Anda di halaman 1dari 47

DAFTAR ISI

DAFTAR

ISI

1
PENDAHULUAN
2
LAPANGAN

PANDANG

2
TEKHNIK
6
A.

PEMERIKSAAN
Tes

PERIMETRI

Tangent

Screen

8
B. Perimeteri

Goldmann

10
C. Perimetri

Humphrey

20
TEKHNIK
36
POLA

PEMERIKSAAN

KERUSAKAN

PANDANG
PENUTUP
46
DAFTAR

SERABUT

SARAF

PERIMETRI

LAIN

DENGAN

LAPANGAN

37

PUSTAKA

47

PERIMETRI

I. PENDAHULUAN
Sejumlah gangguan pada mata dan gangguan di otak dapat menyebabkan hilangnya
penglihatan. Hilangnya penglihatan ini dapat berupa gangguan pada ketajaman penglihatan
atau sampai pada gangguan lapangan pandang.(1)
Perimetri adalah suatu teknik pemeriksaan dimana mata dalam keadaan terfiksasi di
daerah sentral yang akan diukur kemampuannya untuk dapat melihat daerah yang lain pada
saat yang bersamaan. Selanjutnya akan digunakan suatu stimulus/ target yang fungsinya akan
memberikan batas / threshold dimana dan seberapa besar area dari lapangan pandang
seseorang. Jadi perimetri adalah tekhnik pemeriksaan untuk mengetahui secara kuantitatif
dan kualitatif dari lapangan pandang.
Nilai diagnostik pemeriksaan perimetri

yang akan mengukur lapangan pandang

dalam kasus-kasus glaukoma dan neuro-oftalmologi sangatlah tinggi. Tes perimetri ini juga
dapat menjadi screening test , diagnostic test dan monitoring theraphy test, yang
berhubungan dengan penyakit-penyakit di retina, nervus optik, glaukoma dan gangguan di
otak.
Perimetri selanjutnya juga akan dapat menentukan lokasi, luas dan tingkat keparahan
dari gangguan tersebut. (1, 2, 3)
Mengingat besarnya peranan pemeriksaan perimetri dalam menilai fungsi lapangan
pandang dan mempertahankan kualitas hidup, maka perlu kiranya diketahui dan dipahami
lebih mendalam mengenai lapangan pandang yang normal, teknik pemeriksaan, dan
gambaran patologisnya. Dalam sari pustaka ini juga akan membahas tentang bagaimana
interpretasi dari hasil pemeriksaan perimeter Goldmann dan perimeter Humprey sebagai
standar pemeriksaan lapangan pandang dalam klinik.

II. LAPANGAN PANDANG


2

A. Pengertian Lapangan Pandang


Lapangan Pandang adalah area disekitar kita, dimana mata dapat melihat dengan jelas
secara bersamaan. Lapangan pandang merefleksikan daerah di retina yang memiliki sel
fotoreseptor yang dapat menangkap cahaya yang selanjutnya oleh nervus optik akan
meneruskan sampai ke area penglihatan primer kita. Khusus untuk daerah visus perifer
ditentukan oleh sel rod yang sangat sensitif terhadap gerakan dan cahaya redup. (3)
Lapangan pandang dapat meliputi daerah sentral yang diukur dengan tes ketajaman
penglihatan dan daerah perifer yang diukur dengan cara berbeda dan memberikan gambaran
yang berbeda dari fungsi penglihatan, yaitu dengan tes Perimetri.
B. Batas Lapangan Pandang Normal
Batas dari lapangan pandang, diukur berdasarkan derajat dari titik fiksasi ( tempat objek
dimana mata diarahkan ). Dimulai pada 60 di superior dari seluruh lapangan pandang, 75
di inferior, 100 di temporal ( arah kanan dari mata kanan, arah kiri dari mata kiri ), dan 60
di daerah nasal lapangan pandang ( arah kiri dari mata kanan, arah kanan dari mata kiri).
Lapangan pandang dapat juga dibagi menjadi 3 zona yaitu daerah sentral ( dari titik
fiksasi sampai 30 ke perifer ), daerah intermediate ( 30 50 ), dan daerah perifer ( lebih
dari 50 ). (3, 4)

Keterangan gambar : batas-batas daerah lapangan pandang orang normal(3)

C. Umur dan Lapangan Pandang


Banyak penelitian yang telah memperlihatkan adanya penurunan sensitifitas lapangan
pandang seiring dengan bertambahnya usia. Dilaporkan dengan perimeter Goldmann, terjadi
pengurangan lapangan pandang pada semua kuadran baik daerah sentral maupun pada daerah
perifer.
Pengaruh umur akan terlihat setelah umur 20 an, tetapi ada yang membantahnya bahwa
pengaruhnya hanya akan terlihat jelas pada dekade 6. Setelah usia 20 tahun, sensitivitas
cahaya berkurang 1 dB per 10 tahun. Contohnya sensitivitas cahaya pada fovea pada usia 20
tahun adalah 35 dB, pada usia 30 tahun akan menjadi 34 dB. (3,5)

Keterangan gambar : Umur dan perimeter Goldmann yang menunjukkan pengurangan


secara gradual. Secara jelas terlihat pengurangan setelah umur 50-an (2)
D. Karakteristik Visual dalam Lapangan Pandang
Setiap titik pada retina berhubungan langsung dengan arah tertentu dengan lapangan
pandang. Misalnya, fovea (titik paling tengah/pusat dari bagian posterior retina),
berkorespondensi langsung dengan titik dimana titik arah pandang dipusatkan. Sedangkan
daerah perifer dari retina berarti daerah perifer dari lapangan pandang.
Karena bayangan yang dibentuk oleh sistem optik mata yang terbalik dan dibelakang
seperti halnya kamera, maka bayangan yang diterima retina akan berbanding terbalik dengan
keberadaan objek. Bagian nasal retina akan melihat objek di temporal dari lapangan pandang
dan sebaliknya, serta bagian superior retina akan melihat objek di inferior lapangan pandang
dan sebaliknya. (3,4)
Dari seluruh titik pada retina, informasi visual akan dikumpulkan oleh nervus optik
yang berada kira-kira 15-20 derajat dari titik fiksasi atau fovea yang selanjutnya akan
berjalan terus sampai ke korteks lobus oksipital di otak. Di tempat ini tidak mengandung sel
fotoreseptor sehingga sinar yang jatuh pada titik tersebut tidak dapat terdeteksi sehingga akan
menimbulkan skotoma yang fisiologis yang biasa dikenal dengan blind spot. Karena tempat
4

ini berada di bagian nasal dari mata maka blind spot berada di temporal dari lapangan
pandang. (3)

Keterangan gambar : Daerah letak blind spot(3)


E. Lapangan Pandang adalah gambaran 3 dimensi
Menentukan batas paling terluar dari lapangan pandang adalah aspek yang paling
utama dalam sebuah tes lapangan pandang, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah bahwa
setiap titik dalam area lapangan pandang mempunyai karakteristik tertentu dalam fungsi
visual. Contohnya bahwa kemampuan untuk melihat detail yang paling baik adalah pada titik
fiksasi yaitu pada daerah fovea sentralis yang selanjutnya akan berkurang secara progressif
pada lokasi yang jauh dari fovea. (3,4,5, 6)
Lapangan pandang bukan gambaran dua dimensi yang datar tapi sebenarnya adalah
konsep 3 dimensi. Lapangan pandang dapat digambarkan sebagai sebuah pulau penglihatan
yang dikelilingi oleh lautan kegelapan, yang dikenal dengan nama Hill of Vision. Teori ini
dikemukakan oleh Harry Moss Traquair. Pulau ini mewakili lapangan pandang yang dapat
dilihat dengan jelas sedangkan lautan kegelapan adalah area yang tidak dapat dilihat. Tajam
penglihatan paling jelas pada puncak pulau yaitu fovea dimana tempat sensitivitas retina
tertinggi. Dari puncak kemudian lerengnya akan menurun ke perifer dimana lereng bagian
nasal lebih curam dibanding temporal. Lereng menggambarkan makin berkurangnya
sensitivitas retina. Bintik buta yang berkorespondensi dengan nervus optik, tergambar sebagai
sumur yang sangat dalam.
5

Bentuk pulau berhubungan dengan anatomi dari sistem visual dan tingkat adaptasi
retina. Konsentrasi sel kerucut yang paling tinggi pada fovea dimana sebagian besar sel
kerucut tersebut berproyeksi langsung ke sel ganglionnya sendiri.(1,3)

Keterangan gambar : Hill of Vision ; menggambarkan secara 3 dimensi dari lapangan


pandang. Secara 2 dimensi (x-y axis) akan menggambarkan luas lapangan pandang, tapi
z axis akan menggambarkan tingginya sensitifitas setiap titik ( retina) didalam lapangan
pandang.(1)

