Anda di halaman 1dari 11

CLINICAL SCIENCE SESSION

LUKA BAKAR

Disusun oleh:
Marizka Adzani
1301 1214 0528
Octawyana Moestopo
1301 1214 0620
Oldi Caesario
1301 1214 0583

Perseptor:
Osmon Muftilov, dr. Sp.An.

DEPARTEMEN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


RUMAH SAKIT DR HASAN SADIKIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

A. PENDAHULUAN
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Di
Amerika Serikat, sekitar 2 juta orang pertahun membutuhkan pelayanan medis terkait
luka bakar. Sebanyak 70 ribu di antaranya dirawat dengan 5 ribu orang meninggal dunia.
Kelompok usia yang paling sering terkena luka bakar adalah anak-anak dan dewasa
muda. Jenis yang berat menunjukkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi
dibanding dengan cedera karena sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya
pun tinggi.
Penyebab luka bakar selain terbakar api langsung atau tidak langsung, antara lain
adalah pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia. Luka bakar karena
api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas, banyak terjadi pada
kecelakaan rumah tangga.
B. TINGKAT KEPARAHAN LUKA BAKAR
Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman
luka bakar. Walaupun demikian, beratnya luka bergantung juga pada luas dan letak luka.
Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat memengaruhi prognosis.
1. Kedalaman Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu
tinggi. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga
memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu
domba (wol). Bahan sintetis, seperti nilon dan dakron, selain mudah terbakar juga mudah
lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat kedalaman luka
bakar. Luka bakar derajat dua dan derajat tiga kadang sukar dibedakan
a. Luka Bakar Derajat 1 (superficial burn injury)
Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 57 hari. Salah satu contohnya adalah luka bakar karena tersengat matahari. Luka
tampak sebagal eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat.
b. Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn injury)
Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis, tetapi masih terdapat elemen
epitel sehat yang tersisa. Elemen epitel tersebut misalnya adalah sel epitel basal,
kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut. Dapat diklasifikasikan
lagi menjadi superficial dan deep partial thickness bergantung pada jaringan yang
terkena. Dengan adanya sisa sel epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam dua
sampai tiga minggu. Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung, atau bula berisi
cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya
meninggi.
c. Luka bakar derajat 3 (full thickness burn injury)
2

Luka bakar ini meliputi seluruh epidermis, seluruh dermis, dan bahkan sudah
mencapai subkutis. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang
memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Kulit tampak pucat
abu-abu gelap atau hitam, dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling
yang masih sehat. Tidak ada bula dan tidak terasa nyeri.
d. Luka bakar derajat 4
Luka bakar pada derajat ini memiliki karakteristik sama dengan luka bakar 3,
hanya saja sudah melipatkan struktur jaringan lain di bawahnya, seperti otot dan
tulang.

Gambar 1. Derajat Kedalaman Luka Bakar


Diagnosis banding ditentukan dengan uji tusuk jarum. Uji dilakukan dengan
menusukkan jarum untuk menentu-kan apakah daerah luka bakar masih memiliki daya
rasa. Bila tusukan itu masih terasa, artinya sensorisnya masih berfungsi dan dermis masih
vital, luka itu bukan derajat tiga.
2. Luas Area Luka Bakar
Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang
dewasa digunakan "rumus 9", yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut,
pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri,
tungkai dan kaki kanan, serta tungkal dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1%
3

adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh
yang terbakar pada orang dewasa.
Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala
anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Untuk anak, kepala dan
leher 18%, badan depan dan belakang masing-masing 18%, ekstremitas atas kanan dan
kiri masing-masing 9%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14%.

Gambar 2. Persentase Luas Luka Bakar pada Dewasa dan Anak.


3. Lokasi Luka Bakar
Selain dalam dan luasnya permukaan, prognosis dan penanganan ditentukan oleh
lokasi daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita. Daerah perineum,
ketiak, leher, dan tangan sulit perawatannya, antara lain karena mudah mengalami
kontraktur.

C. KATEGORI PENDERITA
4

Luka bakar ringan :


Derajat II < 15 %
Derajat III < 2 %
Luka bakar sedang :
Derajat II 15-25%
Derajat 2- 10 %, kec muka, tangan, kaki
Luka bakar berat / kritis
Derajat II > 25%
Derajat III > 10%
Derajat III wajah, tangan, kaki
Cedera inhalasi
Luka bakar listrik
Bayi/Orang lanjut usia
Risiko tinggi mengalami komplikasi
(+) trauma lain (fraktur, dll)

D. PATOFISIOLOGI
Pada luka bakar, pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan
permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi
anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang
mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan
intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat
penguapan yang berlebihan.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh
masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik
dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat,
tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan,
maksimal terjadi setelah delapan jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi
kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terisap. Edema
laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala
sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Selain itu, dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. Karbon
monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi
mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual, dan
muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat
CO, penderita dapat meninggal.

Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi
serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini ditandai tiengan
meningkatnya diuresis.
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan
medium yang baik untuk per-tumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini
sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami
trombosis. Padahal, pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik.
Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga
dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah
sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang
sudah resisten terhadap berbagai antibiotik. Perubahan luka bakar derajat dua menjadi
derajat tiga akibat infeksi dapat dicegah
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal
dari kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman
Gram negatif. Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease
dari toksin lain yang berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar.
Infeksi pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman
memproduksi enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan
granulasi membentuk nanah.
E. INDIKASI RAWAT INAP
1. Penderita syok atau terancam syok
- anak
: luasnya luka >10%
- dewasa : luasnya luka >15%
2. Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat
- wajah, mata
- tangan dan kaki
- sendi besar
- perineum dan alat genital
3. Cedera pada saluran napas (terhirup asap atau udara hangat)
4. Derajat II > 10 % TBSA
5. Derajat III pada semua usia
6. Luka bakar akibat sengatan listrik
7. Luka bakar akibat zat kimia
8. Luka bakar pada pasien dengan komplikasi penyakit lain
9. Mengenai anak kecil
10. Memiliki trauma atau fraktur
11. Pasien yang membutuhkan intervensi sosial, emosional atau rehabilitasi
Table 8-1

F. EVALUASI AWAL
Evaluasi awal pada pasien luka bakar mencakup 4 penilaian penting: penanganan
saluran napas, evaluasi cedera lain, estimasi besarnya luka dan menentukan apakah ada
keracunan zat berbahaya seperti CO dan sianida.
Cedera saluran napas akibat suhu panas dan asap dapat menimbulkan terjadinya
edema yang cepat dan parah pada saluran napas sehingga penanganan saluran napas
seperti intubasi penting untuk dilakukan. Luka perioral dan rambut hidung yang terbakar
bisa menjadi tanda dicurigai terjadinya kerusakan pada saluran napas atas. Suara serak,
mengi dan stridor bisa menjadi tanda terjadinya cedera pada saluran napas. Sesak juga
bisa menjadi keluhan pasien yang membutuhkan intubasi secepatnya.
Pasien cedera luka bakar termasuk sebagai pasien trauma sehingga diperlukan survei
primer sembari diberikan bantuan hidup lanjutan seperti resusitasi cairan. Kemudian juga
dilakukan survei sekunder untuk dilihat apakah terdapat cedera lain dengan melakukan
pemeriksaan penunjang seperti X-ray. Pasien luka bakar akut jangan diberikan antibiotik
profilaksis tetapi berikan tetanus booster. Untuk mengatasi nyeri dapat diberikan
analgesik narkotik. Estimasi besarnya daerah luka bakar berfungsi dalam menentukan
banyaknya cairan resusitasi yang diperlukan dengan menggunakan rumus Rule of 9.
Keracunan gas CO dan sianida berasal dari menghisap asap pembakaran. Perubahan
neurologis dan pengukuran karboksihemoglobin arterial untuk mengetahui adanya
keracunan gas CO atau tidak. Penanganan keracunan CO dapat dilakukan dengan
pemberian oksigen 100% yang berfungsi untuk menurunkan waktu paruh CO. Keracunan
gas sianida dapat dilihat dari adanya asam laktat persisten atau ST elevasi pada EKG.
Terapinya adalah pemberian sodium thiosulfate, hydroxocobalamine, oksigen 100%.
G. PENATALAKSANAAN DAN PROGNOSIS
Penatalaksanaan dan prognosis ditentukan oleh:
- derajat luka bakar
- luas permukaan
- daerah yang terkena
- usia
- keadaan kesehatan
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen
pada api yang menyala. Korban dapat mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri
dan berguling agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan
yang panas juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang
terbakar atau menceburkan diri ke air dingin, atau melepaskan baju yang tersiram air
panas.
Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah
luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya
7

lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi
berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini
dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu
dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu, merendam bagian yang terbakar selama
lima belas menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan
sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian, luka yang
sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada derajat satu, atau luka yang akan
menjadi tingkat tiga dihentikan pada tingkat dua atau satu. Pencelupan atau penyiraman
dapat dilakukan dengan air apa saja yang dingin, tidak usah steril. Pendinginan luka
bakar harus dilakukan sesegera mungkin dan cukup lama
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah
yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel
untuk berproliferasi, dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup
atau terbuka.
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan,
kalau perlu, dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila
penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas, diberikan campuran udara lembab
dan oksigen. Kalau terjadi udem laring, dipasang pipa endotrakea atau dibuat
trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas, mengurangi ruang
mati, dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lendir atau kotoran. Bila ada dugaan
keracunan CO, diberikan oksigen murni.
Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya
terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk
perawatan tertutup. Kalau perlu, penderita dimandikan dahulu. Selanjutnya, diberikan
pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. Analgesik diberikan bila penderita
kesakitan. Penanganan luka bakar dengan antiseptik topikal dianjurkan.
Pemberian Cairan Intravena
Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara
teliti. Kemudian, jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung. Ada beberapa cara
untuk menghitung kebutuhan cairan ini. Cara yang banyak dipakal dan lebih sederhana
adalah menggunakan rumus Baxter, yaitu:
% x BB x 4 ml
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sedangkan sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit, yaitu
larutan ringerlaktat karena terjadi deflsit ion Na. Hari kedua diberikan setengah cairan
hari pertama. Pemberian cairan dapat ditambah, jika perlu, umpamanya bila penderita
dalam keadaan syok, atau jika diuresis kurang.
Penderita luka bakar luas harus dipantau terus-menerus. Keberhasilan pemberian
cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu sekurang-kurangnya 1 ml/ kgBB/jam, MAP
> 60 mmHg. Pendapat lain juga menyatakan bahwa dapat dengan melihat serum laktat
8

dan base defisit. Yang penting juga adalah pengamatan apakah sirkulasi normal atau
tidak. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan Hb < 7 mg/dl.
Obat-obatan
Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang
banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas. Bila
ada infeksi, antibiotik diberikan berdasarkan hasil biakan dan uji kepekaan kuman.
Antasida diberikan untuk pencegahan tukak beban (tukak stres) dan antipiretik diberikan
bila suhu tinggi.
Nutrisi
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan
nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500-3.000 kalori sehari
dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu, makanan diberikan melalui pipa lambung atau
ditambah dengan nutrisi parenteral.
Kebutuhan nutrisi penderita luka bakar:
1. Minuman, diberikan pada penderita luka bakar:
- segera setelah peristalsis menjadl normal
- sebanyak 25 ml/kgBB/hari
- sampai diuresis sekurang-kurangnya mencapai 30 ml/jam
2. Makanan, diberikan oral pada penderita luka bakar:
- segera setelah dapat minum tanpa kesulitan
- sedapat mungkin 2500 kalori/hari
- sedapat mungkin mengandung 100-150 grprotein/hari
3. Sebagai tambahan, diberikan setiap hari:
- vitamin A, B, dan D
- vitamin C 500 mg
- Fe sulfat 500 mg
- antasida
Rehabilitasi
Rehabilitasi fisik dan terapi okupasional penting untuk mencegah hilangnya
fungsi fisik pasien sehari-hari. Pasien diharapkan mampu menggerakan sendi-sendi yang
terkena luka bakar agar dapat bergerak sesuai dengan range of motion (ROM).
Rehabilitasi psikis juga diperlukan agar pasien dapat kembali ke lingkungan sosial dan
kerja seperti sedia kala tanpa adanya depresi atau kecemasan paska trauma.
Pengobatan Lokal
Luka bakar derajat satu dan dua yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh sendiri, asal
dijaga supaya elemen epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Oleh karena
9

itu, perlu dilakukan pencegahan infeksi. Pada luka lebih dalam perlu diusahakan secepat
mungkin membuang jaringan kulit yang mati dan memberi obat topikal yang daya
tembusnya tinggi sampai mencapai dasar jaringan mati. Perawatan setempat dapat
dilakukan secara terbuka atau tertutup.
Perawatan terbuka memiliki keuntungan lebih mudah dan murah. Permukaan luka
yang selalu terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang.
Sedapat mungkin luka dibiarkan terbuka setelah diolesi obat.
Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan
untuk menutup luka dari kemungkinan kontaminasi, tetapi luka masih cukup longgar
untuk berlangsungnya penguapan. Keuntungan perawatan tertutup adalah luka tampak
rapi, terlindung, dan enak bagi penderita. Hanya, diperlukan tenaga dan dana lebih
banyak karena dipakainya banyak pembalut dan anti-septik. Kadang suasana luka yang
lembab dan hangat memungkinkan kuman untuk berkembang biak. Oleh karena itu, bila
pembalut melekat pada luka, tetapi tidak berbau, sebaiknya jangan dilepaskan, tetapi
ditunggu sampai terlepas sendiri.
Obat topikal yang dipakai dapat berbentuk larutan, salep, atau krim. Antibiotik
dapat diberikan dalam bentuk sediaan kasa (tulle). Antiseptik yang dipakai adalah
povidone iodine atau nitras-argenti 0,5%. Kompres nitras-argenti yang selalu dibasahi
tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman. Obat ini mengendap sebagai
garam sulfida atau klorida yang memberi warna hitam sehingga mengotori semua kain.
Obat lain yang banyak dipakai adalah zilversulfadiazin, dalam bentuk krim 1%. Krim ini
sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup,
efektif terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi, dan aman. Krim ini
dioleskan tanpa pembalut, dan dapat dibersihkan dan diganti setiap hari. Penanganan
dengan antiseptik topical dianjurkan pada luka bakar
Pada luka bakar derajat dua sebaiknya keropeng dibiarkan menjadi kering.
Keropeng ini akan terlepas sendiri seperti kulit ular setelah 7-12 hari. Pada waktu itu,
kulit di bawahnya sudah sembuh.
Tindak Bedah
Pengangkatan keropeng atau eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat tiga
yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh karena pengerutan keropeng dan
pembengkakan yang terus berlangsung yang dapat mengakibatkan penjepitan yang
membahayakan sirkulasi sehingga bagian distal mati. Tanda dini penjepitan adalah nyeri,
kemudian kehilangan daya rasa sampai kebas pada ujung-ujung distal. Keadaan ini harus
cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng sampai
penjepitan bebas.
Debrideman diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan
jalan eksisi tangensial. Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita menjadi stabil
karena ini merupakan tindakan yang cukup berat. Luka bakar yang peka terhadap
pemeriksaan tusuk jarum tidak usah dicangkok kulit
10

Penutupan luka bakar dengan bahan biologis seperti kulit mayat atau kulit
binatang atau amnion manusia dianjurkan jika transplantasi dengan kulit penderita
menemui kesulitan. Bahan tersebut berfungsi sebagai pencegah infeksi, penghalang
penguapan berlebihan, dan mengurangi nyeri.
Luka bakar yang telah dibersihkan atau luka granulasi dapat ditutup dengan
cangkok kulit yang umumnya diambil dari kulit penderita sendiri. Bila dipakai kulit dari
mayat atau binatang karena keadaan penderita terlalu payah sehingga tidak
memungkinkan memakai cangkok kulit sendiri, sedikit demi sedikit penutup sementara
ini harus diganti dengan kulit penderita sendiri sebagai penutup permanen.
H. KOMPLIKASI
Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan parut yang
dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat estetis yang jelek sekali, terutama
bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi
intensif dan kontraktur yang memerlukan tindakan bedah.
Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan ahli ilmu jiwa untuk
mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli bedah
rekonstruksi, terutama jika cacat mengenai wajah atau tangan.
Bila luka bakar merusak jalan napas akibat inhalasi, dapat terjadi atelektasis,
pneumonia, atau insufisiensi fungsi paru pascatrauma.
Komplikasi yang ditakuti pada penderita luka bakar di antaranya adalah sebagai
berikut:
- Infeksi dan sepsis
- Anemia
- Oliguria dan anuria
- Kontraktur
- Udem paru
PROGNOSIS
Prognosis pasien luka bakar ditentukan dari usia, persentase luasnya daerah yang
terbakar, adanya cedera pada saluran napas, penyakit atau trauma lain yang menyertai
(HIV, kanker metastasis, penyakit ginjal atau liver).
REFERENSI
1. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG,Raphael.
Schwartz's Principles of Surgery 10th Edition.2004. McGraw-Hill Professional.
2. Thorne CH, Bartlett SP, Beasley RW, Aston SJ, Gurtner GC. Grabb and Smith's
Plastic Surgery. 2006. Lippincott Williams & Wilkins

11