/read/makna-simbol-perawatan-pakaian

81

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BIODATA
Dunia fashion and beauty sudah digeluti Amelia
sejak tahun 2000 setelah lulus dari Universitas Negeri
Jakarta, Program Studi Tata Busana. Minatnya pada
dua bidang ini makin terasah saat ia bekerja beberapa
tahun sebagai redaktur mode dan kecantikan di majalah
femina dan berlanjut menjadi pengarah gaya (fashion
stylist) lepas untuk beberapa majalah gaya hidup di
Jakarta.
Dalam perjalanan kehidupan profesionalnya,
Amelia telah menulis banyak artikel seputar dunia
busana dan kecantikan. Oleh karena itu, tak heran jika
keaktifannya menulis ini kemudian berbuah peluncuran
buku-buku seputar gaya hidup.
Bukunya yang berhubungan dalam bidang tata
rias dihasilkan dengan berkolaborasi dengan make-up
artist ternama seperti Andiyanto (The Make Over: Mata),
Novi Arimuko (Sang Puteri), Ana Laksmono (Muslimahs
Best Make-up) dan juga Aryani Erlan (Muslimahs Light
Make-up).
Sementara itu dalam bidang busana, Amelia telah
menulis beberapa buku terbitan majalah Noor seperti
Heavenly Beauty (2012), dan Trend (2013). Selain itu,
masih ada buku Flowing by Tuty Adib yang menampilkan
ragam kreasi busana pesta dari chiffon.

82

Bahan Ajar Kursus & Pelatihan Tata Busana Level II


SIAP MENJAHIT dan MENGENAL TE KSTIL

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014

Bahan Ajar Kursus & Pelatihan


TATA BUSANA LEVEL II

SIAP MENJAHIT dan


MENGENAL TEKSTIL
Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2014