Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keimigrasian sebagaimana yang ditentukan di dalam Bab 1 Pasal 1 (1)
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 Lembaran Negara Tahun 1992, Nomor
33 Tentang Keimigrasian adalah hal ihwal lalu lintas orang yang masuk atau
keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di
Indonesia.Hukum Keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang
berlaku di Indonesia, bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi
Negara1.

Fungsi

keimigrasian

merupakan

fungsi

penyelenggaraan

administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan, oleh


karena itu sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif, yaitu
fungsi administrasi negara dan pemerintahan, maka hukum keimigrasian
dapat dikatakan bagian dari bidang hokum administrasi negara.2 Untuk
menjamin kemanfaatan dan melindungi berbagai kepentingan nasional,
maka Pemerintah Indonesia telah menetapkan prinsip, tata pelayanan, tata
pengawasan atas masuk dan keluar orang ke dan dari wilayah Indonesia
sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992
tentang Keimigrasian.
Imigrasi termasuk salah satu instansi pemerintah, yang salah satu
kegiatannya memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Pelayanan dalam
hal memberikan segala perizinan keimigrasian berupa Visa, Izin masuk,

pendaftaran orang asing, izin masuk kembali, izin keluar tidak kembali, Surat
Perjalanan RI, tanda bertolak, tanda masuk, surat keterangan keimigrasian
dan

perubahan

keimigrasian.Tempat-tempat

pelayanan

keimigrasian,

meliputi bidang atau sub bidang imigrasi pada Perwakilan RI di luar negeri, di
perjalanan dalam pesawat udara, maupun kapal laut, tempat pemeriksaana
imigrasi, Kantor Imigrasi, Bidang Imigrasi pada Kantor Wilayah Kementerian
Hukum dan HAM, serta Direktorat Jenderal Imigrasi. Terhadap orang asing,
pelayanan

dan

pengawasan

di

bidang

keimigrasian

dilaksanakan

berdasarkan prinsip selektif (selective policy). Berdasarkan prinsip ini, maka


orang asing yang dapat diberikan ijin masuk ke Indonesia ialah :
a. Orang asing yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan
Negara Republik Indonesia.
b. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, serta
c. Tidak bermusuhan dengan rakyat maupun Pemerintah Negara Republik
Indonesia.
Untuk

mewujudkan

prinsip

selektif,

diperlukan

kegiatan

pengawasan

terhadap orang asing, pengawasan ini tidak hanya pada saat orang asing
masuk ke wilayah Indonesia, tetapi juga selama orang asing berada di
wilayah Indonesia termasuk kegiatan-kegiatannya sebab terdapat orang
asing yang keberadaannya di Indonesia merugikan kepentingan bangsa
seperti kasus-kasus penyalahgunaan ijin tinggal keimigrasian, overstay,
imigran gelap dan lain sebagainya adalah suatu bentuk pelanggaran
keimigrasian yang bersifat transnasional.

Pengawasan Orang Asing di wilayah Indonesia, berupa pengawasan


terhadap orang asing yang masuk, keberadaan, kegiatan dan keluar dari
wilayah Indonesia, antara lain dapat menimbulkan 2 (dua) kemungkinan
yakni : Pertama, Orang asing mantaati peraturan yang berlaku dan tidak
melakukan kegiatan yang berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum,
hal ini tidak menimbulkan masalah Keimigrasian maupun Kenegaraan. Kedua
Orang asing tidak mentaati peraturan perundangundangan yang berlaku di
Indonesia, hal ini menimbulkan masalah dan dapat dikenakan tindakan
hukum berupa :
a. Tindakan

Hukum

Pidana

berupa

penyidikan

Keimigrasian

yang

merupakan bagian daripada rangkaian Integrated Criminal Justice


sistem, sistem peradilan pidana ( penyidikan, penuntutan, peradilan )
dan atau ;
b. Tindakan hukum administratif negara berupa tindakan keimigrasian
adalah tindakan administratif dalam bidang keimigrasian di luar proses
peradilan. Termasuk bagian daripada tindakan keimigrasian ini adalah
diantaranya deportasi terhadap orang asing untuk keluar dari wilayah
yurisdiksi negara kesatuan Republik Indonesia.
Penegakan hukum pidana keimigrasian adalah penegakan hukum melalui
proses penyidikan berdasarkan ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 9
Tahun 1992 Tentang Keimigrasian yang dilaksanakan sesuai asas dan kaedah
hukum acara pidana. Pasal 50 Undang-Undang nomor 9 Tahun 1992
mengatakan bahwa orang asing yang sengaja menyalahgunakan atau
melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian ijin

keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara


paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak
Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) Pasal 42 (1) Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1992 mengatur tentang Tindakan Keimigrasian yang
menyatakan bahwa tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing
yang berada di wilayah Indonesia yang :
a. Melakukan kegiatan berbahaya atau patut diduga akan berbahaya bagi
keamanan dan ketertiban umum, atau
b. Tidak menghormati atau mentaati peraturana perundang-undangan
yang berlaku.
Maksud dari Tindakan Keimigrasian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1
(1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian adalah
Tindakan Administratif dalam bidang keimigrasian diluar proses peradilan.
Dengan

demikian

sebagaimana

maka

dimaksud

orang
dalam

asing
Pasal

yang
50

melakukan

dapat

pelanggaran

dikenakan

tindakan

administratif diluar proses peradilan. Tindakan administratif yang dimaksud


sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat (2) dapat berupa :
a. Pembatasan, perubahan atau pembatalan izin keimigrasian.
b. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di
wilayah Indonesia.
c. Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah
Indonesia.
d. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan
masuk ke wilayah Indonesia.

Pengertian tersebut mengandung arti bahwa segala bentuk tindakan


administratif dibidang keimigrasian diluar tindakan hukum pidana atau
penyidikan masuk kategori Tindakan Keimigrasian. Selain menurut ketentuan
hukum positif tersebut diatas, juga menurut hukum internasional bahwa
tindakan keimigrasian berupa deportasi bukan tindakan hukum pidana dan
ini berlaku secara universal pada negara-negara lain di dunia. Semua
tahapan-tahapan tindakan keimigrasian, tentu diperlukan adanya suatu
landasan yuridis maupun administrasi, sebagai dasar operasional dalam
menangani suatu kasus pelanggaran keimigrasian. Oleh karena pada
hakekatnya tindakan keimigrasian adalah suatu tindakan pengekangan atau
pembatasan terhadap
kebebasan, dan hak asasi manusia tersebut dijamin serta dilindungi
peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
Keberadaan Orang Asing Di Indonesia
2.1. Ijin Keimigrasian
Ijin Keimigrasian yang berlaku di Indonesia meliputi :
1. Izin Tinggal terbatas diberikan kepada:
a. Orang Asing yang masuk Wilayah Indonesia dengan Visa tinggal
terbatas atau Orang Asing yang diberikan alih status dari Izin
Tinggal kunjungan, yang meliputi:
1. Orang Asing dalam rangka penanaman modal;
2. Bekerja sebagai tenaga ahli;
3. Melakukan tugas sebagai rohaniawan;
4. Mengikuti pendidikan dan pelatihan;
5. Mengadakan penelitian ilmiah;
6. Menggabungkan diri dengan suami atau istri pemegang
Izin Tinggal terbatas;
7. Menggabungkan diri dengan ayah dan/atau ibu bagi anak
berkewarganegaraan asing yang mempunyai hubungan
hukum kekeluargaan dengan ayah dan/atau ibu warga
negara Indonesia;

8. Menggabungkan diri dengan ayah dan/atau ibu pemegang


Izin Tinggal terbatas atau Izin Tinggal Tetap bagi anak yang
berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum
kawin;
9. Orang Asing eks warga negara Indonesia; dan
10.

Wisatawan lanjut usia mancanegara.

b. Anak yang pada saat lahir di Wilayah Indonesia ayah dan/atau


ibunya pemegang Izin Tinggal terbatas;
c. Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut,
alat apung, atau instalasi yang beroperasi di wilayah perairan
dan wilayah yurisdiksi Indonesia sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
d. Orang Asing yang kawin secara sah dengan warga negara
Indonesia; atau
e. Anak dari Orang Asing yang kawin secara sah dengan warga
negara Indonesia.
2. Izin Tinggal terbatas juga dapat diberikan kepada Orang Asing untuk
melakukan pekerjaan singkat.
3. Izin Tinggal terbatasberakhir karenapemegang Izin Tinggal terbatas:

a. Kembali ke negara asalnya dan tidak bermaksud masuk lagi ke


Wilayah Indonesia;
b. Kembali ke negara asalnya dan tidak kembali lagi melebihi masa
c.
d.
e.
f.

berlaku Izin Masuk Kembali yang dimilikinya;


Memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia;
Izinnya telah habis masa berlaku;
Izinnya beralih status menjadi Izin Tinggal Tetap;
Izinnya dibatalkan oleh Menteri atau Pejabat Imigrasi yang

ditunjuk;
g. Dikenai Deportasi; atau
h. Meninggal dunia.

