Anda di halaman 1dari 29

BAB 6

PEMBAHASAN

6.1 Pengkajian Manajemen Keperawatan di Ruang Seruni RS Tingkat II dr.Soepraoen.


6.1.1

Man
Metode asuhan keperawatan profesional (MAKP) diterapkan di Ruang Seruni
adalah model team nursing, dimana pasien dikelompokkan berdasarkan lokasi dan tipe
(jenis kelamin). Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada kelompok pasien melalui upaya kooperatif
dan kolaboratif. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/ group yang terdiri dari tenaga
professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu
(Nursalam, 2007). Penggunaan metode ini di Ruang Seruni sudah tepat, karena starf
perawat yang bekerja di Ruang Seruni terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan
dan kemampuan.Tenaga perawat di ruang Seruni dibagi menjadi 2 tim, yaitu tim 1 dan
tim 2. Total jumlah perawat yang ada di ruangan adalah sebanyak 14 orang yang terdiri
dari 1 kepala ruangan dan 13 perawat dengan 71,43% perawat berlatar belakang
pendidikan DIII dan berstatus honorer. Pengaturan ketenagaan di Ruang Seruni
dilakukan dengan memberikan tanggung jawab tugas yang berbeda kepada masingmasing perawat
Berdasarkan data pada saat pengkajian awal tanggal 28 Maret 2016 didapatkan
data pasien berjumlah 13 orang dengan jumlah tempat tidur yang tersedia adalah 17
tempat tidur. Berdasarkan perhitungan dengan metode gillies didapatkan kebutuhan
jumlah tenaga perawat adalah 10 perawat. Sedangkan pada tanggal 9 Pebruari 2016
adalah 17 orang dengan jumlah tempat tidur yang tersedia adalah 17 tempat tidur.
Berdasarkan perhitungan dengan metode gillies didapatkan kebutuhan jumlah tenaga
perawat adalah 13 perawat dan pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 30 Maret
2016 didapatkan data pasien berjumlah 16 dengan kapasitas tempat tidur 17 tempat

tidur, berdasarkan perhitungan dengan metode gillies didapatkan kebutuhan tenaga


perawat adalah 13 perawat.
Semua pegawai di Ruang Seruni sudah pernah mengikuti pelatihan khusus di
bidang keperawatan, diantaranya seperti pelatihan BLS,BCLS, pencegahan infeksi
nosocomial,

dan

berbagai

macam

seminar

serta

workshop

di

bidang

keperawatan.Kepala ruangan masih merencanakan adanya pelatihan rawat luka untuk


perawat di Ruang Seruni mengingat bahwa Ruang Seruni adalah ruang bedah yang
membutuhkan pengetahuan dan pelatihan perawat terkait rawat luka.Menurut Ilham
(2014), pengembangan kompetensi sumber daya manusia harus direncanakan sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan agar dapat menjadi kekuatan untuk mendukung
pencapaian tujuan organisasi. Dari 10 sampel sertifikat pelatihan yang dimiliki perawat,
pelatihan yang dipunyai dalam rawat luka yaitu pelatihan rawat luka bakar dan rawat
luka diabetes. Di rumah sakit diperlukan karyawan yang selalu meningkatkan
kompetensinya karena tehnologi, ilmu pengetahuan tentang pelayanan kesehatan,
metode perawatanyang berubah dan berkembang sangat pesat dari waktu ke waktu.
Kegiatan pengembangan kompetensi ini dapat dilakukan dengan pendidikan, pelatihan,
pemagangan di rumah sakit lain atau rotasi pekerjaan (Ilham, 2014). Untuk mengikuti
pelatihan tidak ada kriteria khusus bagi perwat di Ruang Seruni, karena semua perawat
diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, dan penunjukkannya dengan cara
digilir. Sedangkan untuk pendidikan, perawat cukup meminta izin untuk melanjutkan
pendidikannya. Akan tetapi, dalam peningkatan pendidikan staff, rumah sakit maupun
pemerintah tidak menyediakan subsidi, subsidi yang diberikan oleh rumah sakit hanya
untuk pelatihan sedangkan untuk peningkatan pendidikan perawat harus membayar
secara mandiri.
6.1.2

Material and Machine


Ruang Seruni merupakan ruang bedah kelas 3 yang menerima pasien baik laki
laki maupun perempuan dan sebagian besar pasiennya adalah pemilik JAMKESMAS,
JAMKESDA maupun BPJS. Ruang Seruni terletak di bagian belakang rumah sakit
dimana bagian kanan berbatasan dengan dapur, bagian depan berhadapan dengan
Ruang Flamboyan, bagian kiri berbatasan dengan laundry yang rencananya akan
dibangun lagi untuk memperluas Ruang Seruni dan belakang berbatasan dengan
tempat parkir.

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, Ruang Seruni didukung fasilitas


kesehatan dan alat-alat medis maupun non medis. Fasilitas kesehatan yang dimiliki
terdiri dari fasilitas untuk petugas kesehatan maupun fasilitas untuk pasien dan
keluarga. Berdasarkan data yang didapatkan saat pengkajian, ruangan belum
mempunyai penyekat atau korden antar bed yang dapat digunakan untuk menjaga
privasi klien saat tindakan. Hal ini perlu diperhatikan karena dalam menjalankan
perannya, perawat dituntun untuk memberikan kenyamanan kepada pasien. Oleh
karena itu, perawat sebagai pemberi kenyamanan, diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan rasa nyaman tersebut, sehingga dapat tercipta suatu citra keperawatan yang
baik. Seorang perawat profesional diharapkan mampu menciptakan kenyamanan bagi
klien saat klien menjalani perawatan. Kenyamanan yang tercipta akan membantu klien
dalam proses penyembuhan, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat (Nila,
2001). Selain itu, ketersedian tempat sampah di Ruang Seruni masih kurang.Jumlah
tempat sampah medis yang tersedia hanya satu dan terletak di nurse station,
sedangkan tidak terdapat tempat sampah medis di ruangan pasien. Menurut data
inventaris perlengkapan yang bisa digunakan untuk rawat luka sudah sesuai dengan
standar dan terpusat di ruang sterilisasi, sehingga untuk rawat luka ruangan meminta
alat ke ruang steril.
6.1.3

Method
Metode yang digunakan di Ruang Seruni Rumah Sakit Tingkat II dr. Soepraoen
untuk pemberian asuhan keperawatan pada pasien adalah metode tim. Metode tim
adalah metode penugasan yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien yang telah ditentukan
oleh ruangan (Somantri, 2011). Perawat yang bertugas dibagi menjadi 2 tim, tim satu
terdiri dari 5 perawat pelaksana yang bertanggung jawab terhadap pasien laki-laki mulai
bed 1-8, sedangkan tim dua terdiri dari 6 perawat pelaksana yang bertanggung jawab
terhadap pasien perempuan mulai bed 9-17. Pelaksanaan metode tim di ruang seruni
sudah terlaksana dengan baik.
Setiap pasien yang masuk ruang Seruni, dilakukan orientasi pasien baru secara
lisan. Orientasi terhadap pasien baru adalah pemberian informasi kepada pasien baru
berkaitan dengan proses keperawatan yang akan dilakukan oleh rumah sakit. Orientasi
terhadap pasien baru merupakan usaha memberikan informasi atau sosialisasi kepada

