Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

OLEH :
AHMAD SAFRI SAM
142004

PRODI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN GUNUNG SARI MAKASSAR
2016
ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Abses
dengan baik dan tepat waktu. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak lepas dari
bimbingan dan dukungan dari semua pihak, maka dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah membantu penyusun dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penyusun
mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Akhir kata teriring dengan Doa semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, khususnya maupun para pembaca
umumnya.

Makassar 28 Juni 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

HALAMAN JUDUL.........................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................

DAFTAR ISI......................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..................................................................

A. Latar Belakang.......................................................................
B. Rumusan Masalah..................................................................
C. Tujuan Penulisan....................................................................

4
4
4

BAB II KONSEP MEDIS ABSES..................................................

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN.............................

16

BAB V PENUTUP............................................................................

31

A. Kesimpulan ...........................................................................
B. Saran......................................................................................

31
31

DAFTAR PUSTAKA........................................................................

32

BAB I
PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

A. Latar Belakang
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)
yang terakumulasi disebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh
bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru,
atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk
mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian lain dari tubuh.
Organisme atau benda asing membunuh sel-sel lokal yang pada akhirnya
menyebabkan

pelepasan sitokin. Sitokin tersebut

memicu

sebuah

respon inflamasi

(peradangan), yang menarik kedatangan sejumlah besar sel-sel darah putih (leukosit) ke
area tersebut dan meningkatkan aliran darah setempat. Struktur akhir dari
suatu abses adalah dibentuknya

dinding abses, atau kapsul, oleh sel-sel sehat

disekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah nanah menginfeksi struktur lain di
sekitarnya. Meskipun demikian, seringkali proses enkapsulasi tersebut justru cenderung
menghalangi sel-sel imun untuk menjangkau penyebab peradangan (agen infeksi atau
benda asing) dan melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam nanah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medis dari penyakit abses ?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari penyakit abses ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui konsep medis penyakit abses.
2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan penyakit abses.

BAB II
KONSEP MEDIS
A. Defenisi Abses
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh
bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau
jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi kulit dan
subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.(Siregar, 2004).
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi
yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan
nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik. (Morison, 2003)
Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik mata, yang kemudian pecah;
rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan parut
yang kecil. (Underwood, 2000)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah suatu infeksi kulit
yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya benda asing (misalnya luka
peluru maupun jarum suntik) dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari
jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik.
B. Anatomi Fisiologi
Sistem integument merupakan bagian dari tubuh manusia, khususnya organ yang
menutupi permukaan atau bagian luar tubuh manusia yang sering disebut kulit. Kulit
merupakan organ yang paling besar pada tubuh manusia dan terletak paling luar sehingga
mudah mengalami trauma atau terkontaminasi oleh mikroorganisme serta mudah dilihat
individu maupun orang lain. Kulit merupakan jalinan pembuluh darah, saraf, dan kelenjar
yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk terserang penyakit. Luas kulit
orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% dari berat badan. Secara mikroskopis,
struktur kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan
subkutis.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

1. Lapisan epidermis
Lapisan epidermis adalah lapisan paling atas dari kulit serta tidak
mengandung pembuluh darah dan saraf. Tebalnya di kulit biasa 0, 3 mm, Ditelapak
tangan dan kaki tebalnya 1.5 mm. Waktu yang diperlukan dari lapisan yang paling
bawah menjadi paling luar 30 hari.
Bagian-bagian lapisan epidermis:
a. Stratum corneum
Adalah lapisan tanduk yang berada paling luar, terdiri atas beberapa lapis
sel gepeng yang mati dan tidak berinti dan mengandung zat keratin.
b. Stratum lucidum
Adalah lapisan yang terdapat langsung dibawah laisan korneum,
merupakan lapisan selgepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein yang disebut eleidin.
c. Stratum Granulosum
Merupakan lapisan epidermis yang mempunyai fungsi penting dalam
pembentukan protein dan ikatan kimia stratum korneum. selnya gepeng,berinti
dan protoplasma berbutir besar.
d. Stratum Spinosum
Adalah lapisan yang mengalami prose mitosis. Protoplasmanya jernih
karena mengandung glikogen dan inti selnya di tengah-tengah. Sel bentuk dan
besarnya berbeda karena proses mitosis.
e. Stratum basale
Merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Terdiri atas sel-sel
berbentuk kubus (kolumnar) yang berbaris seperti pagar (palisade). Didalam
lapisan ini terdapat melanosit, sel pembentuk melanin (melanosit) merupakan selsel berwarna muda mengandung pigmen-pigmen melanosom.
2. Lapisan dermis
Adalah lapisan kulit di bawah epidermis yang terbagi menjadi dua bagian,
yaitu:
a. Pars Papilaris (Stratum Papilar)
Yaitu bagian yang menonjol ke epidermis. Bagian ini berisi ujung serabut
saraf dan pembuluh darah yang menyokong dan member nutrisi pada
epidermis. Lapisan papila hampir tidak mengandung jaringan ikat, memiliki
serabut kolagen yang tipis. Lapisan ini dikenal dengan lapisan subepitel karena
dibawah lapisan epitel epidermis. Lapisan ini disebut juga lapisan papila karena
terdapat papila (kecil, seperti jari-jari) yang berikatan dengan epidermis.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

Kebanyakan papila mengandung kapiler untuk memberi nutrisi pada epidermis.


