Anda di halaman 1dari 6

Laporan PBL Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Modul Luka / Trauma

KELOMPOK 3A
Taufiq Ramadhan

1102100010

Nur Awaliya Fatimah

1102110014

Siti Masita Mokoagow

1102110015

Gusnina Octavianti

1102110046

Muhammad Nur Agung

1102110048

Yasser Zein Suweleh

1102110079

Karmila Nihaya

1102110080

Muhammad Husrang

1102110111

Luthfi Afiat

1102110112

A. Widana Iswara

1102110147

Tutor : dr. Willy, Sp.F

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

I. Skenario
Seorang wanita 58 tahun dibawa ke puskesmas dan diantar
oleh polisi. Ia ditemukan tidak sadar disebuah taman umum
dengan luka bagian depan kepalanya. Tidak ditemukan adanya
fraktur pada tulang tengkorak, dan tidak ada luka signifikan
lain yang ditemukan pada bagian tubuh yang lain. Barangbarang pribadinya masi berada ditempat yang seharusnya.
II. Kata sulit : III.Kata kunci
1. Wanita 58 tahun
2. Ditemukan tidak sadar disebuah taman
3. Luka dibagian depan kepala
4. Tidak ada fraktur pada tulang tengkorak
5. Tidak ada luka signifikan lain
6. Barang pribadi masi berada ditempat yang seharusnya
IV.Pertanyaan
1. Jelaskan patomekanisme luka/trauma menggunakan
pengetahuan tentang anatomi, histologi dan fisiologi
tubuh manusia !
2. Deskripsikan karakteristik luka !
3. Jelaskan karakteristik kemungkinan agen penyebab
luka !
4. Jelaskan keparahan/derajat luka sesuai dengan hukum
yang berlaku !
5. Jelaskan penyebab

cause of damage

yang paling

mungkin !
V. Jawaban
1. Patomekanisme luka :
Luka terjadi di mana adanya benda atau agen penyebab yang
mengakibatkan adanya rudapakasa mekanik, fisik, kimia, dan lain
lain pada jaringan tubuh. Jenis, ukuran dan letak luka tergantung dari
jenis agen penyebab luka. Pada skenario ini terdapat luka memar, luka
memar terjadi akibat adanya tekanan yang besar dalam waktu yang
singkat sehingga menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil
mengakibatkan perdarahan jaringan di bawah kulit atau organ

dibawahnya

menyebabkan

pecahnya

kapiler

sehingga

terjadi

penggumpalan darah dalam jaringan.


- Anatomi Kulit
Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi
stratum korneum yang ketebalannya bermacam-macam
pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada tumit dan
telapak tangan adalah yang paling tebal sementara
pada daerah yang terlindungi seperti skrotum dan
kelopak mata hanya pecahan dari millimeter. Berkaitan
dengan forensik pada perkiraan perlukaan penetrasi
pada kulit.
Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh
darah.

Lapisan

epidermis

umumnya

berkerut,

permukaan bawahnya terdiri dari papilla yang masuk ke


dalam dermis. Demis (korium) terdiri dari jaringan ikat
dengan adneksa kulit sperti folikel rambut, kelenjar
sebasea

dan

kelenjar

keringat.

Terdapat

banyak

pembuluh darah, saraf pembuluh limfe serta ujung saraf


taktil, tekan, panas.. bagian bawah dari dermis terdapat
jaringan adiposa dan (tergantung dari bagian tubuh)
fascia, jaringan lemak, dan otot yang berurutan di
bawahnya.
- Histologi
Lapisan kulit secara garis besar terdiri dari 3 lapisan yaitu
epidermis, dermis dan subkutis.
a) Lapisan Epidermis terdiri atas : stratum korneum yang
merupakan lapisan terluar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel
gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah
berubah menjadi keratin (zat tanduk), stratum lusidum
merupakan

lapisan

sel-sel

gepeng

tanpa

inti

dengan

protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut

eleidin, stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel


gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti
diantaranya, stratum spinosum yang terdiri atas beberapa lapis
sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda
karena adanya proses mitosis dan terdapat sel langerhans serta
mengandung banyak glikogen, stratum basale terdiri atas selsel berbentuk kubus(kolumner) dan melanosit.
b) Lapisan Dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh
lebih tebal dari epidermis. Dibagi menjadi 2 bagian yaitu pars
papilare yang menonjol ke epidermis, berisi ujung saraf dan
pembuluh darah, dan pars retikulare yaitu bagian di bawahnya
yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri atas
serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin,
dan retikulin.
c) Lapisan Subkutis dalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan
ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Terdapat ujungujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening.
- Fisiologi (ndak tauka)
2. Karakteristik Luka
a) Jumlah luka : 1 luka
b) Lokasi luka : di sekitar mata kanan
c) Ukuran luka : berdasarkan gambar, ukuran luka tidak dapat
ditentukan
d) Bentuk luka : Luka memar
e) Sifat luka :
- Batas luka : tepi tidak rata, batas tidak rata, tidak membentuk
-

celah
Luas dalam batas luka : tidak ada perdarahan aktif, ada bekuan
darah, tidak ada dasar luka, tebing luka tidak dapat dinilai, tidak

3.

terdapat jembatan jaringan.


Kemungkinan agen penyebab luka yaitu benda padat dan tumpul

4. Derajat Luka
1) Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan
penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi
pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1.
2) Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit
atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu.
Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1.
3) Luka berat / luka derajat III / luka golongan A
Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:
Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa

bahaya maut
Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban

selamanya
Hilangnya salah satu panca indra korban
Cacat besar
Terganggunya akan selama > 4 minggu
Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu

5. Multiple Cause of Damage dari skenario diatas :


A.1. Luka memar pada mata kanan
2. Kerusakan jaringan kulit
3. Benturan benda tumpul
B.

MEDIKOLEGAL
A. BENEFICENCE
Beneficence adalah prinsip moral yang mengutamakan tindakan yng
ditujukan

kebaikan

pasien

atau

penyediaan

keuntungan

dan

menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan resiko dan biaya. Dalam


beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan
perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya.
B. NON-MALEFICENCE
Prinsip non-maleficence adalah prinsip non-maleficience adalah prinsip
menghindari terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang
tindakan yang memperburuk keadaan pasien.
C. AUTONOMY
Autonomi adalah prinsip yang menghormati hak-hak pasien terutama
hak otonomi pasien dan merupakan kekuatan yang dimiliki pasien untuk
memutuskan suatu prosedur medis.
D. JUSTICE
Justice adalah prinsip moral yang mementingkn fairness dan keadilan
dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya atau
pendistribusian dari keuntungan biaya dan resiko secara adil.

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Pengantar Bioetika, Hukum Kedokteran dan Hak Asasi Manusia oleh
dr. Nasrudin A. Mappaware, Sp.OG.
2. Bahan ajar kuliah Medikolegal
3. Bahan ajar kuliah Bioetik, Humaniora dan Profesionalisme.