pasien dan keluarga tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan selama
di rumah sakit (Ragusti, 2008). Orientasi di Ruang Seruni terdiri dari edukasi tentang
cuci tangan dan orientasi ruangan yang dilakukan secara lisan sehingga sering terjadi
kesalahpahaman antara pasien, keluarga pasien dan perawat tentang penggunaan
fasilitas di Ruang Seruni. Karena banyaknya pasien baru yang datang bersamaan dalam
satu waktu membuat kegiatan orientasi ini kurang berjalan dengan optimal. Selama
pengkajian, tidak ditemukan adanya kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan
dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan oleh tim PKRS Rumah Sakit.
Berdasarkan data yang didapatkan, kegiatan operan di Ruang Seruni selalu
dilakukan setiap pergantian shift jaga. Operan dilakukan untuk mengkomunikasikan
keadaan pasien dan menyampaikan informasi yang penting. Dari nurse station perawat
berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima atau operan dengan mengkaji secara
komprehensif hal-hal yang berkaitan tentang masalah keperawatan pasien, rencana
tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu
dilimpahkan (Nursalam, 2007). Selama pengkajian, pelaksanaan operan di Ruang
Seruni tidak dilakukan sesuai SOP. Beberapa tahap yang tidak dilakukan antara lain
perawat yang bertugas tidak memperkenalkan diri dan perawat yang akan bertugas
selanjutnya. Pelaksanaan pre conference dilakukan setelah perawat melakukan bed
side Sedangkan untuk kegiatan post-conference jarang dilakukan. Biasanya kegiatan
pre-conference dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan operan. Pelaksanaan postconference jarang dilakukan, karena dalam kesehariannya masih banyak tindakan
keperawatan yang belum terselesaikan hingga siang hari dan banyaknya pasien baru
yang datang menjelang pergantian shif dinas, sehingga post-conference tidak dapat
dilakukan. Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan didapatkan hasil bahwa
ronde keperawatan hanya dilakukan jika ditemukan masalah atau kasus yang sulit
dipecahkan, sehingga tidak ada jadwal pasti untuk pelaksanaan ronde. Hal ini sudah
sesuai dengan tujuan dari ronde keperawatan, yaitu untuk mengatasi masalah
keperawatan pasien yang dilakukan oleh perawat secara langsung disamping pasien
dengan melibatkan seluruh anggota tim, baik perawat primer atau konselor, kepala
ruangan, perawat assosciate, dan tenaga medis lain (Hidayah, 2014).
Dokumentasi keperawatan juga merupakan unsur penting dalam sistem
pelayanan kesehatan. Dokumentasi merupakan dokumen legal yang berisi informasi
mengenai keadaan kesehatan pasien, rencana keperawatan dan catatan perkembangan

pasien setiap hari. Dokumentasi juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi
kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk
penelitian, sebagai bukti pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan asuhan
keperawatan, serta sarana untuk pemantauan asuhan keperawatan (Al-Assaf, 2009).
Proses dokumentasi di ruang seruni sudah sesuai dengan standar aturan rumah sakit,
yaitu dengan mengaplikasikan 7 benar pemberian obat. Setiap obat yang akan diberikan
kepada pasien dicek terlebih dahulu agar sesuai dengan 7 benar pemberian obat,
termasuk dengan cairan infus yang akan diberikan kepada pasien selalu diberi label
sesuai dengan 7 benar. Pengkajian awal nyeri sudah diisi namun masih banyak poinpoin yang belum terisi secara lengkap, serta untuk form rencana asuhan keperawatan
tidak ada kolom tanda tangan perawat yang bertugas pada shift tersebut sehingga
kurang bisa dipertanggungjawabkan.
6.1.4

Money
Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan karena
berpengaruh terhadap besar kecilnya hasil kegiatan. Oleh karena itu uang merupakan
alat yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhintungkan
secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan
untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta
berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi (Nursalam, 2007). Sumber
pendapatan dan gaji pegawai Ruang Seruni Rumah Sakit Tingkat II Dr Soepraoen
berasal dari Rumah Sakit Tingkat II Dr Soepraoen dan pemerintah. Pemberian gaji
maupun remunerasi ditentukan dan didistribusikan sesuai aturan Rumah Sakit. Tiap
sebulan sekali di agendakan untuk rapat keuangan untuk membahas pemasukan dan
pengeluaran dana. Pengajuan anggaran pengadaan alat dan renovasi, ruang Seruni
tidak mendapatkan anggaran berupa dana tunai melainkan langsung berupa logistik dan
alat dari Rumah Sakit. Untuk hal yang bersifat insidentil, ruangan melalui Kepala
Ruangan dapat mengajukan rencana barang-barang yang dibutuhkan setiap bulan yang
kemudian akan ditindaklanjuti oleh pihak Rumah Sakit. Dalam hal pengajuan perbaikan
sarana dan prasarana, penanganan Rumah Sakit Tingkat II dr. Soepraoen tergolong
lama karena memerlukan prosedur pengajuan yang berjenjang.
Tarif rawat inap di ruang Seruni RS Tingkat II Dr Soepraoen ditentukan oleh
Rumah Sakit berdasarkan status pasien yaitu, pasien yang berasal satuan TNI, pasien

BPJS (JKM, JKN), pasien Jamkesda, maupun pasien swasta. Berdasarkan biaya yang
dibebankan kepada pasien kelas III tarif rawat inap di Ruang Seruni sudah cukup
terjangkau.
6.1.5

Market
Berdasarkan data hasil pengkajian, kebanyakan pasien di Ruang Seruni adalah
pasien yang menggunakan jasa BPJS. Pasien yang dirawat di Ruang Seruni adalah
pasien yang berasal dari regional Malang (daerah kota dan kabupaten) hingga luar
regional karena RST merupakan rumah sakit rujukan tingkat pertama. Disini tidak ada
pasien yang berasal dari lain provinsi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasar dari
Ruang Seruni ini adalah pasien dari regional Malang ataupun luar kota malang, namun
tetap berada di provinsi Jawa Timur.
Selama kegiatan pengkajian didapatkan prosentase BOR pada tanggal 28 Maret
adalah 76,4%, pada tanggal 29 Maret adalah 100% dan pada tanggal 30 Maret adalah
94,11%. Prosentasi ini sudah memenuhi bahkan lebih dari standard dimana standard
BOR adalah 65-85 % (Depkes RI, 2005).
Berdasarkan letaknya, Rumah Sakit Tingkat II Dr Soepraoen memiliki letak yang
cukup strategis karena terletak di pusat Kota Malang. Kebanyakan pasien yang
mengunakan jasa poli umum berasal dari lingkungan sekitar Kota Malang. Usaha
Rumah Sakit dalam menjangkau masyarakat yang kurang mampu yaitu dengan
menerima pembayaran BPJS, Jamkesda, dan pasien dengan keterangan miskin.
Rumah Sakit juga bekerja sama dengan pihak-pihak asuransi swasta dan beberapa
persero yaitu PT. Gandum, TELKOM, PT. KAI, dsb. Hasil pengkajian terkait penerimaan
masyarakat (pasien) terhadap RST telah dilakukan yaitu dengan uji kuisioner yang
menunjukkan 8 dari 10 pasien menyatakan bahwa pasien merasa puas dengan
pelayanan di RST khususnya di Ruang Seruni. Masalah kepuasan pasien sebenarnya
masih bersifat subyektif, karena setiap orang dapat saja memiliki tingkat kepuasan yang
berbeda untuk satu mutu pelayanan kesehatan yang sama. Di samping itu, kepuasan
pasien juga dipengaruhi oleh fasilitas yang disediakan oleh rumah sakit dan pelayanan
kesehatan yang diterima oleh pasien (Hidayah, 2014)

Penerimaan pasien dengan sistem BPJS ternyata tidak hanya menjadi system
pendukung untuk Ruang Seruni, akan tetapi dapat menjadi kekurangan jika tidak disisati
dengan baik. Hal ini dikarenakan sistem BPJS yang membutuhkan rujukan berjenjang
dan pemesanan ruangan rawat inap yang harus dilakukan terlebih dahulu karena
ruangan sering penuh membuat pasien merasa kerepotan dan sebagian pasien memilih
untuk pindah ke rumah sakit lain karena pasien tidak ingin menunggu atau tidak kuat
menahan sakitnya. Selain itu terdapatnya RS swasta di dekat RST akan menjadi
ancaman bagi pemasaran RST.
Berdasarkan data penyakit di Ruang Seruni periode 25 Januari sampai 27 Maret
2016 didapatkan data bahwa dari 87 kasus terdapat 10 penyakit yang sering diterima di
Ruang Seruni. Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa Struma merupakan
penyakit terbanyak dengan jumlah kasus sebanyak 8 kasus, BPH dan batu ren terdapat
6 kasus. Selain itu terdapat beberapa kasus bedah dan penyakit dalam yang juga di
rawat inap di Ruang Seruni.
6.2 Identifikasi permasalahan manajemen keperawatan yang ada di ruang Seruni RS Tingkat II
dr.Soepraoen
Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis situasi di Ruang Seruni didapatkan
beberapa permasalahan terkait manajemen keperawatan yaitu :
1. Kurang optimalnya orientasi pasien baru dan follow up terhadap hasil orientasi pada
pasien dan keluarga
Orientasi pasien baru berarti menjelaskan tentang hak dan kewajiban pasien,
peraturan di Ruang Seruni, penjelasan tentang pemasangan gelang identitas, serta KIE
tentang cuci tangan, dan juga pengenalan terhadap denah atau lokasi Ruang Seruni.
Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang hal tersebut sebelum masuk ke
ruangan, kemudian pasien dan keluarga dibawa keliling ruangan. Setelah dilakukan
orientasi biasanya dilakukan follow up untuk mengetahui pemahaman pasien tentang
orientasi yang sebelumnya telah diberikan.
Pada kenyataannya di Ruang Seruni sangat jarang dilakukan orientasi dan
follow up. Biasanya setiap ada pasien baru hanya dijelaskan tentang pemasangan
gelang

