Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan gangguan yang terjadi pada pikiran, perasaan,
atau perilaku yang mengakibatkan penderitaan dan terganggunya fungsi seharihari. Salah satu gangguan jiwa yang secara spesifik terganggu isi pikirannya
adalah gangguan waham. Waham merupakan suatu keyakinan palsu yang
didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal dan tidak
sejalan dengan intelegensia dan latar belakang kultural pasien yang tidak dapat
dikoreksi dengan suatu alasan. Waham yang terjadi pada gangguan waham dapat
bersifat kebesaran, erotik, cemburu, somatik, dan campuran. 1
Gangguan waham harus dibedakan dengan gangguan mood dan
skizofrenia. Pasien dengan gangguan waham mungkin memiliki suatu mood yang
konsisten dengan isi wahamnya, mereka tidak memiliki bukti meresapnya gejala
afektif yang terlihat pada gangguan mood. Demikian juga, pasien dengan
gangguan waham berbeda dengan pasien skizofrenik dalam hal tidak kacaunya isi
waham mereka (sebagai contoh, dibuntuti oleh FBI, dimana tidak dapat
dipercaya tetapi mungkin terjadi, lawan dikendalikan oleh orang suci, yang
tidak mungkin). Pasien dengan gangguan waham juga tidak memiliki gejala lain
yang ditemukan pada skizofrenia, seperti halusinasi yang menonjol, pendataran
afektif, dan gejala tambahan gangguan pikiran. Sebelumnya gangguan ini disebut
juga sebagai gangguan paranoid atau paranoia. Namun sekarang tidak lagi
digunakan karena isi waham pada gangguan ini ternyata bervariasi yaitu dapat
bersifat kebesaran/grandiose, cemburu, kejar atau persekutorik, maupun somatik
campuran. 1
Mekanisme pasti dari gangguan waham menetap masih belum diketahui,
namun ada beberapa teori mengenai hal tersebut, yaitu adanya hubungan dengan
faktor genetik dan biologikal yang disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan
neurotransmitter di otak. Angka kejadian gangguan waham menetap hanya
berkisar 0,03% dari seluruh gangguan psikiatrik lainnya. Dimana gangguan ini

lebih sering mengenai perempuan daripada laki-laki, dengan ratio perbandingan


3:1.1 Selain faktor usia dan jenis kelamin, faktor budaya disangkakan
berhubungan dengan terjadinya gangguan ini. Dimana beberapa kebudayaan
beranggapan bahwa adanya waham merupakan bagian dari adat istiadat dan
budaya di suatu daerah. Angka kematian pada penyakit ini adalah sekitar 0,05%
sampai 0,1%.2
Pasien dengan gangguan waham menetap biasanya memiliki fungsi yang
baik di dalam keluarganya dan pekerjaannya. Dimana gangguan ini berbeda
dengan skizofrenia yang mungkin memiliki ketidakmampuan dalam menjalankan
fungsinya. Waham yang dimiliki pun berbeda, dimana pada pasien gangguan
waham menetap, wahamnya mungkin tidak dapat dipercaya, namun dapat terjadi
dikehidupan ini.3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Waham Menetap


Gangguan waham menetap didefinisikan sebagai suatu gangguan
psikiatrik yang tidak diketahui penyebabnya dan memiliki gejala utama adalah
waham.1,5 Kelompok ini meliputi serangkaian gangguan dengan waham-waham
yang berlangsung lama, sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau yang
paling mencolok dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organik,
skizofrenik, atau gangguan efektif.4,11,13 Gangguan waham menetap mungkin
timbul sebagai respon normal terhadap pengalaman abnormal di dalam
lingkungan atau gangguan sistem saraf pusat.1
Dalam pengertian lain disebutkan, gangguan waham menetap adalah suatu
gangguan pada alam pikiran yaitu isi pikir, wahamnya biasanya bersifat sistematis
yang biasanya berasal dari pola sentral dan bila ditentang, orang tersebut akan
menunjukkan gejala waham non bizarre dengan paling sedikit durasi penyakitnya
berlangsung selama 1 bulan yang tidak dapat digabungkan dengan gangguan
psikiatri yang lain. Waham non-bizarre artinya adalah suatu waham yang harus
dapat terjadi pada kehidupan yang nyata, seperti merasa diikuti, terinfeksi, dicintai

