Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Energi adalah proses fisika dari suatu objek, dapat berpindah melalui
interaksi fundamental, yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan
maupun dimusnahkan. Energi saat ini memiliki peranan yang penting dalam
pengembangan ekonomi nasional kiranya merupakan suatu hal yang tidak
dipersoalkan lagi, bahkan sering dianggap sebagai darah dalam kehidupan
ekonomi. Hal ini disadari oleh Negara-negara yang telah maju, maupun oleh
Negara yang sedang berkembang bahwa penggunaan energi secara tepat dan
berdaya guna tinggi merupakan syarat yang mutlak untuk meningkatkan kegiatan
ekonomi.
Seiring makin dirasakannya krisis sumberdaya energi, maka peran dari
sebuah alat penyimpan energi atau pembangkit energi menjadi sangat penting
akibat kebutuhan akan penggunaan energi yang efisien. Penggunaan energi di
Indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan
pertambahan penduduk, Sedangkan akses ke energi yang andal dan terjangkau
merupakan prasyarat utama untuk meningkatkan standar hidup masyarakat.
Secara umum, sektor energi saat ini menghadapi tantangan baik secara
global maupun nasional.terdapat banyak cara untuk bisa menghadapi krisis energi
di masa depan. Salah satu cara yang selalu diberikan adalah pemanfaatan energi
terbarukan. Namun, pemanfaatan energi terbarukan masih sangat relatif kecil. Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi masalah, antara lain adalah
tingginya biaya investasi, birokrasi, insentif, dan subsidi dan harga jual produk
akhir energi terbarukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan energi fosil,
kurangnya pengetahuan dalam mengadaptasi fasilitas energi bersih, serta potensi
sumberdaya EBT pada umumnya kecil dan tersebar.
Melihat dari banyaknya dampak yang diberikan energi terhadap
kelangsungan hidup manusia ataupun dalam perkembangan ekonomi
pemerintahan, penulis melakukan penelitian dalam pembuatan pembangkit listrik
sederhana dengan mengandalkan reaksi elektrokimia yaitu khusus pada sel
galvani atau sel volta yang menggunakan air laut sebagai larutan elektrolit yang
merupakan sumber listrik. Melihat sumberdaya air laut yang begitu banyak di
Indonesia dapat diaplikasikan disetiap desa desa yang berada di daerah pesisir
Indonesia,dan melalui pengaplikasian tersebut diharapkan semua wilayah pesisir
Indonesia dapat memanfaatkan sumberdaya alam sekitar sebagai sumber listrik
utama.

1.2

Rumusan Masalah

Meninjau dari latar belakang diatas, penulis mengngkat permasalahan


sebagai berikut:
1.2.1
Bagaimana perangkaian pembangkit listrik terbaik sehingga
menghasilkan energi listrik maksimum ?
1.2.2
Bagaimana penerapan pembangkit listrik dengan prinsip sel volta
di daerah pesisir ?
1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah;
1.3.1
Analisis rangkaian pembangkit listrik dengan prinsip sel volta
sehingga menghasilkan energi listrik maksimum.
1.3.2
Menerapkan pembangkit listrik dengan prinsip sel volta di daerah
pesisir.

1.4

Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini yaitu pembaca akan dapat mengetahui


pembuatan pembangkit listrik dengan prinsip sel volta yang merupakan
pembangkit listrik dengan pemanfaatan sumberdaya air laut dan menerapkan ke
kehidupan masyarakat agar permasalahan akan kurangnya pasokan energi daerah
pesisir dapat teratasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Landasan Teori
2.1.1

