Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PERSEPTORAN

BRONKHIOLITIS
Oleh:
Shaula Habibah
Abdilman Huda
Isnaeni Zakkiyyah Zahrah N
Wildan Furqon
Eni Siti Nuraeni
Kuseti
Guti Putri R
Marsha Farasannia
Vina Hardianti
Gita Normala Dewi
Anggi Nuraeny

4151151427
4151151441
4151151460
4151151473
4151141009
4151141482
4151141419
4151141455
4151141431
4151141497
4151141508

Perseptor:
Ina Setiyowati, dr., SpA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016

I.

ANAMNESIS

A. KETERANGAN UMUM
Nama pasien

: An. M.A

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tempat/Tanggal Lahir : Bandung, 24 Januari 2016


Alamat

: Jl. Raya Ibu Ganirah RT 005/005

Kiriman dari

: UGD

Dengan Diagnosis

: Bronkopneumoni

Tanggal Masuk RS

: 06 Juni 2016 (Pukul 11.13)

Tanggal Pemeriksaan : 07 Juni 2016


AYAH Nama

IBU

: Tn Hendra

Umur

: 36 tahun

Pendidikan

: S1

Pekerjaan

: TNI AD

Penghasilan

: > Rp 1.500.000,-

Alamat

: Jl. Raya Ibu Ganirah RT 005/005

Nama

: Ny. Rani

Umur

: 31 tahun

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Penghasilan

:-

Alamat

: Jl. Raya Ibu Ganirah RT 005/005

ANAMNESIS
(Anamnesis dilakukan pada tanggal 07 Juni 2016)
B. KELUHAN UTAMA:
Sesak Nafas
C. ANAMNESIS KHUSUS
Menurut Ibu pasien, sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien
dikeluhkan mengalami sesak nafas yang terlihat dari hidungnya yang kembang

kempis dan dinding dada bagian bawah lebih tertarik ke dalam ketika pasien
menarik nafas. Selain itu, nafas pasien menjadi lebih cepat dari biasanya. Keluhan
sesak nafas timbul secara tiba-tiba, dan semakin lama terlihat semakin bertambah
berat. Keluhan sesak nafas ini sudah kedua kali. Keluhan pertama kali saat pasien
berusia 2 bulan tidak sampai dirawat, namun hanya diberikan nebu di klinik
Dokter umum kemudian membaik.
D.ANAMNESIS UMUM
Sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami panas badan,
batuk, muntah 1x setelah batuk, pilek disertai ingus yang encer berwarna jernih.
Keluhan panas badan tidak terlalu tinggi, terus-menerus siang sama dengan
malam.
Sejak pasien mengalami sesak nafas, pasien terlihat kurang aktif dan
menjadi sering menangis sehingga suara tangisannya seperti tertahan (merintih)
serta minum ASI menjadi berkurang. Keluhan sesak disertai adanya suara nafas
berbunyi saat menghembuskan nafas. Keluhan sesak nafas tidak disertai kebiruan
baik pada kulit dada dan perut maupun pada ujung-ujung jari. Keluhan juga tidak
disertai penurunan kesadaran.
Pada hari pasien masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan pasien muntah
sebanyak 2x berwarna putih bening, Buang air besar dan buang air kecil pasien
tidak ada keluhan.
Keluhan sesak nafas tidak didahului oleh menelan benda ataupun tersedak
ketika minum susu. Riwayat kontak dengan pasien dewasa yang batuk lama atau
batuk berdarah tidak ada. Riwayat adanya unggas yang mati mendadak di
lingkungan sekitar pasien tidak ada. Ibu pasien mengatakan bahwa suaminya
merupakan perokok aktif dan sering merokok dirumah.
Riwayat persalinan normal ditolong oleh bidan, dengan usia kehamilan
cukup bulan 38-39 minggu, berat badan lahir 2500 gram, panjang badan 47 cm
dan ketuban jernih. Pasien hanya minum ASI sehari-hari sebanyak + 8 kali tiap 24
jam selama 15 menit.