dan

cuci

tangan

saja

serta

tidak

pernah

dilakukan

follow

up

setelahnya.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orientasi dan follow up


pasien merupakan masalah yang dapat diangkat dan memerlukan perbaikan dalam
pelaksanaan kedepannya.

2. Kurang optimalnya promosi kesehatan terkait dengan cuci tangan, pemilihan sampah,
etika batuk, manajemen nyeri.
Promosi kesehatan merupakan upaya pemberian edukasi kepada pasien baik
secara individu maupun kelompok. Promosi kesehatan rumah sakit dinaungi oleh tim
PKRS dan bekerjasama dengan tim PKRS setiap ruangan. Promosi kesehatan di Ruang
Seruni selama pengkajian belum pernah dilakukan oleh tim PKRS ruangan. Hal tersebut
menjadi sebuah permasalahan mengingat pentingnya promosi kesehatan baik bagi
pasien maupun keluarga. Promosi kesehatan bertujuan untuk mengetahui tingkat
pengetahuan pasien dan keluarga sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Sehingga
diharapkan dengan adanya promosi kesehatan dapat memberikan peningkatan
pengetahuan pada pasien dan keluarga.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa diperlukan adanya pemecahan masalah untuk mengoptimalkan peran tim PKRS
ruangan dalam melakukan promosi kesehatan.

3. Kurang optimalnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yaitu sampah medis dan
non medis yang ada di lingkungan pasien
Sampah ialah segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang punya dan
bersifat padat (Soemirat, 2002).Menurut defenisi (WHO) yang dikutip oleh Chandra
mengemukakan pengertian sampah adalah segala sesuatu yang tidak digunakan, tidak
dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia
dan tidak terjadi dengan sendirinya. Badan lingkungan hidup menyatakan bahwa
sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk
padat. Secara garis besar sampah rumah sakit dibedakan menjadi sampah medis dan
non medis.

Sampah medis adalah limbah yang langsung dihasilkan dari tindakan diagnosis
dan tindakan medis terhadap pasien. Termasuk dalam kajian tersebut juga kegiatan
medis di ruang poliklinik, perawatan, bedah, kebidanan, otopsi dan ruang laboratorium.
Limbah padat medis sering juga disebut sampah biologis. Limbah medis dapat digolonggolongkan menjadi (Djojodibroto,1997) : limbah bendah tajam, limbah infeksius, limbah
jaringan tubuh, limbah farmasi, limbah kimia dan limbah radioaktif.
Sampah padat non medis adalah semua sampah padat diluar sampah padat
medis yang dihasilkan dari berbagai kegiatan seperti kantor/ administrasi, unit
perlengkapan, ruang tunggu, ruang inap, unit gizi/dapur, halaman parkir, taman, dan unit
pelayanan.
Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan benar dan efektif dan memenuhi
persyaratan sanitasi. Syarat yang harus dipenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak
mencemari udara, air, atau tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis) tidak
menimbulkan kebakaran, dan sebagainya. Selain itu, berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 pengelolaan sampah merupakan kegiatan
yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan
penanganan sampah.
Menurut Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit didalam pelaksanaan pengelolaan sampah setiap rumah sakit
harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber, harus mengelola dan mengawasi
penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun, harus melakukan pengelolaan
stok bahan kimia dan farmasi. Untuk memudahkan pengelolaan sampah rumah sakit
maka terlebih dahulu limbah atau sampahnya dipilah-pilah untuk dipisahkan.
Pewadahan atau penampungan sampah harus memenuhi persyaratan dengan
penggunaan jenis wadah sesuai kategori sebagai berikut :

Tempat-tempat penampungan sampah hendaknya memenuhi persyaratan minimal


sebagai berikut (Depkes RI, 2002) :
-

bahan tidak mudah karat

kedap air, terutama untuk menampung sampah basah

bertutup rapat

mudah dibersihkan

mudah dikosongkan atau diangkut

tidak menimbulkan bising

tahan terhadap benda tajam dan runcing.


Kantong plastik pelapis dan bak sampah dapat digunakan untuk memudahkan

pengosongan dan pengangkutan. Kantong plastik tersebut membantu membungkus


sampah waktu pengangkutan sehingga mengurangi kontak langsung mikroba dengan
manusia dan mengurangi bau, tidak terlihat sehingga memberi rasa estetis dan
memudahkan pencucian bak sampah. Penggunaan kantong plastik ini terutama bermanfaat
untuk sampah laboratorium. Ketebalan plastik disesuaikan dengan jenis sampah yang
dibungkus agar petugas pengangkut sampah tidak cidera oleh benda tajam yang menonjol
dari bungkus sampah. Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3
bagian telah terisi sampah . Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat
khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman (Depkes RI, 2004).
Pada kenyataannya di ruang seruni hanya terdapat 1 tempat sampah medis, 1
tempat sampah non medis dan 1 safety box yang terdapat di nurse station. Untuk di ruang
perawatan pasien tidak terdapat tempat medis maupun non medis, namun hanya terdapat 2
tempat sampah yang tidak dibedakan antara sampah medis dan non medis. Oleh karena itu
dengan ada 2 tempat sampah yang tersedia, dapat dimanfaatkan dengan memberikan
tanda pada setiap sampah agar tempat sampah tersebut dapat dibedakan antara sampah
medis dan sampah non medis. Salah satu cara membedakannya adalah dengan
membedakan warna plastiknya, dimana tempat sampah medis dengan plastic kuning yang
berfungsi sebagai tempat sampah untuk pampers, botol infuse, washlap dan semua
peralatan sekali pakai yang digunakan untuk pasien sedangkan untuk tempat sampah non
medis dengan plastic warna hitam yang berfungsi untuk menampung sampah sisa
makanan, kertas maupun plastic.
4. Kurang optimalnya pelaksanaan operan dan pre-conference ruangan yaitu digabungnya
operan dan post-conference
Operan, pre-conference, dan post-conference di Ruang Seruni kurang berjalan
dengan efektif. Operan dan preconference pagi dilaksanakan setiap hari Senin sampai
Sabtu, namun pada kenyataannya hari Sabtu sering tidak dilakukan operan keliling dan
pre-conference dikarenakan tidak ada karu maupun katim yang bertugas. Sedangkan
untuk post-conference memang tidak dilakukan karena tidak adanya waktu pada siang
hari.

Berdasarkan teori manajemen keperawatan operan, pre-conference, dan postconference memiliki tahapan dalam bentuk cecklist yang harus dilakukan dari
pembukaan sampai penutupan. Pada kenyataannya meskipun telah dilakukan operan,
pre-conference, dan post-conference ternyata masih banyak poin yang terlewatkan
seperti, tidak memperkenalkan perawat yang berdinas pada shift tersebut, tidak
membahas difficult case yang ada pada hari tersebut, tidak menyebutkan identitas dan
diagnosa serta nomor rekam medis pasien secara lengkap. Hal tersebut sering
disepelekan padahal memiliki fungsi yang penting untuk mengetahui status pasien
secara lengkap.Sehingga masalah operan, pre-conference, dan post-conference di
Ruang Seruni sangat perlu dilakukan perbaikan sesuai SPO yang ada.

