Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Uji keteratogenikan merupakan salah satu jenis uji ketoksikan khas. Uji

keteratogenikan

adalah uji ketoksikan suatu obat yang diberikan atau digunakan selama masa

organogenesis suatu hewan bunting. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah suatu obat dapat
menyebabkan kelainan atau cacat bawaan pada diri janin yang dikandung oleh hewan bunting, dan apakah
cacat tersebut berkerabat dengan dosis obat yang diberikan. Dengan demikian uji keteratogenikan
bermanfaat sekali sebagai landasan evaluasi batas aman dan resiko penggunaan suatu obat oleh wanita
hamil, utamanya berkaitan dengan cacat bawaan janin yang dikandungnya.
Pada praktikum uji keteratogenikan ini, akan dilakukan pengujian pemberian zat kimia yang
berupa alkohol 40% terhadap mencit (Mus musculus) dengan dosis yang berbeda-beda sehingga dapat
diketahui apakah cacat bawaan pada diri janin berkerabat dengan pemberian dosis obat (alkohol 40%)
yang diberikan. Selain itu, juga akan dilakukan pengamatan morfologi terhadap janin hasil uji
keteratogenikan apakah mengalami cacat bawaan atau tidak.
Melihat pentingnya uji ini, mahasiswa farmasis sebagai salah satu tenaga kesehatan harus memiliki
kemampuan dalam melakukan uji ini. Oleh karena itu dilakukanlah praktikum uji teratogenik dalam
praktikum toksikologi ini.
1.2

Permasalahan
Permasalahan dalam praktikum uji keteratogenikan ini adalah bagaimana memahami

uji keteratogenikan suatu bahan,bagaimana mengetahui bahan yang bersifat teratogenik


dan bagaimana mengetahui dampak teratogen terhadap perkembangan fetus.
1.3

Tujuan
Praktikum

ini

bertujuan

untuk

memahami

uji

keteratogenikan

suatu

bahan,mengetahui bahan yang bersifat teratogenik dan mengetahui dampak teratogen


terhadap perkembangan fetus.
1.4

Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari praktikum uji keteratogenikan ini adalah dapat

mengetahui bahan yang bersifat teratogenik dan mengetahui dampak teratogen terhadap
perkembangan fetus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teratogenesis
Teratologi merupakan cabang embrio yang khusus mengenai pertumbuhan struktural
yang abnormal luar biasa. Oleh pertumbuhan yang abnormal luar biasa itu lahir bayi atau
janin yang cacat. Bayi yang cacat hebat disebut monster. Pada orang setiap 50 kelahiran
hidup rata-rata 1 yang cacat. Sedangkan dari yang digugurkan perbandingan itu jauh lebih
tinggi. Perbandingan bervariasi sesuai dengan jenis cacat.
Teratogenesis adalah pembentukan cacat bawaan.Kelainan ini sudah diketahui
selama beberapa dasawarsa dan merupakan penyebab utama morbiditas serta mortilitas
pada bayi yang baru lahir. Setelah pembuahan, sel telur mengalami proliferasi sel,
diferensiasi sel, dan organogenesis. Embrio kemudian melewati suatu metamorfosis dan
periode perkembangan janin sebelum dilahirkan (Lu, 1995).
Banyak kejadian yang dikehendaki untuk perkembangan dari organisme baru yang
memiliki kesempatan besar dalam tindakan tersebut untuk menjadi suatu kesalahan. Pada
kenyataannya, kira-kira satu dari tiga kali keguguran embrio pada manusia, sering tanpa
diketahui oleh si Ibu bahwa dia sedang hamil. Perkembangan abnormal yang lain tidak
mencelakakan embrio tetapi kelainan tersebut akan berakibat pada anak. Kelainanan
perkembangan ada dua macam, yaitu: kelainan genetik dan kelainan sejak lahir. Kelainan
genetik dikarenakan titik mutasi atau penyimpangan kromosom dan akibat dari tidak ada
atau tidak tepatnya produk genetik selama meiosis atau tahap perkembangan. Down
syndrome hanyalah salah satu dari banyak kelainan genetik. Kelainan sejak lahir tidak
diwariskan melainkan akibat dari faktor eksternal, disebut teratogen, yang mengganggu
proses perkembangan yang normal. Pada manusia, sebenarnya banyak zat yang dapat
dipindahkan dari sang ibu kepada keturunannya melalui plasenta, yaitu teratogen potensial.
Daftar dari teratogen yang diketahui dan dicurigai meliputi virus, termasuk tipe yang
menyebabkan kasus penyakit campak Jerman, alkohol, dan beberapa obat, termasuk
aspirin (Harris, 1992).
Contoh daftar berikut :
Jenis cacat
Lobang antara atrium

