Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pterigium berbentuk segitiga dan mempunyai penampakan
seperti daging yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju
kornea pada arah intrapalpebra. Asal kata pterigium dari bahasa Yunani, yaitu pteron
yang artinya wing atau sayap. Hal ini mengacu pada pertumbuhan pterigium yang
berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi (Lisegang 2004).
Kasus Pterigium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung
pada lokasi geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah beriklim panas dan kering.
Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator. Prevalensi juga
tinggi pada daerah berdebu dan kering (Jerome 2011).
Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan
mata iritatif, gatal, merah, sensasi benda asing dan mungkin menimbulkan astigmat
atau obstruksi aksis visual yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan
(Fisher 2014)
Dalam makalah kasus panjang ini penulis akan melaporkan sebuah laporan
kasus dengan pasien yang mengalami pterigium grade II dan III mata kiri di Rumah
Sakit Siful Anwar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi pterigium?
2. Bagaimana cara mendiagnosa pterigium?
3. Bagaimana penatalaksanaan pterigium?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah:
1. Mengetahui definisi pterigium
2. Mengetahui diagnosa pterigium
3. Mengetahui penatalaksanaan pterigium

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pterigium
Pterigium berasal dari bahasa Yunani yaitu Pteron yang artinya sayap
(wing). Pterigium didefinisikan

sebagai

pertumbuhan

jaringan

fibrovaskuler

pada subkonjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea, umumnya bilateral


di sisi nasal, biasanya berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap ke sentral
kornea dan basis menghadap lipatan semilunar pada cantus (Ardalan 2010).
Pterigium merupakan bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini
biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang
meluas ke daerah kornea. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian
sentral

atau

di

daerah

kornea

(Lisegang

2004).

2.2 Epidemiologi
Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas
dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering
mempengaruhi adalah daerah dekat dengan ekuator yaitu daerah <37 0 lintang utara
dan selatan dari ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22 % di daerah dekat ekuator dan
<2 % pada daerah di atas lintang 400 (Laszuarni et al. 2009)
Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Sebuah hubungan terdapat antara peningkatan prevalensi dan daerah
yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang sehingga dapat
disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif angka
kejadian di lintang bawah. Pasien di bawah umur 15 tahun jarang terjadi pterigium.
Prevalensi pterigium meningkat dengan umur, terutama dekade ke 2 dan 3 kehidupan.
Insiden tinggi pada umur antara 20-49 tahun. Pterigium rekuren sering terjadi pada
umur muda dibandingkan dengan umur tua. Laki-laki 4 kali lebih berisiko daripada
perempuan dan berhubungan dengan merokok, pendidikan rendah dan riwayat
paparan lingkungan di luar rumah (Jerome 2011)
2.3 Etiologi
Hingga saat ini etiologi pasti pterigium masih belum diketahui secara
pasti. Beberapa faktor resiko pterigium antara lain adalah paparan ultraviolet,
mikro trauma kronis pada mata, infeksi mikroba atau virus. Selain itu beberapa
kondisi kekurangan fungsi lakrimal film. konjungtivitis kronis dan defisiensi
vitamin A juga berpotensi menimbulkan pterigium (Lazuarni et al. 2009). Selain
itu ada juga yang mengatakan bahwa etiologi pterigium merupakan suatu

fenomena iritatif akibat pengeringan dan lingkungan dengan banyak angin


karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di
lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari, berdebu dan berpasir (Fisher
et al. 2014) Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga
dengan pterigium dan berdasarkan penelitian menunjukkan riwayat keluarga
dengan pterigium kemungkinan diturunkan autosomal dominan (Lazuarni et al
2009).
2.4 Faktor Resiko
Faktor resiko yang mempengaruhi pterigium adalah lingkungan seperti radiasi
ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan faktor herediter
seperti di bawah: (Jerome 2011)
a. Radiasi ultraviolet
Faktor resiko lingkungan yang utama sebagai penyebab timbulnya pterigium
adalah terpapar sinar matahari. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan
konjungtiva menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak lintang,
waktu di luar rumah, penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor
penting.
b. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium
dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan
c.

pterigium, kemungkinan diturunkan autosom dominan.


Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea
merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal
defisiensi, dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterigium. Wong
juga menunjukkan adanya pterigium angiogenesis factor dan penggunaan
pharmacotherapy antiangiogenesis sebagai terapi. Debu, kelembaban yang
rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus
papilloma juga penyebab dari pterigium.

2.5 Anatomi
2.5.1 Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis)
dan

permukaan

anterior

sklera

(konjungtiva

bulbaris).

Konjungtiva

bersambungan dengan kulit pada tepi palpebra (suatu sambungan mukokutan)


dan dengan epitel kornea dilimbus (Riordan 2010).

Sesuai dengan namanya, konjungtiva menghubungkan antara bola


mata dan kelopak mata. Dari kelopak mata bagian dalam, konjungtiva terlipat
ke bola mata baik dibagian atas maupun bawah. Refleksi atau lipatan ini
disebut dengan forniks superior dan inferior. Forniks superior terletak 8-10 mm
dari limbus sedangkan forniks inferior terletak 8 mm dari limbus. Lipatan
tersebut membentuk ruang potensial yang disebut dengan sakkus konjungtiva,
yang bermuara melalui fissura palpebra antara kelopak mata superior dan
inferior. Pada bagian medial konjungtiva, tidak ditemukan forniks, tetapi dapat
ditemukan karunkula dan plika semilunaris yang penting dalam sistem lakrimal.
Pada bagian lateral, forniks bersifat lebih dalam hingga 14 mm dari limbus
(Nemeth 2009)
Secara anatomi, konjungtiva terdiri atas 3 bagian (Riodan 2010) :
1. Konjungtiva Palpebra
2. Konjungtiva Bulbi
3. Konjungtiva Forniks

Gambar 1: Anatomi Konjugtiva (Riodan 2010)

Konjungtiva di vaskularisasi oleh arteri ciliaris anterior dan arteri palpebralis.


Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama banyak vena konjungtiva
yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva

yang sangat banyak. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun didalam lapisan superfisial
dan profundus dan bergabung dengan pembuluh limfe palpebra membentuk pleksus
limfatikus. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu
nervus oftalmikus. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit (Nemeth 2009).
2.5.2 Kornea
Kornea merupakan jaringan yang transparan dan avaskuler yang
membentuk permukaan anterior bola mata. Sifat kornea yang avaskuler
membuat kornea mendapatkan nutrisinya dari jaringan di sekitarnya. Sumber
nutrisi utama kornea adalah glukosa dan oksigen. Kornea juga merupakan
jaringan yang memiliki serabut saraf sensorik terbanyak (300-400 serabut
saraf), yang berasal dari nervus trigeminus (James et al 2007).
Kornea dalam bahasa latin cornum artinya seperti tanduk merupakan
selaput bening mata dengan ketebalan kornea dibagian sentral hanya 0,5 mm,
yang terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma,
membran descemet, dan lapisan endotel (Biswell 2000).

Gambar 2: Anatomi kornea (Wipperman et al 2013)

1. Lapisan epithel
merupakan lapisan sel yang menutupi permukaan kornea.
Lapisan ini terdiri dari 5-6 lapisan sel tipis, sel polygonal dan sel gepeng
yang saling tumpang tindih yang akan cepat berdegenerasi bila kornea

mengalami trauma.
Tebal lapisan epitel kira-kira 0,05 mm.

Epitel memiliki daya regenerasi (Biswell 2000)

2. Membrane Bowman
merupakan membran jernih yang aseluler terletak dibawah lapisan epitel.
Merupakan lapisan kolagen yang tidak teratur seperti stroma dan berasal

dari epitel bagian depan stroma.


Karena lapisan ini sangat kuat dan sulit untuk dipenetrasi, maka lapisan

ini melindungi kornea dari trauma yang lebih dalam


Lapisan ini tidak memiliki daya regenerasi (Biswell 2000)

3. Stroma
merupakan lapisan kornea yang paling tebal mencakup sekitar 90% dari

ketebalan kornea.
Bagian ini tersusun dari lamellae fibril-fibril kolagen (Biswell 2000)

4. Membrane Descemet
adalah sebuah membran elastik yang jernih tampak amorf pada
pemeriksaan mikroskopik elektron dan merupakan membran basalis dari

endotel kornea.
Membran ini berkembang terus seumur hidup dan mempunyai tebal 40
mm (Biswell 2000)