E.ANAMNESIS TAMBAHAN
1.RIWAYAT IMUNISASI
NAMA
BCG
POLIO
DPT
CAMPAK
HEPATITIS B

DASAR
=
0 bulan
2 bulan
0 bulan

ULANGAN
2 bulan
4 bulan
4 bulan

1 bulan

2.ANAMNESIS KEADAAN KELUARGA


No
1.
2.

Nama
Tn. (Ayah)
Ny. (Ibu)

L/P
L
P

Keterangan
Sehat
Sehat

3. PERKEMBANGAN
Berbalik

: 3 bulan

Duduk tanpa pegangan

:-

Berjalan satu tangan dipegang

:-

Berjalan tanpa dipegang

:-

Bicara 1 kata

:-

Bicara 1 kalimat

:-

Membaca

:-

Menulis

:-

Sekolah

:-

3. GIGI GELIGI
Pasien belum tumbuh gigi
4. MAKANAN
UMUR
0 4 bulan
4 6 bulan
6 10 bulan

JENIS MAKANAN
ASI
-

KUANTITAS
On demand
-

KUALITAS
Cukup
-

10 12 bulan
12 bulan sekarang

5.PENYAKIT YANG SUDAH DIALAMI


Campak

Tetanus

Batuk rejan

Diare

TBC
Difteri
Cacing
Kejang
Difteri

Demam tifoid
Kuning
Bengek
Eksim
Sakit tenggorokan

II.

PEMERIKSAAN FISIK (21 Mei 2016)

1. PENGUKURAN
Umur

: 4 bulan

Berat badan

: 7 kg

Panjang badan:

: 67 cm

Status gizi :
PB/U

:>3

BB/U

:>3

BB/PB

: -2 sd -1

2. TANDA VITAL
Laju Napas
: 60x/ menit, tipe torakoabdominal
Suhu
: 36,9C
Laju Nadi
:132x/ menit. Kualitas: baik, regular, isi cukup
3. KEADAAN UMUM
Keadaan sakit : tampak sakit sedang
Kesadaran
: kompos mentis, GCS:15 (Eye 4 Verbal 5 Motorik 6)
Sesak
: pernafasan cuping hidung ada, retraksi ada
Sianosis
: sentral/ perifel tidak ada
Ikterus
: tidak ada
Edema
: tidak ada
Dehidrasi
: tidak ada
Anemi
: tidak anemis
Kejang
: tidak ada
III. PEMERIKSAAN KHUSUS
1.

Rambut

: tak ada kelainan

2.

3.

4.

Kuku
Kulit
Kepala
Mata
Pupil
Hidung
Telinga
Tenggorokan
Faring
Bibir
Mulut
Gigi
Langit-langit
Leher
Kaku kuduk
KGB
Lain-lain
Thorax
Inspeksi
Auskultasi

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva injeksi (-/-),
sklera ikterik (-/-)
: bulat isokor
: PCH (+/+), rhinorrae (+/+), epistaksis (-/-)
: tidak ada kelainan
: hiperemis (-)
: basah
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: (-)
: tidak teraba membesar
: tidak ada kelainan
: bentuk dan gerak simetris, retraksi intercostal +/+
: VBS kanan=kiri,
wheezing ekspirasi memanjang +/+, Ronki +/+

Jantung

5.

6.
7.
8.

Inspeksi

: tidak terdapat kelainan

Auskultasi

: Bunyi Jantung I dan II murni reguler, murmur (-)

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi
Genitalia
Jenis kelamin
Kelainan
Ekstremitas
Susunan saraf

: bentuk cembung soepel, retraksi epigastrium (+)


: Bising Usus (+) normal
: Hepar/ lien tidak teraba
: timpani
: laki-laki
: tidak dilakukan pemeriksaan
: akral hangat, CRT < 2 detik

Refleks

: Refleks cahaya (pupil) : direk +/+, indirek +/+


Refleks Kornea tidak dilakukan pemeriksaan
Refleks okulosefalik tidak dilakukan pemeriksaan