Frekuensi
1:5

Cryptorchidisme
Sumbing
Albino
Hemophilia
Tak ada anggota

1 : 300
1: 1000
1 : 20.000
1 : 50.000
1 : 500.000
(Yatim, 1994).

Prosentase bagian tubuh yang sering terkena cacat adalah :


SSP (susunan saraf pusat)

60%

Saluran pencernaan

15%

Kardiovaskuler

10%

Otot dan kulit

10%

Alat lain

5%

Cacat yang sering juga ditemukan adalah sirenomelus (anggota seperti ikan duyung),
phocomelia, jari buntung, ada ekor, cretinisme, dan gigantisme (Yatim, 1994).
2.2 Faktor Teratogen
Faktor yang menyebabkan cacat ada dua kelompok, yaitu faktor genetis dan
lingkungan. Faktor genetis terdiri dari :
1.

Mutasi, yakni perubahan pada susunan nukleotida gen (ADN). Mutasi menimbulkan
alel cacat, yang mungkin dominan atau resesif.

2.

Aberasi, yakni perubahan pada sususnan kromosom. Contoh cacat karena ini adalah
berbagai macam penyakit turunan sindroma.

(Yatim, 1994)
Faktor lingkungan terdiri atas :
1.

Infeksi, cacat dapat terjadi jika induk yang kena penyakit infeksi, terutama oleh virus.

2.

Obat, berbagai macam obat yang diminum ibu waktu hamil dapat menimbulkan cacat
pada janinnya.

3.

Radiasi, ibu hamil yang diradiasi sinar-X , ada yang melahirkan bayi cacat pada otak.
Mineral radioaktif tanah sekeliling berhubungan erat dengan lahir cacat bayi di daerah
bersangkutan.

4.

Defisiensi, ibu yang defisiensi vitamin atau hormon dapat menimbulkan cacat pada janin
yang sedang dikandung.
Defisiensi

Cacat

Vitamin A
Vitamin B kompleks, C, D
Tiroxin

Tulang/rangka
Cretinisme

Somatrotopin
5.

Mata

Dwarfisme

Emosi, sumbing atau langit-langit celah, kalau terjadi pada minggu ke-7 sampai 10
kehamilan orang, dapat disebabkan emosi ibu.emosi itu mungkin lewat sistem hormon
(Yatim, 1994).

