Anda di halaman 1dari 18

PERUBAHAN HORMON KETIKA MENOPAUSE

Definisi

Menopause didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana berhentinya


menstruasi (amenorhea) pada wanita yang terjadi secara permanen.

Perubahan hormonal

Progesteron diproduksi oleh korpus luteum dan menyebabkan


penebalan endometrium dalam persiapan untuk penempelan ovum
yang telah dibuahi. Progesteron juga menghambat tindakan estrogen
pada jaringan tertentu. Pada wanita yang anovulatori, tidak ada korpus
luteum terbentuk. Oleh karena itu, estrogen sering tidak terhalangi. Hal
ini dapat mengakibatkan penumpukan pada endometrium,
menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak teratur pada fase
perimenopause.
Ovarium pada saat menopause tidak lagi menghasilkan estradiol (E2)
atau inhibin dan progesteron dalam jumlah yang bermakna, dan
estrogen hanya dibentuk dalam jumlah kecil. Oleh karena itu, FSH
(Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) tidak lagi
dihambat oleh mekanisme umpan balik negatif estrogen dan
progesteron yang telah menurun dan sekresi FSH dan LH menjadi
meningkat dan FSH dan LH plasma meningkat ke tingkat yang tinggi.
Fluktuasi FSH dan LH serta berkurangnya kadar estrogen menyebabkan
munculnya tanda dan gejala menopause, antara lain rasa hangat yang
menyebar dari badan ke wajah (hot flashes), gangguan tidur, keringat
di malam hari, perubahan urogenital, osteopenia/ kepadatan tulang
rendah, dan lain-lain.

Estrogen secara endogen memproduksi Estrone (E1), estradiol (E2) dan


estriol (E3).
Estrone (E1) adalah bentuk dominan estrogen selama menopause. Ini
diproduksi dalam jumlah kecil oleh ovarium dan kelenjar adrenal, dan
terutama diturunkan oleh konversi perifer androstenedion dalam
jaringan adiposa.
Estradiol (E2) diproduksi oleh folikel ovarium dominan selama siklus
menstruasi bulanan dan merupakan estrogen alami yang paling ampuh.
Siklus menopause

Progesteron diproduksi oleh korpus luteum dan menyebabkan


penebalan endometrium dalam persiapan untuk penempelan ovum
yang telah dibuahi. Progesteron juga menghambat tindakan estrogen
pada jaringan tertentu. Pada wanita yang anovulatori, tidak ada korpus
luteum terbentuk. Oleh karena itu, estrogen sering tidak terhalangi. Hal
ini dapat mengakibatkan penumpukan pada endometrium,
menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak teratur pada fase
perimenopause.
Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan tubuh seorang
wanita
adalah estradiol. Namun selama pra-menopause, tubuh wanita mulai
menghasilkan lebih
banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang dinamakan estron, yang
dihasilkan di
dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh.
Segera setelah menopause, ovarium mensekresi androstenedione dan
testosteron
primer. Setelah menopause, kadar sirkulasi androstenedione sekitar
setengah dari
kadarnya pada awal menopause. Sebagian besar androstenedione
paska menopause
berasal dari kelenjar adrenal, dengan hanya sejumlah kecil disekresi
dari ovarium,
meskipun androstenedione merupakan steroid utama yang disekresi
oleh ovarium paska
menopause.

Produksi testosteron menurun sekitar 25 % setelah menopause, namun


sebagian
besar ovarium paska menopause (tidak pada semua wanita),
mensekresi lebih banyak
testosteron daripada ovarium premenopause, setidaknya dalam tahun
pertama periode
paska menopause. Sebaliknya, kadar progesteron benar-benar mulai
menurun selama pramenopause,

bahkan jauh sebelum terjadinya perubahan-perubahan pada estrogen


atau
testosteron dan ini merupakan hal yang paling penting bagi
kebanyakan wanita.

Gejala-Gejala dan Perubahan-Perubahan yang Menyertai Menopause


a.

Perubahan fisik

Ketidakteraturan siklus haid

Serangan rasa panas (hot flashes)

Perubahan urogenital

Perubahan kulit

Keringat di malam hari dan sulit tidur

Perubahan pada rongga mulut

Osteoporosis

Pada wanita pascamenopause, kebanyakan estrogen berasal dari perubahan


androstenedion menjadi estron pada jaringan lemak. Kecepatan perubahan
ini 15-20 kali lebih besar pada wanita gemuk. Oleh karena itu, estrogen
dalam darah wanita gemuk diketahui lebih tinggi. Kadar estrogen yang tinggi
diyakini dapat meningkatkan resiko kanker dinding rahim.

Hormon Estrogen
Estrogen adalah sekelompok senyawa steroid, karena mempunyai struktur kimia
berintikan steroid, yang secara fisiologik, sebagian besar diproduksi oleh kelenjar
endokrin sistem produksi wanita. Pria sebenarnya juga memproduksi estrogen,
tetapi dalam jumlah jauh lebih sedikit. Hormon ini termasuk zat lipofil yang sedikit
larut dalam air.
Fungsi utamanya adalah sebagai hormon seks wanita dan berhubungan erat
dengan fungsi alat kelamin primer dan sekunder wanita. Walaupun terdapat baik
dalam tubuh pria maupun wanita, kandungannya jauh lebih tinggi dalam tubuh
wanita usia subur.