5. APD bagi perawat sudah tersedia dan dalam kondisi yang bagus namun penggunaan
APD perawat kurang maksimal
Penggunaan APD diperlukan saat melalukan tindakan invasif dan aseptik untuk
mencegah penularan infeksi baik dari pasien ke perawat, dari perawat ke pasien,
maupun antar pasien. Pada saat pengkajian diketahui bahwa kesadaran perawat untuk
menggunakan APD saat melakukan tindakan masih sangat rendah. Berdasarkan uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan penggunaan APD oleh perawat yang
kurang maksimal perlu mendapatkan perhatian khusus. Sehingga diharapkan dengan
diangkatnya permsalahan tersebut, akan meningkatkan kesadaran perawat dalam
memakai APD.

6. Peningkatan jumlah pasien per hari tidak seimbang dengan jumlah tenaga keperawatan
pada setiap shiftnya.

6.3 Prioritas masalah berdasarkan permasalahan yang teridentifikasi.

Berdasarkan pengkajian selama dua hari (28-30 Maret 2016) dan analisa data
dengan menggunakan analisa SWOT didapatkan beberapa permasalahan di ruang
Seruni, antara lain sebagai berikut:
1. Kurang optimalnya orientasi pasien baru dan follow up terhadap hasil orientasi pada pasien
dan keluarga
2. Kurang optimalnya promosi kesehatan terkait dengan cuci tangan, pemilihan sampah, etika
batuk, manajemen nyeri.
3. Kurang optimalnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yaitu sampah medis dan non
medis yang ada di lingkungan pasien.

6.4 Tujuan dan rencana pemecahan masalah (plan of action) untuk mengatasi permasalahan
yang diprioritaskan.
Tujuan dari penentuan prioritas adalah untuk menentukan masalah mana yang
butuh diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang memiliki pengaruh yang besar.
Orientasi pasien baru dan follow up terhadap hasil orientasi kepada pasien dan keluarga
adalah bertujuan untuk mencegah kesalahpahaman antara pasien, keluarga dan perawat
terkait fasilitas yang dapat digunakan selama di rumah sakit, selain itu juga untuk
mencegah terjadi penyebaran infeksi nosokomial yang sering terjadi dirumah dengan cara
memberikan orientasi terkait hak dan kewajiban keluarga dan pasien, cara mencuci
tangan dan pemilahan sampah.
Pentingnya promosi kesehatan dan KIE kepada pasien dan keluarga tentang
manajemen nyeri, cuci tangan, pemilahan sampah dan etika batuk dapat membantu
pasien selama dan sesudah di rumah sakit untuk mencegah penyebaran infeksi dan
membantu meminimalkan nyeri pasien dengan tehnik non farmakologis.
Pentingnya pemilahan sampah non medis dan sampah medis adalah selain untuk
mencegah adanya infeksi nosokomial juga untuk memudahkan dalam pengelolaannya
karena pengelolaan sampah medis dan non medis tentu berbeda. Selain itu pemilahan

sampah medis dan non medis juga bertujuan untuk mencegah kejadian terpapar
mikroorganisme bagi petugas sampah.
Rencana pemecahan masalah (plan of action) untuk mengatasi permasalahan
yang diprioritaskan sebagai berikut:
1. Kurang optimalnya orientasi pasien baru dan follow up terhadap hasil orientasi pada
pasien dan keluarga
a. Melakukan persiapan sosialisasi mengenai orientasi pasien baru terhadap
perawat diruangan
b. Melakukan diskusi

dengan

pembimbing

lahan

terkait

perencanaan

sosialisasi
c. Melakukan sosialisasi
d. Melakukan follow up terkait orietasi pasien baru yang dilakukan oleh perawat
e. Melakukan evaluasi terhadap efektivitas perawat kepada pasien baru dan
kelaurganya
2. Kurangnya promosi kesehatan terkait dengan perawatan pasien setelah keluar
rumah sakit, terutama mengenai cuci tangan, pemilihan sampah, etika batuk,
manajemen nyeri.
a. Melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait program
b. Bekerjasama dengan tim PKRS terkait konsep program
c. Melakukan sosialisasi program promosi kesehatan dan KIE di ruangan
d. Membuat media edukasi (leaflet dan PPT) tentang cuci tangan, pemilihan
e.
f.
g.
h.

sampah, etika batuk, manajemen nyeri.


Melakukan konsultasi media edukasi (leaflet dan PPT)
Melakukan revisi media edukasi (leaflet dan PPT)
Melakukan pangadaan media edukasi (leaflet dan PPT)
Membuat pretest dan posttest cuci tangan, pemilihan sampah, etika batuk,

i.

manajemen nyeri.
Melakukan konsultasi pretest dan posttest cuci tangan, pemilihan sampah,

j.

etika batuk, manajemen nyeri.


Melakukan revisi pretest dan posttest cuci tangan, pemilihan sampah, etika

batuk, manajemen nyeri.


k. Melakukan pangadaan pretest dan posttest cuci tangan, pemilihan sampah,
l.
m.
n.
o.
p.
q.

etika batuk, manajemen nyeri.


Melakukan persiapan promosi kesehatan
Menyiapkan doorprize
Mengundang tim PKRS dan diklit untuk menghadiri promosi kesehatan
Melakukan promosi kesehatan satu kali dalam satu minggu
Mempersiapkan media, alat dan bahan untuk KIE
Melakukan KIE cuci tangan, pemilihan sampah, etika batuk, manajemen

nyeri kepada pasien saat MRS maupun KRS


r. Melakukan pengisian pretest dan posttest setiap melakukan KIE
s. Melakukan evaluasi pelaksanaan promosi kesehatan setiap minggunya.

t.

Melakukan evaluasi pelak-sanaan KIE cuci tangan, pemilihan sampah, etika

batuk, manajemen nyeri.


u. Melakukan penyampaikan hasil evaluasi program
3. Kurang optimalnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yaitu sampah medis
dan non medis yang ada di lingkungan pasien.
a. Melakukan persiapan sosialisasi mengenai pemilahan tempat sampah yaitu
sampah medis dan non medis pada pasien dan keluarga
b. Melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait
c.
d.
e.
f.

perencanaan

sosialisasi
Melakukan sosialisasi
Mempersiapkan dan membuat label tempat sampah medis dan non medis
Menempelkan label pada tempat sampah
Melakukan koordinasi dengan petugas kebersihan ruangan untuk
meletakkan kantong plastik berwarna kuning pada tempat sampah medis

dan tempat sampah non medis


g. Melakukan follow up pemasangan kantong plastik
h. Melakukan follow up terkait ketepatan pembuangan sampah oleh pasien dan
i.

keluarga
Melakukan evaluasi program pemilahan sampah

6.5 Mengusulkan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah yang bersifat
teknik operasional bagi ruang SeruniRS Tingkat II dr.Soepraoen.
Dari prioritas masalah di atas dapat ditentukan alternatif penyelesaian masalah
sebagai berikut :
1. Kurang optimalnya orientasi pasien baru dan follow up terhadap hasil orientasi pada
pasien dan keluarga
a. Melakukan persiapan sosialisasi mengenai orientasi pasien baru terhadap perawat
b.
c.
d.
e.

diruangan
Melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait perencanaan sosialisasi
Melakukan sosialisasi
Melakukan follow up terkait orietasi pasien baru yang dilakukan oleh perawat
Melakukan evaluasi terhadap efektivitas perawat kepada pasien baru dan
kelaurganya

2. Kurangnya promosi kesehatan terkait dengan perawatan pasien setelah keluar rumah
sakit, terutama mengenai cuci tangan, pemilihan sampah, etika batuk, manajemen nyeri.
a. Melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait program
b. Bekerjasama dengan tim PKRS terkait konsep program

c. Mempersiapkan media, alat dan bahan untuk KIE


d. Melakukan KIE cuci tangan, pemilihan sampah, etika batuk, manajemen nyeri
kepada pasien saat MRS maupun KRS
e. Melakukan penyampaikan hasil evaluasi program
3. Kurang optimalnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yaitu sampah medis dan
non medis yang ada di lingkungan pasien.
a. Melakukan persiapan sosialisasi mengenai pemilahan tempat sampah yaitu
b.
c.
d.
e.
f.

