Anda di halaman 1dari 12

1.

PENIRISAN(drainase) DALAM PENGGALIAN


1.1. Maksud Penirisan (drainase)
Di dalam mulut tambang (pit) terjadi rembesan air keluar dari bawah tanah dan ba
nyak kasus terjadi juga resapan atau aliran air permukaan masuk dan kalau hal in
i dibiarkan, maka umumnya menyebabkan ganguan terhadap pekerjaan, terutama kalau
ada rembesan keluar atau aliran masuk yang banyak, maka sebagian atau seluruh m
ulut tambang (pit) bisa tenggelam di dalam air.
Jadi langkah pertama dari penirisan (drainase) mulut tambang (pit) adalah memper
jelas sumber atau air asal-usul air di dalam mulut tambang (pit). Usaha seperti
ini dinamakan pencegahan air didalam mulut tambang (pit) bawah tanah.
Air yang sudah muncul di dalam mulut tambang (pit) harus dibuang keluar mulut ta
mbang (pit), dimana air yang berada di atas level mulut tambang (pit) segera dia
lirkan keluar mulut tambang (pit) melalui saluran air yang sesuai, sedangakan ai
r yang berada pada level yang sama atau lebih rendah dari mulut tambang (pit) di
salurkan ke penampung air/sumuran (shaft) yang dibuat di tempat yang pantas, kem
udian dari situ di keluarkan ke luar mulut tambang (pit) dengan mengangkatnya (m
emompa) sampai ketinggian yang diperlukan dengan mengguanakan pompa. Pada kasus
yang belakang, tahap pertama merupakan pengumpulan air dan tahap kedua merupakan
pengangkatan (pemompaan) air. Seperti dijelaskan diatas, masalah penirisan (dra
inase) di dalam mulut tambang (pit) bawah tanah dapat ditinjau dengan membaginya
menjadi 2 bagian, yaitu pencegahan air, pengumpulan air dan pengangkata (pemomp
aan) air.
Untuk yang pertama, yaitu pencegahan air, pertma harus diperjelas keadaan kebera
daan air bawah tanah yang merupakan sumber air bagi rembesan air di dalam mulut
tambang (pit) serta diperjelas tahapan hingga air tersebut merembes keluar dan p
enyebab peresapan dan aliran masuk ke pertmukaan ke dalam mulut tambang (pit), k
emudian berdasarkannya diambil tindakan yang sesuai. Untuk yang kedua, yaitu pen
gumpulan air bersama-sama dengan yang ketiga, yaitu pengangkatan (pemompaan air)
, mempuyai kaitan dengan sistem pengembangan mulut tambang (pit) bawah tanah. Un
tuk yang ketiga, yaitu pengangkatan (pemompaan) air adalah pekerjaan yang dilaku
kan dengan pompa dan pipa, sehingga merupakan pekerjaan yang banyak berhubungan
dengan bidang mesin dan listrik.
Pada umumnya banyak terjadi rembesan air keluar di dalam mulut tambang (pit) baw
ah tanah, sehingga pekerjaan penirisan (drainase) menjadi beban yang besar bagi
produksi. Apabila banyak rembesan air keluar di dalam mulut tambang (pit), fasil
itas penirisan (drainase) juga menjadi besar dan diperlukan biaya yang besar unt
uk investasi dan pemeliharannya. Terutama, tambang yang ada bahaya kemasukan air
permukaan dari mulut tambang (pit) karena banjir atau mulut tambang (pit) lama
yang ada air tampungan, atau tambang yang batubara yang melakukan pekerjaan di b
awah dasar laut, selau terdapat bahaya tenggelammya mulut tambang(pit) oleh semb
uran air sehingga porsi peranan penirisan (drainase) pada pekerjaan mulut tamban
g (pit) bawah tanah sangatlah penting.
2. Air Pada Mulut Tambang (pit) Bawah Tanah
2.1. Sumber Air Pada Mulut Tambang (pit) Bawah Tanah
Sebagian dari hujan yang turun di permukaan tanah, meresap ke bawah tanah dan me
njadi air bawah tanah yang mengalir menembus di dalam lapisan tanah. Jadi, tamba
ng yang menambang sumber bahan baku bawah tanah tidak dapat berfikir mengenai pe
kerjaan dengan memisahkan air bawah tanah ini. Yang umumnya kita sebut sebagai a
ir di dalam mulut tambang )pit) itu, sebagian besar adalah bawah tanah ini dan a
pbila di sekitar kontruksi mulut tambang (pit0 ada lapisan yang mengandung air,
maka air di dalam mulut tambang (pit) menjadi banyak dan apabila dikelilingi ole
h batuan yang bersifat tidak tembus air (impermeable), maka rembesan keluar air
sedikit.
2.2. Air Rembesan dan Air Sembur
Cara keluarnya air didalam mulut tambang (pit), pada dasarnya dapat dibagi menj
adi rembesan air dan semburan air.
Air bawah tanah disangga oleh batuan bersifat tidak tembus air (impermeable), at
au tertampung di dalam batuan yang ada ruang kosong (porositas) seperti batugamp
ing (limestone). Batuan yang menjadi batuan induk pada endapan logam dalam berba
gai kasus banyak yang tidak tembus air, tetapi air dapat merembes keluar melalui
rekahan/celahan (crack), batas lapisan atau tempat yang relatif lunak dan lemah
atau pada lapisan batubara adalah melalui lapisan yang mudah dilewati air seper
ti batupasir (sandstone) di bagian atas. Inilah yang dinamakan rembesan air, dim
ana rembesan air ini tidak mudah berhenti dan jumlah airnya juga tidak berubah d
rastis.
Lain dengan rembesan air, apabila air yang tertampung didalam ruang kosong di da
lam batuan atau patahan atau lapisan aliran air ditembus, maka air akan mengalir
keluar secara mendadak dan sering membawa kecelakaan besar yang dikenal sebagai
kecelakaan semburan air. Jumlah air yang menyembur keluar selalu makin lama ma
kin berkurang dengan berlalunya waktu. Perta,bahan air didalam mulut tambang (pi
t) yang tidak normal dan bersifat sementara seperti ini disebut semburan air dan
penanganannya dibedakan rembesan air.