Hal yang spesifik bagi hormon ini pada wanita usia subur ialah, sekresinya dari
ovarium berlangsung secara siklik dan peranannya sangat penting dalam
mempersiapkan kehamilan.
Pada tahun 1926, Loewe dan Frank pertama kali melaporkan adanya aktifitas
estrogen dalam darah manusia, sedangkan Frank dan Goldberger pada tahun yang
sama berhasil menemukan kondisi double peak selama siklus menstruasi normal
dengan menggunakan teknik bioassay. Pada tahun 1935, Mac. Corquodale pertama
kali mendapatkan kristal estradiol dari cairan folikuler ovarium dan juga estron
ditemukan dalam cairan folikel tetapi dalam jumlah yang kecil.
Fungsi Hormon Estrogen
Estrogen berperan dalam proses perubahan habitus seorang anak perempuan
menjadi wanita dewasa. Hormon ini menyebabkan perkembangan dan
mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Tanda-tanda kelamin
sekunder adalah ciri-ciri yang dapat membedakan wanita dengan pria tanpa melihat
kelaminnya, seperti perkembangan pinggul dan payudara pada wanita, kulit menjadi
halus dan juga terlibat dalam penebalan endometrium maupun dalam pengaturan
siklus haid.
Adanya hormon estrogen pada wanita yang masih aktif menstruasi akan menekan
Lipoprotein(a) atau Lp(a). Kadar Lp(a) rata-rata adalah 2 mg/dl, dan apabila Lp(a)
meningkat sampai 20-30 mg/dl maka akan muncul risiko penyakit jantung koroner.
Lp(a) ini berperan sebagai penggumpal yang kemudian bersama-sama plak yang
ada dalam pembuluh arteri akan menyumbat aliran darah sehingga muncul
serangan jantung.
Estrogen sebenarnya bukan hanya sekedar hormon pada wanita, tetapi diketahui
juga bahwa estrogen dapat menjalankan fungsi sebagai antioksidan. Kolesterol LDL
lebih mudah menembus plak di dalam dinding nadi pembuluh darah apabila dalam
kondisi teroksidasi. Peranan estrogen sebagai antioksidan adalah mencegah proses
oksidasi LDL, sehingga kemampuan LDL untuk menembus plak akan berkurang.
Peranan estrogen yang lain adalah sebagai pelebar pembuluh darah jantung
sehingga aliran darah menjadi lancar dan jantung memperoleh suplai oksigen
secara cukup.
Pada saat menopause, estrogen mulai berkurang sehingga Akan tetapi, seiring
dengan meningkatnya usia, khususnya menjelang masa menopause, kadar hormon
estrogen dalam organ kaum wanita akan terus menurun, sehingga dapat
menimbulkan beberapa efek, di antaranya hot flash, berkeringat pada waktu tidur,
dan kecemasan yang berlebihan, termasuk meningkatnya resiko mengidap berbagai
penyakit.
Pengaruh Estrogen pada Usia Dini
Pada minggu I & II kehidupan di dunia luar, masih ada pengaruh Estrogen dari ibu
pada si bayi, karena itu uterus bayi baru lahir agak lebih besar daripada anak kecil,
juga menimbulkan pembengkakan payudara pada bayi wanita maupun laki-laki
selama sekitar 10 hari dan kadang-kadang disertai sekresi cairan seperti air susu,

sedangkan pada sekitar10 15 % bayi wanita dapat timbul perdarahan pervaginam


dalam minggu pertama kehidupannya.
Terdapat tiga hormon estrogen utama, yaitu yang disebut estradiol, estrone, dan
estriol.
1.
Estradiol (E2) adalah estrogen terkuat, diproduksi oleh ovarium dan
bertanggungjawab terhadap tumbuh kembangnya payudara.
2.
Estrone (E1), estrogen yang lebih lemah, diproduksi oleh ovarium dan
jaringan lemak.
3.
Estriol (E3), estrogen terlemah dari ketiga estrogen utama, dibuat di dalam
tubuh dari estrogen-estrogen lain.
Secara biologis, estradiol adalah yang paling aktif. Perbandingan khasiat biologis
dari ketiga hormon tersebut E2 : E1 : E3 = 10 : 5 : 1.
Berbagai zat alami maupun buatan telah ditemukan memiliki aktivitas bersifat mirip
estrogen. Zat buatan yang bersifat seperti estrogen disebut xenoestrogen,
sedangkan bahan alami dari tumbuhan yang memiliki aktivitas seperti estrogen
disebut fitoestrogen.
Sintesa Hormon Estrogen
Sintesis hormon estrogen terjadi di dalam sel-sel theka dan sel-sel granulose
ovarium, dimana kolesterol merupakan zat pembakal dari hormon ini, dan
pembentukannya melalui serangkaian reaksi enzimatik.
Pada tahun 1959 Ryan dan Smith mengemukakan hipotesa 2 sel yakni mekanisme
produksi hormon steroid dalam ovarium, hipotesa ini untuk menerangkan kerja sama
antara sel theka dan sel granulose dalam pembentukan hormon.
LH diketahui berperan dalam sel theka untuk meningkatkan aktivitas enzim
pembelah rantai sisi kolesterol melalui pengaktifan ATP menjadi cAMP, dan dengan
melalui beberapa proses reaksi enzimatik terbentuklah androstenedion, kemudian
androstenedion yang dibentuk dalam sel theka berfungsi kedalam sel granulose,
selanjutnya melakukan aromatisasi membentuk estron dan estradiol 17 .
Kolesterol sebagai pembakal (prekursor) steroid disimpan dalam jumlah yang
banyak di sel-sel theka. Pematangan folikel yang mengakibatkan meningkatnya
biosintesa steroid dalam folikel diatur oleh hormon gonadotropin.
Pada proses pembentukan hormon steroid dapat terjadi reaksi-reaksi sebagai
berikut :
1.
Reaksi desmolase : pemecahan / pembelahan rantai samping.
2.
Konversi kelompok hidroksi menjadi keton atau kelompok keton menjadi
kelompok hidroksil : reaksi dehidrogenase.
3.
Reaksi hidroksilasi : perubahan kelompok OH.
4.
Pemindahan hidrogen : terbentuknya ikatan ganda
5.
Saturasi : penambahan hidrogen untuk mengurangi ikatan ganda
Kolesterol mengandung 27 atom karbon, setelah hidroksilasi dari kolesterol pada
atom C20 dan atom C22 terjadi pemecahan rantai samping menjadi bentuk

