Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS PERBANDINGAN KADAR KALSIUM SERUM PENDERITA

GAGAL GINJAL KRONIK PRE DAN POST HEMODIALISIS DI RUMAH


SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016

Disusun Oleh : ANDRIE RACHMAT YUDIANTARA


Npm
: 12310039
Pembimbing I : dr. Hetti Rusmini, M.Biomed
Pembimbing II: dr. Rakhmi Rafie
Kata Kunci : Kadar kalsium, Hemodialisis.

ABSTRAK

ABSTRACT

Latar Belakang : Gagal ginjal kronik merupakan


gangguan fungsi ginjal yang progresif dan
irreversibel karena ginjal kehilangan kemampuan
untuk mempertahankan volume, komposisi cairan
tubuh dan membuang sisa metabolisme.
Hemodialisis digunakan sebagai terapi untuk
mengganti fungsi ginjal yang memburuk. Ketidak
seimbangan kadar kalsium baik hipokalsemia
maupun hiperkalsemia dapat terjadi pada pasien
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.

Background
: Chronic renal failure is a
progresive renal dysfunction and irreversible due
to the renal lose its function to maintain volume,
body fluid composition and dispose of metabolic
waste. Hemodialysis used as a therapy to replace
the decrease of renal function. Calcium imbalance,
both hypocalcemia and hypercalcemia can occurs
in patients with chronic renal failure who undergo
hemodialysis.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk


mengetahui perbedaan kadar kalsium serum
penderita gagal ginjal kronik pre dan post
hemodialisis di Rumah Sakit Pertamina Bintang
Amin Bandar Lampung.

Research Objective : This study aimed to


determine differences in serum calcium levels of
chronic renal failure patients between pre and post
hemodialysis in Pertamina Bintang Amin hospital.
Methode : This study was an analytic with cross
sectional approach to know the differences in
serum calcium levels of patients with chronic renal
failure of pre and post hemodialysis in patients. In
this research, the examination was conducted of
blood samples on hemodialysis patients in
Pertamina Bintang Amin hospital. The obtained
data were then statistically analyzed by paired
sampel t-test. The numbers of samples which
include in inclusion and exclusion criteria were 20
patiens.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan


penelitian analitik dengan pendekatan cross
sectional untuk mengetahui perbedaan kadar
kalisum serum pre dan post hemodialisis pada
penderita gagal ginjal kronik. Pada penelitian ini
dilakukan pemeriksaan terhadap sampel darah
pasien yang menjalani hemodialisis di Rumah
Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung.
Data dari hasil pemeriksaan diuji statistik dengan
ujipaired
t-test. Sampel yang didapatkan
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada
penelitian ini berjumlah 20 pasien.

Result : The results of statistical test with paired


sampel t-test obtained p-value = 0,000 (p<0,05)
which indicated that there ware significant mean
differences in the serum calcium levels of pre and
post hemodialysis in patients with chronic renal
failure.

Hasil penelitian : Hasil uji statistik dengan t-test


didapatkan nilai p = 0,000 (p<0,05) menunjukan
bahwa terdapat perbedaan kadar kalsium serum
yang bermakna pre dan post hemodialisis pada
pasien gagal ginjal kronik.

Result conclusions : The results showed that


there were diffrences in serum calcium levels of
pre and post hemodialysis in patients with chronic
renal failure.

Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukan bahwa


terdapat perbedaan kadar kalsium serum yang
bermakna pre dan post hemodialisis pada pasien
gagal ginjal kronik.

Keywords : Calcium level, hemodialysis

melalui membran semipermeabel atau yang


disebut dialyzer, dimana proses dialisis tergantung
pada prinsip dialisis,tergantung pada prinsip
fisiologis, yaitu difusi dan ultrafiltrasi. Pada
prinsipnya terapi hemodialisis adalah untuk
menggantikan kerja dari ginjal yaitu menyaring
dan membuang sisa-sisa metabolisme dan
kelebihan cairan, membantu menyeimbangkan
unsur kimiawi, menyeimbangkan elektrolit tubuh
serta membantu menjaga tekanan darah.8