Air Laut dan Salinitas Air Laut

Air adalah zat pelarut yang bersifat sangat berdaya guna, yang mampu
melarutkan zat-zat lain dalam jumlah yang lebih besar daripada zat cair lain. Sifat
ini dapat dilihat dari banyaknya unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut.
Diperkirakan hampir sebesar 48.000 triliun ton garam yang larut dalam air laut.
Garam-garaman tersebut terdiri dari sodium chloride sebesar 38.000 triliun ton,
Sulphates sebesar 3000 triliun ton, Magnesium sebesar 1.600 triliun ton,
Potassium sebesar 480 triliun ton, dan Bromide sebesar 80 triliun ton. Klorida
merupakan zat yang paling banyak terkandung dalam air laut sedangkan NaCl
merupakan zat klorida yang persentasenya lebih besar (Nybakken, 1992).
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per
mil (), yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung
dalam 1000 gram air laut (Wibisono, 2004). Salinitas merupakan bagian dari sifat
fisik kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas
dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi
suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda
dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau. Kisaran salinitas
air laut adalah 30-35, estuari 5-35 dan air tawar 0,5-5 (Nybakken, 1992).
2.1.2

Sel Elektrokimia

Transfer elektron pada reaksi redoks dalam larutan berlangsung melalui


kontak langsung antara partikel-partikel berupa atom, molekul atau ion yang
saling serah terima elektron. Pembahasan transfer elektron melalui sirkuit luar
sebagai gejala listrik, dan reaksi redoks yang seperti ini akan dipelajari pada
elektrokimia. Sel elektrokimia merupakan suatu sel atau tempat terjadinya aliran
elektron yang disebabkan oleh perubahan energi kimia menjadi energi listrik atau
sebaliknya. Sel ini dikelompokkan menjadi dua macam yaitu (Oxtoby:1999) :
1. Sel Volta
2. Sel Elektrolisis
Sel elektrokimia yang dibicarakan menghasilkan listrik sebagai hasil
perubahan kimia spontan. Sel ini disebut sel galvani (galvanic) atau volta (voltaic)
(Petruci,1985: 12). Sel ini mengubah energi kimia menjadi energi listrik yang
dapat digunakan untuk melakukan kerja (Oxtoby:1999).

2.1.2.1
Sel Volta
Sel volta adalah penataan bahan kimia dan penghantar listrik yang
memberikan aliran elektron lewat rangkaian luar lewat suatu zat kimia yang
teroksidasi ke zat kimia yang direduksi. Dalam sel volta, oksidasi berarti
dilepaskannya elektron oleh atom, molekul atau ion dan reduksi berarti
diperolehnya elektron oleh partikel-partikel ini. (Keenan,1980:29).
Sebuah sel elektrokimia yang beroperasi secara spontan disebut sel galvani
atau sel volta. Sel ini mengubah energi kimia menjadi energi listrik yang dapat
digunakan untuk melakukan kerja (Oxtoby:1999). Sel elektrokimia yang
dibicarakan menghasilkan listrik sebagai hasil perubahan kimia spontan. Sel ini
disebut sel galvani (galvanic) atau volta (voltaic). Kemungkinan lain yang
dibicarakan kemudian adalah produksi perubahan kimia nonspontan melalui
pemakaian listrik (Petruci,1985: 12).
Hubungan listrik antara dua setengah-sel harus dilakukan dengan cara
tertentu. Kedua elektroda logam dan larutannya harus berhubungan, dengan
demikian lingkar arus yang sinambung terbentuk dan merupakan jalan agar
partikel bermuatan mengalir. Secara sederhana elektroda saling dihubungkan
dengan kawat logam yang memungkinkan aliran elektron. Sel terdiri dari dua
setengah sel yang elektrodanya dihubungkan dengan kawat dan larutannya dengan
jembatan garam (ujung jembatan garam disumbat dengan bahan berpori yang
memungkinkan ion bermigrasi, tetapi mencegah aliran cairan dalam jumlah
besar). Potensiometer mengukur perbedaan potensial antara dua elektrode
(Petruci,1985:9). Elektrode mana yang disebut katode atau anode didasarkan pada
tipe reaksi kimia yang berlangsung pada permukaan elektrode itu. Elektrode pada
mana berlangsung reaksi oksidasi disebut anode dan pada mana berlangsung
reaksi reduksi disebut katode (Keenan,1980:32). Aliran listrik antara dua larutan
harus berbentuk migrasi ion. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui larutan yang
menjembatani kedua setengah-sel, tak dapat dihubungkan dengan kawat biasa :
hubungan ini disebut jembatan garam (salt bridge) (Petrucci,1985:10).
2.1.2.2

