Anda di halaman 1dari 12

KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

Pertemuan

Minggu ke 4

Waktu

50 menit

Pokok bahasan

1. Morfologi Eritrosit

Subpokok bahsan

a. Morfologi

eritrosit

normal

berbagai

macam

spesies hewan.
b. Morfologi eritrosit abnormal : abnormalitas besar,
abnormalitas bentuk dan adanya inclusion bodies.
c. Penayangan
spesies

gambar

hewan

slide

normal/sehat

darah

berbagai

dan

abnormal

karena penyakit.
d. Uji fragilitas eritrosit dan interpretasi data.
Tujuan khusus

1. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan


morfologi dan karakter darah dan berbagai macam
spesies hewan normal atau sehat.
2. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan
morfologi dan karakter darah dan berbagai macam
spesies hewan yang terserang berbagai penyakit.
3. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan uji
fragilitas eritrosit serta menginterpretasi data yang
diperoleh.
4. Mahasiswa

dapat

melihat,

memahami

dan

menjelaskan gambaran darah hewan normal atau


sehat dan darah hewan yang terserang penyakit.
Metode

Kuliah dan diskusi

Media

OHP dan slide projector

Universitas Gadjah Mada

Pada sapi

: 300 - 700 mg/dL normal


--- 800 mg/dL inflamasi/lesi jaringan
1.000 atau lebih inflamasi dan nekrosis

Pada domba : 100 - 500 mg/dL normal


600 - 900 mg/dL inflamasi

Disini masih diperlukan


Evaluasi pemeriksaan hematologi yang lain :
-

Pemeriksaan jumlah leukosit

Pemeriksaan diferensial leukosit

MORFOLOGI ERITROSIT

Pemeriksaan preparat apus :


-

morfologi eritrosit

diferensial leukosit

Morphologi abnormal :
1. abnormalitas besar/size
2. abnormalitas bentuk
3. adanya inclusion bodies

Diameter eritrosit (
sapi

: 4,0 - 9,6

domba

: 3,5 - 6,0

kambing

: 3,2 - 4,2 3,2 > batas bawah paling kecil

babi

: 4,0 - 8,0

kuda

: 5,6 - 8,0

anjing

: 6,9 - 7,3 6,9 > batas bawah paling besar

kucing

: 5,4 - 6,5

Universitas Gadjah Mada

1. Abnormalitas besar/size
Eritrosit hewan piaraan besar eritrosit bervariasi sesuai dengan spesies hewan
Kelainankelainan itu antara lain :
Anisocytoslrs besar eritrosit bervariasi, umumnya dijumpai pada darah sapi normal
(3,6 - 9,6

) terutama pada sapi muda.

Anisocytosis meningkat : pada regenerative anemia, banyak dijumpai macrocyte dalam


sirkulasi darah perifer. Perkembangan selanjutnya akan
dijumpai poikilocyte.

2. Abnormalitas bentuk
Kelainan - kelainan itu antara lain :
Poikilocytosis : iregularitas bentuk eritrosit
Perubahan - perubahan yang terjadi seperti :
-

elliptocyte (a)

sickle cell (b)

bentuk-bentuk seperti buah pear (c) dan


tear/tetes air mata (d)

bentuk tidak beraturan (e)


bentuk - bentuk tersebut merupakan indikasi adanya
abnormalitas eritrogenesis.

Leptocyte

: eritrosit dengan bentuk pipih, dengan luas permukaannya meningkat


tetapi volumenya tetap.
Konsekuensinya :
-

membran sel dapat melipat atau distorsi, lebih resisten terhadap


hemolisis dalam larutan hipotonik

tidak mudah membentuk rouleaux atau saling melekat (clump) sel


yang satu dengan yang lain

laju endap darah/kecepatan sedimentasi darah menurun

sel - sel ini biasanya menempati daerah buffy coat ----> berwarna
pinkish tinge (agak pink)

Universitas Gadjah Mada

Target cell (sel target) atau codocyte : karakteristik dengan normal daerah agak gelap
dibagian sentral dan dikelilingi daerah yang jernih.
Sering terlihat pada darah anjing.

