Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Risa Anindia Putri


NIM

: 030.14.167

Obat-Obatan Anti
Hipertensi
Tujuan dari pengobatan hipertensi umumnya ditujukan untuk mencegah
terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi.
Terdapat 3 pendekatan utama dalam terapi hipertensi, yaitu :
1. Menurunkan curah jantung
2. Menurunkan volume darah
3. Menurunkan resistensi perifer
Berdasarkan klasifikasi efek terapeutik, obat antihipertensi dibagi menjadi
3 golongan, yaitu:
1. Obat yang menurunkan curah jantung
a. Beta blocker
b. Penghambat saraf adrenergik
2. Obat yang menurunkan tahanan perifer
a. Vasodilator
b. Penghambat reseptor a-adrenergik
c. Obat yang bekerja sentral
d. Antagonis kalsium
e. ACE inhibitor
f. ARB
g. Diuretik (dalam jangka panjang)
3. Obat yang menurunkan volume darah
1. Diuretik
Terapi farmakologi untuk hipertensi ringan dan sedang dilakukan secara
monoterapi, dengan memberikan salah satu dari obat berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Diuretik
-bloker
ACE-I (penghambat ACE)
CCB (antagonis kalsium)
-bloker (termasuk ,-bloker)

Terdapat beberapa obat yang tidak digunakan untuk monoterapi tahap


pertama, melainkan sebagai antihipertensi tambahan, seperti :
1. Vasodilator
2. 2 agonis (adrenolitik sentral)
3. Penghambat saraf adrenergic
Apabila respon obat tersebut kurang, maka akan dilakukan penambahan
obat ke-2 dari golongan lain. Sedangkan bila obat memberikan respon yang
kecil, maka akan dilakukan penggantian jenis obat.
Pilihan obat bagi masing-masing penderita bergantung pada kondisi
penderita hipertensi itu sendiri, seperti :
1. Efek samping yang diberikan
2. Adanya penyakit lain yang diderita
3. Adanya pemberian obat lain yang mungkin berinteraksi dengan
antihipertensi yang diberikan
Berikut adalah cara kerja dari masing-masing obat dan contohnya :

1. Diuretika
Yang dipergunakan terutama adalah golongan tiazid. Dengan cara
menghambat pompa Na/K di ginjal.
Golongan ini efektif sebagai obat lini pertama dan bisa dikombinasi dengan
CCB, BB, ACE-I, dan ARB.
Obat ini diberikan kepada penderita dengan payah jantung, risiko penyakit
jantung coroner tinggi, kencing manis, stroke, dan hipertensi sistolik
terkontrol.
Obat ini dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat.
Contoh : Hidroklorotiazid 12.5-25mg/hari, Klorrtalidon 12.5-50mg/hari.

2. Penghambat Sistem Renin Angiotensin (ARB)


ACE-I dan ARB akan menghambat vasokonstriksi dengan cara menghambat
pembentukan atau kerja dari Angiotensin II, sehingga menyebabkan
vasodilatasi yang berimbang.
Obat-obat ini dapat dipergunakan sebagai obat lini pertama atau dikombinasi
dengan diuretika atau CCB.
Obat ini diberikan kepada penderita dengan payah jantung, paska infark
miokard, risiko penyakit jantung coroner tinggi, kencing manis, gagal ginjal
kronis, dan stroke.
Selama pemakaian ACE-I atau ARB dianjurkan untuk memantau kreatinin dan
K serum
Contoh : ACE-I : Enalapril 2,5-40mg/hari-BID, Lisinopril 5-40mg/hari,
Irbesartan 150-300mg/hari, Losartan 25-10mg/hari-BID, dan Valsartan 80320mg/hari.

3. Penyekat Beta (BB)


BB bekerja dengan menghambat secara kompetitif pengikatan katekolamin
ke reseptor adrenergic.
Hati-hati pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis. Selama
pemakaian harus di pantau denyut nadi dan gula darah pada kencing manis.
Obat ini diberikan kepada penderita dengan payah jantung, paska infark
miokard, risiko tinggi jantung coroner, dan kencing manis.
Contoh : Atenolol 25-100mg/hari peroral, Metoprolol 25-100mg/hari peroral
atau BID, dll.

4. Antagonis Kalsium (CCB)


Dengan cara kerja mengurangi influks kalsium dalam sel-sel otot polos di
pembuluh darah.
Pada terapi dengan golongan obat ini harus selalu diawasi adanya
pembengkakan pada tungkai, dan pada nadi dapat menyebabkan dada
berdebar.
Contoh : tablet Amlodipine 2,5-10mg OD, Felodipine 2,5-10mg ODi, dll.

5. Agonis Alfa2
Dengan cara kerja sebagai neurotransmitter palsu menurunkan outflow
simpatis sehingga dapat menurunkan tonus simpatis.
Selama penggunaan obat ini, nadi harus selalu di awasi. Efek samping dapat
menyebabkan mulut kering, hipotensi ortostatik, dan mengantuk.
Contoh : Klonidin 0,1-0,6mg PO BID-TID

6. Vasodilator
Dengan cara kerja menyebabkan vasodilatasi langsung terhadap arteriol
melalui peningkatan cAMP intraselular.
Pada penggunaan obat ini nadi perlu diawasi karena dapat menyebabkan
dada berdebar dan retensi Na/air.
Hidralazine adalah suatu alternative pada gagal jantung bila penghambat
renin angiotensin system adalah kontraindikasi. Sedangkan Monoxidil bisa
dipertimbangkan pada pasien hipertensi resisten yang diobati dengan
beberapa obat.
Contoh : Hidralazine 20-400mg BID-QID, Minoxidil 2,5-40mg PO daily-BID.

7. Penghambat Alfa1
Dengan cara kerja menghambat reseptor post-sinaptik perifer sehingga
menyebabkan vasodilatasi.
Obat ini dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yang berat sehingga
sebaiknya diberikan sebagai obat tambahan apabila tekanan darah belum
terkontrol dengan kombinasi obat lain.
Saat ini ada beberapa kombinasi obat tetap antara amloditine dengan RAS
atau diuretic, dan BB dengan diuretik.
Contoh : Terazosin 1-20mg/hari dan Doxazosin 1-16mg/hari