pregnenolon dan asam isocaproat, pemecahan ini di samping adanya enzim 20


hidroksilasi dan 22 hidroksilasi juga adanya peran LH dalam meningkatkan
aktivitas enzim.
Dari pregnenolan proses pembentukkan estrogen ada 2 cara yaitu :
1. Melalui 5 3 hidroksi steroid Pathway / Pregnenolon pathway
2. Melalui 4 3 ketone pathway / Progesteron pathway
Cara yang pertama melalui pembentukan dehidroepiandrosteron, sedangkan cara
yang kedua melalui pembentukan progesterone. Progesteron dibentuk dari
pregnenolon melalui penghilangan atom hidrogen dari C3 dan pergeseran ikatan
ganda dari cincin B pada posisi 5-6 ke cincin A pada posisi 4-5, perubahan ini oleh
adanya bantuan enzyme 3 hidroksi dehidrogenase dan 4-5 isomerase,
selanjutnya dengan bantuan enzyme 17 hidroksilase, progesteron akan diubah
menjadi 17 hidroksi progesterone yang kemudian mengalami demolase menjadi
bentuk testoteron, yang selanjutnya testosterone mengalami aromatisasi
(pembentukan gugus hidroksi fenolik pada atom C3) menjadi estradiol (E2),
sedangkan androstenedion juga dapat mengalami aromatisasi membentuk eston
(E1) Proses aromatisasi androstenedion dipengaruhi juga oleh FSH.
Sedangkan pembentukan estrogen melalui pembentukkan dehidroepiandrossteron
yaitu dengan cara perubahan pregnenolon menjadi 17 hidroksi pregnenolon dengan
bantuan enzim 17 hidroksilase, yang kemudian 17 hidroksi pregnenolon mengalami
desmolase membentuk dehidroepiandrosteron. Dengan bantuan enzim 3 OH
dehidrogenase serta 4-5 isomerase, dehidroepiandrosteron diubah menjadi
androstenedion dengan cara penghilangan hydrogen dan atom C3 serta pergeseran
ikatan ganda dari cincin B (posisi 5-6) kecincin A (posisi 4-5), proses selanjutnya
sintesis hormon estrogen sama halnya seperti yang diperlihatkan melalui
pembentukan progesteron.
Pada wanita masa reproduksi, estradiol diproduksi sebanyak 0,09-0,25 mg/hari,
estron 0,11-0,26 mg/hari. Kadar estradiol dalam darah berkisar antara 20-500 pg/ml
dan estron 50-400 pg/ml, sedangkan pada wanita masa menopause kadar estrdiol
dibawah 10 pg/ml, dan kadar estron dibawah 30 pg/ml, sebagai perbandingan
diketahui kadar estradiol pada laki-laki berkisar antara 15-25 pg/ml dan kadar estron
40-75 pg/ml.
Kadar estradiol mencapai puncaknya pada saat 2 hari sebelum ovulasi dengan
kadar mencapai 150-400 pg/ml. Setelah ovulasi kadar estradiol menurun, untuk
kemudian meningkat lagi sampai kira-kira hari ke 21, selanjutnya hormon ini
menurun lagi sampai akhir siklus.
Seperti diketahui zat awal untuk sintesis hormon steroid terdapat di semua kelenjar
hormon steroid, hormon mana yang pasti dan dimana akan dihasilkan tergantung
dari :
1. Reseptor yang tersedia untuk pengaturan hormon (ACTH, FSH, LH)
2. Enzim yang dominan untuk perubahan-perubahan susunan molekul steroid dalam
setiap kelenjar hormon.
Perkembangan Produksi Hormon Estrogen

Seorang gadis pertama kali memproduksi estrogen pada usia antara 8 sampai 13
tahun. Hormon ini diproduksi oleh Folikel Graaf dan pembentukannya dirangsang
oleh Folichel Stimulating Hormone (FSH). Produksi hormon estrogen yang pertama
ini merupakan tanda dimulainya masa pubertas. Estrogen mengakibatkan rahim
(uterus), vagina, tubai Fallopii (saluran dari indung telur atau ovarium ke rahim)
berkembang.
Pada saat itu rambut di ketiak dan kemaluan mulai tumbuh serta memacu tumpukan
lemak di bagian bawah tubuh (pantat, paha) dan yang pasti membuat payudara juga
tumbuh. Pada saat estrogen mencapai level yang cukup tinggi, ovulasi pun terjadi
pertama kali. Ketika itu sel telur yang telah masak, akan lepas dari ovarium dan
mulailah siklus menstruasi
Sebagai seorang yang telah dewasa, level estrogen naik turun sesuai dengan siklus
menstruasi. Pada awal siklus level hormon sangat rendah. Ketika kelenjar
hypothalamus (di otak kecil) menangkap tanda level estrogen rendah, kelenjar ini
merangsang ovarium untuk mulai memproduksi lebih banyak estrogen. Estrogen
bertanggungjawab pada pemasakan sel telur selama rentang waktu dua minggu
siklus menstruasi. Ketika estrogen mencapai level puncak sekitar hari ke-12, ovulasi
terjadi.