PENGANTAR
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu
sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi
ginjal yang bersifat menahun, berlangsung
progresif, dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila
laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 50
ml/menit. Gagal ginjal kronik sesuai dengan
tahapannya, dapat ringan, sedang atau berat.1
Angka kejadian GGK di dunia tahun 2012
lebih dari 500 juta orang dan yang harus menjalani
hidup dengan bergantung pada cuci darah (
hemodialisis) 1,5 juta orang. Di negara-negara
berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan
sekitar 40-60 kasus per satu juta penduduk
pertahun.2

Menurut penelitian yang dilakukan


Nirapambudi Devianto di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya dikumpulkan dari 150 pasien yang telah
menjalani hemodialisis terdapat kadar kalsium
terkoreksi yang masuk rentang optimal 8,4-9,5
mg/dl sebesar 43,3%, sedangkan yang diatas
optimal >9,5 mg/dl sebesar 31,3%, diantaranya
yang >10 mg/dl atau hiperkalsemia sebesar 25,4%.

Menurut data dari Persatuan Nefrologi


Indonesia (Pernefri) 2010, diperkirakan ada 70
ribu penderita gagal ginjal di Indonesia, namun
yang terdeteksi yang mengalami gagal ginjal
kronik tahap terminal yang menjalani hemodialisa
hanya sekitar empat ribu sampai lima ribu.Di
Indonesia penyakit gagal ginjal kronik merupakan
masalah besar. Prevalensi meningkat 10% per
tahun.2

Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian
analitik, Analisis Untuk melihat variabel bebas
dan terikat yang digunakan dalam penelitian ini
digunakan uji statistik paired t-test.

Gangguan elektrolit adalah komplikasi


GGK yang harus mendapat perhatian, salah
satunya adalah gangguan metabolisme kalsium dan
fosfat karena mempunyai peran yang sangat besar
pada
morbiditas
dan
mortalitas
GGK.3Hipokalsemia didefinisikan sebagai kadar
kalsium serum total kurang dari nilai normalnya
yaitu 9,4 mg/dl. Hipokalsemia merupakan
penurunan elektrolit yang sering terjadi pada
penderita GGK, hipokalsemia dapat menimbulkan
tanda dengan gejala seperti tetani, parestisia, reflek
hiperaktif.4,5

Kriteria Inklusi
1. Pasien
hemodialisa
yang
menjalani
hemodialisa di
Rumah Sakit Pertamina
Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2016.
2. Telah melakukan terapi hemodialisa > 3 bulan.
Kriteria Eksklusi
Anemia Berat ( Hb <5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hiperkalsemia terjadi bila kadar kalsium


serum total melebihi 10,7 mg/dl. Hiperkalsemia
dapat menyebabkan timbulnya gejala seperti
kelemahan otot, anoreksia, nausea, dan
konstipasi.Perubahan kardiavaskular yang terdapat
pada hiperkalsemia adalah hipertensi sistolik,
bradikardi, pemendekan interval QT dan segmen
ST. Henti jantung dapat terjadi bila kadar kalsium
serum sekitar 18mg/dl.4,5Terapi pada ginjal dapat
berupa trasplantasi atau dialisis, yang terdiri dari
dialisis peritoneal dan hemodialisis.3

Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang hemodialisa
RSPBA dan Laboratorium klinik RSPBA.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari
2016. Pada periode tersebut didapatkan sampel
sebanyak 20 orang sesuai dengan sampel yang
dibutuhkan dan telah memenuhi kriteria inklusi
serta tidak termasuk kriteria eksklusi. Responden
merupakan pasien GGK yang sedang menjalani
hemodialisa di RSPBA, responden diambil sampel
darah pre dan post hemodialisis dan diteliti kadar
kalsium serum pre dan post hemodialisis. Lamanya
proses hemodilaisis berlangsung 4-5 jam.