2.3 Alkohol
Alkohol adalah teratogen yang mampu secara langsung menginduksi kelainan
selama prenata yang dapat mengakibatkan cacat (Smith, 1997).Etanol mempengaruhi
sejumlah sistem, termasuk sistem endokrin ibu dan janin, ekspresi protein, dan
perkembangbiakan sel dan fungsi, dan dengan demikian kemungkinan bertindak melalui
lebih dari satu mekanisme.Etanol bebas melintasi plasenta dan karenanya dapat memberi
efek langsung pada sel-sel yang terlibat dalam pembangunan tulang.Etanol telah terbukti
dapat menghambat proliferasi dan diferensiasi osteoblas in vitro.Sehingga etanol dapat
memiliki efek langsung pada sel-sel yang terlibat dalam tulang pembangunan (Snow,
2006).
2.4 Nanas
Buah nanas (Ananas comosus) banyak mengandung zat gizi antara lain vitamin A,
kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), serta
enzim bromelin (bromelain) yang merupakan 95%-campuran protease sistein yang dapat
menghidrolisis protein (proteolisis) dan tahan terhadap panas. Bromelin adalah enzim
proteolitik eksogen golongan proteinase sistein yang banyak digunakan dalam industri
sebagai pelunak daging bersama dengan enzim papain dari tanaman pepaya.Tingkat
keempukan daging sebagian besar disebabkan oleh degradasi jaringan ikat. Enzim
bromelin menunjukkan aktivitas hidrolitik pada jaringan ikat terutama terhadap kolagen
dibandingkan terhadap protein myofibrilar yang lain. Aktivitas kolagenase bromelin
dengan menghidrolisis kolagen diduga melalui akumulasi hidroksiprolin.Kolagen yang
terhidrolisis oleh enzim bromelin membuat tubuh fetus menjadi sangat lunak. Kolagen
adalah protein yang ditemukan melimpah di seluruh tubuh hewan dan manusia. Sekitar 30

persen dari total protein dalam tubuh adalah kolagen. Kolagen ditemukan pada semua
jaringan ikat seperti dermis, tulang, tendon dan ligamen, yang memberikan integritas
struktural terhadap semua organ internal dan jaringan yang normal. Kolagen merupakan
komponen penting dalam jaringan ikat tubuh (Setyawati dan Yuhastuti, 2011).
2.5 Jenis Kecacatan
Cacat yang sering ditemukan ialah seperti:
Sirenomelus: anggota seperti ikan dayung, anggota belakang tidak ada, anggota
depan pendek.
Phocomelia: anggota seperti anjing laut, tangan dan kaki seperti sirip untuk

mendayung.
Polydactyly: berjari 6.
Syndactyly: berjari 4.
Jari buntung.
Tak berjari kaki dan tangan.
Adanya ekor.
Drawfisme: kerdil.
Cretinisme: cebol.
Gigantisme: raksasa.

Kecacatan ini terjadi karena beberapa hal, di antaranya yang penting adalah:
1.
2.
3.
4.

Gangguan pertumbuhan kuncup suatu alat (genesis).


Terhenti pertumbuhan di tengah jalan.
Kelebihan pertumbuhan.
Dan salah arah diferensiasi.
(Yatim, 1994).


BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat, Bahan, dan Cara Kerja


3.1.1 Alat
Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah bak (kandang), kawat kasa,

jarum kanui, botol kaca bermulut lebar, dissecting set, papan bedah, mikroskop stereo,
pipet,blender, dan saringan.
3.1.2

Bahan

Mencit (Mus musculus) albino jantan dan betina virgin umur antara 2-3 bulan,

alkohol 40% (Black Label), gliserin, buah nanas,etanol 96%, Alizarin Red, aquades, methylen
blue, garam fisiologis, KOH 1%, dan asam pikrat.
3.1.3 Cara Kerja
3.1.3.1 Pengawinan dan Penetapan Masa Hamil

Mencit yang akan digunakan diaklimatisasi terlebih dahulu kurang lebih selama 7
hari. Kemudian mencit betina diamati siklus estrusnya, jika telah berada dalam kondisi estrus
(siap kawin) maka dicampur dengan mencit jantan. Selanjutnya diamati tiap hari ada tidaknya
vagina plug pada mencit betina, jika ada maka hari tersebut ditetapkan sebagai hari ke nol
kehamilan.
3.1.3.2 Pemberian Dosis Bahan Teratogenik

Mencit betina yang hamil dicekoki dengan alkohol mulai hari kehamilan ke 6

sampai kehamilan ke 12. Dosis yang digunakan adalah 0,1 ml; 0,3 ml; atau 0,5 ml, sedangkan
dosis ekstrak nanas yang digunakan adalah 20%, 40% atau 60 % sebanyak 0,2 ml. Pencekokan
dilakukan dengan jarum kanul. Tiap perlakuan termasuk kontrol masing masing dengan 3
ulangan.Setelah hari kehamilan ke 18 mencit betina dimatikan dan embrio diambil untuk
diamati.
3.1.3.3 Pengamatan Fetus

