Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II

SOLID LIQUID REACTION


A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mempelajari kelarutan partikel padatan (solid) berbentuk bola dalam
suatu liquid.
2. Menentukan koefisien transfer massa antarfase secara eksperimen.
B. DASAR TEORI
Mempelajari reaksi padat-cair kinetika dapat dilakukan dengan cara yang
sama untuk menngetahui reaksi homogen yang sering terjadi dalam reaktor batch.
Reaktor semi-batch dan reaktor kontinyu juga digunakan, namun adanya kesulitan
seperti tidak meratanya distribusi waktu tinggal untuk partikel yang berbeda
ukuran sering ditemui. Peningkatan reaksi sering diukur dengan mengamati
perubahan berat fase padat, atau dengan mengukur konsentrasi produk di fase cair.
Identifikasi produk dari fase cair sampel dapat dilakukan dengan berbagai teknik
analisis. Namun, bertentangan dengan reaksi homogen, reaksi tingkat senyawa
fase padat terdispersi dalam cairan tidak secara langsung tergantung pada
konsentrasi solid dalam fase cair, tetapi lebih pada luas permukaan reaktif. Ini
bahkan mempersulit penelitian dibandingkan dengan reaksi homogen sebagai
quantifikasi dari luas permukaan sepertinya tidak mudah karena pengukuran
konsentrasi. Ini menyiratkan bahwa peningkatan dua kali lipat luas permukaan
dari fase padat laju reaksi ganda, setara dengan dua kali lipat konsentrasi dalam
fase cair atau gas. Namun, luas permukaan biasanya tidak menurun secara linear
dengan konversi sebagai konsentrasi yang membuat kinetika berbeda dan
mempersulit interpretasi eksperimental data. Selain itu, luas permukaan reaktif
tidak selalu sama dengan total luas permukaan. Substansi padat juga menjadi
heterogen terdiri dari sejumlah senyawa, bahkan perubahan fase padat kadangkadang dapat terjadi karena kondisi reaksi yang ekstrim. Faktor-faktor ini
biasanya sebanding dengan total luas permukaan.

Reaksi antara padatan dan cairan (Solid Liquid Reaction) biasanya banyak
digunakan pada proses kimia di industri. Dalam perhitungan dan analisis kinetik
solid liquid reaction langkah yang perlu diperhatikan adalah interaksi antarmuka
seperti adsorpsi, membentuk dan memecahkan ikatan, dan desorpsi. Langkah
lainnya yaitu perpindahan massa dan panas dalam partikel, perpindahan massa
dan panas dari cairan ke permukaan, laju dari cairan reaktan. Hal yang menandai
terjadinya reaksi dalam suatu larutan yang ditambah dengan padatan (batu kapur)
adalah pembentukan gas, yang biasanya ditandai dengan adanya gelembunggelembung udara jika reaksi berlangsung sebagai larutan atau bau yang tercium.
Perubahan warna dan perubahan suhu juga mudah untuk diamati sebagai faktor
terjadinya rekasi kimia. Reaksi antara batu kapur dengan HCl dapat dituliskan :
2HCl(aq) + CaCO3(s) CaCl2(aq) + CO2(g) + H2O(l)
Semakin pekat (konsentrasi semakin besar) suatu asam memiliki jumlah
partikel yang semakin banyak. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori
tumbukan,

bahwa

semakin

banyak

partikel

yang

bersentuhan

(bertumbukan) maka laju reaksi yang terjadi akan semakin cepat.


Rate dari perpindahan massa antara solid dengan liquid dapat ditulis
dengan persamaan:

mk

LS

A C SAT C L

(1)
Neraca massa transient pada solid yang terlarut yang membentuk suatu
formasi dapat ditulis dengan persamaan:

dM
m k LS A C SAT C L
dt
(2)
Sedangkan neraca massa yang sesuai pada fase cair yaitu:

dC
VL
m k LS A C SAT C L
dt
(3)
Model persamaan ini digabungkan melalui konsentrasi liquid dan terlarut
sekaligus. Prosedur pencampuran dapat secara sederhana dituliskan yaitu