Papila dengan serabut dobel ditelapak tangan dan kaki membentuk sidik jari.
b. Pars Retikularis (Stratum Retikularis),
Lapisan retikuler terdiri dari jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang
kasar dan berkas serabut yang saling bersilangan membentuk seperti jaring. Garisgaris serabut tersebut membentuk Cleavage yang penting dalam proses
pembedahan. Sayatan bedah yang memotong garis cleavage lebih sulit sembuh
daripada yang paralel dengan garis ini. Lapisan reticular sangat banyak
mengandung pembuluh darah, syaraf, ujung-ujung syaraf bebas, sel-sel
adiposa(lemak), kelenjar minyak dan akar rambut, reseptor untuk tekanan dalam.
Bagian terbawah lapisan ini mengandung serabut otot polos (khususnya didada
dan putting susu genital) dan folikel rambut.
Disekitar pembuluh darah yang kecil terdapat limfosit, histiosit, sel mast,
dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. di
samping itu, di dalam lapisan dermis juga terdapat akar rambut dan kelenjar
keringat.
Ada dua macam kelenjar keringat, yaitu:
a. Kelenjar ekrin, yang berukuran kecil, terletak di bagian dangkal dermis
dengan secret yang encer. Kelenjat ini langsung bermuara di permukaan kulit.
kelenjat ini terdapat di seluruh permukaan kulit, terbanyak pada bagian dahi,
tangan, kaki, dan aksila.
b. kelenjar apokrin, yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih
kental. kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenargi, terdapat di aksila,
aerola mammae, pubis, labia minora dan saluran telinga luar.
Manusia memiliki dua jenis rambut, yaitu:
a. Rambut lanugo, denagn ciri pendek, tidak berpigmen, halus, dan akarnya di
dalam dermis. Contohnya, rambut yang ada di pipi, rambut yang ada pada
tubuh bayi (biasnya akan hilang setelah lahir).
b. Rambut terminal, dengan ciri lebih panjang, lebih kasar, berpigmen,
berkumpul di daerah tertentu, dan akarnya di dalam subkutis. rambut ini
memiliki siklus pertumbuhan yang lebih cepat, kurang lebih 1 cm per bulan
(mis, rambut kepala).
3. Lapisan subkutis
Lapisan hypodermis atau lapisan subkutan terdiri dari jaringan adipose,
banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan syaraf juga terdapat

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

gulungan kelenjar keringat dan dasar dari folikel rambut. Tidak seperti epidermis dan
dermis, batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas.Pada bagian yang banyak bergerak
jaringan hipodermis kurang, pada bagian yan melapisi otot atau tulang mengandung
anyaman serabut yang kuat. Pada area tertentu yng berfungsi sebagai bantalan
(payudara dan tumit) terdapat lapisan sel-sel lemak yang tipis. Distribusi lemak pada
lapisan ini banyak berperan dalam pembentukan bentuk tubuh terutama pada wanita.
4. Fungi kulit
Kulit memiliki banyak fungsi diantaranya dalah:
a. Menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya.
b. Melindungi tubuh dari masuknya mikroorganisme dan benda asing yang dapat
membahayakan tubuh. Fungsi ini merupakan fungsi perlindungan pasif. Selain
fungsi perlindungan pasif, lapisan dermis berperan dalam proses menyiapkan
limfosit yang di produksi oleh sumsum tulang sebelum benar-benar dipakai
untuk menyerang berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Peran kulit
dalam hal ini merupakan peran aktif dalam perlindungan tubuh.
c. Pengaturan suhu. Kulit, jaringan sub kutan dan lemak merupakan penyekat
panas dari tubuh. Lemak menyalurkan panas sepertiga kecepatan jaringan lain
atau dalam kata lain lemak menghambat pengeluaran panas dari tubuh. .
Kecepatan aliran darah ke kulit menyebabkan konduksi panas sangat efisien.
Konduksi panas ke kulit diatur oleh sistem syaraf simpatis. Syaraf simpatis
mengatur kecepatan lairan darah dengan menstimulasi vaso konstriksi dan
vaso dilatasi.
d. Ekskresi: Melalui perspirasi/berkeringat, membuang sejumah kecil urea.
e. Sintesis: Konversi 7-dehydrocholesterol menjadi Vit D3(cholecalciferol)
dengan bantuan sinar U.V. Kekurangan UV dan Vit D mengakibatkan absorpsi
Ca dari intestinal ke darah menurun.
f. Sensori persepsi: mengandung reseptor terhadap panas, dingin, nyeri,
sentuhan /raba, tekanan. Juga mengandung ujung-ujung syaraf bebas yang
berfungsi sebagai homeostatis.
C. Klasifikasi Abses
Ada dua jenis abses, septik dan steril.
1. Abses septic
Kebanyakan abses adalah septik, yang berarti bahwa mereka adalah hasil dari
infeksi. Septic abses dapat terjadi di mana saja di tubuh. Hanya bakteri dan respon
kekebalan tubuh yang diperlukan. Sebagai tanggapan terhadap bakteri, sel-sel darah

