Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

DEMAM BERDARAH DENGUE


DENGAN TANDA BAHAYA

Pembimbing:
dr. H. Kamal

Disusun oleh:
dr. Yoanneveline

RSUD KOTA CILEGON


JANUARI
2016
LAPORAN KASUS

No. ID Peserta
Nama Peserta
No. ID Wahana
Nama Wahana
Topik

:
: dr. Yoanneveline
:
: RSUD Cilegon
: Jenis dan Penatalaksanaan Demam Berdarah

Dengue
Tanggal Kasus
Nama Pasien

: 4 Januari 2016
: An. Z

Tanggal Presentasi

No. Rekam Medis : 481533


Nama Pendamping :
dr. H. Kamal

Narasumber :
dr. Ibnu, SpA

Tempat Presentasi
: RSUD Cilegon
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Diagnostik
Neonatu
s
Deskripsi
Tujuan
Bahan
bahasan :
Cara
Membaha

Keterampilan

Penyegaran

Manajemen
Masalah
Remaj
Bayi Anak
Dewasa Lansia
a
: membahas kasus demam berdarah dengue
: mengetahui kasus demam berdarah dengue
Tinjauan
Riset
Kasus
pustaka
Diskusi

Tinjaua
n pustaka
Istimewa
Bumil

Audit

Presentasi

E-mail

Pos

DATA PASIEN
Umur: 5 th 5 bln
Telp:

No. RM: 481533


Terdaftar Sejak :

s:
Nama : An. Z
Nama Klinik :

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS

Data
Nama
Umur
Jenis Kelamin

Pasien
An. ZT
5 tahun 5 bulan
Perempuan

Ayah
Tn. R
38 tahun
Laki-laki

Ibu
Ny. S
32 tahun
Perempuan

Alamat
Agama
Suku bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Penghasilan
Keterangan

Link Ragas Walikuku


Islam
Islam
Sunda
Sunda
SMP
SMP
Swasta
IRT
-

Islam
Sunda
Hubungan
dengan orang
tua : anak
kandung

II.

ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Demam tinggi
b. Keluhan Tambahan
Nyeri perut, mual, nyeri tulang dan sendi
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan demam sejak 5 hari SMRS.
Demam dirasakan terus menerus. Demam dirasakan cukup
tinggi namun tidak pernah diukur menggunakan termometer
sebelumnya,

pasien

tidak

menggigil.

Ibu

pasien

sudah

memberikan obat demam untuk pasien namun keluhan


demam hanya hilang sementara kemudian akan kembali
demam lagi. Keluhan lain yang dirasakan oleh pasien, mual
dan nyeri perut sehingga pasien tidak mau makan. Pasien juga
merasa nyeri di tulang dan sendi.
Riwayat bepergian selama 1 minggu terakhir disangkal oleh
orang tua pasien.
Keluhan sesak, muntah berwarna kecoklatan, BAB berwarna
hitam disangkal oleh orang tua pasien. Pasien belum BAB
sejak 3 hari SMRS. Keluhan gusi berdarah muncul pada
perawatan hari kedua di rumah sakit.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

Riwayat alergi disangkal.

e. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama

dengan pasien.
Riwayat alergi dalam keluarga disangkal.

f. Riwayat Lingkungan
Orang tua pasien merasa kamar pasien belum bebas dari

nyamuk.
Terdapat penampungan air bersih di rumah pasien.
Ibu pasien merasa pasien sering digigit nyamuk saat

bermain pada sore hari.


Orang di lingkungan pasien ada yang menderita demam
berdarah dalam 2 minggu terakhir.

g. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :


Morbiditas kehamilan

Tidak

Perawatan antenatal
Tempat kelahiran

kelainan
Rutin
Puskesmas

Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi
Keadaan bayi

Bidan
Spontan
9 bulan
Normal, BBL 3 kg

KEHAMILAN

KELAHIRAN

h. Riwayat Imunisasi :
Vaksin
BCG

Dasar (umur)
1

DPT

bln
2

POLIO

bln
bln
Lahi 2

bln
4

bln

bln

CAMPAK

r
9

HEPATITIS

bln
Lahi 1

bln

bln

bln

Ulangan (umur)

ditemukan

i. Identitas Keluarga
Ayah

Ibu

Anak

Anak
Kedua
An. MF
7 tahun
Sehat

Nama
Perkawinan

Tn. R
Pertama

Ny.S
Pertama

Pertama
An. D
-

ke
Umur
Keadaan

38 tahun
Sehat

32 tahun
Sehat

10 tahun
Sehat

kesehatan
Anak
Nama
Perkawinan

Ketiga
An. ZT
Pertama

ke
Umur
Keadaan

5 tahun
Sakit

kesehatan
II.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan dibangsal melati tanggal 5 Januari
2016
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 116 x/menit, reguler, kuat angkat