total solid yang terdistribusi pada fase solid-liquid tetap konstan dalam
seketika.
M 0 V L C LO M VL C L
(4)
Persamaan ini dapat dikombinasikan dengan persamaan sebelumnya dan
dapat menghasilkan prediksi model, namun sebagian padatan yang
terlarut, padatan tersebut akan berubah ukuran maupun bentuknya oleh
karena itu luas antar muka harus diperhitungkan sebelum model
persamaan dapat diselesaikan. Pada analisa ini, efek dari perubahan ukuran
partikel pada koefisien perpindahan massa interfase diabaikan.
Padatan yang telah terlarut HCl diasumsikan berbentuk bola, serta awal
ukuran yang sama berdasarkan asumsi ini massa padatan yang tersisa di
fase padat dengan jari-jari r adalah:
4
M r 3 s n
3
(5)

Luas permukaan sebesar:


A 4r 2 n
(6)
Dengan mensubstitusi persamaan sebelumnya maka didapatkan massa
bola padatan yang tersisa pada setiap saat
1/ 3

36nM 2
M0 M
dM
k LS
C SAT C LO
2
dt
VL
s

(7)
Persamaan ini dapat diselesaikan secara numeric jika konsentrasi fase cair
selalu jauh lebih kecil daripada konsentrasi jenuhnya (CL<CSAT). Dengan
kondisi tersebut maka persamaan diatas dapat diintegrasikan untuk
menghasilkan hubungan antara waktu dan fraksi sisa fase padat.
C. PROSEDUR KERJA

1. Alat
a. Beaker glass 250 mL
b. Beaker glass 100 mL
c. Piknometer 10 mL
d. Gelas arloji
e. Spatula
f. Labu takar 100 mL
g. Labu Erlenmeyer 125 mL
h. Pipet ukur 25 mL
i. Pipet ukur 5 mL
j. Ball filler
k. Cawan porselen
l. Seperangkat alat titrasi
2. Bahan
a. Batu kapur
b. Larutan HCl
c. Larutan NaOH
d. Larutan indikator PP
e. Aquades

3. Skema Kerja

Batu kapur

HCl

Direaksikan selama 5 menit tanpa pengadukan

Filtrat larutan HCl

Endapan batu kapur

Pengukuran massa

Pengukuran konsentrasi

Gambar 1 Skema Kerja Solid Liquid Reaction

D.

DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Hasil Pengamatan Praktikum Solid Liquid Reaction

Perlakuan
1. Membuat larutan NaOH 0,1 normal sebanyak 100 ml
2. Menghitung

keperluan

Hasil Pengamatan
Dihasilkan larutan NaOH 0,1 normal 100
ml dengan berat NaOH yang diperlukan

HCl

untuk -

0,4 gr
Didapatkan

kebutuhan

HCl

membuat larutan HCl sesuai variabel yaitu

masing-masing variabel yaitu:

1,1 M; 1,15 M dan 1,2 M

1,1 M = 8,9 ml

untuk

1,15 M = 9,3 ml
3. Membuat larutan HCl sesuai variabel yang ditentukan
4. Menimbang batu kapur sebanyak 5 gr
5. Mereaksikan larutan HCl masing-masing variabel tersebut dengan batu kapur

1,2 M = 9,7 ml
Didapatkan larutan HCl masing-masing
100 ml sebanyak 3 variabel yaitu 1,1 M;
1,15 M; dan 1,2 M.
Didapatkan batu kapur sebanyak 5 gr
Didapatkan larutan HCl yang bereaksi
dengan batu kapur:

selama 5 menit

1,1 M :
sedikit gelembung, hangat, warna sedikit
kuning bening, T = 350C
1,15 M :
Sedikit gelembung, hangat, warna sedikit
kuning bening, T = 390C
1,2 M :
Sedikit gelembung, hangat, warna sedikit
kuning bening, T = 360C

6. Setelah 5 menit kemudian larutan HCl dan -

Didapatkan larutan HCl berwarna sedikit

batu kapur disaring


7. Menimbang batu kapur basah kemudian -

kuning bening dan batu kapur yang basah.