Rangsang Meningen : Kaku kuduk


: tidak ada
Brudzinsky I/II/III: tidak dilakukan pemeriksaan
Kernig
: tidak dilakukan pemeriksaan
Laseque
: tidak dilakukan pemeriksaan
Saraf Otak
: tidak ada kelainan
Motorik
: tidak ada kelainan
Sensorik
: tidak ada kelainan
Vegetatif
: tidak dilakukan pemeriksaan
Refleks fisiologis : tidak ada kelainan
Refleks patologis :
Babinsky
: tidak dilakukan pemeriksaan
Chaddock : tidak dilakukan pemeriksaan
Gordon
: tidak dilakukan pemeriksaan
Oppenheim : tidak dilakukan pemeriksaan

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.

Laboraturium Darah Rutin (Tanggal Pemeriksaan 06 Juni 2016)

Hematologi
Hemoglobin

: 10,0 d/dl (N= 10,1-12,9)

Eritrosit

: 3,9 10^6/uL (N= 3,5-5,5)

Lekosit

: 16,2 10^3/Ul (N=6,0-17,5)

Hematokrit

: 28,9 % (N=32,0-44,0)

Trombosit

: 634 `0^3/Ul (N=217-497)

MCV,MCH,MCHC
MCV

: 74,3 fl

MCH

: 25,7 Pq

MCHC
RDW

: 34,6 g/dL
: 11,3 %

HITUNG JENIS
Segmen

: 46,9 %

Limfosit

: 42,6 %

Monosit

: 10,5 %

2.

Laboraturium khusus
-

V.

RESUME
Bayi laki-laki berusia 4 bulan datang bersama ibunya dengan keluhan utama

sesak nafas sejak 2 hari yang lalu, dirasakan semakin lama semakin memberat.
Keluhan sesak disertai adanya suara nafas berbunyi saat menghembuskan nafas..
Keluhan sesak nafas disertai dengan batuk, pilek dan demam sejak 5 hari yang
lalu. Pada hari pasien masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan pasien muntah
sebanyak 2x berwarna putih bening, Buang air besar dan buang air kecil pasien
tidak ada keluhan.
Keluhan demam dirasakan tidak terlalu tinggi dan dirasakan sepanjang hari.
Selain itu juga pasien terlihat kurang aktif dan merintih serta minum ASI menjadi
berkurang. Keluhan sesak nafas ini sudah kedua kali. Keluhan pertama kali saat
pasien berusia 2 bulan tidak sampai dirawat, namun hanya diberikan nebu di
klinik Dokter umum kemudian membaik.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan Umum
Keadaan sakit
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Tanda Vital
Respirasi
: 60x/ menit, tipe torakoabdominal
Nadi
: 132x/ menit, baik, regular, isi cukup
Suhu
: 36,6C
Pemeriksaan Khusus
1. Kepala
Mata
: Konjungtiva anemis -/Hidung
: PCH +/+, rinorrhea +/+
Mulut
: sianosis -/2. Leher
Kelenjar Getah Bening : KGB tidak teraba
3. Thorax
: datar, simetris, retraksi intercostal +/+
Wheezing ekspirasi memanjang +/+, Rhonki +/+
4. Abdomen
: soepel, lembut, retrasksi epigastrium (+), BU (+) normal,
hepar dan lien tidak teraba
5. Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Laboraotirum:

1. Darah:
Hematologi
Hemoglobin : 10,0 d/dl (N= 10,1-12,9)
Lekosit

: 16,2 10^3/Ul (N=6,0-17,5)

Hematokrit : 28,9 % (N=32,0-44,0)


Trombosit : 634 `0^3/Ul (N=217-497)
MCV,MCH,MCHC
MCV

: 74,3 fl

MCH

: 25,7 Pq

MCHC

: 34,6 g/dL

RDW

: 11,3 %

HITUNG JENIS
Segmen

: 46,9 %

Limfosit

: 42,6 %

Monosit

: 10,5 %

VI.