5. Lapisan Endotel
berasal dari mesotelium
terdiri atas satu lapis sel berbentuk heksagonal dengan tebal antara 20

40 mm
lapisan endotel melekat erat pada membran descemet
Endotel dari kornea ini dibasahi oleh aqueous humor.
Lapisan endotel berbeda dengan lapisan epitel karena tidak mempunyai
daya regenerasi (Biswell 2000)
Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh epitel dan endotel yang

merupakan membran semipermeabel, kedua lapisan ini mempertahankan


kejernihan kornea, jika terdapat kerusakan pada lapisan ini maka akan terjadi
edema kornea dan kekeruhan pada kornea (James et al 2007).
2.6 Patofiosiologi
Patofiosiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Tetapi penyakit ini
lebih sering pada orang yang tinggal di daerah iklim panas. Oleh karena itu
gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap
faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (ultraviolet), daerah

kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya.
Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear
film menimbulkan pertumbuhan fibroplastik baru merupakan salah satu teori
(Coroneo 1999).
Sinar ultraviolet, angina dan debu dapat mengiritasi permukaan mata.
Hal ini akan menganggu proses regenerasi jaringan konjungtiva dan diganti
dengan pertumbuhan jaringan fibrous yang berlebih. Pertumbuhan ini biasanya
progresif dan melibatkan sel-sel kornea sehingga menyebabkan pterigium.
Epitel pada mata lebih sensitive terhadap sinar ultraviolet dibandingkan dengan
jaringan lain misalnya kulit. Hal ini karena lapisan epitel pada mata tidak
mempunyai keratin. Kerusakan jaringan pada mata yang lebih lanjut dapat
menstimulasi pertumbuhan jaringan baru.
Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor supresor gene pada limbal basal
stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi dalam jumlah
berlebihan dan menimbulkan proses kolagenase meningkat. Sel-sel bermigrasi dan
angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan
subepitelial

fibrovaskular.

Jaringan

subkonjungtiva

terjadi

degenerasi

elastoik

proliferasi jaringan vaskular bawah epithelium dan kemudian menembus kornea.


Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran bowman oleh pertumbuhan
jaringan fibrovaskular, sering disertai dengan inflamasi ringan. Epitel dapat normal,
tebal atau tipis dan kadang terjadi dysplasia (Dushku 2001).
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan
kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea,
vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan
jaringan fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu banyak
penelitian menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau
disfungsi limbal stem cell. Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal
stem cell di daerah interpalpebra (Dushku 2001).
Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastik kolagen dan
proliiferasi fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium.
Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan
basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat

dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang
sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase.
Pada epitel ditemukan epitel konjungtiva ireguler, kadang-kadang berubah
menjadi epitel gepeng berlapis. Pada puncak pterigium, epitel kornea meninggi
dan pada daerah ini membran Bowman menghilang. Terdapat degenerasi
stroma yang berproliferasi sebagai jaringan granulasi yang penuh pembuluh
darah. Degenerasi ini menyebuk ke dalam kornea serta merusak membran
Bowman dan stroma kornea bagian atas. Pterigium juga dapat muncul sebagai
degenerasi stroma konjungtiva dengan penggantian oleh serat elastis yang
tebal dan berliku-liku. Fibroblas aktif pada ujung pterigium menginvasi lapisan
Bowman kornea dan diganti dengan jaringan hialin dan elastis.
2.7 Klasifikasi Pterygium
1. Pterygium Simpleks : jika terjadi hanya di nasal/temporal saja
2. Pterygium dupleks : jika terjadi di nasal dan temporal
Klasifikasi berdasarkan gejala klinis
1. Infamasi

: (jika terdapat 2 dari 3 tanda berikut)

Vaskularisasi lebih dari 2 pembuluh darah yang melebar


Stroma yang tebal, jika visualisasi pembuluh darah episklera terputus dibawah

stroma
Deposit partikel; besi, bintik warna kecoklatan dipermukaan/ditepi jaringan
pterigium

2. non inflamasi

: jika hanya terdapat salah satu tanda di atas

2.8 Grade pada pterygium:


Grade 1: jaringan fibrovaskular hanya sampai tepi luar limbus
Grade 2 : jaringan fibrovaskular melewati limbus tapi tidak sampai pertengahan iris
Grade 3 : jaringan fibrovaskular melewati pertengahan iris dan hamper sampai pupil
Grade 4 : jaringan fibrovaskular mencapai pupil
2.9. Diagnosis