Target cell

Spherocyte

mempunyai

rigid

membrane

(membran

sel

yang

agak

keras/kaku) sehingga lebih resisten atau tahan terhadap


perubahan - perubahan bentuk (deformation).
-

sel ini segera akan didestruksi oleh SRE, sebab itu lifespannya

sel ini tidak umum terdapat pada domestic animals, terlihat pada
darah anjing yang menderita autoimmune hemolytic anaemia

pada manusia, spherocytosis merupakan penyakit kongenital


(penyakit congenital spherocytosis)

Fragmentasi eritrosit terjadi pada anemia hemolitik atau penyakit - penyakit dimana terjadi
perubahan dalam mikrosirkulasi. Ada 2 cara fragmentasi :
1. Fragmentasi secara alami : merupakan metode normal destruksi darah
2. Fragmentasi eritrosit yang lain bisa terjadi pada :
-

Kehilangan sifat elastisitas membrane sel sebagai konsekuensi :


-

antibody coating

immune mediated anaemia

defisiensi Fe, pembentukan Heinz bodies, sickle cells.

hypercholesterolemia, lipemia.

membran sel lebih kaku mudah terjadi fragmentasi


Hasil fragmentasi eritrosit bisa terjadi dengan koagulasi intravasculer (tersebar) pada
pemeriksaan apus darah fragmen eritrosit tersebut bisa terlihat sebagal bagian dan eritrosit:
-

keratocyte (1 atau lebih incomplete cut)

schizocyte (a complete cut)

knizocyte (bentuk triconcave)

lebih sering terlihat pada anemia hemolistik

Universitas Gadjah Mada

Acanthocyte

eritrosit dengan rounded projections/tonjolan pada permukaan


sel

pada anjing dengan liver disease

pada manusia, adanya abnormalitas plasma misalnya pada


abnormalitas pada metabolism fosfolipida, dimana pada penyakit
ini terjadi penurunan kadar fosfolipida dan kholesterol, demikian
pula penurunan kadar trigliserida dan free fatty acid.

Crenation

Tonjolan-tonjolan pada permukaan eritrosit bukan karena perubahan


perubahan kilnik, merupakan kesalahan teknis misalnya :
-

pengeringan yang tertunda

tercemar lytic agent (detergent)

tercemar larutan hypertonic

umur sampel terlalu lama

Oleh karena bentuk acanthocyte dan crenation serupa maka harus dibedakan (baca
makalah pada kursus Penyegaran Dokter Hewan Mandiri Suatu tinjauan tentang pengaruh
EDTA terhadap morfologi darah, 1991).

Anulocyte

akibat rendahnya kandungan Hb, maka terjadi daerah pucat yang


luas pada bagian sentral eritrosit

anulocyte
Schistocyte

Merupakan produk fragmentasi eritrosit, dapat berbentuk :


-

triangular

small elliptical form

irregular crenated cells

Pada kasus anemia hemolitik

Universitas Gadjah Mada

Siderocyte

Eritrosit mengandung 1 atau lebih granula besi (pewarnaan dengan


Prussian blue)
Pada kasus hambatan sintesis Hb misalnya :
-

thalassemia (manusia)

Pb poisoning

siderocyte

Sickle cell (sel sabit)

sickle cell
Stomatocyte

eritrosit dengan area biconcave di bagian sentral.


Pada kasus hereditary haemolytic anaemia

stomatocyte

3. Adanya inclusion bodies (benda - benda inklusi) dalam eritrosit.


Reticulocyte

tidak dijumpai pada pemeriksaan darah perifer atau dalam jumlah


yang kecil (normal).
-

spesifik (macrocytic, polychromatophilic)

sel ini mengalami pemasakan di dalam sumsum tulang

reticulocyte

Universitas Gadjah Mada

MCV meningkat

Berat jenis rendah

Lebih resisten terhadap larutan hipertonik

Lebih resisten terhadap krenasi

Tidak berpartisipasi dalam pembentukan rouleaux

Catatan:
Pada anjing dan kucing : 0,5 - 1% dalam darah perifer
Pada babi : sampai dengan 2%
Pada marmot, tikus, kelinci, mencit : 2- 4%

Pewarnaan reticulocyte

: Sebelumnya preparat apus tidak difiksasi terlebih dulu


dengan methanol / metil alcohol.