dari kejauhan, dan mereka terlihat seolah-olah mempunyai fenomena yang


meskipun tidak nyata tetapi juga tidak mustahil. Ada banyak tipe dari waham dan
yang predominan itulah yang akan menentukan tipe dari waham pada diagnosis.1,7
2.2 Epidemiologi Gangguan Waham Menetap
Pemeriksaan akurat tentang epidemiologi gangguan waham menetap
dihalangi oleh relatif jarangnya gangguan ini. Selain itu juga karena pasien
dengan gangguan waham menetap jarang mencari bantuan psikiater kecuali bila
dipaksa oleh keluarganya atau oleh pengadilan. Walaupun adanya keterbatasan
tersebut, literatur mendukung pendapat bahwa gangguan waham menetap,
walaupun merupakan suatu gangguan yang jarang namun memang ada dalam
populasi dengan angka yang tidak tetap.1,3
Prevalensi terjadinya gangguan waham menetap di Amerika Serikat
berdasarkan DSM-IV-TR adalah sekitar 0,03%, dimana angka ini jauh dibawah
angka kejadian skizofrenia (1%) dan gangguan mood (5%). 1,4 Insidensi tahunan
gangguan waham menetap adalah 1 sampai 3 kasus baru per 100.000 populasi,
yaitu kira-kira 4% dari semua perawatan pertama pasien psikiatrik. Usia rata-rata
adalah kira-kira 40 tahun, tetapi rentang usia untuk onsetnya adalah berkisar
antara 18 tahun sampai 90 tahun.4 Namun, studi lain yang dilakukan di Spanyol
pada tahun 2008 berdasarkan rekam medis di suatu rumah sakit, mendapati 370
pasien yang dirawat, didiagnosa dengan gangguan waham menetap, dimana
ditemukan rata-rata usia pesien-pasien

adalah 55 tahun. Wanita lebih sering

menderita gangguan waham menetap dengan rasio 3:1.1,3


2.3 Etiologi Gangguan Waham Menetap
Etiologi dari gangguan waham menetap masih belum diketahui secara
pasti.4 Terdapat beberapa sangkaan mengenai terjadinya gangguan waham
menetap. Data yang paling mendukung berasal dari keluarga yang melaporkan
suatu peningkatan prevalensi terjadinya gangguan waham menetap (4,8%),
dimana gangguan waham menetap lebih sering terjadi pada seseorang dengan
riwayat keluarga menderita penyakit yang sama atau menderita skizofrenia. Selain
itu juga terdapat teori biologikal yang menghubungkan kejadian gangguan waham
4

menetap akibat adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di otak. 1,2,6 Keadaan