Diagnosis pterigium dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan


fisik, dan pemeriksaan penunjang. Melalui anamnesis akan kita dapatkan
keluhan-keluhan pasien seperti adanya ganjalan pada mata yang semula
dirasakan didekat kelopak namun lama-kelamaan semakin ke tengah (kornea),
mata merah dan tidak disertai belek(sekret). Dari anamnesis ini kita juga akan
dapatkan informasi mengenai pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan
kebiasaan hidupnya karena hal ini berhubungan dengan besarnya paparan
sinar ultraviolet yang mengenainya.
Pemeriksaan fisik pada pasien pterigium akan didapatkan adanya suatu
lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh dari kelopak baik bagian nasal maupun
temporal yang menjalar ke kornea, umumnya berwarna putih, namun apabila
terkena suatu iritasi maka bagian pterigium ini akan berwarna merah.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
histopatologi.Dapat dilakukan pada jaringan pterigium yang telah diekstirpasi.
Gambaran pterigium yang didapat adalah berupa epitel yang irreguler dan
tampak adanya degenerasi hialin pada stromanya.
2.9.1 Penatalaksanaan
-

Pemakaian air mata artifisial : untuk membasahi permukaan ocular. Air mata
artifisial akan memberikan pelumasan pada permukaan mata pasien dengan

permukaan kornea yang tidak teratur.


Salep pelumas topical : sediaan ini cenderung menyebabkan kaburnya

penglihatan. Oleh karena itu sebaiknya digunakan pada malam hari.


Kortikosteroid: prednisolone asetat 1% untuk mengurangi pembengkakan

jaringan yang inflamasi pada permukaan okular.


Indikasi operasi:
Secara signifikan menyebabkan astigmatisme
Memperbaiki visual aksis
Memperbaiki gejala iritasi yang parah
Kosmetik
- Tindakan pembedahan:
1. Teknik Bare Sclera
2. Teknik Mc.Reynolds
3. Conjungtiva limbal autograft
4. Amniotic Membrane Suspension
2.9.2 Komplikasi
Pre operasi
- Penyimpangan atau penurunan tajam penglihatan
- Kemerahan
-

Iritasi
Gangguan gerak bola mata

Post operasi
-

Sikatrik kornea
Erosi kornea
Scleral tinning
Astigmatisme

2.9.3 Diagnosis Banding


-

Pseudopterigium
Pingekulae

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1

Identitas
Nama
: Tn. I
Usia
: 43 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Ngajum, Malang
Pekerjaan
: Petani

Status
Pendidikan

: Menikah
: SMP

10

Suku
: Jawa
Agama
: Islam
No. Register
: 11280xxx
Tgl. Kunjungan
3.2

Anamnesa

3.2.1

Keluhan utama:

: 10 Maret 2016

Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat pengobatan:
Riwayat keluarga: tidak ada yang memiliki sakit yang sama
3.3

Pemeriksaan optamologi
Okuli Dekstra
5/5 plano

Okuli Sinistra
5/12 cc c+0,75 x 90 5/5 f
Visus
Gerakan Bola Mata

Ortophoria

Ortophoria
Kedudukan Bola Mata

Sapsme (-), Edema (-), massa

Sapsme (-), Edema (-), massa (-)

(-)
Jaringan fibrovaskuler (+), CI

Palpebra, Konj. Palp.

(-), PCI (-)


Apex di limbus, corpal (+),

Konjungtiva bulbi

Jernih
Dalam, flare (-), cell (-)

Kornea

Jaringan fibrovaskular pada


bagian nasal
Apex pterigium +
Dalam, flare (-), cell (-)
COA

Rad line

Rad line
Iris

Bulat, 3mm , RP (+)

Bulat, 3mm , RP (+)


Pupil

Jernih

Jernih
Lensa

n/p

n/p
TIO

Gambar foto pasien

11

OD

3.4

Diagnosis

3.5

OD pterigium nasal grade I + corpal cornea


OS pterigium nasal grade IV

Terapi

3.6

OS

Pro CLG/LA ptirigium OS


Pro ekstraksi corpal
Tobro ed 4x1 OD
Protagent A 8x1 OD

Prognosis

12

Visam
: dubia et bonam
Sanam
: dubia et bonam
Vitam
: dubia et bonam
Kosmetik
: dubia et bonam
3.8

