Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Ny.

S
DENGAN LANSIA RISIKO CIDERA
DI DUSUN DUKUH SIDOKARTO
GODEAN SLEMAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas


Praktik Keperawatan Keluarga 2

Disusun oleh :
Rizky Putri Dermawanti

NIM P07120113068

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dusun Dukuh merupakan salah satu dusun di Desa Sidokarto, Godean
Sleman dan merupakan dusun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Godean
II. Penduduk di Dusun Dukuh berjumlah 898 jiwa, dari jumlah keseluruhan
didapatkan angka kesakitan sebanyak 32 orang yang terdiri dari pra lansia dan
lansia. Angka kesakitan tersebut diantaranya hipertensi, diabetes mellitus, asam
urat, asma, stroke, dan lainnya. Satu warga lansia mengalami asma yang
merupakan asma keturunan dari ibunya. Lansia tersebut aktif mengikuti
kegiatan kemasyarakatan, namun ia mengeluhkan sering kelelahan dan sesak
napas.
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas
yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila
terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran
udara

terhambat

karena

konstriksi

bronkus,

sumbatan

mukus,

dan

meningkatnya proses radang (Almazini, 2012).


Berdasarkan uraian di atas, maka kelompok PKL di Dusun Dukuh
bermaksud untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada keluarga tersebut.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan keluarga
2.

Tujuan Khusus
a. Mampu membina hubungan interpersonal yang baik dengan target
keluarga
1) Menerapkan komunikasi terapeutik dengan target keluarga
2) Melakukan kontrak awal dengan keluarga
3) Membina hubungan saling percaya dengan keluarga
b. Mampu melakukan pengkajian pada keluarga dengan berbagai tahap
perkembangan.

c. Mampu mengelompokkan data mal adaptif untuk merumuskan masalah


keperawatan dari hasil kajian pada keluarga sesuai tahap perkembangan.
d. Mampu menegakkan diagnosis keperawatan sesuai data pada keluarga
dengan berbagai tahap perkembangan
e. Mampu menentukan prioritas diagnosis keperawatan bersama keluarga
menggunakan scoring prioritas masalah yang sesuai.
f. Mampu menyusun tujuan tindakan keperawatan untuk menyelesaikan
masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan pada keluarga sesuai tahap
perkembangan
g. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan
tujuan dan sesuai tahap perkembangan
h. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan yang telah disusun
termasuk tindakan keperawatan khusus pada keluarga sesuai tahap
perkembangan
i. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada
keluarga sesuai tahap perkembangan.
j. Mampu melakukan kolaborasi dengan petugas kesehatan lain dalam
merujuk atau menindak lanjuti kasus-kasus keluarga yang perlu di follow
up

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar
1. Definisi

Jatuh adalah suatu kejadian yang di laporkan penderita atau saksi mata
yang melibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai /tempat
yang lebih rendah atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Reuben). Jatuh
dapat menimbulkan terjadinya Cidera pada lansia.
Kejadian jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut . Banyak faktor
berperan di dalamnya ,kelemahan otot ekstremitas bawah kekakuan sendi
,sinkope dan dizzines ,serta faktor ekstrinsik sertai lantai yang licin dan tidak
rata tersandung benda-benda ,pengelihatan kurang terang dan sebagainya.
Tidak mengejutkan bahwa jatuh merupakan kejadian yang mempercepat
patah tulang pada orang dengan kepadatan mineral tulang Bone Mineral
Density (BMD) rendah. Jatuh dapat dicegah sehingga akan mengurangi risiko
patah tulang. Jatuh adalah penyebab terbesar untuk patah tulang pinggul dan
berkaitan dengan meningkatnya risiko yang berarti terhadap berbagai patah
tulang

meliputi

punggung,

pergelangan

tangan,

pinggul,

lengan

bagian atas.Jatuh dapat disebabkan oleh banyak faktor, sehingga strategi


pencegahan harus meliputi berbagai komponen agar sukses. Aktivitas fisik
meliputi pola gerakan yang beragam seperti latihan kekuatan atau kelas
aerobik dapat meningkatkan massa tulang sehingga tulang lebih padat dan
dapat menurunkan risiko jatuh. Mengurangi Risiko JatuhBanyak hal yang
dapat dilakukan untuk mengurangi risiko jatuh dan meminimalisir dampak
dari jatuh yang terjadi. Pedoman yang dikeluarkan oleh American Geriatrics
Society, British Geriatrics Society, dan American Academy of Orthopedi
Surgeons pada pencegahan jatuh meliputi beberapa rekomendasi untuk orang
tua (AGS et al.2001)

2. Faktor penyebab Cidera akibat Jatuh


Faktor penyebab jatuh pada lansia dapat dibagi dalam 2 golongan besar,
yaitu:

a. Faktor Intrinsik

Faktor instrinsik dapat disebabkan oleh proses penuaan dan


berbagai penyakit sepertiStroke dan TIA yang mengakibatkan
kelemahan tubuh sesisi , Parkinson yang mengakibatkan kekakuan
alat gerak, maupun Depresi yang menyebabkan lansia tidak terlalu
perhatian saat berjalan . Gangguan penglihatan pun seperti misalnya
katarak meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Gangguan sistem
kardiovaskuler akan menyebabkan syncope, syncope lah yang sering
menyebabkan jatuh padalansia.Jatuh dapat juga disebabkan oleh
dehidrasi. Dehidrasi bisa disebabkan oleh diare, demam, asupan cairan
yang kurang atau penggunaan diuretik yang berlebihan.

b. Faktor Ekstrinsik
Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua atau
tergeletak di bawah,tempat tidur tidak stabil atau kamar mandi yang
rendah dan tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah
dipegang, lantai tidak datar, licin atau menurun, karpet yang tidak
dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, dan bendabenda alas lantai yang licin atau mudah tergeser,lantai licin atau basah,
penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), alat bantu
jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya
3.

Pencegahan
Pencegahan dilakukan berdasar atas faktor resiko apa yang dapat
menyebabkan jatuh seperti faktor neuromuskular, muskuloskeletal,
penyakit yang sedang diderita, pengobatan yang sedang dijalani, gangguan
keseimbangan dan gaya berjalan, gangguan visual, ataupun faktor
lingkungan.dibawah ini akan di uraikan beberapa metode pencegahan
jatuh pada orang tua :
a. Latihan fisik
Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko jatuh dengan
meningkatkan

kekuatan

tungkai

dan

tangan,

memperbaiki

keseimbangan, koordinasi, dan meningkatkan reaksi terhadap

bahaya lingkungan, latihan fisik juga bisa mengurangi kebutuhan


obat-obatan sedatif. Latihan fisik yang dianjurkan yang melatih
kekuatan tungkai, tidak terlalu berat dan semampunya, salah
satunya adalah berjalan kaki.
b. Manajemen obat-obatan
Gunakan dosis terkecil yang efektif dan spesifik diantaranya:
1) Perhatikan terhadap efek samping dan interaksi obat
2) Gunakan alat bantu berjalan jika memang di perlukan selama
pengobatan
3) Kurangi pemberian obat-obatan yang sifatnya untuk waktu
lama terutama sedatif dan tranquilisers
4) Hindari pemberian obat multiple (lebih dari empat macam)
kecuali atas indikasi klinis kuat
5) Menghentikan obat yang tidak terlalu diperlukan
c. Modifikasi lingkungan
Atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk
menghindari pusing akibat suhu di antaranya:
1) Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan
berada dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu
2) Gunakan karpet antislip di kamar mandi.
3) Perhatikan kualitas penerangan di rumah.
4) Jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk
melintas.
5) Pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu
tambahan untuk daerah tangga.
6) Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari
jalan yang biasa untuk melintas.
7) Gunakan lantai yang tidak licin.
8) Atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah,
menghindari tersandung.

9) Pasang pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti


misalnya di kamar mandi.
d. Memperbaiki kebiasaan pasien lansia, misalnya :
1) Berdiri dari posisi duduk atau jangkok jangan terlalu cepat.
2) Jangan mengangkat barang yang berat sekaligus.
3) Mengambil barang dengan cara yang benar dari lantai.
4) Hindari olahraga berlebihan.
5) Alas kaki
Perhatikan pada saat orang tua memakai alas kaki :
-

Hindari sepatu berhak tinggi, pakai sepatu berhak lebar

Jangan berjalan hanya dengan kaus kaki karena sulit untuk


menjaga keseimbangan

Pakai sepatu yang antislip

e. Alat bantu jalan


Terapi untuk pasien dengan gangguan berjalan dan keseimbangan
difokuskan untuk mengatasi atau mengeliminasi penyebabnya atau
faktor yang mendasarinya.
1) Penggunaannya

alat bantu jalan memang membantu

meingkatkan keseimbangan, namun di sisi lain menyebabkan


langkah yang terputus dan kecenderungan tubuh untuk
membungkuk, terlebih jika alat bantu tidak menggunakan
roda., karena itu penggunaan alat bantu ini haruslah
direkomendasikan secara individual.
2) Apabila pada lansia yang kasus gangguan berjalannya tidak
dapat ditangani dengan obat-obatan maupun pembedahan.
Oleh karena itu, penanganannya adalah dengan alat bantu jalan
seperti cane (tongkat), crutch (tongkat ketiak) dan walker. (Jika
hanya 1 ekstremitas atas yang digunakan, pasien dianjurkan
pakai cane. Pemilihan cane type apa yang digunakan,
ditentukan oleh kebutuhan dan frekuensi menunjang berat
badan.