Hormon Progesteron
Progesteron adalah hormon steroid yang berperan dalam siklus menstruasi wanita,
mendukung proses kehamilan, dan embriogenesis. Progesteron tergolong kelompok
hormon progestogen, dan merupakan hormon progestogen yang banyak terdapat
secara alami.
Pada manusia dan beberapa binatang, progesteron diproduksi di ovarium,
khususnya setelah ovulasi di corpus luteum, pada fase luteal atau sekretoris siklus
haid. Hormon ini juga di sintesa di korteks adrenal, testis,pada otak, selama
kehamilan, dan pada plasenta. Pembentukannya dirangsang oleh LH dan berfungsi
menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Plasenta
membentuk estrogen dan progesteron selama kehamilan guna mencegah
pembentukan FSH dan LH. Dengan demikian, kedua hormon ini dapat
mempertahankan kehamilan.
Pada pertengahan fase luteal kadarnya mencapai puncak kemudian akan menurun
dan mencapai kadar paling rendah pada akhir siklus haid, yang diakhiri dengan
perdarahan haid. Bila terjadi konsepsi, implantasi terjadi 7 hari setelah fertilisasi dan
segera terjadi perkembangan trofoblas yang mengeluarkan hormon gonadotropin
korion ke dalam sirkulasi. Hormon ini akan ditemukan di urin beberapa hari sebelum
taksiran waktu perdarahan haid yang berikutnya.
Pada bulan pertama kehamilan fungsi korpus luteum akan dipertahankan dan
hormon gonadotropin akan terus disekresi sampai akhir kehamilan trimester I. Pada
bulan kedua dan ketiga plasenta yang sedang tumbuh mulai mensekresi estrogen
dan progesteron, mulai saat ini sampai partus atau saat proses kelahiran, korpus
luteum tidak diperlukan lagi.

Sekresi progesteron selama fase folikuler hanya beberapa milligram sehari,


kemudian kecepatan sekresi ini terus meningkat menjadi 10 sampai 20 mg pada
fase luteal sampai beberapa ratus milligram pada akhir masa kehamilan. Pada pria
sekresi ini hanya mencapai 1-5 mg sehari, dan nilai ini kira-kira sama dengan wanita
pada fase folikuler.
Jaringan Tempat Produksi
Biosintesis progesteron dalam kehamilan manusia disempurnakan melalui
penggunaan kolesterol low-density lipo-protein plasma ibu oleh plasenta. Ingat
bahwa kapasitas untuk sintesis de novo steroid di plasenta hanya terbatas;
sebagian, ini disebabkan oleh kecepatan pembentukan kolesterol yang lambat di
trofoblas. Meskipun jauh lebih banyak progesteron daripada estrogen diproduksi
selama kehamilan normal, relatif jauh lebih sedikit yang diketahui tentang
biosintesisnya sampai hari ini. Sangat sedikit progesteron yang diproduksi
sepanjang kehamilan manusia muncul di ovarium setelah beberapa minggu pertama
kehamilan (Diczgalusy dan Troen,1961). Pengangkatan secara bedah korpus luteum
atau ooforektomi bilateral yang dikerjakan pada minggu ke-7 sampai ke-10
kehamilan tidak mengakibatkan menurunnya kecepatan ekskresi pregnanediol urin,
metabolit utama progesteron. Ada peninggian bertahap kadar progesterone plasma
dan kadar estradiol-17 serta estriol pada kehamilan manusia yang normal.
Kecepatan Produksi
Teknik-teknik dilusi isotop untuk pengukuran kecepatan endogen produksi hormon
pada manusia pertama kali diterapkan pada suatu penelitian produksi progesteron
pada kehamilan. Hasil-hasil penelitian ini, yang dikerjakan oleh Pearlman pada
tahun 1957, menunjukkan bahwa produksi harian progesterone pada kehamilan
tunggal normal lanjut adalah sekitar 250 mg. Hasil-hasil penelitian yang memakai
metoda-metoda lain cocok dengan nilai di atas. Tetapi, pada beberapa kehamilan
dengan janin multiple kecepatan produksi progesteron harian dapat melebihi 600
mg per hari.
Sumber Prekursor Kolesterol untuk Biosintesis Progesteron
Progesteron dibentuk dari kolesterol pada semua jaringan steroidogenik dalam suatu
reaksi enzimatik dua langkah. Pertama, kolesterol dikonversi di mitokondria, menjadi
pregnenolon steroid intermediat, dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh enzim
sitokrom P-45, 3-hidroksisteroid dehidrogenase.
Solomon dan kawan-kawan (1954) mendemonstrasikan bahwa perfusi plasenta in
vitro dengan kolesterol radiolabel menghasilkan pembentukan progesterone
radiolabel. Di samping itu, inkubasi pregnenolon menjadi progesterone telah
diperlihatkan dengan penelitian perfusi plasenta in situ yang dikerjakan di
Laboratorim Diczfalusy. Tetapi sementara plasenta memproduksi sejumlah
progesterone yang sangat banyak, kapasitas biosintesis kolesterol di organ ini
sangat terbatas.
Kecepatan penggabungan asetat radiolabel ke kolesterol oleh jaringan plasenta
berjalan sangat lambat dan aktivitas enzim pembatas kecepatan dalam biosintesis
kolesterol, yaitu 3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A (HMG CoA) reduktase, di

mikrosom jaringan plasenta terbatas. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang


sumber kolesterol untuk pembentukan progesteron plasenta. Dengan penelitian in
vivo, Bloch (1945) dan Werbin dan kawan-kawan (1957) memperlihatkan bahwa
setelah pemberian intravena kolesterol radiolabel pada wanita hamil, aktivitas
spesifik pregnanediol urin adalah sama dengan aktivitas spesifik kolesterol plasma.
Hellig dan kawan-kawan (1970) juga memperlihatkan bahwa kolesterol plasma ibu
merupakan prekursor utama (sampai 90%) untuk biosintesis progesteron pada
kehamilan manusia.
Metabolisme Progesteron selama Kehamilan
Angka bersihan metabolik progesteron pada wanita hamil adalah sama dengan yang
ditemukan pada laki-laki atau wanita tak hamil. Ini merupakan pertimbangan yang
penting dalam mengevaluasi peran progesterone dalam inisiasi persalinan. Selama
kehamilan, ada peningkatan tak seimbang konsentrasi 5- dihidroprogesteron di
plasma dan dengan demikian rasio konsentrasi metabolit ini dengan konsentrasi
progesteron bertambah kecil pada wanita-wanita hamil (Milewich dan kawankawan,1975). Mekanisme untuk terjadinya hal ini tidak diketahui, tetapi mungkin ada
sangkut pautnya dengan perlawanan agen-agen penekan yang timbul pada wanita
hamil normal (Everett dan kawan-kawan,1978). Progesteron juga dikonversi menjadi
mineralokortikoid deoksikortikosteron (DOC) yang poten pada wanita hamil dan
janin.
Selama kehamilan manusia, konsentrasi DOC meningkat menyolok baik pada
kompartemen ibu maupun kompartemen janin; dan pembentukan ekstraadrenal
deoksikortikosteron dari progesteron sirkulasi menghasilkan sebagian besar dari
mineralokortikosteroid ini yang diproduksi pada kehamilan manusia.
Fungsi Progesteron
Efek progesteron pada uterus. Fungsi dari progesteron yang paling penting adalah
untuk mempersiapkan endometrium di uterus dalam fase sekresi yang tiap bulannya
pada siklus reproduksi wanita, demikian juga mempersiapkan uterus untuk
implantasi telur. Disamping untuk mempersiapkan endometrium, progesteron juga
berfungsi menurunkan frekuensi dan intensitas dari kontraksi uterus, dengan
demikian dapat membantu untuk mencegah ekspulsi dari hasil implantasi ovum.
Efek progesteron pada tuba fallopi. Progesteron juga meningkatkan sekresi, pada
lapisan mukosa pada tuba fallopi. Sekresi ini adalah kebutuhan untuk nutrisi dari
hasil fertilisasi, mempersiapkan tuba fallopi sebelum implantasi.
Berikut adalah efek fisiologis dari Progesteron:

Efek pada sistem reproduksi


menyiapkan uterus (rahim) untuk kehamilan
selama kehamilan, progesteron juga menurunkan respon kekebalan tubuh
ibu, untuk menerima janin.
menurunkan pergerakan otot halus uterus (rahim)

menghambat laktasi selama kehamilan

penurunan kadar progesteron selama masa kehamilan mungkin menjadi awal


mula proses kelahiran bayi.
Efek pada sistem syaraf
progesteron termasuk hormon neurosteroid, berperan meningkatkan
kemampuan belajar dan daya ingat
Efek pada payudara
Progesteron mempersiapkan lobules dan alveoli pada payudara,
menyebabkan sel alveoli untuk berproliferasi, memperluas, dan menjadi
sekret secara alamiah.
Walaupun, progesteron tidak menyebabkan aktivasi alveoli untuk
menghasilkan ASI, mulailah terjadi pengeluaran air susu ibu karena rangsangan
prolaktin dari kelenjar pituitary anterior.
Progesteron juga menyebabkan payudara bertambah besar. Selain karena
bertambah besarnya payudara akibat sekresi pada lobules dan alveoli payudara, hal
ini juga sebagai hasil dari peningkatan cairan pada jaringan subkutaneus.
Efek pada sistem lainnya
menurunkan kejang otot polos

menururunkan kerja empedu dan kandung kemih

memiliki efek antiinflamasi dan mengatur respon kekebalan tubuh

menormalkan pembekuan darah, kadar seng dan tembaga, kadar oksigen


sel, dan lemak yang disimpan untuk energi.
mempengaruhi kesehatan gusi, meningkatkan risiko gingivitis dan kerusakan

gigi.

mencegah kanker endometrium, dengan cara mengatur efek estrogen.


Mekanisme Kerja Hormon Progesteron
Progestin merupakan hormon yang secara alami terutama diproduksi oleh corpus
luteum dan plasenta yang berperan dalam reproduksi dengan mempersiapkan
endometrium untuk implantasi telur dan membantu perkembangan serta
berfungsinya kelenjar mammary. Di samping efek progestationalnya, progestin
sintetik tertentu memiliki efek anabolik, androgenik atau estrogenik (biasanya
lemah). Progesteron merupakan progestin alam yang paling banyak yang selain
efeknya sebagai hormon juga berfungsi sebagai prazat untuk produksi berbagai
androgen, kortikosteroid dan estrogen secara endogen. Mekanisme kerja
progesteron dalam kontrasepsi adalah sebagai berikut :
1. Ovulasi
Ovulasi sendiri mungkin dapat dihambat karena terganggunya fungsi poros
hipotalamus-hipofisis-ovarium dan karena modifikasi dari FSH dan LH pada
pertengahan siklus yang disebabkan oleh progesteron.
2. Implantasi