sampah medis dan non medis pada pasien dan keluarga


Melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait perencanaan sosialisasi
Melakukan sosialisasi
Mempersiapkan dan membuat label tempat sampah medis dan non medis
Menempelkan label pada tempat sampah
Melakukan koordinasi dengan petugas kebersihan ruangan untuk meletakkan
kantong plastik berwarna kuning pada tempat sampah medis dan tempat sampah

non medis
g. Melakukan follow up pemasangan kantong plastik
h. Melakukan follow up terkait ketepatan pembuangan sampah oleh pasien dan
keluarga
i. Melakukan evaluasi program pemilahan sampah

6.6 Pelaksanaan kegiatan yang direncanakan pada plan of action


6.6.1

Program Penggunaan Alat Proteksi Diri (APD) Saat Melakukan Tindakan Saat Tindakan
Invasif dan Aseptik
Perawat dalam menjalankan peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
khususnya dalam melakukan tindakan dituntut untuk menjaga keselamatan diri dari
bahaya serta dampak yang ditimbulkan dengan menggunakan proteksi diri. Proteksi diri
merupakan suatu pencegahan untuk menghindarkan atau meminimalkan bahaya yang
dapat ditimbulkan oleh cairan tubuh atau darah pasien, benda terkontaminasi, jarum
suntik bekas pakai atau benda tajam lainnya, zat sitotoksik yang terdapat pada obatobat sitostatika, dan agen infeksius lain yang dapat membahayakan perawat (Kariadi,
2003). Pengguunaan APD di rumah sakit akan mengurangi risiko seorang perawat
tertular oleh penyakit sehingga keselamatan kerja perawat akan lebih terjamin dan
pemberian asuhan keperawatan akan lebih baik (Putra, 2012). Oleh karena itu program

penggunaan APD saat melakukan tindakan infeksius dan aseptik merupakan salah satu
program yang dilakukan di Ruang Seruni.:
Program pelaksanaan penggunaan APD dilakukan selama 4 minggu dari tanggal
14 Pebruari hingga 12 Maret 2016. Pelaksanaan program ini diawali dengan melakukan
persiapan, yaitu membuat konsep program APD berupa perawat teladan, melakukan
konsultasi dengan pembimbing terkait penggunaan APD pada saat melakukan tindakan
apa saja dan menyiapkan mediauntuk mendukung program. Media yang digunakan
antara lain adalah papan perawat teladan untuk dokumentasi penilaian dan pin perawat
teladan sebagai reward untuk perawat yang mengumpulkan banyak poin. Setelah
persiapan dilakukan, kemudian dilakukan sosialisasi kepada perawat di Ruang Seruni
pada tanggal 22 Pebruari 2016.Selama pelaksanaannya, program ini dilakukan oleh
mahasiswa

dan

perawat

ruangan.Pelaksanaan

dilakukan

dengan

melakukan

pengawasan kepada perawat ruangan dalam menggunakan APD saat melakukan


tindakan.Penilaian dilakukan dengan memberikan poin berupa tanda bintang pada
perawat yang menggunakan APD dalam tindakan, sedangkan perawat yang tidak
menggunakan APD diberi tanda silang pada papan perawat teladan yang ada di
ruangan. Untuk dinas sore dan malam, pengawasan penggunaan APD didelegasikan
langsung kepada peawat yang bertugas. Selain itu, untuk mempermudah terlaksananya
program, APD diletakkan pada tempat yang mudah diakses oleh perawat. Kemudian,
evaluasi dilakukan setiap minggu dengan merekap tindakan apa saja yang dilakukan
selama satu minggu dan berapa persen tindakan yang menggunakan atau tidak
menggunakan APD.
Selama pelaksanaan program, didapatkan bahwa dari hasil tindakan yang
terdokumentasikan di Ruang Seruni setiap hari selalu ada tindakan rawat luka dan
pemasangan infus. Untuk tindakan rawat luka, setiap harinya perawat selalu
menggunakan APD (100%) namun untuk tindakan pemasangan infus total penggunaan
APD hanya 67%, hal ini dikarenakan perawat masih belum terbiasa dalam
menggunakan APD saat tindakan invasif begitu juga untuk tindakan plebohotomi yang
hanya menggunakan APD sebanyak 62,5%. Pemasangan kateter di Ruang Seruni
memang jarang dilakukan, tetapi ketika ada tindakan pemasanga kateter semua
perawat menggunakan APD (100%).Kurangnya penggunaan APD dalam tindakan
invasif dikarenakan perawat tidak terbiasa dalam menggunakan APD, sehingga perawat
merasa sulit dan tidak nyaman saat melakukan tindakan.Padahal penggunaan APD saat

melakukan tindak perlu menjadi perhatian khusus, selain penting untuk pasien juga
penting untuk perawat sendiri.Penggunaan APD memungkinkan untuk pencegahan
infeksi nosokomial baik dari pasien ke perawat, perawat ke pasien, lingkungan ke pasien
maupun lingkungan ke perawat.

6.6.2

Program Pelaksanaan Operan, Pre-conference, Post-Conference


Berdasarkan data yang didapatkan pada awal pengkajian, didapatkan data bahwa
pelaksanaan operan, pre-conference dan post-conference di Ruang Seruni kurang
dilakukan secara optimal. Padahal tujuan dilakukannya ketiga kegiatan ini adalah untuk
membantu perawat dalam melakukan koordinasi perencanaan pemberian asuhan
keperawatan baik tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan
atau belum dilakukan dan perkembangan saat itu (Nursalm, 2007). Dengan adanya
ketiga kegiatan ini, diharapkan tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan
kesalahan bagi perawat sebagai pemberi asuhan. Kurang optimalnya ketiga kegiatan ini
tentu saja akan berdampak pada koordinasai antar perawat dengan sesama perawat
atau tenaga medis lain dalam pemberian terapi atau asuhan untuk pasien menjadi tidak
bejalan dengan baik (Hidayah, 2014). Oleh karena itu program pelaksanan operan, preconference dan post-conference menjadi salah satu program yang dilakukan di Ruang
Seruni.
Program pelaksanaan operan, pre-conference dan post-conference dilakukan
selama 4 minggu dari tanggal 14 Pebruari hingga 12 Maret 2016. Pelaksanaan program
ini diawali dengan melakukan persiapan, yaitu melakukan konsultasi dengan
pembimbing

tentang

program

pengoptimalan

operan,

preconference

dan

postconference di ruangan, mencari referensi SOP baku yang akan digunakan sebagai
panduan selama menjalankan program, melakukan konsultasi dengan pembimbing
tentang SOP yang akan digunakan dan menggandakan SOP sebagai cek list dalam
penilaian. Setelah persiapan dilakukan, kemudian dilakukan sosialisasi kepada perawat
di Ruang Seruni pada tanggal 22 Pebruari 2016. Saat sosialisasi, juga dilakukan
pembacaan SOP operan, pre-conference, dan post-conference yang digunakan sebagai
penilaian. Selama pelaksanaannya, program ini dilakukan oleh mahasiswa dan perawat
ruangan.Pelaksanaan dilakukan dengan melakukanoperan, pre-conference dan post-

conference selama 3 minggu, yaitu tanggal 22 Pebruari hingga 12 Maret 2016. Penilaian
dilakukan setiap hari dengan mengisi cek list yang telah disesuaikan dengan SOP
operan, pre-conference dan post-conference. Selama pelaksanaan program dalam
jangka waktu 3 minggu, terkadang operan, pre-conference, dan post-conferencedapat
berjalan sesuai rencana dan terkadang tidak dapat dilakukan karena kondisi ruangan
yang tidak memungkinkan
Berdasarkan data selama pelaksanaan program, didapatkan data bahwa operan
selalu dilakukan setiap hari dengan prosentase 100%, pelaksanaan pre-conference
dilakukan sebanyak 17 kali dengan prosentase 66,67% dan post-confernce hanya dapat
dilakukan sebanyak 6 kali dengan prosentase 28,57%.

