Anda di halaman 1dari 4

Objek penelitian para demografer meneliti transisi demografi sama, yaitu fenomena

pertumbuhan penduduk dari masa ke masa. Beberapa demografer adalah sebagai berikut
1. Notestein (1945-1953)
Notestein berpendapat bahwa walaupun faktor utama dari pertumbuhan penduduk adalah
kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk, hanya kelahiran dan kematian yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Jadi konsep transisi demografi hanya memandang
pengaruh dari faktor alamiah kelahiran dan kematian. Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk
mempertahankan keluarga. Transisi demografi bergerak dari suatu kondisi stabil dengan laju
pertumbuhan penduduk nok ke kondisi stabil lainya, yaitu setelah melalui beberapa tahap.
2. Caldwell (1976)
Caldwell berpendapat bahwa tingginya kelahiran tidak berpengaruh pada kematian, tidak juga
berpegaruh pada adat istiadat, tetapi semata-mata karea pergeseran keutungan ekonomi. Jadi
yang mempengaruhi transisi demografi adalah karena pergeseran sistem ekonomi yang berlaku,
sebagai contoh karena sistem ekonomi menjadi modern maka keinginan untuk memiliki anak
banyak akan terkurangi dan lebih memilih untuk konsenterasi pada karir pekerjaan. Hal itu dapat
dilihat pada perbedaan sistem keluarga di negara berkembang dan negara maju. Pada negara
berkembang, jumlah anak itu sedikit dan usia produktif banyak sedangakan pada negara
berkembang jumlah anak banyak dengan pelayanan kesehatan tidak sebaik negara maju. Orang
tua memperoleh keuntunungan ekonomis dari anak-anaknya dan penurunan fertilitas hanya akan
terjadi ketika aliran kekayaan dari anak ke orang tua dibalik menjadi dari orang tua ke anak.
3. Blacker (1947)
Blacker berpendapat bahwa transisi demografi terbagi menjadi 5 tahap, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

High stationary
Early expanding
Late expanding
Low stationary
Declining

4. Coale (1976-1989)
Pendapat Coale adalah perubahan spesifik terhadap perilaku reproduktivitas penduduk yang
terjadi pada tranformasi penduduk tradisional menjadi modern.
5. Teitelbum

Dia berpendapat bahwa angka kematian menurun lebih cepat disaat angka kelahiran masih tetap
tinggi. Itu karena angka kematian lebih berhubungan erat dengan sosial ekonomi.
Berikut dijelaskan transisi demografi yang dijelaskan oleh Blacker yang membagi
transisi demografi menjadi 5 tahapan. Secara grafik dapat digambarkan sebagai berikut
1. Tahap 1 High stationary
Pada tahap ini angka kelahiran dan kematian sangat tinggi. Hal yang menyebabkan adalah karen
pola hidup yang masih sederhana, belum ditemukannya obat-obatan dan alat-alat medis yang
canggih. Wabah penyakit tidak dapat kdikendalikan seperti angka kematian dan kelahiran yang
juga tidak terkendali tiap tahunya. Jadi pertumbuhan penduduk lambat dikarenakan angka
kematian hampir sama dengan angka kelahiran. Contoh dari tahap ini adalah Eropa pada abad
14.
2. Tahap 2 Early Expanding
Jumlah penduduk naik dengan pesat karena angka kelahiran masih saja tetap tinggi karena masih
ada pandangan bahwa semakin banyak anak maka akan semakin banyak keuntungan yang
didapat. Tingginya angka kelahiran dibarengi dengan dilaksanakannya revolusi industri yang
menemukan obat-obatan dan alat-alat medis yang sudah lebih canggih sehingga berhasil
menekan angka kematian. Pada awalnya, obat-obatan seperti penicili diciptakan untuk keperluan
perang, tetapi selanjutnya dikonsumsi untuk umum. Dengan ditemukanya obat-obatan modern,
dan pelayanan kesehatan yang lebih baik, maka angka harapan hidup pun meningkat. Hasilnya,
jumlah penduduk dunia naik pesat. Contoh pada tahap ini adalah India sebelum perang dunia 2,
dan Indonesia pada tahun 1980an angka pertumbuhan sebesar 2,32% per tahun.
3. Tahap 3 Late Expanding
Pada tahap ini angka kelahiran sudah berhasil ditekan dengan ditemukannya alat kontrasepsi
yang berhasil menekan angka kelahiran. Sementara itu, angka kematian menunjukkan penurunan
yang lebih signifikan dikarenakan pelayanan medis sudah lebih bagus dan sistem ekonomi juga
menunjukkan kondisi yang lebih baik. Dengan demikian gaya hidup manusia juga sedikit
berubah menjadi manusia modern. Industri membaik dan banyak tenaga kerja terserap, sehingga
angka kelahiran berhasil ditekan. Contoh dari tahap ini adalah India sesudah perang dunia 2.
4. Tahap 4 Low Stationary
Angka kelahiran semakin bisa ditekan hasilnya angka kelahiran pada tahap ini berada pada
angka yang rendah. Begitu juga dengan angka kematian yang sudah lebih dahulu berhasil ditekan