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

putih yang terinfeksi berkumpul di situs tersebut dan mulai memproduksi bahan
kimia yang disebut enzim yang menyerang bakteri dengan terlebih dahulu tanda dan
kemudian mencernanya. Enzim ini membunuh bakteri dan menghancurkan mereka ke
potongan-potongan kecil yang dapat berjalan di sistem peredaran darah sebelum
menjadi dihilangkan dari tubuh. Sayangnya, bahan kimia ini juga mencerna jaringan
tubuh. Dalam kebanyakan kasus, bakteri menghasilkan bahan kimia yang serupa.
Hasilnya adalah tebal, cairan-nanah kuning yang mengandung bakteri mati, dicerna
jaringan, sel-sel darah putih, dan enzim.
Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan
proses yang disebut peradangan. Awalnya, seperti bakteri mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh, beberapa kejadian terjadi:
Darah mengalir ke daerah meningkat.
Suhu daerah meningkat karena meningkatnya pasokan darah.
Wilayah membengkak akibat akumulasi air, darah, dan cairan lainnya.
Ternyata merah.
Rasanya sakit, karena iritasi dari pembengkakan dan aktivitas kimia.
Keempat tanda-panas, bengkak, kemerahan, dan sakit-ciri peradangan. Ketika
proses berlangsung, jaringan mulai berubah menjadi cair, dan bentuk-bentuk abses.
Ini adalah sifat abses menyebar sebagai pencernaan kimia cair lebih banyak dan lebih
jaringan. Selanjutnya, penyebaran mengikuti jalur yang paling resistensi, umum,
jaringan yang paling mudah dicerna. Sebuah contoh yang baik adalah abses tepat di
bawah kulit. Paling mudah segera berlanjut di sepanjang bawah permukaan daripada
bepergian melalui lapisan terluar atau bawah melalui struktur yang lebih dalam di
mana ia bisa menguras isi yang beracun. Isi abses juga dapat bocor ke sirkulasi umum
dan menghasilkan gejala seperti infeksi lainnya. Ini termasuk menggigil, demam,
sakit, dan ketidaknyamanan umum.
2. Abses steril
Abses steril kadang-kadang bentuk yang lebih ringan dari proses yang sama
bukan disebabkan oleh bakteri, tetapi oleh non-hidup iritan seperti obat-obatan. Jika
menyuntikkan obat seperti penisilin tidak diserap, itu tetap tempat itu disuntikkan dan
dapat menyebabkan iritasi yang cukup untuk menghasilkan abses steril. Seperti abses
steril karena tidak ada infeksi yang terlibat. Abses steril cukup cenderung berubah

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

menjadi keras, padat benjolan karena mereka bekas luka, bukan kantong-kantong sisa
nanah.
Menurut Letaknya abses dibedakan menjadi:
1. Abses Ginjal
Abses ginjal yaitu peradangan ginjal akibat infeksi.Ditandai dengan pembentukan
sejumlah bercak kecil bernanah atau abses yang lebih besar yang disebabkan oleh infeksi
yang menjalar ke jaringan ginjal melalui aliran darah.
2. Abses Perimandibular
Bila abses menyebar sampai di bawah otot-otot pengunyahan, maka akan timbul
bengkak-bengkak yang keras, di mana nanah akan sukar menembus otot untuk keluar,
sehingga untuk mengeluarkan nanah tersebut harus dibantu dengan operasi pembukaan
abses.
3. Abses Rahang gigi
Radang kronis, yang terbungkus dengan terbentuknya nanah pada ujung akar gigi
atau geraham.Menyebar ke bawah selaput tulang (sub-periostal) atau di bawah selaput
lendir mulut (submucosal) atau ke bawah kulit (sub-cutaneus).Nanah bisa keluar dari
saluran pada permukaan gusi atau kulit mulut (fistel).Perawatannya bisa dilakukan
dengan mencabut gigi yang menjadi sumber penyakitnya atau perawatan akar dari gigi
tersebut.
4. Abses Sumsum Rahang
Bila nanah menyebar ke rongga-rongga tulang, maka sumsum tulang akan terkena
radang (osteomyelitis). Bagian-bagian dari tulang tersebut dapat mati dan kontradiksi
dengan tubuh. Dalam hal ini nanah akan keluar dari beberapa tempat (multiple fitsel).
5. Abses dingin (cold abcess)
Pada abses ini, karena sedikitnya radang, maka abses ini merupakan abses
menahun yang terbentuk secara perlahan-lahan.Biasanya terjadi pada penderita
tuberkulosis tulang, persendian atau kelenjar limfa akibat perkijuan yang luas.
6. Abses hati
Abses ini akibat komplikasi disentri amuba (Latin: Entamoeba histolytica), yang
sesungguhnya bukan abses, karena rongga ini tidak berisi nanah, melainkan jaringan
nekrotik yang disebabkan oleh amuba. Jenis abses ini dapat dikenali dengan
ditemukannya amuba pada dinding abses dengan pemeriksaan histopatologis dari
jaringan.
7. Abses (Lat. abscessus)