Jika

ke-2

ekstremitas

atas

diperlukan

untuk

mempertahankan keseimbangan dan tidak perlu menunjang


berat badan, alat yang paling cocok adalah four-wheeled
walker. Jika kedua ekstremitas atas diperlukan untuk
mempertahankan keseimbangan dan menunjang berat badan,
maka pemilihan alat ditentukan oleh frekuensi yang diperlukan
dalam menunjang berat badan.
f. Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran
g. Hip protektor : terbukti mengurangi risiko fraktur pelvis
h. Memelihara kekuatan tulang
1) Suplemen nutrisi terutama kalsium dan vitamin D terbukti
meningkatkan densitas tulang dan mengurangi resiko fraktur
akibat terjatuh pada orang tua
2) Berhenti merokok
3) Hindari konsumsi alkohol
4) Latihan fisik
5) Anti-resorbsi seperti biophosphonates dan modulator reseptor
estrogen
6) Suplementasi hormon estrogen / terapi hormon pengganti.

B. Asuhan Keperawatan Teoritis


1. Pengkajian

Pengkajian klien dengan resiko cidera meliputi: pengkajian resiko (Risk


assessment tools) dan adanya bahaya dilingkungan klien (home hazards
appraisal).
a. Jatuh
-

Usia klien lebih dari 65 tahun

Riwayat jatuh di rumah atau RS

Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran

Kesulitan berjalan atau gangguan mobilitas

Menggunakan alat bantu (tongkat, kursi roda, dll)

Penurunan status mental (disorientasi, penurunan daya ingat)

Mendapatkan obat tertentu (sedatif, hypnotik, tranquilizers,


analgesics, diuretics, or laxatives)

b. Riwayat Kecelakaan
Beberapa orang memiliki kecenderungan mengalami kecelakaan
berulang, oleh karena itu riwayat sebelumnya perlu dikaji untuk
memprediksi kemungkinan kecelakaan itu terulang kembali.
c. Keracunan
Beberapa anak dan orang tua sangat beresiko tinggi terhadap
keracunan. Pengkajian meliputi seluruh aspek pengetahuan keluarga
tentang resiko bahaya keracunan dan upaya pencegahannya.
d. Kebakaran
Beberapa penyebab kebakaran dirumah perlu ditanyakan tentang
sejauh mana klien mengantisipasi resiko terjadi kebakaran, termasuk
pengetahuan klien dan keluarga tentang upaya proteksi dari bahaya
kecelakaan akibat api.
e. Pengkajian Bahaya
Meliputi mengkaji keadaan: lantai, peralatan rumah tangga, kamar
mandi, dapur, kamar tidur, pelindung kebakaran, zat-zat berbahaya,
listrik, dll apakah dalam keadaan aman atau dapat mengakibatkan
kecelakaan.
f. Keamanan (spesifik pada lansia di rumah)

Gangguan keamanan berupa jatuh di rumah pada lansia memiliki


insidensi yang cukup tinggi, banyak diantara lansia tersebut yang
akhirnya cedera berat bahkan meninggal. Bahaya yang menyebabkan
jatuh cenderung mudah dilihat tetapi sulit untuk diperbaiki, oleh
karena itu diperlukan pengkajian yang spesifik tentang keadaan
rumah yang terstuktur. Contoh pengkajian checklist pencegahan jatuh
pada lansia yang dikeluarkan oleh Departemen kesehatan dan
pelayanan masyarakat Amerika.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa umum sering muncul pada kasus keamanan fisik menurut
NANDA adalah:
a. Resiko tinggi terjadinya cedera (High risk for injury).
Seorang klien dikatakan

mengalami masalah keperawatan resiko

tinggi terjadinya cidera bila kondisi lingkungan dan adaptasi atau


pertahanan seseorang beresiko menimbulkan cedera.
b. Resiko terjadinya keracunan:
Adanya resiko terjadinya kecelakaan akivat terpapar, atau tertelannya
obat atau zat berbahaya dalam dosis yang dapat menyebabkan
keracunan.
c. Resiko terjadinya sufokasi
Adanya resiko kecelakaan yang menyebabkan tidak adekuatnya udara
untuk proses bernafas.
d. Resiko terjadinya trauma:
Adanya resiko yang menyebabkan cedera pada jaringan (ms. Luka,
luka bakar, atau fraktur).
e. Respon alergi lateks: respon alergi terhadap produk yang terbuat dari
lateks
f. Resiko respon alergi lateks: kondisi beresiko terhadap respon alergi
terhadap produk yang terbuat dari lateks.

g. Resiko terjadinya aspirasi: klien beresiko akan masuknya sekresi


gastrointestinal, sekresi orofaringeal, benda padat atau cairan kedalam
saluran pernafasan.
h. Resiko terjadinya sindrom disuse (gejala yang tidak diinginkan): klien
beresiko terhadap kerusakan sistem tubuh akibat inaktifitas sistem
muskuloskeletal yang direncanakan atau tidak dapat dihindari.
3. Perencanaan
a. Kaji ulang adanya faktor-faktor resiko jatuh pada klien.
b. Tulis dan laporkan adanya faktor-faktor resiko
c. Lakukan modifikasi lingkungan agar lebih aman (memasang pinggiran
tempat tidur, dll) sesuai hasil pengkajian bahaya jatuh pada poin 1
d. Monitor klien secara berkala terutama 3 hari pertama kunjungan rumah
e. Ajarkan klien tentang upaya pencegahan cidera (menggunakan
pencahayaanyang

baik,

memasang

penghalang

tempat

tidur,

menempatkan benda berbahayaditempat yang aman)


f. Kolaborasi dengan dokter untuk penatalaksanaan glaukoma dan
gangguan penglihatannya, serta pekerja sosial untuk pemantauan
secara berkala.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

I.

PENGKAJIAN
Hari/tanggal

: Kamis, 5 Mei 2016

Waktu

: Pukul 14.00 WIB

Tempat

: Ruang tamu keluarga Ny. S

Oleh

: Rizky Putri

Sumber data

: Keluarga

Metode

: Observasi, wawancara, pemeriksaan fisik

Alat pengumpul data

:Spighmomanometer, stetoskop dan alat tulis

A. STRUKTUR DAN SIFAT KELUARGA


1. Identitas Kepala Keluarga
Nama

: Ny. S

Umur

: 80 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Kristen

Pendidikan Terakhir

:Tidak sekolah

Alamat

: Dukuh RT 03, Godean, Sleman

Jumlah Anggota Keluarga : 1 orang


2. Daftar Anggota Keluarga
Nama

Umur

Agama

Nn.A

28 th

Kristen

L/

Hub.dg

P
P

KK
Anak

Pendk

Pekerjaan

SMP

Ket
Tinggal
serumah

3. Genogram
Tn. H

Ny. H

Keterangan :
: Perempuan meninggal

: Perempuan hidup

: Laki laki meninggal

808
: Laki laki hidup Tn. S

: Garis Keturunan

S Perkawinan
:Ny.
Garis
28

: klien

: Tinggal bersama

Ecomap
Pekerjaan : wiraswasta

Gereja

808
Ny. S

28

Pelayanan kesehatan tingkat pertama dan rujukan

4. Struktur Keluarga
Tipe keluarga Ny. S termasuk keluarga single parent, Ny. S tinggal
bersama anaknya.
5. Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis
Keluarga Ny. S menjalankan fungsi biologisnya baik, kebutuhan
gizi, makan dan sandang.
b. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis keluarga Ny. S baik, setiap ada masalah langsung
diselesaikan dengan cara musyawarah bersama antara Ny. S dengan
Nn. A. Komunikasi Ny. S dan Nn. A baik,mereka saling
memberikan perhatian dan kasih sayang.
c. Fungsi sosial