Didapatkan batu kapur kering dengan

mengeringkan dalam oven dan ditimbang

berat sebelum dan setelah di oven (Tabel

beratnya setelah di oven.


8. Mengambil 5 ml larutan HCl yang telah -

2)
Didapatkan larutan HCl yang berwarna

disaring dan menitrasi dengan NaOH 0,1

jingga dan kebutuhan NaOH untuk titrasi

normal
9. Mengulangi langkah 5-8 menggunakan

(Tabel 3)

batu kapur yang sudah di oven

Tabel 2. Massa Batu Kapur Sebelum dan Sesudah di Oven

Massa sebelum (mo) dan Massa sesudah (mi) di oven dalam gr


Sampel I (1,1 M)
Sampel II (1,15 M)
Sampel III (1,2 M)
Mo
Mi
Mo
Mi
Mo
Mi
112,47
107,55
72,93
68,86
83,32
80,09
109,65
107,33
71,75
68,49
81,07
78,77
109,24
105,96
68,75
66,24
79,48
77,60
108,78
104,61
68,65
66,02
79,16
76,27
68,53
65,96
78,32
76,51

78,21
78,19

76,48
76,32

Tabel 3. Kebutuhan NaOH untuk menitrasi Larutan HCl

Sampel I (1,1 M)
21
7
1
0,9

Volume NaOH untuk titrasi HCl (ml)


Sampel II (1,15 M)
30
15
8,8
2
1

Sampel III (1,2 M)


32,5
18,8
11,5
4,8
4,1
3,8
3 tetes

Lampiran
1. Menghitung Molaritas HCl
Diketahui:
Mr HCl
= 35,46904

= 1,18 gr/ml
% HCl
= 37 %
% 1000 1,18 0,37 1000
M

12,309M
Mr
35,46904

2. Menghitung kebutuhan HCl untuk membuat larutan HCl sesuai variabel


HCl 1,1 M

M 1 V1 M 2 V2

12,309 V1 1,1 100


110
12,309
V1 8,936ml
V1

HCl 1,15 M

M 1 V1 M 2 V2
12,309 V1 1,15 100
115
12,309
V1 9,342ml
V1

HCl 1,2 M

M 1 V1 M 2 V2
12,309 V1 1,2 100
120
12,309
V1 9,748ml
V1

Perhitungan Konsentrasi HCl


Konsentrasi HCl variabel 1 (MO = 1.1 M)
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 5 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 21 ml
M HCl 0.42 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 10 menit

M HCl V HCl M NaOH V NaOH


M HCl 5 ml 0.1M 7 ml
M HCl 0,14 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 15 menit

M HCl VHCl M NaOH V NaOH


M HCl 5 ml 0.1M 1 ml
M HCl 0.02 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 20 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 0,9 ml
M HCl 0.018 M

Konsentrasi HCl variabel 2 (MO = 1.15 M)


Konsentrasi HCl setelah bereaksi 5 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 30 ml
M HCl 0.6 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 10 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 18 ml
M HCl 0.36 M

Konsentrasi HCl setelah bereaksi 15 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 8.8 ml
M HCl 0.176 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 20 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 2 ml
M HCl 0.04 M

Konsentrasi HCl setelah bereaksi 25 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 1 ml
M HCl 0.02 M

Konsentrasi HCl variabel 3 (MO = 1.2 M)


Konsentrasi HCl setelah bereaksi 5 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 32.5 ml
M HCl 0.65 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 10 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 18.8 ml
M HCl 0.376 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 15 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 11.5 ml
M HCl 0.23 M
Konsentrasi HCl setelah bereaksi 20 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 4.8 ml
M HCl 0.096 M

Konsentrasi HCl setelah bereaksi 25 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 4.1 ml
M HCl 0.082 M

Konsentrasi HCl setelah bereaksi 30 menit

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 3.8 ml
M HCl 0.076 M

M HCl VHCl M NaOH VNaOH


M HCl 5 ml 0.1M 0.3 ml
M HCl 0.006 M

Dari hasil perhitungan Molaritas HCl tiap 5 menit bereaksi, maka dapat
diketahui perubahan konsentrasi HCl sebelum dan setelah dieaksikan dengan
kapur. Pada percobaan ini pengukuran konsentrasi HCl dilakukan dengan cara
titrasi, yaitu dengan cara mengukur kebutuhan NaOH untuk membuat campuran
menjadi netral. Volume NaOH yang dibutuhkan untuk menitrasi kemudian
dimasukan

kedalam

persamaan

konsentrasi HCl dapat dihitung.

M HCl VHCl M NaOH VNaOH

sehingga

Dari hasil hitungan dapat dilihat bahwa

konsentrasi HCl pada ketiga sampel mengalami penurunan ketika direaksikan.


Perubahan konsentrasi HCl tiap satuan waktu dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik Konsentrasi HCl vs t


1.4
1.2
1

1,1 M
1,15 M

0.8

1,2 M

0.6
0.4
0.2
0

200

400

600

800

1000

1200

1400

1600

Grafik 1. Hubungan konsentrasi HCl bereaksi dengan waktu


Dengan memperhatikan grafik hubungan konsentrasi HCl bereaksi
terhadap waktu pada ketiga sampel maka diketahui perbedaan penurunan molaritas HCl
dengan konsentrasi berbeda ketika direaksikan dengan kapur CaCO3. Pada grafik diatas
garis biru menggambarkan sampel 1 (HCl 1.1 M), garis warna merah menggambarkan
penurunan konsentrasi HCl pada sampel 2 (HCl 1.15 M) dan garis warna hijau
menggambarkan penurunan konsentrasi HCl pada sampel 3 (HCL 1.2 M).
Dengan memperhatikan grafik diatas dapat dilihat bahwa ketiga sampel mengalami
peristiwa yang sama dimana konsentrasi HCl nya sama sama menurun. Hal ini
menunjukan adanya reaksi antara HCl dan kapur. Reaksi ini dapat dijelaskan sebagai
reaksi padat-cair diamana kedua komponen bereaksi memiliki fase yang berbeda.
Penurunan konsentrasi HCl menunjukan bahwa pada tiap menit sebagian HCl telah
bereaksi dengan kapur sehingga konsentrasinya menurun. Pada praktikum SLR dapat
diamati bahwa ketika HCl dan kapur direaksikan terdapat gelembung-gelembung udara
yang muncul dari campuran. Adanya gelembung ini dapat dijelaskan sebagai indikasi
bahwa terdapat reaksi kimia pada sistem padat-cair. Hal ini sesuai sesuai dengan teori
dimana reaksi antara HCl dan CaCO3 akan menghasilkan gas CO2.

2HCl(aq) + CaCO3(s) CaCl2(aq) + CO2(g) + H2O(l)


Pada praktikum SLR yang dilakukan , diperoleh hasil pengamatan adanya
gelembung-gelembung pada sistem solid-liquid yang direaksikan. Dari hasil

pengamatan diketahui bahwa kuantitas gelembung yang dihasilkan semakin lama


semakin menghilang dengan bertambahnya waktu. Hal ini disebabkan karena
pada waktu tertentu konsentrasi HCl dalam larutan semakin menurun sehingga
reaksinya melambat. Hal ini menyebabkan kadar gelembung yang dibentuk oleh
reaksi solid-liquid semakin sedikit. Selain itu dari hasil pengamatan diketahui
bahwa ketika bereaksi, temperaturnya naik dan larutan menjadi hangat. Hal ini
menunjukkan reaksi yang berlangsung adalah reaksi eksotermis dimana reaksi
eksotermis adalah reaksi yang melepaskan panas. Dari ketiga sampel tersebut
diketahui bahwa kondisi hangat hanya terjadi pada awal reaksi hal ini karena
konsentrasi HCl yang bereaksi semakin menurun.
Dari grafik dapat dilihat bahwa kecepatan penurunan konsentrasi HCl
yang paling cepat terjadi pada sampel 1, kemudian sampel 2 dan sampel 3. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin kecil konsentrasi HCl yang bereaksi maka semakin
cepat penurunan konsentrasinya.

Perhitungan Nilai Koefisien Transfer Massa Antar Fase (kLS) dari Percobaan
a. Menghitung massa batu kapur yang bereaksi
Dari Tabel III.1 Data pengamatan reaksi batu kapur dan larutan HCl dapat dihitung
massa batu kapur yang seperti disajikan dalam table berikut.
Tabel 4. Massa batu kapur yang bereaksi tiap variabel per waktu
Waktu
5

Massa CaCO3 yang bereaksi (gr)


1
2
3
1.75
1.07
1.27

10

0.22

0.37

0.42

15

1.37

2.25

0.67

20

1.35

0.22

0.73

25

0.06

0.36

(menit )

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pada semua sampel terjadi penurunan
massa. Hal ini disebabkan karena konsentrasi HCl yang bereaksi pada setiap sampel
semakin menurun, sehingga massa batu kapur yang bereaksi dengan HCl juga
semakin menurun. Pada tabel juga dapat diketahui bahwa penurunan massa paling
besar terdapat pada sampel pertama yaitu konsentrasi 1,1 M. Hal ini disebabkan
karena konsentrasi HCl pada sampel pertama lebih rendah dari sampel kedua maupun
sampel ketiga, sehingga hal ini menyebabkan perpindahan massa pada sampel
pertama lebih cepat daripada sampel kedua maupun sampel ketiga. Untuk lebih
membuktikan hipotesa tersebut dapat dijelaskan melalui perhitungan koefisien
transfer massa antar fase (kLS) pada percobaan SLR yang telah dilakukan.
b. Menghitung Volume Solid ( Vs) berbentuk bola
Diameter batu kapur (ds) = 1.5 mm = 0.0015 m

Vs

4
r3
3

4
3.14 0.000753
3
1.766 10 9 m3

Jari-jari batu kapur (rs) = ds = x 0.0015 m = 0.00075 m

c. Menghitung massa jenis solid (s)

massa solid
volume solid

5 10 3 kg

1.766 10 9 m3
2830856.334 kg

m3

d. Menghitung nilai kLS

4n
M

1
2
Mo
3
M

o s

k LS CSAT t

Untuk menentukan nilai kLS dicari dengan membuat plot antara (M/Mo)1/3 terhadap t
(waktu pengamatan) dalam satuan detik, lalu mengatur intersepnya bernilai 1.
Tabel 5. Nilai (M/Mo)1/3 tiap waktu
Wakt

Variabel 1

Mo

(detik

Variabel 2
(M/Mo)1/ Mo

Variabel 3
(M/Mo)1/ Mo

(M/Mo)1/
3

)
0
109.3

107.5
5

0.3280

69.9
3

68.
8

0.3282

79.
9

78.
7

0.3280

300

107.5
5

107.3
3

600

107.3
3

105.9
2

900

105.9
2

104.6
1

1200

0.3326
0.3289
0.3292
-

68.8

68.
4

68.4

66.
2

66.2

66.
0

66.0
2

65.
9

0.3311

78.
7

78.
3

0.3316

0.3224

78.
3

77.
6

0.3305

0.3322

77.
6

76.
8

0.3302

0.3330

76.
8

76.
5

0.3318

Dari masing-masing plot antara (M/Mo)1/3 terhadap t (waktu pengamatan) dihasilkan


grafik sebagai berikut

Grafik (M/Mo)1/3 vs t
sampel 1
0.35

f(x) = - 0x + 1

0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
200

400

600

800

1000

1200

1400

Grafik 2 . hubungan M/MO1/3 vs t(sekon) pada sampel 1 (HCl 1,1 M)

Grafik (M/Mo)1/3 vs t
sampel 2
0.35

f(x) = - 0x + 1

0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
200

400

600

800

1000

1200

1400

1600

Grafik 3 . hubungan M/MO1/3 vs t(sekon) pada sampel 2 (HCl 1,15 M)

Grafik (M/Mo)1/3 vs t
sampel 3
0.35

f(x) = - 0x + 1

0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
200

400

600

800

1000

1200

1400

1600

Grafik 4 . hubungan M/MO1/3 vs t(sekon) pada sampel 2 (HCl 1,15 M)


