Anda di halaman 1dari 18

SIFAT DAN JENIS INFEKSI FAMILY

ORTHOVIRIDAE DAN PARAMYXOVIRIDAE


MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Virologi

DISUSUN OLEH :
Dea Indrawati
Guntur Ari Kusuma
Risa Yullya R
Viona Elvitria

Kelas IIIA

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
PRODI DIII ANALIS KESEHATAN
CIMAHI 2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur hanyalah milik sang khalik, raja semesta
alam yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita
semua. Tak lupa shalawat serta salam, sepantasnya kita arakan
kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW.
Dengan

mengucapkan

allhamdulillah,

kami

dapat

menyelesaikan sebuah makalah Sifat Dan Jenis Infeksi Family


Orthoviridae Dan Paramyxoviridae yang dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Virologi.Selain itu makalah ini juga dibuat
dengan tujuan untuk memotivasikan dan menyadarkan kita
khususnya sebagai pelajar akan pentingnya pengetahuan.
Pada

proses

penyusunan

makalah

ini

kami

banyak

mengalami kendala, terutama dalam hal teknis penyusunan


materi. Namun dengan kerja sama dan usaha yang tinggi, kami
akhirnya

dapat

menyelesaikan

makalah

ini.

Tetapi

kami

menyadari bahwa penulisan makalah ini dapat dibuat karena


adanya dorongan dan kerja sama kelompok.
Selanjutnya

kami

menyadari

bahwa

tidak

menutup

kemungkinan dalam makalah yang sudah dibuat masih terdapat


kesalahan dan kekurangan baik dalam isi maupun penyusunan
yang masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan
kritikan

yang

bersifat

membangun

dan

menyempurnakan

makalah ini akan penulis sambut dengan rasa senang hati dan
rasa syukur.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, baik untuk sekarang maupun masa
yang akan datang.

Cimahi, November 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................
1.1

LATAR BELAKANG......................................................................................

1.2

RUMUSAN MASALAH.................................................................................

1.3 TUJUAN........................................................................................................
BABIIPEMBAHASAN................................................................................................
2.1 SIFAT FISIKA..................................................................................................
2.1.1 Radiasi....................................................................................................
2.1.2 Suhu.......................................................................................................
2.2 SIFAT KIMIA...................................................................................................
2.2.1 Stabilisasi virus oleh garam...................................................................
2.2.2 pH...........................................................................................................
2.2.3 Inaktivasi fotodinamik Virus...................................................................
2.2.4 Kerentanan terhadap eter......................................................................
2.2.5 Detergen................................................................................................
2.2.6 Formaldehida..........................................................................................
2.2.7Desinfektan.............................................................................................
2.3 AGEN ANTIBIOTIK DAN ANTIBAKTERIAL LAIN...............................................
BAB III PENUTUP....................................................................................................
3.1 KESIMPULAN.................................................................................................
3.2 SARAN..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel
organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup
dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak
memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus
mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak
kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri
atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi
baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang
dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Orthomyxoviridae keluarga virus, pertama kali ditemukan di babi oleh
Richard Schope di 1931. Ini ditemukan pertama kali diikuti oleh isolasi virus dari
manusia dari kepala grup oleh Patrick Laidlaw di Medical Research Council di
United Kingdom di tahun 1933. Bagaimanapun itu tidak ditemukan sampai
Wendell Stanley pertama kali mengkristal tobacco mosaic virus di tahun 1935 itu
bukan cellular alam virus yang diketahui.
Langkah signifikan pertama dalah mencegah influenza ditemukan tahun
1944 dimana vaksin pembunuh virus influenza oleh Thomas Francis Jr. Ini
membangun kerja dari Frank Macfarlane Burnet, dimana menunjukkan virus
kehilangan kekuatan virus ketika ditanam di telur ayam. Aplikasi dari observasi
oleh Francis mengijinkan grup pemeliti di Universitas Michigan untuk
menemukan pertama kali vaksin influenza, dimana itu mendapat dukungan dari
U.S.Army. Tentara terlibat banyak dalam penelitian untuk pengalaman influenza