Implantasi mungkin dapat dicegah bila diberikan progesteron pra-ovulasi. Ini yang
menjadi dasar untuk membuat IUD yang mengandung progesteron. Pemberian
progesteron-eksogenous dapat mengganggu kadar puncak FSH dan LH, sehingga
meskipun terjadi ovulasi produksi progesteron yang berkurang dari korpus luteum
menyebabkan penghambatan dari implantasi. Pemberian progesteron secara
sistemik dan untuk jangka waktu yang lama menyebabkan endometrium mengalami
keadaan istirahat dan atropi.
3. Transpor Gamet atau Ovum
Pengangkutan ovum dapat diperlambat bila diberikan progesteron sebelum terjadi
fertilisasi.
4. Luteolisis
Pemberian jangka lama progesteron saja mungkin menyebabkan fungsi corpus
luteum yang tidak adekuat pada siklus haid sehingga menghambat folikulogenesis.
5. Lendir serviks yang kental
1.
Dalam 48 jam setelah pemberian progesteron, sudah tampak lendir serviks
yang kental, sehingga motilitas dan daya penetrasi dari spermatozoa sangat
terhambat.
2.
Lendir serviks yang tidak cocok dengan sperma adalah lendir yang jumlahnya
sedikit, kental dan seluler serta kurang menunjukkan ferning dan spinnbarkeit
Metabolisme dan Fungsi Estrogen
Metabolisme dan Fungsi Estrogen: Hati mengubah estradiol dan estron
menjadi estriol. Estradiol, estron dan estriol merupakan substrat untuk
enzim hepatik, dimana hati mengkonjugasi estrogen untuk membentuk
glukuronida dan sulfat. Aktifitas enzim yang melaksanakan reaksi
konjugasi ini bervariasi antara berbagai spesies. Hormon steroid yang
terkonjugasi bersifat dapat larut dalam air dan tidak terikat dengan
protein pengangkut, karena itu hormon estrogen ini mudah disekresikan
ke dalam getah empedu, feses dan urin.
Fungsi dari Estrogen
Fungsi utama dari estrogen adalah untuk menimbulkan proliferasi sel dan
pertumbuhan jaringan organ-organ kelamin dan jaringan lain yang
berikatan dengan fungsi produksi. Pada umumnya hormon ini merangsang
ukuran dan jumlah sel dengan meningkatkan kecepatan sntesis protein,
rRNA,tRNA,mRNA dan DNA.7
Efek pada uterus dan Organ Kelamin Luar Wanita
Selama masa kanak-kanak, estrogen disekresi hanya dalam jumlah kecil,
tetapi pada pubertas, jumlah estrogen yang disekresi di bawah pengaruh
hormon-hormon gonadotropin-hipofisis meningkat sampai 20 kali lipat
atau lebih. Ovarium, tuba fallopii, uterus, dan vagina semuanya

bertambah besar. Juga, genitalia eksterna membesar, dengan deposit


lemak pada mons pubis dan labia mayora disertai pembesaran dari labia
minora.
Selain itu, estrogen juga mengubah epitel vagina dari tipe kuboid menjadi
bertingkat, yang dianggap lebih tahan trauma dan infeksi daripada epitel
prapubertas. Terhadap endometrium, estrogen menyebabkan terjadinya
proliferasi yang nyata stroma endometrium dan sangat meningkatkan
perkembangan kelenjer endometrium yang nantinya akan dimanfaatkan
untuk memberikan nutrisi pada ovum yang berimplantasi.

Efek Estrogen pada Tuba Fallopi


Estrogen berpengaruh pada mukosa yang membatasi tuba fallopii, sama
dengan efek estrogen pada endometrium uterus. Estrogen menyebabkan
jaringan kelenjar berproliferasi, dan yang penting, estrogen menyebabkan
jumlah epitel sel-sel bersilia yang membatasi tuba fallopii bertambah
banyak. Aktivitas silia juga meningkat dan silia beergerak ke arah uterus.
Silia ini membantu mendorong ovum yang telah dibuahi ke arah uterus.4
Efek Estrogen pada Payudara
Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stroma payudara,
pertumbuhan sistem duktus yang luas dan deposit lemak pada payudara.
Estrogen memulai perumbuhan payudara dan alat-alat pembentuk air
susu payudara. Estrogen juga berperan pada pertumbuhan karakteristik
dan penampilan luar wanita dewasa. Akan tetapi, estrogen tidak
menyelesaikan tugasnya yaitu mengubah payudara menjadi organ yang
memproduksi susu.4,7,12
Efek Estrogen pada Tulang Rangka
Estrogen menyebabkan meningkatnya aktivitas osteoblastik. Oleh karena
itu, pada pubertas, ketika wanita masuk masa reproduksi, laju
pertumbuhannya menjadi cepat selama beberapa tahun. Akan tetapi
estrogen juga mempunyai efek poten lainnya terhadap pertumbuhan
tulang rangka yaitu, estrogen menyebabkan terjadinya penggabungan
awal dari epfisis dengan batang dari tulang panjang. Sebagai akibatnya,
pertumbuhan wanita biasanya terhenti beberapa tahun lebih cepat dari
pertumbuhan pria. Estradiol juga mempunyai efek anabolik terhadap
tulang dan kartilago.