2.2. Hak dan Kewajiban Orang Asing


Bagi warga negara asing yang mendapat izin tinggal juga menerima hak
dan kewajibanm selama berada di Indonesia:
1. Kewajiban untuk tunduk dan patuh pada peraturan perundangundangan.
2. Hak untuk menerima perlindungan atas diri dan hartanya.
3. Tidak memiliki hak untuk dipilih dan memilih.
4. Tidak mempunyai jak dan kewajiban untuk bela negara.
2.3. Hak

dan

Kewajiban

WNA

Diplomatik atau Konsuler

Yang

Bertugas

Sebagai

Staf

Dalam melaksanakan tugasnya anggota Korps diplomatik mempunyai


hak istimewa sebagai berikut.
1) Hak Immunitas
Hak immunitas adalah hak yang menyangkut diri pribadi seorang
diplomat serta gedung perwakilannya. Dengan hak ini, para diplomat
mendapat hak istimewa atas keselamatan diri pribadi dan harta
bendanya. Mereka juga tidak tunduk kepada yuridiksi di dalam negara
tempat mereka bertugas, baik dalam perkara perdata maupun pidana.
Misalnya, panggilan untuk menjadi saksi atau dituntut di muka
pengadilan, tidak dapat diberlakukan kepada mereka, kecuali jika ada
ijin dari pemerintah yang mengutus. Akan tetapi, perlu diketahui
bahwa para diplomat juga dapat diusir atau dikembalikan ke negara
asalnya, jika mereka melanggar peraturan perundang-undangan yang
berlaku di negara tempat mereka bertugas.
2. Hak Ekstrateritorial
Hak Ekstrateritorial adalah hak kebebasan diplomat terhadap daerah
perwakilan, termasuk halaman bangunan serta perlengkapannya
seperti: bendera, lambang negara, dokumen, dan surat-surat lainnya
yang bebas sensor. Dalam hal ini, polisi atau aparat keamanan dilarang
memasuki

daerah

tersebut

tanpa

ijin

pihak

perwakilan

yang

bersangkutan. Bila ada penjahat atau pencari suaka politik yang masuk
ke dalam kedutaan, maka ia dapat diserahkan atas permintaan
pemerintah sebab para diplomat tidak memiliki hak asylum. Hak
Asylum adalah hak untuk memberi kesempatan kepada suatu negara
dalam memberikan perlindungan kepada warga negara asing yang

melarikan diri. Bagi para anggota korps konsuler, hak ekstrateritorial


biasanya hanya menyangkut diri sendiri dan stafnya, yaitu berupa hak:
1) kekebalan surat-menyurat resmi tanpa sensor beserta arsiparsipnya,
2) pembebasan pajak setempat,
3) pembebasan kewajiban hadir dalam sidang pengadilan yang
berhubungan dengan dinasnya sendiri.
2.4. Pengawasan dan Penindakan Terhadap Orang Asing
Untuk mengatur berbagai macam warga negara asing yang keluar dan
masuk ke wilayah Indonesia, kebijakan pemerintah di bidang keimigrasian
menganut prinsip selective policy yaitu suatu kebijakan berdasarkan prinsip
selektif. Berdasarkan prinsip ini, hanya orang-orang asing yang dapat
memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan Negara
Republik Indonesia, yang tidak membahayakan keamanan dan ketertiban
serta tidak bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945 (UUD 1945), yang diizinkan masuk atau keluar wilayah
Indonesia, dan untuk itu perlu ada pengaturan dan batasan berupa perizinan
yang diberikan kepada orang asing apabila hendak tinggal di Indonesia,
sedangkan masalah pengaturan izin tinggal orang asing di Indonesia, sistem
pengawasan keimigrasian terhadap orang asing yang dilakukan oleh Wilayah
Kantor

Imigrasi

Kelas

Khusus

Medan,

terutama

terhadap

masalah

penindakan keimigrasian terhadap orang asing yang melebihi batas waktu


izin tinggal yang diberikan (overstay), belum tegas diatur di dalam peraturan
perundang-undangan sehingga masalah tersebut dapat dilihat dari tujuan
penelitian ini antara lain, untuk mengetahui pengaturan izin tinggal orang

