Anda di halaman 1dari 11

69

BAB 4. ISI JURNAL


4.1 Judul jurnal
a. Peningkatan harga diri pada klien gagal ginjal melalui cognitive behavior
therapy (CBT)
b. Hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pada pasien gagal
ginjal kronik dalam menjalani hemodialisis di rsup dr.soeradji tirtonegoro
klaten
4.2 Penulis/Peneliti
a. Tri Setyaningsih, Mustikasari, Tuti Nuraini
b. Cornelia Dede Yoshima Nekada
4.3 Nama Jurnal
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 14, No. 3, November 2011; hal 165-170
4.4 Ringkasan Jurnal
a. Peningkatan harga diri pada klien gagal ginjal melalui cognitive behavior
therapy (CBT)
Gagal ginjal kronik (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir (PGTA),
merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah besar di dunia. Selain
sulit disembuhkan karena bersifat irreversible (tidak bisa pulih kembali),
seperti kebanyakan orang yang menderita penyakit terminal, seseorang yang
divonis menderita GGK juga akan mengalami kondisi yang sama. Klien akan
selalu dibayangi dekatnya masa kematian, merasa tidak dapat lagi mengatur
diri sendiri, dan harus bergantung pada orang lain. Proses cuci darah yang
harus dijalani 2 3 kali seminggu membuat klien merasa bahwa sebagian
besar waktu yang mereka miliki dilalui di rumah sakit. Perasaan kecewa dan
putus asa terhadap hidupnya membuat klien GGK mengalami depresi (Roesli,
2006).
Klien GGK yang menjalani hemodialisis sering mengalami gangguan
psikososial, seperti kecemasan, ketidakberdayaan, gangguan peran, identitas
personal dan harga diri rendah. Hal ini bisa dipahami karena dengan keadaan

70

sakitnya klien GGK yang menjalani hemodialisa tidak mampu mengatur


hidupnya sendiri dan selalu bergantung dengan orang lain bahkan dengan alat
yaitu mesin dialisa. Keadaan tersebut juga akan mengganggu hubungannya
dengan orang disekitarnya termasuk lingkungan masyarakatnya (Purwanto,
2004).
Terapi CBT, dapat menjadi alat yang kuat untuk menghentikan symptom
dan membuat hidup lebih bermakna dan memuaskan (Bond & Dryden, 2002;
Bush, 2005). Stallard (2002) menyatakan bahwa tujuan keseluruhan dari CBT
adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, memfasilitasi pemahaman diri
yang

lebih

baik,

dan

untuk

meningkatkan

kontrol

diri

dengan

mengembangkan keterampilan kognitif dan perilaku yang tepat.


Perspektif CBT yang menghakimi pikiran dan kritik diri sering
menyebabkan masalah terkait dengan harga diri rendah. Misalnya, orang yang
memiliki harga diri rendah sering menganggap diri mereka untuk tidak layak
bahagia, tidak mampu mengatasi masalah, dan tidak disukai oleh orang lain.
Pikiran seperti itu menyebabkan orang-orang tersebut merasa sedih, cemas,
dan umumnya tidak bahagia. Kombinasi pikiran dan perasaan seperti itu
menyebabkan mereka untuk menghindari kesempatan seperti kegiatan sosial,
persahabatan, tantangan, dan pekerjaan tertentu, yang semua ini cenderung
membuat mereka menilai dirinya sendiri merasa lebih buruk (Bond & Dryden,
2002; Bush, 2005).
Terapi yang efektif untuk klien dengan harga diri rendah adalah
meningkatkan harga diri orang tersebut. Perbaikan dalam diri yang nyata,
adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT), yaitu suatu bentuk terapi yang
memadukan terapi kognitif dan terapi perilaku. Terapi kognitif mengarahkan
cara mereka berpikir tentang diri mereka sendiri, tentang orang lain, dan dunia
yang dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Terapi perilaku
mengarahkan cara tindakan mereka yang dapat berpengaruh terhadap interaksi
mereka dengan orang lain dan di masyarakat. Tujuan umum penelitian ini