di Perang dunia 1. ketika ribuan dari tentara terbunuh oleh virus selama beberapa
bulan.
Walaupun mereka takut di New Jersey (dengan Swine flu), dunia tahun
1977 (oleh Russian flu), dan di HongKong dan negara asian laiinya di tahun 1997
(dimana H5N1 avian influenza), mereka telah tidak ada dari pandemic utama
sejak tahun 1968 HongKong flu. Imunisasi untuk mencegah jalur pandemik
influenza utama dab vaksinasi mungkin mempunyai perpecahan terbatas virus dan
mungkin juga membantu mencegah pandemik mendatang.
Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit
tertentu, misalnya virus influenza yang menyebabkan penyakit influenza atau flu
pada manusia. Pada umumnya di negara-negara tropis termasuk di Indonesia,
kejadian wabah influenza dapat terjadi sepanjang tahun dan puncaknya akan
terjadi pada bulan Juli. Virus influenza mudah bermutasi dengan cepat, bahkan
seringkali memproduksi strain baru di mana manusia tidak mempunyai imunitas
terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, mortalitas influenza berkembang sangat
cepat. Oleh sebab itu dalam makalah ini saya akan membahas mengenai virus
influenza, mulai dari pengertian, struktur cara replikasinya, hingga upaya dalam
pencegahan penularan virus influenza itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sifat dan jenis infeksi virus famili Orthoviridae?
2. Bagaimana sifat dan jenis infeksi virus famili Paramyxoviridae?

1.3 Tujuan Makalah


1. Mengetahui sifat dan jenis infeksi virus famili Orthoviridae?
2. Mengetahui sifat dan jenis infeksi virus famili Paramyxoviridae?

BABII
PEMBAHASAN
2.1 Orthoviridae
A. Definisi Virus Influenza
Influenza sering disebut sebagai flu adalah penyakit pernapasan
yang disebabkan oleh sekelompok virus. Virus yang memiliki selubung
dengan materi genetik RNA bersegmen berpolaritas negatif sehingga virus
ini termasuk dalam kelas V dalam klasifikasiBaltimore.Ciri khas dari virus
ini adalah virus ini memiliki protein permukaan yang merupakan antigen
utama

yaitu

Hemmaglutinin

(HA)

dan

Neuraminidase

(NA).

Hemmaglutinin merupakan bagian virus yang menempel pada sel target


oleh sebab itu antibodi terhadap hemmaglutinin dapat melindung dari
infeksi virus. Neuraminidase berperan untuk melepaskan virion dari sel
oleh sebab itu antibodi terhadap NA dapat menekan tingkat keparahan
infeksi virus.
Klasifikasi dari virus influenza menurut International Commitee on
Taxonomy of Viruses sebagai berikut :
Ordo

: Orthomyxovirales

Familia

: Orthomyxoviridae

Subfamilia

: Orthomyxovirinae

Genus

: Orthomyxovirus

Spesies

: Orthomyxovirus sp.

Virus influenza digolongkan dalam kelompok virus RNA (Ribose


Nucleic Acid) dan dibagi atas tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Virus dengan
tipe A dan B bisa menyebabkan epidemik, khususnya saat musim salju di
negara dengan empat musim. Sedangkan virus influenza tipe C hanya

menyebabkan masalah pernafasan yang ringan, dan diduga bukan


penyebab dari epidemik.Istilah mixovirus menunjukkan sekelompok
besarvirus yang beramplopb yang mampu berikatan dengan glikoprotein
reseptor permukaan sel. Virus ini dibedakan kedua groub yang berlainan:
Orthomyxovirus dan paramyxovirus karena berdasarkan dalam struktur
pola reflikasinya.