sebelumnya. Selisih antara keduanya tidak begitu jauh yaitu pada angka yang relativ rendah.
Contoh : Australia, Selandia Baru, Amerika pada tahun 1930.
5. Tahap 5 Declining
Pada tahap ini terjadi kebalikan yaitu angka kematian malah lebih tinggi daripada angka
kelahiran. Hal ini bisa terjadi karena semakin berhasil ditekannya angka kelahiran dengan alat
kontrasepsi ataupun karena gaya hidup masyarakat terkait memang sudah berubah. Contoh
Jerman tahun 1975.
Transisi demografi sebenarnya menganalisis dan kemudian mengeneralisir gejala-gejala
yang terjadi pada pertumbuhan penduduk masyarakat dunia per wilayah mereka tinggal, walaupu
pada akhirnya juga ditemukan bahwa sebenanya tidak tepat juga teori itu digeneralisir di detiap
wilayah. Ada wilayah atau negara atau suatu peradaban yang jika dikatakan itu melenceng dari
teori yang telah dikemukakan. Pada umumnya teori transisi demografi menjelaskan perubahan
kehidupan masyarakat dari agraris menjadi industrial. Tetapi pada kenyataanya ada negara yang
sudah bisa menekan angka kelahiran walaupun proses industrialisasi masih dalam proses awal.
Fenomena ini dapat ditemui di negara-negara di Eropa timur yang masih menjalankan sistem
agraris. Kesimpulan yang didapatkan adalah bahwa tidak hanya proses menuju industrialisasi
yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk tetapi juga kesamaan budaya dan kultur bahasa.
Negara-negara di Eropa Timur dekat sekali dengan negara-negara Eropa yang sudah lebih awal
beralih ke industri sebagai sektor utamanya dan sudah berhasil menekan angka kelahiran.
Faktor lain yang menyebabkan teori transisi demografi tidak dapat digeneralisir secara
global adalah bahwa pembangunan dan kesejahteraan masing-masing wilayah itu berbeda. Itu
menyebabkan kebudayaan dan proses sosialisasi atau gaya hidup berbeda. Contohnya saja pada
negara berkembang atau negara miskin masih menganut banyak anak banyak rejeki, dan pada
saat yang sama pada negara maju gaya hidup sudah lebih maju.
Proses transisi demografi juga tidak menunjukkan kecepatan yang sama antara negara
maju dan negara berkembang. Di inggris proses transisi demografi memerlukan waktu antara
200 tahun, sedangkan di Indonesia hanya perlu waktu sekitar 30 tahun.
Pada intiya teori transisi demografi dapat digeneralisir di setiap negara itu tidak benar
tetapi kenyataan bahwa setiap negara melalui tahapan-tahapan transisi demografi itu benar
adanya, tetapi dengan keadaan dan kondisi yang berbeda sesuai adat, budaya, dan keadaan
negara tersebut.

Transisi demografi yang terjadi di Indonesia terjadi sama seperti pada teori yang
disepakati. Hanya saja pada tahap tertentu ada sedikit perbedaan dalam proses pertumbuhan
penduduknya. Mungkin Indonesia juga termasuk yang tadi disebutkan sebagai Negara dengan
proses transisi demografi berbeda, yaitu Indonesia mengalami penurunan angka kelahiran
sebelum Indonesia menjalani proses industrialisasi. Seperti kita tahu Indonesia adalah Negara
agraris jadi sampai saat ini Indonesia masih menjadi Negara agraris. Penurunan angka kelahiran
Indonesia dilakukan dengan cara menjalankan program KB atau keluarga berencana. Dalam
menjalankan program KB digalakkan juga pemakaian alat kontrasepsi sehingga angka kelahiran
bisa ditekan. Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia.
Dengan luas wilayah yang seperti ini, semakin terlihat jelas bahwa Indonesia adalah masih
menjadi Negara berkembang. Biasanya cirri-ciri Negara berkembang adalah memiliki penduduk
yang masih mempunyai anak banyak. Seperti kita tahu, masyarakat jawa pada beberapa generasi
lalu adalah masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang banyak. Jumlah anak 10 atau
lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih belum
mempunyai kebudayaan atau gaya hidup sebagai masyarakat modern. Jadi menurut saya
Indonesia masih menjalani proses menuju kondisi yang stabil sesuai alur yang disepakati di teori
transisi domografi. Semakin berkembangnya jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah
mulai ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka kelahiran sudah
cukup berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan datang Indonesia akan
mencapai keadaan yang stabil dan menyelesaikan transisi demografi.