Follow up (18 Maret 2016)


Status Optamologi
Okuli Dekstra
5/5 plano

Okuli Sinistra
5/12
Visus
Gerakan Bola Mata

Ortophoria

Ortophoria
Kedudukan Bola Mata

Sapsme (-), Edema (-), massa


(-)
CI (-), PCI (-)

Sapsme (-), Edema (-), massa (-)


Palpebra, Konj. Palp.
Konjungtiva bulbi

Jernih

CI (+) dan PCI (+), jaringan


fibroovaskuler (+), hiperemi (+)
Jernih

Kornea
Dalam, flare (-), cell (-)

Dalam, flare (-), cell (-)


COA

Rad line

Rad line
Iris

Bulat, 3mm , RP (+)

Bulat, 3mm , RP (+)


Pupil

Jernih

Jernih
Lensa

n/p

n/p
TIO

Diagnosa:

OD kornea + Pterigium nasal grade 1


OS Pterigium nasal grade 4

Foto post OP

13

Planning therapy

Tobro ed 6x1 OS
Asam mefenamat 3x1 tab

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus pterigium, keluhan utama dapat bermacam-macam, pada
pasien ini keluahan utama adalah tumbuh selaput merah sebelah kiri dan terus
tumbuh kearah mata yang berwarna hitam. Pada teorinya pasien dengan
pterigium datang dengan berbagai macam keluhan yaitu, mata tumbuh selaput
merah dan terus tumbuh kearah mata yang berwarna hitam, mengganjal, mata
14

merah, kadang juga didapatkan nerocoh, gatal dan berair. Pada pasien
didapatkan mata kiri tumbuh selaput merah keputihan tumbuh kearah mata yan
berwarna hitam, dirasakan mengganjal, kadang terasa gatal, dan mata dirasa
kering. Dari anamnesa juga didapatkan pasien bekerja sebagai petani yang
jarang memakai topi. Faktor resiko utama pasien dengan pterigium adalah
paparan sinar ultraviolet, dengan pasien bekerja sebagai petani, selalu terapar
sinar matahari dan terpapar angina, debu yang juga merupakan faktor resiko.
Selain itu faktor resiko lainnya adalah riwayat keturunan dan tinggal diwilayah
subtropis atao tropis.
Pada pemeriksaan optamologi, pada konjungtiva terdapat jaringan
fibrovaskular pada bagian nasal mata kiri dan pada kornea terdapat apeks dari
jaringan fibrovaskular pada mata kiri. Sesuai dengan paofisiologi terbentuknya
pterigium adalah ditandai dengan degenerasi elastik kolagen dan proliiferasi
fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium. Sinar ultraviolet,
angina dan debu dapat mengiritasi permukaan mata. Hal ini akan menganggu
proses regenerasi jaringan konjungtiva dan diganti dengan pertumbuhan
jaringan fibrous yang berlebih. Pertumbuhan ini biasanya progresif dan
melibatkan sel-sel kornea sehingga menyebabkan pterigium. Epitel pada mata
lebih sensitive terhadap sinar ultraviolet dibandingkan dengan jaringan lain
misalnya kulit. Hal ini karena lapisan epitel pada mata tidak mempunyai keratin.
Kerusakan jaringan pada mata yang lebih lanjut dapat menstimulasi
pertumbuhan jaringan baru. Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor
supresor gene pada limbal basal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming
growth factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan menimbulkan
proses kolagenase meningkat. Sel-sel bermigrasi dan angiogenesis. Akibatnya
terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial
fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva terjadi degenerasi elastoik proliferasi
jaringan vaskular bawah epithelium dan kemudian menembus kornea.
Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran bowman oleh
pertumbuhan jaringan fibrovaskular, sering disertai dengan inflamasi ringan.
Beberapa klasifikasi untuk pterigium dapat dibedakan dari letaknya,
pada nasal/temporal yang disebut pterigium simpleks atau nasal dan temporal
yang disebut pterigium dupleks. Pada pasien ini merupakan pterigium simpleks,
karena hanya satu sisi saja yaitu hanya di nasal saja. Sedangkan klasifikasi