B. Jenis Jenis Virus Influenza


Virus influenza terdiri dari virus influenza A, B dan C. Virus
influenza A, B, dan C sangat serupa pada struktur keseluruhannya. Partikel
virus ini berdiameter 80-120 nanometer dan biasanya kurang-lebih
berbentuk seperti bola. walaupun bentuk filamentosa mungkin saja ada.
Bentuk filamentosa ini lebih sering terjadi pada influenza C, yang dapat
membentuk struktur seperti benang dengan panjang mencapai 500
mikrometer pada permukaan dari sel yang terinfeksi. Namun, walaupun
bentuknya beragam, partikel dari seluruh virus influenza memiliki
komposisi yang sama. Komposisi tersebut berupa envelope virus yang
mengandung dua tipe glikoprotein, yang membungkus suatu inti pusat. Inti
pusat tersebut mengandung genom RNA dan protein viral lain yang
membungkus dan melindungi RNA.
Virus influenza secara relative tahan dan dapat disimpan pada suhu
0-4C selama berminggu-minggu tanpa kehilangan daya hidup. Virus
kehilangan infektivitasnya lebih cepat pada suhu -20C daripada pada
suhu +4C eter dan denaturant protein merusak infektivitas. HA dan
antigen internal lebih stabil terhadap inaktivasi daripada virus infektif,
baik infektivitas maupun hemaglutinasi lebih resisten terhadap inaktivasi
pada pH basa daripada pada pH asam.
Jenis-Jenis Virus Influenza
Terdapat 3 jenis virus Influenza, yaitu tipe A, B dan C, sebagai berikut :
4

Virus Influenza A
Genus ini memiliki satu spesies, influenza A virus. Burung akuatik
yang liar yang host alami untuk sejumlah besar influenza A. Terkadang,
virus ditransmisikan ke spesies lain dan mungkin kemudian menyebabkan
wabah menghancurkan domestik unggas atau menimbulkan pandemik
influenza manusia. Tipe A virus yang paling mematikan patogen manusia
di antara tigajenis influenza dan menyebabkan penyakit yang paling parah.
Influenza A virus dapat dibagi menjadi serotipe berbeda yang
berdasarkan antibodi menanggapi virus ini. Contohnya sebagai berikut :

H1N2, endemik pada manusia dan babi

H9N2

H7N2

H7N3

H10N7

Virus Influenza B
Genus ini memiliki satu spesies, influenza B virus. Flu B hampir
secaraeksklusif

menginfeksi manusia dan kurang umum daripada

influenza A.Hanya binatang yang dikenal sebagai rentan terhadap infeksi


B flu adalahsegel dan musang. Jenis influenza bermutasi pada tingkat 2-3
kali lebihlambat dari tipe A dan akibatnya kurang genetik beragam, dengan
hanya satuinfluenza B e. Coli tipe.
Virus Influenza C
Genus ini memiliki satu spesies, virus influenza C, yang
menginfeksi manusia, anjing dan babi, kadang-kadang menyebabkan
5

