Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan keadaan yang tidak normal baik fisik maupun mental
yang dapat menjadi sumber stres bagi anggota keluarga. WHO menyatakan dari sekitar
450 juta orang di dunia mengalami gangguan jiwa. Data American Psychiatric
Association (1995) menunjukkan 1% populasi penduduk dunia menderita Skizofrenia
dan Riset Kesehatan Dasar (2007) memperkirakan 14,1% penduduk Indonesia
mengalami gangguan jiwa. Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Sumatra menyatakan ada sekitar 10% pasien gangguan jiwa yang telah dinyatakan
tenang namun tidak diterima oleh keluarganya (Islamie, 2012). Sama halnya yang terjadi
di Rumah Sakit Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatakan bahwa pasien penderita
Skizofrenia yang keluar setelah rawat inap berjumlah 1.186 orang (Depkes, 2012).
Schizophrenia berasal dari dua kata, yaitu schizo yang artinya retak atau pecah
dan phrenia yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita Skizofrenia
adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (Hawari,
2003). Pengertian Skizofrenia itu sendiri adalah sejenis penyakit psikiatrik yang
melesukan dan mempengaruhi 1% daripada penduduk sedunia. Ketidak normalan dalam
fungsi pertahanan dan peranan sebagai penanda keradangan semakin meluas dihuraikan
dalam Skizofrenia (Chow dan Loh, 2011).
Hal yang umumnya ditandai pada Skizofrenia adalah penyimpangan yang
fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar
(inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif
tertentu dapat berkembang kemudian (PPDGJ III, 2001). Mengatasi masalah gangguan
Skizofrenia, penyembuhan yang dibutuhkan bukan hanya secara fisik melainkan juga
dibutuhkan penanganan secara preventif, promotif, terapi, serta rehabilitasi. Keberadaan
anggota keluarga yang mengalami gangguan Skizofrenia mengakibatkan tugas baru bagi
anggota keluarga ketika pihak rumah sakit telah memulangkan pasien skizofrenia kepada
keluarganya. Terlebih lagi stigma yang beredar di masyarakat mengakibatkan keluarga
harus menanggung rasa malu.

Skizofrenia mempunyai dampak pada penderita salah satunya adalah kesulitan


membina dan mempertahankan hubungan sosial. Lebih lanjut, disfungsi sosial yang
menjadi salah satu karakteristik gangguan Skizofrenia ini berkaitan dengan rendahnya
keterampilan sosial (Veenu, 2007). Sampai saat ini Skizofrenia merupakan salah satu
bentuk gangguan jiwa yang masih dianggap sebagai penyakit yang memalukan, menjadi
aib bagi penderita dan keluarganya. Sampai saat ini penanganan Skizofrenia baik di
rumah maupun di rumah sakit belum memuaskan. Beberapa hal yang menjadi
penyebabnya adalah ketidak tahuan keluarga dan masyarakat terhadap jenis gangguan
jiwa ini, serta ada beberapa stigma mengenai skizofrenia. Dukungan sosial keluarga
terhadap penderita skizofrenia menjadi hal yang sangat penting (Marsaulina, 2012).
Menurut Hawari (2003) salah satu kendala dalam upaya penyembuhan pasien
gangguan jiwa adalah pengetahuan masyarakat dan keluarga. Keluarga dan masyarakat
menganggap gangguan jiwa penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga.
Penilaian masyarakat terhadap gangguan jiwa sebagai akibat dari dilanggarnya larangan,
guna guna, santet, kutukan dan sejenisnya berdasarkan kepercayaan supranatural.
Dampak dari kepercayaan mayarakat dan keluarga, upaya pengobatan pasien gangguan
jiwa dibawa berobat ke dukun atau paranormal. Kondisi ini diperberat dengan sikap
keluarga yang cenderung memperlakukan pasien dengan disembunyikan, diisolasi,
dikucilkan bahkan sampai ada yang dipasung. Keluarga merupakan faktor yang sangat
penting dalam proses kesembuhan klien yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi
keluarga yang terapeutik dan mendukung klien sangat membantu kesembuhan klien dan
memperpanjang kekambuhan.
Banyak sekali orang yang percaya bahwa skizofrenia tidak mungkin bisa
disembuhkan dan orang yang menderitanya tidak mungkin bisa berfungsi secara normal
di masyarakat. Di Indonesia pengetahuan seseorang tentang gangguan skizofrenia
dipengaruhi erat oleh kultur budaya (Kembaren, 2014). Dampak yang kemudian terjadi
adalah dukun dan penyembuh tradisional menjadi pilihan populer. Bagi orang Indonesia
pengobatan dengan terapi spiritual hasilnya lebih baik, murah dan pasien yang dirawat
dengan cara ini biasanya terhindar dari stigma masyarakat tentang gangguan jiwa
(Keithaon, 2013).
Di Indonesia pemasungan penderita Skizofrenia diperkirakan terjadi 1% dari
orang dengan gangguan jiwa berat dan diperkirakan hanya mewakili sebagian kecil dari
kasus gangguan jiwa terutama skizofrenia. Data dan informasi mengenai pasung di
Indonesia sangat sedikit, Sepanjang tahun 2008-2009 hanya terdapat 2 penelitian kasus
pasung yang dipublikasi yaitu penelitian kasus pemasungan di Kabupaten Samosir,
2

Sumatera Utara dan di Kabupaten Bireun, Aceh. Dari hasil penggabungan dan analisis
data-data dari ke dua penelitian tersebut (49 kasus) didapatkan bahwa 89,7% orang yang
dipasung adalah mereka yang mengalami skizofrenia dan lebih dari 85% kasus
pemasungan dilakukan oleh keluarga (Dirjen BUK Kemenkes RI, 2013).
Adapun alasan terjadinya pemasungan adalah karena perjalanan penyakit yang
cenderung kronik dan kambuhan. Tingkat ketergantungan penderita skizofrenia yang
tinggi kepada keluarga sehingga menjadi beban keluarga, kurangnya pemahaman dan
pengetahuan keluarga, sulitnya akses kelayanan kesehatan dan masalah ekonomi
sehingga keluarga tidak sanggup untuk membawa penderita skizofrenia ke RS (Utami,
2013).
Sebagian keluarga penderita masih menggunakan cara-cara non medis untuk
menangani penderita skizofrenia. Salah satunya adalah dengan memasung penderita
skizofrenia. Pemasungan dilakukan yakni mengikat salah satu anggota badan dengan
rantai atau dengan mengikat pada balok kayu. Tujuan dari pemasungan ini untuk
mempersempit ruang gerak penderita sehingga penderita skizofrenia tidak bisa
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Pada beberapa kasus, penderita skizofrenia
yang dipasung melakukan aktifitas seperti makan, buang air besar, dan buang air kecil
pada tempat yang sama. Pemasungan yang terjadi di masyarakat adalah akibat dari
ketidakpahaman keluarga tentang penanganan yang tepat pada penderita skizofrenia, dan
juga anggapan yang masih berkembang bahwa skizofrenia adalah penyakit kutukan.
Anggapan lain yang masih ada dan dipertahankan oleh masyarakat adalah memiliki
anggota keluarga dengan skizofrenia adalah aib, sehingga harus disembunyikan.
Keluarga lebih memilih untuk merahasiakan keberadaan penderita skizofrenia daripada
membawanya kerumah sakit untuk diberikan terapi penyembuhan. ( Bustilo dkk., 2001;
Mueser dkk., 2001; Penn & Mueser, 1996 )
Tantangan terbesar untuk penanganan masalah skizofrenia terletak pada keluarga
dan masyarakat. Masyarakat tidak hanya bertugas membawa anggotanya ke Rumah Sakit
Jiwa jika ada yang menderita skizofrenia, tetapi juga aktif untuk menerima penderita
setelah pulang dari Rumah Sakit Jiwa, melibatkannya dalam kegiatan masyarakat, dan
yang paling penting memantau perilaku pasien selama di Rumah Sakit Jiwa (Moersalin,
2009).
Mengatasi masalah gangguan Skizofrenia, penyembuhan yang dibutuhkan bukan
hanya secara fisik melainkan juga dibutuhkan penanganan secara preventif, promotif,
terapi, serta rehabilitasi. Keberadaan anggota keluarga yang mengalami gangguan
Skizofrenia mengakibatkan tugas baru bagi anggota keluarga ketika pihak rumah sakit
3

telah memulangkan pasien skizofrenia kepada keluarganya. Terlebih lagi stigma yang
beredar di masyarakat mengakibatkan keluarga harus menanggung rasa malu.
Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa angka kekambuhan pada klien tanpa
terapi keluarga sebesar 25 - 50% sedangkan angka kekambuhan pada klien yang
diberikan terapi keluarga 5 - 10% ( Keliat, 2006). Keluarga sebagai perawat utama dari
klien memerlukan treatment untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam
merawat klien.
Berdasarkan evidance based practice psikoedukasi keluarga adalah terapi yang
digunakan untuk memberikan informasi pada keluarga untuk meningkatkan ketrampilan
mereka dalam merawat anggota keluarga mereka yang mengalami gangguan jiwa,
sehingga diharapkan keluarga akan mempunyai koping yang positif terhadap stress dan
beban yang dialaminya (Goldenberg & Goldengerg, 2004). Psikoedukasi adalah suatu
bentuk pendidikan ataupun pelatihan terhadap seseorang dengan gangguan psikiatri yang
bertujuan untuk proses treatment dan rehabilitasi. Sasaran dari psikoedukasi adalah untuk
mengembangkan dan meningkatkan penerimaan pasien terhadap penyakit ataupun
gangguan yang ia alami, meningkatkan pertisipasi pasien dalam terapi, dan
pengembangan coping mechanism ketika pasien menghadapi masalah yang berkaitan
dengan penyakit tersebut. (Goldman, 1998 dikutip dari Bordbar & Faridhosseini, 2010).
Psikoedukasi (PE) dapat diterapkan tidak hanya kepada individu tetapi juga dapat
diterapkan pada keluarga, kelompok, maupun masyarakat. PE dapat digunakan sebagai
bagian dari proses treatment dan sebagai bagian dari rehabilitasi bagi pasien yang
mengalami penyakit ataupun gangguan tertentu. PE banyak diberikan kepada pasien
dengan gangguan psikiatri termasuk anggota keluarga dan orang yang berkepentingan
untuk merawat pasien (Lukens & McFarlane, 2004).
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan maka penulis merasa penting untuk
melakukan psikoedukasi terhadap masyarakat tentang stigma salah yang .berkembang di
masyarakat terhadap penderita skizofrenia.
B. Perumusan Masalah
Keluarga dan masyarakat masih memiliki pengetahuan, pandangan, dan stigma
yang salah tentang penderita skizofrenia atau ODGJ. Padahal, penderita skizofrenia
membutuhkan perhatian dari pihak keluarga dan lingkungan masyarakat untuk
mendukung perawatan penderita skizofrenia dan menciptakan lingkungan yang kondusif
4

yang dapat menekan tingkat kekambuhan dan penderita skizofrenia yang sudah
menerima pengobatan dapat diterima kembali di masyarakat.
C. Tujuan
Tujuan mini project ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dari seluruh
pemangku kepentingan di bidang kesehatan jiwa dan meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang skizofrenia, dan menghilangkan bentuk-bentuk stigma yang buruk
tentang masalah-masalah gangguan kesehatan jiwa khususnya penelantaran dan
pemasungan ODGJ, sehingga diharapkan akan terbentuk kondisi lingkungan sosial yang
mendukung perawatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan begitu dapat
mewujudkan Indonesia Bebas Pasung Nasional khususnya di wilayah kerja Puskesmas
Dlingo 1.
D. Manfaat
Mini project ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Mewujudkan Indonesia bebas pasung, khususnya di wilayah kerja Puskesmas
Dlingo 1, Kabupaten Bantul, DIY
2. Meningkatkan pengetahuan dari seluruh pemangku kepentingan di bidang
Kesehatan jiwa dan meningkatkan pemahaman masyarakat serta menghapus
bentuk-bentuk stigma yang buruk tentang masalah-masalah gangguan jiwa
khususnya penelantaran dan pemasungan ODGJ.
3. Mewujudkan kondisi lingkungan keluarga dan sosial yang mendukung perawatan
orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
4. Menjadi bahan masukan kepada Puskesmas Dlingo 1 dalam pemberian pelayanan
kesehatan kepada masyarakat terkait masalah gangguan jiwa.
5. Menjadi bahan masukan maupun sebagai data mini project ataupun penelitianpenelitian selanjutnya dan pengembangan ilmu pengetahuan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu
gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi,
pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan
intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat
berkembang kemudian (Sadock, 2003).
Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu
gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan
pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam
perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan,
miskin kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh,
sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif

B. Etiologi
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab
skizofrenia, antara lain :
1. Faktor Genetik
Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga
penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi
saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 15%; bagi anak dengan
salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 16%; bila kedua orangtua
menderita skizofrenia 40 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi
kembar satu telur (monozigot) 61 86%.
2. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang
disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron
berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia
berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian
6

tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine.


Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja
tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin
dan norepinephrine tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).
3. Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama
semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tuaanak

yang

patogenik,

serta

interaksi

yang

patogenik

dalam

keluarga

(Wiraminaradja & Sutardjo, 2005).


Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga
mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic
mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang
memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab
skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).
C. Gambaran Klinik
Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka
berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama (bertahuntahun) dalam fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang
ringan. Selama periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan
aneh. Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat lebih jelas oleh orang lain. Pasien
dapat kehilangan pekerjaan dan teman karena ia tidak berminat dan tidak mampu
berbuat sesuatu atau karena sikapnya yang aneh. Pemikiran dan pembicaraan mereka
samar-samar sehingga kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Mereka mungkin
mempunyai keyakinan yang salah yang tidak dapat dikoreksi. Penampilan dan
kebiasaan-kebiasaan mereka mengalami kemunduran serta afek mereka terlihat
tumpul. Meskipun mereka dapat mempertahankan inteligensia yang mendekati
normal, sebagian besar performa uji kognitifnya buruk. Pasien dapat menderita
anhedonia yaitu ketidakmampuan merasakan rasa senang. Pasien juga mengalami
deteorisasi yaitu perburukan yang terjadi secara berangsur-angsur.
Gejala Positif dan Negatif

Gejala positif mencakup waham dan halusinasi. Gejala negatif meliputi afek mendatar
atu menumpul, miskin bicara (alogia) atau isi bicara, bloking, kurang merawat diri,
kurang motivasi, anhedonia, dan penarikan diri secara sosial.
Gangguan Pikiran
-

Gangguan proses pikir


Pasien biasanya mengalami gangguan proses pikir. Pikiran mereka sering tidak dapat
dimengerti oleh orang lain dann terlihat tidak logis. Tanda-tandanya adalah:
1. Asosiasi longgar: ide pasien sering tidak menyambung. Ide tersebut seolah dapat
melompat dari satu topik ke topik lain yang tak berhubungan sehingga
membingungkan pendengar. Gangguan ini sering terjadi misalnya di pertengahan
kalimat sehingga pembicaraan sering tidak koheren.
2. Pemasukan berlebihan: arus pikiran pasien secara terus-menerus mengalami
gangguan karena pikirannya sering dimasuki informasi yang tidak relevan.
3. Neologisme: pasien menciptakan kata-kata baru (yang bagi mereka meungkin
mengandung arti simbolik)
4. Terhambat: pembicaraan tiba-tiba berhenti (sering pada pertengahan kalimat) dan
disambung kembali beberapa saat kemudian, biasanya dengan topik lain. Ini
dapat menunjukkan bahwa ada interupsi.
5. Klang asosiasi: pasien memilih kata-kata berikut mereka berdasarkan bunyi katakata yang baru saja diucapkan dan bukan isi pikirannya.
6. Ekolalia: pasien mengulang kata-kata atau kalimat-kalimat yang baru saja
diucapkan oleh seseorang.
7. Konkritisasi: pasien dengan IQ rata-rata normal atau lebih tinggi, sangat buruk
kemampuan berpikir abstraknya.
8. Alogia: pasien berbicara sangat sedikit tetapi bukan disengaja (miskin
pembicaraan) atau dapat berbicara dalam jumlah normal tetapi sangat sedikit ide

yang disamapaikan (miskin isi pembicaraan).


Gangguan isi pikir
1. Waham: suatu kepercayaan palsu yang menetap yang taksesuai dengan fakta dan
kepercayaan tersebut mungkin aneh atau bisa pula tidak aneh tetapi sangat
tidak mungkin dan tetap dipertahankam meskipun telah diperlihaykan bukti-bukti
yang jelas untuk mengkoreksinya. Waham sering ditemui pada gangguan jiwa
berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada
skizofrenia. Semakin akut skizofrenia semakin sering ditemui waham
disorganisasi atau waham tidak sistematis:
2. Tilikan
8

Kebanyakan pasien skizofrenia mengalami pengurangan tilikan yaitu pasien tidak


menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhaap pengobatan, meskipun
gangguan yang ada pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain.
Gangguan Persepsi
-

Halusinasi
Halusinasi paling sering ditemui, biasanya berbentuk pendengaran tetapi bisa juga
berbentuk penglihatan, penciuman, dan perabaan. Halusinasi pendengaran dapat pula
berupa komentar tentang pasien atau peristiwa-peristiwa sekitar pasien. Komentarkomentar tersebut dapat berbentuk ancaman atau perintah-perintah langsung ditujukan
kepada pasien (halusinasi komando). Suara-suara sering diterima pasien sebagai
sesuatu yang berasal dari luar kepala pasien dan kadang-kadang pasien dapat
mendengar pikiran-pikiran mereka sendiri berbicara keras. Suara-suara cukup nyata

menurut pasien kecuali pada fase awal skizofrenia.


Ilusi dan depersonalisasi
Pasien juga dapat mengalami ilusi atau depersonalisasi. Ilusi yaitu adanya
misinterpretasi panca indera terhadap objek. Depersonalisasi yaitu adanya perasaan
asing terhadap diri sendiri. Derealisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap
lingkungan sekitarnya misalnya dunia terlihat tidak nyata.
Gangguan Perilaku
Salah satu gangguan aktivitas motorik pada skizofrenia adalah gejala katatonik yang
dapat berupa stupor atauh gaduh gelisah. Paien dengan stupor tidak bergerak, tidak
berbicara, dan tidak berespons, meskipun ia sepenuhnya sadar. Sedangkan pasien
dengan katatonik gaduh gelisah menunjukkan aktivitas motorik yang tidak terkendali.
Kedua keadaan ini kadang-kadang terjadi bergantian. Pada stupor katatonik juga bisa
didapati fleksibilitas serea dan katalepsi. Gejala katalepsi adalah bila suatu posisi
badan dipertahankan untuk waktu yang lama. Sedangkan fleksibilitas serea adalah bila
anggota badan dibengkokkan terasa suatu tahanan seperti pada lilin atau malam dan
posisi itu dipertahankan agak lama.
Gangguan perilaku lain adalah stereotipi dan manerisme. Berulang-ulang melakukan
suatu gerakan atau mengambil sikap badan tertentu disebut stereotipi. Misalnya,
menarik-narik rambutnya, atau tiap kali bila mau menyuap nasi mengetuk piring dulu
beberapa kali. Keadaan ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa tahun.
Stereotipi pembicaraan dinamakan verbigrasi, kata atau kalimat diulang-ulangi, hal ini
sering juga terdapat pada gangguan otak orgnaik. Manerisme adalah stereotipi tertentu
9

pada skizofrenia, yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau
keanehan berjalan dan gaya berjalan.
Gangguan Afek
Kedangkalan respons emosi, misalnya penderita menjadi acuh tak acuh
terhadap hal-hal yang penting untuk dirinya sendiri sepertti keadaan keluarganya dan
masa depannya. Perasaan halus sudah hilang. Parathimi, apa yang seharusnya
menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul rasa sedih atau marah.
Paramimi, penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis. Parathimi
dan paramimi bersama-sama dinamakan incongruity of affect dalam bahasa inggris
dan inadequat dalam bahasa belanda.
Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan,
misalnya sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari, tetapi
mulutnya seperti tertawa.
Yang penting juga pada skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk
mengadakan hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Karena itu sering kita
tidak dapat merasakan perasaan penderita. Karena terpecah-belahnya kepribadian,
maka dual hal yang berlawanan mungkin timbul bersama-sama, misalnya mencintai
dan membenci satu orang yang sama; menangis dan tertawa tentang satu hal yang
sama. Ini dinamakan ambivalensi afektif.1-3
D. Diagnosis
Adanya halusinasi atau waham tidak mutlak untuk diagnosis skizofrenia;
gangguan pada pasien didiagnosis sebagai skizofrenia apabila pasien menunjukkan
dua gejala yang terdaftar sebagai gejala 3 sampai 5 pada kriteria A (1.waham 2.
Halusinasi 3. Bicara kacau 4. Perilaku yang sangat kacau/katatonik 5. Gejala negatif,
yaitu: afek medatar, alogia, atau anhedonia). Hanya dibutuhkan satu gejala kriteria A
bila wahamnya bizare atau halusinasinya terdiri atas suara yang terus-menerus
memberi komentar terhadap perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara
yang saling bercakap-cakap. Kriteria B membutuhkan adanya hendaya fungsi, meski
tidak memburuk, yang tampak selama fase aktif penyakit. Gejala harus berlangsung
selama paling tidak 6 bulan dan diagnosis gangguan skizoafektif atau gangguan mood
harus disingkirkan. Setidaknya salah satu hal ini harus ada:
1. Gema pikiran (thought echo)
2. Waham kendali, pengaruh, atau pasivitas

10

3. Suara-suara halusinasi yang terus-menerus mengomentari perilaku pasien atau


saling mendiskusikan pasien, atau suara halusinasi lain yang berasal dari bagian
tubuh tertentu; dan
4. Waham persisten jenis lain yang secara budaya tidak sesuai dan sangat tidak masuk
akal.
Diagnosis juga dapat ditegakkan bila setidaknya dua hal berikut ada:
1. Halusinasi persisten dalam modalitas apapun, bila terjadi setiap hari selama
sekurangnya 1 bulan, atau bila disertai waham
2. Neologisme, kata baru yang diciptakan oleh pasien, seringkali dengan
menggabungkan suku kata atau dari kata-kata lain.
3. Perilaku katatonik, seperti eksitasi, postur atau fleksibilitas serea, negativisme,
mutisme, dan stupor
4. Gejala negatif, seperti apatis yang nyata, miskin isi pembicaraan, dan respons
emosional tumpul serta ganjil (harus ditegaskan bahwa hal ini bukan disebabkan
depresi atau pengobatan antipsikotik).
E. Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental.
Farmakoterapi
Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk
mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan. Obat antipsikotik mencakup
dua kelas utama: antagonis reseptor dopamin, dan antagonis serotonin-dopamin.
Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama
terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama,
hanya presentase kecil pasien yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi
mental normal secara bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan
efek samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu
aalah akatisia adan gejala lir-parkinsonian berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial
serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom neuroleptik maligna.
Antagonis Serotonin-Dopamin
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal ayng minimal atau tidak ada,
berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik
standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga
menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta
lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut
sebagai obat antipsikotik atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia
11

dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin
yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk
gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit,
bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di
antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon.
Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai
obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik,
pada subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan
antipsikotik. Pada banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan
skizofrenia.2,3,6
Terapi Psikososial
-

Pelatihan keterampilan sosial


Peatihan keterampilan sosial kadang-kadang disebut sebagai terapi keterampilan
perilaku. Terapi ini secara langsung dapat mendukung dan berguna untuk pasien
bersama dengan terapi farmakologis. Selain gejala yang biasa tampak pada pasien
skizofrenia, beberapa gejala yang paling jelas terlihat melibatkan hubungan orang
tersebut dengan orang lain, termasuk kontak mata yang buruk, keterlambatan respons
yang tidak lazim, ekspresi wajah yang aneh, kurangnya spontanitas dalam situasi
sosial, serta persepsi yang tidak akurat atau kurangnya persepsi emosi pada orang lain.
Pelatihan keterampilan perilaku diarahkan ke perilaku ini melalui penggunaan video
tape berisi orang lain dan si pasien, bermain drama dalam terapi, dan tugas pekerjaan

rumah untuk keterampilan khusus yang dipraktekkan.


Terapi kelompok
Terapi kelompok untuk oragn dengan skizofrenia umumnya berfokus pada
rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok dapat berorientasi

perilaku, psikodinamis atau berorientasi tilikan, atau suportif.


Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif telah digunakan pada pasien skizofrenia untuk
memperbaiki distorsi kognitif, mengurangi distraktibilitas, serta mengoreksi kesalahan
daya nilai. Terdapat laporan adanya waham dan halusinasi yang membaik pada
sejumlah pasien yang menggunakan metode ini. Pasien yang mungkin memperoleh

manfaat dari terapi ini umumnya aalah yang memiliki tilikan terhadap penyakitnya.
Psikoterapi individual
12

Pada psikoterapi pada pasien skizofrenia, amat penting untuk membangun


hubungan terapeutik sehingga pasien merasa aman. Reliabilitas terapis, jarak
emosional antaraterapis dengan pasien, serta ketulusan terapis sebagaimana yang
diartikan oleh pasien, semuanya mempengaruhi pengalaman terapeutik. Psikoterapi
untuk pasien skizofrenia sebaiknya dipertimbangkan untuk dilakukan dalamm jangka
waktu dekade, dan bukannya beberapa sesi, bulan, atau bahakan tahun. Beberapa
klinisi dan peneliti menekankan bahwa kemampuan pasien skizofrenia utnuk
membentuk aliansi terapeutik dengan terapis dapat meramalkan hasil akhir. Pasien
skizofrenia yang mampu membentuk aliansi terapeutik yang baik cenderung bertahan
dalam psikoterapi, terapi patuh pada pengobatan, serta memiliki hasil akhir yang baik
pada evaluasi tindak lanjut 2 tahun. Tipe psikoterapi fleksibel yang disebut terapi
personal merupakan bentuk penanganan individual untuk pasien skizofrenia yang
baru-baru ini terbentuk. Tujuannya adalah meningkatkan penyesuaian personal dan
sosial serta mencegah terjadinya relaps. Terapi ini merupakan metode pilihan
menggunakan keterampilan sosial dan latihan relaksasi, psikoedukasi, refleksi diri,
kesadaran diri, serta eksplorasi kerentanan individu terhadap stress. 2,3
F. Psikoedukasi
Psikoedukasi adalah suatu bentuk pendidikan ataupun pelatihan terhadap
seseorang dengan gangguan psikiatri yang bertujuan untuk proses treatment dan
rehabilitasi. Sasaran dari psikoedukasi adalah untuk mengembangkan dan
meningkatkan penerimaan pasien terhadap penyakit ataupun gangguan yang ia alami,
meningkatkan pertisipasi pasien dalam terapi, dan pengembangan coping mechanism
ketika pasien menghadapi masalah yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
(Goldman, 1998 dikutip dari Bordbar & Faridhosseini, 2010).
Psikoedukasi (PE) dapat diterapkan tidak hanya kepada individu tetapi juga
dapat diterapkan pada keluarga dan kelompok. PE dapat digunakan sebagai bagian
dari proses treatment dan sebagai bagian dari rehabilitasi bagi pasien yang mengalami
penyakit ataupun gangguan tertentu. PE banyak diberikan kepada pasien dengan
gangguan psikiatri termasuk anggota keluarga dan orang yang berkepentingan untuk
merawat pasien tersebut. Walaupun demikian, PE tidak hanya dapat diterapkan pada
ranah psikiatri tetapi dapat juga diterapkan pada ranah lainnya. PE dapat diterapkan
tidak hanya pada individu atau kelompok yang memiliki gangguan psikiatri, tetapi
juga digunakan agar individu dapat menghadapi tantangan tertentu dalam tiap tingkat
13

perkembangan manusia sehingga mereka dapat terhindar dari masalah yang berkaitan
dengan tantangan yang mereka hadapi.
Psikoedukasi adalah suatu bentuk intervensi psikologi, baik individual ataupun
kelompok, yang bertujuan tidak hanya membantu proses penyembuhan klien
(rehabilitasi) tetapi juga sebagai suatu bentuk pencegahan agar klien tidak mengalami
masalah yang sama ketika harus menghadapi penyakit atau gangguan yang sama,
ataupun agar individu dapat menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi sebelum
menjadi gangguan. PE merupakan proses empowerment untuk mengembangkan dan
menguatkan keterampilan yang sudah dimiliki untuk menekan munculnya suatu
gangguan mental.
Karena PE dapat diterapkan sebagai bagian dari persiapan sesorang untuk
menghadapi berbagai tantangan dalam tiap tahapan perkembangan kehidupan, maka
PE dapat diterapkan hampir pada setiap seting kehidupan. Selain itu, karena modelnya
yang fleksibel, dimana memadukan informasi terkait gangguan tertentu dan alat-alat
untuk mengatasi situasi-situasi tertentu, psikoedukasi berpotensi untuk diterapkan
pada area yang luar terkait dengan berbagai bentuk gangguan dan tantangan hidup
yang bervariasi (Lukens & McFarlane, 2004). Ini menunjukkan bahwa PE diterapkan
pada berbagai seting misalnya rumah sakit, bisnis, perguruan tinggi, pemerintahan,
lembaga pelayanan sosial, dan bahkan militer.
Di dalam Walsh (2010), ia menjelaskan mengenai pengertian psikoedukasi
dari Griffiths (2006). Berdasarkan pengertian tersebut, ia ditarik kesimpulan bahwa
fokus dari psikoedukasi adalah sebagai berikut:

Mendidik partisipan mengenai tantangan dalam hidup

Membantu partisipan mengembangkan sumber-sumber dukungan dan

dukungan sosial dalam menghadapi tantangan hidup


Mengembangkan keterampilan coping untuk menghadapi tantangan hidup
Mengembangkan dukungan emosional
Mengurangi sense of stigma dari partisipan
Mengubah sikap dan belief dari partisipan terhadap suatu gangguan (disorder)
Mengidentifikasi dan mengeksplorasi perasaan terhadap suatu isu
Mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah
Mengembangkan keterampilan crisis-intervention
Psikoedukasi tidak hanya bertujuan untuk treatment tetapi juga rehabilitasi. Ini

berkaitan dengan mengajarkan seseorang mengenai suatu masalah sehingga mereka


bisa menurunkan stres yang terkait dengan masalah tersebut dan mencegah agar
14

masalah tersebut tidak terjadi kembali. Psikoedukasi juga didasarkan pada kekuatan
partisipan dan lebih fokus pada saat ini dan masa depan daripada kesulitan-kesulitan
di masa lalu.
Menurut Walsh (2010), PE dapat menjadi intervensi tunggal, tetapi juga sering
digunakan bersamaan dengan beberapa intervensi lainnya untuk membantu partisipan
menghadapi tantangan kehidupan tertentu. Psikoedukasi tidak sama dengan
psikoterapi walaupun kadang terjadi tumpang tindih antara kedua intervensi tersebut.
Psikoedukasi kadang ikut menjadi bagian dari sebuah psikoterapi. Walsh (2010)
menjelaskan bahwa psikoterapi dapat dipahami sebagai proses interaksi antara
seorang profesional dan kliennya (individu, keluarga, atau kelompok) yang bertujuan
untuk mengurangi distres, disabiliti, malfungsi dari sistem klien pada fungsi kognisi,
afeksi, dan perilaku. Psikoterapi juga lebih fokus pada diri individu yang
mendapatkan intervensi, sedangkan psikoedukasi fokus pada sistem yang lebih besar
dan mencoba untuk tidak mempatologikan pasien. Kebanyakan intervensi psikososial
didasarkan pada model medis tradisional yang didesain untuk mengobati patologi,
gangguan, dan disfungsi. Sebaliknya, psikoedukasi merefleksikan paradigma yang
lebih menyeluruh dengan pendekatan competence-based, menekankan pada
kesehatan, kolaborasi, coping, dan empowerment (Dixon, 1999; Marsh, 1992, dikutip
dari Lukens & McFarlane, 2004 ). Psikoedukasi didasarkan pada kekuatan dan fokus
pada masa sekarang.
Psikoedukasi, baik individu ataupun kelompok tidak hanya memberikan
informasi-informasi penting terkait dengan permasalahan partisipannya tetapi juga
mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dianggap penting bagi partisipannya
untuk menghadapi situasi permasalahannya. Psikoedukasi kelompok dapat diterapkan
pada berbagai kelompok usia dan level pendidikan. Asumpsi lainnya, PE kelompok
lebih menekankan pada proses belajar dan pendidikan daripada self-awareness dan
self-understanding dimana komponen kognitif memiliki proporsi yang lebih besar
daripada komponen afektif (Brown, 2011). Namun ini tidak berarti bahwa PE sama
sekali tidak menyentuh aspek selfawareness dan self-understanding. Hal ini
dikembalikan kepada sasaran dari PE itu sendiri anak-anak, remaja, dan orang dewasa
di berbagai seting. Psikoedukasi kelompok ini juga dapat terdiri dari 1 sesi ataupun
lebih.

15

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Sebelum melakukan program psikoedukasi tentang stigma yang berkembang
pada masyarakat tentang Skizofrenia di Dusun Kebosungu 1, Dlingo, dilakukan
beberapa tahap kegiatan sebelumnya berupa :
1. Mengumpulkan data dari berbagai kajian pustaka mengenai kesehatan jiwa
serta pembuatan kuisioner yang akan digunakan untuk mengetahui tingkat
pengetahuan masyarakat tentang Skizofrenia.
2. Berkoordinasi dengan dokter pendamping dan Programmer tentang rencana
pelaksanaan program psikoedukasi pada masyarakat.
3. Menentukan Dusun yang akan dilakukan program psikoedukasi, serta
menentukan waktu dan tanggal pelaksanaannya.
Selanjutnya diusulkan rancangan program Psikoedukasi Masyarakat tentang
stigma yang berkembang tentang Skizofrenia, program ini dilaksanakan 1 sesi
pertemuan untuk mengetahui perbandingan antara sebelum dilakukan psikoedukasi
16

dan sesudah dilakukannya, berikut rancangan program :


1. Melakukan pre-test dengan membagikan kuisioner yang telah dibuat kepada
masyarakat Dusun Kebosungu 1
2. Melakukan Psikoedukasi kepada masyarakat tentang skizofrenia meliputi
pengertian, penyebab, stigma yang salah, dan penanganan skizofrenia
menggunakan media leaflet. Serta dilakukan sesi tanya-jawab.
3. Melakukan post-test dengan membagikan kuisioner yang sama kepada
masyarakat Dusun Kebosungu 1
4. Setelah mendapatkan hasil, kuisioner antara pre-test dan post-test kemudian
dibandingkan untuk melihat ada atau tidaknya peningkatan pengetahuan
setelah dilakukan psikoedukasi.

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Pelaksanaan program ini dilakukan pada tanggal 19 April 2016 bertempat di rumah
Kadus Kebosungu 1.
C. Instrumen
1. Kuisioner tentang pengetahuan Skizofrenia yang dimiliki oleh masyarakat
2. Leflet, media untuk pelaksanaan psikoedukasi

17

BAB 1V
PELAKSANAAN

Pada pelaksanaan Psikoedukasi dilakukan 1 sesi pertemuan, yaitu pada tanggal 19


April 2016. Sebelum dilakukan psikoedukasi dilakukan pretest sebanyak 30 pertanyaan
kepada 20 orang responden yang menghadiri posyandu, setelah itu dilakukan psikoedukasi
dan sesi tanya jawab kepada responden. Setelah selesai melakukan psikoedukasi,
dilakukan post test. Berikut ini merupakan hasil yang didapatkan dari pengisian Pretest
dan Postest terhadap 20 responden :
No

Pre-test

Post-test

14
4
12
14
8
8
10
11
9
11
11
8
11
11
8
13
6
11
14
7
9
14
7
9

9
12
9
16
5
9
13
8
9
14
11
5
15
8
7
24
1
5
19
4
7
18
7
5

Identitas

1.

Ny. W/71 thn/ SD/ tidak

2.

bekerja
Ny.M / 60 thn/ SMP/

3.

Bekerja
Ny. S/ 32thn/SD/Bekerja

4.

Ny. K/ 76thn/ SD/ tidak

5.

bekerja
Ny. KR/ 72 th/ tidak

6.

bekerja
Ny. SR/68thn/SD/bekerja

7.

Ny. I/ 62 th/ SD/ tidak

8.

bekerja
Ny. J/65thn/SD/bekerja

B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S

18

9.

Ny. W/ 86 th / tidak

bekerja
10. Ny. T/62 th/ bekerja
11.

Ny. MR/60 th/ SMA/

bekerja
12. Ny. WG/61thn/bekerja
13. Ny. WH/ 61 th/ SD/
bekerja
14. Ny. KP/ 67 th/ SD/
bekerja

15. Ny. NG/ 47thn/ SD/


bekerja

16. Ny. MS/59 th/bekerja

17. Ny. SM/ 59thn/ SD/


bekerja

18. Ny. K/57thn/SD/bekerja

19. Ny. S/60thn/SMP/bekerja

B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S
B
R
S

9
12
9
13
6
11
14
7
9
10
11
9
14
7
9

18
3
9
18
3
9
20
3
7
18
3
9
13
8
9

19

12

10

17

13

10

18

11

14

15

11

15

13

14

12

11

12
19

20

Ny.WT/ 38/ SD/ tidak

14

16

bekerja

Keterangan : B = Benar ; R = Ragu-ragu ; S = Salah

Dari hasil diatas, terdapat perbedaan antara pretest dan postest . Pada post test
terdapat peningkatan dalam pemilihan jawaban yang tepat pada pertanyaan-pertanyaan yang
ada dalam kuisioner.
Berdasarkan jawaban responden yang sesuai pertanyaan kuisioner, mayoritas
responden masih memiliki pengetahuan yang kurang, pandangan yang salah ataupun stigma
yang buruk tentang ODGJ. Responden masih menganggap bahwa penderita gangguan jiwa
yang baru sembuh masih memiliki perilaku-perilaku yang tidak wajar sehingga mayoritas
responden memiliki perasaan tidak aman saat berdekatan dengan penderita ODGJ meliputi
perasaan takut, waspada, khawatir, curiga , dan gesilah. Mayoritas responden memilih untuk
menghindar saat berdekatan, berkomunikasi, dan bekerjasama dengan ODGJ.

20

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Masyarakat memiliki pengetahuan yang kurang, pandangan salah, dan stigma
yang buruk tentang ODGJ.
2. Mayoritas responden memiliki perasaan tidak aman saat berdekatan dengan
penderita skizofrenia. Perasaan tidak aman yang dialami meliputi perasaan
takut, waspada, khawatir, curiga, dan gelisah .
3. Mayoritas responden memilih untuk menghindar saat berdekatan dengan
penderita skizofrenia.
4. Setelah dilakukan program psikoedukasi didapatkan peningkatan pengetahuan
responden terhadap skizofrenia yang dapat dilihat dari kuisioner yang diisi
oleh responden setelah dilakukan psikoedukasi.
5. Dengan dilakukan program psikoedukasi ini diharapkan stigma buruk
masyarakat tentang ODGJ bisa berkurang, sehingga penderita dapat diterima
di masyarakat, dengan begitu dapat membantu mewujudkan Indonesia Bebas
Pasung Nasional.
B. Saran
1. Melakukan intervensi lebih lanjut berupa psikoedukasi pada keluarga penderita
gangguan jiwa.
2. Melakukan pemantauan dan evaluasi secara rutin setelah dilakukan program
psikoedukasi.
3. Melakukan penguatan kader-kader kesehatan terhadap masalah kesehatan jiwa.
21

4. Masyarakat idealnya menjalin hubungan yang baik dengan ODGJ dan terbuka
pada informasi melalui majalah dan media lainya. Dalam berperilaku sosial,
masyarakat hendaknya tidak memberikan perilaku yang diskriminatif pada
ODGJ dan mendukung secara aktif dalam menciptakan lingkungan yang
kondusif bagi ODGJ.

DAFTAR PUSTAKA

Amir N. Skizofrenia. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, penyunting. Buku ajar psikiatri.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h.170-94.
Bordbar, Mohammad. Faridhosseini, Farhad. 2010. Psychoeducation for Bipolar Mood
Disorder. Jurnal: Clinical, Research, Treatment Approaches to Affective Disorders.
22

Brown, Nina W. 2011. Psychoeducational Groups 3rd Edition: Process and Practice. New
York: Routledge Taylor & Francis Group.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2003). Buku Pedoman Kesehatan Jiwa, Jakarta
Depkes.
Goldenberg, I & Goldengerg, H. (2004). Family Theraphy an overview . United states,
Thomson
Kaplan, H.I., Sadock, B.J. & Grebb, J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri (Ilmu pengetahuan perilaku
psikiatri klinis). Jakarta: Binarupa Aksara
Liftiah . 2008. Psikologi Abnormal. Semarang : Penerbit Widya Karya
Lukens, Ellen P. McFarlane, William R. 2004. Journal Brief Treatment and Crisis Intervention
Volume 4. Psychoeducation as Evidence-Based Practice: Consideration for Practice,
Research, and Policy. Oxford University Press.
Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University
Press; 2009.h.195-277.
Maslim, R. 2001. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya
Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock BJ, Sadock VA.
Kaplan & sadocks concise textbook of clinical psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2010.h.147-75.
Puhl, Rebecca & Heuer, Chelsea. 2010. Obesity Stigma: Important Considerations for Public
Health. American Journal of Public Health. No 6 Vol. 100. Hal 1019-1028
Safitri A, penyunting. Obat antipsikosis. Dalam: Neal MJ. Medical pharmacology at a glance.
Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006.h.60-1.
Sobell JL, Mikesell MJ, Mcmurray CT. Genetics and etiopathophysiology of schizophrenia.
Mayo Clin Proc Oct 2005;77:1068-82.
Walsh, Joseph. 2010. Psycheducation In Mental Health. Chicago: Lyceum Books, Inc.

Lampiran 1

23

24

25

26

27

Lampiran 2

28

29

30

31

32

33

34

35