Fungsi sosial keluarga Ny. S terpenuhi, Ny. S jarang mengikuti


kegiatan di luar rumah karena sudah tidak kuat untuk bepergian,
namun Nn. A sering mengikuti kegiatan ibadah di Gereja.
d. Fungsi ekonomi
Kebutuhan keluarga sehari-hari Ny. S cukup terpenuhi. Ny. S
mendapatkan dana pensiun dan ditopang oleh pendapatan Nn. A
sebagai wiraswasta (penjual pulsa).
e. Fungsi pendidikan
Keluarga Ny. S mampu melaksanakan fungsi pendidikan terbukti
dengan Ny. S dapat selesai menempuh SMP.
6. Hobby Masing- masing anggota keluarga
No
1

Nama Macam Hobby


Ny. S Duduk-duduk

Waktu
Setiap
hari

Tempat
Halaman
rumah

Nn. A

Setiap
hari

Manfaat
Menciptakan
suasana
kesenangan hati
-

7. Hubungan antar anggota keluarga


a. Hubungan Suami Istri

Ny. S

mengatakan

meskipun

suaminya sudah meninggal, dirinya tetap mendoakan suaminya.


b. Hubungan antar anggota baik dengan anggota keluarga dan
keluarga lain : Nn. A mengatakan hubungan dengan keluarga lain
baik, apabila ada tetangga yang membutuhkan maka saling
membantu, apabila ada perselisihan maka diselesaikan secara
musyawarah.
8. Anggota Keluarga yang berpengaruh dalam mengambil keputusan
Nn. A mengatakan pada keluarganya dalam pengambilan keputusan
dilakukan secara musyawarah namun keputusan akhir tetap diambil
oleh Ny. S.
9. Kebiasaan Anggota Keluarga sehari-hari
a. Nutrisi
1) Frekuensi makan

: 3 kali sehari

2) Waktu makan

: pagi, siang, dan sore (teratur)

3) Porsi makan

: cukup (1 piring)

4) Jenis makanan

: nasi dengan porsi cukup, lauk

ayam, telur, tahu, dan tempe. Nn. A mengatakan terkadang juga


makan cemilan seperti klethikan yang dibeli di warung sambil
menonton telivisi. Nn. A mengatakan dalam keluarganya tidak
ada makanan pantangan bagi dirinya ataupun Ny. S.
5) Cara pengolahan makanan :

Nn.

mengatakan

untuk

pengolahan makanan terkadang masak sendiri di rumah atau


beli di luar rumah. Nn. A mengatakan suka menghangatkan
makanan menggunakan kompor gas. Nn. A mengatakan cara
memasak sudah memenuhi syarat kesehatan, sebelum dimasak
dicuci terlebih dahulu, dipotong-potong dan dimasukkan ke
dalam air yang mendidih.
6) Cara penyajian makanan

: Nn. A mengatakan sering

menyajikan makanan secara langsung setelah selesai masak,


jika ada sisa makanan dihangatkan terlebih dahulu namun
apabila sudah basi dibuang. Keluarga lebih senang dengan
makanan yang disajikan selagi hangat, karena lebih nikmat.
7) Kebiasaan Minum Keluarga
Ny. S mengatakan sering minum teh manis 5-6x sehari 1200
ml.
Nn. A mengatakan kebiasaan minumnya adalah teh dan air putih
1400 ml
b. Pola Aktivitas dan Istirahat
Nn. A mengatakan rata-rata waktu tidur malamnya 7 jam dari
pukul 21.30 sampai pukul 05.00 WIB.
Ny. S mengatakan rata-rata waktu tidur malamnya 7 jam dari
pukul 22.00 sampai pukul 05.00 WIB
Ny. S mengatakan saat malam hari sering terbangun karena sering
b.a.k.

c. Rekreasi
Ny. S mengatakan tidak pernah melakukan rekreasi dikarenakan
dirinya sudah tidak kuat bila diajak berpergian jauh.
d. Pemanfaatan waktu senggang
Nn. A mengatakan jika ada waktu senggang lebih sering digunakan
untuk istirahat dan menonton TV.Sedangkan Ny. S apabila ada
waktu senggang lebih sering duduk-duduk dengan suasana yang
tenang di depan rumahnya.
e. Pola Eliminasi
1) Miksi
Nn. A mengatakan anggota keluarga b.a.k di WC. Frekuensi
b.a.k Nn. A 4-5 kali dalam sehari, tidak ada gangguan selama
b.a.k, urine berwarna kuning jernih, bau khas urine dan tidak
ada darah.
Ny. S mengatakan frekuensi b.a.k meningkat di malam hari 8-9x
dalam sehari,terkadang belum sampai kamar mandi urine sudah
keluar (ngompol).
2) Defekasi
Seluruh anggota keluarga Ny. S b.a.b di WC dengan frekuensi 1
kali sehari, lebih sering b.a.b pada waktu pagi hari. Tidak ada
gangguan selama b.a.b, feses berwarna kuning kecoklatan, bau
khas feses dan tidak ada darah.
f. Hygiene Perorangan
Keluarga Ny. S mandi 2 kali sehari menggunakan sabun. Keluarga
Ny. S menggosok gigi 2 kali sehari menggunakan pasta gigi yaitu
pada waktu mandi, dan terkadang 3 kali sebelum tidur. Nn. A
mengatakan mencuci rambut menggunakan shampo sebanyak 3 kali
seminggu, sedangkan untuk Ny. S mencuci rambut 2 kali setiap
minggu. Nn. A mengatakan seluruh anggota keluarga menggunakan
alas kaki pada saat di dalam rumah. Nn. A mengatakan ganti

pakaian setiap kali mandi dan apabila baju kotor.. Semua keluarga
mandiri dalam memenuhi kebutuhan kebersihan diri.
g. Kebiasaan Keluarga yang merugikan
Tidak ada kebiasaan keluarga yang merugikan
B. FAKTOR SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA
1. Penghasilan
Di dalam keluarga Ny. S, penghasilan utama berasal dari gaji Nn. A
yang bekerja sebagai wiraswasta. Penghasilan Nn. A dalam sebulan
tidak menentu, Rp 750.000,00.

Selain itu, terdapat penghasilan

tambahan yang berasal dari uang pensiun 1.500.000,00/bulan.


Penggunaan/pemanfaatan dana keluarga/bulan Ny. S :
Biaya Kebutuhan Pokok

: Rp. 400.000

Listrik

: Rp. 100.000

Transportasi

: Rp. 200.000

Arisan

: Rp. 100.000

Biaya perbaikan rumah

: Rp.100.000

Tabungan

: Rp. 250.000

Biaya tak terduga

: Rp. 300.000

2. Penggunaan dana : semua kebutuhan dapat terpenuhi.


3. Pengelolaan keuangan di keluarga Ny. S dikelola oleh Ny. S
4. Hubungan anggota keluarga dalam masyarakat
Keluarga Ny. S memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat
terbukti dengan Ny. S sering mengikuti ibadah di gereja.
5. Fasilitas untuk pertemuan masyarakat
Pertemuan masyarakat biasa dilakukan di rumah warga secara
bergiliran. Di lingkungan desa Ny. S juga terdapat rumah ketua
RT/RW/Dukuh yang biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan
kegiatan desa.
C. FAKTOR RUMAH DAN LINGKUNGAN
1. Rumah

a. Status kepemilikan

: Keluarga Ny. S tinggal di rumahnya sendiri

b. Dinding rumah

: dinding permanen, terbuat dari semen

c. Lantai

: menggunakan semen dan keramik, lantai di

ruangan dalam rumah tampak bersih


d. Langit-langit

: terbuat dari bambu

e. Atap rumah

: berupa genting

f. Ventilasi ruangan

: 10%-20% kali luas lantai

g. Jenis ventilasi

: melalui jendela, pintu, lubang angin

h. Pemanfaatan jendela

: dibuka setiap hari

i. Penerangan

: listrik ketika malam hari, ketika siang hari

dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang dibuka


j. Ukuran rumah

: 48m2

k. Pembagian ruang

Di rumah keluarga Ny. S terdapat satu ruang tamu dengan luas 15


m2, di belakang ruang tamu terdapat ruang keluarga dengan luas 12
m2. Di samping ruang keluarga terdapat 2 kamar tidur dengan luas 6
m2 sedangkan di belakang kamar tidur terdapat kamar mandi seluas
6 m2. Di depan kamar mandi terdapat dapur dengan luas 9 m2.
l. Kebersihan rumah