71

ingin menguraikan pengaruh Cognitive Behavior Therapy (CBT) terhadap


perubahan harga diri klien gagal ginjal kronik.
b. Hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pada pasien gagal
ginjal kronik dalam menjalani hemodialisis di rsup dr.soeradji tirtonegoro
klaten
Gagal Ginjal adalah sebuah penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama
sekali alam

hal

penyaringan pembuangan

elektrolit

tubuh, menjaga

keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium di
dalam darah atau produksi urine. Penyakit ginjal memang tidak menular,
tetapi bisa mengakibatkan kematian dan dibutuhkan biaya mahal untuk
pengobatan yang terus berlangsung seumur hidup pasien. Penyakit gagal
ginjal dapat dibagi menjadi dua macam yakni Gagal Ginjal Akut (GGA)
dan Gagal Ginjal Kronik (GGK). Penyakit gagal ginjal kronik kini tidak
dapat disembuhkan tetapi dapat dipertahankan dengan cara dialysis dan
tentunya membutuhkan biaya mahal untuk pengobatan yang terus berlangsung
seumur hidup pasien. Dalam upaya mempertahankan keadaan pasien salah
satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan hemodialisis. Untuk
mendukung pasien dalam manjalani hemodialisis sangat dibutuhkan
dukungan keluarga sehingga dapat mempengaruhi kepatuhan pasien. Hal
ini dimaksudkan dapat mempertahankan kondisi pasien dan juga dapat
mencegah kondisi pasien yang lebih buruk. Mengetahui hubungan antara
dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam
menjalani hemodialysis.
4.5 ANALISIS ISI JURNAL
a.

Peningkatan harga diri pada klien gagal ginjal melalui cognitive behavior
therapy (CBT)

72

Jurnal yang berjudul Peningkatan Harga Diri Pada Klien Gagal Ginjal
Kronik Melalui Cognitive Behavior Therapy (CBT). Jurnal tersebut
menjelaskan terapi CBT berpengaruh terhadap perubahan harga diri klien
GGK. Klien GGK selama menjalani hemodialisis akan merasa tidak mampu
menentukan hidupnya sendiri atau merasa selalu bergantung dengan orang
lain, merasa membebani keluarga, tidak mampu menjalankan pekerjaan
seperti semula, terganggu perannya di dalam keluarga dan masyarakat. Hal
tersebut yang dapat menimbulkan penilaian negative pada dirinya yaitu tidak
berguna, tidak mempunyai harapan dan tidak berharga. Gejala psikis yang
sering diperlihatkan klien dengan harga diri rendah adalah kehilangan rasa
percaya diri. Klien harga diri rendah cenderung memandang segala sesuatu
dari sisi negatifnya, termasuk menilai diri sendiri. Perasaannya sensitive
sekali, sehingga sering peristiwa yang sederhana jadi dipandang dari sudut
pandang yang berbeda oleh mereka, atau bahkan disalahartikan oleh mereka.
Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan
maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih,
murung, dan lebih suka untuk menyendiri. Perasaan bahwa diri tidak
berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal. Hasil
penelitian menyatakan bahwa hampir semua klien merasakan situasi tersebut
di atas, dialami klien pada awal-awal terapi hemodialisis namun dengan
berjalannya waktu mereka menjadi terbiasa dan akhirnya dirasakan sebagai
peristiwa yang biasa saja. Sebagian besar responden mengatakan bahwa
sudah sangat bersahabat dengan sisa fungsi ginjalnya yang minimal
tersebut.
b.

Hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pada pasien gagal


ginjal kronik dalam menjalani hemodialisis di rsup dr.soeradji tirtonegoro
klaten
Jurnal yang berjudul Hubungan antara dukungan keluarga dengan
kepatuhan pada pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani hemodialisis di