Pengamatan terhadap fetus meliputi jumlah fetus seperindukan, mortalitas fetus,

berat fetus, panjang fetus, morfologi fetus, dan sistem rangka fetus. Pemeriksaan sistem rangka
(skeletal) dilakukan dengan pewarnaan Alizarin Red S. Untuk itu beberapa embrio masingmasing induk dipersiapkan untuk pembuatan preparat skeletal mengikuti teknik pewarnaan
Alizarin RedSyaitu embrio difiksasi dengan etanol absolut selama 2 hari, isi rongga perut dan

rongga dada dikeluarkan, embrio dimaserasi dengan KOH 1 % selama 2 hari sampai dagingnya
mengelupas dan nampak transparan.Dimasukkan embrio transparan ke dalam Alizarin Red S 1 %
dalam KOH 1 % selama 10 menit, dibilas dengan KOH 1 % sampai warna ungu pada selaput
transparan hilang, lalu dimasukkan embrio yang telah diwarnai itu berturut-turut ke dalam
campuran KOH gliserin (3:1, 1:1, 1:3) masing-masing selama 1 hari.Kemudian dimasukkan ke
dalam gliserin murni serta disimpan untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan dengan
mikroskop stereo. Data yang dikumpulkan berupa: penulangan sternum, vertebrata dan rusuk.


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Tabel Perlakuan dan Pengamatan

PERLAKUAN

Mencit diaklimatisasi terlebih dahulu. Pada

PENGAMATAN

mencit betina diamati siklus estrusnya, jika


telah berada dalam kondisi estrus, maka
dicampur dengan mencit jantan pada sore
hari. Diamati setiap hari vagina plug pada
mencit betina.

Mencit betina yang hamil dicekoki dengan

Pengamatan vaginal plug.

ekstrak nanas dengan dosis 60% sebanyak


0,2 ml mulai hari kehamilan ke-6 sampai ke12 dengan jarum kanul. Pencekokan ini
dilakukan setiap hari sebanyak satu kali.

Pencekokan mencit betina

Setelah hari kehamilan ke-18 mencit betina


dibedah untuk diambil fetusnya. Selanjutnya
dilakukan teknik pewarnaan Alizarin pada

dengan ekstrak nanas

Pembedahan mencit betina.

fetus.
Fetus difiksasi dengan etanol absolut selama

beberapa hari, isi rongga dada dan rongga


perutnya

dikeluarkan.

Kemudian

fetus

dimaserasi dengan KOH 1% selama 2 hari


hingga dagingnya terkelupas dan nampak
transparan.

Perendaman fetus dalam

Fetus dimasukkan ke dalam Alizarin Red S

KOH 1%.

0,1% dalam KOH 1% selama 10 menit.

Perendaman fetus dalam


Alizarin Red S 0,1% dalam
KOH 1% selama 10 menit.

Fetus dibilas dengan KOH 1% hingga warna

ungu pada selaput transparan hilang.

Pembilasan fetus dengan

Fetus

tersebut

yang

telah

diwarnai

KOH 1%.

dimasukkan ke dalam campuran KOH


gliserin 3:1 selama 1 hari, 1:1 selama 1 hari,
dan 1:3 selama 1 hari. Kemudian fetus
dimasukkan ke dalam gliserin murni dan
disimpan untuk pemeriksaan.

Larutan KOH dalam


gliserin dengan
perbandingan 3:1

Fetus direndam selama satu


hari dalam KOH gliserin
3:1.

Fetus direndam selama satu


hari dalam KOH gliserin

Fetus diambil dari gliserin murni dan

1:1.

diletakkan di cawan petri untuk diamati di


bawah mikroskop stereo. Setelah diletakkan
di

bawah

mikroskop,

tulang

sternae,

vertebrae, dan costae pada fetus diamati.

