Anda di halaman 1dari 20

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kejang Demam
2.1.1 Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu
rectal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ektrakranium (di luar rongga tengkorak).
Kejang tersebut biasanya timbul pada suhu badan yang tinggi (demam). Demamnya sendiri dapat
disebabkan oleh berbagai sebab, tetapi yang paling utama adalah infeksi. Demam yang
disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi terjadinya kejang demam.1,2
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4
tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam.2
2.1.2 Epidemiologi
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak. Berkisar 2% 5% anak di bawah 5 tahun pernah mengalami bangkitan kejang demam. Lebih dari 90%
penderita kejang demam terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun. Terbanyak bangkitan kejang
demam terjadi pada anak berusia antar 6 bulan sampai 22 bula. Insiden bangkitan kejang demam
tertinggi terjadi pada usia 18 bulan.3
Anak laki-laki lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 1,21,6:1. Saing B
(1999), menemukan 62,2% kemungkinan kejang demam berulang pada 90 anak yang mengalami
kejang demam sebelum usia 12 tahun, dan 45% pada 100 anak yang mengalami kejang setelah
usia 12 tahun. Kejang demam kompleks dan khususnya kejang demam fokal merupakan prediksi
untuk terjadinya epilepsi. Sebagian besar peneliti melaporkan angka kejadian epilepsi kemudian
hari sekitar 2 5 %.3
2.1.3 Etiologi
Penyebab kejang mencakup factor-faktor perinatal, malformasi otak congenital,
factorgenetic, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan metabilisme,
trauma,neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degeneratif susunan saraf. Kejang
disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya4.
Penyebab kejang mencakup faktor-faktor perinatal, malformasi otak kongenital, faktor
genetik, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan metabilisme,

trauma,neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degeneratif susunan saraf. Kejang
disebutidiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya4.
2.1.4 Klasifikasi
Kejang yang umum digunakan adalah berdasarkan Klasifikasi International League
Against Epilepsy of Epileptic Seizure [ILAE] 1981, yaitu:

Kejang demam dibagi menjadi dua kelompok yaitu kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks.
Kejang demam sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang
tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam.
Kejang demam kompleks
Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
2.1.5 Patogenesis
Pada keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 10C bisa mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan sebesar 10
15% dan otak sebesar 20%.2

Pada kenaikan suhu tubuh tertentu akan terjadi perubahan keseimbangan dari membran
sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion K + dan Na2+ melalui membran tersebut
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan
neurotransmitter dan terjadi kejang. 2
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya
ambang kejang seseorang anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 0C, sedang anak dengan ambang
kejang yang tinggi kejang baru akan terjadi bila suhu mencapai 400C. 2
Bangkitan kejang demam tergantung pada ambang kejang tersebut yaitu lebih banyak
pada anak dengan ambang kejang rendah. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya
tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (lebih
dari 15 menit) biasanya disertai apnea. Meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet sehingga dapat terjadi juga hiposemia, hiperkapnia, asidosis laktat
disebabkan metabolisme anaerob, hipotensi2, dan denyut jantung yang tidak teratur,
meningkatnya suhu tubuh juga dapat terjadi.
Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah gangguan peredaran darah yang
mengakibatkan hipoksia sehingga timbul edema otak yang mengakibatkan rusaknya sel neuron
otak. Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
sehingga terjadi epilepsi.5
2.1.6 Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik
klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi
reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar
kembali tanpa defisit neurologis. Kejang demam diikuti hemiparesis sementara (Hemiparesis
Tood) yang berlangsung beberapa jam sampai hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti
oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi
pada kejang demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam ditemukan pada 16% pasien.4
Kejang yang terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya berkembang bila
suhu tubuh (dalam) mencapai 39C atau lebih. Kejang khas yang menyeluruh, tonik-klonik

beberapa detik sampai 10 menit, diikuti dengan periode mengantuk singkat pasca-kejang. Kejang
demam yang menetap lebih lama dari 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti proses
infeksi atau toksik yang memerlukan pengamatan menyeluruh.5
Kriteria Livingstone sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam
sederhana, yaitu2:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Umur anak ketika kejang antara 6 bulan - 5 tahun


Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit
Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak lebih
Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
Pemeriksaan EEG tidak menunjukkan kelainan.

dari 4 kali

2.1.7 Diagnosis
Anamnesis
Dibutuhkan beberapa informasi yang dapat mendukung diagnosis ke arah kejang demam,
seperti:
- Menentukan adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum dan
saat kejang, frekuensi, interval pasca kejang, penyebab demam diluar susunan saraf
-

pusat.
Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko kejang demam, seperti genetik, menderita
penyakit tertentu yang disertai demam tinggi, serangan kejang pertama disertai suhu

dibawah 39 C.
Beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya kejang demam berulang adalah usia< 15
bulan saat kejang demam pertama, riwayat kejang demam dalam keluarga, kejang
segera setelah demam atau saat suhu sudah relatif normal, riwayat demam yang sering,
kejang demam pertama berupa kejang demam kompleks. 4

Gambaran Klinis
Yang dapat dijumpai pada pasien kejang demam adalah:
-

Suhu tubuh mencapai 39C.

Anak sering kehilangan kesadaran saat kejang.

Kepala anak sering terlempar keatas, mata mendelik, tungkai dan lengan mulai kaku,
bagian tubuh anak menjadi berguncang. Gejala kejang tergantung pada jenis kejang.

Kulit pucat dan mungkin menjadi biru.

Serangan terjadi beberapa menit setelah anak itu sadar4

2.1.8 Diagnosis Banding


Kejang pada anak merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Gangguan primer
mungkin terdapat intrakranium atau ekstrakranium. Berbagai penyakit intra serebral dan
gangguan metabolik yang juga dapat menyebabkan kejang antara lain4 :
1. Kelainan intrakranium
a. Meningitis
b. Ensefalitis
c. Infeksi subdural dan epidural
d. Abses otak
e. Trauma kepala
f. Stroke dan AVM
g. Cytomegalic inclusion disease
2. Gangguan metabolik
a. Hipoglikemi
b. Defisiensi vitamin B-6
c. Gangguan elektrolit seperti hiponatremia, hipokalsemia, porfiria
d. Keracunan
3. Epilepsi
Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi, yang
dicirikan oleh timbulnya serangan paroksismal yang berkala, akibat lepas muatan listrik
neuron-neuron serebral secara eksesif
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi
dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain
misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat
dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.2
Punksi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6% - 6,7%. Pada
bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis
karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
2. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin

Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.2

Elektroensefalografi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang,

atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan
kejang demam yang tidak khas.2 Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia lebih
dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.

Pencitraan
Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT-scan) atau

magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas
indikasi seperti:
1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
2. Paresis nervus VI
3. Papiledema2

2.1.10 Tatalaksana

Tatalaksana saat kejang

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang
sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam
waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.3
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam
rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak
dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau
diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg
untuk anak di atas usia 3 tahun.3
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali
pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit
dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg.3

Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis
awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila
kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.3
Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang
rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis
kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya.3

Pemberian obat saat demam

Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya
kejang demam (level I, rekomendasi D), namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa
antipiretik tetap dapat diberikan (level III, rekomendasi B). Dosis parasetamol yang
digunakan adalah 10 15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis
Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali ,3-4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat
menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan
asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.2
Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam
rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5 0C. Dosis tersebut cukup tinggi dan
menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah
kejang demam.2

Pemberian obat rumatan

Indikasi pemberian obat rumat


Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai
berikut (salah satu):
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:

Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.


Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.
kejang demam >4 kali per tahun2

Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat


Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan risiko berulangnya kejang. Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam
tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan
rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pemakaian
fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada
40-50% kasus. 2
Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang
berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis
asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam
1-2 dosis.2

Lama pengobatan rumat


Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara
bertahap selama 1-2 bulan.2

2.1.11 Edukasi pada orang tua


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang
sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus
dikurangi dengan cara yang diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.


Memberitahukan cara penanganan kejang
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping obat.2

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang :


1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
4.
5.
6.
7.

memasukkan sesuatu kedalam mulut.


Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
Tetap bersama pasien selama kejang
Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih2

2.1.12 Prognosis

Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis


Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.

Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya
normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang baik umum atau fokal.2

Kemungkinan mengalami kematian

Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.

Kemungkinan berulangnya kejang demam

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah :
1.
2.
3.
4.

Riwayat kejang demam dalam keluarga


Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah

80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam
hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun
pertama.2

Faktor risiko terjadinya epilepsi


Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko menjadi

epilepsi adalah :
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai
4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi
10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat
pada kejang demam.2

2.2 Diare
2.2.1 Definisi
Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang cair dengan frekuensi 3x/hari
disertai perubahan konsistensi tinja (lembek atau cair) dengan atau tanpa darah/lendir dalam
tinja, disertai atau tanpa muntah.Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari disebut diare akut
dan bila berlangsung lebih dari 14 hari disebut diare persisten.6,7
2.2.2 Epidemiologi
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang menjadi
masalah kesehatan masyasakat di Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas yang
tinggi. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian diare per100 penduduk setahunnya.
Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80%
penderita terdapat pada mereka dibawah 5 tahun. Data Departemen Kesehatan menunjukan,
diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah 5 tahun atau balita di Indonesia,
setelahradang paru ata pneumonia.6
2.2.3 Etiologi
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
a. Faktor Infeksi

Infeksi enteral

Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak. Infeksi parenteral ini meliputi: (a) Infeksi bakteri: Vibrio, E.coli, Salmonella,
Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya. (b) Infeksi virus:
Enteroovirus (Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus
dan lain-lain. (c) Infestasi parasite : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides),
protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (candida
albicans).7

Infeksi parenteral

Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti Otitis
Media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan sebagainya.
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
b. Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltose dan sukrosa),


monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang
terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa.

Malabsorbsi lemak

Malabsorbsi protein

c. Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.


d. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare
terutama pada anak yang lebih besar.7
2.2.4Klasifikasi Diare

2.2.5 Patogenesis dan Patofisiologi


Diare yang disebabkan oleh infeksi seperti bakteri, berawal dari makanan/minuman yang
ditelan. Bakteri masuk sampai ke lambung, kemudian dibunuh oleh asam lambung. Namun

jumlah bakteri terlalu banyak

maka ada beberapa yang lolos sampai ke duodenum dan

berkembang biak di sana. Pada kebanyakan kasus gastroenteritis organ yang banyak diserang
adalah usus. Di dalam usus bakteri akan memproduksi enzim yang akan mencairkan lapisan
mukosa yang menutupi permukaan usus, sehingga bakteri mengeluarkan toksin yang
merangsang sekresi cairan-cairan usus dibagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan.
Sebagai akibatnya volume cairan didalam lumen usus meningkat yang mengakibatan dinding
usus menggembung dan sebagian dinding usus akan berkontraksi sehingga terjadi hipermotilitas
untuk mengalirkan cairan di usus besar. Apabila jumlah cairan tersebut melebihi kapasitas
absorbsi usus maka akan terjadi diare.6
Diare yang disebabkan oleh malabsorbsi makanan akan menyebabkan makanan atau zat
yang tidak dapat diserap sehingga tekanan osmotik di dalam rongga usus meninggi sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkan isi tersebut sehingga terjadilah diare.6
Tertelan makanan basi atau beracun juga dapat menyebabkan diare karena akan
mengganggu motilitas usus. Iritasi mukosa usus menyebabkan hiperperistaltik sehingga
mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.
Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan tumbuhnya bakteri secara berlebihan
sehingga timbul diare.6
Adanya iritasi mukosa usus dan peningkatan volume cairan dirongga usus menyebabkan
pasien mengeluh perut terasa sakit. Selain karena dua hal itu, nyeri perut timbul karena
metabolisme karbohidrat oleh bakteri di usus yang menghasilkan gas H 2 dan CO2 yang
menimbulkan kembung dan flatus berlebihan. Biasanya pada keadaan ini pasien merasa mual
bahkan muntah dan nafsu makan makan menurun karena terjadi ketidakseimbangan asam basa
dan elektrolit.6
Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akan menyebabkan pasien dehidrasi
yang ditandai dengan berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung,
bibir, mulut, dan kulit tampak kering. Jika keadaan ini berlanjut terus meerus maka volume darah
akan berkurang. Tubuh akan mengalami gangguan sirkulasi, perfusi jaringan terganggu, dan
akhirnya dapat menyebabkan shock hipovolemi.6
Faktor psikologis juga dapat menyebabkan diare. Karena faktor psikologis (stress, marah,
takut) dapat merangsang kelenjar adrenal untuk merangsang pengeluaran hormon yang kerjanya

mengatur metabolisme tubuh.