15

menurut gejala klinis pada pasien ini adalah yang non inflamasi, karena hanya
terdapat vaskularisasi pada dua pembuluh darah yang melebar. Untuk
klasifikasi pterigium menurut stadiumnya, pada pasien ini adalah stadium 2,
karena kepala jaringan pterigium berada di kornea diantara limbus dan
pertengahan jarak limbus ke tepi pupil.
Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang pada pterigium, namun apa
bila ragu-ragu dengan menyingkirkan beberapa diagnosis banding seperti
pseudopterigium dan pingekulae, dapat dilakukan beberapa tes. Untuk
menyingkirkan pseudopterigium dapat dilakukan dengan menggunakan sonde
dari bawah jaringan fibrovaskuler apakah dapat tembuh atau tidak, apabila
tembus merupakan pseudopterigium, apabila tidak tembus merupakan
pterigium.
Penatalaksanaan pterigium tergantung dari stadium pterigium, kondisi
klinis pasien, adakah komplikasi atau penyulit pada pasien. Untuk stadium 1,
belum memerlukan tindakan operasi, cukup dengan observasi, pemberian air
mata artifisial untuk mencegah mata kering, memakai pelindung seperti kaca
mata hitam dan topi apabila keluar rumah, observasi selama 3 bulan.
Sedangan untuk stadium 2 ke atas dapat dilakukan dengan pembedahan.
Teknik pembedahan pada pterigium bermacam-macam, ada teknik Bare Sclera
yaitu hanya memotong pterigiumnya saja tanpa menambal untuk graftnya,
penyembuhan luka pasca oprasi dengan teknik ini cukup lama. Terdapat juga
Amniotic Membrane Suspesion, dengan menggunakan amnion dari pasien
sendiri yaitu serum darah untuk menutup luka bekas oprasi, namun tingkat
kegagalan penutupan luka dengan metode ini sangat tinggi. Sampe sekarang
yang sering digunakan adalah Conjungtival Limbal Graft, yaitu dengan cara
memotong jaringan fibrovaskuler, kemudian membuat graft dari sclera superior,
dengan menambalnya. Teknik CLG ini tingkat keberhasilannya lebih tinggi
dibandingnya dengan teknik yang lainnya.
Tindakan selanjutnya yang penting adalah memberikan edukasi pada
pasien, bahwa pterigium yang sudah dioperasi dapat muncul kembali,
tergantung dari kondisi pasien, kegiatan pasien diluar ruangan, apabila pasien
sebagai petani, mengurangi aktivitas di sawah, atau menggunakan topi lebar
dan kaca mata hitam, memberikan air mata artivisial untuk mencegah mata
kering.

16

BAB V
KESIMPULAN

17

Telah dilaporkan pasien Ny. D, usia 52 tahun, dengan diagnosis OS


Pterigium nasal grade 2, dikeluhkan terdapat selaput merah keputihan pada
mata kiri dekat hidung, terasa mengganjal, terkadang gatal dan kering.
Diagnosis ditegakan dari anamesa dan pemeriksaan fisik pada pasien. Pasien
mengeluhkan terdapat selaput merah keputihan pada mata kiri dekat hidung,
terasa mengganjal, terkadang gatal dan mata kering. Pasien bekerja sebagai
petani, sering terpapar sinar matahari. Berdasarkan pemeriksaan fisik
didapatkan pada mata kiri konjungtifa terdapat jaringan fibrovaskular pada
nasal, kornea terdapat apeks dari jaringan fibrovaskular. Pada pemeriksaan
dengan sonde tidak dapat tembus.
Pasien ingin dilakukan operasi karena dirasa mengganjal dan
menggangu, dilakukan operasi Conjungtiva Limbal Graft pada mata kiri.
Setelah

operasi

pasien

diberikan

obat

Levofloksasin

ed

6x1

OS,

Fluorometholone ed 3x1 OS, Lytrees ed 6x1, Asam mefenamat 3x1 peroral.


Prognosis pada pasien ini adalah Dubia at Bonam karena pada pasien
sebelum operasi dan setelah operasi tidak didapatkan komplikasi. Hasil operasi
baik, luka bekas jahitan baik.

18