Respirasi

: 22 x/menit, reguler

Suhu

: 38,5 C (aksilla)

Tekanan darah

: 90/70 mmHg

BB

: 14 kg

TB

: 96 cm

IMT

: 16,5

Status gizi

: IMT/U 1 SD normal

Kelainan mukosa kulit /subkutan yang menyeluruh


-

Eritema makulopapular

: (-)

Pucat

: (-)

Sianosis

: (-)

Ikterus

: (-)

Perdarahan

: (-)

Oedem tungkai

: (-)

Turgor

: Cukup

KEPALA
-

Bentuk

: Bulat, simetris

Rambut

: Hitam, tebal, tidak mudah dicabut

Mata

: Kelopak mata oedem -/-, konjungtiva anemis-/-,


sklera ikterik -/-, cekung -/-

Telinga

Normotia,

simetris,

liang

sempit,

serumen

minimal, pus (-/-)


-

Hidung

: Bentuk normal, septum deviasi (-), pernafasan

cuping
hidung (-), sekret (-), perdarahan aktif (-)
-

Mulut

: Bibir basah, lidah kotor (-) tonsil T1-T1, merah

muda,
kripta melebar (-/-), dentritus (-/-), faring
hiperemis (-)
LEHER
-

Bentuk

: Simetris

Trakhea

: Di tengah

KGB

: Tidak membesar

THORAKS

Inspeksi

ANTERIOR
KIRI
KANAN
Pergerakan
Pergerakan

POSTERIOR
KIRI
KANAN
Pergerakan
Pergerakan

pernafasan

pernafasan

pernafasan

pernafasan

simetris

simetris

simetris

simetris

Retraksi (-)

Retraksi (-)

Retraksi (-)

Retraksi (-)

Palpasi

Pergerakan:

Pergerakan:

Pergerakan:

Pergerakan:

simetris

simetris

simetris

simetris

Vokal

Vokal

Vokal

Vokal

Fremitus:

Fremitus:

Fremitus:

Fremitus:

Perkusi
Auskult

simetris
Sonor
Vesikuler

simetris
Sonor
Vesikuler

simetris
Sonor
Vesikuler

simetris
Sonor
Vesikuler

asi

Ronkhi (-/-)

Ronkhi (-/-)

Ronkhi (-/-)

Ronkhi (-/-)

Wheezing (-/-)

Wheezing

Wheezing

Wheezing

(-/-)

(-/-)

(-/-)

JANTUNG
-

Inspeksi

Palpasi

: Iktus kordis tidak terlihat


: Iktus kordis teraba sela iga IV garis midclavicula

sinistra
-

Perkusi

: Batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal

dextra
Batas jantung kiri sela iga VI garis midclavicula
sinistra
-

Auskultasi

: Bunyi jantung I/II reguler, murmur (-),

gallop (-)
ABDOMEN
-

Inspeksi

Auskultasi

Palpasi

: Datar, simetris
: Bising usus (+) normal
: Turgor kulit cukup, hepar teraba 1/3 1/3 tepi

tajam,
konsistensi kenyal, permukaan rata, NTE (+)
-

Perkusi

: Timpani, shifting dullness (-)

EKSTREMITAS
-

Superior
(-)

: edema (-/-), sianosis (-), ikterik (-), akral dingin

Cap refill < 2


Petekie (+)
-

Inferior

: edema (-/-), sianosis (-), ikterik (-), akral dingin

(-)
Cap refill < 2
Petekie (+)
FOLLOW UP
5/

S
Demam hari

O
KU: compos

A
DHF

P
Diet: puasa,

ke-6

mentis

grade

NGT alir (warna

Mimisan +

S : 38,50C

II

merah

Gusi

HR: 116 x/menit

denga

kecoklatan,

berdarah +

reguler, kuat

stall cell +)

Nyeri perut

angkat

Upper

IVFD : RL 25

kanan atas

RR : 22 x/ menit

GI

tetes per menit

dan ulu hati

TD : 90/70 mmHg

Bleedi

makro

Mata : dbn

ng

Gelofusin 200

THT: dbn

ml

Thoraks : Cor dbn

FFP 200 ml

Pulmo BND

Trombosit 3

vesikuler +/+,

unit

Ronkhi -/-, Wh -/-,

Aminofusin

retraksi (-)

250 ml

Abdomen : NTE

Mm/ Inj

(+) Hepar teraba

Paracetamol

1/3 1/3

drip 140 mg

Ekstremitas : CRT

(suhu >

< 2

38,5C)
Inj Ranitidine 2
x 14 mg
Paracetamol
syrup 3 x 1

Cth
Cek DPR/12
6/

Gusi

KU: compos

DHF gr

jam
Diet : puasa,

berdarah -

mentis

II

NGT alir

Lemas

S : 360C

(stallcell -)

HR: 100 x/menit

coba

reguler

minum/makan

RR : 22 x/ menit

IVFD : RL 20

Mata : dbn

tetes per menit

THT: dbn

makro

Thoraks : Cor dbn

Aminofusin

Pulmo BND

250 mg

vesikuler +/+,

Mm/ Inj

Ronkhi -/-, Wh -/-,

Paracetamol

retraksi (-)

drip 200 mg

Abdomen : NTE (-)

Inj Ranitidine 2

Hepar teraba 1/3

x 14 mg

1/3

Cek DPR/12

Ekstremitas : CRT

jam

< 2 rash
7/
1

Keluhan (-)

convalesence (+)
KU: compos

DHF gr

Diet : puasa,

mentis

II

NGT alir

S : 36,20C

(stallcell -)

HR: 100 x/menit

rencana aff

reguler

NGT coba

RR : 22 x/ menit

minum/makan

Mata : dbn

IVFD : RL 20

THT: dbn

tetes per menit

Thoraks : Cor dbn

makro

Pulmo BND

Mm/ Inj

vesikuler +/+,

Paracetamol

Ronkhi -/-, Wh -/-,

drip 200 mg

retraksi (-)

Inj Ranitidine 2

Abdomen : NTE (-)

x 14 mg

hepar teraba 1/3

Cek DPR/24

1/3

jam

Ekstremitas : CRT
<2 rash
8/

Keluhan (-)

convalesence (+)
KU: compos

DHF gr

BLPL

mentis

II

Elkana 3x1 cth

S : 36,30C
HR: 98 x/menit
reguler
RR : 24 x/ menit
Mata : dbn
THT: dbn
Thoraks : Cor dbn
Pulmo BND
vesikuler +/+,
Ronkhi -/-, Wh -/-,
retraksi (-)
Abdomen : NTE (-)
hepar teraba 1/3
1/3
Ekstremitas : CRT
<2 rash
convalesence (+)
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium
Jenis
Leukosit (/uL)
Hemoglobin
(g/dl)
Hematokrit
(%)

4/1
2140
12,2

5/1
4680
11

5/1
5320
10,8

6/1
6400
9,5

6/1
4640
11,3

7/1
5300
9,7

8/1
4910
8,8

36

33,5

32,4

29

41,9

27,3

26,4

Trombosit

18

17

22

46

49

52

91

(rb/uL)
VI.

DIAGNOSIS
Dengue Hemorragic Fever grade II dengan Tanda Bahaya

VII.

PENATALAKSANAAN
Diet: puasa, NGT alir (warna merah kecoklatan, stall cell +)
IVFD : RL 25 tetes per menit makro
Gelofusin 200 ml
FFP 200 ml
Trombosit 3 unit
Aminofusin 250 ml
Medikamentosa
Inj Paracetamol drip 140 mg (suhu > 38,5C)
Inj Ranitidine 2 x 14 mg
Paracetamol syrup 3 x 1 Cth
Cek DPR/12 jamI

X.

PEMERIKSAAN ANJURAN

NS-1 hari pertama hingga ke-3 penyakit atau IgM antidengue hari ke-4 perjalanan penyakit

X.

PROGNOSA

Quo ad Vitam

Quo ad Functionam : Dubia ad bonam

Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam

: Dubia ad bonam

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) merupakan masalah kesehatan di Indonesia, dimana
seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit
penyakit

DHF.

Sebab

baik

virus

penyebab

maupun

nyamuk

penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun


fasilitas umum diseluruh Indonesia.
Penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam
Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu bentuk klinis dari
penyakit akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia.
Sedangkan manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa
Dengue Fever (DF) dan Dengue Haemoragic Fever (DHF).
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

peningkatan

dan

penyebaran kasus DBD sangat kompleks, yaitu (1) Pertumbuhan


penduduk yang tinggi, (2) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak
terkendali, (3) Tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di
daerah endemis, dan (4) Peningkatan sarana transportasi.1

Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi


berbagai faktor antara lain status imunitas pejamu, kepadatan
vektor nyamuk, transmisi virus dengue, keganasan (virulensi) virus
dengue, dan kondisi geografis setempat. Dalam kurun waktu 30
tahun sejak ditemukan virus dengue di Surabaya dan Jakarta, baik
dalam jumlah penderita maupun daerah penyebaran penyakit
terjadi peningkatan yang pesat. Sampai saat ini DBD telah
ditemukan di seluruh propinsi di Indonesia, dan 200 kota telah
melaporkan adanya kejadian luar biasa. Incidence rate meningkat
dari 0,005 per 100,000 penduduk pada tahun 1968 menjadi berkisar
antara 6-27 per 100,000 penduduk. Pola berjangkit infeksi virus
dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu
yang panas (28-32C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk
Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di
Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap
tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda untuk
setiap tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi
mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak
terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi
Demam

Berdarah

Dengue/DBD

(dengue

haemorrhagic

fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus


dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia
dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang
ditandai

oleh hemokonsentrasi

(peningkatan hematokrit)

atau

penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue


(dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang
ditandai oleh renjatan/syok.2

II.

Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan

oleh virus dengue, yang termasuk dalam group B arthropod borne


virus (arbovirus) dan sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus,
famili Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30
nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul 4x106 .
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam
berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan
DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Infeksi dengan salah satu
serotipe

akan

menimbulkan

antibodi

serotipe

yang

bersangkutan

tetapi

seumur
tidak

ada

hidup

terhadap

perlindungnan

terhadap serotipe yang lain. Seseorang yang tinggal di daerah


endemis dengue dapat terinfeksi dengan 3 atau bahkan 4 serotipe
selama hidupnya. Keempat jenis serotipe virus dengue dapat
ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.3
Virus Dengue dapat ditularkan oleh Nyamuk Aedes aegypti
dan nyamuk Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti merupakan
nyamuk yang paling sering ditemukan. Nyamuk Aedes aegypti
hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak di
dalam rumah, yaitu tempat penampungan air jernih atau tempat
penampungan air sekitar rumah. Nyamuk ini sepintas lalu tampak
berlurik, berbintik bintik putih, biasanya menggigit pada siang
hari, terutama pada pagi dan sore hari. Jarak terbang nyamuk ini
100 meter. Sedangkan nyamuk Aedes albopictus memiliki tempat
habitat di tempat air jernih. Biasanya nyamuk ini berada di sekitar
rumah dan pohon pohon, tempat menampung air hujan yang
bersih, seperti pohon pisang, pandan, kaleng bekas. Nyamuk ini
menggigit pada siang hari dan memiliki jarak terbang 50 meter.
III.

Patogenesis

Terdapat dua teori yang dianut sebagai patofisiologi DBD dan


DSS (Dengue Shock Syndrome) yaitu hipotesis infeksi sekunder
(secondary heterologues infection theory) dan hipotesis immune
enchancement. Kedua

hipotesis ini

menyatakan secara

tidak

langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi kedua, lebih besar


untuk menderita DBD yang lebih berat.
Virus dengue masuk melalui kulit ketika digigit oleh nyamuk A.
aegypty betina. Kemudian sistem imun humoral dan seluler akan
berperan dan mengaktivasi sel limfosit T CD4 dan CD8 untuk
perlawanan terhadap virus. Setelah infeksi, terbentuk antibody
serotype-specific dan cross-reactive antibody serta sel limfosit T
CD4 dan CD8 akan menetap selama bertahun tahun.
Kemudian antibody heterolog yang telah ada sebelumnya
akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudia
membentuk

kompleks

antigen-antibodi

yang

kemudian

akan

berkaitan dengan Fc reseptor dan membran sel leukosit terutama


makrofag. Oleh karena antibody heterolog, maka virus tersebut
tidak dapat dinetralisir oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan
replikasi virus dengue di dalam makrofag. Pada hipotesis immune
enchancement, dimana terjadi suatu proses yang meningkatkan
infeksi dan replikasi virus di dalam sel mononuclear. Sebagai
tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator
vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia
dan syok.