Bila terjadi stress maka metabolisme akan meningkat dan

motilitas usus jug meningkat.6


2.2.6 Tatalaksana

Rencana Terapi A (Tanpa Dehidrasi)9


Menerangkan 5 langkah terapi diare di rumah
1. Beri cairan lebih banyak dari biasanya
Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama
Anak yang mendapat ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan
Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri susu yang biasa diminum dan oralit

atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air tajin, air matang, dsb)
Beri oralit sampai diare berhenti. Bila muntah, tunggu 10 menit dan dilanjutkan

sedikit demi sedikit.


Untuk < 1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali berak
Umur > 1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali berak
Anak harus diberi 6 bungkus oralit (200 ml) di rumah bila:
Telah diobati dengan rencana terapi B atau C
Tidak dapat kembali pada petugas kesehatan jika diare memburuk
Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit
2. Beri obat Zink
Beri zink 10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti. Dapat diberikan dengan
cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air matang atau ASI.
Umur < 6 bulan diberi 10 mg (1/2 tablet) per hari
Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1 tablet) per hari
3. Beri Anak Makanan Untuk Mencegah Kurang Gizi
Beri makan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat
Tambahkan 1 2 sendok the minyak sayur setiap porsi makan
Beri makanan kaya kalium seperti sari buah segar, pisang, air kelapa hijau
Beri makan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil (setiap 3 4 jam)
Setelah diare berhenti, beri makan yang sama dan makanan tambahan selama 2
minggu
4. Antibiotik Hanya Diberikan sesuai Indikasi. Misal: Disentri, Kolera, dll
5. Nasihati Ibu/pengasuh
Untuk membawa anak kembali ke petugas kesehatan bila:
Berak cair lebih sering
Muntah berulang
Sangat haus
Makan dan minum sangat sedikit

Timbul demam
Berak berdarah
Tidak membaik dalam 3 hari

Rencana terapi B (Dehidrasi Ringan Sedang)9


A. Untuk terapi dehidrasi ringan atau sedang jumlah oralit yang, diberikan dalam 3 jam
pertama disarana kesehatan:
ORALIT yang diberikan = 75
ml x BERAT BADAN anak

Bila BB tidak diketahui berikan oralit sesuai tabel di bawah ini:


Umur Sampai

4 bulan

4 12 bulan

12 24 bulan

2 5 tahun

Berat Badan

< 6 kg

6 10 kg

10 12 kg

12 19 kg

Jumlah Cairan

200 400

400 700

700 900

900 - 1400

Bila anak menginginkan lebih banyak oralit, berikanlah.


Bujuk ibu untuk meneruskan ASI
Untuk bayi < 6 bulan yang tidak mendapat ASI berikan juga 100 200 ml air masak
selama masa ini
Untuk bayi > 6 bulan, tunda pemberian makan selama 3 jam kecuali ASI dan oralit
Beri obat zinc selama 10 hari berturut-turut
B. Amati Anak Dengan Seksama dan Bantu Ibu Memberikan Oralit
Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan
Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas
Periksa dari waktu ke waktu bila ada masalah
Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak
atau ASI. Beri oralit sesuai rencana terapi A bila pembengkakakan telah hilang.
C. Setelah 3 4 jam, nilai kembali anak dengan bagan penilaian, kemudian pilih
rencana terapi A, B atau C untuk melanjutkan terapi
Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke rencana terapi A. bila dehidrasi telah hilang,
anak biasanya kencing kemudian mengantuk dan tidur.
Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/sedang, ulangi rencana terapi B
Anak mulai diberikan makanan, susu, dan sari buah.
Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat, ganti dengan rencana terapi C
D. Bila ibu harus pulang sebelum selesai rencana terapi B
Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah
Berikan oralit 6 bungkusuntuk persediaa di rumah.
Jelaskan 5 langkah rencana terapi A untuk mengobati anak di rumah
Rencana Terapi C (Dehidrasi Berat di sarana Kesehatan)9
A. Jika dapat memberikan cairan intravena
Beri cairan intravena segera.
RL atau NaCl 0,9% (bila RL tidak tersedia) 100 ml/kgBB, dibagi sebagai berikut:

Umur
Bayi < 1 tahun

Pemberian I
30 ml/kgBB
1 jam*

Kemudian
70 ml/kgBB
5 jam

Anak

30 menit*

2 jam

tahun

*Diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau


Nilai kembali tiap 15 30 menit. Bila nadi belum teraba, beri tetesan lebih cepat.
Juga beri oralit (5ml/kg/jam) bila penderita bisa minum; biasanya setelah 3 4 jam

(bayi) atau 1 2 jam (anak)


Berikan obat zinc selama 10 hari berturut-berturut
Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi derajat dehidrasi. Kemudian

pilihlah rencana terapi yang sesuai (A,B atau C) untuk melanjutkan terapi
B. Bila tidak bisa memberikan cairan intravena, rujuk pasien untuk terapi intravena. Bila
penderita bisa minum, sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya selama di
perjalanan.
C. Jika petugas bisa menggunakan pipa nasogastrik/orogastrik untuk rehidrasi
Mulai rehidrasi dengan oralit melalui Nasogastrik/Orogastrik. Berikan sedikit demi
sedikit, 20 ml/kgBB/jam selama 6 jam
Nilai setiap 1 2 jam:
Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat
Bila rehidrasi tidak tercapai selama 3 jam rujuk untuk terpai intravena
Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C)
D. Jika penderita bisa minum
Mulai rehidrasi dengan oralit melalui mulut.
Berikan sedikit demi sedikit, 20 ml/kgBB/jam selama 6 jam
Nilai setiap 1 2 jam:
Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat
Bila rehidrasi tidak tercapai selama 3 jam rujuk untuk terpai intravena
Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C)
Catatan:

Bila mungkin amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan

bahwa ibu dapat menjaga mengembalikan cairan yang hilang dengan memberi oralit
Bila umur anak di atas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah, pikirkan
kemungkinan kolera dan beri antibiotika yang tepat secara oral begitu anak sadar4

Cara Pemberian Obat Zinc9

Pastikan semua anak yang menderita Diare mendapat obat Zinc selama 10 hari berturut-

turut
Dosis obat Zinc (1 tablet = 20 mg)
- Umur < 6 bulan : 1/2 tablet /hari
- Umur 6 bulan : 1 tablet /hari
Larutkan tablet dalam satu sendok air matang atau ASI (tablet mudah larut 30 detik),

segera berikan kepada anak


Bila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemberian obat Zinc, ulangi pemberian

dengan cara memberikan potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis

penuh.
Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan obat Zinc
segera setelah anak bisa minum atau makan.4

DAFTAR PUSTAKA
1. Bickley LS. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Edisi 8. Jakarta:
ECG; 2013.
2. Ikatan Dokter Indonesia. Konsensus penatalaksanaan Kejang Demam. Cetakan kedua.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2006.
3. Deliana, M. Tatalaksana Kejang Demam Pada Anak. Sari Pediatri 4(2); 59 62. 2002
4. Behrman, Richard E. Kliegman, Robert M. Jenson, Hal B. Nelsons textbook of
pediatrics. Ed-17. Pennsylvania: Saunders; 2004.
5. David
YK.
Epilepsy
and
Seizures.
Avaliable
from:
http://emedicine.medscape.com/article/215840-overview/ [acessed January28 2015]
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak jiid 1.
Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI; 2007
7. Randy
PR.
Pediatric
Gastroenteritis.
Avaliable
from:
http://emedicine.medscape.com/article/964131-overview/ [acessed January28 2015].
8. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan RIDirektorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2011.
9. Dwipoerwantoro GP, Hegar B, Witjaksono PAW. Pola Tata laksana Diare Akut di
Beberapa Rumah Sakit Swasta di Jakarta; apakah sesuai dengan protokol WHO. Sari
Pediatri 2005;6(4): 182-187.