Larutan Elektrolit

Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai ke dalam bentuk ionionnya. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau
solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak dari pada zat-zat lain dalam
larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam
larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat
terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. Larutan
terdiri dari larutan nonelektrolit dan larutan elektrolit. Larutan non elektrolit
adalah larutan yang tidak menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan elektrolit
adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan mudah. Ion-ion
merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit dapat berupa senyawa
garam, asam, atau amfoter. Beberapa gas tertentu dapat berfungsi sebagai

elektrolit, hal ini terjadi pada kondisi tertentu misalnya pada suhu tinggi atau
tekanan rendah. Elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam. Elektrolit
merupakan senyawa yang berikatan ion dan kovalen polar. Sebagian besar
senyawa yang berikatan ion merupakan elektrolit sebagai contoh adalah garam
dapur atau NaCl. Natrium klorida (NaCl) dapat menjadi elektrolit dalam bentuk
larutan dalam sistem aqueous dan lelehan, sedangkan dalam bentuk padatan
senyawa ion tidak dapat berfungsi sebagai elektrolit (Riyanto, 2013:2).
2.1.3

Pembangkit Listrik

2.1.3.1

Proses Pembangkitan Listrik

Pembangkitan tenaga listrik sebagian besar dilakukan dengan cara


memutar generator sinkron sehingga didapat tenaga listrik dengan tegangan bolakbalik tiga fasa. Energi mekanik yang diperlukan untuk memutar generator sinkron
didapat dari mesin penggerak generator yang banyak digunakan dalam praktik,
yaitu: mesin diesel, turbin uap, turbin air, dan turbin gas. Mesin mesin
penggerak generator ini mendapat energi dari:
1. Proses pembakaran bahan bakar (mesin-mesin termal)
2. Air terjun (turbin air)
Jadi, sesungguhnya mesin penggerak generator melakukan konversi energi
primer menjadi energi mekanik penggerak generator. Proses konversi energi
primer menjadi energi mekanik menimbulkan produk sampingan berupa limbah
dan kebisingan yang perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan masalah
lingkungan.
Dari segi ekonomi teknik, komponen biaya penyediaan tenaga listrik yang
terbesar adalah biaya pembangkitan, khusunya biaya bahan bakar. Oleh sebab itu,
berbagai teknik untuk menekan biaya bahan bakar terus berkembang, baik dari
segi unit pembangkit secara individu maupun dari segi operasi system tenaga
listrik secara terpadu.
Pusat listrik adalah tempat dimana proses pembangkitan tenaga listrik
dilakukan. Mengingat proses pembangkitan tenaga listrik merupakan proses
konversi energi primer (bahan bakar atau potensi tenaga air) menjadi energi
mekanik penggerak generator, yang selanjutnya energi mekanik ini diubah
menjadi energi listrik oleh generator, maka dalam pusat listrik umumnya terdapat
(Marsudi, 2005) ;
a. Instalasi Energi Primer, yaitu instalasi bahan bakar atau instalasi tenaga
air.
b. Instalasi Mesin Penggerak Generator, yaitu instalasi yang berfungsi
sebagai pengubah energi primer menjadi energi mekanik penggerak
generator. Mesin penggerak generator ini dapat berupa ketel uap beserta
turbin uap, mesin diesel, turbin gas, atau turbin air.
c. Instalasi Pendingin, yaitu instalasi yang berfungsi mendinginkan instalasi
mesin penggerak yang menggunakan bahan bakar.