Hemodialisis merupakan suatu cara untuk


mengeluarkan produk sisa metabolisme berupa zat
terlarut (solut) dan air yang berada dalam darah
2

Karakteristik Responden
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamindi Rumah Sakit Pertamina Bintang
Amin Bandar Lampung
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Frekuensi
11
9
20

Persentase (%)
55,0
45,0
100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa


berjenis kelamin perempuan sebanyak 9 orang
sebagian besar responden yang menjalani
(45,0%). Kemudian dapat digambarkan pada
hemodialisis di RSPBA berjenis kelamin laki-laki
diagram berikut:
yaitu sebanyak 11 orang (55,0%) sedangkan yang
Gambar 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamindi Rumah Sakit Pertamina Bintang
Amin Bandar Lampung

Jenis kelamin
11
9

Laki-laki

Perempuan

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia


Tabel 4.2 Karakteristik RespondenBerdasarkan Usiadi Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin
Bandar Lampung
Usia
30-59 tahun
60-90 tahun
Jumlah

Frekuensi
13
7
20

Persentase (%)
65,0
35,0
100

Berdasarkan tabel 4.2distribusi responden


berdasarkan usia disajikan berdasarkan distribusi
frekuensi berkelompok, pembagian menjadi dua
kelompok. Berdasarkan data diatas didapatkan
jumlah sampel usia 30-59 tahun sebanyak 13 orang
(65,0%), dan usia 60-90 tahun sebanyak 7 orang
:

(35,0%). Diketahui bahwa sebagian besar


responden yang menjalani hemodialisis di
RSPBAberusia 30-39 tahun yaitu sebanyak 13
orang (65,0%). Kemudian dapat digambarkan pada
diagramberikut

Gambar 4.2 Karakteristik RespondenBerdasarkan Usiadi Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin
Bandar Lampung
X

Umur
13

30-59 tahun

60-90 tahun

Analisis Univariat
1. Kadar Kalsium Serum dan Distribusi Kadar Kalsium preHemodialisis
Tabel 4.3Distribusi Kadar Kalsium Serum preHemodialisis
Kadar Kalsium
Hipokalsemia
Normal
Jumlah

Frekuensi
14
6
20

Rata-rata
8,2
9,2

Mean
8,51 0,65

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui sebanyak 14


orang (70,0%) dikategorikan ke dalam kelompok
hipokalsemia karena kadar kalsium serum antara
kurang dari 8,5 mg/dl dan sebanyak 6 orang
(30,0%) dikategorikan ke dalam kelompok normal
karena kadar kalsium serum antara 8,5-10,7 mg/dl
dan nilai rata-rata kadar kalsium serum pre
:

Persentase (%)
70,0
30,0
100

hemodialisis adalah 8,51mg/dl dengan srandar


deviasi sebesar 0,65. Sebagian besar kadar kalsium
serum pre hemodialisis termasuk dalam kategori
hipokalsemia
yaitu
sebanyak
14
orang
(70,0%).Kemudian dapat digambarkan pada
diagram berikut

Gambar 4.3Distribusi Kadar Kalsium Serum preHemodialisis


X

Kadar Kalsium Serum pre Hemodialisis


14

Hipokalsemia

Normal

2. Kadar Kalsium Serum dan Distribusi Kadar Kalsium postHemodialisis


Tabel 4.4Distribusi Kadar Kalsium Serum postHemodialisis
Kadar Kalsium
Frekuensi
Rata-rata
Mean
Persentase (%)
Normal
11
10,1
55,0
10,46 0,40
Hiperkalsemia
9
10,9
45,0
Jumlah
20
100
dannilai rata-rata kadar kalsium serum post
Berdasarkan tabel 4.7diketahui sebanyak 11
hemodialisis adalah 10,46mg/dl dengan srandar
orang (55,0%) dikategorikan ke dalam kelompok
deviasi sebesar 0,40.Diketahui bahwa sebagian
normal karena kadar kalsium serum antara 8,5besar
kadar
kalsium
serum
10,7 mg/dl dan sebanyak 9 orang (45,0%)
posthemodialisistermasuk dalam kategori normal
dikategorikan ke dalam kelompok hiperkalsemia
yaitu sebanyak 11 orang (55,0%).Kemudian dapat
karena kadar kalsium serum lebih dari 10,7 mg/dl
digambarkan pada diagram berikut:
Gambar4.4Distribusi Kadar Kalsium Serum postHemodialisis
X

Kadar Kalsium Serum post Hemodialisis


11
9

Y
Normal

Hiperkalsemia

Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil uji normalitas diperoleh data sebagai berikut
Tabel 4.5Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pre_HD
Post_HD
N
20
20
Asymp. Sig. (2-tailed)
.692
.347
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, dapat diuraikan
hasil pengujian normlitas dari masing-masing
variabel:
1. Pengujian normalitas terhadap data kelompok
pasien pre hemodialisis, diperoleh nilai
statistik pada Kolmogorov-Smirnov =0,711
dengan nilai Sig = 0,692, karena nilai Sig >

0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data


tersebut berdistribusi normal.
2. Pengujian normalitas terhadap data kelompok
pasien post hemodialisis, diperoleh nilai
statistik pada Kolmogorov-Smirnov =0,934
dengan nilai Sig = 0,374, karena nilai Sig >
0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data
tersebut berdistribusi normal.

Tabel 4.6Hasil uji Paired sampel t-test Kadar Kalsium Serum pre dan post Hemodialisis di Rumah Sakit
Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung.
Kadar kalsium serum
Pre hemodialisis
Post hemodialisis

N
20
20

Mean
8,51 0,65
10,46 0,40

Berdasarkan tabel 4.6 diektahui hasil uji


statistik dengan paired T Test diperoleh p-value =
0,000 (p<0,05)yang berarti ada perbedaan kadar
kalsium serum pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK)
Pre dan Post Hemodialisis di Rumah Sakit
Pertamina Bintang Amin Lampung.

p-value
0,000

terikat pada protein plasma atau dalam kompleks


dengan anion seperti fosfat. Oleh karena itu, hanya
sekitar 50% kalsium plasma dapat difiltrasi di
glomerulus.19
Salah satu pengatur utama reabsorbsi
kalsium tubulus ginjal adalah PTH. Dengan
peningkatan kadar PTH, terdapat peningkatan
reabsorbsi kalsium di segmen tebal asenden ansa
henle dan tubulus distal, yang mengurangi ekskresi
kalsium dalam urin. Sebaliknya penurunan PTH
meningkatkan
ekskresi
kalsium
dengan
menurunkan reabsorbsi di ansa henle dan tubulus
ginjal.19

Pembahasan
Prinsip dari Hemodialisis adalah dengan
menerapkan proses osmotis dan ultrafiltrasi pada
ginjal buatan, dalam membuang sisa-sisa
metabolisme tubuh. Pada hemodialisis, darah
dipompa keluar dari tubuh lalu masuk kedalam
mesin dialiser untuk dibersihkan dari zat-zat racun
melalui proses difusi dan ultrafiltrasi oleh cairan
khusus untuk dialisis. Proses hemodialisis
melibatkan difusi solute melalui suatu membran
semipermeable. Molekul zat terlarut dari
kompartemen darah akan berpindah kedalam
kompartemen dialisat setiap saat bila molekul zat
terlarut dapat melewati membran semipermiabel
demikian juga sebaliknya.Darah yang terpisah
akan mengalami perubahan konsentrasi karena zat
terlarut berpindah dari konsentrasi yang tinggi ke
arah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi
zat terlarut sama di kedua kompartemen. Hal ini
berlaku untuk kalsium yang akan berpindah dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang rendah dari
dialisat ke dalam darah.27

Penelitian ini mengambil sampel sebanyak


20 orang pasien GGK yang menjalani hemodialisa
di ruang hemodialisa RSPBA untuk diperiksa
kadar kalsium serumnya sebelum dan sesudah
hemodialisis. Lamanya proses hemodialisis yang
berlangsung untuk setiap responden berbeda-beda
yaitu antara 4-5 jam. Sampel darah yang diperiksa
ditempatkan di tabung reaksi sederhana, sampel
yang telah diambil segera dibawa ke laboratorium
untuk dipisahkan dengan menggunakan sentrifus.
Dari hasil penelitian yang dilakukan,
didapatkan kadar kalsium serum pre hemodialisa
penderita GGK yang berada dibawah nilai normal
(hipokalsemia) sebanyak 14 orang dari 20 orang
yang melakukan hemodialisa atau sekitar 70%, hal
ini sejalan dengan teori bahwa GGK adalah
penyebab hipokalsemia yang paling sering terjadi,
karena pada penyakit gagal ginjal kronik terjadi
penurunan LFG yang menyebabkan penurunan
ekskresi inorganik fosfat dan menimbulkan retensi
fosfat. Tertahannya fosfat memiliki efek langsung
terhadap sintesis PTH dan masa sel kelenjar
paratiroid. Tertahannya fosfat juga menyebabkan
terjadinya produksi yang berlebihan dan sekresi
PTH melalui turunnya ion kalsium dan dengan
supresi produksi kalsitrol. Penurunan produksi
kalsitrol merupakan hasil dari penurunan sintesis
akibat pengurangan masa ginjal dan akibat
hiperfosfatemia. Kadar kalsitrol yang rendah
dapat menimbulkan hiperparatirodisme. Kalsitrol
diketahui memiliki efek supresi langsung pada
traskipsi PTH. Oleh karena itu penurunan kalsitrol