DIAGNOSA BANDING
1. Bronkhiolitis
2. Bronkopneumonia

VII. DIAGNOSA KERJA


Bronkhiolitis
VIII. USULAN PEMERIKSAAN
Foto thorax
IX.

PENATALAKSANAAN

A. Non Farmakologi
1. Tirah Baring, hindari aktifitas fisik.
2. Diet gizi cukup, lanjutkan pemberian ASI

3. oksigen lembab dengan nasal canul 1/2 liter


B. Farmakologi
1. Ampisilin (50-100 mg/ kgBB/ hari dibagi 4 dosis, sediaan 1 gr/vial) = 4 x
200 mg iv
2. Infus RL 700 cc/ 24 jam = 9 tetesan per menit. (BB pasien 7kg)
3. Inhalasi combiven cc + NaCl 3% 2cc = 3x/hari
PENCEGAHAN
1. Pemberian ASI EKSLUSIF 6 BULAN,
2. Pemberian asupan nutrisi yang baik
3. Imunisasi dasar lengkap
4. Hindari kontak dengan penderita ISPA
5. Hindari dari polusi dan asap rokok
X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad fuctionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

DISKUSI
Menurut Ibu pasien, sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien
dikeluhkan mengalami sesak nafas yang terlihat dari hidungnya yang kembang
kempis dan dinding dada bagian bawah lebih tertarik ke dalam ketika pasien
menarik nafas. Selain itu, nafas pasien menjadi lebih cepat dari biasanya. Keluhan
sesak nafas timbul secara tiba-tiba, dan semakin lama terlihat semakin bertambah
berat. Pada hari pasien masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan pasien muntah
sebanyak 2x berwarna putih bening, Buang air besar dan buang air kecil pasien
tidak ada keluhan. Diagnosis banding bronkhiolitis karena usia anak yang
kurang dari 2 tahun dan bronkopneumonia yang juga paling sering terjadi
pada usia kurang dari 2 tahun. Gejala pada keduanya mirip. Pada
bronkhiolitis gejalanya didahului IRA yaitu batuk, pilek dan demam hingga
beberapa hari kemudian timbul sesak yang disertai adanya wheezing,
sianosis, merintih, muntah setelah batuk, rewel dan penurunan nafsu makan,
sedangkan pada bronkopneumoni gejalanya terdapat demam, sakit kepala,
gelisah, penurunan nafsu makan, batuk, sesak, retraksi dada, takipnea, nafas
cuping hidung dan sianosis.
Sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami panas badan,
batuk, muntah 1x setelah batuk, pilek disertai ingus yang encer berwarna jernih.
Keluhan panas badan tidak terlalu tinggi, terus-menerus siang sama dengan
malam. Secara klinis didahului dengan gejala IRA.
Sejak pasien mengalami sesak nafas, pasien terlihat kurang aktif dan
menjadi sering menangis sehingga suara tangisannya seperti tertahan (merintih)
serta minum ASI menjadi berkurang. Keluhan sesak disertai adanya suara nafas
berbunyi saat menghembuskan nafas. Keluhan sesak nafas tidak disertai kebiruan
baik pada kulit dada dan perut maupun pada ujung-ujung jari. Keluhan juga tidak
disertai penurunan kesadaran. Secara klinis ditandai dengan episode pertama
wheezing pada bayi.
Keluhan sesak nafas tidak didahului oleh menelan benda ataupun tersedak
ketika minum susu. Riwayat kontak dengan pasien dewasa yang batuk lama atau

batuk berdarah tidak ada. Riwayat adanya unggas yang mati mendadak di
lingkungan sekitar pasien tidak ada. Ibu pasien mengatakan bahwa suaminya
merupakan perokok aktif dan sering merokok dirumah. Riwayat persalinan
normal ditolong oleh bidan, dengan usia kehamilan cukup bulan 38-39 minggu,
berat badan lahir 2500 gram, panjang badan 47 cm dan ketuban jernih. Pasien
hanya minum ASI sehari-hari sebanyak + 8 kali tiap 24 jam selama 15 menit.
untuk mengetahui penyebab (etiologi dan faktor risiko dari penyakit ini

BRONKIOLITIS

Definisi
Bronkhiolitis adalah penyakit IRA bawah yang ditandai dengan adanya
inflamasi pada bronkiolys. Umumnya, infeksi tersebut disebabkan oleh virus.
Secara klinis ditandai dengan episode pertama wheezing pada bayi yang didahului
dengan gejala IRA.