73

rsup dr.soeradji tirtonegoro klaten menjelaskan tentang konsep dari


terjadinya penyakit GGK/ CKD yang dimana pada akhirnya pasien yang
mengalami gagal ginjal akan melakukan hemodialisa untuk mempertahankan
kualitas hidupnya. Tujuan dilakukannya penelitian pada jurnal adalah
mengetahui apakah adanya hubungan dukungan dari keluarga dengan
kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani proses hemodialisa.
Dari hasil yang didapatkan bahwa mayoritas responden yang mempunyai
dukungan keluarga yang baik dalam menjalani hemodialisis. Dapat
mempengaruhi emosional (kepercayaan,

perhatian,

mendengarkan atau

didengarkan), instrumental (informasi, saran atau usulan dan petunjuk),


dan

penghargaan (memberikan

sehingga

mampu meningkatkan

support

dan

kepatuhan

pengakuan)yang
pasien

bagus

dalam menjalani

hemodialisis. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan, dan penerimaan


keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit. Keluarga juga berfungsi
sebagai

sistem pendukung bagi anggotanya dan anggota keluarga

memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap emberikan


pertolongan jika diperlukan. Dukungan keluarga dapat dibedakan menjadi
empat, yaitu dukungan informasional, dukungan penghargaan, dukungan
instrumental, dan dukungan emosional. (Friedman, 1998) cit (Sutantri,
2008). Secara umum kepatuhan responden dalam menjalani hemodialisis
termasuk kategori patuh. Kepatuhan klien adalah sejauhmana perilaku
klien sesuai

dengan

ketentuan

yang

diberikan oleh

professional

kesehatan (Niven, 2002). Pasien yang dianggap patuh yaitu menjalani


jadwal rutin hemodialisis selama 2-3 kali dalam seminggu dan tidak ada
keterangan tidak hadir. Adapun pada responden yang tidak patuh dapat
terlihat tidak adanya anggota keluarga yang menemani ataupun keadaan
badannya yang membengkak karena timbunan cairan yang tidak dapat
diekskresi melalui berkemih ataupun berkeringat dan dapat berujung pada
mortalitas Peran

keluarga

sangat berpengaruh

dalam

setiap

segi

74

kehidupan individu karena keluarga merupakan konteks awal individu


memulai suatu hubungan interpersonal.
4.6 IMPLIKASI KEPERAWATAN
a. Peningkatan harga diri pada klien gagal ginjal melalui cognitive behavior
therapy (CBT)
Terapi CBT berpengaruh terhadap perubahan harga diri klien GGK.
Harga diri responden meningkat secara bermakna baik dari aspek kognitif
maupun dari aspek perilaku setelah diberikan intervensi CBT. Terapi CBT
juga berpeluang meningkatkan harga diri aspek kognitif dan berpeluang
meningkatkan harga diri dari aspek perilaku setelah dikontrol faktor lain.
Aplikasi keperawatan, terapi CBT dapat dijadikan panduan perawat terutama
spesialis kejiwaan dalam melaksanakan CBT pada klien dengan masalah
psikososial. Untuk rumah sakit umum CBT dapat digunakan untuk
mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa yang terintegrasi dalam pelayanan
keperawatan dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan jiwa,
pada

klien

dengan

masalah-masalah

psikososial.

Perawat

spesialis

keperawatan jiwa hendaknya menjadikan terapi CBT sebagai salah satu


kompetensi yang dapat diberikan pada pelayanan kesahetan jiwa di tatanan
pelayanan kesehatan umum.
b. Hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pada pasien gagal
ginjal kronik dalam menjalani hemodialisis di rsup dr.soeradji tirtonegoro
klaten
Berdasarkan jurnal terkait dengan dukungan keluarga terhadap
kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam menjalani hemodialisa yang telah
dibahas, klien dengan penyakit CKD / GGK membutuhkan dukungan yang
optimal dari keluarga untuk menjalankan terapi hemodialisa yang dimana
berfungsi untuk mempertahanya kualitas hidup dari klien dengan penyakit

75

GGK . Tindakan untuk mencegah dan mengurangi adanya ketidakpatuhan


klien terhadap terapi yang diberikan adalah dengan meberikan health
education tentang perlunya terapi hemodialisa unutk mempertahankan kualitas
hidup klien. Dalam hal ini, perawatan dapat memeberikan pengetahuan
terlebih dahulu pada klien dan keluarga terkait kondisi fisik klien dan
menjelaskan manfaat diberikannya terapi hemodialisa. Hal tesebut dilakukan
untuk mempersiapkan klien secara fisik maupun psikis dalam menerima
kondisinya. Setelah itu, perawat dapat berkolaborasi dengan tim kesehatan
lain untuk menetukan terapi yang sesuai dengan kondisi klien. Pelaksanaan
terapi yang sesuai dapat dilakukan dengan bantuan hingga klien dapat
menjalankan terapi sesuai dengan yang telah dijadwalkan. Dalam hal ini,
perawat perlu mengobservasi dan mengevalusi terapi yang telah dilakukan
oleh klien agar dapat diketahui keberhasilan dari terapi yang dilakukan. Terapi
yang tepat dan sesuai serta dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat
meningkatkan kualitas hidup klien dengan penyakit CKD maka dari itu untuk
keberhasilan dari oelaksanaan terapi yang dilakukan diperlukan adanya
dukungan dari keluarga klien sebagai konteks awal individu dalam melakukan
suatu hubungan interpersonal.