Asupan kalsium harus diseimbangkan


dengan kehilangan netto kalsium dalam waktu
yang lama. Akan tetapi, ion-ion natrium dan
klorida, sebagian besar ekskresi kalsium terjadi
dalam feses. Dalam kondisi tertentu, ekskresi
kalsium di feses dapat melebihi kalsium yang
dicerna. Hampir semua kalsium dalam tubuh (
99% ) disimpan dalam tulang, dan hanya satu
persen dalam cairan tubuh. Oleh karena itu, tulang
berperan sebagai penampung yang besar untuk
menyimpan kalsium dan sebagai sumber kalsium
bila konsentrasi kalsium dalam cairan cenderung
menurun.19
Kalsium difiltrasi dan direabsorbsi dalam
ginjal tetapi tidak disekresikan. Hanya sekitar 50%
kalsium plasma yang terionisasi, dan sisanya
6

pada GGK menyebabkan peningkatan kadar PTH.


Selain itu pengurangan kalsitol menimbulkan
gangguan absorpsi kalsium dari traktus
gastrointestinal, yang kemudian menimbulkan
hipokalsemia dan selanjutnya meningkatkan
sekresi dan produksi PTH.27

Sebanyak 9 orang atau 45% setelah


dilakukan hemodialisis kadar kalsiumnya lebih
dari normal (hiperkalsemia). Penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Krishna
Pandu Wicaksono di Jakarta yang menyebutkan
bahwa terdapat 60,3% responden yang mempunyai
kadar kalsium di atas normal (hiperkalsemia). Hal
ini dapat disebabkan oleh kadar kalsium
mengalami
terionisasi
di
dalam
proses
hemodialisis. Kadar kalsium yang terionisasi pada
saat hemodialisis akan meningkat dalam keadaan
asidosis, maka terjadi perubahan kadar kalsium
sesudah hemodialisis yaitu terjadi peningkatan
kadar kalsium.27 Keadaan hiperkalsemia ini
memiliki resiko untuk terjadinya gejala seperti
kelemahan otot, anoreksia, nausea, dan konstipasi.
Pengendapan garam kalsium pada kulit dapat
menyebabkan terjadinya pruritusdan pada mata
dapat menyebabkan keratinopati pita. Henti
jantung dapat terjadi jika kadar kalsium serum
sekitar 18 mg/dl.15

Hipokalsemia ini memiliki resiko untuk


terjadinya tanda dan gejala seperti tetani,
parastesia, reflek hiperaktif. Hipokalsemia dapat
menimbulkan berbagai gangguan neuropsikiatrik
berupa
iritabilitas,
ketidakstabilan
emosi,
gangguan memori dan kofusi. Hipokalsemia
berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan
dukulit, rambut kuku, gigi, dan lensa mata.15
Pada pemeriksaan pre hemodialisis
didapatkan 6 orang dari 20 orang yang menjalani
hemodialisa atau sekitar 30% dikategorikan
kedalam kelompok normal. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Gilar Rizki Aji
Perdana terhadap pasien GGK yang melakukan
hemodialisis di Surakarta yaitu didapatkan
sebanyak 25,7% responden mempunyai nilai
kalsium normal. Dengan ditemukan responden
yang mempunyai nilai kadar kalsium normal,
dimungkinkan beberapa hal yang dapat
mempengaruhi antara lain, masih adanya respon
dari tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi
kalsium atau adanya tubulus yang belum
mengalami kerusakan.27 Ada bebrapa faktor yang
mempengaruhi kalsium pada pasien GGK seperti,
makanan, obat-obatan, dan transfusi darah
terutama darah penuh. Asupan kalsium yang
dikonsumsi mempengaruhi absorbsi kalsium,
penyerapan akan meningkat apabila kalsium yang
dikonsumsi menurun. Vitamin D dalam bentuk
aktif merangsang absorbsi kalsium melalui
langkah-langkah kompleks. Makanan yang
merupakan sumber kalsium seperti susu, keju,
ikan, kacang-kacangan, dan hasil kacang-kacangan
seperti tahu dan tempe.16