neurologis yang paling sering berhubungan dengan waham adalah kelainan yang
mempengaruhi sistem limbik dan ganglia basalis. Pasien yang memiliki waham
yang disebabkan oleh kondisi neurologis tanpa adanya gangguan kecerdasan
cenderung memiliki waham yang kompleks yang mirip dengan yang ditemukan
pada pasien dengan gangguan waham menetap.1
Follow-up jangka panjang pada pasien dengan gangguan waham menetap
menyatakan bahwa diagnosis gangguan waham menetap adalah relatif stabil,
dengan kurang seperempat pasien akhirnya diklasifikasikan kembali sebagai
penderita skizofrenia dan kurang dari 10 persen akhirnya diklasifikasikan kembali
sebagai penderita suatu gangguan mood.1
2.4 Gambaran Klinis Gangguan Waham Menetap
1. Status Mental
a. Deskripsi Umum
Pasien biasanya berdandan dengan baik dan berpakian baik, tanpa bukti
adanya disintegritas nyata pada kepribadian atau aktifitas harian. Tetapi
pasien mungkin terlihat aneh, pencuriga atau bermusuhan. Jika pasien
berusaha melibatkan klinisi sebagai suatu sekutu di dalam wahamnya,
klinisi tidak boleh berpura-pura menerima wahamnya, karena dengan
melakukan hal itu akan lebih jauh mengacaukan kenyataan dan
menentukan batas untuk perkembangan ketidakpercayaan antara pasien
dan ahli terapi. Hal yang mencolok paling penting dalam gangguan waham
adalah bahwa pemeriksaan status mental menunjukkan bahwa mereka
sangat normal kecuali adanya system waham abnormal yang jelas.1,7
b. Mood, Perasaan dan Afek
Mood pasien biasanya konsisten atau sejalan dengan isi waham. Misalnya
pasien dengan waham kejar akan curiga.1,7
c. Gangguan Persepsi
Menurut DSM-IV-TR, halusinasi taktil atau penciuman mungkin
ditemukan jika hal tersebut konsisten dengan waham (sebagai contoh;
waham somatik tentang bau badan). Beberapa pasien dengan gangguan
5

waham juga mengalami pengalaman halusinasi lainnya hampir


semuanya selalu dnegar, bukan visual. 1,7
d. Pikiran
Gangguan isi pikiran berupa waham merupakan gejala utama dari
gangguan ini. Waham biasanya bersifat sistematis dan karakteristiknya
adalah dimungkinkan. 1,7

2.

Sensorium dan Kognisi


a. Orientasi dan Daya Ingat
Pasien dengan gangguan waham menetap biasanya tidak memiliki kelainan
dalam orientasi, serta daya ingat dan proses kognitif lainnya tidak
terganggu. 1,7
b. Pengendalian Impuls
Klinisi harus memeriksa pasien dengan gangguan waham menetap untuk
menentukan ada atau tidak gagasan atau rencana melakukan material
wahamnya dengan bunuh diri, membunuh atau melakukan tindakan
kekerasan. Insidensinya tidak diketahui pada penyakit ini. 1,7
c. Pertimbangan dan Tilikan
Pasien dengan gangguan waham menetap hampir seluruhnya tudak
memiliki tilikan terhadap konsisi mereka dan hampir seluruhnya dibawa ke
rumah sakit oleh keluarga, perusahaan atau polisi. 1,7
d. Kejujuran
Pasien dengan gangguan waham menetap biasanya dapat dipercaya dalam
informasinya.4
2.5 Tipe-Tipe Gangguan Waham Menetap
Terdapat beberapa tipe pada gangguan waham menetap, yaitu :
a. Tipe Kejar (Persecutory Type)
Tipe ini adalah tipe gangguan waham menetap yang paling sering
dijumpai.1 Waham kejar mungkin sederhana atau terperinci dan biasanya berupa

tema tunggal atau sejumlah tema yang berhubungan, seperti disekongkoli,


dicurangi, dimata-matai, diikuti, diracuni, difitnah secara kejam, diusik atau
dihalang-halangi dalam menggapai tujuan jangka panjang. Hinaan kecil dapat
menjadi besar dan menjadi pusat sistem waham. Orang dengan waham kejar
seringkali membenci, marah, dan mungkin mereka melakukan kekerasan terhadap
orang lain yang diyakininya akan menyerang dirinya. Yang membedakannya
dengan tipe kejar pada skizofrenia adalah waham pada gangguan waham menetap
umumnya tersistematisasi, koheren dan dapat dibenarkan secara logika. Seringkali
orang dengan waham kejar menolak untuk mencari bantuan.7 Seseorang dengan
gangguan waham tipe ini akan mudah marah, mudah tersinggung dan terkadang
dapat bersikap agresif bahkan sampai melakukan tindakan pembunuhan.8
b.