: cukup, lantai di ruangan dalam rumah

tampak bersih
m. Denah Rumah

1
2
3

2
Keterangan: 4
1. Ruang tamu
2. Kamar tidur
3. Ruang keluarga
4. Dapur dan Ruang makan
5. Kamar mandi

Dalam penyekatan setiap ruang di Rumah keluarga Ny. S


menggunakan pintu kayu.
2. Sarana Memasak
Keluarga Ny. S memasak menggunakan gas yang berada di dalam
rumah. Di dapur tidak terdapat lubang asap dapur, asap dapur langsung
menuju pintu dapur yang dibuka saat memasak. Sementara itu, tempat
untuk menyimpan peralatan dapur yang digunakan keluarga Ny. S
berupa rak piring, peralatan rumah tangga tampak tertata rapi. Dari hasil
observasi keluarga Ny. S memiliki tempat sampah di dapur, kebersihan
cukup namun pencahayaan di dapur kurang.
3. Sampah
Pengolahan sampah yang dilakukan keluarga Ny. S yaitu dengan
dibuang di TPU. Sampah diantar ke TPU oleh Nn. A apabila dirasa
sudah penuh.
4. Sumber air
Keluarga Ny. S menggunakan sumber air minum dari sumur gali
dengan kualitas air tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa
(tawar). Jarak sumber air dengan WC 3 m dan tidak terdapat
pencemaran pada air.
5. Jamban Keluarga
Terdapat 1 buah jamban dengan jenis WC duduk yang terletak di dalam
rumah. Jarak antara jamban dengan sumur sejauh < 10 m ( 3 m).
Keadaan jamban milik Ny. S cukup bersih dan tidak terdapat lumut.
Jamban dibersihkan setiap seminggu sekali dan tidak ada vektor yang
sering menghinggapi jamban.
6. Pembuangan air limbah
Limbah cair rumah tangga keluarga Ny. S, seperti air cucian piring dan
baju dibuang melalui saluran yang terbuat dari pipa tertutup (yang
menuju ke penampungan limbah (IPAL).

7. Kandang ternak
Ny. S mengatakan tidak memiliki kandang ternak di rumahnya
8. Halaman
Halaman rumah Ny. S terletak di depan rumah dengan luas 4 m 2.
Halaman rumah Ny. S tampak cukup bersih.
9. Kamar mandi
Terdapat satu buah kamar mandi di dalam rumah Ny. S dengan luas (3 x
4) m2. Di dalam kamar mandi terdapat bak mandi yang terbuat dari
semen, namun bak mandi tidak difungsikan. Keluarga Ny. S
menggunakan ember untuk menampung air. Kran yang ada dalam bak
mandi dialirkan ke dalam ember yang letaknya lebih rendah dari bak
mandi. Nn. A mengatakan dengan letak ember berada di bawah, akan
mempermudah Ny. S dalam mengambil air. Bak mandi keluarga Ny. S
ketika diobservasi tidak ada jentik nyamuk.
10. Lingkungan
Rumah Ny. S terletak di desa dan berjarak 2 m dengan rumah
tetangga. Suasana di desa tersebut cukup tenang.
11. Fasilitas perdagangan

: Lokasi rumah Ny. S dekat dengan

warung yang berjarak 50 m dan pasar yang berjarak 3 km dari


rumahnya.
12. Fasilitas peribadatan

: Gereja 1 km. Ny. S mengatakan

meskipun terdapat gereja di daerah rumahnya, ia melakukan ibadah di


gereja Demak Ijo yang lokasinya cukup jauh dari rumah.
13. Fasilitas kesehatan
14. Sarana hiburan

: Puskesmas Godean II, 500 m dari rumah


: di rumah Ny. S terdapat sarana

hiburan yaitu sebuah TV


15. Fasilitas transportasi

: keluarga Ny. S memiliki fasilitas

transportasi berupa satu buah sepeda motor.


D. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
1. Riwayat Kesehatan anggota keluarga

Dalam keluarga Ny. S, tidak terdapat riwayat penyakit menular ataupun


menahun, seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi, jantung, maupun
kanker. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga adalah
sebagai berikut:
a. Ny. S
Nn. A mengatakan Ny. S memiliki riwayat penyakit asma, namun
sudah jarang kambuh. Ny. S mengatakan pada bulan Agustus tahun
2015 menderita tumor bulli dan disarankan untuk dioperasi, namun
Ny. S menolak untuk dioperasi dikarenakan sudah tua dan tidak ada
yang menunggunya saat opname di rumah sakit.
b. Nn. A
Nn. A mengatakan bahwa dirinya belum pernah dirawat di rumah
sakit.
2. Kebiasaan memeriksakan diri
a. Waktu

: bila sakit

b. Tempat : perawat praktik


3. Kebiasaan minum obat
a. Waktu

: bila sakit

b. Asal obat yang diminum : dari perawat yang membuka praktik


mandiri
4. Riwayat Kesehatan Mental-psikososial-spiritual
a. Memenuhi kebutuhan jiwa
1) Pemenuhan rasa aman

: Nn. A mengatakan keluarganya

merasa aman tinggal di lingkungan rumahnya.


2) Perasaan bangga atau senang: Nn. A mengatakan senang
memiliki keluarga seperti sekarang ini, meskipun pas-pasan
namun harmonis.
3) Semangat untuk maju

: Nn. A mengatakan tidak terlalu

memikirkan tumor bulli, yang terpenting adalah menghabuskan


waktu sebaik-baiknya dengan anak semata wayangnya.
b. Pemenuhan status sosial

1) Perasaan dilayani
mendapatkan

Nn.

pelayanan

yang

mengatakan

baik

apabila

selalu

mengurus

administrasi di desa, di kecamatan, dan di instansi pemerintah


lainnya.
2) Perasaan dibenci
tetangga

: Nn. A mengatakan akrab dengan

sekitar, tidak

merasa dibenci

dan tidak

ada

permasalahan dengan orang lain.


3) Perasaan diasingkan

: Nn. A mengatakan keluarganya

akrab dengan warga sekitar dan tidak pernah merasa diasingkan


oleh warga sekitar.
c. Riwayat kesehatan mental keluarga
Keluarga Ny. S tidak ada yang pernah dirawat di RS Jiwa maupun
menderita gangguan jiwa.
d. Gangguan mental pada anggota keluarga
Nn. A mengatakan anggota keluarga tidak ada yang mengalami
gangguan mental seperti merasa bersalah, gagal, kecewa, tertekan
maupun sering bertengkar.
e. Penampilan tingkah laku anggota keluarga yang menonjol
Nn. A mengatakan tidak ada anggota keluarga yang bertingkah laku
agresif,

ekstrim,

peminum

alkohol,

suka

melamun,

suka

menyendiri, senang pergi tanpa tujuan, suka menangis tanpa sebab,


ataupun suka mencuri tanpa sengaja.
5. Riwayat Spiritual Anggota Keluarga
Nn. A rajin menjalankan ibadah gereja setiap minggu. Ny. S sudah
jarang pergi ke gereja dikarenakan kondisinya yag sudah tua dan tidak
mampu bepergian jauh, meskipun begitu Ny. S senantiasa berdoa
kepada tuhan.
6. Tanggapan keluarga terhadap pelayanan kesehatan :
Nn. A mengatakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas
kesehatan sudah baik. Nn. A mengatakan pelayanan kesehatan di

daerahnya sudah baik dan petugasnya ramah. Keluarga Ny. S sudah


mempunyai jaminan kesehatan berupa ASKES.
7. Keadaan Kesehatan keluarga saat kunjungan
No

Nama Umur

Ny. S

80 th

L/
P
P

Ke

Kesehatan

Kesadaran : composmentis
TD : 120/80 mmHg

RR : 16 x/m

N : 82 x/m

S : 36,40C

Keluhan :
Ny. S mengatakan sering terjatuh saat
pergi

ke

kamar

mandi.

Ny.

mengatakan kadang terjatuh karena


genggaman tangannya saat memegang
benda yang menjadi tumpuan saat
berjalan tiba-tiba terlepas.
Ny. S mengatakan terkadang merasa
nyeri di perut bagian bawah namun
keluhan tidak terlalu dirasakan.
P : nyeri di perut bagian bawah
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri tidak menyebar
S : skala nyeri 4
2.