Pengamatan sternae, costae,


dan vertebrae fetus dengan
menggunakan mikroskop
stereo.

4. 2 Pembahasan

Dilakukan praktikum uji keteratogenikan ini bertujuan untuk memahami uji


keteratogenikan suatu bahan, mengetahui bahan yang bersifat teratogenik dan
mengetahui dampak teratogen terhadap perkembangan fetus. Hewan uji yang digunakan
dapat berupa mencit, tikus ataupun kelinci. Umumnya yang digunakan pada uji ini yaitu
tikus galur SD. Terdapat tiga tahap yang dilakukan dalam praktikum ini. Tahap pertama
adalah pengawinan dan penetapan masa hamil. Mencit yang akan digunakan percobaan,
diaklimatisasi terlebih dahulu selama tujuh hari, untuk membiasakan diri dengan
lingkungan baru agar tidak mudah stress nantinya. Kemudian mencit betina diamati
siklus estrusnya, jika telah berada dalam kondisi estrus, maka dicampur dengan mencit
jantan. Dilakukan pengawinan pada masa estrus karena pada masa ini mencit betina
berada dalam puncak birahinya, dimana sel telur yang diproduksi oleh ovarium sudah
matang dan siap untuk dibuahi. Kemudian diamati ada atau tidaknya vagina plug pada
mencit betina setiap harinya, agar dapat diketahui bahwa mencit jantan dan mencit betina
tersebut telah melakukan kopulasi. Jika ditemukannya ada vagina plug maka hari tersebut
ditetapakan sebagai hari ke nol kehamilan.

Tahap kedua adalah pemberian dosis bahan teratogenik. Mencit betina yang hamil
dicekoki dengan bahan teratogenik pada masa organogenesis yaitu mulai hari kehamilan
ke-6 sampai kehamilan ke-18 dengan dosis yang ditentukan. Organogenesis adalah
proses pembentukan organ atau alat tubuh. Pertumbuhan ini diawali dari pembentukan
embrio (bentuk primitif) menjadi fetus (bentuk definitif) kemudian berdiferensiasi
menjadi memiliki bentuk dan rupa yang spesifik bagi keluarga hewan dalam 1 spesies.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak teratogen yang diberikan
terhadap fetus mencit. Kemudian setelah hari kehamilan ke-18 mencit betina dimatikan
dan embrio diambil untuk diamati efek yang ditimbulkan oleh teratogen pada janin.

Parameter

Tahap ketiga adalah pengamatan fetus.Pengamatan terhadap fetus meliputi jumlah


fetus seperindukan, mortalitas fetus, berat fetus, panjang fetus, morfologi fetus, dan
sistem rangka fetus.Pemeriksaan sistem rangka (skeletal) dilkukan dengan pewarnaan

Alizarin Red S. Untuk itu beberapa embrio masing-masing induk dipersiapkan untuk
pembuatan preparat skeletal mengikuti teknik pewarnaan Alizarin Red S seperti berikut :
-

Embrio difiksasi dengan etanol absolut selama 2 hari, untuk memastikan semua aktifitas
seperti diferensiasi dan pembelahan yang ada dalam janin berhenti dan juga memastikan

tidak adanya mikroba pada janin yang memungkinkan terjadinya pembusukan.


Isi rongga perut dan rongga dada dikeluarkan.
Embrio dimaserasi dengan KOH 1% selama 2 hari sampai dagingnya mengelupas dan
nampak transparan (setiap hari larutan KOH diganti 2 kali). KOH berfungsi untuk

maserasi, yakni pelunakan pada jaringan otot (daging).


Dimasukkan embrio transparan kedalam Alizarin Red S 0,1% dalam KOH 1% selama 10
menit. Larutan Alizarin Red S berfungsi sebagai pewarna pada tulang keras (skeletal).
Menurut Setyawati dkk (2011),ruas tulang yang terwarnai Alizarin Red (merah) adalah

tulang rawan yang telah mengalami penulangan.