d. Instalasi Listrik, yaitu instalasi yang secara garis besar terdiri dari:
1. Instalasi Tegangan Tinggi, yaitu instalasi yang menyalurkan energi
listrik yang dibangkitkan generator
2. Instalasi Tegangan Tinggi, yaitu instalasi yang menyalurkan energi
listrik yang dibangkitkan generator.
3. Instalasi Tegangan Rendah, yaitu instalasi alat-alat bantu dan instalasi
penerangan.
4. Instalasi Arus Searah, yaitu instalasi yang terdiri dari baterai aki
beserta pengisinya dan jaringan arus searah, yang terutama digunakan
untuk proteksi, control, dan telekomunikasi.
2.1.3.2

Masalah Utama Dalam Pembangkitan Tenaga Listrik

1. Penyedia Energi Primer


Energi primer untuk pusat termal adalah bahan bakar.Peneyediaan bahan
bakar meliputi pengadaan, transportasi, dan penyimpanannya, terutama yang
memerlukan perhatian terhadap risiko kebakaran.
Energi Primer untuk PLTA adalah air.Pengadaannya dari sungai dan hujan,
sedangkan penyimpanannya di waduk. Untuk PLTA, konservasi hutan pada
daerah aliran sungai (DAS) sangat penting agar hutan berfungsi sebagai
penyimpan air sehingga tidak timbul banjir dimusim hujan dan tidak terjadi
kekeringan dimusim kemarau.
2. Penyedia Air Dingin
Masalah penyediaan air pendingin timbul pada pusat listrik termal seperti
PLTU dan PLTD.PLTG tidak memerlukan air pendingin yang banyak. PLTU
dan PLTD dengan daya terpasang diatas 25 MW banyak yang dibangun di
daerah pantai karena membutuhkan air pendingin dalam jumlah besar
sehingga pusat listrik ini dapat menggunakan air laut sebagai air pendingin.
Untuk unit unit PLTD yang kecil dibawah 3 MW, pendinginannya dapat
menggunakan udara dengan menggunakan radiator.
3. Masalah Limbah
PLTU batubara menghasilkan limbah berupa abu batubara dan asap yang
mengandung gas SO2, CO2, dan NOx. semua PLTU mempunyai limbah
bahan kimia dari air ketel (blow down). PLTD dan PLTG mempunyai limbah
berupa minyak pelumas.PLTA tidak menghasilkan limbah, malah limbah dari
masyarakat yang masuk ke sungai penggerak PLTA sering menimbulkan
gangguan PLTA.
4. Masalah Kebisingan
Pusat listrik temal menimbulkan suara keras yang merupakan kebisingan
bagi masyarakat yang tinggal didekatnya.Tingkat kebisingan harus dijaga agar
tidak melampaui standar yang berlaku.
5. Operasi

Operasi pusat listrik sebagian besar 24 jam sehari. Selain itu, biaya
penyediaan tenaga listrik sekitar 60% untuk operasi pusat listrik, khususnya
untuk membeli bahan bakar.Oleh karena itu, perlu dilakukan operasi pusat
listrik yang seefisien mungkin.Jika pusat listrik beroperasi dalam system
interkoneksi (pusat listrik yang beroperasi parallel dengan pusat-pusat listrik
lain melalui saluran transmisi), maka pusat listrik ini harus mengikuti pola
operasi system interkolasi.
6. Pemeliharaan
Pemeliharaan peralatan diperlukan untuk:
a. mempertahankan efisiensi.
b. Mempertahankan keandalan.
c. Mempertahankan umur ekonomis.
7. Gangguan dan Kerusakan
Gangguan adalah peristiwa yang menyebabkan Pemutus tenaga (PMT)
membuka (trip) diluar kehendak operator sehingga terjadi pemutusan pasokan
tenaga listrik.Gangguan sesungguhnya adalah peristiwa hubung singkat yang
penyebabnya kebanyakan petir dan tanaman.Gangguan dapat juga disebabkan
karena kerusakan alat, sebaliknya gangguan (misalnya yang disebabkan petir)
yang terjadi berkali-kali akhirnya dapat mengakibatkan alat (misalnya
transformator) menjadi rusak.
8. Pengembangan Pembangkitan
Pada umumnya, pusat listrik yang berdiri sendiri maupun yang ada dalam
system interkoneksi memerlukan pengembangan.Hal ini disebabkan karena
beban yang dihadapi terus bertambah, sedangkan dilain pihak unit pembangkit
yang ada menjadi semakin tua dan perlu dikeluarkan dari operasi.Jika gedung
pusat listrik yang ada masih memungkinkan untuk penambahan unit
pembangkit, maka pengembangan pembangkitan dapat dilakukan dengan
menambah unit unit pembangkit dalam gedung pusat listrik yang telah ada
tersebut.
9. Perkembangan teknologi pembangkitan
Perkembangan teknologi Pembangkitan umumnya mengarah pada
perbaikan efisiensi dan penemuan teknik konversi energi yang baru dan
penemuan bahan bakar baru.
2.2