Tipe Erotomania (Erotomanic Type)


Gangguan waham menetap tipe ini memiliki beberapa nama lain seperti
sindroma De Cleambault atau psychose passionelle.8 Pada tipe erotomanik,
waham inti adalah bahwa pasien dicintai mati-matian oleh seseorang, dimana
orang yang dibayangkannya biasanya berasal dari strata status yang lebih tinggi
darinya, seperti bintang film atau atasan kerja, atau dapat pula seseorang yang
sudah menikah atau seseorang yang tidak mungkin digapai. 1 Pasien dengan
waham erotomanik adalah sumber gangguan bermakna terhadap masyarakat.7,8
Onset gejala dapat mendadak dan kemudian menjadi kronis sehingga
seringkali menjadi pusat perhatian utama pada kehidupan seseorang yang terkena.
Usaha untuk berhubungan dengan objek waham, baik melalui telepon, surat,
hadiah, kunujngan bahkan mengawasi sampai mengikuti adalah sering. Pasien
yang terkena biasanya adalah wanita, meskipun didalam sampel forensik sebagian
besar adalah laki-laki. Orang yang terkena seringkali ditemukan hidup
menyendiri, menarik diri dari masyarakat, memiliki kontak seksual terbatas dan
memiliki level sosial rendah atau pekerjaan yang sederhana. Angka kejadian
gangguan waham tipe ini adalah 1-2%.8,9

c. Tipe Kebesaran (Grandiose Type)

Gangguan waham menetap tipe ini juga disebut megalomania. Bentuk


paling umum dari waham kebesaran adalah keyakinan bahwa dirinya memiliki
wawasan atau bakat yang luar biasa tetapi tidak diketahui, atau membuat
penemuan penting, dimana pasien telah dibawa ke berbagai badan pemerintahan
seperti FBI. Waham yang lebih jarang adalah bahwa penderita memiliki hubungan
khusus dengan seseorang yang terkemuka atau isi waham religius, dimana
penderita menjadi pemimpin sekte religius.1,7
d.

Tipe Cemburu (Jealous Type)


Gangguan waham menetap tipe ini juga dikenal dengan conjugal paranoia
dan sindroma Othello. Waham tipe ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada
wanita. Waham ini jarang dijumpai, hanya sekitar kurang dari 0,2% dari semua
pasien psikiatrik. Onsetnya seringkali mendadak dan gejalanya akan menghilang
hanya setelah perpisahan atau kematian pasangannya.1,7 Waham cemburu dapat
menyebabkan penyiksaan verbal dan fisik yang bermakna terhadap pasangannya
dan bahkan dapat menyebabkan pembunuhan.7,8,9

e. Tipe Somatik (Somatic Type)


Waham

tipe

ini

juga

dikenal

sebagai

psikosis

hipokondriakal

monosimptomatik. Perbedaan antara hipokondriasis dengan gangguan waham


menetap tipe somatik terletak pada derajat keyakinan yang dimiliki pasien tentang
anggapan adanya penyakit dalam dirinya.1 Kesadaran pasien biasanya baik dan
gejala yang ditimbulkannya tidak berhubungan dengan penyakit umum yang
mendasarinya atau penyakit psikiatri lainnya. Waham tipe ini dapat terjadi secara
perlahan-lahan atau tiba-tiba. Pada sebagian pasien, penyakitnya tidak berulang
meskipun

derajat

keparahan

waham

ini

berfluktuasi.

Kecemasan

dan

kewaspadaan yang berlebihan adalah karakteristik dari waham ini.7,8 Waham yang
paling sering diderita adalah infeksi (misalnya bakteri, virus, parasit),
dismorfofobia (misalnya bentuk yang tidak sesuai pada hidung, payudara), waham
tentang bau badan yang berasal dari kulit, mulut atau vagina, atau waham bahwa
bagian tubuh tertentu seperti usus besar, tidak berfungsi. Dapat terjadi halusinasi

taktil yang behubungan dengan tema waham, misalnya pasien merasa ada
merayap dibawah kulitnya.1,7
f. Tipe Campuran (Mixed Type)
Pasien menunjukkan lebih dari satu tipe waham diatas dan tidak ada satu
tema waham yang menonjol.1,7

g.