parah penyakit dan epidemi lokal.Tipe A dan B menyebabkan penyakit


pernapasan yang umumnya terjadi selama bulan-bulan musim dingin.
influenza Tipe C biasanya tanpa gejala, tapi kadang-kadang menyebabkan
masalah pernapasan sangat ringan. Vaksinasi ditawarkan setiap musim flu
untuk jenis sasaran A dan B, strain yang menyebabkan penyakit pandemic
C. Penyebaran dan Penularan
Virus ini tersebar di antara sesama manusia lewat butir-butir
percikan saat penderitanya batuk atau bersin. Di tempat orang berkerumun
atau tertutup oranglebih mudah ketularan. Masa inkubasi dari penyakit ini
sekitar satu hingga empat hari (rata-rata dua hari). Pada orang dewasa,
sudah mulai terinfeksi sejak satu hari sebelum timbulnya gejala influenza
hingga lima hari setelah mulainya penyakit ini. Sedangkan anak-anak
dapat menyebarkan virus ini sampai lebih dari sepuluh hari.Gejala
influenza dapat dimulai dengan cepat, satu sampai dua hari setelahinfeksi.
Biasanya gejala pertama adalah menggigil atau perasaan dingin namun
demam juga sering terjadi pada awal infeksi, dengan temperaturtubuh
berkisar 38-39 C (kurang lebih 100-103 F).
Banyak orang merasa begitu sakit sehingga mereka tidak dapat
bangun dari tempati tidur selama beberapa hari, dengan rasa sakit dan
nyeri sekujur tubuh, yang terasa lebih berat pada daerah punggung dan
kaki. Gejala influenza dapat meliputi:Demam dan perasaan dingin yang
ekstrem (menggigil, gemetar), batuk,hidung tersumbat, nyeri tubuh,
terutama sendi dan tenggorok, kelelahan,nyeri kepala, iritasi mata, mata
berair, mata merah, kulit merah (terutamawajah), serta kemerahan pada
mulut,tenggorok, dan hidung. Ruam petechiae (pada anak, gejala
gastrointestinal seperti diare dan nyeriabdomen) dapat menjadi parah pada
anak dengan influenza B.

D. Upaya Pencegahan Penyakit akibat Virus Influenza

Upaya pencegahan Penyakit akibat Virus Influenza yaitu dengan


cara vaksinasi. Vaksinasi terhadap influenza dengan vaksin influenza
sering direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi, seperti anakanak dan orang tua, atau pada orang yang memiliki asma ,diabetes,
penyakit jantung , atau immuno-dikompromikan. Influenza vaksin dapat
diproduksidalam beberapa cara dengan metode yang paling umum adalah
untuk menumbuhkan virus dibuahi ayam telur. Setelah pemurnian, virus
ini tidak aktif (misalnya, dengan perlakuan dengandeterjen) untuk
menghasilkan vaksin tidak aktif-virus atau virus dapat tumbuh di telur
sampai virus avirulen diberikan sebagai vaksin hidup.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan flu adalah:
1. Rajin mencuci tangan terutama. Jangan sembarangan memasukkan
tangan ke mulut. Cucilah tangan dengan benar menggunakan sabun
atau alkohol. Gosok-gosok tangan bagian dalam, luar sampai
pergelangan tangan dengan sabun selama 15 detik, lalu bilas dengan
air bersih.
2. Hindari (menjauh) dari orang yang terkena flu. Flu merupakan
penyakit yang sangat cepat menular lewat udara terutama saat bersin
dan batuk.
3. Untuk orang yang sedang flu, sebaiknya menggunakan masker
penutup mulut dan hidung agar tidak menyebarkan virus flu ke orang
lain. Saat batuk dan bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan tisu,
lalu buanglahtisu ke tempat sampah setelahnya.
4. Flu juga bisa menular lewat kontak (sentuhan) tangan orang yang
terinfeksi virus flu atau lewat kontak dengan benda yang telah
dipegang penderita. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk
selalu rajin mencuci tangan dengan sabun agar memperkecil
kemungkinan tertular penyakit flu.

5. Flu tak hanya bisa masuk ke dalam tubuh lewat mulut, bisa juga lewat
hidung dan mata. Oleh sebab itu, bila Anda habis melakukan kontak
langsung dengan penderita flu, hindari menggosok-gosok mata dan
hidunguntuk mencegah penularannya.
6. Jika Anda terserang flu, sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah
untuk mencegah kemungkinan Anda menularkan virus flu ke orang
lain di sekitar Anda. Istirahatlah di rumah karena istirahat sangat
dibutuhkan bagitubuh agar bisa pulih kembali.