Efek Estrogen pada Pengendapan Protein


Estrogen menyebabkan sedikit peningkatan total protein tubuh, yang
terbukti dari adanya keseimbangan nitrogen yang sedikit positif apabila
diberikan estrogen. Keadaan ini kemungkinan dihasilkan dari efek pemacu
pertumbuhan estrogen pada organ-organ kelamin, tulang dan beberapa
jaringan lain.
Efek Estrogen pada Metabolisme dan Deposit Lemak
Estrogen sedikit meningkatkan laju kecepatan metabolisme tetapi hanya
kira-kira satu pertiga dari efek yang disebabkan oleh hormon kelamin pria
yaitu testosteron. Estrogen juga menyebabkan peningkatan jumlah
deposit lemak dalam jaringan subkutan.
Efek Estrogen pada Kulit
Estrogen menyebabkan kulit berkembang membentuk tekstur yang halus
dan biasanya lembut. Estrogen juga menyebabkan kulit menjadi lebih
vaskular daripada normal.

Estrogen dan progesteron menjadi jenis hormon paling banyak dikenal


dan dibahas dari beberapa jenis hormon lain. Istilah "estrogen"
sebenarnya merujuk pada salah satu dari sekelompok hormon kimia.
Hormon estrogen terkadang keliru disebut sebagai hormon yang hanya
dimiliki oleh wanita padahal kenyataannya baik pria maupun wanita
menghasilkan hormon ini. Namun, peranan hormon ini terhadap pria
terbatas pada beberapa fungsi saja.
Peran Estrogen pada Wanita
Hormon estrogen bertanggung jawab atas reproduksi, pertumbuhan dan
perkembangan karakteristik wanita. Istilah "estrogen" termasuk kelompok
hormon kimiawi serupa: estron, estradiol (paling banyak pada wanita usia
produktif) dan estriol. Secara keseluruhan, estrogen diproduksi di ovarium,
kelenjar adrenal dan jaringan lemak. Lebih khusus lagi, estradiol dan
estron bentuk diproduksi terutama dalam bagian ovarium pada wanita
premenopause, sementara estriol diproduksi oleh plasenta selama periode
kehamilan. Pada tubuh wanita, hormon ini beredar dalam aliran darah dan
mengikat reseptor estrogen pada sel-sel dalam jaringan sasaran, yang
mempengaruhi tidak hanya payudara dan rahim, tetapi juga otak, tulang,
hati, jantung dan jaringan lain.

Pertumbuhan kontrol estrogen pada dinding rahim selama tahap pertama


dari siklus menstruasi, menyebabkan perubahan pada payudara selama
masa remaja, perubahan pada masa kehamilan dan mengatur berbagai
proses metabolisme lainnya, termasuk pertumbuhan tulang dan kadar
kolesterol. (Penjelasan Perubahan dan Perkembangan Payudara dapat
dilihat disini)

Hormon Estrogen & Kehamilan


Selama wanita berada dalam masa reproduksi, kelenjar hipofisis di otak
menghasilkan hormon yang menyebabkan sel telur baru yang akan
dilepaskan dari bagian folikel pada setiap bulannya. Sementara folikel
berkembang, bagian tersebut menghasilkan hormon estrogen, yang
menyebabkan lapisan rahim menebal.
Peningkatan produksi progesteron setelah masa ovulasi di tengah siklus
wanita adalah untuk memelihara sel telur agar siap dibuahi sehingga
dapat berkembang menjadi janin. Jika pembuahan tidak terjadi, tingkat
estrogen dan progesteron akan menurun tajam, lapisan rahim meluruh
dan terjadi siklus menstruasi baru.
Jika kehamilan terjadi, estrogen dan progesteron bekerja sama untuk
mencegah bertambahnya masa ovulasi selama kehamilan. Alat
kontrasepsi seperti pil KB mengambil keuntungan dari efek ini dengan
mengatur kadar hormon. Mereka juga mengakibatkan produksi lapisan
rahim sangat tipis, yang disebut endometrium, yang menutup diri agar
sel-sel telur tidak dibuahi. Selain itu, mereka mengentalkan lendir serviks
untuk mencegah sperma memasuki serviks dan terjadi pemupukan sel
telur.

Siklus haid tidak bertelur (anovulatoir = anovulasi)

Siklus haid yang anovulatoir adalah siklus haid dimana ovulasi (=lepasnya
sel telur) tidak terjadi. Ini artinya haid tetap timbul seperti biasa tetapi
tidak melepaskan sel telur, disebut dengan istilah anovulasi. Hal ini biasa
terjadi pada usia perimenopause. Jika terjadi haid tanpa ovulasi maka
akan sulit untuk bisa hamil (infertilitas).

Anovulasi bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari pengaruh diet
sampai dengan dan olah raga sampai ke gangguan kelenjar kecil yang ada
di otak yang mengontrol fungsi2 dasar manusia. Beberapa penyebab
mudah diidentifikasi sedangkan sebagian lainnya sulit.
Gangguan keseimbangan hormon merupakan penyebab terbanyak siklus
anovulasi. Penyebab lainnya adalah olahraga yang berat seperti, lari bisa
mempengaruhi siklus haid dengan cara menekan keluarnya hormon yang
disebut gonadotropins dari hypothalamus di otak. Ansietas dan stres
emosional juga berperanan sebagai penyebabnya.
Siklus anovulasi secar umum disebabkan: gangguan makan, gangguan
hypothalamus, hiperprolaktin (hormon susu yang tinggi), PCO/SOPK, defek
fase luteal, atau adanya tumor kelenjar hipofise, kelenjar anak ginjal
(adrenal) atau ovarium (indung telur) dan penyebab lainnya. Penyebab
lain yang mungkin adalah pemakaian obat2an tertentu dalam jangka
panjang. Obat golongan steroid serta pil KB kadang2 dapat
menyebabkannya.
Begitu penyebabnya sudah diketahui, maka segera dihindari, terutama
bagi yang belum memiliki anak. Hindari olahraga yang berlebihan, dan
hindari diet (mengurangi makan) yang berlemak. Belajar mengatasi stress
dan bergaya hidup yang sehat.
Anovulasi bisa sulit di deteksi. Pada beberapa wanita bahkan haidnya
sangat normal walaupun tidak ada ovulasinya. Paling sering wanita yang
tidak berovulasi juga mengalami tidak haid (=amenorrhea), atau haidnya
sedikit (=oligomenorrhea). Sehingga jika mengalami haid yang sedikit ,
singkat dan tanpa nyeri bisa menjadi alarm bagi wanita dan dokternya
akan adanya siklus anovulasi.
Jika mengalami perdarahan antara siklus haid lebih dari 2-3 siklus haid,
besar kemungkinan siklusnya anovulasi. Banyak siklus-siklus anovulasi ini
berhubungan dengan perdarahan yang tidak teratur atau hiperplasia
endometrium. Pemeriksaan yang dilakukan bisa seperti di bawah ini