Nn. A

28 th

T : nyeri bertambah bila kelelahan


Kesadaran : composmentis
TD: 120/80mmHg;
N : 82 x/m
RR : 20 x/m
S : 36,60C
Keluhan : tidak ada

BB : 45 kg
TB : 150 cm

E. PERSEPSI

DAN

TANGGAPAN

KELUARGA

TERHADAP

MASALAH
1. Persepsi keluarga terhadap masalah yang dihadapi
Keluarga Ny. S mengatakan sudah mengetahui bahwa tumor bulli
merupakan suatu gangguan pada bagian bawah perut dan seharusnya
ditangani oleh tim medis.
2. Tanggapan / mekanisme koping keluarga terhadap masalah :
Ny. S mengatakan saat ada masalah selalu dimusyawarahkan bersama
anaknya dan dalam menanggapi masalah selalu dengan pikiran dingin,
tenang, dan tidak dibuat stress. Nn. A mengatakan Ny. S selalu
mendukung dirinya, terutama dalam melakukan kegiatan dan bekerja
sebagai penjual pulsa.
F. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Ny. S mengatakan di dalam keluarganya selalu ditanamkan sikap-sikap yang
tidak melanggar aturan masyarakat seperti sikap sopan santun, ramah, saling
menghargai, menghormati dan menolong. Keseharian dalam keluarga Ny. S
terjalin hubungan dengan baik, karena satu dengan yang lain menerapkan
sikap

saling

mengasihi,

menyayangi,

menolong,

menghargai,

dan

menghormati, keluarga sering berkumpul di kamar tamu untuk menonton


TV sambil ngobrol.
2. Fungsi Sosial
Keluarga Ny. S mengatakan hubungan dalam masyarakat terjalin dengan
baik. Apabila saling bertemu maka selalu tegur sapa.
KARTU PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
TATANAN RUMAH TANGGA
KABUPATEN SLEMAN
Nama KK : Tn. HS
Desa

: Sidokarto

Dusun

: Dukuh

RT/ RW

: 02
Tahun: 2016
TAHAP I :
10

TAHAP II :

10

2
3

2
3

CARA PEMETAAN
Langkah 1 :
Jika jawaban Tidak, lingkari nomer pertanyaan ( 1 s.d 10 )
Langkah 2 :
Beri warna pada lingkaran kosong yang disediakan :
Merah
: Jika jawaban TIDAK banyaknya antara 8-10 ( STRATA I )
Kuning
: Jika jawaban TIDAK banyaknya antara 5-7 ( STRATA II )
Hijau
: Jika jawaban TIDAK banyaknya antara 3-4 ( STRATA III )
Biru
: Jika jawaban TIDAK banyaknya antara 0-2 ( STRATA IV )

10 INDIKATOR PHBS
TATANAN RUMAH TANGGA
N

INDIKATOR

NO

O
1.

Persalinan

2.

tenaga kesehatan
Memberi bayi ASI eksklusif

3.

ditolong

oleh

Menimbang balita setiap

INDIKATOR

6.

Menggunakan

7.

sehat
Memberantas

jentik

8.

rumah
Makan

dan

sayur

jamban
di
buah

4.

bulan
Menggunakan air bersih

5.

Mencuci tangan dengan air

9.
10.

bersih

setiap hari
Melakukan

aktivitas

setiap hari
Tidak merokok di dalam
rumah

G. PERSEPSI DAN TANGGAPAN KELUARGA TERHADAP


MASALAH
1.

Kasus Tumor Bulli pada Ny. S


a.

fisik

Kemampuan Keluarga Mengenal Masalah

Ny. S sudah mengetahui bahwa Ny. S memiliki tumor bulli. Ny. S


mengatakan tumor bulli adalah penyakit yang menyerang di bagian
bawah perutnya dan berhubungan dengan saluran kencingnya.
b.

Kemampuan

keluarga

dalam

mengambil

keputusan

mengenai tindakan kesehatan yang tepat.


-

Ny. S mengatakan menganggap sakit tumor bulli tidak harus


segera ditangani karena dirinya yang sudah tua dan sudah tidak
sanggup apabila harus periksa ke rumah sakit.

Ny. S mengatakan belum pernah memeriksakan penyakit tumor


bulli nya lagi karena sudah tidak bisa bepergian jauh ke rumah
sakit

c.

Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang


sakit
-

Ny. S mengatakan saat ini dirinya tidak mengkonsumsi obat


apapun untuk merawat tumor bulli yang dideritanya

Ny. S mengatakan apabila nyeri datang dirinya tidak terlalu


memikirkan nyerinya dan cenderung membiarkan saja sampai
nyerinya hilang

d.

Kemampuan keluarga dalam menciptakan lingkungan.


Ny. S mengatakan masih sering melakkukan aktivitas/kegiatan
rumah tangga dan membuat nyerinya muncul apabila mulai letih

e.

Kemampuan

keluarga

memanfaatkan

sumber-sumber

kesehatan secara optimal


-

Ny. S jarang memeriksakan kesehatannya ke RS

Ny. S mengatakan takut bila opname di rumah sakit tidak ada


yang menunggu

2.

Kasus Resiko Cidera pada Ny. S


a.

Kemampuan Keluarga Mengenal Masalah


-

Ny. S mengatakan menyadari bahwa dirinya sering terjatuh


apabila ingin ke kamar mandi.

Ny. S mengatakan sudah biasa terjatuh karena efek usianya yang


sudah tua.

b.

Kemampuan keluarga dalam mengambil


keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat.
-

Ny. S mengatakan belum memiliki solusi untuk menangani jatuh


yang dialaminya

Ny. S mengatakan meskipun dirinya sudah berhati-hati namun


masih sering terjatuh, meskipun begitu Ny. S menginginkan
untuk dapat berjalan ke kamar mandi tanpa terjatuh lagi

c.

Kemampuan

keluarga

merawat

anggota

keluarga yang sakit


-

Ny. S mengatakan bila berjalan terkadang harus memegang


sesuatu sebagai tumpuan agar tidak terjatuh

d.

Kemampuan keluarga dalam menciptakan


lingkungan.
-

Ny. A mengatakan jarang menggosok lantai di area sekitar dapur


dan Kamar Mandi karena lantai tidak kotor/licin

Pencahayaan di ruangan menuju kamar mandi tampak redup

Perabotan di meja dapur tampak tidak tersusun dengan rapi

e. Kemampuan keluarga memanfaatkan sumber-sumber kesehatan secara


optimal
-

Ny. S mengatakan selama ini tidak pernah menggunakan


tongkat/alat bantu berjalan

II. ANALISA DATA


NO.
1.
DS:

DATA

MASALAH
Nyeri kronik pada

PENYEBAB

Ny. S mengatakan didiagnosa Ny. S di keluarga


tumor bulli sejak bulan Agustus Ny. S
2015
Ny.

mengatakan

terkadang

merasa nyeri di perut bagian


bawah

namun

keluhan

tidak

terlalu dirasakan.
P : nyeri di perut bagian bawah
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri tidak menyebar
S : skala nyeri 4
T : nyeri bertambah bila kelelahan
DO:
DS :
-

Ketidakmampua
Ny.

mengatakan
sakit

tumor

mengambil

harus

segera

keputusan

dirinya

tepat

menganggap
bulli

tidak

ditangani

n keluarga dalam

karena

yang

yang sudah tua dan sudah


tidak sanggup apabila harus
periksa ke rumah sakit.
-

Ny. S mengatakan belum


pernah

memeriksakan

penyakit tumor bulli nya lagi


karena

sudah

tidak

bisa

bepergian jauh ke rumah


sakit
DS :
-

Ketidakmampua
Ny. S mengatakan saat ini

n keluarga dalam

dirinya tidak mengkonsumsi

merawat anggota

obat apapun untuk merawat

keluarga

tumor bulli yang dideritanya

sakit

yang

Ny. S mengatakan apabila


nyeri datang dirinya tidak
terlalu memikirkan nyerinya
dan cenderung membiarkan
saja sampai nyerinya hilang

DO :DS :

Ketidakmampua

Ny. S mengatakan masih sering

n keluarga dalam

melakukan

menciptakan

rumah

tangga

aktivitas/kegiatan
dan

membuat

lingkungan

nyerinya muncul apabila mulai


letih
DO :
DS :

Ketidakmampua

Ny. S jarang memeriksakan

n keluarga dalam

kesehatannya ke RS

memanfaatkan

Ny. S mengatakan takut bila

pelayanan

opname di rumah sakit tidak

kesehatan

ada yang menunggu

DS:
-

Resiko

Cidera

Ny. S mengatakan sering pada Ny. S di


terjatuh saat pergi ke kamar keluarga Ny. S
mandi.

Ny. S mengatakan kadang


terjatuh karena genggaman
tangannya saat memegang
benda yang menjadi tumpuan

saat

berjalan

tiba-tiba

terlepas
DO :
Pada saat berjalan, Ny. S tampak
mencari

benda-benda

untuk

tumpuan berjalan
DS :
-

Ketidakmampua

Ny. S mengatakan sudah

n keluarga dalam

biasa terjatuh karena efek

mengenal

usianya yang sudah tua.

masalah

DO : DS :
-

Ketidakmampua

Ny. S mengatakan belum

n keluarga dalam

memiliki

untuk

mengambil

yang

keputusan

solusi

menangani

jatuh

dialaminya

tepat

DO : DS :
-

yang

Ketidakmampua

Ny. S mengatakan selama ini

n keluarga dalam

tidak pernah menggunakan

merawat anggota

tongkat/alat bantu berjalan

keluarga

Ny.

sakit

berjalan

mengatakan
terkadang

bila

yang

harus

memegang sesuatu sebagai


tumpuan agar tidak terjatuh
DO : DS :
-

Ketidakmampua

Ny. A mengatakan jarang

n keluarga dalam

menggosok lantai di area

menciptakan

sekitar dapur dan Kamar

lingkungan

Mandi karena lantai tidak


kotor/licin

DO :
-

Pencahayaan

di

ruangan

menuju kamar mandi tampak


redup
Perabotan di meja dapur

tampak

tidak

tersusun

dengan rapi
DS :

Ketidakmampua

Ny. S mengatakan selama ini

n keluarga dalam

tidak

memanfaatkan

pernah

menggunakan

tongkat/alat bantu berjalan

fasilitas
kesehatan secara
optimal

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA


1.