6.6.3

Program Promosi Kesehatan dan KIE tentang Perawatan Kateter di Rumah


Pelaksaan promosi kesehatan dan KIE pada pasien merupakan hal yang penting
dalam memberikan pengertian kepada pasien, keluarga atau masyarakat, meningkatkan
pengertian, pengetahuan dan sikap tentang penggunaan fasilitas kesehatan secara
tepat dan benar serta sikap ingin cepat sembuh dari pasien sendiri (Kompasiana,
2015).Berdasarkan data pengkajian, pasien di Ruang Seruni sebagian besar merupakan
pasien dengan kasus urology dan kebanyakan membawa kateter saat keluar dari rumah
sakit.Sedangkan promosi kesehatan tentang perawatan kateter di rumah masih belum
dilakukan dengan maksimal, padahal hal ini sangat penting bagi pasien dan
keluarganya.
Program promosi kesehatan dan KIE tentang perawatan kateter di rumah
dilakukan selama 4 minggu dari tanggal 14 Pebruari hingga 12 Maret 2016. Persiapan
dilakukan dengan melakukan diskusi dengan pembimbing lahan terkait program,
berkerjasama dengan tim PKRS terkait konsep program, membuat SOP tentang
perawatan kateter di rumah dan melakukan konsultasi SOP yang digunakan. Kemudian
membuat dan menggadakan media edukasi berupa leaflet dan PPT tentang perawatan
kateter di rumah. Sosialisasi program dilakukan bersamaan dengan sosialisasi program
lain agar tercipta kerjasama antara perawat ruangan dan mahasiswa dalam
menjalankan program yang ada. Pelaksanaan program ini dilakukan selama 3 minggu

yaitu, tanggal 22 Pebruari hingga 12 Maret 2016 melalui konsultasi langsung (KIE)
kepada keluarga dan pasien yang terpasang kateter dan melalui penyuluhan yang
dilakukan 1 kali setiap minggu. Proses evaluasi dilakukan dengan memberikan pretest
dan posttestmengenaiperawatan kateter di rumah saat dilakukan KIE dan penyuluhan.
Selama pelaksanaan program dalam waktu 3 minggu, peromosi kesehatan dapat
dilakukan satu kali dalam satu minggu sehingga target pelaksanaan promosi kesehatan
tercapai yaitu sebesar 100%. Pelaksanaan KIE tentang perawatan kateter di rumah dan
pengisian pretest serta postest terlaksana sebanyak 9 kali dalam jangka waktu tiga
minggu. Pasien yang membutuhkan KIE tentang perawatan kateter dalam waktu
pelaksaan program yaitu 9 orang sehingga semua yang membawa kateter sebelum
MRS dan akan membawa pulang kateter telah diedukasi tentang perawatan kateter
sehingga total pelaksanaan KIE perawatan kateter yaitu 100%.

6.7 Evaluasi hasil kegiatan yang telah direncanakan


Evaluasi hasil kegiatan majemen keperawatan yang penulis lakukan di Ruang
Seruni Rumah Sakit tingkat II Dr. Soepraoen adalah sebagai berikut :
6.8.1

Program Penggunaan APD Saat Tindakan Invasif dan Aseptik


Melihat tingginya risiko terhadap gangguan kesehatan di rumah sakit, maka perlu
dilakukan upaya - upaya pencegahan terhadap kejadian penyakit atau trauma akibat
lingkungan kerja dan faktor manusianya. Salah satu diantaranya adalah penggunaan
alat pelindung diri

(APD). Alat pelindung diri digunakan untuk melindungi kulit dan

selaput lendir petugas dari resiko pajanan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret,
ekskreta kulit yang tidah utuh dan selaput lendir pasien (Depkes, 2003).Peralatan
pelindung diri meliputi sarung tangan, masker/respirator, pelindng mata (perisai muka,
kacamata), kap, gaun, apron, dan barang lainya (Tiedjen, 2004).Penggunaan APD ini
juga termasuk dalam komponen kewaspadaan standar dalam universal precaution
(Depkes, 2008).Kemampuan perawat untuk mencegah transmisi infeksi di rumah sakit
dan upaya pencegahan adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan bemutu.
Perawat berperan dalam pencegahan infeksi nosokomial, hal ini disebabkan perawat

merupakan salah satu anggota tim kesehatan yang berhubungan langsung dengan klien
dan bahan invasif di ruang rawat (Habni, 2009)
Program penggunaan APD saat tindakan invasif dan aseptik telah dilaksanakan
selama 3 minggu di Ruang Seruni.Pada program penggunaan APD didapatkan data
saat pengkajian penggunaan APD masih sangat minim. Pada saat implementasi
didapatkan data 81,5% menggunakan APD dan 18,5% tidak menggunakan APD.
Setelah dilakukan evaluasi pada minggu terakhir didapatkan hasil 100% yang berarti
bahwa program penggunaan APD sudah mencapai target sesuai yang direncanakan
dengan hasil adanya peningkatan penggunaan APD pada minggu pertama sebesar 59
%, minggu kedua sebesar 95%, dan minggu ketiga sebesar 100%.
Program penggunaan APD pada minggu pertama masih kurang maksimal
dengan rincian sebagai berikut: dari 27 tindakan yang dilakukan hanya 16 tindakan yang
memakai APD dan sisanya 11 tindakan tidak memakai APD. Pada minggu kedua
penggunaan APD sudah mulai ada peningkatan yang signifikan dengan rincian sebagai
berikut: dari 20 tindakan yang dilakukan sebanyak 19 tindakan sudah memakai APD dan
sisanya 1 tindakan yang tidak memakai APD. Pada minggu ketiga penggunaan APD
sudah 100% dari 18 tindakan yang dilakukan semuanya sudah menggunakan APD.
Sehingga

dapat

disimpulkan

dari

program

penggunaan

APD

dapat

meminimalkan terjadinya infeksi nosokomial dengan penggunaan APD yang sudah


mencapai 100% pada saat evaluasi tindakan.Oleh karena itu diharapkan program ini
dapat terus diimplementasikan dan ditindak lanjuti oleh PPI ruangan dan rumah sakit
khususnya. Pengalaman selama praktek di Ruang Seruni terdapat beberapa kasus
dengan penyakit menular seperti TB paru, Hepatitis B dan Hepatitis C. Kasus yang ada
di ruangan tersebut telah menjadikan suatu perhatian khusus sehingga perawat di
Ruang Seruni lebih peduli dalam menggunakan APD saat melakukan tindakan.
Penggunaan APD merupakan salah satu kebiasan yang hanya bisa diubah oleh
masing masing individu yang bersangkutan.Kendala dalam program penggunaan APD
adalah kurangnya kepedulian perawat dalam mencegah infeksi nosokomial bahkan
perawat terkesan meremahkan hal tersebut.Sehingga, kepedulian perawat untuk
mencegah terjadinya infeksi nosokomial dan kepedulian untuk saling mengingatkan
antar perawat dalam mengunakan APD menjadi salah satu hal yang sangat penting.

Selama pelaksanaan program, kami sering melihat bagaimana saat ini perawat sudah
mulai peduli untuk mencegah infeksi nosokomial dan saling mengingatkan untuk
menggunakan APD serta terdapatnya alat pelindung diri yang lengkap dan dalam
kondisi yang bagus membuat program ini cukup mudah untuk dilanjutkan.