Epidemiologi

Bronkhiolitis merupakan infeksi saluran respiratori tersering pada bayu.


Paling sering terjadi uaia 2-24 bulan, puncaknya pada ysia 2-8 bulan. 95% kasus
terjadi pada anak berusia dibawah 2 tahun dan 75% diantaranya terjadi pada anak
berusia dibawah 1 tahun. Di Amerika Serikat sekitar 120.000 bayi dirawat dengan
bronkiolitis pertahun. Umumnya bronkiolitis menyerang pada anak di bawah
umur 2 tahun dengan kejadian tersering kira-kira usia 6 bulan. Angka kejadian
rawat inap IRA-B tiap tahun berkisar antara 30003sampai 50.000-80.000 bayi,
kematian sekitar 2 per-100.000 bayi. Bronkiolitis akut bersifat musiman, pada
umumnya terjadi pada usia kurang dari 2 tahun dengan puncak kejadian pada usia
6 bulan pertama, serta lebih sering pada laki-laki.

Faktor risiko
Status ekonomi rendah dan hunian padat merupakan faktor risiko terjadinya
IRA bawah.Kepadatan rumah dapat meningkatkan risiko infeksi saluran napas
karena memperbesar kesempatan untuk infeksi silang antar anggota keluarga.
Kuman penyebab infeksi dapat dengan mudah ditularkan lewat udara melalui
droplet atau aerosol, di dalam ruangan yang padat dengan ventilasi yang tidak
memadai.

Etiologi
Disebabkan oleh virus, antara lain:
-

95% RSV
Adenovirus
Influenza
Parainfluenza

Rhinovirus
Mycoplasma Pneumonia

Basic Science
1. Anatomi Bronchiolus
Dibagi atas :bronchioles terminalis dan respiratorius
Ciri:

Cartilgo (-)
Jaringan otot polos dominan
Inervasi oleh saraf otonom:

Simpatis , efek bronchodilatasi


Parasimpatis, efek bronkokonstriksi

berfungsi untuk mengatur resistensi aliran udara


Diameter 1mm
Vaskularisasi :

arteri bronchial dextra & arteri bronchial sinistra


vena parallel dengan arteri, bermuara ke vena azygos & hemiazygos

2. Histologi
a. Dinding:
-

Diameter: 1 mm atau kurang


Mikroskopis: tidak memiliki kartilago, nodulus lymphaticus dan kelenjar.

b. Membran mucosa:
- Epitel:
- Mula-mula epitel silindris selapis bersilia, kemudian menjadi kuboid selapis
dengan atau tanpa silia, sel piala berkurang sampai menghilang.

- Sel clara, pada bronchiolus terminalis, tak bersilia, sebagai sel kelenjar
glikosaminoglikan.
- Lamina propia: tipis, jaringan pengikat banyak serabut elastic.
- Stratum musculare: sel-sel otot polos mencolok, bercampur dengan serabut
elastik yang melanjutkan diri ke dalam jaringan paru sekitar.
Bronchiolitis terminalis Kelanjutan bronchiolitis terminalis

Sel clara

3. Fisiologi Pernafasan
Ada 3 fungsi pernapasan:
a. Ventilasi
Peristiwa keluar masuknya udara dalam paru, dengan 2 siklus pernapasan,
yaitu:

Inspirasi, terjadi karena ada perbedaan tekanan intra thoraks dengan

udara luar, dimana tekanan intra thoraks lebih kecil dari tekanan udara luar.
Mekanisme:
N. phrenicus (C3, C4 dan C5) bersifat motoris dan N. interkocostalis
merangsang otot diafragma dan m. intercostalis eksternus untuk berkontaksi.
Kedua otot ini menyebabkan rongga dada membesar secara cranio caudal dan
anteroposterior lateral. Rongga dada membesar menyebabkan tekanan udara intra
thoraks lebih kecil dari tekanan udara luar sehingga udara bisa masuk ke saluran
pernapasan.
Ekspirasi, terjadi karena adanya perbedaan tekanan intra thoraks dengan
udara luar, dimana tekanan intra thoraks lebih besar dari tekanan udara luar.
Mekanisme:
Diafragma dan m.intercostalis eksternus berrelaksasi menarik tulang iga ke
bawah dan dalam serta isi perutakan tertekan dan menekan diafragma, akibatnya
rongga dada mengecil. Rongga dada mengecil menyebabkan peningkatan tekanan
intra thoraks sehingga tekanan intra thorakslebih tinggi dari tekanan udara luar
menyebabkan udara keluar dari saluran pernapasan.
b. Difusi
Merupakan gerakan gas O2dan CO2 atau partikel lain dari area yang
bertekanan tinggi ke area yang bertekanan rendah.
Difusi gas melalui membran pernapasan
yang dipengaruhi oleh factor ketebalan
membran, luas permukaan membran,
komposisi membran, koefisien difusi
O2dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2
dan CO2. Dalam difusi gas ini yang
berperan penting adalah alveoli dan darah.
c. Perfusi

Perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan
bantuan darah. Masuknya O2ke dalam sel darah yang bergabung dengan Hb yang
kemudian membentuk HbO2 sebanyak 97% dan sisa 3% yang ditranformasikan ke
dalam cairan plasma dan sel.
4. Mikrobiologi RSV

Group
Order
Famili

: Group V
: Mononegavirales
: Paramyxoviridae

Subfamily : Pneumovirinae
Genus
Species

: Pneumovirus
: Human respiratory syncytial virus

RSV (Respiratory Syncytial Virus) merupakan penyebab utama bronkiolitis.


-Virus RNA, termasuk paramyxovirus
-single stranded RNA
-ukuran 80-350 nm

-virion: berselubung, nukleokapsid helix, tersusunatas 6 protein utama. Berbentuk


pleomorfik .Bereplikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui proses
budding di membran plasma.
-selubung proteinnya memiliki 2 glikoprotein
a. Protein G (Attachment Protein) : untuk mengikat sel
b. Protein F (Fusion Protein) : menghubungkan partikel virus dengan
sel target
5. Gambaran Patologi Anatomi

Kelainan awal dari bronchiolitis ialah Nekrosis dari epitel dan destruksisel

epitel berambut getar


Kemudian disusul oleh Infiltrasi limfosit & neutrofil ke Jaringan

peribronchial
Submukosa menjadi udematous tanpa dekstruksi kolagen, otot, maupun

jaringan elastic
Celullar debris & fibrin membentuk sumbatan di dalam bronchioli
Alveolus normal
Regenerasi epitel bronchioli setelah 3-4 hari, tetapi rambut getar baru
muncul 15 hari kemudian

Patogenesis
Bronkiolitis disebabkan terbanyak oleh RSV (45-55%), namun penyebab
lainnya adalah parainfluenza virus, Rhino virus, Adenovirus, dan enterovirus
(20%). Sebagian besar infeksi saluran nafas ditransmisikan melalui droplet
infeksi. Invasi RSV pada percabangan bronkus kecil menyebabkan edema,
akumulasi mukus, dan debris seluler (eksudat) hingga terjadi obstruksi sluran