III. TEKNIK PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG


Berbagai macam metode telah digunakan untuk mengetahui bagaimana fungsi penglihatan
melalui melihat lapangan pandang. Tekhnik yang sederhana dapat berupa Tes Konfrontasi,
Amsler Grid , sedangkan Tes Perimetri menggunakan metode yang lebih kompleks .
Perimetri sebagai metode untuk memeriksa lapangan pandang, berdasarkan cara kerjanya
dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Perimeter Kinetik
Termasuk didalamnya adalah Tangent Screen Test dan Perimeter Goldmann . Semua
ini dilakukan secara manual, dan sangat bergantung kepada kemampuan operator
sebagai pemeriksa.
2. Perimeter Statik
Perimeter statik umumnya akan dioperasikan oleh komputer. Perimeter Humprey
adalah contoh yang paling terkenal, disamping Perimeter Octopuss dan perimeter
Dicon.(2,7)
6

Prinsip kerja Perimetri Kinetik dan Perimetri Statik


Perimetri kinetik sangat bergantung pada kemampuan operator sebagai pemeriksa
yang akan menggerakkan stimulus dari satu area yang tidak terlihat ke arah area yang
terlihat. Ukuran dan intensitas stimulus yang bervariasi telah ditentukan besar dan
intensitasnya oleh pemeriksa. Titik dimana stimulus mulai terlihat dari sebelumnya tidak
terlihat merupakan batas terluar dari lapangan pandang, sehingga jika titik-titik tersebut
dihubungkan akan membentuk garis isopter. (1,5,7)
Perimetri kinetik hanya mengukur secara kuantitatif dan secara 2 dimensi saja.
Sedangkan perimetri statik dapat mengukur secara 3 dimensi.
Pada perimeter Statik, setiap titik yang berbeda dalam lapangan pandang ditentukan
sensitivitasnya dengan menggunakan stimulus yang tidak digerakkan. Stimulus hanya akan
bertambah intensitas cahaya dan ukurannya mulai dari yang paling terlemah dan terkecil
sampai dapat terlihat pertama kali oleh pasien, yang akan mengindikasikan batas ambang dari
setiap titik dari area dalam lapangan pandang.
Threshold / ambang batas diartikan sebagai angka yang menunjukkan sejumlah 50 %
kemungkinan suatu titik dalam area lapangan pandang untuk menangkap suatu stimulus
dimana titik tersebut mempunyai daerah batas tertentu yang akan diukur dalam dB atau asb.
(1,3,5,7)

Keterangan gambar : Threshold = 50 % log stimulus luminance dari 100% probability of


seeing(5)

Keterangan gambar : Stimulus pada perimeter kinetik yang tetap ukuran dan intensitasnya
akan digerakkan sedangkan perimetri statik tidak digerakkan tapi intensitas cahayanya akan
bertambah(7)
Dibawah ini akan dijelaskan bagaimana teknik pemeriksaan Tangent Screen Test,
Perimeter Goldman dan Perimeter Humphrey.

Tes Tangent Screen / Campimetri


Merupakan suatu teknik perimetri yang efektif untuk mengevaluasi
lapangan pandang. Metode ini dipakai pada pasien dengan keadaan- keadaan

30 dari
tertentu,

misalnya :
- Pasien tidak dapat meletakkan dagunya di kubah perimeter
- Pasien tidak dapat menekan tombol
- Pasien tidak dapat memusatkan padangan pada titik fiksasi terlalu lama
Metode ini murah karena hanya memakai selembar kain hitam dan tongkat hitam
dengan target/stimulius putih diujungnya, dan dapat dibawa kemana-mana, sehingga dapat
dipakai sebagai tes skrining.
Pada kain hitam tersebut tergambar lingkaran konsentris berjarak 5 dengan garis
radier berjarak 15. Pada daerah sentral terdapat titik putih sebagai objek dengan ukuran
maksimal 6 mm.
Cara kerja :
Pasien didudukkan didepan layar sejauh 1 meter. Tutup satu mata dan mata harus
sejajar dengan objek di sentral layar . Ruangan yang dipergunakan harus agak gelap .
8

Tongkat digerakkan dari perifer (area yang tidak terlihat ) menuju kesentral dengan kecepatan
5 perdetik. Pada prinsipnya dokter akan menandai daerah yang dapat terlihat dan tidak
terlihat dari pasien sehingga akan didapatkan sejumlah titik yang menggambarkan peta
lapangan pandang dari pasien. Setiap titik yang telah diberi tanda lalu dihubungkan sehingga
mendapatkan isopter yaitu batas terluar yang masih dapat dilihat atau terdapatnya skotoma
dari pasien tersebut.(8)

Keterangan gambar : Tes Tangent Screen / Kampimetri(8)

Perimetri Goldmann
Beberapa tahun terakhir ini standar pemeriksaan lapangan pandang adalah perimetri klinis
yaitu perimeter Goldman atau perimeter Humprey, dimana perimetri klinis ini dalam
pemeriksaan lapangan pandang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya defek lapangan
pandang dan sebagai pemeriksaan kuantitatif untuk follow up penyakit, khususnya penyakit
glaukoma.
Perimeter Goldmann adalah alat yang berbentuk setengah kubah dengan warna latar
belakang putih dan berjari-jari 30 cm. Sebuah alat yang dapat digerakkan dan memancarkan
cahaya target ke dalam kubah dengan jarak 30 cm dari kornea yang secara kontinyu atau
berkala dengan ukuran yang berbeda-beda serta intensitas yang berbeda pula. Pemeriksa akan
mengamati pasien melalui sebuah teleskop dan pasien akan merespon stimulus melalui
sebuah tombol. (1,5,9)
9

Keterangan gambar : Perimetri Goldmann


Indikasi menggunakan perimeter Goldmann yaitu :
-

Jika menginginkan

perimeter statik hanya dapat membatasi sampai 30.


Jika terdapat indikasi terjadi Functional Field Loss.
Jika kepatuhan pasien kurang baik dalam memfiksasi mata sehingga diperlukan operator

pemeriksaan lapangan pandang yang lebih dari

30, dimana

dalam memonitor fiksasi mata pasien .(9)


A. Prinsip Kerja Perimeter Goldmann
Ketajaman penglihatan yang jauh dari fovea dapat diukur dari suatu pengukuran
lapangan pandang. Tetapi pengukuran lapangan pandang dengan menggunakan perimetri
yang manual / kinetik ( Perimetri Goldman ), tidak dapat mengukur kemampuan kuantitatif
atau sensitivitas retina pada setiap titik /daerah yang berbeda dalam area lapangan pandang
tersebut, hanya mengukur batas terluar dari lapangan pandang serta melihat adanya defek .
Tetapi tidak demikian halnya dengan perimetri otomatis yang dapat mengukur besarnya
fungsi ketajaman visual pada tiap titik berbeda dalam area lapangan pandang.
Pada perimeter Goldmann, digunakan target yang ukuran serta intensitas yang telah
ditetapkan yang akan menentukan batas dan ambang (threshold) dari lapangan pandang.
Perimeter ini menggunakan pencahayaan latar belakang (background luminance) sebesar
31,5 asb.
Stimulus ini akan digerakkan dari area yang tidak dapat dilihat (infratreshold) ke area
yang yang dapat terlihat (supratreshold). Selanjutnya dilakukan pada beberapa tempat
berbeda. Titik-titik

sepanjang batas terluar dari lapangan pandang didapatkan dengan

mencari kemampuan pasien untuk melihat stimulus terlemah ( threshold ). Garis yang
menghubungkan titik-titik yang memiliki batas ambang ( threshold ) yang sama atau batas
daerah antara yang terlihat dan yang tak terlihat disebut isopter.(1,7,9)
10

B. Cara Kerja dan Persiapan Pasien


Pasien duduk dalam keadaan nyaman. Perhatikan pupil pasien jika kurang dari 2 mm

maka lakukan penetesan 2,5 % phenylephrine.


Ketajaman penglihatan dekat harus dikoreksi sebelum dilakukan pemeriksaan. Sangat
diutamakan jika pasien memakai kontak lensa. Posisikan frame kacamata jangan sampai

menyentuh bulumatanya.
Siapkan seluruh peralatan sebelum pasien didudukkan depan mesin.

perimeter. Pastikan posisi kertas tepat pada framenya.


Jelaskan kepada pasien tentang cara kerja pemeriksaan ini. Berikan latihan pada pasien

dalam mempergunakan tombol jika melihat stimulus cahaya.