Pada dasarnya, air rembes dan air sembur tidak berbeda, tetapi sebagai hasilnya
semburan air dapat menimbulkan kecelakaan besar di dalam mulut tambang (pit) dan
dapat mengundang dan mendatangkan kerugian jiwa manusia dan terbuangnya bahan b
aku atau kerugian waktu dan biaya yang amat besar untuk pemulihannya.
2.3. Sifat Air Di Dalam Mulut Tambang (pit) Dan Pencegahan Pulusi Tambang
Air bawah tanah yang disaring oleh lapisan batuan bersifat menampung air yang ba
nyak lubangnya, umumnya dikatakan air murni secara kimia organik, tetapi kenyata
anya didalamnya terlarut berbagai macam bahan. Diantara bahan tidak murni (impur
ity) yang terkandung di dalam air bawah tanah yang paling umum dan dari segi pen
irisan (drainase) merugikan adalah tanah lumpur, jenis asam dan jenis garam.
Yang paling umum di tambang logam adalah garam asam sulfat dan yang paling umum
di tambang batubara dasar laut adalah garam dapur, yang mana keduanya korosif te
rhadap besi, sehingga terutama untuk menejemen perawatan mesin dan fasilitas sep
ert pompa dan pipa perlu diperhatikan.
Selain itu, air di dalam mulut tambang (pit) ada yang mengandung banyak zat bera
cun seperti ion logam dan belerang. Terhadap hal ini, agar tidak merugikan keseh
atan manusia karena air tersebut di buang kedaerah air untuk penggunaan umum ata
u merugikan lingkungan hidup sudah menjadi ketentuan umum untuk diambil tindakan
yang diperlukan berdasarkan undang-undang pencegahan pencemaran kualitas air se
rta instruksi menteri yang menetapkan standard pengaturan untuk mencegah polusi
tambang, diantaranya termasuk standard buangan dan konsentrasi ion hidogen serta
kewajiban untuk mengukur kualitas air dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan konsentasi ion hidogen disini secara umum dinamakan pH, ddi
mana pH 0 sampai bersifat asam, 7 netral, 7 sampai 14 bersifat alkalis (basa), d
imana pH air yang dibuang ke daerah perairan untuk penggunaan umum dibatasi di a
tas 5,8 dan di bawah 8,6 dan pH air yang di buang ke perairan laut di batasi di
atas 5,0 dan dibawah 9,0. Oleh karena itu, apabila melampui pembatasan ini, pH h
arus diatur dengan zat penetral. Pada umumnya sebagai zat penetral digunakan bat
ugamping(limestone), soda kaustik dan laion-lain sebagai bahan basa serta asam s
ulfat, klor, ozon dan lain-lain sebagai bahan asam. Air di dalam mulut tambang (
pit) tambang batubara banyak yang netral atau asam lemah, sedangkan p[ada tamban
g logam, umumnya bersifat asamnya kuat, dimana banyak yang mengandung ion logam,
seperti tembaga, seng, timah dan besi serta ada yang banyak mengandung garam as
am sulfat.
3. Metode Pencegahab Air Di Dalam Mulut Tambang (pit) Bawah Tanah
3.1. Pemboran Pendahulu
Pengeboran pendahulu sangat diperlukan pada saat bertemu dengan semburan dan rem
besan air dan pada saat mendekati daerah dengan geologi yang tidak jelas atau be
kas mulut tambang (pit) lama dan paling efektif untuk eksplorasi mulut tambang (
pit) lama, patahan, lapisan mengandung air dan lain-lain.
Dengan melaksanakannya, maka :
a. Dapat menemukan patahan.
b. Dapat mengetahui perubahan lapisan tanah.
c. Dapat menemukan mulut tambang (pit) lama dan lapisan aliran air.
d. Dapat melakukan pengeluaran/penirisan (drainase) dan injeksi semen.
Untuk daerah dengan geologi yang tidak jelas dan mulut tambang (pit) lama, maka
ditetapkan untuk melaksanakan pengeboran pendahulu lebih dari 40 meter, tetapi d
ari segi pembelaan diri dapat diharapkan sikap untuk melakukan pengeboran pendah
ulu dengan inisiatif sendiri. Sebagai masalah nyata, apabila mendekati lapisan y
ang mengandung air atau mulut tambang (pit) lama diperlukan paling tidak dua bua
h pengeboran menyusuri garis perpanjangan terowongan (lubang bukaan). Apalagi, d
isekitar patahan, selain itu harus ditambah juga pengeboran ke arah atas dan ke
arah bawah terorowongan (lubang bukaan).
Tidak jarang kasus yang mengandung kecelakaan karena mengandalkan data masa lalu
seperti gambar pengukuran dan terlalu memanfaatkannya. Menangani masalah berdas
arkan data terbaru adalah benar dari dulu hingga sekarang dimanapun juga dan unt
uk tujuan ini pengebran pendahulu adalah metode yang paling tepat.
Tidak hanya terbatas pada pengecekan posisi, tetapi jangan dilupakan juga untuk
mengamati dan memeriksa perubahan kadar kekeruhan, rasa, temperatur, warna dan l
ain-lain dari air lumpur dan air bersih yang keluar dari lubang bor, untuk dijad
ikan bahan pertimbangan.
3.2. Injeksi Semen
Selama penggalian terowongan (lubang bukaan), pada waktu melewati lapisan yang m
engandung air atau patahan yang ada kemungkinan bahaya penyemburan air, maka dik
endalikan dengan injeksi semen.
Pada pekerjaan injeksi, lubang bor mengarah ke celah (retakan) yang dituju, kemu
dian pipa injeksi dimasukkan kedalamnya dan campuran semen (cement milk) ditekan
masuk oleh pompa tekanan tinggi dengan tekana sekitar 100 atmosfir, tetapi memp
erkirakan efektifitas injeksi sangatlah sulit, karena kondisi geologi senarnya b
erbeda-beda.
Terutama pada daerah remuk pada lapisan batupasir (sandstone), setelah semen yan
g diinjeksi mengeras juga dapat terjadi kebocoran oleh hujan dan banyak kasus di
mana diperlukan injeksi yang mencapai puluhan kali hanya untuk melakukan penggal
ian yang tidak seberapa. Namun, apabila kondisi penghentian (penahanan) air sepe
rti posisi lubang injeksi, kekentalan (konsentrasi) campuran semen (cement milk)
dan waktu pengerasannya kebetulan pas dengan kondisi setempat, maka metode ini
sangatlah efektif.
3.3. Dam pencegah Air
Prinsip dasar dari tindakan waktu terjadi semburan air di dalam mulut tambang (p
it) adalah melakukan tindakan pencegahan air untuk menahan pembesaran lubang air
sekecil mungkin. Untuk itu, sering kali dibuat dam diterowongan (lubang bukaan)
.
Bentuk dan jenis dam ada bermacam-macam, dimana diantaranya ada dinamakan Dam Ka
yu sebagai metode yang mudah dan efektif terhadap lapisan lunak dan lemah. Pada
dam ini, maka kayu dengan diamater bagian kecil 15 cm dan panjang 1,8 m dijejerk
an sejajar dengan terowongan (lubang bukaan) dan disela batuan dan kayu diisi pa
kis atau jerami, kemudian menancapkan lagging untuk memudahkan tumpukan (chock)
kayu itu sendiri. Kekuatan terhadap tekanan pada satu set tumpukan kayu dikataka
n seberat 2,4 kg/cm2. Kemudian sebagai dam permanen ada dam beton, dimana keteba
lan yang diperlukannya berubah menurut lebar terowongan (lubang bukaan) dan teka
na air. Pada Gambar 1 dan gambar 2 ditunjukan diagram hitungan ketebalan dam.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam kontruksi dam adalah :
a. Pada waktu pembuatan dam, sedapat mungkin dipilih tempat yang landasanny
a baik.
b. Melakukan penggalian pondasi dengan sempurna.
c. Bagian belakang dam dilakukan chock atau packing yang cocok untuk menceg
ah batuan runtuh.
d. Pipa penirisan (drainase) dimasukkan di bagian bawah dam, dan pipa kecil
untuk pengukuran tekana air atau untuk mengeluarkan udara, dimasukkan dibagian
atas dam dan dipasangi gate valve.
e. Pada pekerjaan sekitar atap, adonan morter yang kental dimasukkan sempur
na.
f. Jangan memberi tekana air sampai beton mengeras sempurna.
3.4. Pengeluaran Air Pada Mulut Tambang (pit) Lama
Apabila akan menambang dengan mendekati mulut tambang (pit) lama, maka untuk men
cegah semburan air yang tidak terduga, perlu mengetahui posisi dan situasi mulut
tambang (pit) lama setepat mungkin didalam peraturan keamanan ditetapkan hal-ha
l sebagai berikut:
a. Pada waktu mendekati mulut tambang (pit) lama, harus dilakukan pengebora
n pendahulu dari posisi lebih dari 50 meter dari mulut tambang (pit) lama untuk
meneliti kondisi geologi dan bersamaan dengan itu harus memeriksa keadaan air te
rtampung serta ada tidaknya penimbunan gas mudah terbakar dan lain-lain. Tujuann
ya untuk memehami situasi yang tepat.
b. Pada waktu melakukan pengeboran pendahulu, penggalian terowongan (lubang
bukaan) tidak boleh mendekati kurang dari 5 m dari dasar lubang bor. Tujuannya
adalah untuk mencegah kecelakaan dinding pelindung (cover rock).
c. Pada waktu banyak kemungkinan bahaya semburan air berjumlah besar, selai
n melakukan tindakan pengeboran pendahulu, harus membuat dam pencegah air dan fa
silitas pencegah air yang lain. Tujuannya adalah untuk mencegah perluasan pengar
uh kecelakaan tersebut, dimana semuanya harus dilakukan dengan pasti.
Sebagai metode pengeluaran air pada mulut tamabang (pit) lama, ,maka metode peng
eluaran air dengan lubang panjang melalui pengeboran adalah metode pengeluaran a
ir dengan lubang panjang melalui pengeboran adalah metode penirisan (drainase) y
ang paling aman, dimana jumlah air juga dapat ditetapkan sembarang tergantung da
ri jumlah pengeboran dan besarnya lubang bor.
1. mengenai penyebab semburan air didalam mulut tanbang (pit) dapat dibayan
gkan hal dibawah ini, bersama metode pencegahan yang umum.
a. Penyebab
- semburan air dari lapisan mengandung air
- semburan air dari patahan dan daerah remuk
- semburan air dari ruang kosong di dalam batuan
- semburan dari air yang tertampung di dalam mulut tambang (pit) lama
- matinya, fungsinya penirisan (drainase) akibat kerusakan fasilitas penir
isan (drainase) dan mati listrik
b. Metode Pencegahan
- pengeboran pengeluaran air, grout, dam pencegah air, penempatan pompa pe
mbantu dan sumber listrik cadangan
2. Mengenai Semburan Air (Rembesan Air Abnormal)
a. Pengeboran pendahulu adalah salah satu metode yang efktif untuk memperki
rakan penyemburan air.
b. Selain patahan dan lapisan mengandung air, maka air tertampung dalam mul
ut tambang (pit) lama juga sering menjadi penyebab penyemburan air.
c. Apabila diameter pipa penirisan (drainase) = d, laju aliran (jumlah) air
= Q dan kecepatan rata-rata di dalam pipa = v, maka terdapat hubungan :

3. Mengenai Air Di Dalam Mulut Tambang (pit)


a. Jumlah air rembesan di dalam mulut tambang (pit) mempuyai hubungan yang
erat dengan jumlah hujan yang turun.
b. Pada prencanaan penirisan (drainase) mulut tambang (pit) bawah tanah, se
lain pengangkatan (pemompaan air), perencanaan pengumpulan air dan pencegahan a
ir juga penting.
c. Rembesan air (semburan air) yang jumlahnya berkurang drastis seiring den
gan berlalunya waktu, umumnya banyak yang merupakan gejala yang mendadak.
4. Metode Penirisan (Drainase)
4.1. Penirisan (Drainase) Dengan Saluran Penirisan (Drainase)
Pada mulut tambang (pit) yang membuka mulut tambang (pit) dengan membuat terowon
gan (lubang bukaan) yang lebih tinggi dari terowongan (lubang bukaan) tersebut,
maka air rembesan dapat dikumpulkan di terowongan (lubang bukaan) ini dapat dial
irkan keluar mulaut tambang (pit). Pada tambang logam, banyak tambang yang berop
erasi di daerah yang lebih tinggi dari terowongan (lubang bukaan) tembus tersebu
t, sehingga di tambang tersebut umumnya digunakan metode penirisan (drainase) in
i.
Pada metode ini, sama sekali tidak diperlukan fasilitas mesin dan juga tenaga pe
nggerak serta pekerjaanya juga mudah. Walaupun mulut tambang (pit) berkembang di
bawah ketinggian tanah tersebut dan sebatas diizinkan oleh topografinya, maka p
enirisan (drainase) dilakukan dengan menggali terowongan (lubang bukaan) khusus
untuk penirisan (drainase). Terowongan (lubang bukaan) khusus ini umumnya mempuy
ai menjadi panjang dan besar serta diperlukan biaya penggalian yang besar, namun
karena biaya penirisan (drainase) berkurang, maka tambang logam dimanfaat secar
a luas. Terowongan (lubang bukaan) semacam ini dterowongan (lubang bukaan) penir
isan (drainase).
Apabila jumlah air rembes sedikit, tetapi di buat terowongan/lubang bukaan penir
isan (drainase khusus), tetapi di buat saluran (selokan) samping di terowongan (
lubang bukaan) pengangkutan utama dan [penirisan (drainase) dilakukan oleh alira
n secara alami dengan membuat kemiringan pada jalur air. Dari sudut panadang pen
galiran dan pengangkutan air, biasanya kemiringan tersebut dibuat miring 1/200 –
1/300 tanpa membedakan apakah itu tambang logam atau tambang batubara.
Kemudian , apabila kecepatan aliran terlalu lambant, maka serbuk debu, tanah dan
pasir akan mengendap, yang menyebabkan jalur air menjadi mengecil, sehingga har
us dipertahankan kecepatan aliran minimal lebih dari 7,2 m/menit untuk mengelimi
nasi pengendapan tersebut.
Perhitungan kapasitas saluran penirisan (drainase) dinyatakan dengan luas aliran
(m2) x kecepatan aliran (m/detik), dimana pada perhitungan kecepatan aliran ser
ing digunakan rumus Kutta.
V = R.S
Dimana :
V = kecepatan rata-rata (m/detik)
C = koefisien kecepatan aliran
R = kedalaman jalur (m)
S = kemiringan permukaan air (tan …… sudut kemiringan).
Yang dimaksud dengan kedalaman jalur pada suatu penampang yang tegal lurus alira
n air adalah luas penampang aliran dibagi dengan panjang keseluruhan dinding jal
ur air yang bersentuhan dengan air, misal pada gambar 3 adalah :

Koefisien kecepatan aliran ditentukan oleh kedalaman jalur dan jenis saluran pen
irisan (drainase) yang mana contohnya ditunjukkan pada tabel I dibawah ini.

GAMBAR 3. Kedalaman Jalur

Tabel I
Nilai Koefisien Kecepatan Aliran
Kedalaman Jalur Saluran Beton Saluran Batuan Apa Adanya
0,05
0,1
0,15
0,2
0,25 36
42
44
47
50 30
34
36
37
39
4.2. Penirisan (drainase) Dengan Pompa
Kenyataanya, penirisan (drainase) air yang dilakukan hanya dengan metode aliran
turun alami seperti dijelaskan pada pasal sebelumnya sangat jarang, hampir pada
semua tambang, rembesan air yang timbul seiring dengan penambangan di bawah leve
l, dibuang denga mengangkat (memompa) air oleh tenaga penggerak. Pompa adalah al
at untuk meksud tertentu.
4.2.1. Pemilihan Pompa
Berbagai macam pompa untuk penirisan (drainase) mulut tambang (pit) bawah tanah
yang digunakan, yang mana konstruksi, penggerarak yang digunakan dan kapasitasny
a tergantung dari tempat dan tujuan penggunanan, tetapi pokoknya yang penting ad
alah menggunakan pompa yang paling sesuai dengan kapasitas fasilitas dan situas
i di dalam mulut tambang (pit). Karakter dan kemapuan pompa berdasarkan jenisnya
adalah seperti Tabel II di bawah ini.

Tabel II
Karakter dan Kemampuan Pomapa
Jenis Kemapuan Penggerak Penggunaan Penanganan
Worthington Pump Kapasitas kecil, head sedang Udara
Kompresi Penggalian Sulit
Turbin Pump Kapasitas besar
Head besar Listrik Pompa Tetap Mudah
Volute Pump Kapasitas besar
Head kecil listrik Polapa Tetap Mudah
Air Pump Kapasitas kecil
Head kecil Udara
Kompresi Penggalia Sulit
Jet Pump Kapasitas kecil
Head kecil Air bertekanan Penggalian Mudah
Dewasa ini sebagai pompa penirisan (drainase) di tambang yang umum digunakan ada
lah pompa sentrifugal, terutama digunakan multi stage turbin pump dan multi stag
e volute pump untuk pemompaan head tinggi. Sebagai pompa lokal ada kalanya digun
akan pomap bolak-balik kecil (small size recripocating pump).
Dalam pemilihan pompa, harus dilakukan pertimbangan dengan membandingkan efesien
si, kemapuan, bentuk, pemeliharaan, sulit mudahnya penanganan, kondisi penggunaa
n yang berbeda menurut jenis pompa, dimana kalau kita bandingkan pompa sentrifug
al dan pompa bolak-balik, maka :
a. Konstruksi pompa sentrifugal lebih sederhana, bentuknya kecil karena mel
akukan operasi kecepatan tinggi dan harganya murah
b. Ruang tempat pemasangan pompa sentrifugal cukup kecil dan pekerjaan fond
asinya sederhana sehingga biaya fasilitasnya tidak sampai setengah dari biaya fa
silitas pompa bolak-balik.
c. Pada pompa bolak-balik, katup masuk dan katup keluar merupakan elemen ya
ng penting dari segi operasi, sedangkan pada pompa sentrifugalkatup seperti ini
tidak diperlukan, sehingga kerusakan karena katup jenis ini pasti tidak ada.
d. Pengaturan jumlah air keluar pada pompa bolak-baliktidak ada cara lainse
lain merubah kecepatan, sedangakan pada pompa sentrifugal walaupun kecepatannya
konstan, pengaturan jumlah air keluar dapat dilakukan secara mudah dan aman deng
an mengatur bukaan katup pembatas.
e. Pada pompa sentrifugal tidak diperlukan ruang udara karena pengeluaran a
ir kontinu. Sedangkan pada pompa bolak-balik, pengiriman air terputus setiap mel
akukan satu langkah, oleh karena itu untuk tujuanmencegah kekurangan ini dimanfa
atkan ruang udara, tetapi tidak sempurna, sehingga aliran keluar dari pompa berg
erak seperti berdenyut dan mudah menimbulkan bahaya efek impak air.
f. Selama operasi, pada pompa bolak-balik banyak bagian yang memerlukan min
yak pelumas, dan dengan sendirinya banyak kesempatan air tercemar karena minyak
pelumas masuk bercampur kedalam air. Sementara, bagian utama langsung mengalami
friksi pada pompa sentrifugal adalah bearing dan poros (as) dan sedikit sekali b
agian yang perlu diperhatikan selama operasi, sehingga dapat menghemat biaya man
usia dan biaya minyak pelumas.
Pada umunya, pompa mengisap masuk air di dalam penampung air seperti terlihat pa
da Gambar4 dan mengangkatnya sampai keketinggian tujuan, dimana pipa air untuk u
ntuk menghisap di sebut pipa isap (suction pipe) dan pipa air untuk mengangkat
disebut pipa pengiriman (delivery pipe).
4.2.2. Kapasitas Penirisan (drainase)
Berbeda dengan pabrik produksi lain, pada tambang sulit diperkirakan jumlah air
buangan pada tahap awal pembuangan. Selain itu, ketinggian pengangkatan (head) j
uga pada awalnya tidak jelas, berapa banyak air buangan antara musim hujan dan m
usim kering sangat berbeda.
GAMBAR 4. Pompa Isap
Apa bila menghadapi kesulitan seperti ini, dimana harus ditetapkan kapasitas pom
pa penirisan (drainase) dan jumlah pompa sert lokasi pemasangannya, maka untuk m
emutuskannya tidak ada jalan lain selain mengacu kepada penyelidikan (survey) ge
ologi serta penyilidikan (survey) kondisi penirisan (drainase) tambang batubara
dan tambang lain yang serupa yang saat ini sedang beroperasi.
Secara ideal, apabila misalnya kapasitas fasiolitas dibuat empat kali jumlah air
yang dikeluarkan pada waktu normal, dimana pompa yang dipasang mempuyai kapasit
as yang sama, maka dalam hal ini satu unit digunakan untuk operasi normal dan si
sa tiga unit sebagai cadangan yang dapat digunakan setiap saat, tetapi diharapka
n tetapi diharapkan melalui penggunaan seluruh fasilitas pompa, paling tidak kem
ampunnya mencapai 1,3 – 1,5 kali jumlah semburan air maksimum yang diperkirakan.
Selain itu, jalur distribusi listrik sampai ke lokasi perubah tegangan di luar
mulut tambang (pit), diharapkan masing-masing di buat lebih dari dua jalur untuk
bersiap menghadapi kemungkinan mati listrik yang tidak terduga pada salah satu
jalur.
4.2.3. Sumuran (shalft) Pada Mulut Tambang (pit) Bawah Tanah
Tujuan dari sumuran (shalft) adalah memasukkan pipa isap pompa dan tempat mengen
dapkan tanah lumpur yang bercampur di dalam air mulut tambang (pit) serta melaku
kan penyelelarasan yang pantas antara jumlah air yang dikumpulkan ke dalam sumur
an (shalft) dan jumlah air yang dikeluarkan pompa.
Hal pokok yang harus dipertimbangkan pada waktu menentukan posisi dan kapasitas
sumuran (shelft) adalah sebgai berikut :
a. Untuk memperpendek dan mengurangi belokan (lengkungan) pipa isap, sedapa
t mungkin mendekat ke dudukan pompa.
b. Tidak menghalangi kemajuan penggalian (memindahka) berkali-kali berarti
tidak ekonomis.
c. Dibuat di tempat yang memudahkan pengumpulan air di dalam mulut tambang
(pit) dan berada di dalam lapisan batuan yang kokoh untuk mencegah air bocor.
d. Hubungannya dengan jumlah air buang pompa biasa (reguler) serta ada tida
knya pompa cadangan dan jumlahnya.
e. Perubahan jumlah air rembesan di dalam mulut tambang (pit) (menurut cuac
a cerah-hujan dan musim).
f. Kelonggaran (toleransi) terhadap saat pemompaan air terhenti, misalnya o
leh mati listrik dan kerusakan fasilitas.
g. Untuk mengantisipasi berkurangnya kapasitas efektif sumuran (shaft) yang
disebabkan oleh pengendapan tanah lumpur yang tercampur di dalam mulut tambang
(pit), ditempatkan pompa tanah lumpur dan menjaga kapasitas efektif sumuran (sha
ft).
Demukianlah pokok perhatian untuk sumuran (shaft) dan yang penting adalah menent
ukan sumuran (shaft) dengan kapasitas yang diperlukan dan lagi terkecil. Apabila
keadaannya memungkinkan, walaupun dalam kasus pompa biasa dan cadangan keduanya
tersedia juga, sumuran (shaft) diharapkan mempuyai volume yang cukup untuk mena
mpung jumlah air rembesan selama 12 – 24 jam.
4.2.4. Pemipaan
Berbeda dengan bagian mesin, pipa itu sederhana sehingga sering diabaikan. Tetap
i, karena ada juga masalah air bocor dan korosi, terutama penempatannya perlu di
lakukan dengan hati-hati.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada pemipaan antara lain adalah :
a. memasang pipa isap dengan tidak membebani selruh bobot pipa kepada bagia
n sambungnya dengan pompa.
b. Bagian yang datar pada pipa isap di buat miring naik sedikit mengarah ke
pompa agar tidak terjadi air pocket.
c. Penyambungannya dikerjakan dengan baik agar dipastikan tidaj mengisap ma
suk udara melalui bagiam sambungan pipa isap.
d. Bagian datar pipa pengiriman (delivery pipe) juga sebaiknya ditempatkan
dengan miring sedikit ke atas mengrah ke arah pengiriman.
e. Dalam kasus apapun, pemipaan direncanakan agar sedapat mungkin mengurang
i katup, pipa cabang dan bagian belok.
Pipa air yang digunakan sebagi pipa distribusi, maka umumnya digunakan pipa baja
. Dibandingkan dengan pipa dari besi cor, maka pipa baja lebih mudah korosi oleh
asam dan garam, namun karena mempuyai keuntungan seperti kekuatan mekanik yang
tinggi dan mudah ditangani karena ringan dan sambungannya cukup sedikit saja kar
ena dapat diperoleh pipa yang panjang sehingga pipa baja yang digunakan secara l
uas.
Apabila tekanan tidak terlalu tinggi, yaitu di bawah 10 atmosfir, digunakan pipa
gas dan tekanan yang lebih dari itu, digunakan pipa baja tanpa sambungan. Apabi
la dilakukan pemompaan air dengan volume tertentu dengan menggunakan pipa berdia
meter kecil, maka ada pipa air yang tahanan friksi di dalam pipanya besar, sehin
gga kerugian energinya menjadi lebih besar dan biaya penggeraknya bertambah.
Berlawanan dengannya, apabila digunakan pipa dengan diameter besar, maka biaya b
iaya penggeraknya berkurang, tetapi biaya fasilitas pemipaan membengkak. Oleh ka
rena itu, untuk memperoleh ukuran pipa air yang paling sesuai harus dipilih yang
paling ekonomis dengan mempertimbangkan biaya penggerak, biaya fasilitas pemipa
an, lamanya waktu operasi dan lain-lain. Akan tetapi, kenyataannya sulit untuk m
enentukan masing-masing pipa berdsarkan perhitungan. Unuk itu, sebagai standar p
atokan, biasanya dilakukan perhitungan diameter pipa dengan merencanakan agar ke
cepatan aliran rata-rata di dalam pipa menjadi 1 – 3 meter per detik. Antara dia
meter pipa dan laju aliran air terdapat hubungan sebagai berikut :

Dimana :
d = diameter bagian dalam pipa (m).
v = kecepatan aliran per menit (m/menit)
Q = laju aliran per menit (m3/menit)
Umumnya pada pipa air pompa sentrifugal tidak ada perubahan kecepatan aliran, se
hingga jika dibandingkan dengan pipa air pomapa bolak-balik, dapat digunakan pip
a yang diameternya relatif kecil.
Pada tambang yang jumlah air yang dipompanya banyak atau pada tambang dengan kua
llitas air yang sangat korosif terhadap pipa air, maka untuk mencegah korosi dil
akukan berbagai tindakan pencegahan korosi, seperti menggunakan pipa air yang pe
rmukaan dalamnya atau kedua permukaannya dilapisi lining karet (rubber linning).
4.2.5. Manajemen Pemiliharaan Pompa
a. Pompa harus diinstalasi datar. Di dalam mulut tambang (pit0 ada kemungki
nan gerakan landasan, sehingga instalasi perlu dibuat agar dapat di setel oleh b
ahan yang ditetapkan oleh pondasi.
b. Sedapat mungkin pompa diinstalasi agar tinggi pengisapannya (suction hea
d) menjadi rendah.
c. Posisi mulut iasap dipilih yang tepat agar tidak mengisap masuk udara ka
rena terjadi pusaran air d imulut isap.
d. Minyak pelumas dituangkan secukupnya pada setiap tempat.
e. Memeriksa arah puar poros pompa, apakah sama dengan arah yang ditunjuk o
leh tanda panah.
f. Sebelumnya, kondisi putaran diperiksa dengan tangan.
g. Menutup katup pemisah pada sisi pengiriman.
h. Apabila sistem pengisian air pompa memakai katup foot, pertama-tama memb
uka semua cook pengeluaran udara dan menuangkan air dari corong bagian atas dan
setelah dipenuhi cukup air hingga air yang keluar dari cook tidak mengandung gel
embung udara, cook ditutup kembali dan dilakukan pengoperasian sebenarnya.
i. Motor dijalankan dan setelah mencapai keadaan putaran normal, katup pemi
sah pada sisi pengiriman dibuka secara perlahan-lahan.
j. Pada pompa berputaran tinggi dan multi stage turbin pump, tidak boleh me
lakukan operasi kosong tanpa dipenuhi air.
k. Mengusahakan agar debu tidak masuk ke bearing dan perhatikan temperatur
dan kondisi pasok (suplai) minyak pelumas bearing dan minyak pelumas diganti den
gan yang baru lebih dari 2 kali per bulan.
l. Penahan packing dikencangkan ringan agar selalu ada sedikit air yang men
galir keluar. Pompa yang melakukan penutupan air dengan menuangkan air k bagian
ini, harus hati-hati agar tidak mentup jalur lewat air.
m. Masuknya udara ke dalam pompa, tengah (centre) poros yang tidak tepat, j
umlah putaran yang tidak normal, tersangkutnya benda asing pada sudut dan lain-l
ain dapat menjadi penyebab kerusakan yang akan tampak dalam bentuk terjadinya ge
taran, beban lebih atau berkurangnya jumlah air yang dipompa. Getaran dapat memp
erpendek umur poros dan karena tidak sempurnanya pelumasan dapat menjadi penyeba
b kerusakan terbakar.
n. Pengukur tekanan dan pengukur vakum setiap diperlakukan harus di buka da
n di baca.
o. Melakukan pemeriksaan bagian dalam pompa cadangan dan melakukan anti kar
at, ganti catat serta penggantian minyak pelumas dan harus dilakukan tindakan pe
ncegahan kelembaban yang sempurna pada motor listrik. Pada musim dingin harus ha
ti-hati terhadap pembekuan air sisa.
A. mengenai Penirisan (Drainase)
1. Untuk penirisan (drainase) air di dalam mulut tambang (pit) sering digun
akan pompa sentrifugal.
2. Kebanyakan kecelakaan penyemburan air terjadi pada waktu permukaan kerja
mengenai patahan atau lapisan penampung air.
3. Dalam banyak kasus, air rembesan di dalam mulut tambang (pit) di keluark
an setelah dikumpulkan di terowongan (lubang bukaan) penirisan drainase.
B. Mengenai Pompa
1. Diantara pompa sentrifugal, pompa turbin mempuyai sudut putar dan sudut
pengarah di bagian dalam pompa dan melakukan pengangkatan (pempompaan) dengan pr
insip melempar keluar air ke arah radial oleh gaya sentrifugal putaran sudut.
2. Volute pump yang tidak mempuyai sudut pengarah, akhir ini banyak digunak
an karena konstuksi yang sederhana. Pompa pasir (sand pump) yang digunakan untuk
mengirim air lumpur dan slurry termasuk salah satu jenisnya.
5. Pengukuran Jumlah Air
Pada waktu berfikir mengenai masalah yang berhubungan dengan air, maka yang pali
ng adalah melakukan pengukuran jumlah air secra cepat.
Ada berbagai macam metode pengukuran, diantaranya adalah metode tanki untuk peng
ukuran jumlah aliran dengan metode penahan merupakan yang paling mudah dan relat
if tepat untuk penggunaan di tambang.
5.1. Metode Dengan Tangki Pengukuran
Pada metode ini biasanya digunakan drum minyak, dimana air di tampung dan diukur
sampai penuh, atau berapa drum yang dipenuhi dalam selang waktu tertentu.
Metode ini dapat mengukur dengan tepat apabila jumlah aliran airnya sedikit. Tet
api, pada metode ini pengukuran hanya dapat dilakukan secara terputus-putus, dim
ana kalau diperlukan pengawasan kontinue terhadap laju aliran air, maka lebih mu
dah pengukuran laju aliran dengan penahan.
5.2. Pengukuran Laju Aliran Dengan Penahan
Air yang hendak diukur (lihat gambar 5), melewati pipa dan mengalir masuk kedala
m saluran A yang dipasang datar sempurna. Setelah permukaan air stabil dengan me
lewati jalan logam yang dipasang didalam air, air jatuh dari penahan B.
Dalam kasus ini, ketinggian dari dasar penahan B sampai permukaan atas menjadi p
atokan laju air, dimana laju aliran dapat dihitung dari masing-masing rumus yang
berbeda menurut bentuk potongan penahan (seti tiga atau segi empat). Pada gamba
r 5 dapat dilihat untuk pengukuran laju aliran.
Q = K.h 5/2 (penahan segi tiga)
Q = K. bh3/2(penahan segi empat)
Dimana :
Q = laju aliran ( m3/detik)
h = kedalaman air pada penahan (m)
b = lebar penahan (m)

Dimana K adalah lkoefisien laju aliran yang berubah menurut lebar jalur air, leb
ar penahan dan kedalaman air, dimana nilainya menjadi, K = 1,44 pada penahan seg
i tiga dan K = 1,80 pada penahan segi empat.
5.3. Orifice dan yang lain
Ada venturi meter yang mencari laju aliran berdasarkan perbedaan tekana di depan
dan belakang orifice yang mempersempit jalur pipa untuk mengukur laju aliran ai
r dalam pipa, seperti terlihat pada gambar 6.

Selain itu, telah dikembangkan metode pengukuran laju aliran dari luar pipa yang
memanfaatkan gelombang ultrasonik dan mulai dipraktekkan.
6. Fasilitas Penisiran (drainase)
6.1. Ketentuan Keamanan
Mengenai keamanan yang berhubungan dengan fasilitas penirisan (drainase), sepert
i pokok yang tertulis di bawah ini, rinciannya harus ditetapkan oleh ketentuan k
eamanan.
a. Hal-hal yang berhubungan dengan pemeriksaan rutin pompa penirisan (drain
ase) mulut tambang bawah tanah
b. Hal-hal yang berhubungan dengan manejemen pompa penisiran (drainase) mul
ut tambang (pit) bawah tanah.
c. Hal-hal yang berhubungan dengan manajemen pipa penisiran (drainase) dan
jalur penisiran (drainase).
d. Hal-hal yang berhubungan dengan manejemen penampung air mulut tambang (p
it) bawah tanah.
e. Hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran jumlah air penirisan (drainas
e).
6.2. Perihal Perlengkapan
Pada waktu membuat fasilitas penirisan (drainase), harus sesuai dengan ketentuan
tiap butir dibawah ini.
a. harus memberikan toleransi yang sesuai atas jumlah air pada kemampuan pe
nirisan (drainase).
b. Harus melengkapi pompa penirisan (drainase) utama didalam mulut tambang
(pit) dengan pompa perisan (drainase) cadangan.
c. Harus melengkapi pengukuran tekana pada tempat yang tepat disisi keluar
dari pompa penirisan (drainase) utama.
d. Apabila diperlukan dari segi keamanan pada tempat yang tepat di sisi lua
r turbin untuk penirisan (drainase) mulut tambang (pit) bawah tanah, dipasang ka
tup penghenti aliran balik.
e. Untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik, kerusakan fasilitas dan la
in-lain kapasitas penampung air di dalam mulut tambang 9pit0 di buat mempuyai to
leransi yang sesuai.
7. Pemeriksaan dan Manajemen Yang Berhubungan Dengan Fasilitas Penirisan/Dr
ainase (Diambil Dari Ketentuan Keamanan – Ikhesema Coal Mine)
7.1. Mengenai Pemeriksaan Rutin Pompa Penirisan (Drainase) Mulut Tambang (pit
) Bawah Tanah.
1. Waktu, tempat dan metode pemeriksaan rutin.
Untuk memompa penirisan (drainase) yang menggunakan penggerak berdaya lebih dari
50 kW yang dipasang di dalam mulu tambang 9pit0, petugas keamanan mesin harus m
elaksanakan pemeriksaan rutin setiap butir berikut ini.
a. Bed Level……………………….. lebih dari 1 kali setiap 6 bulan
b. Center pompa dan motor……… lebih dari 1 kali setiap 6 bulan
c. Pump bearing…………………... lebih dari 1 kali setiap 6 bulan
d. Sambuang pipa………………… lebih dari 1 kali setiap 4 bulan
e. Katup……………………………. lebih dari 1 kali setiap 6 bulan
f. Minyak pelumas motor pompa... leboh dari 1 kali setiap 6 bulan
2. Hasil pemerisaan Rutin
a. Hasil di atas di catat dan melaporkan ada tidaknya kelainan kepada wakil
manajer teknik keaman untuk mendapatkan petunjuknya.
7.2. Mengenai Manajemen Pompa Penirisan (drainase) Mulut Tambang (pit) Bawah
Tanah
1. Pemilihan penanggung jawab manajemen, pemeriksaan dan pemeliharaan regul
er dan catatan harian operasi
a. Wakil manajemen teknik keamanan harus memilih penanggung jawab manajemen
untuk mengelola pompa penirisan (drainase) mulut tambang (pit) bawah tanah.
b. Setiap inspeksi keliling, penanggung jawab manajemen memeriksa dan memel
ihara pompa penirisan (drainase) mulut tambang (pit) bawah tanah dan apabila te
rdapat kelainan, mengambil tindakan yang tepat dan segera melaporkan kepada waki
l manajer teknik keamanan untuk mendapatkan petunjuk.
c. Operator harus mencatat waktu pengoperasian mesin serta ada tidaknya kel
ainan, pada catatan harian operasi yang ditetapkan
7.3. Mengenai Manajemen Pipa Penirisan (Drainase) Dan Jalur Penirisan (Draina
se)
1. Pemilihan penangung jawab manajemen
a. wakil manajer teknik keamanan harus memilih penangung jawab manajemen un
tuk mengelola pipa penirisan (drainase) dan jalur penirisan (drainase).
2. Waktu dan Metode pemeriksaan rutin pipa dan jalur penirisan (drainase)
Penanggung jawab manajemen harus melakukan pemeriksan ada tidaknya kelainan pada
pipa penirisan (drainase) dan jalur penirisan (drainase) mengenai butir-butir b
erikut :
a. Pipa penirisan (drainase)
• Tingkat korosi pipa serta bahan
penyangga pipa drainase……………… lebih dari 1 kali per minggu
• Baik tidaknya bagian sambungan
Pipa dan kondisi penyanggaan
pipa penirisan (drainase)……………… lebih dari 1 kali per minggu
• Kondisi penempelan kotoran air (deki). lebih dari 1 kali per minggu
b. Jalur penirisan (drainase)
• Penjagaan dan kondisi aliran air
jalur penirisan (drainase)…………….. lebih dari 1 kali per minggu
c. Hasil di atas di catat dan melaporkan ada tidaknya kelainan kepada wakil
manajer teknik keamanan untuk mendapat petunjuknya
3. Pemeriksaan reguler pipa penirisan dan jalur penirisan (drainase)
Selain pemeriksaan rutin pada pasal diatas, penanggung jawab manajemen memeriksa
pipa penirisan (drainase) dan jalur penirisan (drainase) setiap inspeksi kelili
ng dab apabila di ketahui adanya kelainan, mengambil tindakan yang tepat dan seg
era melaporkan kepada wakil manajernya teknik untuk mendapatkan petunjuknya.
4. Waktu dan metode pembersihan
Apabila ada bahaya gangguan terhadap penirisan (drainase) pada pipa penirisan (d
rainase) dan jalur penirisan (drainase), penanggung jawab manejemen harus segera
mengambil tindakan yang tepat.

7.4. Mengenai Manajemen Penampung Air Mulut Tambang (pit) Bawah Tanah
a. Waktu dan metode pembersihan
Pembersihan penampung air mulut tambang (pit) bawah tanah harus dilakukan dengan
menyesuaikan terhadap situasi setempat dan harus dipelihara agar tidak terjadi
gangguan terhadap penirisan (drainase).
b. Pemeriksaan dan pemeliharaan
Penamggung jawab manajemen melaksanakan pemeriksaan rutin 1 kali setiap bulan da
n harus memeliharanya agar tidakl terjadi gangguan terhadap penirisan (drainase)
.
7.5. Mengenai Pengukuran Jumlah Air Penirisan (Drainase)
a. Tempat pengukuran
Harus membuat tempat pengukuran jumlah air penirisan (drainase) di mulut tambang
(pit).
b. Waktu dan Metode pengukuran
Jumlah air penirisan (drainase) harus diukur setiap hari dengan alat pengukur al
iran di mulut tambang (pit).
c. Pencatatan pengukuran
Hasil pengukuran jumlah air penirisan (drainase) harus dicatat dan disimpan