Dibilas dengan KOH 1% sampai warna ungu pada selaput transparan hilang.
Dimasukkan embrio yang telah diwarnai itu berturut-turut kedalam campuarn KOHgliserin (3:1, 1:1, 1:3) masing-masing selama 24 jam. Gliserin berfungsi sebagai larutan
pengawet. Perbeadaan perbandingan pada KOH-gliserin tiap harinya dilakukan agar
jaringan otot tidak terlepas secara serentak dan keseluruhan yang nantinya akan
menyebabkan kerusakan pada system rangka nya jika dosis yang diberikan mula-mula

terlalu tinggi.
Dimasukkan kedalam gliserin murni serta disimpan untuk pemeriksaan.
Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop stereo. Data yang dikumpulkan berupa
penulangan sternae, vertebrae dan costae.

Pengamatan pada fetus meliputi jumlah fetus seperindukan, motalitas fetus, berat

fetus, panjang fetus, morfologi fetus, dan sistem rangka fetus.


1.
2.
3.
4.
5.

Cephal (Kepala)
Sternae (Tulang Dada)
Costae (Tulang Rusuk)
Vertebrae (Tulang Belakang)
Costae yang mengalami malformasi

malformasi penulangan dapat disebabkan karena gangguan pada somit, chorda dorsalis,
dan diferensiasi skelerotom. Malformasi vertebrae yang utama terletak pada gangguan
proses segmentasi. Penggabungan dan kelainan pembentukan vertebrae yang disebabkan
karena gangguan somit terjadi pada awal perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA
Harris, C. L. 1992.Zoology. Harper Collins Publishers Inc: New York
Lu, F. C. 1995. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, dan Penilaian Resiko. UI-

PRESS: Jakarta
Santoso HB. 2006. Pengaruh Kafein terhadap Penampilan Reproduksi dan Perkembangan

Skeleton Fetus Mencit (Mus musculus L.).(Tesis). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Setyawati, Iriani dkk. 2011. Penampilan Reproduksi dan Perkembangan Skeleton

Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Buah Nanas Muda.Jurnal Veteriner Vol.

12 No. 3: 192-199

Smith, Susan M. 1997. Alcohol-Induced Cell Death in the Embryo. Alcohol health and
Research world Vol. 21, No. 4

Snow, Mary E. 2006. The Effectsof Prenatal Alcohol Exposure on Endochondral Bone
Development in the Fetal Rat. Columbia : The University of British Columbia

Yantrio A, Sugiyanto J, Aida Y. 2002. Efek Klorambusil terhadap Perkembangan Fetus


Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Strain Sprague Dowley. Jurnal Biota VII(3): 101-108.

Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Penerbit Tarsito

KESIMPULAN

Uji keteratogenikan adalah uji ketoksikan suatu obat yang diberikan atau digunakan selama

masa organogenesis suatu hewan bunting. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah suatu obat dapat
menyebabkan kelainan atau cacat bawaan pada diri janin yang dikandung oleh hewan bunting, dan apakah cacat
tersebut berkerabat dengan dosis obat yang diberikan. Bahan yang bersifat teratogen adalah ekstrak nanas dan
Black Label (alkohol 40%). Dampak teratogen berpengaruh pada perkembangan fetus berupa malformasi yaitu
organogenesis yang tidak sesuai dengan tempat dan bentuknya.

Lampiran 1

SKEMA KERJA

Pengawinan dan Penetapan Masa Bunting

Mencit ( Mus musculus )

diaklimatisasi terlebih dahulu kurang lebih 7 hari

diamati siklus estrus jika berada pada kondisi estrus maka dicampur
dengan mencit jantan dengan perbandingan 3 mencit betina : 1 mencit
jantan

diamati ada tidaknya vagina plug jika ada maka dihitung sebagai hari ke
nol kehamilan