E. Diagnosa Laboratorium
Sifat-sifat klinis onfeksi pernafasan viral dapat dihasilkan oleh
berbagai virus yang berbeda. Akibatnya, diagnosa influenza dipercayakan
pada isolasi virus, identifikasi antigen atau asam nukleat virus dalam selsel penderita, atau respons immunologi spesifik yang ditunjukkan oleh
pasien. Dengan melihat gejala klinik saja tidak mungkin, oleh karena
gejalanya sulit dibedakan dengan dengue klasik, maka harus dibantu
dengan pemeriksaan laboratorium, yaitu :
1. Isolasi
Isolasi dari hapus tenggorokan pada anak-anak atau air cucian
tenggorokan pada orang dewasa.
Air cucian tenggorokan diberi penstrep untuk membunuh bakteri yang
ada di dalam mulut, lalu tanamnkan intra amnion sebanyak 0,1-0,2 ml,
pada telur berembrio, eramkan selama 2 x 24 jam pada suhu kamar.
Telur kemudian dibongkar, cairan amnion di ambil kemudian tanam
lagi secara intra amnion secara HA denga eritrosit cavia (marmot) atau
manusia golongan darah O. bila sudah mencapai titer 1/16 passase
secara intra allantois, kemudian titrasi dengan HA menggunakan

eritrosit ayam sampai mendapatkan titer 1/32. Setelah mencapai titer


yang tinggi, lakukan tapering, yaitu menentukan tipe virusnya dengan
menggunakan cara HI virus yang akan di tentukan tipenya tadi dibuat
konsentrasi 4 unit HA.
Caranya sebagai berikut :

Sediakan antigen virus (X) dalam konsentrasi 4 unit HA


eritrosit ayam 0,5%, larutan pengencer NaCl buffer, antiserum
spesifik, misalnya : anti serum A2 japan 1957 antiserum A2
Hongkong 1968 dan lain-lain.

Lakukan pengenceran antiserum-antiserum tersebut dalam


deretan tabung-tabung. Lalu tambahkan antigen yang sedang
dicari tipenya dalam konsentrasi $ unit HA, pada tiap
pengenceran serum, lalu tambahkan eritrosit ayam 0,5 %.

Lakukan pula control antiserum, control eritrosit dan control


antigen, dimana hasilnya harus negative (-), pada control
antiserum dan control eritrosit dan harus positif (+) pada
control antigen pada 1 unti HA.

Lalu baca pada pengenceran berapa terjadipenghambatan


hemaglutinasi ( HI ). Dan dapat di tentukan jenis virus yang
diisolasi tadi.

2. Serologi
Antibodi HA, NA, NP, dan M dihasilkan selama infeksi virus
Influenza.Respon imun Terhadap glikoprotein HA dan NA terkait dengan
resistensi terhadap infeksi. Test serologi rutin dalam pemakaiannya
berdasarkan penghambatan Hemaglutinasi dan ELISA. Sera akut dan
penyembuhan penting, karena individu normal biasanya mempunyai
9

antibodi influenza. Suatu peningkatan titer sampai 4 kali lipat atau lebih
harus terjadi untuk menandakan infeksi Influenza. Sera manusia sering
mengandung

penghambat

mukoprotein

non

spesifik

yang

harus

dihancurkan oleh pemberian RDE (enzim penghancur reseptor dari kultur


vibrio cholerae), tripsin atau ditentukan masanya sebelum pengujian.
Test HI menentukan strain virus yang menyebabkan infeksi hanya
jika tersediaantigen yang tepat untuk dipakai. Test NT merupakan test
yang paling peka dan pediktor suseptibilititas terhadap infeksiyang baik
tetapi lebih sulit digunakan dan pelaksanaannya lebih memakan waktu dari
pada test lain.

F. Pengobatan
Disarankan untuk mendapatkan banyak istirahat, minum banyak
cairan, menghindari penggunaan alkohol dan tembakau dan, jika perlu,
mengambil obat-obatan seperti acetaminophen (paracetamol) untuk
meringankan demam dan nyeri otot yang berhubungan dengan flu. Anakanak dan remaja dengan gejala flu (terutama demam) harus menghindari
aspirin selama infeksi influenza (terutama tipe influenza B ), karena hal
itu dapat menyebabkan Sindrom Reye , tapi berpotensi fatal penyakit
langka dari hati . Sejak influenza disebabkan oleh virus, antibiotik tidak
berpengaruh terhadap infeksi, kecuali diresepkan untuk infeksi sekunder
seperti bakteri pneumonia. obat antivirus bisa efektif, tetapi beberapa
strain influenza dapat menunjukkan resistensi terhadap obat antivirus
standar.
Salah satu cara terbaik untuk mencegah flu adalah dengan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar daya tahan tubuh meningkat
dan mampu melawan serangan virus flu. Cara yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kekebalan tubuh adalah dengan selalu menjaga pola hidup
sehat seperti makanmakanan sehat dan bergizi, berolahraga, cukup

10

istirahat, dan bisa juga dengan vaksinasi. Dalam dunia medis saat ini
sudah diperkenalkan vaksinasi flu untukorang usia 6 bulan ke atas.
Para ahli menyarankan agar vaksinasi flu dilakukan setiap tahun
karena cepatnya kemampuan virus flu untuk berubah sehingga menjadi
lebih resisten. Efektivitas vaksinasi dalam mencegah penyakit flu
bisamencapai 7090 %. Orang yang sangat dianjurkan untuk mendapatkan
imuniasai flu adalah anak-anak, wanita hamil, orang yang menderita
penyakit tertentu seperti penyakit asma, HIV, diabetes, jantung, paru, dan
orang tua terutama mereka yang berusia lebih dari 65 tahun ke atas. Orang
yang tidak boleh diberikan vaksinasi flu adalah anak bayi usia 6 bulan ke
bawah, orang yang alergi khususnya alergi telur dan produk olahannya,
orang yang menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin flu, dan orang yang
menderita Guillain-Barr syndrome (keanehan pada sistem imun dan saraf
tubuh).

2.2 Paramyxoviridae

11

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Virus dapat terpengaruh oleh keadaan fisik dan kimiawi
seperti

radiasi,suhu,garam-garam,eter,detergen,

desinfektan,pelarut

lemak,

formalidehid

dan

lainnya

yang

menyebabkan virus megalami perubahan menjadi tidak stabil


dan perubahan yang lainnya. Namun, tidak semua jenis virus
yang megalami perubahan masih ada jeis virus tertentu yang
tidak

mengalami

perubahan

namun

kebanyakan

virus

terpengaruh oleh yang tersebut diatas.


Keadaan fisik dan kimiawi dapat berpengaruh dalam
bentuk dan suasana virus itu sendiri oleh karena itu virus
dikatakan mahluk hidup karena mempunyai DNA walaupun tidak
bisa berkembang biak sendiri namun ia parasit ataupun hidup di
inang.

3.2 SARAN
Diharapkan

perhatian

khusus

dari

masyarakat

dan

pemerintah, tentang hal hal pengaruh keadaan fisik dan


kimiawi

terhadap

virus

agar

kita

dapat

meminimalisir

perkembangan virus dalam maupun luar tubuh kita.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 2011. Pengaruh Faktor Fisika dan Kimia terhadap Virus.
(Online).

Tersedia

di

http://marnardo.blogspot.co.id/2011/05/pengaruhfaktor-fisika-dan-kimia.html. Di akses pada : Sabtu 19


September 2015 Pukul 10.23 WIB
2. Anonim. Makalah Reaksi Virus Terhadap Agen Fisika dan Agen
Kimia.(online).

Tersedia

di

www.aaknasional.files.wordpress.com. Diakses pada :


Sabtu 19 September
2015 Pukul 11.14 WIB
3. ( Mikrobiologi Kedokteran, 1993 :248-249 ).
4. ( Depkes RI, 1996 :19 ).

13