Tutup mata yang tidak diperiksa dengan baik. Jika terdapat dermatokalasis, plester

Pasang kertas

lipatan kulit keatas, jika ada ptosis, elevasi palpebra superior ke atas dengan plester tapi
jika kurang kuat, siapkan seseorang untuk mengangkat palpebra selama pemeriksaan.
-

Posisikan dagu dan dahi pasien pada tempatnya.


Redupkan lampu ruangan dan berikan kesempatan kepada pasien untuk beradaptasi

sebelum memulai pemeriksaan.


Perhatikan mata pasien melalui teleskop, dan instruksikan untuk tetap terfiksasi tetap di
sentral. Jika tidak pada posisi sentral, atur posisi vertikal dan horisontal dari dudukan

dagu melalui alat dibawah kertas.


Instruksikan kepada pasien untuk terus melihat lurus kedepan, walaupun akan ada cahaya
yang lain yang mungkin lebih terang dan yang lain akan lebih redup. Perintahkan untuk

menekan tombol kapan saja dia melihat cahaya.


Pilih ukuran dan intensitas cahaya target . Mulai dengan daerah perifer tanpa lensa

koreksi.
Gerakkan pantograf dari area tak terlihat menuju area yang dapat dilihat oleh pasien

dengan kecepatan 3-5 derajat perdetik.


Instruksikan pasien jika melihat cahaya untuk menekan tombol.
Jika telah didapatkan isopter daerah perifer, pasangkan lensa koreksi , jika memang

diperlukan, dan mulai kembali untuk daerah sentral dengan memakai beberapa isopter.
Blind spot didapatkan dengan target yang paling kecil.
Untuk menghindari kelelahan dari pasien, jangan lakukan pemeriksaan lebih dari 10

menit permata. Jika terlihat tanda kelelahan , berikan waktu untuk istirahat pada pasien.
Sangat penting untuk mengevaluasi konsistensi pasien dalam melakukan pemeriksaan ini
Biasanya kita mematikan alat untuk beberapa detik, seharusnya pasien akan tidak
memberikan respon selama waktu tersebut. Dan yang terpenting juga adalah kita harus
memperhatikan fiksasi mata pasien melalui teleskop, jika tidak terfiksasi dengan baik,
instruksikan untuk memperbaiki fiksasi matanya.

11

Jika ingin melanjutkan pada mata sebelahnya, berikan waktu untuk istirahat. Pastikan
semua kuadran telah diperiksa semua. (9)
C. Tehnik Pemeriksaan
1. Jenis dan Ukuran Target
Target diartikan sebagai suatu stimulus yang mempunyai dua parameter, yaitu ukuran

besarn ukuran stimulus dan luminance atau intensitas / terangnya stimulus yang diukur
dalam apostilb (asb).
Ada 6 jenis ukuran target/stimulus dimana merupakan kelipatan 4 dari ukuran target
sebelumnya, yaitu :

Sedangkan intensitas stimulus dibagi manjadi 2 pola yaitu :


- Intensitas dari angka 1,2,3 dan 4 yang berbeda 5 dB, dimana angka 4 adalah yang
-

paling terang. Selanjutnya akan lebih di bedakan lagi dengan;


Intensitas dari angka a,b,c,d dan e yang berbeda 1 dB, dimana huruf e adalah yang

paling terang.
Jadi jika memakai target stimulus III 2e akan lebih terang dan besar daripada I 2d tapi
tidak lebih besar dan lebih terang dari IV 3a.
Intensitas cahaya diukur dengan desibel (dB) yang merupakan cara untuk
membandingkan intensitas cahaya pada stimulus terhadap maksimal intensitas cahaya yang
dapat dikeluarkan oleh mesin. 10 dB berarti cahaya ini 1/10 kali lebih terang dari cahaya
yang paling terang yang ada, 20 dB berarti cahaya ini 1/100 kali lebih terang dari cahaya
yang paling terang yang ada ( berdasarkan log unit). Jadi semakin tinggi jumlah dB maka
semakin redup stimulus, misalnya stimulus I 2e adalah 5 dB lebih atau lebih redup dari
stimulus I 3e. Jika dB dikonversikan ke asb maka 0 dB berarti 10.000 asb, dan 10 dB berarti
1000 asb, tapi untuk mengukur derajat sensitivitas retina biasa dipakai satuan dB untuk lebih
memudahkan.(1,9)

12

Suatu stimulus akan dapat terlihat oleh pasien jika diberikan pencahayaan kontras.
Untuk perimetri Goldman warna stimulus dan warna latar belakang sama yaitu warna putih,
sedangkan pencahayaan latar belakang ( background luminance ) telah memakai ukuran
standar yaitu sekitar 31,5 asb ( perimetri kinetik dan statik ). Stimulus untuk dapat terlihat
harus memiliki intensitas yang melebihi intensitas latar belakangnya.
2. Pemilihan Target
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setiap mata yang diperiksa seharusnya dengan
3 jenis target untuk mendapatkan 3 lingkaran isopter. Ukuran target yang terkecil diberikan
pada lapangan pandang sentral ( 10), dan semakin ke perifer menggunakan target yang lebih
besar.
Yang terutama adalah isopter yang berada di paling terluar dari lapangan pandang dengan
stimulus yang besar dan terang ( V4e) dan stimulus yang kecil dan agak redup untuk
memeriksa lapangan pandang dalam area 30 derajat ( I2e , I3e atau I4e).
Jika sebuah defek dapat terlihat dengan isopter I2e tapi tidak dengan isopter I4e maka
daerah antaranya dapat diisi dengan isopter I3e. Jika ada kecurigaan adanya defek di sentral
atau para sentral, maka O3e isopter dapat digunakan. Sangat diperlukan pengetahuan serta
pengalaman untuk dapat menemukan target yang tepat sehingga defek dapat ditemukan.
(2,310)

13

Pada gambar diatas memperlihatkan pemeriksaan dengan menggunakan 3 buah isopter


yang terlihat lebih jelas memperlihatkan adanya defek. Gambar A adalah gambaran perimetri
Goldmann dimana memperlihatkan isopter terluar adanya konstriksi daerah nasal lapangan
pandang, isopter tengah menunjukkan adanya defek arkuata superior dan inferior nasal
sedangkan isopter terdalam menunjukkan puncak sensitivitas. Gambar B memperlihatkan
gambaran 3 dimensinya yang dibandingkan dengan gambaran normalnya di gambar C.(1)
3. Pemetaan Blind Spot
Dalam pemeriksaan perimetri pemetaan terhadap blind spot sangatlah penting, biasanya
digunakan ukuran target I4e atau I2e. Target yang lebih besar tidak akan dapat menemukan
ukuran dari blind spot yang kecil.
Caranya dengan menggerakkan stimulus maju-mundur.

Sementara mata pasien

terfiksasi, matikan stimulus, lalu tempatkan stimulus di 15 di temporal pada horisontal


meridian ( tempat ini tepat ditengah blind spot), lalu nyalakan kembali stimulus. Jika pasien
mengatakan melihat stimulus, matikan stimulus, lalu gerakkan stimulus keatas dan ke lateral
beberapa derajat, lalu nyalakan kembali. Jika pasien mengatakan tidak melihat stimulus
14

gerakkan keatas , kebawah, kelateral dan ke nasal sampai pasien mengatakan melihat
stimulus. Daerah yang tidak terlihat itulah tempat blind spot berada yang berada antara 10-20
derajat temporal dari titik fiksasi.(1)
4. Pemetaan Penyakit Retina
Dalam pemetaan penyakit-penyakit di retina sangat berhubungan dengan informasi
hasil funduskopi. Jika kecurigaan di daerah makula maka pemeriksaan sangat dikhususkan
pada daerah sentral. Retinitis pigmentosa mungkin lebih dikhususkan pada daerah midperifer.
Tetapi untuk pemilihan jenis perimeter, dengan perimeter otomatis sangatlah terbaik, karena
dengan perimeter statik akan dapat diketahui berapa besar sensitivitas retinanya.
5. Pemetaan Nervus Optik / Pemetaan Meridian Horisontal
Gangguan yang melibatkan nervus optik prechiasmal akan merefleksikan adanya
pengurangan luas lapangan pandang daerah meridian horisontal. Defek lapangan pandang
yang tersering adalah skotoma sentral atau defek arkuata, sehingga sangat penting untuk
memeriksa daerah sentral 20 dan daerah meridian horisontal nasal.
Pertama gerakkan stimulus dari arah nasal dibawah dan diatas meridian horisontal,
selanjutnya akan terlihat ketidaksesuaian. Stimulus lalu digerakkan secara perpendicular di
daerah nasal . Lakukan pada beberapa tempat di daerah sekitar nasal dan superior untuk lebih
mengeksplorasi defek di superonasal.

15

Keterangan gambar : pemetaan meridian horisontal dengan defek nasal step pada mata
kanan. A-B Gerakkan stimulus yang berada di atas dan dibawah meridian horizontal sampai
terlihat adanya disparansi daerah superior. C-D Eksplorasi daerah superior dengan
menggunakan beberapa stimulus ukuran yang sama tetapi intensitas berbeda (static) sampai
didapatkan daerah terlihat (O) dan tidak terlihat (X). E pemetaan kinetic lebih pada daerah
superior sampai didapatkan isopter (F) (1)

6. Pemetaan MeridianVertikal
Penyakit-penyakit yang berada di belakang kiasma optik akan merefleksikan pada
meridian vertikal.
Gerakkan stimulus seperti halnya pemeriksaan meridian horisontal. Stimulus
digerakkan disebelah kanan dan kiri meridian vertikal. Pemeriksaan meridian vertikal harus
dilakukan dengan 3 isopter pada daerah 50, 40 dan 30 derajat.

Keterangan gambar : Perimetri kinetik dilakukan untuk memeriksa meridian vertikal dengan
cara memilih 3 isopter yaitu pada isopter 30, 40 dan 50 derajat. Stimulus digerakkan diatas
dan dibawah garis meridian.(1)
7. Gambaran Normal
Sebuah diagram lapangan pandang dapat diartikan sebagai lapangan yg as patient
sees it . Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pemeriksaan perimeter Goldmann
hanya akan memberikan gambaran secara 2 dimensi dimana sebuah kriteria normalnya akan
memberikan gambaran luas lapangan pandang yang sesuai dengan umurnya.
Yang menentukan pula bahwa pemeriksaan dilakukan tidak hanya dengan 1 isopter
saja sehingga defek yang berada di dalam area lapangan pandang dapat terdeteksi.

16

Pada gambar diatas memperlihatkan gambaran normal dari lapangan pandang mata
kanan seseorang yang berumur 20 tahun. Physiologic Blind Spot berada di antara 10-20 dari
titik fiksasi. Tidak terdapat keterangan nama, tanggal pengambilan, diameter pupil.
Pemeriksaan dilakukan dengan 4 isopter berbeda sehingga jelas memperlihatkan batas-batas
lapangan pandang dibeberapa derajat dari titik fiksasi. Perhatikan daerah lateral lebih luas
dari daerah nasal yang sesuai dengan gambaran normal lapangan pandang. Keterangan besar
ukuran dan intensitas cahaya stimulus disebutkan di kotak pojok kanan bawah.(10)
8. Artefak
1. Lens Rim Artifact dan Lids Artifact
Perhatikan jika lens holder terdorong kebawah atau terdapat ptosis atau blepharokalasis,
sehingga akan menghalangi visualisasi lapangan pandang daerah superior.
2. General constriction
Pupil yang kecil, atau refractif error yang tidak terkoreksi dengan baik, ketidak
konsistensian dari pasien dalam memfiksasi matanya, akan mempengaruhi hasil lapangan
pandang terutama daerah sentral. Juga dipengaruhi oleh cara pemeriksa dalam
menggerakkan stimulus yang terlalu cepat sehingga stimulus yang seharusnya terlihat
menjadi tidak terlihat.

17

Keterangan gambar : Lens artifact

Keterangan gambar : Lids artifact(1)


9. Bentuk
Setiap defek pada hasil pemeriksaan perimeter Goldmann adalah perubahan dari pola
isopter. Jika lingkaran isopter mengalami perlekukan, hal ini mengartikan bahwa ada area
yang tidak terlihat pada lapangan pandang dimana stimulus tidak terlihat oleh pasien.(11,12)
Dalam pemetaan lapangan pandang sangat tergantung kepada perubahan dari ambang
batas penglihatan ( visual threshold ) pada setiap titik dalam area lapangan pandang.
Perubahan yang dimaksud adalah bertambahnya batas ambang, yang berarti sensitivitas
retina menjadi berkurang dalam menangkap stimulus sehingga akan memberikan gambaran
lekukan atau indentasi terhadap permukaan batas ambang yang semestinya. Ada 3 jenis
gambaran gangguan yang biasa didapatkan, yaitu :
1. Scotoma, yaitu daerah berupa kawah yang dalam tapi dikelilingi oleh daerah yang
normal. Skotoma berarti hilangnya penglihatan walau dengan target yang paling besar
dan yang paling terang. Dibedakan atas skotoma absolut yang mempunyai sensitivitas

18

retina 0 dB misalnya fisiologis blind spot dan skotoma relatif dimana masih mempunyai
sedikit sensitivitas retina.
2. Constriction, yaitu daerah lekukan yang melibatkan batas terluar dari lapangan pandang.
3. Depression, yaitu daerah lekukan yang tidak lebih dalam dari scotoma tapi luas. Ini
menandakan bahwa hilangnya sensitivitas retina tidak lebih banyak dari skotoma relatif.
(11)

Keterangan gambar :

Lekukan kiri atas

menunjukkan Scotoma, lekukan kanan atas Depression dan dibawah adalah


Constriction.(11)

Perimeter Humprey
Perimeter Humphrey ( Humphrey Visual Field Analizer) adalah suatu unit yang full
automatic, computerized , sangat sensitif serta sangat akurat dalam memeriksa lapangan
pandang. (13,14,15)
Perimetri Humphrey dengan hasil pemeriksaan yang begitu lengkap dan akurat akan
dapat :
-

Menentukan adanya kelainan lapangan pandang


Menentukan derajat kelainan lapangan pandang
Melihat adanya defek karena penyakit glaukoma yang masih ringan ( Early

glaucomatous defect ) dan progresifitasnya (13,14, 15)


Walau dengan segala keuntungan tersebut diatas, perimetri otomatis ini juga
memberikan kerugian karena perlu pembelajaran serta berbagai macam data yang diperlukan
dan interpretasinya yang sangat sulit.
Pencahayaan latar belakang sama dengan perimeter Goldmann yaitu sekitar 31,5 asb
yang telah ditentukan oleh International Perimetric Society. Perimeter ini akan menggunakan
stimuli yang dipancarkan ke kubah dengan intensitas yang bervariasi sampai 51 dB, tetapi

19

ukuran stimuli telah ditentukan sebelum pemeriksaan dilakukan. Ukuran besarnya stimulus
sama dengan perimetri Goldmann. (13,16)

Keterangan gambar : Humphrey Visual Field Analizer


II- I series(15)

A. Prinsip kerja Perimeter Humprey


Satu prinsip kerja yang paling utama yang membedakan perimeter kinetik dengan
perimeter statik , yaitu perlakuan dari stimulusnya. Stimulus atau target dari perimeter
Humprey tidak akan bergerak tetapi tetap / statik hanya akan bercahaya selama 200 ms pada
beberapa lokasi yang berbeda-beda dalam bentuk sebaran /grid.
Stimulus ini akan menentukan threshold dari titik-titik pada pola sebaran. Stimulus ini
sudah ditentukan ukuran besar stimulus biasanya ukuran III atau Vtetapi intensitas cahayanya
akan berubah-ubah. Stimulus ini akan memberikan pencahayaan dimulai pada satu titik
tertentu yang selanjutnya akan berpindah ke daerah yang terdekat sampai pada daerah yang
terjauh dari titik awal seperti anak tangga, sampai seluruh lapangan pandang terpenuhi.
(1,13,14)

20

Keterangan gambar : pola sebaran titik A : 30 derajat, B : 20 derajat, C : 10 derajat(1)


Pola sebaran pada lapangan pandang ini tidak ada hubungan interpolarisasi, yang
berarti bahwa daerah antara dua titik tidak akan mendapatkan cahaya sehingga skotoma yang
sangat kecil yang berada pada 2 titik tidak akan terdeteksi, jika jarak antara titik terlalu jauh.
Semakin banyak titik yang diperiksa maka semakin lama waktu pemeriksaan.
Biasanya pemeriksaan hanya melihat 50-120 titik, dimana yang tersering adalah 76 titik
dengan jarak 6 dengan luas lapangan pandang 30 ( 30-1 atau 30-2 ).
Setiap titik ini akan memiliki angka sebagai threshold dari sensitivitas retina /
kemampuan dari titik tersebut untuk menangkap stimulus yang terlemah ( 50%). Angka
tersebut akan diukur dalam decibel (dB).

Keterangan gambar : sensitivitas retina digambarkan secara kuantitatif dalam decibel (dB)
dan digambarkan secara simbolik Greytone dalam gambaran titik-titik .
21

Semakin besar angka numeriknya yang berarti semakin tinggi sensitivitas retina untuk
menangkap stimulus, maka dengan Graytone simbol akan menampakkan gambaran titik yang
semakin putih dan sebaliknya.
Prinsip kerja yang lain dari perimeter otomatis ini adalah bahwa data hasil
pemeriksaannya akan dikalkulasikan secara statistik dengan data kharakteristik normal
lapangan pandang pada umur yang sama dan abnormal yang telah dimiliki oleh perimeter ini.
Dengan perimeter ini juga akan mengukur

berapa besar deviasi/ perbedaan gambaran

lapangan pandang pasien dengan gambaran normal pada umur yang sama, sehingga sangat
perlu pengambilan data umur dan riwayat kelainan lainnya.
Hasil pemeriksaan ini akan memberikan kesimpulan akhir tentang, adanya defek
lapangan pandang, jenis defek, seberapa luas dan besar defek, serta seberapa besar
kemungkinan perubahan dari hasil normal dengan umur yang sama.
Perimeter statik telah memiliki program tertentu yang setiap jenis memiliki program
tersendiri dimana program ini akan menentukan batas luas daerah pemeriksaan, kecepatan
serta keakuratan dalam pemeriksaan.(13,14,17)
B. Cara Kerja dan Persiapan Pasien
Persiapan pasien sama saja dengan perimeter Goldmann, tapi pemeriksaan akan
sepenuhnya dilakukan oleh

komputer. Yang perlu sangat diperhatikan bahwa karena

keterbatasan lapangan pandang yang diperiksa hanya sampai pada 30 derajat maka pasien
harus diberikan koreksi penglihatan dekatnya.
C. Pemasukan Data
Pemasukan data sangat penting sebagai langkah awal pemeriksaan yang akan
membuat hasil pemeriksaan lebih akurat dan detail. Data-data ini sangat diperlukan juga
untuk kepentingan follow up penyakitnya. Data-data tersebut adalah :
1. Tanggal dan waktu.
Biasanya akan diatur otomatis oleh komputer
2. Nama pasien, nomor rekam medik dan data waktu kelahiran
3. Data visus, ukur diameter pupil dan koreksi visus yang dikenakan sat pemeriksaan.
Penurunan ukuran pupil dari 4 ke 2 mm akan mengurangi sensitivitas retina sebanyak
0,7 dB.
4. Jenis tes/strategi yang akan dipakai.
22

Setiap jenis kelainan mata akan memerlukan jenis tes yang berbeda. Tipe program
atau strategi yang akan digunakan akan menentukan berapa luas lapangan pandang
yang akan diukur sehingga akan memberikan hasil yang maksimal.
D. Pemilihan program
Berbagai macam program telah disediakan untuk mendeteksi daerah-daerah tertentu
dalam lapangan pandang. Program ini bergantung kepada gangguan tertentu yang dicurigai.
Program program yang dimaksud adalah :
1. Suprathreshold strategies (strategi skrining)
Program ini diberikan kepada pasien yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan
dan kecurigaan adanya kelainan hanya ringan saja. Program ini berlangsung cepat yaitu
sekitar 6 menit permata dan hanya akan memberikan keterangan adanya defek tapi detail
lokasinya kurang jelas. Program ini kurang baik untuk pemeriksaan penyakit glaukoma.
Jika ada defek yang absolut akan diberi tanda bulat hitam dan defek yang relatif diberi
tanda silang. Untuk mengetahui detail defek untuk seluruh lapangan pandang sangat baik
dengan perimetri Goldmann. Sedangkan untuk memeriksa secara detail lapangan
pandang sentral menggunakan threshold strategies, sedangkan besar stimulus yang
diberikan 6 dB lebih terang dari tes Threshold.
2. Threshold Strategies
Program ini akan mengukur reduksi/ pengurangan dari sensitivitas retina pada seluruh
titik yang akan diperiksa. Sangat berguna dalam menggambarkan secara detail defek
yang terjadi. Ada 3 macam program threshold ini, yaitu :
a. Full Threshold
Program ini adalah gold standar untuk pengukuran penyakit glaukoma. Yang tersering
diapakai adalah program 30-2 atau 24-2.
Komputer awalnya akan mengukur threshold pada titik utama pada setiap kuadran
yaitu sekitar 9 dari meridian vertikal dan meridian horisontal untuk program 30-2.
Selanjutnya akan mengukur titik-titik disebelahnya secara berturut-turut seperti anak
tangga. Awalnya setiap titik akan diberikan 4 dB sampai pasien tidak dapat
melihatnya, yang selanjutnya akan dinaikkan tiap 2 dB sampai dapat dilihat oleh
pasien. Angka dimana pemberian 2 dB terakhir yang dapat dilihat oleh pasien adalah
threshold dari titik tersebut.
b. Fast threshold (Fastpac)
Program ini akan memakai data dari pemeriksaan sebelumnya yang akan dipakai
untuk memeriksa hanya pada daerah yang sangat dicurigai dan tidak pada daerah
yang lainnya. Jika program full threshold menggunakan 2 dB untuk tiap kenaikannya
maka untuk program Fast threshold menggunakan 3 dB.

23

Keterangan gambar : Metode Full Threshold dan Fastpac ( Fast threshold )


3. Efficient Threshold Startegies / Swedish Interactive Thresholding Algoritm (SITA)
Program ini merupakan program standar baru yang lebih baik dibanding dengan
program Threshold. Program ini dibuat supaya dalam menganalisa hasil pemeriksaan lebih
cepat dan tidak terlalu bervariasi serta lebih akurat. (2,12,13)
Program terdahulu untuk melihat threshold dari suatu titik akan melakukan staircase
methode yang akan memakan waktu lama tapi program SITA ini melihat besarnya
perkiraan yang terbaik dari suatu titik untuk dapat dilihat oleh orang dengan umur yang
sama.
Program SITA ini sangat cepat dalam pemeriksaannya, yaitu 2 kali lebih cepat dari
Full threshold. Program SITA terbagi atas 2 macam yaitu SITA Standar dan SITA Fast.
E. Pemilihan Daerah Pemeriksaan
Ketika kita memilih program tertentu maka daerah pemeriksaan akan ikut ditentukan
pula, apakah daerah sentral, perifer , seluruh lapangan pandang atau daerah tertentu saja.
a. Daerah Sentral
Daerah ini yang paling sering dipilih yaitu daerah sentral 30 atau 24, daerah ini
merupakan pemilihan untuk penyakit glaukoma.
Di dalam area 30 atau 24 akan ada beberapa titik pemeriksaan (presentation target ),
dapat 76 atau lebih detail lagi 116 titik.
Disamping itu akan ada 2 versi lain yaitu versi 1 atau 2 ( 30-1 atau 30-2 ), dimana
angka 1 berarti bahwa titik awal presentasi traget dimulai di daerah meridian horisontal
dan vertikal, sedangkan angka 2 berarti dimulai diantara meridian ( ditengah kuadran ),
sehingga sangat baik untuk menggambarkan defek di daerah nasal dan hemianopia,
walau keduanya titik dipisahkan oleh 6.
b. Daerah perifer
Daerah ini berada 30 - 60. Biasanya dilakukan jika setelah pemeriksaan sentral dan
ada kecurigaan adanya defek lebih ke daerah perifer, tapi hal ini jarang dilakukan
c.

sebab dengan perimeter Goldmann akan lebih baik.


Seluruh Lapangan Pandang

24

Tidak ada program Humprey yang dapat menjangkau seluruh lapangan pandang. Paling
terbanyak hanya 120 titik, sehingga untuk pemeriksaan ini sangat baik dilakukan oleh
Perimeter Goldmann.
d. Daerah Khusus
Pada penyakit glaukoma daerah sentral dan 15 di daerah nasal meridian adalah daerah
yang sangat bermakna. Program Armaly dipakai untuk melihat daerah ini, demikian
pula untuk menilai meridian horisontal dan vertikal. Untuk daerah temporal sebaiknya
menggunakan perimeter Goldmann. (1, 3, 13, 17)

F. Parameter Pemeriksaan Perimetri Humphrey


Hasil pemeriksaan perimetri humphrey akan memberikan data terpercaya berupa
angka-angka yang menggambarkan derajat sensitivitas retina pada titik-titik yang telah di
tentukan. Hasil ini juga menggambarkan perhitungan secara statistik tentang berapa besar
perbedaan sensitivitas dibandingkan dengan orang normal dan umur yang sama.
Ada beberapa parameter yang terlihat melalui lembaran pemeriksaan yang akan
sangat memberikan informasi tentang keakuratan dari pemeriksaan.
Hal-hal yang sangat perlu diperhatikan dalam menilai suatu lembar pemeriksaan
perimeter Humphrey adalah sbb :
1. Nama, umur dan data rekam medis
Pastikan data ini akurat, karena akan penting dalam pemeriksaan berikutnya serta dapat
dibandingkan dengan gambaran normal dengan umur yang sama.
2. Jenis program
Hal ini mengindikasikan program apa yang akan kita pakai, apakah program skrining atau
program threshold, dimana program skrining hanya menunjukkan secara cepat dan umum
25

adanya kelainan tapi secara detail masih perlu pemeriksaan lanjut yaitu dengna program
threshold dimana akan menunjukkan secara detail gambaran defek yang ada. Pilihannya
adalah Suprathreshold, Full threshold, SITA Standar atau SITA Fast.
3. Koreksi penglihatan
Sangat penting kiranya memasukkan data berapa besar koreksi untuk penglihatan terdekat.
Kita dapat melakukan manual atau komputer dapat menghitung berapa besar koreksi yang
harus diberikan kepada pasien.
4. Besar Pupil
Pupil yang kecil dapat mengurangi lapangan pandang, jadi ukuran pupil yang terkecil yang
dapat memberikan hasil terbaik adalah 3 mm. Perhatikan jika dilakukan pemeriksaan
kedua hendaknya memakai ukuran pupil yang sama pula.
5. Question Ask
Angka ini menandakan indikator lamanya waktu yang diperlukan selama pemeriksaan.
6. Indeks Kebenaran (Reliability Indices )
Kerjasama dan respon pasien sangat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Indeks ini melihat
apakah hasil pemeriksaan dapat dipercaya atau tidak karena kerjasama dari pasien. Ada
beberapa parameter untuk menilai apakah pasien telah cukup baik dalam kerjasama serta
dalam merespon setiap instruksi yang kita berikan, yaitu :
a. Fluktuasi
Fluktuasi ini diukur dengan cara memberikan stimulus dua kali pada titik yang
sama, sehingga terlihat perbedaan threshold pada 2 titik tersebut. Perbedaannya lalu
diukur dengan indikator p value, sehingga semakin kecil harga p maka semakin besar
ketidak responan dari pasien dalam mengartikan suatu stimulus sehingga yang
tergambar banyak glaukomatous field loss.
b. Fixation Loss
Perimeter secara periodik akan memancarkan cahaya stimulus pertama kali pada daerah
blind spot. Pasien tentunya tidak akan melihat cahaya tersebut, tetapi jika pasien
tersebut tidak melihat pada titik fiksasi maka akan melihat cahaya dan menekan tombol.
Perimeter akan menunjukkan berapa kali melakukan tes ini dan berapa kali pasien
gagal dalam memfiksasi matanya.
Angka ini akan menunjukkan seberapa besar kemampuan pasien dalam kepatuhan
mempertahankan fiksasi matanya. Pemeriksa harus selalu memeriksa fiksasi mata
pasien melalui monitor yang tersedia.
Secara kuantitatif akan terukur misalnya pada daerah blind spot dengan angka seperti
0/10 atau 2/10 yang berarti tidak ada atau ada 2 fiksasi yang salah dari 10 titik yang
berada di daerah blind spot. Jika terdapat 20 % fiksasi yang salah maka komputer akan
memberikan tanda XX disamping angka fixation loss.
26

c. False Positive
Hal ini terjadi jika pasien terlebih dahulu menekan tombol dimana sebenarnya stimulus
belum diberikan ( pasien terlalu bersemangat / trigger happy ) . Biasanya normal
akan terdapat 1 false positif diantara 30 titik yang diperiksa, tetapi jika terdapat 30 %
terdapat false positive maka komputer akan menganggap suatu kesalahan.
d. False negative
Biasanya komputer akan memberikan 9 db lebih terang dari pada stimulus yang
pertama, tapi jika stimulus tidak terlihat oleh pasien maka ada terjadi keadaan tertentu
misalnya kelelahan dari pasien. Jika terdapat 30% false negative maka komputer akan
menganggap suatu kesalahan.
7. Data Numerik
Data ini menunjukkan berapa besar sensitivitas retina dalam menangkap stimulus
yang diukur dengan dB. Angka yang besar menandakan sensitivitas retina lebih besar
dimana dengan intensitas cahaya yang redup ( dB besar ) sudah dapat ditangkap oleh sel
fotoreseptor retina. Jika terdapat 2 angka pada satu titik berarti dilakukan 2 kali
pemeriksaan pada titik tersebut.
8. Grayscale
Cara yang tercepat untuk menilai hasil pemeriksaan, biasanya langsung melihat di
gambaran Grayscalenya tetapi hal ini hanya memberikan secara kasar dari besarnya
penurunan sensitivitas retina secara menyeluruh / general depression, tanpa melihat ada
tidaknya local depression/ scotoma..
Gambaran pemetaan dalam bentuk warna, dimana semakin hitam maka semakin banyak
rendah sensitivitasnya, yang dinyatakan dalam bentuk Graytone symbol dan dapat
dikonversikan ke dB dan asb.

9. Total Deviasi
Memberikan gambaran seberapa besar perbedaan pada titik-titik lapangan pandang
orang tersebut dibandingkan dengan gambaran normal lapangan pandang pada orang
dengan umur yang sama. Total deviasi ditunjukkan dalam skala numerik sedangkan
gambar bagian bawah menunjukkan dalam bentuk Greyscale.
Total Deviasi ini akan menggambarkan generalised depression ( depresi menyeluruh)
yang dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti adanya katarak, pupil miosis atau

27

kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Sehingga skotoma atau defek yang berada dibawah
tidak dapat terlihat, untuk hal tersebut kita harus melihat Pattern Deviasi.
Jika terdapat deviasi atau pengurangannya, misalnya tertulis angka -2, berarti pasien
ini kuarang 2 dB sensitif dari orang normal pada umur yang sama, dan sebaliknya jika
tertulis 3 maka pasien ini 3 dB lebih baik dibandingkan dengan orang normal. Selanjutnya
dengan gambaran Grayscale akan digambarkan dengan titik-titik yang dapat ditunjukkan
dengan harga P ( Probability symbol ). Jika harga P < 1% ini mengartikan bahwa kurang
dari 1% dari populasi normalumur sama yang mempunyai nilai sensitivitas retina tersebut.
Semakin hitam ( P semakin kecil ) maka semakin besar perbedaan kekurangannya yang
berarti semakin kecil kemungkinan sama dengan orang normal, yang berarti semakin
jelek.
10. Pattern Deviasi
Pola normal dari Vision of Hill menggambarkan sensitivitas tertinggi berada di sentral
dan akan menurun secara gradual ke perifer. Pattern Deviasi ini akan melihat adanya lokal
defek/skotoma setelah menghilangkan / mengurangi harga generalised depression dari
Total Deviasi. Suatu skotoma dapat menjadi tidak terlihat karena Total Deviasi hanya
memperhitungkan depresi yang terdapat diatas skotoma ( hidden scotoma ), sehingga
Pattern Deviasi ini kan dapat menghilangkan harga Total Deviasi sehingga suatu skotoma
akan dapat terlihat. Jadi Pattern Deviasi ini sangat mempunyai arti yang penting dalam
pemeriksaan. Dijabarkan dalam bentuk angka-angka, dan dimana semakin hitam maka
semakin banyak deviasi lokal.
11. Glaucoma Hemifield Test (GHT)
Glaucoma Hemifield Test didasarkan atas pemikiran bahwa penyakit glaukoma dapat
menyebabkan kehilangan lapangan pandang asimetris dan bukan hanya pengurangan
lapangan pandang secara difus, sehingga dengan GHT ini akan membandingkan gambaran
lapangan pandang superior dengan inferior. GHT akan mengevaluasi 5 titik di daerah
superior lapangan pandang kemudian akan dibandingkan seperti layaknya cermin dengan
5 titik di daerah inferior lapangan pandang.
Penilaiannya terdiri dari : GHT within normal limit, outside normal limit dan border line
normal limit.

28

Keterangan gambar : Glaucoma Hemifield Test pada beberapa tempat berbeda. Pattern
Deviasi membandingkan 5 daerah superior terhadap daerah yang sama di daerah
inferior.

12. Global Indices


Jika Reliability Indices mengukur indeks kemampuan atau kebenaran pasien dalam
proses pemeriksaan maka Global Indices mengukur kesimpulan secara umum pola deviasi
yang diukur secara statistik besar perbedaan dengan orang normal dengan umur yang
sama. Diukur dalam data numerik (dB) yang diikuti oleh harga p/probability . Ada 4
parameter yaitu :
Mean Deviasi (MD)
Secara simpel mengartikan berapa rata-rata angka yang terdapat dalam Total Deviasi.
Jika terdapat peningkatan harga MD , menandakan adanya depressi yang menyeluruh,
misalnya karena katarak, refractive error. Jika MD = -5,18 dB dengan P < 2% , berarti
kurang dari 2% dari populasi normal umur sama memperlihatkan nilai MD yang lebih
besar dari nilai yang ditemukan tes ini.
Pattern Standar Deviation (PSD)
Mengartikan berapa rata-rata angka yang terdapat dalam Pattern Deviasi. Seperti halnya
pengukuran MD tetapi mengukur berapa besar deviasi yang disebabkan oleh kelainan
secara lokal dalam area lapangan pandang setelah menghilangkan harga MD.
Short-term Fluctuation (SF)
Mengukur konsistensi respon dari pasien selama pemeriksaan melalui pengukuran secara
dua kali pada 10 titik yang berbeda. Jika angka rata-rata dengan 2 kali pengukuran < 2
dB menandakan konsistensi dari pasien. Jika angka SF tinggi biasa diikuti oleh harga
False Negative yang tinggi pula. Tetapi jika harga SF tinggi tapi harga false negative
normal, mengindikasikan adanya defek yang halus atau kecil.
Corrected Pattern Standar Deviation (CPSD)
29

Besarnya angka pada Pattern Deviasi kadang disebabkan oleh karena tingginya angka
SF, dan CPSD dijadikan sebagai indikator penilaian dari kebenaran harga Pattern Deviasi.
(1, 3, 10, 13, 17) .
Pemeriksaan dianggap tidak akurat jika terdapat 3 atau lebih kriteria sbb :
1. Total question 400
2. Fixation loss 20 %
3. False positive response 33 %
4. False negative response 33 %
5. Short-term fluctuation 4.0 dB
Suatu defek yang disebabkan oleh glaukoma ( Glaucomatous Defect ) dapat terdeteksi
melalui pemeriksaan ini dengan melihat salah satu kriteria sebagai berikut :
1. Paling sedikit 3 atau lebih titik-titik depresi yang berdekatan pd lapangan pandang sentral
dengan P < 5% pd penampakan Pattern Deviasi dan salah satunya harus P < 1 %.
2. Glaucoma Hemifield Test harus tidak normal atau Out of Limit
3. CPSD : P < 5% (18)

30

Keterangan gambar : Lembar pemeriksaan Perimeter Humphrey (2)


Pada lembar pemeriksaan dibawah ini secara umum memperlihatkan gambaran
normal lapangan pandang dengan menggunakan program

Full Threshold 30-2. Dari

Reliability Indices memperlihatkan harga-harga yang normal . Global Indices dengan harga
MD terdapat penurunan sensitivitas secara menyeluruh sebesar 1,34 dB, dan terlihat hanya
ada satu titik di daerah temporal inferior dengan deviasi < 5%. PSD memperlihatkan harga
1,77 dB tapi

dianggap normal jika dibandingkan dengan populasi normalnya sehingga

31

terlihat bersih di plot Pattern Deviasinya. Dengan harga SF 2,63, CPSD memperhitungkannya
dan terlihat normal. GHT memperlihatkan harga yang normal dengan kriteria-kriteria diatas.

Dibawah ini adalah pemeriksaan seseorang yang memiliki katarak. Tampak


penurunan sensitivitas yang menyeluruh yang tergambar pada data numerik dan plot dari
Total deviasinya. Ternyata pada plot Pattern Deviasinya terdapat penurunan sensitivitas
dibeberapa titik yang merupakan kelainan selain katarak dan tidak terlihat pada total deviasi
dengan harga P < 1% dan bahkan CPSD lebih menegaskan lagi adanya kelainan sebesar 3,08

32

dengan

harga

yang

lebih

jelek

yaitu

<

0,5%.

(1)

Di bawah ini terdapat 2 lembar hasil pemeriksaan lapangan pandang pada orang yang
sama, tetapi dengan program yang berbeda.
Pemeriksaan pertama (A), pasien diperiksa dengan program Threshold 24-2 dan terlihat
ada penurunan sensitivitas di daerah superonasal sentral lapangan pandang yaitu sekitar 10
daerah sentral. Reliability indices menunjukkan angka-angka yang normal, yang berarti
tingkat kebenaran/kepatuhan pasien sangat baik. Global Indices menjabarkan bahwa Mean
Deviasi (MD) atau secara total deviasi terdapat penurunan sebesar 1,44 dB ( depresi
menyeluruh), pada PSD terdapat deviasi atau skotoma sebesar 5,41 dB di daerah titik 10
dengan harga P hanya 1% tetapi harga CPSD memperbaiki dengan memperhitungkan harga
SF dan ternyata menjadi 5,17 dB dengan harga P 0,5 % (semakin besar deviasi karena
skotoma dibanding orang normalnya). Ini berarti bahwa terdapat penurunan sensitivitas atau
skotoma pada titik-titik di daerah 10 dari titik fiksasi dibandingkan dengan orang dengan
umur yang sama.
Dari GHT terlihat Out of Limit dan terlihat lebih dari 3 titik yang mengalami depresi pada
lapangan pandang sentral dengan harga P < 1% dan CPSD : P < 0,5% , sehingga dapat
dipastikan bahwa pasien ini mempunyai defek karena penyakit glaukoma. (1)

33

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut daerah sentral dengan program 10-2 (B)
sehingga terlihat lebih detail seberapa besar penurunan sensitivitas pd daerah defek.(1)

34

Keterangan gambar : A.Hasil pemeriksaan perimetri Humphrey dengan program threshold


24-2

35

Keterangan Gambar : B. Hasil pemeriksaan perimeter Humphrey dengan program 10-2


yang berasal dari pasien yang sama dengan pemeriksaan diatas
IV.

TEKHNIK PERIMETRI LAIN


Seiring dengan perkembangan tekhnologi dibagian mata terkhususnya dalam bidang

perimetri klinik, maka perlulah kiranya para dokter untuk lebih mengetahui tekhnik-tekhnik
pemeriksaan perimetri klinik yang terbaru.
1. SWAP ( Short-Wavelength Automated Perimetri)
Telah banyak penelitian yang dilaporkan adanya hubungan antara penyakit glaukoma
dengan short-wavelength (blue) color deficit. Sensitivitas terhadap cahaya warna biru
dimediasi oleh sel P ( Parvo ) dari sel ganglion retina. Sinar biru ini akan sangat baik
36

penerimaannya jika diberikan background luminance warna kuning. Hal inilah yang
mendasari tekhnik SWAP.
Tekhnik ini sangat baik untuk mendeteksi adanya early glaucoma . Tekhnik SWAP ini
hanya dimiliki oleh Humphrey II (700 series) dan Octopuss 1-2-3.
2. FDT ( Frequency-doubling Technology)
Didasarkan atas pengukuran batas ambang kontras terhadap target dengan frekuensi
tertentu , yang terdiri atas high frequency dan low frequency. Sel yang berperan
adalah sel M (Magno) dari sel ganglion retina.Tekhnik ini juga sangat bagus untuk
menilai suatu early glaucoma .(19,20)
V.

POLA KERUSAKAN SERABUT SARAF DENGAN LAPANGAN PANDANG


Gambaran lapangan pandang dari pemeriksaan perimetri menjadi parameter fungsi dari

retina sekaligus fungsi dari nervus optik sebagai serabut saraf aferen dari saraf penglihatan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, setiap lokasi diretina berkorespondensi
dengan titik tertentu di lapangan pandang , misalnya bagian inferior retina merupakan bagian
dari superior lapangan pandang kita.
Serabut saraf yang berasal dari titik tertentu di retina, semuanya akan menuju ke
diskus optik. Perjalanan dari serabut saraf ini akan memberikan gambaran tertentu atau pola
dari suatu defek lapangan pandang.
Serabut saraf daerah sebelah nasal dari diskus optik akan langsung memasuki bagian
nasal diskus optik, sedangkan serabut saraf daerah nasal fovea dan temporal dari diskus optik
akan langsung memasuki bagian temporal diskus, sedangkan serabut saraf yang diatas dan
dibawah meridian horisontal akan masuk ke diskus dalam bentuk kurva. Gambaran serabut
saraf ini disebut papillomacular bundle. Serabut saraf di sebelah temporal dari fovea akan
membentuk pola arkuata mengelilingi fovea dan akan menuju bagian atas dan bawah diskus
optik. Jika retina dibagi oleh garis khayal dibagian temporal fovea, serabut saraf diatas garis
tersebut akan melewati fovea dibagian atas dan memasuki diskus di bagian superior dan
sebaliknya.
Pada penyakit glaukoma, kerusakan yang terjadi adalah pada bundel serabut saraf
nervus optik ( optik neuropati ). Ketika serabut saraf pada

bundel di diskus optik

mengalami kerusakan, maka daerah lapangan pandang yang disuplai oleh serabut saraf
ini akan mengalami penurunan sensitivitasnya. Akibatnya maka akan terjadi skotoma
atau depresi secara lokal ( 2, 3, 7)
A. Pola Glaucomatous Nerve Loss
Pada umumnya serabut saraf pertama yang terkena pada penyakit glaukoma adalah
serabut saraf pada bundel superior dan inferior diskus optik, tapi biasanya bagian atas lebih

37

sering terkena. Nama yang diberikan biasanya sesuai dengan gambaran klasik defek lapangan
pandang yang dihasilkan pada hasil pemeriksaan perimeter.

Pada gambar diatas menunjukkan, suatu kerusakan serabut saraf di bundel nervus
optik daerah inferior temporal, maka serabut saraf daerah inferotemporal dibawah meridian
horisontal yang menyuplai daerah tersebut akan mengalami penurunan sensitivitas, yang
mengakibatkan defek lapangan pandang pada daerah superonasal lapangan pandang, yaitu
parasentral scotoma.(3,16)
Kerusakan serabut saraf karena penyakit glaucoma ( Glaucomatous Visual Field
Defect ) dapat berupa :
1. Generalized Depression
2. Paracentral Scotoma, suatu skotoma yang berada di sebelah dari daerah sentral.
3. Arcuate Defect atau Bjerrum Scotoma,dimulai dari meridian horisontal nasal lalu
akan membentuk sudut sempit dan bertemu dengan blind spot.
4. Nasal Step, diskontinuitas yang tajam antara lapangan pandang atas dan bawah
sepanjang meridian horisontal dan merupakan ekspresi minimal dari arkuata
defects.
5. Altitudinal Defect Lapangan pandang superior atau inferior telah hilang, dengan
variasi menyisakan daerah sentral atau temporal.
6. Temporal Wedge, seperti potongan kue pie, dimana apeksnya mengarah ke blind
spot. (7)

38

Gambar diatas menunjukkan suatu defek lapangan pandang yang disebut scotoma
arcuata yang muncul pada area 10-20. Kerusakan serabut saraf terjadi pada bundel nervus
optik daerah inferior atau superior temporal, sehingga serabut saraf yang mensuplai daerah
tersebut akan mengalami penurunan sensitivitas dan akan menggambarkan pola arkuata
sesuai dengan perjalanan serabutnya.

39

Keterangan Gambar : Defek inferior arkuata (glaukoma) yang berat pada mata kiri.
Terlihat tidak ada perubahan/ perbaikan dari beberapa kali pemeriksaan

Keterangan gambar : Pola kerusakan serabut saraf dengan defek Nasal Step

40

Keterangan Gambar : Pada mata kanan memperlihatkan Nasal steps (galukoma) yang
bertambah pada pemeriksaan berikutnya. Pada mata kiri terdapat Nasal step ditambah dengan
superior arkuata.

41

Keterangan gambar : Altitudinal defek yang melibatkan daerah nasal dan temporal pada mata kanan.

Defek Lapangan Pandang dan Gambaran Hasil Pemeriksaan Perimetri


Di dalam keseharian di klinik dalam melakukan pemeriksaan, terdapat beberapa
gambaran defek yang sering dan umum didapatkan yang merupakan kunci untuk melihat pola
penyakit.
Defek yang disebabkan oleh penyakit didepan kiasma optik seperti kelainan retina,
glaukoma dan gangguan pada nervus optik( AION,NAION, optik neuritis ) akan memberikan
gambaran monocular defek. Sedangkan defek yang disebabkan oleh penyakit dibelakang
kiasma optik akan menyebabkan gambaran defek binocular. Ada 4 macam pola yang terjadi
yaitu :
1. Hemianopia, dimana melibatkan daerah lapangan pandang superior dan inferior, yang
dapat menyisakan makula atau tidak.
2. Quadrantanopia, yaitu satu kuadran hilang yang biasanya disekitar meridian
horisontal, juga yang dapat berkombinasi dengan quadrantanopia dengan kuadaran
yang lain.
3. Sectoranopia, dimana wedge shape defects terdapat pada 2 mata(17)

42

Keterangan Gambar : Hemianopia. Terdapat Left Homonimous Hemianopia pada mata kanan
dan kiri

Keterangan Gambar : Gangguan vaskular pada nervus optik ( Anterior Iskemik Optik
Neuropati) menyebabkan konstriksi yang berat pada daerah nasal pada mata kanan. Terlihat
pula skotoma sentral ( harga 0 dB pada daerah titik fiksasi ). Pada mata kiri terlihat sedikit
konstriksi pula di daerah nasal melalui plot Pattern Deviasi.

43

Keterangan gambar : Left Superior Quadrantanopia pada mata kanan dan kiri

44

Keterangan gambar : Central Scotoma pada mata kanan dan gambaran normal pada mata kiri.
Terlihat ada perbaikan setelah pemeriksaan berikutnya.

45

PENUTUP
Dalam kasus-kasus glaukoma dan neuro-oftalmologi, pemeriksaan lapangan pandang
sangat menentukan dalam diagnosa. Pemeriksaan perimetri sendiri selain sebagai screening
test, diagnostic test dan juga sekaligus monitoring teraphy test.
Perimetri sebagai pemeriksaan subjektif dan objektif dalam memeriksa lapangan
pandang sangat tergantung oleh berbagai macam variabel, salah satunya oleh jenis perimetri
yang dipakai.
Perimetri menurut cara kerjanya terbagi atas 2 yaitu perimetri kinetik dengan
pelaksanaan manual dan perimetri static yang otomatis dikerjakan oleh sistem komputer.
Perimetri Goldmann sebagai perimetri kinetik manual mempunyai kelebihankelebihan dan juga kekurangan yang dibedakan dengan perimetri statik/ otomatis salah
satunya dengan Perimetri Humphrey.
Hasil pemeriksaan perimetri Goldmann sangat ditentukan oleh operator / pemeriksa
dalam pelaksanaannya sedangkan hasil pemeriksaan Humphrey bergantung oleh banyak
variabel seperti kepatuhan pasien serta data umur, kelainan penyerta yang akan
diperhitungkan secara statistik tentang pola perbedaan hasil lapangan pandang pasien
dibandingkan dengan populasi normal umur yang sama.
Perimetri Humphrey mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan perimetri
Goldmann khususnya dalam mendeteksi suatu defek karena penyakit glaukoma, sekaligus
juga dapat melihat progresifitas penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Barton J, Benatar M. Field of Vision . A Manual and Atlas of Perimetri. First
Edition. Humania Press Totowa, New Jersey, 2003 ; 31-206
2. Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB. The Patient with Decreased Vision:
Neuro-ophthalmology. American of Ophthalmology. USA.2008-2009 : 87102

46

3. Anderson DR, Vincent MP. Automatic Static Perimetry. Second Edition.


Mosby. 1999. 45-198
4. Newell FW. Visual Field. Ophthalmology. Principles and Concepts. Sixth
Edition. The Mosby Co. St. Louis. 1986 ; 158-163
5. Salmon JF, Kanski JJ. Glaucoma. A Colour Manual of Diagnosis and
Treatment. Third Edition. Butterworth-Heinemann. Edinburgh. 2004; 35-49
6. Understanding
Visual
Field
Testing.
Available
on :http://www.willsglaucoma.org.htm
7. Skuta GL, Cantor LB. Clinical Evaluation. Glaucoma. Section 10. American
Academy of Ophthalmology. USA. 2008-2009 ; 33-83
8. Tangent Screen. Available on : www. Text_TangentScreen
9. Dersu I, Wiggins MN et al. Understanding Visual Field. Part I : Goldmann
Perimetri.

Journal

of

Medical

Technology.

Available

on:

www.JOMTonline.com
10.Rowe F. Visual Field via Visual Pathway. Methods of Visual Field
assessment. First Edition. Blackwell Publisher.2006; 27-71
11.Hints
on
Visual
Field
Examination.
Available

on

:http://www.oft.gu.se/webdiagnos/Contents.html
12.Scotoma. Available on : http://medical-dictionary.thefreedictionary.com
13.Humphrey's (Static Threshold Related)Automated Field Analyzer. Available
on

http://www.opt.indiana.edu/riley/HomePage/Automated_Perimetry/Text_Aut
o_perm.html
14.Wani JS, Sajid MM, Nasti AR. Automated Perimetry; Interpreting the Data.
Available on : drwani@mns.com
15.Expanding your Field Vision. Available on : www.63078_Perimetry.pdf
16.International Visual Field and Imaging Symposium. Available on : Abstract2006.pdf
17.Six Step Approach to evaluate Visual Field. Available on : www.
109_SixStepApproach.pdf
18.Mustafa S. How to read Static Perimetry. High Light in New Management of
Glaucoma Patients. Seminar Glaukoma dan Workshop . FKUI RSCM.
2009.1-14
19.Short-Wave

Automated

Perimetri.

http://webeye.ophth.uiowa.edu/ips/search.htm
20.Early
Visual
Field
in
Glaucoma.

Available
Available

on
on

:
:

http://www.glaucomaworld.net/index2.html

47