Hasil

Pemberian Dosis

Mencit ( Mus musculus )

mencit betina yang hamil dicekoki dengan alkohol dan ekstrak nanas mulai
kehamilan ke-6 sampai kehamilan ke-12

digunakan dosis 0,1 ml; 0,3 ml; atau 0,5 ml, sedangkan dosis ekstrak nanas
yang digunakan adalah 20%, 40% atau 60 % sebanyak 0,2 ml

pencekokan digunakan jarum kanul setiap hari

setelah hari kehamilan ke-18 mencit betina dibedah dan diambil


embrionya

Hasil

Pengamatan fetus

Fetus mencit ( Mus musculus )

diamati jumlah fetus seperindukan, mortalitas fetis, berat fetus, panjang


fetus, sistem rangka, organ dalam

pemeriksaan sistem rangka dilakukan dengan pewarnaan Alizarin Reds

embrio dipersiapkan untuk pembuatan preparat skeletal

embrio difiksasi dengan etanol absolut selama 2 hari

dikeluarkan isi rongga peru dan rongga dada

dimaserasi embrio dengan KOH 1% selama 2 hari hingga dagingnya


mengelupas dan nampak transparan

dimasukkan embrio transparan dalam Alizarin RedS. 1% dalam KOH


selama 10 menit

dibilas dengan KOH 1% hingga berwarna ungu

dimasukkan embrio dalam campuran KOH gliserin selama 1 hari

dimasukkan dalam gliserin murni dan disimpan untuk pemeriksaan


menggunakan mikroskop stereo

diamati data berupa penulangan sternae,vertebrae(tulang belakang) dan


costae(rusuk)

Hasil

Lampiran 2
DISKUSI

Mengapa dalam uji keteratogenikan, sediaan uji harus diberikan pada masa
organogenesis hewan bunting?
Jawaban:
Sediaan uji harus diberikan pada masa organogenesis hewan bunting karena

pada saat

organogenesis lah dimulai fase terbentuknya organ-organ.Pada fase organogenesis pula


kepekaan akan teratogen cenderung besar jika dibandingkan dengan masa fetus.

Mengapa hewan yang dipilih harus memiliki daur estrus yang teratur, anak banyak
dan masih virgin serta memiliki masa laktasi yang pendek?
Jawaban:
Hewan yang dipilih harus memiliki daur estrus yang teratur karena denga begitu
penentuan waktu untuk kawin dapat ditentukan dengan tepat.Hewan uji harus memliki anak
banyak agar lebih banyak objek yang diamati sehingga didapatkan lebih dari 1
perbandingan.Hewan harus masih virgin agar dapat ditentukan fase estrusnya dengan lebih
tepat dan mudah.masa laktasi pendek karena dengan memiliki daur estrus yang teratur dapat
kita tentukan dengan tepat saat mencit tersebut siap untuk kawin dengan melihat apusan
vagina.

Mengapa masa bunting hewan uji harus diakhiri beberapa waktu sebelum masa
kelahiran normal dengan cara bedah caesar?
Jawaban:
Masa bunting hewan uji harus diakhiri beberapa waktu sebelum masa kelahiran normal
dengan cara bedah caesar agar kecacatannya lebih jelas terlihat.

Jelaskan tujuan, sasaran, manfaat uji keteratogenikan suatu obat?


Jawaban:
Tujuan dari uji teratogen

adalah untukmemahami uji keteratogenikan suatu

bahan,mengetahui bahan yang bersifat teratogenik dan mengetahui dampak teratogen


terhadap perkembangan fetus. Sasaran uji ini diberikan atau digunakan selama masa
organogenesis suatu jenis hewan bunting. Manfaat dari uji ini yaitu sebagai landasan evaluasi
batas aman dan resiko penggunaan sesautu obat oleh wanita hamil utamanya berkaitan
dengan cacat bawaan janin yang dikandungnya.

Lampiran 3
LEMBAR ASISTENSI TERATOGEN KELOMPOK 13
Berat Badan (gram)
J

a
1

0/20

12

31/1

1
1

8
2

4
2

0/20

12

Tang
gal

30/1

Kegiatan

Pengawinan mencit Sunny

dengan Mencit Bio


Pengawinan mencit Yoona
dengan mencit Olo

Penggantian sekam dan

pemberian makan minum


Penimbangan berat badan
Vaginal plug belum

Asis
ten

Mas
Yaya
n
Mas
Ada
m

ditemukan pada Yoona dan

Sunny
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

01/1

1/20

pemberian makan minum


Mencit Sunny hamil,

12

kemungkinan sudah

Ada
m

terbentuk vaginal plug tadi


-

pagi (H+1)
Pengawinan mencit Jessica

dan mencit Ogi pukul 17.20


Pembersihan kandang,

02/1

1/20

pemberian makan dan

12

03/1

minum
Penimbangan berat badan
H+1 Yoona
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

1/20

12

2
2

6
2

1
2

1/20

12

2
2

4
2

6
2

05/1

1/20

12

06/1

1/20

12

04/1

Mas

pemberian makan, minum

Mas
Ada
m

Mas
Ada
m

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Kemungkinan Jessica hamil

Mas
Ada
m

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Kemungkinan ketiga mencit
hamil

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pembuatan ekstrak nanas
Pencekokan mencit Sunny
dengan ekstrak nanas 60%
sebanyak 0,2 ml

Mas
Ada
m

Mas
Ada
m

07/1

1/20

12

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny
dengan ekstrak nanas 60%

sebanyak 0,2 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas
Ada
m

08/1

1/20

12

dengan ekstrak nanas 60%

5
-

sebanyak 0,2 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas
Ada

09/1
1/12

10/1
1/12

11/1
1/12

dengan ekstrak nanas 60%

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

Mas
Arif

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas
Ada

dengan ekstrak nanas 60%

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas
Ada

dengan ekstrak nanas 60%

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


0,5 ml

12/1
1/12

13/1
1/12

14/1
1/12

16/1

1/12

1/12

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas

dengan ekstrak nanas 60%

Ada

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas

dengan ekstrak nanas 60%

Ada

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas

dengan ekstrak nanas 60%

Ada

1
15/1

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Pencekokan mencit Sunny

Mas

dengan ekstrak nanas 60%

Ada

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label

pada mencit Jessica dosis


-

0,5 ml
Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan
pemberian makan, minum

Mas
Ada
m

Pencekokan mencit Sunny


dengan ekstrak nanas 60%

17/1
1/12

sebanyak 0,2 ml
Pencekokan Black Label
pada mencit Jessica dosis

0,5 ml
Pemisahan Yoona dengan

Ogi dan Jessica dengan Olo


Penimbangan berat badan
Penggantian sekam dan

pemberian makan, minum


Sunny dibedah tgl 18/11/12
Jessica stop pencekokan tgl

18/11/12
Pembedahan Jesica tgl

21/11/12
Yoona dibedah tgl 19/11/12
Pembedahan mencit Sunny

tidak ditemukan fetus


Jessica dilihat dulu

Mas
Ada
m

kenaikan berat badannya,


bila signifikan pembedahan
dilakukan hari Selasa, bila
1

18/1
1/12

M
a

t
i

tidak hari Rabu


Yoona ditungg hingga hari

Mas

Rabu, bila naik konstan

Ada

dilakukan pencekokan 6

Hari setelahnya, jika tidak


-

ditunggu hingga sabtu


Sunny tidak ada fetus,
kemungkinan jantannya
steril atau janin pada
betinanya gugur

19/1

1/12

Penimbangan berat badan


Penggantian sekam dan
pemberian makan, minum

Mas
Ada
m

20/1
1/12

29/1
1/12
30/1
1/12
02/1
2/12

5
1

8
2

Pembedahan pada mencit

Jessica dan Yoona


Tidak ditemukan fetus pada
kedua mencit

Pewarnaan fetus dengan

alizarin red
Pemindahan ke

KOH:Gliserin = 3:1
Pemindahan fetus ke

KOH:Gliserin = 1:1
-

Pemindahan fetus ke
gliserin murni

Mas
Ada
m
Mas
Ada
m
Mas
Ada
m
Mas
Ada
m