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

10

Rongga abnormal yang berada di bagian tubuh, ketidaknormalan di bagian tubuh,


disebabkan karena pengumpulan nanah di tempat rongga itu akibat proses radang yang
kemudian membentuk nanah. Dinding rongga abses biasanya terdiri atas sel yang telah
cedera, tetapi masih hidup.Isi abses yang berupa nanah tersebut terdiri atas sel darah
putih dan jaringan yang nekrotik dan mencair. Abses biasanya disebabkan oleh kuman
patogen misalnya: bisul.
D. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara:
1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak
steril.
2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain.
3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :
1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi.
2. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang.
3. Terdapat gangguan sistem kekebalan
Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus
E. Patofisiologi
Jika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi suatu infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang
terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi,
bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati,
sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.
Jaringan

pada

akhirnya

tumbuh

di

sekeliling

abses

dan

menjadi

dinding pembatas.Abses dalam hal ini merupakan mekanisme tubuh mencegah


penyebaran infeksi lebih lanjut.Jika suatu abses pecah di dalam tubuh, maka infeksi bisa
menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi
abses (Utama, 2001).

F. Manifestasi Klinis

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

11

Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum,
danotot.Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika
timbul diwajah.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengakakan
5. Kemerahan
6. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai benjolan.
Adapun lokasi abses antaralain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah,
maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses
di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih
besar.Paling sering, abses akan menimbulkan nyeri tekan dengan massa yang berwarna
merah, hangat pada permukaan abses , dan lembut.
Abses yang progresif, akan timbul

titik pada

kepala abses sehingga Anda

dapat melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan terbuka (pecah).
Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi dapat menyebar
ke jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.
Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin mengalami
demam dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih menyebarkan infeksi
keseluruh tubuh.
G. Pemeriksaan Diagnostik
Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam
seringkali sulit ditemukan. Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah
menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dan lokasi
abses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen, USG, CT scan atau MRI.
H. Komplikasi
Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke jaringan sekitar atau
jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (gangren). Pada
sebagian besar bagian tubuh, abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga
tindakan medis secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

12

Suatu abses dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal.Meskipun jarang, apabila abses
tersebut mendesak struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang dapat menekan
trakea. (Siregar, 2004)
I. Penatalaksanaan Medis
1. Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik.
Namun

demikian,

kondisi

tersebut

butuh

ditangani

dengan

intervensi

bedah,debridemen, dan kuretase. hal yang sangat penting untuk diperhatikan bahwa
penanganan hanya dengan menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan
jarang merupakan tindakan yang efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering
tidak mampu masuk ke dalam abses, selain bahwa antibiotik tersebut seringkali tidak
dapat bekerja dalam pH yang rendah.
2. Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,
utamanya apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus
diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong
dan diambil absesnya, bersamaan dengan pemberian obat analgesik dan mungkin
jugaantibiotik.
3. Drainase abses dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang
lebih lunak.
4. Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis, tindakan
pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan terakhir yang perlu
dilakukan.
5. Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik
antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering

digunakan.

Dengan

adanya kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA) yang didapat


melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk menangani
MRSA

yang

didapat

melalui

komunitas,

digunakan

antibiotik

lain: clindamycin,trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.


Adapun hal yang perlu diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan tindakan
yang efektif.Haltersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke dalam
abses, selain itu antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang
rendah.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

13

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses
yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001, hal.17).

