Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN

PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI


DECEMBER 4, 2013 ELMORE SAGALA LEAVE A COMMENT
LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI


A. Pengertian
Menurut May Durant Thomas (2004) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada
pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang
berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan
hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan
kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut
dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan
evaluasi.
B. Rentang respon halusinasi
Respon Adaptif
>Pikiran logis
>Persepsi akurat

Respon Maladaptif
>Distorsi pikiran >Gangguan pikir
>Ilusi

Halusinasi

>Emosi konsisten dgn pengalaman >Reaksi emosi

>> atau < >Sulit berespon

emosi
>Prilaku sesuai

>Prilaku aneh/tidak biasa >Prilaku

disorganisasi
>Berhubungan sosial

>Menarik diri

>Isolasi sosial

C. Klasifikasi
Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :
1.

Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang


membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada
suara di sekitarnya.

2.

Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang


atau sesuatu yang tidak ada.

3.

Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien


yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau
kemenyan, bau mayat, yang tidak adasumbernya.

4.

Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi


bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.

5.

Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan


merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan
rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

D.Fase-fase halisinasi
1.Comforting, Ansietas sedang : halusinasi menyenangkan
2.Condemning, Ansietas berat : halusinasi menjadi menjijikkan
3.Controling, Ansietas berat : Pengalaman sensori menjadi berkuasa
4.Consquering, Panik : Umumnya menjadi melebur dalam halusinasinya
E.Tanda dan Gejala
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku
dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri,
secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan
seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang
halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).
F.Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (2007), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan
gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan
kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya.
Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan
gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari
berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan
antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya
halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada
saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi,
perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya
permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik
tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis
, psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan ,
biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.
G.Pohon masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
PSP : Halusinasi
Isolasi sosial : Menarik diri
Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah

H.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
1.

Menciptakan lingkungan yang terapeutik


Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat
halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual
dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di
pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat
masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga
bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu
tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana
yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan
dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan
permainan.

2.

Melaksanakan program terapi dokter


Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan
halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi
instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya,
serta reaksi obat yang di berikan.

3.

Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada


Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali
masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu
mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui
keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.

4.

Memberi aktivitas pada pasien


Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah
raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu
mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang
lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.

5.

Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan


Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar
ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny
dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering
mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suarasuara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan
menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada.
Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain
agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak
bertentangan.

I. Pengkajian Keperawatan Pada Paseien Dengan Halusinasi


Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :
1.

Faktor predisposisi.
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat
dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien
maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia,
psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah

sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.


Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal
terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.
Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa
disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan.
Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya
stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan
suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan

Dimetytranferase (DMP).
Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang
bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan

kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.


Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi
hasilstudi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang

sangat berpengaruh pada penyakit ini.


2.Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman /
tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang
lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu
lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi
adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat
meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat

halusinogenik.
3.Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak
aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu

mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak
nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah
halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai
mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga

halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :


Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal

yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa


kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam
hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang

lama.
Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi

merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa
perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang
perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap

ketakutan tersebut.
Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi

akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi


merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil

seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.
Dimensi Sosial

Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya


kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolaholah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial,
kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi
berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh
karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien
dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman
interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri
sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak
berlangsung.
Tg
l

No
.
Dx

Dx Keperawatan

Perencanaan
Tujuan

Kreteria Evaluasi

Intervensi

Gangguan sensori
persepsi : halusinasi
(lihat/dengar/penghi
dung/
raba/kecap)

TUM:
Klien dapat
mengontrol
halusinasi yang
dialaminya
TUK 1 :
Klien dapat
membina
hubungan
saling percaya
TUK 2 :
Klien dapat
mengenal
halusinasinya

1.
Klien menunjukan
tanda-tanda percaya kepada
perawat :
Ekspresi wajah
bersahabat
Menunjukan rasa
senang
Ada kontak mata
Mau berjabat tangan
Mau menyebutkan
nama
Mau menjawab salam
Mau duduk
berdampingan dengan
perawat
Bersedia
mengungkapkan masalah
yang dihadapi
2.
Klien mampu
menyebutkan :
Isi
Waktu
Frekuensi
Situasi dan kondisi
yang menimbulkan halusinasi

1.
Bina hubungan saling
dengan menggunakan prin
komunikasi terapeutik :
Sapa klien dengan r
baik verbal maupun non ve
Perkenalkan nama, n
panggilan dan tujuan peraw
berkenalan
Tanyakan nama leng
nama panggilan yang disuk
Buat kontrak yang je
Tunjukan sikap jujur
menepati janji setiap kali in
Tunjukan sikap emp
menerima apa adanya
Beri perhatian kepad
dan perhatikan kebutuhan
klien
Tanyakan perasaan
masalah yang dihadapi klie
Dengarkan dengan p
perhatian ekspresi perasaa