(tergantung anjuran dokter).


* LH (hari ke 13 dan 15 siklus mens)
* FSH
* Progesteron
* Prolaktin
* DHEA-SO4
* Testosteron and SHBG
* CT scan atau MRI scan hipofise dan hypothalamus
* Biopsi Endometrium
* Biopsi Ovarium
Pengobatan siklus anovulatoir bervariasi tergantung penyebabya dan
faktor lainnya seperti usia dan riwayat medis. Pada banyak wanita infertil
dengan anovulasi, pengobatan obat2 pemicu ovulasi sering membawa
keberhasilan (hamil). Clomiphene citrate (Clomid) merupakan obat pilihan
pertamabagia wanita yang anovulasi yang menghasilkan estrogen.
JIka pemberian clomiphene saja tidak berhasil, ditambah dengan Pergonal
untuk memacu matangnay sel telur (folikel). Obat ini langsung
nerangsang indung telur, dan jika folikel tumbuh dengan ukuran yang
cukup, maka diberikan injeksi hormon HCG agar ovulasi bisa segera
terjadi.
Beberapa pengobatan lainnya yang dapat dipergunakan secara
bersamaan adalah:
* Pengobatan untuk penyakit yang ada (penyebab)
* Modifiaksi nutrisi
* Mengurangi stress
* Pembedahan tumor

Read more: http://konsultasi-spesialis-obsgin.blogspot.com/2009/12/siklushaid-tidak-bertelur-anovulatoir.html#ixzz3nANwMyQ9


CA-125 Tes Darah

Ini adalah tes untuk mengukur tingkat CA-125 dalam darah, sebagai indikator
dari kanker ovarium. CA-125 tingkat sering meningkat ketika kanker indung telur
hadir, tapi kondisi lain juga dapat menyebabkan peningkatan kadar, termasuk
kehamilan, menstruasi dan beberapa non-kanker ovarium. Tes tidak
membedakan antara tumor ganas dan jinak dan yang terbaik digunakan dengan
penanda tumor kanker lainnya.

Siklus haid
Seorang wanita setiap bulan melepaskan satu sel telur matang dari salah satu ovariumnya.
Apabila tidak terjadi fertilisasi akan terjadi pendarahan yang disertai luruhnya sel telur dan
lapisan endometrium. Pendarahan ini disebut menstruasi. Menstruasi terjadi secara periodik
sehingga disebut siklus menstruasi.

Pada umumnya siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari. Siklus menstruasi terdiri atas
empat fase, yaitu fase menstruasi, fase praovulasi, fase ovulasi, dan fase pascaovulasi.

Perkembangan folikel hingga menstruasi

1)
Fase
menstruasi
Fase ini terjadi apabila ovum tidak dibuahi sperma. Dalam keadaan tersebut korpus lu-teum
menghentikan produksi estrogen dan progesteron. Akibatnya, ovum meluruh bersama-sama
dengan endometrium. Kondisi ini ditandai adanya pendarahan melalui vagina.

2)
Fase
pra-ovulasi
(fase
folikel)
Pada fase pra-ovulasi, hipotalamus menghasilkan hormon gonadotropin yang merangsang
pembentukan follicle stimulating hormone (FSH). FSH merangsang pembentukan folikel
yang mengelilingi oosit primer hingga matang. Ovum matang yang diselubungi folikel
disebut folikel de Graaf. Folikel de Graaf kemudian menghasilkan estrogen yang
merangsang pembentukan endometrium. Estrogen juga memengaruhi serviks untuk
mengeluarkan lendir bersifat basa. Lendir itu akan menetralkan sifat asam dalam serviks
sehingga
sperma
mampu
hidup
di
dalamnya.

3)
Fase
ovulasi
Adanya peningkatan kadar estrogen mengakibatkan terhambatnya pembentukan FSH
sehingga hipofisis melepaskan luteinizing hormone (LH). LH merangsang terjadinya ovulasi.
Ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-14 dihitung sejak hari pertama menstruasi. Pada saat
ovulasi,
oosit
sekunder
terlepas
dari
folikel.

4)
Fase
pasca-ovulasi
(fase
luteal)
Pada tahap ini, LH merangsang folikel yang telah kosong menjadi korpus luteum (badan
kuning). Korpus luteum tetap menghasilkan estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja
sama dengan estrogen memacu pembentukan endometrium. Progesteron juga merangsang
sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu. Hal ini berguna untuk persiapan
penanaman zigot dalam uterus setelah pembuahan. Apabila sampai akhir fase ini tidak
terjadi pembuahan, akan kembali ke fase menstruasi lagi.

Read more: http://zonabiokita.blogspot.com/2014/06/siklus-menstruasi-padawanita.html#ixzz3nASb0Bsh