Reagen

: -

1% larutan brilliant cresyl blue dalam larutan fisiologik


0,5% larutan new methylene blue dalam 1,6% larutan
potassium oxalat.

Kemudian larutan larutan tersebut diatas dicampur.

Tipe tipe reticulocyte :


Tipe I

: terlihat titik - titik kromatin yang tercat dengan new


methylene blue

Tipe II

: terlihat granula gelap, satu atau dua membentuk reticulum

Tipe III

: terlihat granula lebih gelap dan membentuk retikulum

Kalkulasi reticulocyte secara absolut :

Absolute % retic count =

Misalnya : anjing dengan PCV = 20% (PCV normal = 45%)


Retic. = 32%

Universitas Gadjah Mada

Maka reticulocyte absolute = 32 x

Reticulocytosis :
-

Hemorrhagi akut eritropoisis naik

Anemia hemolitik

Penghitungan reticulocyte

sebagai metode untuk mengevaluasi therapi terhadap


anemia.

Kondisi optimal

jumlah reticulocyte sangat tinggi (4 - 5 hari setelah terapi)


kemudian maximum 9 - 10 hari setelah terapi kembali
normal pada akhir minggu ke 2 atau 3 setelah terapi.

Penurunan reticulocyte persisten pada hewan yang alami anemia prognosa jelek
dugaan adanya ganggguan sumsum tulang.

Respon reticulocyte :
Kucing

Tahap awal respon aktif reticulocyte peningkatan sel


eritrosit

dengan

mengandung

banyak

reticulum.

Kemudian tahap akhir terlihat punctate form (bentuk


titik/granul dan reticulum. Pendewasaan% reticulocyte
lebih lama pada kucing.
Reticulocyte naik pada saat ini tidak mesti adanya
peningkatan aktifitas sumsum tulang.

Terapi epinephrine

reticulocyte naik (kucing) seperti pada kucing yang alami


exitasi selama sampling darah dilakukan (6080%
reticulocyte).

Respon reticulocyte ringan pada anjing : 1-4%


kucing : 0,5 2%
Respon reticulocyte moderate pada anjing : 5 - 20%
kucing : 3 4%
Respon reticulocyte berat pada anjing : 21 50%
kucing : > 5% (tipe I + II)

Universitas Gadjah Mada

Reticulocytosis sapi

blood loss (perdarahan)

destruksi eritrosit meningkat

stimulasi erythrogenic bias disertai basophilic


stippling dalam sel (stippled cell) respon terhadap
anemia.

Punctate basophilia (basophilic stippling)


Adanya punctate aggregate dan basophilic staining materials
sebagai granul kasar dalam eritrosit.
-

Warna biru gelap dengan Wrights stain.

Kadang dijumpal pula eritrosit berinti. Adanya stippling adalah


perubahan

degeneratif

dan

sitoplasma

yang

melibatkan

ribonucleid acid (RNA) pada eritrosit muda.


Contoh kasus:
-

Pb-poisoning (94%) pada anjing dan sapi.

Pemakalan EDTA berlebihan + potasium oxalat mengurangi


stippled cells yang terdeteksi.

Basophilic stippling kadang-kadang dijumpai pada eritrosit anjing


normal, tetapi jumlahnya sedikit.

Polychromasia (reticulocyte)
:

adanya warna basophilia pada eritrosit secara difus, karakteristik


dengan warna biru - kemerahan yang difus pada eritrosit.

Metarubricyte

kehilangan inti (proses pendewasaan)

masih adsubstansi basophilic sitoplasma

mengandung RNA + protoporphyrin

warna kebiruan (polychromatopilia)

Anemia

Universitas Gadjah Mada

Howell Jolly bodies :


Merupakan sisa sisa inti
Dengan Wrightstain terlihat :
-

benda refractile (single/double)

bentuk speris/bulat kebiruan

bentuknya bisa bervariasi

Harus dibedakan dengan anaplasma marginale, dimana :


-

Bentuk uniform

Letak dibagian perifer eritrosit

H.J. bodies meningkat pada anemia


Keadaan normal terdapat H.J bodies hanya :
-

1% pada kucing

kadang - kadang pada anjing

sering pada babi muda (3 bulan)

kadang - kadang pada kuda, bentuk bervariasi warna hitam dan letak eksentrik.