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

14

Menurut Smeltzer & Bare (2001), Pada pengkajian keperawatan, khususnya sistem
integumen, kulit bisa memberikan sejumlah informasi mengenai status kesehatan seseorang
dan merupakan subjek untuk menderita lesi atau terlepas. Pada pemeriksaan fisik dari ujung
rambut sampai ujung kaki, kulit merupakan hal yang menjelaskan pada seluruh pemeriksaan
bila bagian tubuh yang spesisifik diperiksa.Pemeriksaan spesifik mencakup warna, turgor,
suhu, kelembaban, dan lesi atau parut. Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Riwayat Kesehatan
Hal hal yang perlu dikaji di antaranya adalah :
a. Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses dalam
seringkali sulit ditemukan.
b. Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak steril atau terkena peluru.
c. Riwayat infeksi ( suhu tinggi ) sebelumnya yang secara cepat menunjukkan rasa sakit
diikuti adanya eksudat tetapi tidak bisa dikeluarkan.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
a. Luka terbuka atau tertutup
b. Organ / jaringan terinfeksi
c. Massa eksudat dengan bermata
d. Peradangan dan berwarna pink hingga kemerahan
e. Abses superficial dengan ukuran bervariasi
f. Rasa sakit dan bila dipalpasi akan terasa fluktuaktif.
3. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
a. Hasil pemeriksaan leukosit menunjukan peningkatan jumlah sel darah putih.
b. Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dilakukan pemeriksaan rontgen, USG,
CT, Scan, atau MRI.
Data tergantung pada tipe,lokasi,durasi dari proses infektif dan organ-organ yang terkena
1. Aktifitas / istirahat
Gejala :
Malaise
2. Sirkulasi
Tanda :
Tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal (selama curah
jantung tetap meningkat). Denyut perifer kuat, cepat (perifer hiperdinamik);
lemah/lembut/mudah hilang, takikardi ekstrem (syok). Suara jantung : disritmia dan
perkembangan

S3

dapat

mengakibatkan

disfungsi

miokard,

efek

dari

asidosis/ketidakseimbangan elektrolit. Kulit hangat, kering, bercahaya (vasodilatasi),


pucat, lembab, burik (vasokonstriksi).
3. Eliminasi
Gejala :
Diare
4. Makanan/cairan

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

15

Gejala :
Tanda :

Anoreksia, mual, muntah.


Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/masa otot (malnutrisi).

Penurunan haluaran, konsentrasi urine; perkembangan ke arah oliguria, anuria.


5. Neurosensori
Gejala :
Sakit kepala, pusing, pingsan.
Tanda :
Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma
6. Nyeri I/kenyamanan
Gejala :
Kejang abdominal, lokalisasi nyeri/ketidaknyamanan, urtikaria, pruritus
umum.
7. Pemafasan
Tanda :

Takipnea

dengan

penurunan

kedalaman

pemafasan,

penggunaan

kortikosteroid, infeksi baru, penyakit viral.


Tanda :
Suhu umumnya meningkat (37,95C atau lebih) tetapi mungkin normal
pada lansia mengganggu pasien, kadang sub normal (dibawah 36,5C), menggigil, luka
yang sulit/lama sembuh, drainase purulen, lokalisasi eritema, ruam eritema makuler.
8. Sexualitas
Gejala :
Perineal pruritus, baru saja menjalani kelahiran/aborsi
Tanda :
Maserasi vulva, pengeringan vaginal purulen.
9. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala :
Masalah kesehatan kronis/melemahkan misal: DM, kanker, hati, jantung,
ginjal, kecanduan alkohol. Riwayat splenektomi. Baru saja menjalani operasi prosedur
invasive, luka traumatik.
10. Pertimbangan :
Menunjukan lama hari rawat 7,5 hari.
11. Rencana pemulangan :
Mungkin dibutuhkan bantuan dengan perawatan/alat dan
bahan untuk luka, perawatan, perawatan diri, dan tugas-tugas rumah tangga
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman
2. Nyeri akut
3. Resiko infeksi
4. Hipertermi
5. Ansietas
C. Intervensi Keperawatan
N
O
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN DAN KRITERIA

INTERVENSI

HASIL
Gangguan rasa nyaman
Definisi : Merasa kurang senang, lega,
dan sempurna dalam dimensi fisik,
psikospiritual, lingkungan dan social.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

NOC
-

NIC
Ansiety
Anxiety Reduction (Penurunan
Fear leavel
Kecemasan ):
Sleep deprivation
Comfort, Readnies for
- Gunakan pendekatan yang

16

Batasan karakteristik :

Enchanced

Ansietas
Kriteria Hasil
Menangis
- Mampu
mengontrol
Gangguan pola tidur
Takut
kecemasan
Ketidakmampuan untuk rileks
- Status lingkungan yang
Iritabilitas
nyaman
Merintih
- Mengontrol nyeri
Melaporkan merasa dingin
- Kualitas tidur dan
Melaporkan merasa panas
Melaporkan perasaan tidak
istirahat adekuat
- Agresi pengendalian
nyaman
- Melaporkan gejala distress
diri
- Melaporkan rasa lapar
- Respon
terhadap
- Melaporkan rasa gatal
pengobatan
- Melaporkan kurang puas dengan
- Control gejala
keadaan
- Status
kenyamanan
- Melaporkan kurang senang
meningkat
dengan situasi tersebut
- Dapat
mengontrol
- Gelisah
ketakutan
- Berkeluh kesah
- Support social
Factor yang berhubungan
- Keinginan untuk hidup
-

mengganggu
Efek samping terkait terapi

jelas

harapan terhadap pelaku


-

pasien
Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan

selama prosedur
Pahami prespektif pasien

terhadap situasi stress


Temani
pasien
untuk
memberikan keamanan dan

mengurangi takut
Dorong keluarga

menemani anak
Lakukan back/neck rub
Dengarkan dengan penuh

perhatian
Identifikasi

kecemasan
Bantu pasien

Gejala terkait penyakit


Sumber yang tidak adekuat
Kurang
pengendalian
lingkungan
Kurang privasi
Kurang control situasional
Stimulasi lingkungan yang

menenangkan
Nyatakan dengan

untuk

tingkat
mengenal

situasi yang menimbulkan


-

kecemasan
Dorong
pasien

untuk

mengungkapkan
perasaan,ketakutan,perseps
-

(mis. Medikasi, radiasi)