6.8.2

Program Pelaksanaan Operan, Pre-conference, Post-conference


1. Pelaksanaan Operan
Operan atau timbang terima memiliki beberapa istilah lain. Beberapa istilah itu
diantaranya handover, handoffs, shift report, signout, signover dan cross coverage.
Operan adalah komunikasi oral dari informasi tentang pasien yang dilakukan oleh
perawat pada pergantian shift jaga. Friesen (2008) menyebutkan tentang definisi dari
operan adalah transfer tentang informasi

(termasuk tanggung jawab dan tanggung

gugat) selama perpindahan perawatan yang berkelanjutan yang mencakup peluang


tentang pertanyaan, klarifikasi dan konfirmasi tentang pasien. Operan juga meliputi
mekanisme transfer informasi yang dilakukan, tanggungjawab utama dan kewenangan
perawat dari perawat sebelumnya ke perawat yang akan melanjutnya perawatan. Tujuan
operan diantaranya :
a. Menyampaikan masalah, kondisi dan keadaan klien (data fokus).
b. Menyampaikan hal hal yang sudah atau belum dilakukan terkait asuhan
keperawatan kepada klien
c. Menyampaikan hal hal penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh dinas
berikutnya.
d. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
Pelaksanaan program operan dilakukan selama 3 minggu dimulai pada tanggal
22 Februari 2016 sampai tanggal 12 Maret 2016. Pada minggu pertama kegiatan operan
dilakukan setiap hari dengan prosentase pelaksanaan operan sesuai SOP tertinggi
adalah 100% pada tanggal 27 Februari 2016. Tahapan dalam SOP yang sering tidak

dilakukan selama operan adalah perawat mengucapkan salam, memperkenalkan diri


dan perawat yang bertugas, berdoa bersama, mengucap salam, mengucapkan selamat
istirahat dan selamat bekerja.
Pada minggu kedua kegiatan operan juga dilakukan setiap hari dengan
prosentase pelaksanaan operan sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada tanggal 2, 3,
dan 4 Maret 2016. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keberhasilan
pelaksanaan program dari minggu pertama.Tahapan dalam SOP yang sering tidak
dilakukan selama operan adalah memperkenalkan diri dan perawat yang bertugas.
Selain itu tidak dilakukannya operan keliling pada hari Sabtu, sehingga tahap perawat
kembali ke nurse station tidak dapat dilakukan.
Pada minggu kedua kegiatan operan dilakukan setiap hari dengan prosentase
pelaksanaan operan sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada tanggal 10 Maret 2016.
Hasil ini menunjukkan adanya penurunan dalam pelaksanaan operan sesuai SOP.
Tahap yang sering tidak dilakukan adalah memperkenalkan diri dan perawat yang
bertugas. Selain itu tidak dilakukannya operan keliling pada hari Sabtu, sehingga tahap
perawat kembali ke nurse station tidak dapat dilakukan.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tahap pelaksanaan operan
yang belum dilakukan secara maksimal adalah memperkenalkan diri dan perawat yang
bertugas, serta kegiatan operan keliling yang tidak dilakukan secara maksimal pada hari
Sabtu, sehingga tahap perawat kembali ke nurse station tidak dapat dilakukan.Solusi
yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kekurangan ini adalah dengan saling
mengingatkan antar perawat dan selalu berpanduan dengan SOP yang ada. Selain itu,
ketika kepala ruang tidak ada, pemimpin operan dapat didelegasikan kepada ketua tim
atau ketua jaga yang sedang bertugas.Meskipun pelaksanaan tahapan operan sebagian
tidak sesuai dengan SOP tapi operan yang dilakukan telah mencapai tujuan dari operan
yang telah disebutkan di atas.

2. Pelaksanaan Pre-conference
Pelaksanaan program pre-conference dilakukan selama 3 minggu dimulai pada
tanggal 22 Februari 2016 sampai tanggal 12 Maret 2016. Pada minggu pertama

kegiatan pre-conference dilakukan 5 kali dengan prosentase pelaksanaan preconference sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada tanggal 24 Februari 2016. Tahapan
dalam SOP yang sering tidak dilakukan selama pre-conference adalah menjelaskan
tujuan pre-conference awal dan menyampaikan kontrak untuk melakukan postconference.Terdapatnya hari yang tidak melakukan pre-conference dikarenakan pada
saat itu banyak terdapat tindakan operasi di ruangan, sehingga setelah dilakukan operan
perawat yang bertugas langsung melakukan persiapan pasien dan berkas-berkas yang
dibutuhkan untuk operasi.
Pada minggu kedua kegiatan pre-conference juga dilakukan 5 kali dengan
prosentase pelaksanaan pre-conference sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada
tanggal 3 Maret 2016. Terdapatnya hari yang tidak melakukan pre-conference
dikarenakan pada saat itu adalah hari Sabtu, sehingga tidak ada kepala ruangan atau
ketua tim yang memimpin pre-conference. Tahapan dalam SOP yang sering tidak
dilakukan selama pre-conference adalah menyampaikan kontrak untuk melakukan postconference.
Pada minggu ketiga kegiatan pre-conference dilakukan 4 kali dengan prosentase
pelaksanaan pre-conference sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada tanggal 8 dan 10
Maret 2016. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keberhasilan program
pelaksanaan pre-conference sesuai SOP dari minggu pertama dan kedua.Akan tetapi
jumlah dilakukannya pre-conference menurun dikarenakan pada 2 hari tersebut terdapat
banyak tindakan operasi di ruangan dan pada hari Sabtu.Tahapan dalam SOP yang
sering tidak dilakukan selama pre-conference adalah menekankan SOP atau hal-hal
yang perlu diperhatikan dan menyampaikan kontrak untuk melakukan post-conference.
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa tahap pelaksanaan preconference dapat berjalan dengan baik.Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah
pelaksanaan pre-conference selama tahap pelaksanaan program.Selan itu, preconference juga sudah dilakukan secara terpisah dengan operan. Akan tetapi, dalam
pelaksanaannya, terdapat beberapa tahap SOP yang belum dilakukan secara maksimal
yaitu, menyampaikan kontrak untuk melakukan post-conference di akhir shif dinas.
Meskipun pelaksanaan tahapan pre-conference sebagian tidak sesuai dengan SOP tapi
pre-conference yang dilakukan telah mencapai tujuan dari operan yang telah disebutkan
di atas. Pelaksaan pre-conference sulit untuk dilakukan dengan masing masing tim

yang ada di ruangan karena terbatasnya jumlah perawa dalam satu tim dan perawat
ruangan melakukan tindakan tidak berpacu kepada masing masing tim tetapi siapapun
yang sedang tidak ada tindakan harus membantu melakukan tindakan yang lainnya.
Sehingga ketika dicoba melakukan pre-conference dengan masing masing tim,
hasilnya menjadi tidak maksimal.Solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan
kekurangan ini adalah dengan saling mengingatkan antar perawat dan selalu
berpanduan dengan SOP yang ada pre-conference dilakukan. Selain itu, ketika kepala
ruang tidak ada, pemimpin pre-conference dapat didelegasikan kepada ketua tim atau
ketua jaga yang sedang bertugas.Walaupun pre-conference tetap tidak bisa dilakukan
dalam satu tim setidaknya dengan melakukan pre-conference perawat dapat membahas
lebih lanjut, mendiskusikan dan mengklarifikasi rencana asuhan keperawatan pada
pasien saat hari itu.

3. Pelaksanaan Post-conference
Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil
kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference
adalah hasil askep tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post
conference dipimpin oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006) Tujuan post conference
adalah Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan
membandingkan masalah yang dijumpai.
Pelaksanaan program post-conference dilakukan selama 3 minggu dimulai pada
tanggal 22 Februari 2016 sampai tanggal 12 Maret 2016. Pada minggu pertama
kegiatan pre-conference dilakukan 2 kali dengan prosentase pelaksanaan preconference sesuai SOP tertinggi adalah 100% pada tanggal 27 Februari 2016. Tahapan
dalam SOP yang tidak dilakukan saat post-conference adalah karu/katim mencatat hasil
diskusi dan mengucapkan selamat bekerja.Pelaksanaan post-conference pada minggu
pertama ini hanya dilakukan oleh mahasiswa yang praktek karena kegiatan postconference memang jarang dilakukan di Ruang Seruni, sehingga perawat ruangan
belum terbiasa dengan adanya post-conference.