Peneliti Terdahulu

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan
penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam
mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak
menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis.
Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam
memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut merupakan penelitian

terdahulu berupa beberapa jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan


penulis.
Nama Peneliti

Judul Penelitian

Mursyidah, 2012

The Utilization Of
Sea Water In A
Especially Designed
Battery
(Sabrine
Swall Battery)

Eko Julianto Sasono,


2010

Efektivitas
Penggunaan Anoda
Korban
Paduan
Aluminium
Pada
Pelat Baja Kapal Aisi
E 2512 Terhadap
Laju
Korosi
Di
Dalam Media Air
Laut

Juliana Anggono dan


Soejono Tjitro, 1999

Studi Perbandingan
Kinerja
Anoda
Korban
Paduan
Aluminium dengan
Paduan Seng dalam
Lingkungan Air Laut

Sumber : Hasil Kajian Penulis, 2016

Hasil Penelitian
Perancangan baterai dengan
menggunakan air laut sebagai
elektrolitnya dan beterai yang
dihasilkan dapat menyalakan
lampu senter dengan 5 LED
selama beberapa bulan tanpa
henti.
Dari penelitian ini dapat
diketahui
bahwa
anoda
korban paduan aluminium
produk C memiliki kinerja
yang optimal, dalam arti
dapat memperlambat laju
korosi pelat baja AISI E 2512
sehingga benar-benar dapat
berfungsi sebagai anoda
korban.
Hasil
penelitian
menunjukkan anoda korban
paduan
aluminium
menghasilkan arus galvanic
dan kapasitas anoda yang
lebih besar daripada paduan
seng. Demikian pula efisiensi
paduan aluminium lebih baik
dan laju konsumsinya lebih
rendah daripada paduan seng.
Dengan foto makro tampak
bahwa pola korosi yang
terjadi pada kedua jenis
paduan menunjukkan anoda
korban tidak terkorosi secara
merata, melainkan terjadinya
korosi
pitting
pada
permukaannya.

BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1.

Metode Penulisan

Metode yang digunakan pada pengerjaan karya tulis ini adalah gabungan
antara perancangan alat dan eksperimental. Perancangan alat dilakukan untuk
membuat pembangkit listrik dengan prinsip sel volta pada skala laboratorium dan
metode eksperimental dilakukan setelah perancangan dan pembuatan alat selesai
dilakukan.
3.2.

Diagram Alir Penelitian

Mulai

Perumusan Masalah

Studi Literatur

Rangkaian Listrik Pada Alat

Seri
Paralel
Seri-Paralel

Pengujian Rangkaian Alat

Perhitungan dan Analisis Data

Rancangan Model dan Geometri Alat Menggunakan Sketch-Up

Kesimpulan

3.3.

Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini ditetapkan suatu variabel penelitian, sebab suatu


variabel penelitian merupakan parameter utama yang mempengaruhi hasil
penelitian yang akan dicapai. Pada penelitian ini ditetapkan dua variabel yaitu
sebagai berikut:
a. Variabel Bebas
Parameter yang menjadi variabel bebas pada penelitian ini adalah
banyaknya kotak yang dihubungkan dalam suatu rangkaian listrik
untuk menghasilkan arus listrik. Setiap kotak tersebut akan diisi
dengan air laut sebagai elektroda dan rangkaian sel volta.
b. Variabel Kendali
Parameter yang menjadi variabel terkendali pada penelitian ini adalah
kuat arus dan tegangan listrik yang dihasilkan dari suatu rangkaian
alat.
3.4.

Alat dan Bahan

Dalam menunjang kegiatan penelitian ini, maka alat dan bahan yang
digunakan adalah sebagai berikut:
1. Air laut 10 liter
Berfungsi sebagai larutan elektrolit dalam proses elektrokimia.
2. Plat Tembaga (Cu) (panjang = 10 cm, lebar = 30 cm, dan tebal = 0,2
mm).
Berfungsi sebagai bahan katoda pada proses elektrokimia.
3. Plat Seng (Zn) (panjang = 10 cm, lebar 30 cm, dan tebal 0,2 mm)
Berfungsi sebagai bahan anoda pada proses elektrokimia.
4. Tripleks
Berfungsi sebagai rancang bangun tempat proses elektrokimia.
Tripleks berjumlah 21 buah. Tripleks dibedakan menjadi 4 dengan
ukuran yang berbeda, yaitu :
a. Tripleks pertama berjumlah 6 buah dengan panjang 60 cm, lebar 10
cm dan tebal 3 mm.
b. Tripleks kedua berjumlah 2 buah dengan panjang 60 cm, lebar 40
cm, dan tebal 3 mm.
c. Tripleks ketiga berjumlah 2 buah dengan panjang 40 cm, lebar 10
cm, dan tebal 3 mm.
d. Tripleks keempat berjumlah 11 buah dengan panjang 40 cm, lebar
10 cm, dan tebal 3 mm.
5. Gunting
Berfungsi sebagai pemotong Plat tembaga dan seng.
6. Kabel secukupnya

Berfungsi sebagai penghubung antara plat tembaga dan seng untuk


media hambat listrik.
7. Voltmeter
Berfungsi sebagai pengukur tegangan listrik yang dihasilkan dari
proses elektrokimia.
3.5.

Perancangan dan Pembuatan Alat


Tahapan pembuatan dan perancangan alat adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
2. Membuat bentuk kubus dengan tripleks yang telah tersedia dengan
ukuran panjang = 60 cm, lebar = 40 cm dan tinggi 10 cm tanpa
penutup diatas.
3. Membuat kotak-kotak didalam kubus tersebut dengan ukuran panjang
= 5 cm, lebar = 5 cm dan tinggi 8 cm berjumlah 48 kotak.
4. Setelah kotak-kotak tersebut telah tersedia, isi kotak-kotak tersebut
dengan air laut hingga mencapai 80% dari volume kotak.
5. Gunting plat tembaga dan seng dengan ukuran panjang = 2 cm dan
lebar = 2 cm sebanyak 48 buah plat tembaga dan 48 buah plat seng.
6. Menghubungkan satu plat tembaga dengan satu plat seng yang telah
dipotong pada sebuah kabel sehingga membentuk rangkaian listrik.
7. Setelah itu isi pasangan satu plat temabaga dan plat seng berjumlah 48
pasangan dan dicelupkan pada setiap kotak dengan kabel tidak
tersentuh dengan air dan plat tembaga dan plat seng tidak saling
bersentuhan.
8. Kabel-kabel tersebut akan terhubung secara seri, paralel, maupun seri
paralel sehingga menghasilkan listrik dan dapat diukur tegangan yang
dihasilkan melalui voltmeter serta kuat arus dengan menggunakan
Amperemeter.

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN