Anda di halaman 1dari 50

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Samarinda adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota
provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Seluruh wilayah kota ini berbatasan
langsng dengan Kabupaten Kutai Kertenegara. Luas wilayah Kota Samarinda
adalah 718,00 km dan terletak antara 1170300 Bujur Timur dan 1171814
Bujur Timur serta diantara 001902 Lintang Selatan dan 004234 Lintang
Selatan. Saat ini Kota Samarinda dibagi menjadi 6 kecamatan yaitu,
Kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Sungai Kunjang,
Samarinda Ulu dan Samarinda Utara. Sedangkan jumlah desa di Kota
Samarinda itu sendiri sebanyak 53 Desa.
Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) Kota Samarinda Provinsi
Kalimantan Timur yang mempunyai tanggung jawab menyiapkan pemudapemudi yang berkompetensi dalam bidang olahraga yang kedepannya akan
berkompetensi dalam dunia olah raga di tingkat Nasional dan Internasional.
Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan bakat-bakat bagi pemuda-pemudi
untuk membawa atau mengharumkan nama Indonesia. Hal tersebut maka pihak
Dinas Pemuda dan Olah Raga (DISPORA) Kota Samarinda Provinsi
Kalimantan Timur mencoba untuk mulai membangun fasilitas-fasilitas untuk
menunjang sarana dan prasana dalam proses perencanaan masa depan dengan
mulai membangun Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) di Palaran
Kota Samarinda Sebarang Provinsi Kalimantan Timur.
Dalam

Perencenaan

Pembangunan

Sekolah

Khusus

Olahraga

Internasional (SKOI) di Palaran Kota Samarinda Sebarang Provinsi


Kalimantan Timur dilengkapi dengan sarana dan prasarana gedung salah
satunya adalah gedung UPTD SKOI.
1.2. Rumusan Masalah
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Dalam penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini, dengan


memperhatikan latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan masalah yaitu
Metode Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Gedung UPTD SKOI (Sekolah
Khusus Olahraga Internasional) Palaran.
1.3. Maksud dan Tujuan
1.3.1. Maksud
Adapun maksud Pembangunan Gedung UPTD SKOI ini antara lain:
Menambah fasilitas penghubung dari bangunan gedung UPTD

SKOI guna bagi para pekerja.


Sebagai sarana dan Prasarana

UPTD

SKOI

DISPORA

Prov.Kalimantan Timur..
1.3.2. Tujuan

Tujuan Pembangunan Gedung UPTD SKOI adalah :


Memberikan kenyamanan bagi para Pegawai yang berkerja di

UPTD SKOI
Memaksimalkan dan memudahkan kinerja baru yang ada di lingkup
kantor.

.
1.4. Pembatasan Masalah
Mengingat ruang lingkup pelaksanaan pekerjaan gedung baik struktur
maupun arsitektur sangat luas, maka pada pembahasan Laporan Praktek Kerja
Lapangan ini dibatasi pada Metode Pelaksanaan Pekerjaan Struktur
Bangunan.
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan selama 3 bulan atau 90
hari kalender. Obyek pengamatan ini dilakukan pada proyek/pekerjaan yang
sedang berjalan. Adapun obyek pengamatan dititik beratkan pada salah satu
kajian yang terkait langsung dengan salah satu topik kuliah yang diterima.

1.5. Metode Penulisan


Dalam hal memudahkan pembahasan laporan sehingga dapat memberikan
gambaran singkat dan terarah sesuai dengan penulisan baha n maka penulis

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

membuat sistematika penulisan laporan. Adapun urutan pokok penulisan


laporan ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang, tujuan dan manfaat penulisan laporan,
pembahasan masalah, serta metode penulisan laporan.
BAB II DASAR TEORI
Bab ini berisikan tentang pengertian umum tentang laporan yang diambil.
BAB III TINJAUAN UMUM PROYEK
Bab ini memuat tentang lokasi proyek, data proyek, waktu pelaksanaan
dan dana pembangunan proyek.
BAB IV TINJAUAN KHUSUS PROYEK
Bab ini berisikan tentang persiapan bahan di lapangan, pelaksanaan proyek
sampai pekerjaan tahap akhir proyek.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
Bab ini berisikan tentang buku-buku referensi penunjang isi laporan.
LAMPIRAN
Bab ini berisikan tentang data-data di lapangan dan data-data proyek.
DOKUMENTASI
Bab ini berisikan foto-foto sebagai dokumentasi.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian Metode Pelaksanaan Konstruksi
Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek
konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya, kualitas dan
waktu. Aspek teknologi, sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.
Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode
pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis,
cepat, dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu
proyek konstruksi. Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana
ditetapkan akan dapat tercapai.
Perencanaan yang telah disusun oleh konsultan perencana diwujudkan
melalui pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Pelaksanaan pekerjaan merupakan
tahap yang sangat penting dan membutuhkan pengaturan serta pengawasan
pekerjaan yang baik, sehingga dapat diperoleh hasil yang baik, tepat waktu dan
sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya.
Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang menentukan berhasil
tidaknya suatu proyek, oleh karena itu perlu dipersiapkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan teknis pekerjaan, rencana kerja, serta tenaga pelaksana
khususnya tenaga ahli yang profesional yang dapat mengatur pekerjaan dengan
baik, serta dapat mengambil keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah
yang ditemui di lapangan.
Sebagai langkah awal dalam pelaksanaan, kontraktor harus memiliki
dokumen awal pelaksanaan, seperti berita acara, gambar-gambar detail, RKS
dan dokumen lainnya. Selanjutnya kontraktor membuat shop drawing sebagai
gambar detail pelaksanaan yang dibuat berdasarkan gambar perencanaan dari
konsultan perencana dan as built drawing sebagai laporan akhir gambargambar yang sesuai dengan pelaksanaan, setelah adanya pekerjaan tambah
maupun kurang.
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

2.2. Metode Pelaksanaan Konstruksi Gedung Bertingkat


Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan
suatu metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan.
Khususnya pada saat menghadapi kendala-kendala yang diakibatkan oleh
kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu,
penerapan metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan
sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan.
Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan
kondisi lapangan di mana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung
pada jenis proyek yang dikerjakan. Metode pelaksanaan pekerjaan untuk
bangunan gedung berbeda dengan metode pekerjaan bangunan irigasi,
bangunan pembangkit listrik, konstruksi dermaga maupun konstruksi jalan dan
jembatan.
Semua tahapan pekerjaan gedung mempunyai metode pelaksanaan yang
disesuaikan dengan disain dari konsultan perencana. Perencanaan metode
pelaksanaan pekerjaan struktur didasarkan atas design, situasi dan kondisi
proyek serta site yang ada dalam data-data proyek. Data-data tersebut
merupakan data yang mempengaruhi dalam menentukan dan merencanakan
metode pelaksanaan gedung.
Adapun tahap-tahap metode pelaksanaan konstruksi gedung sesuai
dengan ketentuan yang berlaku adalah sebagai berikut:
1.

Pekerjaan Pendahuluan, merupakan pekerjaan persiapan awal yang


dibutuhkan

dalam

Mobilisasi

dan

Pembersihan

pelaksanaan
Demobilisasi,

Lapangan,

proyek,
Pekerjaan

Pekerjaan

meliputi;

Pekerjaan

Pengukuran

Pemasangan

dan

Bouplank,

Pembuatan Direksi Keet, Pembuatan Jalan Kerja Proyek, Dll.


2.

Pekerjaan Struktur, merupakan tahap pekerjaan yang sangat


menentukan segala proses pelaksanaan konstruksi bangunan gedung,
meliputi; Pekerjaan Pondasi, Pekerjaan Sloof, Pekerjaan Kolom,
Pekerjaan Balok, Pekerjaan Plat Lantai, Pekerjaan Rangka Atap.

3.

Pekerjaan Arsitektur, merupakan pekerjaan tahap akhir atau

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

finishing bangunan gedung, meliputi; Pekerjaan Dinding, Pekerjaan


Plester dan Acian, Pekerjaan Lantai, Pekerjaan Kusen Pintu dan
Jendela, Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal, Pekerjaan Plafond,
Pekerjaan Pengecatan, Dll.
Dalam laporan ini, pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang diamati adalah
pekerjaan struktur, sehingga pada bab ini pembahasan akan lebih berfokus
kepada pekerjaan struktur.
2.3. Pekerjaan Struktur
Struktur adalah tata ukur, tata hubung, tata letak dalam suatau sitemyang
membentuk satuan kerja. Hubungan dalam bangunan adalah sistem penyaluran
atau distribusi gayagaya ekternal maupun internal menuju ke bumi.
Penggabungan berbagai elemen struktur secara tiga dimensi, yang
cukup rumit, fungsi utama dari sistem struktur adalah untuk memikul secara
aman dan efektif beban yang bekerja pada bangunan, serta menyalurkan
ketanah melalui fondasi. Beban yang b e k e r j a p a d a b a n g u n a n t e r d i r i
d a r i b e b a n v e r t i k a l , h o r i z o n t a l , perbedaan temperature, getaran, dan
sebagainya.
Pekerjaan struktur terdiri dari beberapa pekerjaaan yang meliputi:
1.

Pekerjaan Pondasi,

2.

Pekerjaan Sloof,

3.

Pekerjaan Kolom,

4.

Pekerjaan Balok dan Plat Lantai,

5.

Pekerjaan Rangka Atap.

2.3.1. Pekerjaan Pondasi


Pengertian umum untuk Pondasi adalah Struktur bagian bawah
bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah, atau bagian bangunan
yang terletak di bawah permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul
beban bagian bangunan lainnya di atasnya. Pondasi harus diperhitungkan
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

untuk dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap

beratnya sendiri,

beban - beban bangunan (beban isi bangunan), gaya-gaya

luar seperti:

tekanan angin,gempa bumi, dan lain-lain. Disamping itu, tidak boleh terjadi
penurunan level melebihi batas yang diijinkan.
Secara umum, terdapat dua macam pondasi, yaitu pondasi dangkal dan
pondasi dalam. Pondasi dangkal digunakan bila bangunan yang berada di
atasnya tidak terlalu besar. Rumah sederhana misalnya. Pondasi ini juga
bisa dipakai untuk bangunan umum lainnya yang berada di atas tanah yang
keras. Yang termasuk dalam pondasi dangkal ialah pondasi batu kali
setempat, pondasi lajur batu kali, pondasi tapak/pelat setempat (beton),
pondasi lajur beton, pondasi strouspile dan pondasi tiang pancang kayu.

Gambar 2.1. Contoh pondasi batu kali


Sedangkan pondasi dalam ialah pondasi yang dipakai pada bangunan di
atas tanah yang lembek. Pondasi ini juga dipakai pada bangunan dengan
bentangan yang cukup lebar (jarak antarkolom 6m) dan bangunan

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

bertingkat. Yang termasuk didalamnya antara lain pondasi tiang pancang


(beton, besi, pipa baja), pondasi sumuran, pondasi borpile dan lain-lain.

Gambar 2.2. Contoh pondasi tiang pancang


Pondasi merupakan bagian struktur dari bangunan yang sangat penting,
karena fungsinya adalah menopang bangunan diatasnya, maka proses
pembangunannya harus memenuhi persyaratan utama sebagai berikut:
1.

Cukup kuat menahan muatan geser akibat muatan tegak ke bawah.

2.

Dapat menyesuaikan pergerakan tanah yang tidak stabil (tanah


gerak)

3.

Tahan terhadap pengaruh perubahan cuaca

4.

Tahan terhadap pengaruh bahan kimia

2.3.2. Pekerjaan Sloof


Sloof dalam bangunan sederhana sebagaimana komponen bangunan
yang lainya, lazimnya terbuat dari beton bertulang dan letaknya di atas
pondasi, baik pondasi itu berupa pasangan batu kali atau pondasi telapak
(footplate). Fungsi sloof dalam bangunan adalah sebagai komponen yang
meratakan beban dimana dengan sloof tadi pelimpahan beban dari dinding
diatasnya sloof merata ke fondasi dan kemudian dilimpahkan ke tanah.
Dengan keadaan tanah yang heterogen (berbeda-beda jenis dan kekerasan
tanah) berarti reaksi tanah akibat beban fondasi tentu saja berbeda-beda, jika
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

pada tanah tadi terdapat bagian tanah yang lembek (tidak keras), maka dapat
mengakibatkan penurunan fondasi yang mana tentu saja dapat menyebabkan
penurunanan bangunan (konsekwensi yang terjadi akibat penurunan
bangunan yang tidak merata atau sebagian, dapat dilihat pada posting
sebelumnya tentang fondasi). Maka sloof ini sebagai perantara atau
jembatan yang menghubungkan tanah keras (tanah bagus untuk fondasi)
dengan tanah yang lembek (tanah yang jelek untuk fondasi).
Dengan sloof ini maka diharapkan tidak terjadi penurunan sebagian
bangunan, karena tanah yang lembek tadi dapat dikatakan sudah tidak ada.
Ibarat ada sebuah cekungan atau sungai di jalan kemudian diatasnya
cekungan atau sungai dihubungkan dengan jembatan, maka dua jalan yang
terputus cekungan atau sungai dapat dihubungkan. Sehingga jika diatas
jembatan tadi ditaruh beban, maka beban tadi akan ditopang jembatan
kemudian akan dilimpahkan pada pilar-pilar jembatan.

Gambar 2.3. Gambar hubungan sloof dan kolom


2.3.3. Pekerjaan Kolom
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul
beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang
memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada
suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

(collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse)
seluruh struktur (Sudarmoko, 1996).
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur
bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal
dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi
lateral terkecil.
Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke
pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang
memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk
meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia
dan barang-barang), serta beban hembusan angin.
Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan
gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah
material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan
tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan
kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya
tekan dan gaya tarik pada bangunan.

Gambar 2.4. Proses pembuatan kolom


Pekerjaan kolom melibatkan beberapa kegiatan antara lain adalah
penentuan as kolom, penulangan kolom, pembuatan bekisting kolom,
pemasangan bekisting kolom, pengecoran kolom, dan pembongkaran

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

10

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

bekisting kolom.

Gambar 2.5. Diagram alir proses pembuatan kolom


2.3.4. Pekerjaan Balok dan Plat Lantai
Balok beton adalah bagian dari struktur rumah yang berfungsi untuk
menompang lantai diatasnya. Balok juga berfungsi sebagai penyalur momen
menuju kolom-kolom.
Balok dikenal sebagai elemen lentur, yaitu elemen struktur yang
dominan memikul gaya dalam berupa momen lentur dan juga geser. Dan
yang kita bahas adalah balok pada beton bertulang. Beton hanya mempunyai
elastisitas yang sedikit berbeda dengan kayu atau baja yang mempunyai
kelenturan yang cukup besar. Balok beton terlentur beton bertulang lebih
sering didesain untuk memikul momen lentur dengan menggunakan
penampang bertulangan ganda, sebab ditinjau dari mekanisme lentur

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

11

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

penampang bertulangan ganda mempunyai daktilitas yang lebih besar


daripada penampang bertulangan tunggal.
Beton bertulang terdiri dari dua material, beton dan baja, yang sifatnya
berbeda. Jika baja dianggap sebagai material homogen yang propertinya
terdefinisi jelas maka sebaliknya dengan material beton, merupakan material
heterogen dari semen, mortar dan agregat batuan, yang properti mekaniknya
bervariasi dan tidak terdefinisi dengan pasti.
Balok terlentur beton bertulang lebih sering dirancang memikul momen
lentur dengan menggunakan penampang bertulangan ganda, sebab ditinjau
dari mekanisme lentur memiliki daktilitas yang lebih besar daripada
penampang bertulangan tunggal.
Sedangkan plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah
langsung,

merupakan lantai tingkat pembatas antara tingkat yang satu

dengan tingkat yang lain. Plat lantai didukung oleh balok-balok yang
bertumpu pada kolom-kolom bangunan. Ketebalan plat lantai ditentukan
oleh :
Besar lendutan yang diinginkan
Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung
Bahan konstruksi dan plat lantai
Plat lantai harus direncanakan: kaku, rata, lurus dan waterpas
(mempunyai ketinggian yang sama dan tidak miring), agar terasa mantap
dan enak untuk berpijak kaki. Ketebalan plat lantai ditentukan oleh : beban
yang harus didukung, besar lendutan yang diijinkan, lebar bentangan atau
jarak antara balok-balok pendukung, bahan konstruksi dari plat lantai.
Pada plat lantai hanya diperhitungkan adanya beban tetap saja
(penghuni, perabotan, berat lapis tegel, berat sendiri plat) yang bekerja
secara tetap dalam waktu lama. Sedang beban tak terduga seperti gempa,
angin, getaran, tidak diperhitungkan.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

12

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Struktur
plat lantai

Praktik Kerja Lapangan

Struktur
kolom
Struktur
balok

Gambar 2.6. Hubungan antara kolom, balok, dan plat lantai


Pekerjaan balok dan plat lantai dilaksanakan setelah pekerjaan kolom
selesai. Pekerjaan balok dan plat lantai meliputi beberapa kegiatan antara
lain penentuan as balok dan plat lantai, fabrikasi bekisting balok dan plat
lantai, pemasangan bekisting balok dan plat lantai, pembesian balok,
pembesian plat lantai, pengecoran balok dan plat lantai, serta pembongkaran
bekisting balok dan plat lantai.

Gambar 2.7. Diagram alir proses pembuatan balok dan plat lantai
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

13

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

2.3.5. Pekerjaan Rangka Atap


Pengertian struktur atap adalah bagian bangunan yang menahan atau
mengalirkan beban-beban dari atap. Struktur atap terbagi menjadi rangka
atap dan penopang rangka atap. Fungsi dari rangka atap untuk menahan
beban dari bahan penutup atap sehingga umumnya berupa susunan balokbalok (dari kayu/bambu/baja) secara vertikal dan horizontal, kecuali pada
struktur atap dak beton. Berdasarkan posisi inilah maka muncul istilah
gording, kasau, dan reng. Susunan rangka atap dapat menghasilkan lekukan
pada atap (jurai dalam/luar) dan menciptakan bentuk atap tertentu.

Gambar 2.8. Jenis rangka atap baja ringan


2.4. Permasalahan pada Pelaksanaan Konstruksi
Ada lima tahap pada proyek konstruksi, yaitu tahap studi kelayakan,
tahap desain, tahap pelelangan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemeliharaan.
Dari kelimatahap tersebut, tahap pelaksanaan adalah tahap yang paling lama
dilakukan, tahapyang membutuhkan banyak orang yang terlibat, dan tahap
yang paling membutuhkan kejelian dalam melakukannya. Karena itu, pada
tahap pelaksanaansering terjadi kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut
bisa saja terjadi karena pengaruh tahap sebelumnya yang tidak dilakukan

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

14

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

dengan baik dan juga karenatidak melakukan ketiga proses manajemen


mutu.
Setiap kesalahan yang terjadi pasti akan mempengaruhi mutu. Contoh
masalah yang sering dihadapi dalam proyek konstruksi adalah seberapa
baikpun perencanaan yang telah dilakukan, pada tahap pelaksanaan selalu
terjadi perubahan
Keterlambatan

yang

mengakibatkan

suatu pekerjaan

keterlambatan

merupakan

efek

penyelesaian.

kombinasi

dari

ketergantungan antar pekerjaan dan material dalam setiap proses. Selain itu
keterlambatan ini pasti akanmempengaruhi dana yang keluar. Walaupun
hasilnya baik, tapi jika biaya besar dan waktu lama, maka mutu tetap
dianggap kurang baik. Karena mutu, biaya danwaktu saling berkaitan satu
sama lain.
Pengendalian

dan

penjaminanmutu

dilaksanakan

pada

tahap

pelaksanaan, sedangkan perencanaan mutudilaksanakan pada tahap desain.


Hal ini tidak berarti bahwa pada tahap pelaksanaan, proses perencanaan
mutu tidak mempengaruhi tahap pelaksanaan. Jika pada proses perencanaan
mutu tidak dilakukan dengan baik, hal tersebut akan mempengaruhi proses
manajemen mutu selanjutnya. Maka akan terjadi permasalahan pada
tahap pelaksanaan.
Permasalahan yang bisa terjadi adalah:
1.

Terjadinya perubahan desain pada tahap pelaksanaan

2.

Lemahnya perencanaan dan pengendalian

3.

Koordinasi yang tidak baik antara pihak yang terlibat

4.

Keterlambatan pemesanan material

5.

Cuaca yang tidak dapat diprediksi

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

15

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

BAB III
TINJAUAN UMUM PROYEK
3.1. Lokasi Proyek
Lokasi Pekerjaan UPTD SKOI DISPORA Samarinda Prov. Kalimantan
Timur yang terletak di jalan Stadion Utama Palaran, Samarinda Sebarang.

Gambar Peta Gambar 3.1. Lokasi Proyek Pembangunan


Gedung
UPTD SKOI Palaran, Samarinda
3.2. Identifikasi Proyek
Laporan Praktek Kerja Lapangan ini merupakan suatu laporan
Pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Konstruksi/ Pembelian Sarana dan Prasarana
UPTD SKOI DISPORA Provinsi Kalimantan Timur di Jalan Stadion Utama
Palaran, Samarinda Sebarang

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

16

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Data - data umum proyek :


- Jenis Bangunan
- Pekerjaan

: Gedung bertingkat.
: Pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Konstruksi /
Pembelian Sarana dan Prasarana UPTD SKOI
DISPORA Provinsi Kalimantan Timur di Jalan

- Pekerjaan
-

Harga Kontrak
Dimulai
Selesai
Pemilik Proyek
Pengawas
Kontraktor

Stadion Utama Palaran, Samarinda Sebarang


: Jalan Stadion Utama Palaran Samarinda
:
:
:
:
:
:

Seberang
Rp. 3.250.450.000.00,02 September 2014
30 Desember 2014
DISPORA
CV. BIOLA CONSULT
PT. KAYAN LESTARI

3.3. Struktur Organisasi Proyek


Pada pelaksanaan konstruksi dari suatu proyek terdapat organisasi proyek
yang merupakan rencana kerja yang digolongkan menurut aktivitas yang
dibebani suatu tanggung jawab dan disediakan fasilitas-fasilitas lain untuk
melakukan tugasnya. Meski terdapat pembangunan aktifitas sesuai dengan
tugas dan fungsinya masing-masing tetapi hubungan antara aktivitas-aktivitas
sangat erat. Pembentukan organisasi suatu proyek mempunyai tujuan sebagai
berikut :
1.

Menjelaskan hubungan, kedudukan, hak dan kewajiban dari masingmasing pihak agar terjadi keselarasan untuk menghindari kesimpang

2.

siuran dalam hak, wewenang dan tanggung jawab.


Dengan adanya pembagian kerja yang jelas dimaksudkan agar dapat

3.

mendayagunakan barang ( fasilitas ) yang tersedia secara optimal.


Memudahkan dalam pengawasan pelaksanaan baik secara individu
maupun secara keseluruhan kegiatan serta dapat dilihat dari kemajuan
dan hambatan yang ada di proyek, sehingga dapat berjalan tertib

4.

waktu dan proses pelaksanaan dapat dikontrol sesuai time schedule.


Dapat memfungsikan semua anggota secara optimal sesuai dengan
kemampuan dan keahlian masing-masing.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

17

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

DISPORA

KONTRAKTOR :
PT. KAYAN LESTARI

PENGAWAS :
CV. BIOLA CONSULT

PERENCANA :
CV. BIOLA CONSULT

3.4. Struktur Organisasi Pengawas


Pada pelaksanaan konstruksi dari suatu proyek terdapat 1 (Satu) pihak
dengan tugasnya yaitu :
1) Site Engineer
Tugas dan tanggung jawab sebagai Site Engineer akan mencakup
beberapa hal, sebagai berikut tetapi tidak terbatas :
- Mengikuti petunjuk-petunjuk dan persyaratan yang telah
ditentukan.
- Membuat pernyataan penerimaan (Acceptance) atau penolakan
(Rejection) atas material dan produk pekerjaan.
- Melakukan pemantauan dengan ketat atas prestasi kontraktor.
- Melakukan pengecekan secara cermat semua pengukuran
pekerjaan, dan secara khusus harus ikut serta dalam proses
pengukuran akhir pekerjaan.
- Mengecek dan menanda tangani dokumen pembayaran bulanan
(Monthly Certificate).
- Menyusun laporan bulanan tentang kemajuan Fisik dan

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

18

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Financial, serta menyerahkannya kepada Pemimpin Bagian


Proyek Fisik.
- Bertanggung jawab atas seluruh tugas - tugas apabila tenaga
Inspector tidak disediakan dalam Kontrak.
- Mengkoordinir tugas dan tanggung jawab Inspector.
- Melaksanakan pengawasan harian agar pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan kontraktor sesuai dengan rencana.
- Memeriksa gambar kerja yang diajukan Kontraktor.
- Setiap saat mengikuti Petunjuk Teknis dan Spesifikasi yang
tercantum dalam dokumen kontrak.
- Menyimpan data terinci serta rekomendasi teknis sehubungan
dengan variasi volume kontrak.
- Melaporkan segera kepada Site Engineer atau pemimpin proyek
apabila ternyata pelakanaan pekerjaan akan mengakibatkan
terlampauinya volume pekerjaan yang tercantum dalam
dokumen kontrak.
- Memeriksa gambar kerja yang diajukan kontraktor.
2) Chip Inspector
Tugas dan tanggung jawab sebagai Chip Inspector akan mencakup
beberapa hal, sebagai berikut :
- Mengawasi dan Mengkoordinir Proyek di lapangan.
- Mengawasi Pelaksanaan Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan
Rencana Lapangan.
- Membuat laporan Bulanan, Mingguan, dan harian yang sesuai
dengan Progres di Lapangan.
- Mendata atau Mem-Back Up Rencana Proyek yang telah di
kerjakan.
3.5. Dana Anggaran Pembangunan
Dalam setiap pelaksanaan suatu Proyek Kerja, Dana Anggaran merupakan
hal yang paling penting, Karena tanpa pendanaan yang memadai maka suatu
proyek tidak dapat terealisasi dengan cepat dalam pelaksanaan pekerjaan.
Dalam proyek Pekerjaan Pembangunan Gedung UPTD SKOI, dana yang

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

19

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

digunakan merupakan dana yang berasal dari dana APBD Tahun Anggaran
2014 (DISPORA Prov. Kaltim).
3.6. Waktu Pelaksanaan
Sesuai waktu pelaksanaan pekerjaan yaitu selama 120 (Seratus Dua
Puluh) hari kalender. Sedangkan untuk masa pemeliharaan ditentukan selama
180 (seratus delapan puluh) hari kalender.
3.7. Data Teknis
Penulisan mengambil data teknis ini bersumber dari rencana gambar,
rencana kerja dan syarat-syarat ( RKS ) dan juga pelaksanaan dilapangan.
Adapun yang termasuk data teknis :
a. Dimensi
Menerangkan tentang ukuran balok dan kolom
Balok
Dimensi balok untuk pembangunan Gedung Perumahan memakai
ukuran Balok sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kode balok dan ukuran


Kode As Balok
BL1
BL2
BP1
BP2
BP3

Ukuran Kolom
300 x 400
350 x 700
350 x 600
300 x 500
300 x 400

Tabel 3.2 Kode kolom dan ukuran

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

20

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Kode As Kolom

Ukuran Kolom

K-1

350 x 350

K-2

300 x 300

K-3
Sumber: Data Lapangan

200 x 200

Selimut Beton
Untuk selimut beton pada setiap balok dan kolom diambil ukuran
setebal 5 cm dan untuk selimut beton pada plat diambil ukuran
setebal 5 cm
Mutu Beton
Mutu beton untuk pembangunan UPDT SKOI Palaran adalah

K-

250, yang disesuaikan dangan hasil perencanaan dan penelitian


dilapangan.
Mutu Baja Tulangan
Untuk mutu baja tulangan yang dipakai adalah SNI 7393-2008, dan
jenis baja yang digunakan ada dua macam, yaitu baja polos dan baja
ulir.
Adapun diameter tulangan yang dipakai adalah:
o

Tulangan Balok
Tulangan balok ini bertumpu pada tulangan kolom, untuk
tulangan balok terdiri dari:
a. Begel dengan diameter 10-350-600
b. Tulangan utama atas berjumlah 10 buah dengan
diameter 16 mm dan bawah berjumlah yaitu 5 buah
dengan diameter 16 mm, 4 buah dengan diameter 10
mm dipasang sesuai dengan gambar momen yang
terjadi.

o Tulangan Kolom
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

21

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Tulangan kolom ini bertumpu pada pondasi setempat yaitu


pada poer palt atau Pile Cap, adapun ukuran kolom utama 350
x 350 cm, dan diameter tulangan yang dipakai adalah :
a. Untuk begel diameter tulangan yang dipakai 10 mm,
dan jarak pemasangan adalah 10-15 cm.
b. Untuk tulangan utama dipakai diameter 13 dan 16 mm
dengan jumlah tulangan 36 buah.
3.8. Metode Analisa dan Desain
Analisa gaya dalam
Tangga, balok dengan dua dimensi dengan bantuan program
SAP2000
Portal utama, metode kekakuan tidak dimensi dengan bantuan
program ETABS
Desain struktur
Metode desain kapasitas ( capacity strength design ) metode
kekuatan batas ( ultimate strength design )

3.9. Spesifikasi material


1. Mutu baja :

Tulangan : Fy = 390 MPa (BJTD 40)

Structural : Fy = 240 MPa (BJTP 24)

2. Mutu beton :

Pile cap

Tie beam : K-250

Pelat,balok,kolom
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

: K-250

: K-250
22

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

BAB IV
TINJAUAN KHUSUS PROYEK
4.1. Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Pile Cap
4.1.1. Persiapan Bahan-Bahan di Lapangan
Pada proyek pembangunan Gedung UPTD SKOI Palaran dalam
pengadaan bahan-bahan bangunan didatangkan dari daerah sendiri dan dari
luar daerah. Dalam persiapan bahan-bahan tersebut telah memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan dalam peraturan Beton Bertulang
Indonesia .
Persiapan bahan-bahan yang diperlukan dilapangan adalah sebagai
berikut:

- Semen Portland merk tonasa yang digunakan karena telah memenuhi


syarat yangtelah diperiksa dalam penelitian laboratorium dalam
penggunaanya dilapangan.

- Pasir didatangkan dari tenggarong.


- Air yang digunakan adalah air PDAM, yang memiliki syarat
pengunaanya dilapangan.

- Beton Ready Mix yang telah dipesan dengan mutu beton K-250
- Tiang pancang segitiga 32 x 32 cm - 6m
- Rangka Pile Cap yang telah dirangkai sebelumnya
- Baja tulangan polos dan ulir
- Kawat beton / bendrat
4.1.2. Pekerjaan Persiapan Awal
Dalam pelaksanaan pekerjaan Pondasi Tampak ini dikerjakan dengan
bersamaan dengan sloof tetapi karena yang menjadi pembahasan Pondasi,
dan Sloof maka pelaksanaan pekerjaan Pondasi yang akan dibahas terlebih
dahulu.
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

23

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Langkah kerja:
1.

Dilakukan pemancangan dengan tiang


pancang segitiga pada titik-titik pancang yang sudah ditentukan

2.

sesuai dengan gambar kerja.


Lakukan penggalian pada titik yang telah

3.

dipancang sesuai dengan dimensi pile cap yang telah direncanakan.


Setelah penggalian pondasi selesai maka
dapat dimulai memasang pile cap pada lubang galian.

4.

Penyetelan tulangan pembesian pondasi.

5.

Dilanjutkan dengan pemasangan bekisting

6.

dengan jarak sesuai gambar kerja.


Dilanjutkan dengan penyetelan tulangan
Sloof tepat diatas tulangan Pondasi yang sesuai dengan gambar kerja.

7.

Setelah

posisi

tulangan

dicek

jarak-

jaraknya baik terhadap bekisting maupun antar tulangannya.


8.

Untuk pengecoran menggunakan mesin


penggetar (vibrator) agar menjamin kepadatannya.

9.

Setelah pondasi mengeras dilanjutkan


dengan pemasangan bekisting sloof.

10.

Pengecoran Sloof dapat dilaksanakan.

11.

Pembongkaran dapat dimulai begisting


pondasi dan sloof.

4.1.3. Pelaksanaan Pembuatan Bekisting Pondasi


Peralatan Yang Digunakan :
1.

Batako

2.

Pasir

3.

Semen

4.

Air

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

24

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

4.1.4. Pelaksanaan Pekerjaan Pembesian


Pembesian pada Pondasi dari pembesian balok, plat, dan kolom.
Pembesian ini dilakukan setelah semua bekisting (acuan) pondasi, dan sloof
telah selesai.

Gambar 4.1 Foto besi yang digunakan

Gambar 4.2 Foto proses pemotongan pembesian

Gambar 4.3 Foto proses pembuatan tulangan

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

25

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

1. Peralatan Yang Digunakan

Piser ( pembengkok tulangan )

Cutter bender ( pemotong tulangan )

Meteran

Tang ayam/Geget

Palu besi

2. Bahan Yang Digunakan :


Tulangan polos maupun ulir yang berdiameter 8, 10, 13, 16 mm
Kawat beton / bendrat
Beton decking
4.1.5. Pemasangan Tulangan Pondasi Pile Cap
Sebelum tulangan pondasi dipasang pada posisinya, terlebih dahulu
tulangan pondasi tersebut satu-persatu lalu diikat pada penempatan tulangan
tersebut, untuk dirakit dengan alat yang sudah ada dilapangan .
Langkah-langkah perakitan:
1.

Tulangan dipasang pada posisinya

2.

Kemudian tulangan pondasi dirakit dengan tulangan sloof

3.

Setelah itu tulangan yang baru didirikan dirangkai dengan begel dan
diikat dengan memakai kawat bendrat

4.

Selanjutnya tulangan pondasi diberi beton tahu dengan jarak 15 mm.

4.1.6. Pemasangan Pada Cetakan


Setelah semua tulangan Pondasi sudah dicor dengan perbandingan 1:5:5
dipasang,

langkah

selanjutnya

adalah

pemasangan

bekisting,

dan

memberinya beton tahu untuk mendapatkan selimut beton yang diinginkan.


Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

26

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Selanjutnya pemasangan bekisting yang mana salah satu sisi bekisting


terbuka. Hal ini untuk memudahkan memasukkan tulangan ketika
pemasangan bekisting .

Gambar 4.4 Foto pemasangan pile cap


4.1.7. Pelaksanaan Pekerjaan Beton / Pengecoran
1.

Bahan-bahan yang digunakan :

2.

3.

Beton Ready Mix mutu K-250


Alat alat yang digunakan:

Concrete pump

Vibrator

Cangkul

Cetok
Proses pengecoran dan pemadatan :
Pengecoran pondasi dan sloof terlebih dahulu dikerjakan dan

setelah pondasi mengeras baru dilakukan pengecoran sloof yang sudah


dirangkai dan diberi bekisting. Pengecoran dimulai dari Sloof dibantu
dengan mesin menggunakan concrete pump untuk mendapatkan hasil
pengecoran yang padat dan tidak keropos.
Adapun pengecoran sloof dilaksanakan secara bergantian pada

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

27

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

masing-masing sloof, penulangan beton pada Sloof diisi sampai batas


yang diinginkan

Gambar 4.5 Proses pengecoran pondasi

Gambar 4.6 Proses pengecoran Sloof


Keterangan :
Dalam proses pengecoran, pengecoran menggunakan Ready Mix
lalu dituangkan ke mesin Concrete Pump lalu dituangkan ke Sloof yang
telah dipasang dengan tulangan dan bekisting.
4.1.8. Begisting
Oleh direksi, rencana begisting pondasi dan sloof dibuat dengan
mengggunakan susunan batako. Pemilihan bahan batako dipilih dengan
perhitungan pembuatannya yang mudah dan perawatannya yang tidak harus
dibongkar setelah pengecoran. Begisting batako dapat langsung ditimbun
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

28

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

setelah cor beton mengeras. Namun begisting tipe ini memerlukan biaya
yang lebih mahal karena hanya bisa dipakai sekali saja.
4.2. Pelaksanaan Pekerjaan Kolom
4.2.1. Persiapan Bahan-Bahan di Lapangan
Pada proyek pembangunan Gedung UPTD SKOI Palaran dalam
pengadaan bahan-bahan bangunan didatangkan dari daerah sendiri dan dari
luar daerah. Dalam persiapan bahan-bahan tersebut telah memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan dalam peraturan Beton Bertulang
Indonesia .
Persiapan bahan-bahan yang diperlukan dilapangan adalah sebagai
berikut:

- Semen Portland merk tonasa yang digunakan karena telah memenuhi


syarat yangtelah diperiksa dalam penelitian laboratorium dalam
penggunaanya dilapangan.

- Pasir didatangkan dari tenggarong.


- Air yang digunakan adalah air PDAM, yang memiliki syarat
pengunaanya dilapangan.

- Beton Ready Mix yang telah dipesan dengan mutu beton K-250.
- Baja tulangan polos dan ulir.
- Kawat beton / bendrat.
- Balok kayu ukuran 80 x 150 mm, dan papan playwood
berpenampang licin tebal 1 cm.
4.2.2. Pekerjaan Persiapan Awal
Dalam pelaksanaan pekerjaan balok ini dikerjakan dengan bersamaan
dengan plat lantai tetapi karena yang menjadi pembahasan balok dan kolom
maka pelaksanaan pekerjaan balok yang akan dibahas terlebih dahulu.
Langkah kerja:
1.

Setelah kolom lantai 1 selesai maka dapat dimulai memasang perancah

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

29

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

scaffolding.
2.

Pemasangan balok pelurus yang ditumpu diatas scaffolding.

3.

Dilanjutkan dengan pemasangan suri-suri dengan jarak sesuai gambar


kerja.

4.

Bodemen bias dipasang dengan memperhatikan As balok.

5.

Kemudian penyetelan panel bekisting untuk dinding balok.

6.

Penyetelan tulangan pembesian balok.

7.

Dilanjutkan dengan penyatelan tulangan kolom tepat diatas tulangan


balok yang sesuai dengan gambar kerja.

8.

Setelah posisi tulangan dicek jarak-jaraknya. baik terhadap bekisting


maupun antar tulangannya.

9.

Untuk pengecoran menggunakan mesin penggetar (vibrator) agar


menjamin kepadatannya.

10. Setelah balok mengeras bersamaan dengan plat dilanjutkan dengan


pemasangan bekisting kolom dan memberinya balok perkuatan
11. Pengecoran kolom dapat dilaksanakan
12. Pembongkaran dapat dimulai dari pembongkaran kolom dilanjutkan
dengan pembongkaran balok.
4.2.3. Pelaksanaan Pembuatan Bekisting Kolom
a) Peralatan Yang Digunakan :
1.

Gergaji potong

2.

Palu

3.

Benang

4.

Siku-siku/Balok kayu

5.

Waterpass

6.

Kampak

7.

Ember

8.

Paku

b) Bekisting Kolom
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

30

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Bekisting kolom untuk proyek pembangunan Gedung UPTD SKOI


Palaran dikerjakan dengan cara merangkainya terlebih dulu dengan
menggunakan papan lambercool dan peri beam, bekisting dipotong lebar
dan panjangnya disesuaikan dengan gambar kerja . Kemudian papan
dirangkai menggunakan balok yang ada sesuai ukuran yang diinginkan.
Cara pengerjaan begesting kolom menggunakan bantuan skofolding,
adapun cara perakitan skafolding adalah :

Gambar 4.7 Perletakan begesting kolom


4.2.4. Pelaksanaan Pekerjaan Pembesian
Pembesian pada lantai II dari pembesian balok, plat, dan kolom.
Pembesian ini dilakukan setelah semua bekisting ( acuan ) balok dan plat
telah selesai.

Gambar 4.8 Foto besi yang digunakan


Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

31

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

Gambar 4.9 Foto proses pemotongan pembesian

Gambar 4.10 Foto proses pembuatan tulangan


1. Peralatan Yang Digunakan
Piser ( pembengkok tulangan )
Cutter bender ( pemotong tulangan )
Meteran
Tang ayam/Gegep
Palu besi
2. Bahan Yang Digunakan :
Tulangan polos maupun ulir yang berdiameter 10, 12, 16, 22, 25, 32
mm
Kawat beton / bendrat
Beton decking
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

32

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

4.2.5. Pembesian Kolom


Pembesian kolom lantai dua dirangkai setelah pembesian dan pengecoran
balok dan plat lantai telah selesai

Pembuatan Beugel Kolom


Pembuatan begel kolom sama dengan pembuatan begel balok, yang

membedakanya hanya ukuran dan diameter tulangan yang dipakai sedangkan


teknik pengerjaanya sama

Gambar 4.11 Begel kolom

Pemasangan Tulangan Kolom


Sebelum tulangan kolom dipasang pada posisinya, terlebih dahulu

tulangan kolom tersebut didirikan satu-persatu lalu diikat pada penempatan


tulangan tersebut , untuk dirakit dengan alat yang sudah ada dilapangan.
Langkah-langkah perakitan:
1.

Tulangan dipasang pada posisinya, yaitu tepat diatas pertemuan balok


yang sudah dicor

2.

Kemudian tulangan kolom dirakit dengan tulangan kolom yang sudah


berdiri dan sudah dicor, untuk pembuatan tulangan dipakai tulangan
berdiameter 32mm

3.

Setelah itu tulangan yang sudah berdiri dengan tulangan kolom yang

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

33

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

baru didirikan dirangkai dengan begel dan diikat dengan memakai


kawat bendrat
4.

Selanjutnya tulangan kolom diberi Decking dengan jarak 40 mm.

Pemasangan Pada Cetakan


Setelah semua tulangan kolom dipasang, langkah selanjutnya adalah

pemasangan bekisting kolom, dan memberinya beton tahu untuk


mendapatkan selimut beton yang diinginkan. Selanjutnya pemasangan
bekisting kolom yang mana salah satu sisi bekisting terbuka. Hal ini untuk
memudahkan memasukkan tulangan kolom ketika pemasangan bekisting .
Setelah itu melevelkan kolom satu-persatu dan diberi perkuatan dengan
menggunakan balok 5/7.

Gambar 4.12 Foto pemasangan tulangan kolom


4.2.6. Pelaksanaan Pekerjaan Beton / Pengecoran
1.

Bahan-bahan yang digunakan :

2.

Alat alat yang digunakan:

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Beton Ready Mix mutu K-250

Concrete pump
34

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

3.

Vibrator

Proses pengecoran dan pemadatan :


Pengecoran balok dan lantai terlebih dahulu dikerjakan dan setelah

balok dan plat mengeras baru dilakukan pengecoran kolom yang sudah
dirangkai dan diberi bekisting. Pengecoran dimulai dari balok dibantu
dengan mesin vibrator dan untuk menganggat campuran beton menggunakan
bakket danuntuk menganggat bakket menggunakan concret pump untuk
mendapatkan hasil pengecoran yang padat dan tidak keropos,
Adapun pengecoran kolom dilaksanakan secara bergantian pada
masing-masing kolom, penuangan beton pada kolom 1 diisi sampai batas
yang diinginkan kemudian dilanjutkan pada kolom II dan diisi sampai batas
yang direncanakan pula..

Gambar 4.13 Proses pengecoran Kolom


Keterangan :
Dalam proses pengecoran, pengecoran menggunakan Ready Mix lalu
dituangkan ke mesin Concrete Pump lalu dituangkan ke Sloof yang telah
dipasang dengan tulangan dan bekisting.
4.2.7. Pembongkaran
Oleh direksi, rencana lengkap bestek, atau peraturan-peraturan dapat
ditentukan persyaratan waktu yang berkaitan dengan waktu pembongkaran,
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

35

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

berhubung dengan adanya bahaya kerusakan dibeton yang masih baru ketika
membongkar. Atau akibat dari kekuatan yang belum tercapai (pembentukan
pecah atau lendutan). Apabila bekisting digunakan berulang-ulang, maka
perlu juga untuk pembongkaran secepat mungkin.

Urutan pembongkaran
Sebaiknya permulaan pembongkaran bekisting dimulai dari bagian

bekisting yang tidak mendukung seperti : bidang sisi dari kolom,


dinding, balok dan lantai. Kerap kali bidang sisi dari balok dan lantai
dapat juga dibongkar setelah dua hari. Sewaktu-waktu perbaikan dapat
dilakukan, sedangkan penyangga belum dibongkar. Bila memakai
perkakas pembongkaran bekisting yang maka pembongkaran dapat
berjalan dengan lancer. Disamping pembongkaran beton yang masim
baru harus dilakukan dengan hati-hati bekisting pun juga harus
dibongkar dengan penuh perhatian. Papan bekisting harus sedapat
mungkin dijaga sesuai dengan bentuk asalnya (untuk kemungkinan
dipakai berulang). Ujung-ujujng tepi sudutnya pun tidak boleh
mengalami kerusakan. Untuk lantai dan balok, waktu pembongkarannya
harus ditentukan oleh perencana struktur beton, bila mungkin diawasi
oleh petugas pengawas bangunan.
Pembongkaran dari bekisting yang mendukung harus dimulai dari
lokasi yang lendutannya paling besar (pada bagian lantai,jadi di tengahtengah). Ketika pembongkaran bekisting, beban-beban ( beban dari
struktur beton sendiri) harus serata mungkin agar tidak menimbulkan
kejutan pada bagian struktur beton. Untuk struktur besar dan rumit, tata
cara serta urutan pembongkarannya harus disetujui perncana struktur
beton. Bila perlu, struktur beton sementara dapat disangga dari bagian
bawah.
4.2.8. Perawatan dan Penyimpanan
Bekisting yang telah dibongkar akan di susun dan dipilih menurut
kemungkinan pengguanan berulang. Norma dari penulangan pemakaian
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

36

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

bekisting dapat dipertyimbangkan berdasarkan, apakah pembersihannya


masih menguntungkan dipandang dari segi ekonomi. Terutama, ini untuk
membersihkan dan mencabut paku-paku pada bagian sepotong kayu kerap
kali tidak ekonomis.
Penyimpanan selayaknya yang teratur dan rapi. Tempat pembangunan
yang baik dipelihara akan meningkatkan keamanan dan kemajuan pekerjaan
dengan baik, disamping itu juga situasi pekerjaan lebih baik.
Beberapa saran-saran :

Selama pembongkaran bekisting

- Bagian yang kecil : baut, pen senter dan sebagainya dikumpulkan


terpisah dalam bak.

- Sekrup ulir maupun dan pen senter dibersihkan dari mortar, bagian
yang sudah usang disingkirkan

- Selama pengangkutan : hindarkan kerusakan papan-papan , balok


dan sebagainya

Pemeliharaan pada bagian beksiting

- Bersihkan permukaanya ( ini jangan ditunggu sampai bekisting


dibutuhkan lagi)

- Bekisting disusun menurut penggunaanya ( bagian yang tidak


berguna dibuang)

- Kayu-kayu disusun menurut panjangnya


- Stempel sekrup dibersihkan untuk dipakai lagi
- Bagian dari baja, bila perlu dilindungi supaya tidak berkarat
- Bekisting sistim diperiksa kerataanya, kerusakan yang ada
diperbaiki

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

Penyimpanan

37

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

- Bahan/barang dari Bekisting bekas ( tua ) disimpan bebas dari atas


tanah

- Kayu disusun menurut panjang dan penampangnya


- Bagian papan yang kecil disimpan dikotak dan dipisahkan menurut
jenis dan ukurannya.

4.3 Pekerjaan Balok Lantai


Balok berfungsi untuk mendukung beban vertikal yang meliputi berat
sendiri balok, dan beban-beban lain yang mendukungnya (diantaranya
termasuk beban plat dan dinding). Balok juga menahan beban horizontal yang
ditimbulkan oleh beban gempa dan beban angin, kemudian meneruskannya ke
kolom. Selain itu, balok juga berfungsi untuk menghubungkan antar kolom
agar portal dapat berfungsi dengan kuat dan kokoh. Balok juga direncanakan
untuk menerima lentur, geser, dan torsi. Plat lantai berfungsi untuk menahan
beban mati (berat sendiri pelat, beban tegel, beban spesi, beban penggantung,
dan beban plafond), serta beban hidup yang bekerja di atasnya, kemudian
menyalurkan beban-beban tersebut ke balok di bawahnya.
4.3.1. Pemasangan Begisting Balok
Langkah langkah pengerjaan begisting balok adalah :
a.
Memasang base jack pada
posisinya (lurus dan tegak) dengan jarak 90 dan 180 cm, dilanjutkan
dengan memasang main frame ke base jack dengan posisi lurus dan tegak;

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

38

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Gambar 4.14 Pemasangan scaffolding


c.

Memasang cross brace ke main frame dengan kondisi


locking pin terkunci, kemudian memasang head jack sesuai dengan nut
yang sudah terukur;

Gambar 4.15 Pemasangan scaffolding


d.

Memasang girder memanjang sesuai dengan gambar


kerja;

e.

Memasang girder melintang sesuai dengan gambar


kerja;

f.

Memasang bottom form dengan dimensi, as, dan

g.

elevasi yang tepat dan bagus;


Memasang side form tegak lurus dengan bottom form

h.
i.

dan dimensinya benar;


Memasang klem dengan kokoh dan kuat;
Melumuri begisting dengan solar / minyak agar

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

39

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

didapat permukaan beton yang bagus dan begisting mudah dibongkar.


4.4 Pekerjaan Plat Lantai
Pekerjaan struktur berikutnya yaitu pekerjaan plat lantai ( slab ). Plat lantai
merupakan acuan elevasi ketinggian untuk seluruh item bangunan. Sehingga
kerataan plat lantai perlu dijaga. Adapun tahapan pekerjaan plat lantai sebagai
berikut.
1)

Persiapan untuk pekerjaan plat lantai adalah setting lokasi dan titik

2)

dimana plat lantai akan berdiri.


Setting plat lantai bertujuan menempatkan titik-titik sebagai tempat

3)

perletakan, agar tinggi permukaan plat lantai rata.


Apabila ada kesalahan matematis dan selisih pembacaan angka pada
alat ukur, diusahakan kesalahan tersebut dapat ditolerir dan tidak

4)

melebihi dari 5 mm dalam dua arah pengukuran.


Apabila titik titik plat lantai sudah didapat dan ditandai, maka

5)

diukur letak penempatan plat lantai sesuai dimensi yang ditetapkan.


Dalam uraian ini diambil contoh plat lantai 2 dan 3 pada area Rumah

6)

Double Decker dengan tebal 120 mm.


Dari titik kolom yang sudah ditandai, kemudian diberi ukuran sesuai
dimensi penampang plat lantai. Setelah itu ukuran ditandai dengan

7)

tali.
Perancah plat lantai 2 dan 3 dipasang, untuk menopang bekisting plat
lantai 2 dan 3. Dalam pekerjaan ini, kontraktor pelaksana
menggunakan perancah besi ( scafolding ).

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

40

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Gambar 4.16 Pemasangan scaffolding plat lantai


8)

Balok bodeman 5/10 dipasang melintang pada bagian tengah area

9)

antar kolom untuk menyangga bekisting plat lantai 2 dan 3.


Perakitan bekisting plat lantai 2 dan 3 dilakukan di tempat posisi plat
lantai 2 dengan menggunakan kayu kasau 5/7 dan plywood.

Gambar 4.17 Pembuatan bekisting plat lantai


10) Pemasangan tulangan dilakukan di atas plastic cor. Tulangan
dipasang pada landasan bekisting, kemudian tulangan pada ujung
balok dirakit dan disambungkan pada tulangan kolom. Dipasang
decking beton untuk mengatur jarak selimut beton setebal 3 cm.
11) Penulangan plat lantai 2 dan 3 dilakukan langsung di tempat posisi
plat lantai 2 dan 3 akan dibuat, sesuai dengan spesifikasi tipe plat.
Diambil satu contoh plat lantai 2 dan 3 dengan tebal 120 mm,
memiliki spesifikasi tulangan D10-150.

Gambar 4.18 Penulangan plat lantai


12) Sebelum dilakukan pengecoran, terlebih dahulu direncanakan jalur
saluran pipa yang akan dibenamkan ke dalam plat lantai, untuk
memudahkan pekerjaan plumbing ( perpipaan ).
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

41

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

13) Kemudian dilakukan pengecoran plat lantai 2 dan 3. Pengecoran


dilakukan dengan menggunakan ready mix dan concrete pump.

Gambar 4.19 Pengecoran plat lantai


14) Selama pengecoran, level rata beton plat lantai harus dijaga dengan
menggunakan jidar besi. Beton diratakan secara manual agar mengisi
seluruh volume plat lantai.
15) Setelah dipastikan permukaan beton telah rata, bekisting kayu
diangkat, dan bekas perletakan bekisting diratakan kembali.
16) Masa menunggu beton kering pasca pengecoran minimal 14 hari.
Setelah 14 hari maka bekisting dapat dibongkar. Pembongkaran
bekisting jangan sampai merusak beton yang telah mengeras.
o

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembesian


Adapun metode pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Alat yang digunakan :
1. Bar bender
2. Bar cutter (gunting besi)
3. Flesher
4. Tower crane
Bahan yang dibutuhkan :
1. Besi beton
2. Kawat bendrat
3. Beton deking

4.4.1 Uraian Metode Kerja


Shop drawing pemasangan besi yang sesuai gambar & spesifikasi dan
telah disetujui MK, memeriksa kebersihan besi, harus bebas dari karat, beton
kering, oli dan material lain yang dapat mengurangi lekatan antara besi

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

42

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

dengan beton, pemotongan besi harus sesuai buistad dengan menggunakan


bar cutter atau gunting besi dan pembengkokan besi sesuai buistad dengan
menggunakan bar bending atau flesher
Pemasangan pembesian balok sebagai berikut :
- Memasangan besi
- Memasang besi tulangan utama sesuai jumlah dan jarak yang
ditentukan
- Memasang besi sengkang/begel sesuai jumlah dan jarak yang
ditentukan
- Merakit besi tulangan utama besi sengkang menggunakan kawat
bendrat
- Pasangan beton deking 5 cm untuk area diatas tanah dan 3 cm pada
sisi kiri dan kanan untuk pembesian lainnya
Pemasangan pembesian pelat sebagai berikut :
- Membuat marking dari kapur tulis pada bekisting pelat untuk jarak
antar besi
- Merakit besi utama dan besi pembagi menggunakan kawat bendrat
- Memasang tulangan penumpu pada pembesian double, jumlah
tulangan penumpu yang dipasang untuk menahan besi atas tidak
berhimpitan dengan besi bawah
- Memasang beton deking pada sisi bawah diatas lantai kerja
Pemasangan pembesian kolom insitu sebagai berikut :
- Membuat marking dimensi kolom
- Memasang besi tulangan utama sesuai jumlah dan jarak yang
ditentukan
- Memasang besi sengkang/begel sesuai jumlah danjarak yang
ditentukan
- Merakit besi tulangan utama dengan besi sengkang menggunakan
kawat bendrat meggunakan ikatan silang
4.4.2. Pekerjaan Plat Dak
Pekerjaan struktur berikutnya yaitu pekerjaan plat dak ( slab ). Plat dak
merupakan acuan elevasi ketinggian untuk seluruh item bangunan. Sehingga
kerataan plat dak perlu dijaga. Adapun tahapan pekerjaan plat dak sebagai
berikut.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

43

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

1) Persiapan untuk pekerjaan plat dak adalah setting lokasi dan titik
dimana plat dak akan berdiri.
2) Setting plat dak bertujuan menempatkan titik-titik sebagai tempat
perletakan, agar tinggi permukaan plat dak rata.
3) Apabila ada kesalahan matematis dan selisih pembacaan angka pada
alat ukur, diusahakan kesalahan tersebut dapat ditolerir dan tidak
melebihi dari 5 mm dalam dua arah pengukuran.
4) Apabila titik titik plat dak sudah didapat dan ditandai, maka diukur
letak penempatan plat dak sesuai dimensi yang ditetapkan.
5) Dalam uraian ini diambil contoh plat dak pada area Rumah Double
Decker dengan tebal 120 mm.
6) Dari titik kolom yang sudah ditandai, kemudian diberi ukuran sesuai
dimensi penampang plat dak. Setelah itu ukuran ditandai dengan tali.
7) Perancah plat dak dipasang, untuk menopang bekisting plat dak. Dalam
pekerjaan ini, kontraktor pelaksana menggunakan perancah besi
( scafolding ).

Gambar 4.20 Pemasangan scaffolding plat dak


17) Balok bodeman 5/10 dipasang melintang pada bagian tengah area antar
kolom untuk menyangga bekisting plat dak.

Gambar 4.21 Pembuatan bekisting plat dak

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

44

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

18) Perakitan bekisting plat dak dilakukan di tempat posisi plat dak dengan
menggunakan kayu kasau 5/7 dan plywood.
19) Pemasangan tulangan dilakukan di atas plastic cor. Tulangan dipasang
pada landasan bekisting, kemudian tulangan pada ujung balok dirakit
dan disambungkan pada tulangan kolom. Dipasang decking beton untuk
mengatur jarak selimut beton setebal 3 cm.
20) Penulangan plat dak dilakukan langsung di tempat posisi plat dak akan
dibuat, sesuai dengan spesifikasi tipe plat. Diambil satu contoh plat dak
dengan tebal 120 mm, memiliki spesifikasi tulangan D10-150.

Gambar 4.22 Penulangan plat dak


21) Sebelum dilakukan pengecoran, terlebih dahulu direncanakan jalur
saluran pipa yang akan dibenamkan ke dalam plat dak, untuk
memudahkan pekerjaan plumbing ( perpipaan ).
22) Kemudian dilakukan pengecoran plat dak. Pengecoran dilakukan
dengan menggunakan ready mix dan concreate pump.

Gambar 4.23 Pengecoran plat dak


23) Selama pengecoran, level rata beton plat dak harus dijaga dengan
menggunakan jidar besi. Beton diratakan secara manual agar mengisi
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

45

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

seluruh volume plat lantai.


24) Setelah dipastikan permukaan beton telah rata, bekisting kayu diangkat,
dan bekas perletakan bekisting diratakan kembali.
25) Masa menunggu beton kering pasca pengecoran minimal 14 hari.
Setelah 14 hari maka bekisting dapat dibongkar. Pembongkaran
bekisting jangan sampai merusak beton yang telah mengeras.

4.4.3. Permasalahan-Permasalahan yang Dihadapi di Lapangan


1. Pengaruh cuaca (hujan)
Karena pada pelaksanaan di lapangan sering terjadi hujan, maka
pekerjaan-pekerjaan

yang

seharusnya

cepat

selesai

sering

terjadi

keterlambatan dari jadwal yang telah ditetapkan.


2. Keterlambatan Logistik
Pengaruh terjadinya keterlambatan logistik ini berpengaruh pada
pekerjaan di lapangan, keterlambatan ini disebabkan karena akomodasi yang
kurang lancar.
3. Kerusakan Peralatan
Pada saat pelaksanaan pengecoran, terjadi kerusakan pada alat molen.
Maka pekerjaan sedikit terlambat dalam pengerjaannya dari waktu yang
telah ditentukan.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

46

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan pelaksanaan pekerjaan pada Proyek Gedung
UPTD SKOI (Sekolah Khusus Olahraga Internasional) Palaran, Samarinda,
Kalimantan Timur, banyak sekali ilmu - ilmu praktis yang dapat diperoleh.
Mulai dari pelaksanaan pekerjaan kolom, balok dan pelat lantai, juga
mengenai pengaplikasian antara teori di bangku kuliah dengan pelaksanaan
pekerjaan di lapangan.
Bahwa dari semua ilmu yang didapat di bangku kuliah, tidak seluruhnya
dapat diterapkan di lapangan. akan tetapi tidak benar juga bila dikatakan
bahwa teori itu tidak sama dengan praktek.
Beberapa kesimpulan yang dapat penulis uraikan setelah melaksanakan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada lokasi tersebut diatas adalah sebagai
berikut :
1. Secara Umum
a. Pekerjaan yang dilakukan sesuai kontrak meliputi :
1). Pekerjaan persiapan
2). Pekerjaan bangunan utama terdiri dari :
Pekerjaan Struktur berupa : Pek. Pondasi, Pek. Struktur Beton,
Pek. Rangka dengan pelapis atap
Pekerjaan Arsitektur berupa : Pek. Pasangan, Pek. Pengecatan
dan

pelapis

dinding,

Pek.

Lantai,

Pek.

Langit-langit,

Pek.Sanitasi, Pek. Pintu dan Jendela Aluminium, Pek. Lain-lain


dan Pek. Bahan tambahan.
3). Pekerjaan saluran keliling Bangunan
4). Pekerjaan Mekanikal/Elektrikal (M/E)
Pekerjaan Mekanikal berupa : Pek. Air bersih, air kotor dan air
hujan, Pek. AC dan Ventilasi,Pek. Pemadam kebakaran
Universitas 17 Agustus 1945
Samarinda

47

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

Pekerjaan Elektrikal berupa : Instalasi dan penerangan, tata


suara, Telephone dan Pek. Penagkal petir
b. Pelaksana Pekerjaan diatas adalah :
Kontraktor

: PT. KHAYAN LESTARI

Konsultan Perencana : PT. KHAYAN LESTARI


Konsultan Pengawas : PT. BIOLA Konsultan
2. Secara Khusus
a) Tinjauan Khusus yang dilakukan dalam Praktek Kerja Lapangan
(PKL) adalah fokus pekerjaan struktur Bangunan Gedung UPTD
SKOI (Sekolah Khusus Olahraga Internasional) Palaran pada
banguna utama.
b) Tinjauan pekerjaan Struktur meliputi :
Tinjaun Pekerjaan Penutup Atap
Tinjaun Pekerjaan Pembuatan Balok
Tinjaun Pekerjaan Pembuatan Kolom
Tinjaun Pekerjaan Pembuatan Sloof
Tinjaun Pekerjaan Pembuatan Pondasi
c) Pelaksanaan pekerjaan struktur telah dilakukan sesuai dengan
spesifikasi teknis.
3. Manajemen Konstruksi :
a) Secara keseluruhan pekerjaan berjalan lancar karena material,
peralatan dan tenaga kerja cukup tersedia dilapangan
b) Pelaksanaan pekerjaan sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan
karena gambar kerja yang dianggap tidak sesuai kondisi lapangan.
5.2. Saran
Adanya perbedaan penerapan antara ilmu teori yang didapat di bangku
kuliah dengan ilmu praktis yang didapat di proyek, membutuhkan perhatian

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

48

Yudith Septian Pahlevi


11.11.1001.7311.008

Laporan
Praktik Kerja Lapangan

yang sangat cermat dan teliti, baik itu perhatian fisik ke pekerja, maupun ke
obyek pekerjaan. Hal ini dilakukan guna memperkecil terjadinya kesalahan kesalahan.
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan,sebagai berikut :
1. Demi untuk kelancaran pekerjaan dan selalu adanya persamaan
persepsi antara pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan pekerjaan yaitu :
Pengguna Jasa (Pimpro) dan Penyedia Jasa (kontraktor dan konsultan),
maka perlu dilakukan rapat teknis secara rutin seminggu sekali dan
rapat berkala sebulan sekali.
2. Dari pelaksanaan pekerjaan perlu dilengkapi dengan Alat Pelindung
Diri (APD) berupa helm, sepatu but, sarung tangan, masker dan
kacamata agar terhindar dari bahaya dan gangguan penyakit. Hal ini
sesuai persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

49

Yudith Septian Pahlevi

Laporan

11.11.1001.7311.008

Praktik Kerja Lapangan

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. 2013. Standar Nasional Indonesia Tata Cara
Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.
Badan Standardisasi Nasional. 2003. Standar Nasional Indonesia Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI-17262003.
Depatemen Pekerjaan Umum. 1991. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
untuk Bangunan Gedung SKSNI T-15-1991-03.
Mosley, W.H dan Bungey, J.H. 1987. Perencanaan Beton Bertulang. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Nawi, Edward G. 1998. Beton Bertulang: Suatu Pendekatan Dasar. Bandung:
PT Refika Aditama. (penerjemah: Suryoatmono, Bambang)
Udiyanto. 2000. Menghitung Beton Bertulang. Semarang: Divisi Penerbit Biro
Pengembangan Profesionalisme Sipil Universitas Diponegoro.
Vis, W.C dan Kusuma, Gideon H. 1997. Dasar-dasar Perencanaan Beton
Bertulang. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Vis, W.C dan Kusuma, Gideon H. 1993. Grafik dan Tabel Perhitungan Beton
Bertulang. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Universitas 17 Agustus 1945


Samarinda

50