Pada minggu kedua kegiatan pre-conference hanya dilakukan 1 kali, yaitu pada
tanggal 29 Februari dengan prosentase pelaksanaan pre-conference sesuai SOP adalah
100%. Menurunnya pelaksanaan post-conference pada minggu kedua dikarena pada
minggu tersebut banyak tindakan keperawatan yang belum terselesaikan hingga siang
hari dan banyaknya pasien baru yang datang menjelang pergantian shif dinas, sehingga
post-conference tidak dapat dilakukan.
Pada minggu ketiga kegiatan post-conference dilakukan 4 kali dengan
prosentase pelaksanaan post-conference sesuai SOP adalah 100% pada semua hari
tersebut. Kegiatan post-conference pada minggu ketiga juga sudah melibatkan perawat
ruangan.Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keberhasilan program
pelaksanaan post-conference sesuai SOP dari minggu pertama dan kedua.Terdapatnya
hari yang tidak melakukan post-conference dikarenakan pada saat itu banyak tindakan
keperawatan yang belum terselesaikan hingga siang hari dan hari Sabtu saat kepala
ruangan tidak ada.
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan postconference dapat berjalan dengan baik.Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah
pelaksanaan post-conference pada tahap pelaksanaan program dibandingkan pada
tahap pengkajian dan identifikasi masalah. Pelaksanaan post-conference juga berjalan
dengan maksimal karena 6 dari 7 post-conference yang telah dilakukan sudah sesuai
dengan tahap SOP. Pelaksanaan post-conference di Ruang Seruni sulit dilakukan
secara maksimal karena pada siang hari banyak tindakan keperawatan yang belum
terselesaikan, seperti mengambil pasien di ruang operasi dan menyiapkan laporan
pasien yang baru masuk.Oleh karena itu, apabila tindakan keperawatan telah selesai
dilakukan dan terdapat waktu luang diharapkan kegiatan post-conference dapat
dilakukan di ruangan.Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi tindakan keperawatan yang
sudah dan belum dilakukan, sehingga tindakan yang belum dilakukan dapat segera
ditindaklanjuti atau dilaporkan pada saat operan selanjutnya.

6.8.3

Program Promosi Kesehatan dan KIE tentang Perawatan Kateter di Rumah


Pengembangan romosi kesehatan di rumah sakit harus dilaksanakan sesegera

mungkin mengingat bahwa rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang termasuk
dalam subsistem pelayanan kesehatan.Rumah sakit tidak boleh dipandang sebagai bagian
yang terpisah dan berdiri sendiri dalam sektor pelayanan kesehatan. Menurut WHO, rumah
sakit harus terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan dimana dia berfungsi sebagai
sumberdaya peningkatan kesehatan masyarakat yang ada di daerahnya.Sesuai dengan
pasal 7 UU RI no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa setiap orang
berhak mendapatkan infromasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan
bertanggungjawab (Kemenkes RI, 2010). Sehingga rumah sakit mempunyai kewajiban
untuk memenuhi hak pasien dalam mendapatkan edukasi.
Program promosi kesehatan dan KIE tentang perawatan kateter di rumah telah
dilaksanakan selama 4 minggu di ruang Seruni.Pada program promosi kesehatan
didapatkan data saat pengkajian belum pernah dilakukan promosi kesehatan di ruang
Seruni, pada implementasi didapatkan data sebesar 75% dilakukan promosi kesehatan.Hal
tersebut dikarenakan pada minggu pertama implementasi, belum bisa dilakukan promosi
kesehatan yang disebabkan oleh mundurnya jadwal karena akreditasi rumah sakit. Setelah
dilakukan evaluasi pada minggu terakhir didapatkan hasil 100% yang berarti bahwa
program promosi kesehatan sudah mencapai target sesuai yang direncanakan dengan
hasil adanya peningkatan pengetahuan peserta pada minggu pertama sebesar 57%,
minggu kedua sebesar 43%, dan minggu ketiga sebesar 29%.
Pada program KIE didapatkan data saat pengkajian belum pernah dilakukan KIE di
ruang Seruni, pada implementasi didapatkan data sebesar 40-70% dilakukan KIE. Setelah
dilakukan evaluasi pada minggu terakhir didapatkan hasil 100% yang berarti bahwa
program KIE sudah mencapai target sesuai yang direncanakan. KIE dilakukan pada 9
pasien dengan masalah urologi yang terpasang kateter urin. dari program KIE tersebut
didapatkan hasil 100% peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mendapat
KIE dengan rincian sebagai berikut pada pre test dengan 33% peserta mempunyai
pengetahuan yang kurang yang berarti bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebesar
67%, sedangkan pada pre test dengan 56% peserta mempunyai pengetahuan yang cukup
terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 44%, serta pada pre test dengan 11% peserta
mempunyai pengetahuan yang baik terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 89%.

Dengan poin tertinggi sesuai cecklist adalah tentang tujuan perawatan kateter, penggantian
kateter, penempatan urobag, dan pengosongan urobag.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari program PKRS yang terdiri dari promosi
kesehatan dan KIE dapat memberikan peningkatan pengetahun pada seluruh peserta
(100%). Oleh karena itu diharapkan program PKRS ini dapat terus diimplementasikan dan
ditindak lanjuti oleh TIM PKRS ruangan dan rumah sakit khususnya.
Program promosi kesehatan dan KIE kepada pasien dan keluarga tentang
perawatan kateter di rumah sangat mungkin untuk ditindaklanjuti mengingat bahwa sudah
terdapatnya SAP dan media yaitu leaflet tentang perawatan kateter di Ruang Seruni. Selain
itu, dengan adanya kebijakan rumah sakit yang mengharuskan ruangan melakukan
promosi kesehatan minimal 1 kali dalam 1 bulan setelah terakreditasi paripurna untuk RST
maka akan terjadi peningkatan promosi kesehatan. Pelaksanaan promosi kesehatan juga
dapat dilakukan dengan memberikan tugas promosi kesehatan kepada mahasiswa yang
praktek di Ruang Seruni yaitu dengan 1 kali promosi kesehatan dalam 1 minggu.
KIE langsung kepada pasien dan keluarganya tampaknya mempunyai lebih banyak
kendala dalam pelaksanaan.Hal ini dikarenakan beban kerja perawat di Ruang Seruni yang
cukup tinggi terutama dalam hal dokumentasi sehingga waktu untuk kontak dengan pasien
menjadi berkurang.Hal ini dapat disiasati dengan memberikan KIE bersamaan dengan
tindakan yang dilakukan seperti saat melakukan TTV, pemasangan infus, injeksi, KIE
pasien post-operasi dan sebagainya.Solusi tersebut membuat KIE menjadi sangat mungkin
untuk dilakukan di Ruang Seruni.

6.8 Publikasi evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan manajemen keperawatan di ruang SeruniRS
Tingkat II dr.Soepraoen.
Hasil kegiatan manajemen keperawatan yang kami lakukan di ruang SeruniRS
Tingkat II dr.Soepraoen, kami publikasikan dengan cara melakukan deseminasi akhir
praktek manajemen keperawatan. Deseminasi akhir ini mengundang beberapa komponen
penting yang ada di Rumah Sakit seperti : pembimbing lahan dan kepala ruangan selaku
penanggung jawab ruangan tempat kami melakukan praktik, perwakilan dari instalasi
pendidikan rumah sakit selaku penangung jawab dari praktikan yang bertugas di rumah

sakit dan instalasi rawat inap selaku penangung jawab atau pihak yang mengatur ruang
rawat inap di rumah sakit. Pihak pihak tersebut tentunya sangat terlibat dalam
perkembangan dari manajemen keperawatan di ruangan sehingga nantinya pihak yang
bersangkutan dapat memberikan masukan dan tanggapan untuk lebih memaksimalkan
dan memperbaiki manajemen keperawatan di ruangan.
Deseminasi akhir yang kami lakukan bertujuan untuk menyampaikan apa saja yang kami
temukan saat pengkajian tentang manajemen keperawatan, masalah apa saja yang muncul,
prioritas masalah tersebut, rencana pemecahan masalah, alternatif penyelesaian masalah,
kegiatan atau implementasi yang kami lakukan dan hasil evaluasi dari implementasi tersebut.
Pemaparan hasil praktik manajemen keperawatan bertujuan supaya pihak pihak yang terlibat
dalam pengembangan manjemen keperawatan di ruangan mengetahui bagaimana kondisi
manajemen keperawatan di ruangan tersebut dan mampu memberikan masukan yang positif
demi peningkatan dan perbaikan manajemen keperawatan yang ada di ruangan.Sehingga
dapat kami simpulkan bahwa publikasi atau desiminasi akhir menjadi bagian yang penting
dalam praktek manajemen keperawatan mengingat bahwa temuan temuan yang ada di
ruangan perlu untuk disampaikan dan diberikan tanggapan oleh seluruh pihak yang terlibat
dalam pengembangan manajemen keperawatan di ruangan.