Heinz bodies :
-

Bentuk kecil, bulat, irreguler, refractile, bisa. single, multiple dalam I sel eritrosit.
Keracunan phenothiazine, wild onion poisoning. Benda - benda ini merupakan denaturasi
protein, agen - agen toksik terhadap eritrosit anemia (indikasi terhadap erythrocyte
injury/anemia hemolitik).

Terlihat dalam reticulocyte.

Terlihat pada unfixed dan unstained smears/preparat darah.

Benda - denda ini hilang setelah fixasi dengan etil dan metil alkohol.

Pada manusia (pada keracunan)

Naphthalene

Sodium nitrate

Sodium chlorate

Sulfanilamide

paramino salicylid acid

Isoniazid

Nitrofurantoin

Obat anti malaria tertentu

Phenacetin

Heinz bodies kadang dapat dijumpai pada kucing normal, dimana terjadi destruksi aktif
eritrosit.
Universitas Gadjah Mada

10

Heinz bodies tidak terdestruksi dengan reagen yang dipakai dalam pemeriksaan Hb.

Heinz bodies dapat ditemui pada kucing (cystitis, urolithiasis) yang biasanya diobati
antiseptik methylene blue.

Heinz bodies dapat dijumpai pada anjing diberi prednisolone setiap hari.

Kristal Hb.
-

Dilaporkan pada anjing dan kucing :


-

di dalam eritrosit

di luar eritrosit

Dengan Wrights stain akan nampak gelap dengan bentuk kristal :


-

persegi

polygonal

rectangular

Pada anjing : - cylic neutropenia

Pada kucing : setelah spelenectomy / operasi pengambilan spleen.

Eritrosit berinti
-

Tidak terdapat pada hewan piara normal kecuali babi menyusui (3 bulan), kadang kadang terdapat pada anjing normal.

Sebagai respon terhadap kebutuhan akan darah anemia regenerative :


-

reticulocyte naik

eritrosit berinti/normoblast sangat tinggi.

Adanya eritrosit berinti naik tanpa kenaikan jumlah eritrosit abnormal eritrogenesis

Eritrosit berinti sangat tinggi :


-

pada extra medullary erythropoiesis

neoplasia erythron megaloblastoid rubriblast naik

TES FRAGILITAS ERITROSIT


-

Tes fragilitas eritrosit bukan pemeriksaan rutin hematologi.

Pada penyakit tertentu fragilitas eritrosit meningkat atau menurun.

Tes fragilitas eritrosit dilakukan sehubungan dengan gangguan sistema hemopoitik.

Cara :
Eritrosit/darah dimasukkan ke dalam larutan NaCl dengan berbagai konsentrasi. Misalnya
larutan hipotonik mulai dan 1% NaCl kemudian meningkat dengan interval 0,02%.

Universitas Gadjah Mada

11

Rata-rata nilai fragilitas osmotik pada hewan normal


Hewan
Sapi

Resistensi min.
% larutan NaCl
0,590,66

Resistensi max.
% larutan NaCl
0,40-0,50

Domba

0,600,76

0,40-0,55

Kambing

0,620,74

0,480,60

Babi

0,700,74

0,45

Kuda

0,420,59

0,310,45

Anjing

0,450,50

0,320,36

Kucing

0,690,72

0,460,50

Ayam

0,410,42

0,280,32

Tes fragilitas osmotik meningkat pada :

Anaplasmosis (sapi)

Isoimmune hemolytic anaemia pada new born pups (anak anjing baru lahir)

Autoimmumne hemolytic anaemia (anjing)

injeksi intra-vena anti-canine red cell immune serum

Tes fragilitas osmotik menurun (ini berarti pula resistensinya meningkat) pada :
-

eritrosit sapi yang mengalami porphyria dimana terjadi peningkatan jumlah eritrosit
muda yang relatif lebih resisten.

Universitas Gadjah Mada

12