nafas kecil (bronkiolitis). Karena perbandingan nilai resistensi aliran udara saluran
nafas berbanding terbalik dengan radius pangkat empat dari saluran nafas, maka
sedikit pnebalan dinding bronkus sudah memberikan akibat cukup besar terhadap
aliran udara pada saluran nafas, terutama pada saluran nafas bawah.
Resistensi aliran udara pada saluran nafas kecil sama-sama meningkat baik
pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Tetapi, oleh karena radius pada saluran
nafas lebih kecil selama fase ekspirasi bila dibandingkan denggan fase inspirasi,
maka terdapat suatu mekanisme klep, dimana udara yang ada akan terperangkap
(air tapping). Keadaan ini pada akhirnya dapat menimbulkan hiperinflasi dari
rongga dada.
Obstruksi pada saluran bronkiolus dapat terjadi secara parsial maupun total.
Apabila obstruksi hanya sebagian, maka dapat timbul emfisema. Atelectasis dapat
terjadi bila terjadi obstruksi total dan dari udara yang diserap sebelumnya. Proses
patologik ini akan menimbulkan gangguan pada proses pertukaran udara di paru.
Ventilasi berkurang, dan hipoksemia. Pada umumnya, hiperkapnia tidak terjadi
kecuali pada keadaa yang sangat berat.
Pada dinding bronkus terdapat infiltrate-infiltrat sel radang. Selain itu,
terdapat peradangan pada daerah peribronkial dan di jaringan interstitial. Berbeda
dengan bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentoleransi edema saluran
nafas dengan lebih baik. Oleh karena itu, angka morbiditas untuk terjadinya
bronkiolitis pada anak besar dan orang dewasa jarang terjadi.
RSV adalah single strained RNA virus yang berukuran sedang (80-350nm),
termasuk paramyxovirus. Terdapat dua glikoprotein permukaan yang merupakan
bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G yang mengikat sel
dan protein F yang menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel

tetangganya. Kedua protein ini merangsang antibody neutralisasi protektif pada


host. Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A dan B. RSV strain A
menyebabkan gejala pernapasan yang berat dan menimbulkan sekuele. Masa
inkubasi RSV yaitu 2-5 hari. Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudian
menyebar dari saluran nafas atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran
langsung pada epitel saluran nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV
mempengaruhi sistem saluran nafas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada
mukosa bronkus dan bronkiolus yang memberikan gambaran patologi awal
berupa nekrosis sel epitel silia. Nekrosis sel epitel saluran napas menyebabkan
terjadi edema submucosa dan pelepasan debris dan fibrin kedalam lumen
bronkiolus.
Virus yang merusak epitel bersilia juga mengganggu gerakan mukosilier,
mukus tertimbun di dalam bronkiolus. Kerusakan sel epitel saluran napas juga
mengakibatkan saraf aferen lebih terpapar terhadap allergen/iritan, sehingga
dilepaskan beberapa neuropeptide (neurokin, substance P) yang menyebabkan
kontraksi otot polos saluran napas. Pada akhirnya kerusakan epitel saluran napas
juga meningkatkan ekspresi intercellular Adhesion Molecule-1(ICAM-1) dan
produksi sitokin yang akan menarik eosinophil dan sel sel inflamasi. Jadi
bronkiolus menjadi sempit karena kombinasi dari prose inflamasi, edema saluran
napas, akumulasi sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran nafas.
Adapun respon paru ialah meningkatkan kapasitas fungsi residu, menurunkan
compliance, meningkatkan tahanan saluran napas, dead space serta meningkatkan
shunt. Semua factor-faktor tersebut menyebabkan peningkatan kerja sistem
pernapasan, batuk, wheezing, obstruksi saluran napas, hiperaerasi, atelectasis,

hipoksia, hiperkapnea, asidosis metaboliksampai gagal napas. Selama fase


ekspirasi terdapat mekanisme klep hingga udara akan terperangkap dan
menimbulkan overinflasi dada. Volume dada pada akhir ekspirasi meningkat
hamper 2 kali diatas normal. Atelectasis dapat terjadi bila obstruksi total.
Penyembuhan bronkiolitis akut diawalai dnegan regenerasi epitel bronkus
dalam 3-4 hari, sedangkan regenerasi dari silia berlangsung lebih lama dapat
sampai 15 hari.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang berupa darah rutin, jika jumlah leukosit >
15.000/L dengan dominasi neutrophil sering didapatkan pada penyebab karena
bakteri tetapi dapat pula karena non bakteri. Diagnosis pasti untuk menentukan
penyebabnya karena bacterial yaitu dengan isolasi mikroorganisme dari paru,
cairan pleura atau darah. Foto thorax PA dapat dilakukan untuk melihat sejauh
mana kerusakan paru yang didapat, pada foto thorax akan didapatkan gambaran
berupa corakan bronkovaskular bertambah, peri bronchial cuffing, dan
overaeration.