Hasiil dari uji statistik dengan uji Paired


Sampel t-test menggunakan program SPSS 21. For
windows didapatkan perbedaan yang bermakna
(p<0,05) antara kadar kalsium serum pre dan post
hemodialisis. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Gilar Rizki Perdana di RSUD
DR.Moewardi yang menunjukan ada perbedaan
yang bermakna secara statistik antara kadar
kalsium serum pre dan post hemodialisis.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai perbandingan
kadar kalsium serum penderita GGK pre dan post
hemodialisis, diperoleh kesimpulan sebagai berikut
:
1. Nilai rata-rata kadar kalsium serum pre
hemodialisis adalah 8,515 mg/dl dengan
srandar deviasi sebesar 0,6580.
2. Nilai rata-rata kadar kalsium serum post
hemodialisis adalah 10,465mg/dl dengan
srandar deviasi sebesar 0,4030
3. Terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05)
antara kadar kalsium serum pre dan post
hemodialisis, dengan mean pre hemodialisa
8,5gr/dl sedangkan mean post hemodialisis
10,5 gr/dl.

Pada pemeriksaan post hemodialisis


didapatkan 11 orang atau 55% yang mempunyai
kadar kalsium normal. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Gilar Rizki Aji
Perdana terhadap pasien GGK yang melakukan
hemodialisis di Surakarta yang ddapatkan
sebanyak 39,2% responden mempunyai kadar
kalsium normal. Hal ini menunjukan bahwa terjadi
difusi kalsium yang ada di dalam darah ke cairan
dialisat yang disebabkan adanya perbedaan
konsentrasi antara kadar kalsium di dalam darah
dengan kadar kalsium di dalam cairan dialisat.4

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan


penulis menyarankan agar :

Considerations, dalam, E Barumwald, KJ


Isselbacher, RG Petersdorf, JD Wilson, JD
Martin & AS Fauci (eds) : Harrisons
Principles of Internal Medicine, 13th Ed,
McGraw Hill Book Company, Toronto : 14219.

1. Pada semua pasien GGK yang menjalani


hemodialisis di RSPBA provinsi Lampung
disarankan untuk melakukan pemeriksaan
kadar kalsium serum rutin sebelum dan
sesudah
dilakukan
hemodialisa
untuk
mengetahui dan mengontrol kadar kalsium
serum.
2. Kepada pihak RSPBA dharapkan untuk lebih
memperhatikan konsentrasi kalsium dan
komponen lainnya dalam cairan dialisat, untuk
mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.
3. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk
melakukan penelitian terhadap pasien yang
menjalani hemodialisis untuk melihat kadar
kalsium serum dengan waktu hemodialisis
yang berbeda-beda.
4. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk
melakukan penelitian lebih lanjut terhadap
pasien-pasien yang sudah diteliti kadar
kalsium serum pre dan post hemodialisis untuk
melihat morbilitas dan mortalitas akibat
ketidakseimbangan kalsium.

6. Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata &


Setiati. Buku Ajar : Ilmu Penyakitdalam,
Jakarta : Pusat penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia. 2007: 400.
7. Frenesius Medical Care.ESRD Patients in
2011 A Global PerspectiveFrenesius Medical
Care. Jerman: Fresensius Medical Care
Deustchland GmbH.2011
8. Himmelfarb J, Ikizler TA. Hemodialysis. N
Engl J Med. 363(19).2010:1833-45.
9.

National Kidney Foundatio. KDOQI Clinical


Practice Recommendations for2006 Updates:
Hemodialysis Adequacy, Peritoneal Dialysis
Adequacy,
Vascular
Access,
Am J
Kidney.2006.Dis 48:S1-S322.

10. Rahman AR, Rudiansyah M, Triawanti.


Hubungan antara AdekuasiHemodialisis dan
Kualitas Hidup Pasien di RSUD Ulin
Banjarmasin.
Berkala
Kedokteran.2013;
9(2):151-9.

DAFTAR PUSTAKA

1. Parsudi I. Pengelolaan Gagal Ginjal Terminal


dalam Soewito A, danPoerwanto
AP(eds),
Simposium Gagal Ginjal Kronik Terminal.
Semarang, 1990.

11. Pourvarziani, Vahid. Laboratory Variables and


Treatment Adequacy in Hemodialysis Patients
in Iran. Saudi Journal of Kidney Disease and
Transplantation. 2008; 19(5):842-6.

2. Perkumpulan Nefrologi Indonesia. 4th Report


of Indonesian Renal Registry2011. Diunduh
Desember
02,
2015
dari
http://www.pernefriinasn.org/Laporan/4th%20
Annual%20Report%20Of%20IRR%202011.p
df.

12. Cruz MD, Andrade C, Urrutia M, Draibe S,


Noguiera-Martins LA, Sesso RC.Quality of
Life in Patients with Chronic Kidney Disease.
Clinics.2011; 66(6):991-5.

3. Pedoman Pelayanan Hemodialisis di Sarana


Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina
Pelayanan Medik Spesialistik, Dirjen Bina
Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI.
2008.

13. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of


Anatomy and PhysiologyMaintanance and
Continuity of the Human Body 13th Edition.
Amerika Serikat: John Wiley & Sons,
Inc.2011

4. Kallenbach et al. Review of Hemodialysis for


Nursing and Dialysis Personnel 7th edition.
Elsevier Saunders. St Louis Missouri. 2005

14. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep


Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta:
EGC.2012; 389-340.

5. Brenner DM & Lazarus JM, Chronic Renal


Failure : Pathophysiologic and Clinical
8

15. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi


Kedokteran.
Edisi
11.
EGC.
Jakarta.2007;1029-1031.

25. Breitsameter G, Figuireido AE, Kocchhan DS.


Calculation of Kt/V inHaemodialysis, A
Comparison Between the Formula. Jornal
Brasileiro de Nefrologia. 2012; 34(1):22-4.

16. Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata &


Setiati. Buku Ajar : Ilmu Penyakitdalam,
Jakarta : Pusat penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia. 2009; 1035-1040

26. Ware, JE. SF-36 Health Survey 2000.Update.


Diuduh pada
November 21,2015 dari
http://www.sf-36.org/tools/sf36.shtml.
27. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 11. EGC. Jakarta.2007;389390.

17. National Kidney Foundation. KDOQI Clinical


Practice Guideline ChronicKidney Disease:
Evaluation, Classification, Stratification. New
York: National Kidney Foundation, inc.2010

28. Dahlan, Sopiyudin. Statistik untuk Kedokteran


dan Kesehatan. Jakarta:Salemba Medika.2008;
130.

18. Harris C, Neilson EG. Adaption of the Kidney


to Renal Injury dalam LongoDL, Fauci AS,
Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo
J (Ed.), Harrisons Principles of Internal
Medicine Ed 18. Amerika Serikat: The
McGraw-Hill Companies, inc.2012; 2289-92

29. Notoatmojo Soekidjo. Metode Penelitian


Survei. Dalam: Metodologi Penelitian
Kesehatan. Edisi Rev. Jakarta: Rineka Cipta.
2010; 35-184

19. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi


Kedokteran. Edisi 11. EGC. Jakarta.2007;
390-391.
20. National Institute of Diabetes and Digestive
and Kidney Disease. High BloodPressure and
Kidney
Disease.2014
Diunduh
pada
November
20,
2015
dari
http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/hi
ghblood/.
21. Saad, Ehab. High Blood Pressure/Kidney
Disease. Medical College ofWisconsin.2014.
Diunduh pada
November
20,
2015
darihttp://www.mcw.edu/Nephrology/Clinical
Services/HighBloodPressure.htm.
22. Kidney Failure. Edema in Chronic Kidney
Disease.2013. Diunduh padaNovember 19,
2015
dari
http://www.kidneyfailureweb.com/ckd/889.ht
ml.

23. Arora, P. Chronic Kidney Disease.


MedScape.2014.Diunduh pada November 20,
2015
dari
http://emedicine.medscape.com/article/238798
-overview
24. Diunduh pada
Desember 01, 2015 dari
WWW.MEDBROADCAST.COM
9

Anda mungkin juga menyukai