Unspecified Type
Pasien menunjukkan tema waham yang tidak memenuhi salah satu waham
diatas. Sebagai contoh misidentifikasi sindroma, seperti sindroma Capgras, yaitu
keadaan yang dikarakteristikan dimana pasien percaya bahwa anggota
keluarganya telah di gantikan dengan seorang penipu ulung.1,8

2.6 Diagnosis Gangguan Waham Menetap


Dalam mendiagnosa suatu gangguan waham menetap, dapat digunakan kriteria
berdasarkan DSM-IV-TR, yaitu1,3,7 :
Tabel 2.1 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Waham Menetap
A : Waham yang tidak aneh (yaitu melibatkan situasi yang terjadi didalam
kehidupan nyata, seperti sedang diikuti, diracuni, ditulari virus, dicintai dari
jarak jauh atau dikhianati oleh pasangan atau kekasih atau menderita suatu
penyakit) selama sekurangnya 1 bulan.
B : Kriteria A untuk skizofrenia tidak terpenuhi (pasien tidak menunjukkan
gejala halusinasi yang dominan, bicara terdisorganisasi, gejala negatif seperti
afek datar). Catatan : halusinasi taktil dan cium mungkin ditemukan pada
gangguan delusional jika berhubungan dengan waham.
C : Terlepas dari gangguan waham (-waham) atau percabangannya, fungsi adalah
tidak terganggu dengan jelas dan perilaku tidak jelas aneh atau kacau.
D : Jika episode mood telah terjadi secara bersama-sama dengan waham, lama
totalnya adalah relatif singkat dibandingkan lama periode waham.

E : Gangguan adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi
medis umum.
Tabel dari DSM-IV : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disodred, ed. 4. Hak cipta: American Psychiatric
Association Washington, DC; 1994. Digunakan dengan izin.

2.7 Diagnosis Banding Gangguan Waham Menetap


Penyakit medis dan neurologis dapat tampak dengan waham. Tempat yang
paling sering untuk lesi ini adalah ganglia basalis dan sistem limbik. Pemeriksaan
medis termasuk skrining toksikologi dan pemeriksaan laboratorium rutin harus
dilakukan. Tes neuropsikologi dan elektroensefalografi (EEG) atau suatu
pemeriksaan tomografi computer (CT-Scan) mungkin diindikasikan pada saat
persentasi pertama, khususnya jika tanda atau gejala lain menyatakan adanya
gangguan kognitif atau lesi elektrofisiologi atau struktural.1
Tabel 2.2 Kondisi Neurologis dan Medis yang Dapat Tampak dengan Waham1
Gangguan ganglia basalis penyakit Parkinson, penyakit Huntington
Keadaan Defisiensi B12, folat, tiamin, niasin
Delirium
Demensia penyakit Alzheimer, penyakit Pick
Akibat obat amfetamin, antikolinergik, antidepresan, antihipertensif, obat
antituberkulosis, obat antiparkinson, cimetidine, kokain, disulfiram
(Antabuse), halusinogen
Endokrinopati adrenal, tiroid, paratiroid
Patologi sistem limbik epilepsi, penyakit serebrovaskuler, tumor
Sistemik ensefalopati hepatik, hiperkalsemia, hipoglikemia, porfiria,
uremia