Nyeri kronik pada Ny. S di keluarga Ny. S di dusun


Dukuh yang berhubungan dengan
a.

Ketidakmampuan keluarga dalam mengambil


keputusan yang tepat ditandai dengan :
DS :
-

Ny. S mengatakan menganggap sakit tumor bulli tidak harus segera


ditangani karena dirinya yang sudah tua dan sudah tidak sanggup
apabila harus periksa ke rumah sakit.

Ny. S mengatakan belum pernah memeriksakan penyakit tumor


bulli nya lagi karena sudah tidak bisa bepergian jauh ke rumah
sakit

b.

Ketidakmampuan keluarga dalam merawat


anggota keluarga yang sakit ditandai dengan :
DS :
-

Ny. S mengatakan saat ini dirinya tidak mengkonsumsi obat apapun


untuk merawat tumor bulli yang dideritanya

Ny. S mengatakan apabila nyeri datang dirinya tidak terlalu


memikirkan nyerinya dan cenderung membiarkan saja sampai
nyerinya hilang

c.

Ketidakmampuan

keluarga

dalam

menciptakan lingkungan ditandai dengan :


DS :
-

Ny. S mengatakan masih sering melakukan aktivitas/kegiatan


rumah tangga dan membuat nyerinya muncul apabila mulai letih

DO : d.

Ketidakmampuan

keluarga

dalam

memanfaatkan pelayanan kesehatan ditandai dengan :


DS :
-

Ny. S jarang memeriksakan kesehatannya ke RS

Ny. S mengatakan takut bila opname di rumah sakit tidak ada


yang menunggu

DO :
-

Keluarga Ny. S memiliki jaminan kesehatan ASKES

Fasilitas kesehatan yang dapat dijangkau oleh keluarga Ny. S


adalah Puskesmas Godean 2 yaitu sekitar 500 km dan perawat
praktek sejauh 1,5 km

2.

Resiko Cidera pada Ny. S di keluarga Ny. S di dusun


Dukuh yang berhubungan dengan :
a.

Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal


masalah ditandai dengan :
DS :
-

Ny. S mengatakan sudah biasa terjatuh karena efek usianya yang


sudah tua
DO : -

b.

Ketidakmampuan keluarga dalam mengambil


keputusan yang tepat ditandai dengan :
DS :

Ny. S mengatakan belum memiliki solusi untuk menangani jatuh


yang dialaminya

c.

Ketidakmampuan keluarga dalam merawat


anggota keluarga yang sakit ditandai dengan :
DS :
-

Ny. S mengatakan bila berjalan terkadang harus memegang


sesuatu sebagai tumpuan agar tidak terjatuh

Ny. S mengatakan masih melakukan aktivitas rumah (mencuci


baju, mencuci piring, memasak)

d.

Ketidakmampuan

keluarga

dalam

menciptakan lingkungan ditandai dengan :


DS :
-

Ny. A mengatakan jarang menggosok lantai di area sekitar dapur


dan Kamar Mandi karena lantai tidak kotor/licin
DO :

Pencahayaan di ruangan menuju kamar mandi tampak redup

Perabotan di meja dapur tampak tidak tersusun dengan rapi

e.

Ketidakmampuan

keluarga

dalam

memanfaatkan fasilitas kesehatan ditandai dengan :


DO :
-

Pencahayaan di ruangan menuju kamar mandi tampak redup

Perabotan di meja dapur tampak tidak tersusun dengan rapi

IV. PRIORITAS MASALAH


Dx 1 : Nyeri kronik pada Ny. S di keluarga Ny. S di dusun Dukuh
No
1

Kriteria
Sifat masalah
Aktual

Penghitungan
1/3 x 1

Skor
1/3

Pembenaran
Keluarga Ny. S terdiagnosa
tumor bulli sejak Agustus
2015 dan terkadang merasa
nyeri

apabila

melakukan

aktivitas yang terlalu berat.


P : nyeri di perut bagian
bawah
Q : nyeri seperti ditusuktusuk
R : nyeri tidak menyebar
S : skala nyeri 4
T : nyeri bertambah bila
kelelahan

Kemungkinan

2/2 x 2

Akses ke RSUD Sleman

masalah dapat

terjangkau, ada kendaraan,

diubah

ada anggota keluarga yang

:Sebagian

mampu

mengendari,

memiliki

kartu

jaminan

kesehatan

untuk

pemeriksaan,
kemauan

Ny.

namun
S

untuk

memeriksakan penyakitnya
3

Potensi untuk

2/3 x 1

2/3

kurang.
Ny. S

sudah

pernah

dicegah

mendapat

penjelasan

:Sedang

tentang penyakit tumor bulli


yang dialaminya dari dokter
serta
terkait

pernah

konsultasi

penyakitnya

dan

disarankan untuk operasi,


namun Ny. S menilai bahwa
dirinya sudah tua sehigga

tidak
4

Urgensitas

1/2 x 1

masalah:
merasa

perlu

melakukan

operasi
Ny. S mengatakan penyakit
yang dideritanya tidak perlu

ada

segera ditangani

masalah tidak

Ny. S mengatakan aku

segera

sudah tua jadi sama saja

ditangani

kalau dioperasi,nanti malah


merepotkan anak saya, bila
harus menjaga saya di RS

Jumlah skor : 2

Dx 2 : Resiko Cidera pada Ny. S di keluarga Ny. S di dusun Dukuh


No
1

Kriteria
Sifat masalah
Aktual

Penghitungan
3/3 x 1

Skor
1

Ny.

Pembenaran
mengatakan

sering

terjatuh saat pergi ke kamar


mandi.

Ny.

kadang
genggaman

mengatakan

terjatuh
tangannya

karena
saat

memegang benda yang menjadi


tumpuan saat berjalan tiba-tiba

Kemungkinan

1/2 x 2

terlepas.
Usia Ny. S yang sudah 80 tahun

masalah dapat

merupakan

salahsatu

diubah:

terkait

Sedang

Namun hal tersebut masih bisa

dengan

resiko

mobilisasinya.

diminimalisir dengan keamanan


3

Potensi untuk

3/3 x 1

lingkungan disekitar rumahnya


Keadaan lingkungan disekitar

dicegah

rumah Ny. S dapat dimodifikasi.

:Tinggi

Lantai

yang

licin

dapat

dibersihkan, peralatan di dapur


yang tidak tertata rapi dapat
ditata agar tidak memperbesar
resiko

ketidakamanan

lingkungan, serta pencahayaan


di lorong dapur dapat ditambah
dengan mengganti lampu dengan
4

Urgensitas

1/2 x 1

masalah:
merasa

ditangani
Jumlah skor : 3

cahaya warna putih.


Ny. S mengatakan meskipun
sering terjatuh, namun dirinya

ada

masalah tidak
segera

ingin untuk dapat berjalan ke


kamar mandi tanpa terjatuh lagi

V. PERENCANAAN KEPERAWATAN
VI.
VII.
No
XIV.
1

VIII. Diagnosa

IX.
XII.

Keperawatan
XV. Resiko

XVI. TUPAN :

Cidera pada
Ny.

Tujuan

Perencanaan Keperawatan
XIII. Intervensi

XVII. Setelah

di

XIX.
dilakukan

keperawatan

selama

asuhan
1

bulan

keluarga Ny.

diharapkan tidak terjadi cidera pada

S di dusun

Ny. S dengan kriteria hasil :

Dukuh

Keluarga Ny. S dapat mengenali masalah

Keluarga

Ny.

dapat

mengambil

keputusan yang tepat


-

Keluarga Ny. S dapat merawat anggota


keluarga yang sakit

Keluarga Ny. S dapat menciptakan


lingkungan yang kondusif

Keluarga Ny. S dapat memanfaatkan


fasilitas kesehatan
XVIII.

XX.

XXI.