4.7 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN JURNAL


a. Kelebihan jurnal
Dalam jurnal telah dijelaskan secara lengkap terkait demografi secara umum,
faktor penyebab, dan terapi yang dapat digunakan pada klien yang
mengalami CKD dengan harga diri rendah.
b. Kekurangan jurnal
1) Tidak disebutkan karakteristik responden yang diteliti, sehingga
pembaca hanya bisa mengetahui jumlah responden secara umum.

76

2) Dalam jurnal tidak disebutkan terapi yang lebih efektif digunakan untuk
meningkatkan harga diri klien dengan CKD.

BAB 5. KESIMPULAN
5.1 KESIMPULAN
Penggunaan terapi yang tepat dan dilakukan secara berkelanjutan pada klien
dengan CKD adalah pelaksanaan terapi hemodialisa. Hal tersebut dilakukan karena
dapat memberikan kesiapan fisik maupun psikologis dalam menerima kondisi fisik
setelah didiagnosa CKD, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup
dari klien tersebut. Dukungan dari keluarga merupakan salah satu kekuatan untuk

77

klien dalam mempertahankan kesehatan dan kualitas hidupnya. Dalam jurnal ini
disebutkan bahwa terapi yang dapat digunakan yaitu pemberian terapi hemodialisa
dengan mendapatkan dukungan dari kelurga agar klien taat dalam menjalankan terapi
sesuai yang telah di jadwalkan.
5.2 SARAN
Diharapkan pada pembuatan jurnal perlu diberikan SOP (standart operational
procedure) yang lebih lengkap pada setiap terapi yang diberikan agar pembaca lebih
mudah dalam menerapkannya. Selain itu dalam jurnal hendaknya dijelaskan
kemungkinan terapi lain yang lebih efektif digunakan untuk meningkatkan koping
dan harga diri yang lebih baik sehingga pasien dengan CKD mampu menerima
keadaan dan harapan hidupnya lebih panjang.

DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah, et al. 2004. Biologi SMA dan MA untuk Kelas XI (Jilid 2). Jakarta:
Erlangga
Baradero, Mary. 2008. Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: EGC.
Chandrasoma, P. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2. Jakarta: EGC

78

Doengoes, Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi Ketiga. Jakarta:


EGC
Grace & Borley.2007.At a Glance Ilmu Bedah. edisi ketiga.Jakarta: Erlangga.
Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi II. Jakarta: EGC
McCloskey, Joanne C. dkk. 2004. IOWA Intervention Project Nursing Intervention
Classifcation (NIC), Second edition. USA: Mosby.
Moorhead, Sue, Marion Johnson, Meridean L. Maas, Elizabeth Swanson. 2012.
Nursing Ooutcomes Classification (NOC): Measurement of Health Outcomes
Fifth Edition. Elsivier Mosby.
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:
Salemba Medika.
NANDA. 2014. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.
Jakarta: EGC.
National Kidney Foundation. 2002. Clinical Practice Guidelines for Chronic Kideny
Disease: Evaluation, Classification and Stratification. New York: National
Kidney Foundation, Inc.
Price, S. A., dan Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.
Siallagan, Herdiani, Rasmaliah, Jemadi. 2012. Karakteristik Penderita Gagal Ginjal
Kronik yang Dirawat Inap di RS Martha Friska Medan Tahun 2011.
http://download.portalgaruda.org/ [14 November 2015]
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C., dan Bare, B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC.
Sukandar, E. 2006. Nefrologi Klinik Edisi III. Bandung: FK UNPAD.
Suwitra, K. 2006. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

79