-

i
Instruksikan

pasien

menggunakan

teknik

relaksasi
Berikan

untuk

obat

mengurangi kecemasan
Environment
Confort
Pain Management

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

17

Management

2.

Nyeri akut
Definisi

NOC :
:

Sensori

menyenangkan

yang

dan

tidak

atau potensial kerusakan jaringan atau


(Asosiasi

Pain

control,
Comfort level

Studi
atau

sampai

yang

mampu

mengurang

dapat

diantisipasi dengan

akhir yang dapat diprediksi dan dengan


durasi
Batasan karakteristik :

Laporan secara verbal atau non

nyeri (skala, intensitas,


frekuensi

verbal.
Fakta dari observasi.
Posisi
antalgic

menghindari nyeri.
Gerakan melindungi.
Tingkah laku berhati-hati.
Muka topeng.
Gangguan tidur (mata sayu,

untuk

nyeri).
Menyatakan

proses
interaksi
-

waktu,

kerusakan

berpikir,

penurunan

dengan

orang

untuk
-

dan

terapeutik
mengetahui

pengalaman nyeri pasien.


Kaji
kultur
yang
mempengaruhi

respon

nyeri.
Evaluasi pengalaman nyeri

masa lampau.
Evaluasi bersama pasien
dan tim kesehatan lain
tentang

rasa
-

berkurang.
-

ketidakefektifan

kontrol nyeri masa lampau.


Bantu pasien dan keluarga
untuk

mencari

dan

menemukan dukungan.
Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti

suhu

pencahayaan

lingkungan).
Tingkah laku distraksi, contoh :

18

ruangan,
dan

kebisingan.
Kurangi faktor presipitasi

nyeri.
Pilih

dan

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

kualitas

komunikasi

kacau, menyeringai).
Terfokus pada diri sendiri.
Fokus menyempit (penurunan
persepsi

durasi,

tanda

nyaman setelah nyeri

tampak capek, sulit atau gerakan


-

dan

karakteristik,

dari ketidaknyamanan.
Gunakan
teknik

mencari bantuan).
Melaporkan
bahwa

manajemen nyeri.
Mampu
mengenali

lokasi,

dengan menggunakan

kurang dari 6 bulan.

termasuk

factor presipitasi.
Observasi reaksi nonverbal

tehnik

berkurang

komprehensif

frekuensi,

nyeri,

nyeri

Lakukan pengkajian nyeri


secara

nonfarmakologi untuk
berat

mengontrol

menggunakan

pelan

intensitasnya dari
ringan

Mampu
nyeri,

mendadak

Pain

nyeri (tahu penyebab

Nyeri

Internasional):
serangan

Level,

Kriteria Hasil :
-

menggambarkan adanya
kerusakan

pengalaman

emosional yang muncul secara actual

Pain Management

dan

lakukan

penanganan

nyeri

jalan-jalan, menemui orang lain

(farmakologi,

dan/atau

farmakologi

aktivitas,

aktivitas

berulang-ulang).
Respon
autonom

(seperti

diaphoresis, perubahan tekanan

dan dilatasi pupil)


Perubahan autonomic

dalam

tonus

dalam

otot

rentang dari lemah ke kaku).


Tingkah laku ekspresif (contoh :
gelisah,

merintih,

waspada,
-

(mungkin

iritabel,

dan

menangis,
nafas

inter

personal).
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk

darah, perubahan nafas, nadi

non

menentukan

intervensi.
Ajarkan tentang teknik non

farmakologi.
Berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri.
Evaluasi
keefektifan

kontrol nyeri.
Tingkatkan istirahat.
Kolaborasikan
dengan

panjang/berkeluh kesah).
Perubahan dalam nafsu makan

dokter jika ada keluhan


dan tindakan nyeri tidak

dan minum.
Faktor yang berhubungan:

Agen injuri (biologi, kimia, fisik,

berhasil.
Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

psikologis)

Analgesic Administration
-

Tentukan

lokasi,

karakteristik,

kualitas,

dan derajat nyeri sebelum


-

pemberian obat.
Cek
instruksi

dokter

tentang jenis obat, dosis,


-

dan frekuensi.
Cek riwayat alergi.
Pilih
analgesic

yang

diperlukan

atau

kombinasi

dari analgesik

ketika pemberian lebih dari


-

satu.
Tentukan pilihan analgesik
tergantung

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

19

tipe

dan

beratnya nyeri.
Tentukan

analgesik

pilihan, rute
-

pemberian,

dan dosis optimal.


Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan

nyeri secara teratur.


Monitor
vital
sebelum

dan

pemberian
-

sign

sesudah
analgesik

pertama kali.
Berikan analgesik

tepat

waktu terutama saat nyeri


-

hebat.
Evaluasi
analgesik,

efektivitas
tanda

dan

gejala (efek samping).


3.

Resiko infeksi
Definisi : Peningkatan resiko masuknya
organism patogen
Faktor-faktor resiko :
-

Prosedur Infasif
Ketidakcukupan pengetahuan
untuk menghindari paparan

pathogen
Trauma
Kerusakan jaringan dan

peningkatan paparan lingkungan


Ruptur membran amnion
Agen farmasi (imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan paparan

lingkungan pathogen
Imonusupresi

NOC :

NIC :

Immune Status
Knowledge : Infection

control
Risk control

Kriteria Hasil :

Infection Control (Kontrol


infeksi)
-

Bersihkan lingkungan
setelah dipakai pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila
perlu
Instruksikan pada

Klien bebas dari tanda

dan gejala infeksi


Mendeskripsikan

proses penularan

pengunjung untuk

penyakit, factor yang

mencuci tangan saat

mempengaruhi

berkunjung dan setelah

penularan serta

berkunjung meninggalkan

penatalaksanaannya,
Menunjukkan

pasien
Gunakan sabun

kemampuan untuk

antimikrobia untuk cuci

mencegah timbulnya

tangan
Cuci tangan setiap

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

20

infeksi
Jumlah leukosit dalam

batas normal
Menunjukkan perilaku

sebelum dan sesudah


-

tindakan keperawatan.
Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat

hidup sehat.
-

pelindung
Pertahankan lingkungan
aseptik selama

pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan

line
central dan dressing
sesuai dengan petunjuk

umum
Ketidakadekuatan imun

buatan
Tidak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan

respon inflamasi)
Tidak adekuat pertahanan
tubuh primer (kulit tidak
utuh, trauma jaringan,
penurunan kerja silia,
cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH,

perubahan peristaltik).
Penyakit kronik
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi

kandung kencing
Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik
bila perlu

Infection Protection (proteksi


ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

21

terhadap infeksi)
-

Monitor tanda dan gejala

infeksi sistemik dan local


Monitor hitung granulosit,

WBC
Monitor kerentanan

terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung

terhadap penyakit menular


Pertahankan teknik aspesis

pada pasien yang beresiko


Pertahankan teknik isolasi

k/p
Berikan perawatan kuliat

pada area epidema


Inspeksi kulit dan
membrane mukosa
terhadap kemerahan,

panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi

bedah
Dorong masukkan nutrisi

yang cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai

resep
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

22

infeksi
Ajarkan cara menghindari

infeksi
Laporkan kecurigaan

infeksi
Laporkan kultur positif

5.

Hipertermi
Definisi : suhu tubuh naik diatas
rentang normal
Batasan Karakteristik:
-

Kenaikan suhu tubuh diatas

rentang normal
Serangan atau konvulsi (kejang)
Kulit kemerahan
Pertambahan RRTakikardi
Saat disentuh tangan terasa
hangat

Faktor faktor yang berhubungan :


-

Penyakit/ trauma
Peningkatan metabolism
Aktivitas yang berlebih
Pengaruh medikasi/anastesi
Ketidakmampuan/penurunan

kemampuan untuk berkeringat


Terpapar dilingkungan panas
Dehidrasi
Pakaian yang tidak tepat

NOC
-

NIC :
Thermoregulation

Kriteria Hasil :
-

Fever treatment
-

Monitor suhu sesering

mungkin
Monitor IWL
Monitor warna dan suhu

kulit
Monitor tekanan darah,

nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat

kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan

Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan

Suhu tubuh dalam

rentang normal
Nadi dan RR dalam

rentang normal
Tidak ada perubahan
warna kulit dan tidak
ada pusing, merasa
nyaman

untuk mengatasi penyebab


-

demam
Selimuti pasien
Lakukan tapid sponge
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat

paha dan aksila


Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan
untuk mencegah
terjadinya menggigil

Temperature regulation

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

23

Monitor suhu minimal tiap

2 jam
Rencanakan monitoring

suhu secara kontinyu


Monitor TD, nadi, dan RR
Monitor warna dan suhu

kulit
Monitor tanda-tanda

hipertermi dan hipotermi


Tingkatkan intake cairan

dan nutrisi
Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya

kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat

panas
Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negatif dari

kedinginan
Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan
emergency yang

diperlukan
Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan

yang diperlukan
Berikan anti piretik jika
perlu

Vital sign Monitoring


-

Monitor TD, nadi, suhu,

dan RR
Catat adanya fluktuasi

tekanan darah
Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

24

berdiri
Auskultasi TD pada kedua

lengan dan bandingkan


Monitor TD, nadi, RR,

sebelum, selama, dan


-

setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan

irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan

abnormal
Monitor suhu, warna, dan

kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,

peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

6.