XXII. TUPEN 1 :
XXIII. Setelah

XXIV. Jumat, 20 Mei 2016


dilakukan

asuhan

XXV. Pukul 20.00 WIB

keperawatan selama 1x kunjungan 1.


selama 30 menit, keluarga Ny. S

Jel
askan pada keluarga dampak akibat sering terjatuh

mampu mengenali masalah dengan 2.


kriteria :
-

askan pada keluarga faktor-faktor yang dapat

Keluarga dapat mengetahui cidera yang

XXVIII. XXIX.

XXVII.(Rizky)

Keluarga dapat mengetahui faktor-faktor

yang dapat mengakibatkan cidera


XXX. TUPEN 2 :
XXXI. Setelah

dilakukan

asuhan

keperawatan selama 1x kunjungan


selama 30 menit, keluarga Ny. S
mampu mengambil keputusan yang
tepat dengan kriteria :
-

mengakibatkan cidera
XXVI.

diakibatkan oleh jatuh


-

Jel

sering

diperhatikan

dialaminya

Jumat, 20 Mei 2016

XXXIII.

Pukul 20.00 WIB

1. Kaji ketidakmampuan keluarga dalam mengambil


keputusan
2. Diskusikan tentang konsekuensi apabila keluarga
tidak melakukan tindakan dengan tepat

Ny. S memahami bahwa kejadian jatuh


yang

XXXII.

perlu

3. Identifikasi tindakan dan langkah-langkah serta


sumber yang dibutuhkan
4. Diskusikan tentang konsekuensi tiap alternatif

tindakan

Ny. S dapat segera mencari solusi untuk

5. Bantu pasien dan keluarga dalam membuat

menangani jatuh yang dialaminya

keputusan tentang perawatan pasien


XXXIV.
XXXV.
XXXVI. XXXVII.

XXXVIII.

TUPEN 3 :

XXXIX. Setelah

XL.

dilakukan

asuhan

keperawatan selama 1x kunjungan


selama 30 menit, keluarga Ny. S
mampu merawat anggota keluarga
yang sakit dengan kriteria :
XLIV.

XLV.

Jumat, 20 Mei 2016

XLI. Pukul 20.00 WIB


1. Diskusikan bersama keluarga tentang perawatan
klien dengan resiko cidera
2. Anjurkan Ny. S untuk membatasi aktivitas rumah
sendiri

Nn. A dapat membantu Ny. S dalam

3. Anjurkan Nn. A untuk membantu Ny. S dalam

melakukan aktivitas

melakukan aktivitas rumah

Ny. S mau membatasi aktivitas /kegiatan

XLII.
XLIII.

rumah yang dilakukan sendiri


XLVI. TUPEN 4 :
XLVII. Setelah

dilakukan

(Rizky)

XLVIII.
asuhan

(Rizky)

Sabtu, 21 Mei 2016

XLIX. Pukul 20.30 WIB

keperawatan selama 1x kunjungan

1. Atur pencahayaan di ruangan menuju kamar

selama 30 menit, keluarga Ny. S

mandi menjadi lebih terang dengan mengganti

mampu

bohlam lampu

menciptakan

lingkungan

yang kondusif dengan kriteria :


-

2. Rapikan

LI.

3. Bersihkan

lantai

di

lorong

dapur

basah
L.

(Rizky)

keluarga

manfaat

Lantai di lorong dapur tampak bersih dan

Setelah

dilakukan

asuhan

selama 30 menit, keluarga Ny. S


mampu

memanfaatkan

fasilitas

kesehatan yang ada dengan kriteria :

LV.

Jumat, 20 Mei 2016

LVI.

Pukul 20.00 WIB

1. Diskusikan

dengan

menggunakan alat bantu berjalan


2. Anjurkan Ny. S untuk menggunakan tongkat
sebagai alat bantu jalan untuk meminimalisir

Ny. S mau menggunakan tongkat/alat

kejadian jatuh

bantu berjalan

LVII.
LVIII.

LX.

Nyeri kronik
pada Ny. S
di
Ny.

keluarga
S

di

untuk

dengan rapi

keperawatan selama 1x kunjungan

LIX.

untuk

meminimalisir resiko terpeleset karena lantai yang

LIV.

dapur

Perabotan di meja dapur tampak tersusun

kering
LIII. TUPEN 5 :

LII.

meja

meminimalisir jatuhnya perabotan dapur

Pencahayaan di ruangan menuju kamar


mandi tampak terang

perabotan

LXI. TUPAN :
LXII. Setelah
keperawatan

dilakukan
selama

asuhan
1

bulan

diharapkan nyeri kronis pada Ny. S

(Rizky)
LXIII.

dusun

dapat terkontrol dengan kriteria hasil

Dukuh

:
-

Keluarga

Ny.

dapat

mengambil

keputusan yang tepat


-

Keluarga Ny. S dapat merawat anggota


keluarga yang sakit

Keluarga Ny. S dapat menciptakan


lingkungan yang kondusif

LXIV.

LXV.

Keluarga Ny. S dapat memanfaatkan

fasilitas kesehatan
LXVI. TUPEN 1 :
LXVII.Setelah

dilakukan

LXVIII.
asuhan

LXIX. Pukul 20.00 WIB

keperawatan selama 1x pertemuan 1. Kaji


dalam 30 menit diharapkan keluarga

Jumat, 20 Mei 2016


hal-hal

yang

dapat

mempengaruhi

pengambilan keputusan
2. Advokasi keluarga dalam pengambilan keputusan
Ny. S dapat mengambil keputusan
3. Motivasi keluarga untuk berkonsultasi ke dokter
yang tepat dengan kriteria :
spesialis penyakit dalam
Keluarga mampu mengkonsultasikan
LXX.
nyeri kronis Ny.D pada dokter spesialis
LXXI. (Rizky)
penyakit dalam

LXXII. LXXIII.

LXXIV. TUPEN 2 :
LXXV.Setelah

LXXVII.

dilakukan

asuhan

LXXVIII.

Jumat, 20 Mei 2016


Pukul 20.00 WIB

keperawatan selama 2x pertemuan dalam 30 menit diharapkan keluarga

Kaji intensitas nyeri


Diskusikan dengan keluarga teknik mengontrol

Ny.

nyeri yang telah dilakukan


Ajarkan manajemen nyeri ditraksi dan relaksasi

(nafas dalam, berbincang, menonton tv)


Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian

dapat

merawat

anggota

keluarga yang sakit dengan kriteria :


LXXVI.

analgetik apabila nyeri berat


LXXIX.
LXXXI. LXXXII.

LXXXIII.

TUPEN 3 :

LXXXIV.

Setelah

LXXXV.

dilakukan

asuhan

LXXXVI.

LXXX.
Jumat, 20 Mei 2016

(Rizky)

Pukul 20.00 WIB

keperawatan selama 2x pertemuan 1. Kaji keadaan lingkungan psikologis dan fisiologis


dalam 30 menit diharapkan keluarga
Ny.

mampu

menciptakan

lingkungan yang kondusif dengan

yang dapat memicu terjadinya nyeri


2. Diskusikan dengan keluarga cara menciptakan
lingkungan fisiologis dan psikologis yang adekuat
3. Anjurkan keluarga untuk menjaga keadaan

kriteria :

lingkungan psikologis yang baik (tenang)


Ny. S dapat mengurangi aktivitas rumah 4. Kolaborasi dengan psikolog untuk konseling
tangga yang dilakukan sendiri

terkait psikologis keluarga

LXXXVII.
LXXXVIII. (Rizky)
LXXXIX.XC.

XCI. TUPEN 4 :
XCII. Setelah

XCIV. Jumat, 20 Mei 2016


dilakukan

asuhan

XCV. Pukul 20.00 WIB

keperawatan selama 2x pertemuan 1. Kaji motivasi keluarga dalam memanfaatkan


dalam 30 menit diharapkan keluarga
Ny. S mampu memanfaatkan fasilitas
kesehatan dengan kriteria :
-

Keluarga mau melakukan kontrol rutin


ke pelayanan kesehatan terdekat
XCIII.

sumber sumber kesehatan yang ada


2. Motivasi keluarga untuk memanfaatkan sumbersumber kesehatan yang ada
3. Kolaborasi dengan perangkat
memotivasi

warganya

dalam

CX.

Implementasi

untuk

memanfaatkan

sumber-sumber pelayanan kesehatan yang ada


XCVI.
XCVII. (Rizky)

XCVIII.
XCIX.
C.
CI.
CII.
CIII.
CIV.
CV.
CVI.
CVII. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
CVIII. CIX. Waktu

dusun

CXI. Evaluasi

Dx
CXII. CXIII. Sabtu,
1.

21

Mei 2016

Menjelaskan pada keluarga dampak CXVI. Sabtu, 21 Mei 2016


akibat sering terjatuh

CXIV. 10.30 WIB

CXVII.

Menjelaskan pada keluarga faktor- CXVIII.


faktor yang dapat mengakibatkan cidera
CXV.

