Anda di halaman 1dari 5

ANATOMI HEPATOBILIER

1. HEPAR
Hati terletak di kuadran kanan atas abdomen, terbagi atas dua lobus yaitu
lobus dekstra dan lobus sinistra yang mencakup lobus kaudatus dan lobus
kuadratus. Keduanya dibatasi oleh ligamentum falsiforme. Batas atas hati berada
sejajar dengan ruang interkostal V dekstra dan batas bawah menyerong ke atas
dari costa IX dekstra ke kosta VIII sinistra.
Hati memiliki facies diaphragmatica dan viseralis (dorsokaudal). Organ ini
tertutup oleh peritoneum kecuali pada area nuda yang merupakan tempat hati
bersentuhan dengan diafragma. Area nuda ini dibatasi lembar ventral (kranial) dan
lembar dorsal (kaudal) ligamentum koronarium. Kedua lembar ini akan
membentuk ligamentum triangulare.
Hati diperdarahi oleh arteri hepatika yang membawa darah kaya akan
oksigen dari aorta dan vena porta yang kaya akan nutrisi dari saluran cerna.
Persarafan dari hati berasal dari pleksus hepaticus yang terdiri dari serabut
simpatis dari pleksus coeliacus dan serabut parasimpatis dari trunkus vagalis
anterior dan posterior.

2. Sistem Bilier dan Kandung Empedu


Empedu yang dihasilkan hepatosit akan diekskresikan ke dalam kanalikuli dan
selanjutnya ditampung dalam suatu saluran kecil empedu yang terletak di dalam
hati yang secara perlahan akan membentuk saluran yang lebih besar lagi. Saluran
kecil ini memiliki epitel kubis yang bisa mengembang secara bertahap bila saluran
empedu membesar. Saluran empedu intrahepatik secara perlahan menyatu
mernbentuk saluran yang lebih besar yang dapat menyalurkan empedu ke delapan
segmen hati. Di dalamsegmen hati kanan, gabungan cabang-cabang ini
membentuk sebuah saluran di anterior dan posterior yang kemudian bergabung
membentuk duktus hepatikus kanan. Pada beberapa orang, duktus hepatikus
kanan berada 1 cm di luar hati. Duktus ini kemudian bergabung dengan 3
segmen dari segmen hati kiri (duktus hepatikus kiri) menjadi duktus hepatikus

komunis. Setelah penggabungan dengan duktus sistikus dari kandung empedu,


duktus hepatikus menjadi duktus koledokus. Pada beberapa keadaan, dinding
duktus koledokus menjadi besar dan lumennya melebar sampai mencapai ampula.
Biasanya panjang duktus koledokus sekitar 7 cm dengan diameter berkisar antara
4-12 mm. Kandung empedu menerima suplai darah terbesar dari jalinan pembuluh
darah cabang arteri hepatika kanan.

METABOLISME BILIRUBIN
Bilirubin adalah pigmen kristal berbentuk jingga ikterus yang merupakan
bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasireduksi. Bilirubin berasal dari katabolisme protein heme, dimana 75% berasal dari
penghancuran eritrosit dan 25% berasal dari penghancuran eritrosit yang imatur
dan protein heme lainnya seperti mioglobin, sitokrom, katalase dan peroksidase.
Langkah oksidase pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan
bantuan enzim heme oksigenase yaitu enzim yang sebagian besar terdapat dalam
sel hati, dan organ lain. Biliverdin yang larut dalam air kemudian akan direduksi
menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase. Bilirubin bersifat lipofilik dan
terikat dengan hidrogen serta pada pH normal bersifat tidak larut.

Pembentukan bilirubin yang terjadi di sistem retikuloendotelial, selanjutnya


dilepaskan ke sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin. Bilirubin yang
terikat dengan albumin serum ini tidak larut dalam air dan kemudian akan
ditransportasikan ke sel hepar. Bilirubin yang terikat pada albumin bersifat
nontoksik. Pada saat kompleks bilirubin-albumin mencapai membran plasma
hepatosit, albumin akan terikat ke reseptor permukaan sel. Kemudian bilirubin,
ditransfer melalui sel membran yang berikatan dengan ligandin (protein Y),
mungkin juga dengan protein ikatan sitotoksik lainnya. Berkurangnya kapasitas
pengambilan hepatik bilirubin yang tak terkonjugasi akan berpengaruh terhadap
pembentukan ikterus fisiologis.

Bilirubin yang tak terkonjugasi dikonversikan ke bentuk bilirubin konjugasi


yang larut dalam air di retikulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine
diphosphate glucoronosyl transferase (UDPG-T). Bilirubin ini kemudian
diekskresikan ke dalam kanalikulus empedu. Sedangkan satu molekul bilirubin
yang tak terkonjugasi akan kembali ke retikulum endoplasmik untuk rekonjugasi
berikutnya.
Setelah mengalami proses konjugasi, bilirubin akan diekskresikan ke dalam
kandung empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan diekskresikan melalui
feces. Setelah berada dalam usus halus, bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung
dapat diresorbsi, kecuali dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi
oleh enzim beta-glukoronidase yang terdapat dalam usus dan juga air susu ibu
(ASI). Resorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati untuk
dikonjugasi disebut sirkulasi enterohepatik.