asing di Indonesia, untuk mengetahui sistem pengawasan keimigrasian


terhadap orang asing yang dilakukan oleh Wilayah Kantor Imigrasi Kelas I
Khusus Medan dan untuk mengetahui penindakan keimigrasian terhadap
orang asing yang melebihi batas waktu izin tinggal yang diberikan
(overstay). Adapun jenis penelitian yang menggunakan metode penelitian
hukum normatif, bersifat deskriptif analitis yaitu penelitian yang berusaha
untuk menggambarkan dan menguraikan tentang permasalahan yang
berkaitan dengan pengawasan dan penindakan keimigrasian terhadap izin
tinggal orang asing di Indonesia, untuk mengetahui pengaturan izin tinggal
orang asing di Indonesia. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan
menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode
kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang
bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu,
namun penuh dengan variasi (keragaman). Analisis kualitatif itu juga
dilakukan metode interprestasi. Berdasarkan metode interprestasi ini,
diharapkan dapat menjawab segala permasalahan hukum yang ada dalam
tesis ini. Hakikat arah kebijakan nasional terhadap keimigrasian yang
meletakkan sebagai keseimbangan antara pendekatan kesejahteraan dan
pendekatan keamanan. Kedua hal tersebut dapat sejalan dengan pokok
pemikiran yang menyatakan negara harus memajukan kesejahteraan umum
dan disisi lain melakukan perlindungan terhadap Bangsa dan Negara.
Adapun

kesimpulan

dan

saran

penelitian

ini

adalah

upaya

adanya

pembaharuan sistem penegakan hukum keimigrasian juga harus diikuti

dengan pembaharuan hukum acara penegakan hukum keimigrasian baik


terhadap pelanggaran yang termasuk pelanggaran pidana dan pelanggaran
administratif. Perlu melibatkan penyidik Polri dalam melakukan penyidikan,
meningkatkan sarana dan prasarana keimigrasian dengan mengunakan
Teknologi Informasi, meningkatkan sumber daya manusia personil imigrasi
melalui pendidikan dan pelatihan agar lebih memahami substansi yang lebih
manusiawi yang berlandaskan nilai-nilai HAM dan pelaksanaan Good
Governance dan Clean Governance.
2.5. Pemberian Swaka
Kata Suaka berasal dari kataasylon dalam bahasa Yunani atau
asylum dalam bahasa latin berarti sebuah tempat terhormat dimana
seorang yang sedang dikejar berlindung. Berdasarkan alasan baik itu agama
dan sipil, hak memberikan perlindungan ini diberikan kepada tempat-tempat
ibadah dan kepada Negara terhadap seorang warga negara asing yang
berada dalam status buronan tanpa mempertimbangkan jenis perbuatan
kriminal atau pelanggaran yang telah dilakukannnya. Sehingga, dalam waktu
yang lama, kejahatankejahatan umum (ordinary crime) tidak dapat diekstradisi-kan. Baru sejak abad ke tujuh belas beberapa lmuwan termasuk
ahli hukum dari Belanda Hugo Grotius membedakan antara kejahatan
bersifat politik dan kejahatan umum, selanjutnya status Asylum hanya dapat
digunakan oleh mereka yang menghadapi penuntutan (prosecution) karena
alasan politik dan keagamaan. Sampai dengan pertengahan abad ke
sembilan belas hampir semua Perjanjian Ekstradisi mengakui prinsip Non-

Ekstradisi terhadap pelaku kejahatan politik, namun dengan pengecualian


terhadap mereka yang melakukan kejahatan kejahatan terhadap Kepala
Negara.
Asylum

adalah

sebuah

lembaga

yang

lahir

karena

kemanusiaan

(humanitarian) dan juga hukum (legal nature). Asylum merupakan lembaga


kemanusiaan karena dimaksudkan untuk menyelamatkan seseorang dari
penuntutan

atau

kemungkinan

penuntutan.

Asylum

juga

merupakan

instrumen hukum karena sekali Asylum diberikan maka seseorang yang


mendapatkan status sebagai penerima suaka (asylee) akan melekat padanya
hak dan kewajiban yang dapat dijalankan dan dipaksakan oleh Negara
pemberi Asylum berdasarkan hukum nasionalnya ataupun berdasarkan
aturan Hukum In ternasional dan atau aturan hukum regional yang
mempunyai kekuatan hukum mengikat. Sampai saat ini dalam instrumen
Hukum Internasional tidak terdapat satu definisi yang diterima secara umum
mengenai pengertian Asylum, namun demikian sebagai langkah awal
Institute of International Law6 dalam sebuah sesi pertemuannya di Bath,
tahun 1950, mencoba mendefinisikan pengertian Asylum sebagai berikut:
Asylum is the protection which a State grants on its territory or in some
other places
under the control of its organs, to a person who comes to seek it.