(Rizky)

11.10 WIB
S:

Ny. S mengatakan paham dengan penjelasan


perawat

Ny. S mengatakan akan lebih berhati-hati bila


ke kamar mandi

CXIX.
-

O:

Pasien dapat menyebutkan dampak akibat


sering terjatuh

Pasien dan keluarga tampak antusias ketika


perawat memberikan penjelasan

CXX. A : Ketidakmampuan dalam mengenal


masalah teratasi
CXXI.

P : Lanjutkan intervensi KMK 2

CXXII.
CXXIV.
CXXV.Sabtu,
Mei 2016

21

Mendiskusikan
apabila

tentang

keluarga

tidak

konsekuensi CXXVIII.
melakukan CXXIX.

CXXIII.
Sabtu, 21 Mei 2016
11.10 WIB

(Rizky)

CXXVI.

11.0

0 WIB

tindakan dengan tepat


-

CXXX.

Mengidentifikasi tindakan dan langkah- bahwa kejadian jatuh yang sering dialaminya perlu
langkah serta sumber yang dibutuhkan

Mendiskusikan

tentang

diperhatikan

konsekuensi CXXXI.

tiap alternatif tindakan


-

S : Pasien mengatakan memahami

CXXXII.

O:A : Ketidakmampuan keluarga dalam

Membantu pasien dan keluarga dalam mengambil keputusan teratasi sebagian


membuat keputusan tentang perawatan CXXXIII.
pasien

P : observasi pengambilan keputusan

pasien, lanjutkan intervensi KMK 3


CXXVII.

(Rizky) CXXXIV.
CXXXV.

CXXXVI.
CXXXVII.

Sabt

Mendiskusikan

bersama

keluarga CXL. Sabtu, 21 Mei 2016

u, 21 Mei 2016

tentang perawatan klien dengan resiko CXLI. 11.30 WIB

CXXXVIII.

cidera

0 WIB

11.2
-

CXLII.S :

Menganjurkan Ny. S untuk membatasi

aktivitas rumah sendiri


-

(Rizky)

rumah sendiri

Menganjurkan Nn. A untuk membantu


Ny. S dalam melakukan aktivitas rumah
CXXXIX.

Ny. S mengatakan akan membatasi aktivitas

Nn. A mengatakan akan membantu Ny. S


dalam melakukan aktivitas rumah

(Rizky) CXLIII.
CXLIV.

O:A : Ketidakmampuan keluarga dalam

merawat anggota keluarga yang sakit teratasi


sebagian
CXLV. P : Lanjutkan intervensi KMK 4
CXLVI.
CXLVII.
CXLVIII.
CXLIX.

Min

Menganjurkan Nn. A untuk mengatur CLII. Minggu, 22 Mei 2016

ggu, 22 Mei 2016

pencahayaan di ruangan menuju kamar CLIII. 11.30 WIB

11.00 WIB

mandi menjadi lebih terang dengan CLIV. S :


mengganti bohlam lampu
-

Nn. A mengatakan akan mengganti bohlam

Menganjurkan Nn. A untuk merapikan

lampu yang ada di lorong kamar mandi

perabotan

menjadi lebih terang

meja

dapur

untuk

meminimalisir jatuhnya perabotan dapur


-

(Rizky)

Menganjurkan

Nn.A

untuk

meja dapur untuk meminimalisir jatuhnya

membersihkan lantai di lorong dapur


untuk meminimalisir resiko terpeleset
karena lantai yang basah

Nn. A mengatakan akan merapikan perabotan


perabotan dapur

Nn. A mengatakan akan membersihkan lantai


di lorong dapur

CL.

CLV. O : CLI. (Rizky)

CLVI. A : Ketidakmampuan keluarga dalam


menciptakan lingkungan yang kondusif

bagi pasien teratasi sebagian


CLVII. P : Observasi lingkungan di rumah pasien
setelah adanya penyuluhan
CLVIII.

Lanjutkan intervensi KMK 5

CLIX.
CLX. (Rizky)
CLXII.
CLXIII.

Min

Mendiskusikan

ggu, 22 Mei 2016

manfaat

11.00 WIB

berjalan
-

menggunakan

alat

Ny.

menggunakan

tongkat

bantu

untuk

jalan

kejadian jatuh

S
sebagai

S : Ny. S mengatakan tidak mau

bantu menggunakan tongkat


CLXVII.

Menganjurkan

CLXIV.

CLXI.
keluarga CLXVI.

dengan

O : Pasien tampak menolak ketika

untuk perawat menganjurkan menggunakan tongkat untuk


alat alat bantu berjalan

meminimalisir CLXVIII.

A : Ketidakmampuan keluarga dalam

memanfaatkan fasilitas kesehatan belum teratasi


CLXIX.

Anjurkan

pasien

untuk

CLXV.(Rizky) memodifikasi kursi/ menggunakan kursi sebagai


alat bantu berjalan
CLXX.
CLXXI.

(Rizky)

CLXXIII.
CLXXIV.
2.

Sabt

u, 21 Mei 2016
-

11.45 WIB

Mengkaji

hal-hal

yang

dapat CLXXVII.

CLXXII.
S : Pasien mengatakan belum mau

mempengaruhi pengambilan keputusan memeriksakan keadaan tumor bulli nya dikarenakan


Mengadvokasi
keluarga
dalam
tidak ada waktu
pengambilan keputusan
CLXXVIII. O : Memotivasi
keluarga
untuk
CLXXIX.
A : Ketidakmampuan keluarga dalam
berkonsultasi ke dokter spesialis
mengambil keputusan belum teratasi
penyakit dalam
CLXXX.
P : Berikan motivasi, lanjutkan
CLXXV.
CLXXVI. (Rizky) intervensi KMK 3
CLXXXI.

CLXXXIII.
CLXXXIV.

Sabt

u, 21 Mei 2016
11.45 WIB

Mengkaji intensitas nyeri


Mendiskusikan dengan keluarga teknik

CLXXXII.
(Rizky)
CLXXXVII. S : Pasien mengatakan paham denga

cara teknik mengatasi nyeri


mengontrol nyeri yang telah dilakukan
CLXXXVIII. Pasien
mengatakan
akan
Mengajarkan manajemen nyeri ditraksi
menerapkan teknik mengatasi nyeri apabula nyeri
dan relaksasi (nafas dalam, berbincang,
terasa
menonton tv)
CLXXXV.
CLXXXIX. O : Pasien dapat mengulangi cara
CLXXXVI.
(Rizky)
mengurangi nyeri yang sudah diajarkan perawat
CXC. A :

Ketidakmampuan

keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit teratasi

dalam

CXCI. P : Lanjutkan intervensi KMK 5


CXCII.(Rizky)

CXCIII.
CXCIV.

BAB IV
PENUTUP

CXCV.
1. Kesimpulan
CXCVI.

Berdasarkan dokumentasi Asuhan Keperawatan Keluarga

Ny. S dengan lansia risiko cidera dapat disompulkan bahwa setelah dilakukan
asuhan keperawatan selama yang tercantum pada perencanaan, permasalahan
keperawatan keluarga Ny. S dengan diagnosa keperawatan :
a. Resiko Cidera pada Ny. S di keluarga Ny. S di dusun Dukuh berhubungan
dengan

ketidakmampuan

keluarga

dalam

mengenal

masalah,

ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan, ketidakmampuan


keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit, ketidakmampuan
keluarga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi yang sakit, dan
ketidakmampuan
kesehatan.

keluarga

Masalah

untuk

teratasi

memanfaatkan

sebagian,

fasilitas

melanjutkan

pelayanan

intervensi

dan

mengobservasi perkembangan kondisi pasien


b. Nyeri kronik pada Ny. S berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam mengambil keputusan, ketidakmampuan keluarga dalam merawat
anggota keluarga yang sakit dan ketidakmampuan keluarga memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan. Masalah teratasi sebagian, melanjutkan
intervensi dan mengobservasi perkembangan kondisi pasien.
2. Saran
CXCVII. Sebaiknya pihak puskesmas menindaklanjuti kasus keluarga binaan
melalui program ketok pintu/ melakukan kunjungan rumah.
CXCVIII.
CXCIX.
CC.
CCI.
CCII.
CCIII.
CCIV.

CCV.

DOKUMENTASI KEGIATAN

CCVI.
CCVII.
CCVIII.
CCIX.
CCX.
CCXI.
CCXII.
CCXIII.
CCXIV.
CCXV.
CCXVI.
CCXVII.
CCXVIII.
CCXIX.
CCXX.
CCXXI.
CCXXII.
CCXXIII.
CCXXIV.
CCXXV.
CCXXVI.
CCXXVII.
CCXXVIII.
CCXXIX.
CCXXX.
CCXXXI.
CCXXXII.
CCXXXIII.
CCXXXIV.
CCXXXV.
CCXXXVI. Gambar : Penyuluhan modifikasi lingkungan