10

Diagnosis banding yang paling mendekati gangguan waham menetap


adalah skizofrenia tipe paranoid.1,3,7 Dimana, hal yang membedakannya dengan
gangguan waham menetap adalah kualitas waham. Menurut PPDGJ III, pedoman
diagnostik Skizofrenia tipe paranoid adalah sebagai berikut11 :
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
2. Sebagai tambahan :
a. Halusinasi dan/atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming) atau bunyi tawa (laughing).
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual atau
lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada, tetapi jarang
menonjol.
Waham dapat berupa hampir semua jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau
passivity (delusion of passivity) dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam adalah yang paling khas.
b. Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.
2.8 Penatalaksanaan Gangguan Waham Menetap
Terdapat beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita
gangguan waham menetap, yaitu :
a. Perawatan di Rumah Sakit
Pada umumnya pasien dengan gangguan waham menetap dapat diobati atas
dasar rawat jalan. Tetapi klinisi harus mempertimbangkan beberapa hal.
Pertama, diperlukan pemeriksaan medis dan neurologis pada diri pasien untuk
menentukan apakah terdapat kondisi medis nonpsikiatrik yang menyebabkan
penyakit ini. Kedua, pasien perlu diperiksa tentang kemampuannya
mengendalikan impuls kekerasan yang mungkin berhubungan dengan
waham. Ketiga, perilaku tentang waham mungkin secara bermakna telah
11

mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi didalam keluarga atau


pekerjaannya.1
b. Farmakoterapi
Antipsikotik telah digunakan sejak tahun 1970 sebagai pengobatan gangguan
waham menetap. Riwayat pasien tentang respons medikasi adalah pedoman
yang terbaik dalam memilih suatu obat. Seringkali dokter harus memulai
dengan dosis rendah sebagai contoh; haloperidol (Haldol) 2 mg dan
meningkatkan dosis secara perlahan. Jika pasien gagal berespons dengan obat
pada dosis yang cukup dalam percobaan selama enam minggu, antipsikotik
dari kelas lain harus dicoba. Beberapa peneliti telah menyatakan bahwa
Pimozide (Orap) mungkin efektif pada gangguan waham menetap tipe
somatik. Terapi kombinasi sering dilakukan, termasuk mengkombinasi obat
antipsikotik dengan antidepresan. Secara keseluruhan, penderita gangguan
waham menetap sangat berespon terhadap pengobatan (antipsikosik) yang
diberikan, dimana 50% dilaporkan sembuh dari gejalanya, 90% menunjukkan
adanya perubahan dari klinisnya.1
c. Psikoterapi
Memberikan informasi dan edukasi yang benar mengenai penyakit pasien,
sehingga diharapkan keluarga dapat menerima pasien dan mendukungnya ke
arah

penyembuhan.

Memberitahukan

kepada

keluarga

untuk

tidak

memberikan tekanan emosional kepada pasien. Selain itu, keluarga juga


diharapkan mampu mengawasi kepatuhan pasien untuk kontrol minum obat,
dan meminta keluarga untuk lebih mendengarkan dan berkomunikasi dengan
pasien.8 Tanda terapi yang berhasil mungkin adalah suatu kepuasan
penyesuaian sosial.1
2.9 Prognosis
Gangguan waham menetap diperkirakan merupakan diagnosis yang cukup
stabil. Kurang dari 25% dari semua pasien gangguan waham menetap menjadi
skizofrenia. Kira-kira 50% pasien pulih pada follow up jangka panjang, 20%

12

lainnya mengalami penurunan gejalanya dan 30% lainnya tidak mengalami


perubahan pada gejalanya.1
2.11. Komplikasi
Tingkat keparahan komplikasi dihubungkan dengan jenis waham dan
daerah sistem limbik pasien yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dalam
beberapa kasus kehidupan pasien mungkin tampak hampir sama sekali tidak
terganggu. Seorang pasien dengan paranoia grandiosa mungkin menghabiskan
banyak waktunya seharian di tempat yang tertutup dan sendiri, membuat suatu
sketsa/gambar yang rumit, namun perilakunya normal dengan keluarga dan di
tempat kerja. Pasien dengan paranoia cemburu biasanya mengirimkan surat-surat
ancaman untuk orang yang disangka berselingkuh dengan istri/suaminya. 12
Komplikasi yang paling berat adalah pembunuhan, khususnya pada pasien
erotomania dan persekutori. Sebagai contoh, seorang subtipe persecutory, yang
"dianiaya",