Ansietas

NOC :

Definisi : Perasaan gelisah yang tak


jelas dari ketidaknyamanan
ketakutan
autonom

yang

atau

NIC :
Anxiety

control Anxiety Reduction (penurunan

Coping

kecemasan)

disertai respon Kriteria Hasil :

(sumner tidak spesifik atau

Klien

mengidentifikasi

keprihatinan disebabkan dari antisipasi

mengungkapkan gejala

terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan

cemas.
Mengidentifikasi,

akan

adanya

datang

individu

dan

ancaman

yang

mengungkapkan

memungkinkan

untuk mengambil

menunjukkan

langkah

untuk

untuk menyetujui terhadap tindakan.


Ditandai dengan :
-

Gelisah
Insomnia
Resah

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

dan

menenangkan.
Nyatakan dengan

mengontol

normal.
Postur tubuh, ekspresi

pasien.
Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan

dan
tehnik

jelas

harapan terhadap pelaku


-

cemas.
Vital sign dalam batas

25

Gunakan pendekatan yang

mampu

tidak diketahui oleh individu); perasaan

peringatan

selama prosedur.
Temani pasien
memberikan

untuk
keamanan

dan mengurangi takut.


Berikan informasi faktual
mengenai

diagnosis,

Ketakutan
Sedih
Fokus pada diri
Kekhawatiran
Cemas

wajah, bahasa tubuh


dan tingkat
menunjukkan
berkurangnya

aktivitas

tindakan prognosis.
Dorong keluarga untuk

menemani anak
Lakukan back / neck rub.
Dengarkan dengan penuh

perhatian.
Identifikasi

kecemasan.
Bantu pasien

kecemasan

tingkat
mengenal

situasi yang menimbulkan


-

kecemasan.
Dorong
pasien

untuk

mengungkapkan perasaan,
-

ketakutan, persepsi.
Instruksikan
pasien
menggunakan

teknik

relaksasi
Berikan

untuk

obat

mengurangi kecemasan.
D. Implememtasi
Selama tahap implementasi, perawat melaksanakan rencana asuhan
keperawatan. Instruksi keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien
memenuhi kebutuhan yang telah direncanakan.
E. Evaluasi
Tahap evaluasi adalah menilai hasil-hasil yang telah dicapai berdasarkan
rencana yang telah diterapkan . hasil yang diharapkan pada tahap evaluasi kasus abses
mencakup :
a. Nyaman
b. Menunjukkan nyeri berkurang/hilang.
c. Tidak terjadi resiko infeksi
d. Tidak terjadi hipertermi
e. Ansietas menghilang

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

26

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam bab ini dikemukakan tentang kesimpulan dan saran yang bertitik tolak
pada hasil pembahasan bab II, III dan IV. Setelah menguraikan tentang penyakit
kanker lambung dan perawatannya, maka dapat di tarik beberapa kesimpulan yaitu :

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

27

1. Abses merupakan suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau
karena adanya benda asing (misalnya luka peluru maupun jarum suntik) dan
mengandung nanah yang merupakan campuran dari jaringan nekrotik, bakteri,
dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik.
2. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan dengan menggunakan

proses

keperawatan tetap harus mengacu pada ilmu keteranpilan dan kemampuan


perawat untuk mengatasi masalah kesehatan klien.
3. Peran keluarga dalam perawatan dan pengobatan klien merupakan hal yang paling
penting karena perbandingan jumlah perawat dengan pasien tidak seimbang
dimana jumlah pasien lebih banyak sehingga peran keluarga dapat menolong
dalam memenuhi kebutuhan klien.
4. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan yang terdapat pada kasus baik
pada proses pengkajian hingga penegakan diagnosa keperawatan dan pelaksanaan
tindakan.
B. Saran
Setelah melihat masalah dalam asuhan keperawatan, maka penulis memberikan
saran sebagai berikut :
1. Perlunya ditingkatkan pendekatan kepada klien dalam mengkaji masalah-masalah
untuk memudahkan dalam penerapan proses perawatan yang berkesinambungan.
2. Dalam perawatan penyakit abses hendaknya perawat mempunyai pengetahuan
tentang konsep penyakit dan tindakan yang harus diberikan kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA
Nurarif Amin, Kusuma Hardhi. 2015. APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN
DIAGNOSA MEDIS & NANDA (NORTH AMERICAN NURSING DIAGNOSIS ASSOCIATION)
NIC-NOC Jilid 1.Jogjakarta : Mediaction
Nanda International. 2012. Nursing Diagnoses : Definition and classification 2010-2012. WileyBlackwell: United Kingdom

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

28

Siregar,

R,S. Atlas

Berwarna

Saripati

Kulit.

Editor

Huriawati

Hartanta.

Edisi

2.

Jakarta:EGC,2004.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI: Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN ABSES

29