Dengan mengatur intersept = 1 dihasilkan slope masing-masing variabel
Slope 1= -0.0009
Slope 2= -0.00007
Slope 3= -0.00007
Maka dapat dihitung nilai kLSsebagai berikut :

4n

slope
2
3M o s

k LS CSAT

Dimana :
n
= 100
Mo
= 5 gr

2830856.334 kg
s
CSAT

m3

=
=
sampel 1 = 1147 kg/m3
sampel 2 = 1149 kg/m3
sampel 3 = 1151 kg/m3
Sehingga, perhitungan nilai kLS :

kLS Sampel 1

4n
slope
2
3M o s

k LS C SAT

4 100
- 0.0009
3 5 10 3 2.83 10 6

k LS 3.53 10 3

k LS 1147

kLS Sampel 2

4n
slope
2
3M o s

k LS C SAT

4 100
- 0.0007
3 5 10 3 2.83 10 6

k LS 2.74 10 3

k LS 1149

Kls Sampel 3

4n

slope
2
3
M

o s

k LS C SAT

4 100
- 0.0007
3 5 10 3 2.83 10 6

k LS 2.73 10 3

k LS 1151

Dari hasil hitungan koefisien transfer massa diatas dapat diketahui data sebagai
berikut :
Tabel 4. Nilai Koefisien Transfer Massa Antar Fase setiap Sampel
Konsentrasi HCl

Koefisien Transfer massa

Sampel 1

1,1 M

3.53 10 3

Sampel 2

1,15 M

2.74 10 3

Sampel 3

1,2 M

2.73 10 3

Dari meliihat tabel diatas dapat diketahui bahwa koefisien transfer massa antar
fase pada ketiga sampel memiliki nilai terbesar pada sampel 1. Hal ini menunjukan
bahwa konsentrasi reaktan liquid (Konsentrasi HCl) memiliki pengaruh terhadap
kecepatan transfer massa pada suatu reaksi solid-liquid. Dari hitungan diatas dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi HCl menyebabkan koefisien transfer
massanya semakin rendah. Hal ini dimungkinkan terjadi karena konsentrasi HCl yang
tinggi menyebabkan sifat difusivitas larutanya semakin rendah. Sehingga lautan dengan
konsentrasi HCl yang lebih besar kecepatan transfer massanya akan lebih kecil
dibandingkan larutan HCl yang konsentrasinya lebih rendah.
Sebelumnya telah diketahui penurunan massa pada setiap sampel dimana sampel
pertama mengalami penurunan massa paling besar sehingga dengan mengetahui nilai
koefisien transfer massa antar fasenya dapat diketahui hubungan bahwa pada sampel
pertama dengan konsentrasi yang lebih rendah memiliki koefisien trasfer massa yang
lebih besar yang menunjukkan semakin banyak massa batu kapur yang bereaksi karena
difusivitasnya lebih besar.

E.

SIMPULAN DAN SARAN


a. Simpulan

1. Kelarutan partikel padat (solid) didalam suatu larutan akan


berpengaruh terhadap luas permukaan reaktif.
2. Lautan dengan konsentrasi HCl yang lebih besar kecepatan transfer
massanya

akan

lebih

kecil

dibandingkan

larutan

HCl

yang

konsentrasinya lebih rendah.

b. Saran
1. Pada saat meyaring harus benar-benar maksimal, jangan ada kapur
yang masih tertinggal didalam beaker glass dan kertas saring.

F.

DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C.J. 1993. Transport Processes And Unit Operation 3 rd Editon. PrenticeHall Inc. USA
Mc Cabe, W.L., Smith, J.C., and Harriot, P. 1993. Unit Operation of Chemical
Engineering 5th Edition. USA: Mc Graw-Hill.
Levenspiel, O. 1999. Chemical Reaction Engineering 3rd Edition. USA: John Wiley
Sons.
Grenman, Henrik, dkk. 2011. Solid-liquid reaction kinetics experimental aspects
and model
development. Departemen of Chemical Engineering. Laboratory of Industrial
Chemistry and Reaction Engineering. Finland