2.1 Adakan kontak sering d


singkat secara bertahap
2.2 Observasi tingkah laku
terkait dengan halusinasiny
(dengar/lihat/penghidup/ra
)
Jika menemukan klien yang
halusinasi :
Tanyakan apakah kli
mengalami sesuatu (halusi
dengar/lihat/penghidup/rab
Jika klien menjawab
tanyakan apa yang sedang
dialaminya
Katakan bahwa pera
percaya klien mengalami h
tersebut, namun perawat s
tidak mengalaminya (deng
bersahabat tanpa menuduh
menghakimi)
Katakan bahwa ada
yang mengalaminya hal ya
Katakan bahwa pera
akan membantu klien jika k
tidak sedang berhalusinasi
klarifikasi tentang adanya
pengalaman halusinasi, dis
denga klien :
Isi, waktu dan frekue
terjadinya halusinasi (pagi,
sore, malam atau sering da
kadang-kadang)
Situasi dan kondisi y
menimbulkan atau tidak

menimbulkan halusinasi
3.
Klien mampu
menyatakan perasaan dan
responnya saat mengalami
halusinasi :
Marah
Takut
Sedih
Senang
Cemas
Jengkel

2.3 Diskusikan dengan klie


yang dirasakn jika terjadi h
dan beri kesempatan untuk
mengungkapkan perasaann
2.4 Diskusikan dengan klie
yang dilakukan untuk meng
perasaan tersebut.
2.5 Diskusikan tentang dam
yang akan dialaminya bila
menikmati halusinasinya.

TUK 3 :
Klien dapat
mengontrol
halusinasinya

3.1 Klien mampu


menyebutkan tindakan yang
biasanya dilakukan untuk
mengendalikan halusinasinya
3.2 klien dapat menyebutkan
cara baru mengontrol
halusinasinya.
3.3 Klien dapat mampu
memilih dan memperagakan
cara mengatasi halusinasi
(dengar/lihat/penghidup/raba/
kecap)
3.4 Klien dapat
melaksanakan cara yang
telah dipilih untuk
mengendalikan halusinasinya
3.5 Klien mampu mengikuti
terapi aktivitas kelompok

3.1 identifikasi bersama k


atau tindakan yang dilakuk
terjadi halusinasi (tidur, ma
menyibukan diri dll)
3.2 Diskusikan cara yang
digunakan klien,
Jika cara yang digun
adaptif berikan pujian
Jika cara yang digun
maladaptif diskusikan keru
tersebut.
3.3 diskusikan cara baru u
memutus/mengontrol timb
halusinasi :
Katakan pada diri se
bahwa ini tidak nyata (say
mau dengar/lihat/penghidu
kecap pada saat halusinasi
Menemui orang lain
(perawat/teman/keluarga/ a
keluarga) untuk menceritak
tentang halusinasinya.
Membuat dan melak
jadwal kegiatan sehari hari
telah disusun.
Meminta
keluarga/teman/perawat m
jika sedang berhalusinasi.
3.4 Bantu klien untuk mem
yang telah dianjurkan dan
untuk mencobanya.
3.5 Beri kesempatan untuk
melakukan cara yang dipili
dilatih.
3.6 Pantau pelaksanaan ya
dipilih dan dilatih, jika berh
pujian
3.7 Anjurkan klien mengiku
aktivitas kelompok, orienta
stimulasi persepsi.

TUK 4 :
Klien dapat
dukungan dari

4.1 Keluarga menyatakan


setuju untuk mengikuti
pertemuan dengan perawat

4.1 Buat kentrak dengan k


untuk pertemuan (waktu, t
dan topik)

keluarga untuk
mengontrol
halusinasinya

4.2 Keluarga mampu


menyebutkan pengertian,
tanda dan gejala, proses
terjadinya halusinasi dan
tindakan untuk
mengendalikan halusinasi

4.2 Diskusikan dengan kelu


(pada saat pertemuan
keluarga/kunjunga rumah)
Pengertian halusina
Tanda dan gejala ha
Proses terjadinya ha
Cara yang dapat dila
klien dan keluarga untuk
memutuskan halusinasi
Obat-obatan halusin
Cara merawat angg
keluarga yang halusinasi di
(beri kegiatan, jangan biark
sendiri, makan bersama, be
bersama, memantau obat-o
dan cara pemberiannya un
mengatasi halusinasi)
Beri informasi waktu
kerumah sakit dan bagaima
mencari bantuan jika halus
tidak dapat diatasi dirumah

TUK 5 :
Klien dapat
memanfaatkan
obat-obatan
dengan baik

5.1 Klien mampu


menyebutkan:
Manfaat minum obat
Kerugian tidak minum
obat
Nama, warna, dosis,
efek samping obat
5.2 Klien mampu
mendemonstrasikan
penggunaan obat dengan
benar
5.3 Klien mampu
menyebutkan akibat berhenti
minum obat tanpa konsultasi
dokter

5.1 Diskusikan dengan klie


tentang manfaat dan kerug
minum obat, nama, warna,
cara, efek terapi dan efek s
penggunaan obat
5.2 Pantau klien saat peng
obat
5.3 Beri pujian jika klien
menggunakan obat dengan
5.4 Diskusikan akibat berh
minum obat tanpa konsulta
dengan dokter
5.5 Anjurkan klien untuk ko
kepada dokter/perawat jika
hal-hal yang tidak diinginka

Dimensi Spiritual

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan


manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut
cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar
dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu
tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol

kehidupan dirinya.
4.Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat
mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping
dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan
masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang

mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi

strategi koping yang berhasil.


5.Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya
penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan
untuk melindungi diri.

J. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul


1.Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan
halusinasi.
2.Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
3.Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
K. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
L.Daftar Pustaka
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori
dan Tindakan

Keperawatan Jiwa, , 2003

Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC,
1998
Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, 1987
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, 1990
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, , 2007.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, 2001