Kriteria Diagnosis

1. Anamnesis
Gejala awal berupa gejala infeksi respiratori atas akibat virus, yautu seperti batuk pilek
ringan dan demam. Satu dua hari kemudian timbul batuk yang disertai dengan
sesak napas. Selanjutnya dapat ditemukan wheezing, sianosis, merintih, napas
berbunyi, muntah setelah batuk, rewel dan penurunan nafsu makan.

2. Pemeriksaan fisik
Takipnea, takikardi, dan peningkatan suhu diatas 38,5. Dapat juga ditemukan
konjungtivitis ringan dan faringitis. Obstruksi saluran respirasi bawah akan
menimbulkan gejala ekspirasi memanjang hingga wheezing. Usaha yang
dilakukan anak untuk mengatasi obstruksi akan menunbulkan nafss cuping hidung
dan retraksi interkostal. Dapat juga di temukan ronkhi pada auskultasi paru.
Sianosis dapat terjadi dan bilangejala menghebag, dapat terjadi apnea terutama
pada bayi berusia <6 minggu.
3. Laboratorium dan pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah rutin kurang bermakna karena leukosit biasanya normal demikian
juga dengan elektrolit. Analisis gas darah diperlukan untuk anak dengan sakit
berat, khususnya yang membutuhkan ventilator mekanik.
Pada foto rontgen toraks didapatkan gambaran hiperinflasi dan infiltrat tetapi gambaran
tersebut tidak spesifik dan dapat ditemukan pada anak, pnemonia viral atau
atipikal dan aspirasi. Dapat pula ditemukan gambaran atelektasis terutama saat
konvalesen akibat sekret pekat bercampur sel-sel mati yang menyumbat, air
trapping, diafragma datar, dan penungkatan diameter antero-posterior. Untuk
menemukan RSV perlu dilakukan kultus virus, rapud antigen detection test atau
polymerase chain reaction dan pengukuran titer antibodi pada fase akut dan
konvalesens.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan secara umum yaitu pemberian oksigen dengan nasal canul


sampai sesak nafas hilang pada pasien ini karena usia masih 4 bulan diberikan
liter, pemberian cairan untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit. Penatalaksanaan
khusus yaitu antibiotic berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi
klinis, atau jika tidak spefisik berikan antibiotic awal menurut kelompok usia,
untuk usia kurang dari 2 bulan berikan ampicillin dengan aminoglikosid,
amoksisilin dengan asam klavulanat, untuk usia 2 bulan sampai 5 tahun berikan,
beta laktam amoksisilin, amoksisilin, golongan sefalosporin, kotrimoksazol, untuk
usia lebih dari 5 tahun berikan amoksisilin, dan tetrasiklin pada usia anak lebih
dari 8 tahun. Jika panas, dapat diberikan obat penurun panas tapi sebaiknya
diberikan 72 jam pertama karena akan mengaburkan reaksi antibiotik awal.
Pencegahan
Pencegahan yang umum agar tidak terkena bronchopneumonia adalah
dengan pemberian asi eksklusif pada anak, pemberian nutrisi yang cukup dan
seimbang, imunisasi dasar lengkap, hindari anak dengan orang yang sedang
mengalami infeksi saluran nafas dan hindari anak dari asap polutan serta asap
rokok, untuk orang tua yang merokok untuk tidak merokok didekat anak, dan
apabila ingin menggendong atau bermain dengan anak hendaknya untuk mandi
terlebih dahulu karena nikotin pada rokok masih menempel pada baju.

Anda mungkin juga menyukai