dapat

menjadi

penganiaya

dan

membunuh

orang

yang

menganiayanya sebelumnya.12

13

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Gangguan waham menetap didefinisikan sebagai suatu gangguan
psikiatrik yang tidak diketahui penyebabnya dan memiliki gejala utama adalah
waham. Prevalensi terjadinya gangguan waham menetap dianggap sama dengan
prevalensi di Amerika Serikat, yaitu 0,03%, dimana angka ini jauh berbeda
dengan prevalensi terjadinya skizofrenia dan gangguan mood. Angka munculnya
kasus baru adalah 1 sampai 3 kasus baru per 100.000 per tahunnya. Gangguan
waham menetap ini terjadi lebih banyak pada wanita dari pada laki-laki dengan
ratio perbandingannya adalah 3:1.
Penyebab terjadinya gangguan waham menetap masih belum diketahui.
Namun, terdapat beberapa pendapat, yaitu faktor genetik dan faktor biologi.
Penderita gangguan waham menetap umumnya memiliki status mental, sensorium
dan kognisi yang baik.
Terdapat tujuh tipe gangguan waham menetap, diantaranya adalah tipe
kejar, tipe erotomanik, tipe kebesaran, tipe cemburu, tipe somatik, tipe campuran
dan tipe tidak tidak ditentukan. Tipe kejar dan tipe cemburu merupakan tipe
gangguan waham menetap yang paling sering dijumpai, tipe kebesaran tidak
begitu sering, tipe erotomanik dan tipe somatik merupakan tipe yang paling jarang
terjadi.
Dalam menentukan diagnosa gangguan waham menetap, dapat dipakai
kriteria yang diadaptasi dari DSM-IV-TR. Diagnosa banding yang paling

14

mendekati gangguan waham menetap adalah skizofrenia tipe paranoid, dimana


yang membedakannya adalah kualitas dari wahamnya.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada penderita gangguan waham
menetap adalah perawatan rumah sakit, farmakoterapi, psikoterapi, faktor
psikodinamik dan terapi keluarga. Gangguan waham menetap memiliki prognosa
yang bisa dikatakan baik, karena kurang dari 50% penderitanya dapat sembuh
dengan follow up jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Grebb. Gangguan
Delusional. Dalam: synopsis psikiatri. Jilid satu. Jakarta: Binapura Aksara;
2010. hal. 474; 771 85.
2. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition Text
Revision. 2009. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins.
3. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat.
Jakarta: Widya Medika; 1998. hal. 216 8.
4. Lowenstein, Daniel H, dan Brian K. Alldredge. Mental Health and Delusional
Disorder

(diakses

10

Nov

2014).

Diunduh

dari

URL:

www.webmed.com/schizophrenia/delusional-disorder.
5. Ulfandi, Devby. Gangguan Delusional (Makalah Ilmiah). Jakarta: Fakultas
Kedokteran Univeritas Trisakti.
6. Chopra, Shivani dan Raheel A. Khan. Delusional Disorder. 2011 Maret 10
(diakses10

Nov

2014).

Diunduh

dari

URL:

http://emedicine.medscape.com/article/292991-overview#aw2aab6b3.
7. Grover, Sandeep, Nitin Gupta dan Suhendra Kumar Matto. 2005. Delusional
Disorder : An Overview (diakses 10 Nov 2014). Diunduh dari URL:
www.gjpsy.uni-goettingen.de.
8. Kesley, Jeffrey E, D Jeffrey Newport dan Charles B. Nemeroff. 2006.
Prinsiples of Psychopharmacology for Mental Health Professionals. Canada :
Wiley-Liss Inc.

15

9. Amir, Nurmiati. Skizofrenia. Dalam: buku ajar psikiatri. Sylvia D.E,


Gitayanti H., editor. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2010. hal. 172 3.
10.Soares JC, Gershon S. 2004 Handbook of Medical Psychiatry ed. 2 nd.

Philadelphia : Elsevier.

16