IV.

Diagnosis
Demam Dengue4
o Demam tinggi mendadak
o Ditambah 2 gejala penyerta atau lebih:
Nyeri kepala
Nyeri retro-orbita
Nyeri otot dan tulang
Ruam kulit
Dapat disertai manifestasi perdarahan (jarang)
IgM/IgG anti-dengue positif
o Tidak ditemukan tanda kebocoran plasma
Demam Berdarah Dengue
Gejala klinis berikut harus ada, yaitu:
o
Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas,
berlangsung terus menerus selama 2 7 hari.
o Terdapat manifestasi perdarahan, ditandai dengan :
Rample leede (+)
Petekie, ekimosis, purpura
Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
Hematemesis dan atau melena
o Hepatomegali
o Syok, nadi cepat dan lemah hingga tidak teraba,
hipotensi sampai tidak terukur, akral dingin, kulit
lembab, capilarry refill > 2 dan pasien tampak gelisah
Laboratorium4
o Trombositopenia (100.000/L atau kurang)
o Adanya
kebocoran
plasma
akibat
permeabilitas

kapiler,

berikut :
o Peningkatan
standar
o Peningkatan

dengan

peningkatan

manifestasi

hematokrit
hemoglobin

20%

sebagai

dari

20%

nilai

setelah

mendapat terapi cairan


o Efusi pleura/perikardial, asites, hipoproteinemia
Dua criteria klinis pertama ditambah satu dari criteria
laboratorium dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis
kerja DBD.
Derajat Penyakit4

Derajat I

Demam disertai gejala tidak khas, dan satu satunya

Derajat II

manifestasi perdarahan adalah uji bendung


Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit

Derajat III

dan atau perdarahan lain


Didapatkan kegagalan sirkulasi, nadi cepat atau lambat,
tekanan nadi menurun (20mmHg atau kurang) atau
hipotensi, sianosis di sekitar mulut , kulit dingin dan

Derajat IV

lembap, dan anak tampak gelisah


Syok berat (profound shock), nadi tidak teraba, tekanan
darah sulit diukur

V.

Manifestasi Klinis
a.

Demam5
Demam berdarah dengue biasanya ditandai dengan demam

yang mendadak tanpa sebab yang jelas, continue, bifasik. Biasanya


berlangsung 2-7 hari (Bagian Patologi Klinik, 2009). Naik turun dan
tidak berhasil dengan pengobatan antipiretik. Demam biasanya
menurun pada hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi
lemah, ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Masa kritis pda hari ke 3-5. Demam akut (38-40 C) dengan gejala
yang tidak spesifik atau terdapat gejala penyerta seperti , anoreksi,
lemah, nyeri punggung, nyeri tulang sendi dan kepala.
b.

Perdarahan4
Manifestasi perdarahan pada umumnya muncul pada hari ke

2-3 demam. Bentuk perdarahan dapat berupa: uji tourniquet positif


yang menandakan fraglita kapiler meingkat (Bagian Patologi Klinik,
2009). Kondisi seperti ini juga dapat dijumpai pada campak, demam
chikungunya, tifoid, dll. Perdarahan tanda lainnya ptekie, purpura,
ekomosis, epitaksis dan perdarahan gusi, hematemesisi melena. Uji
tourniquet positif jika terdapat lebih dari 20 ptekie dalam diameter
2,8 cm di lengan bawah bagian volar termasuk fossa cubiti.
c.

Hepatomegali4

Ditemukan pada permulaan demam, sifatnya nyeri tekan dan tanpa


disertai ikterus. Umumnya bervariasi, dimulai dengan hanya dapat

diraba hingga 2-4 cm di bawah lengkungan iga kanan (Bagian


Patologi Klinik, 2009). Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan
beratnya penyakit namun nyeri tekan pada daerah tepi hati
berhubungan dengan adanya perdarahan.
d.

Renjatan (Syok)4

Syok biasanya terjadi pada saat demam mulai menurun pada hari
ke-3 dan ke-7 sakit. Syok yang terjadi lebih awal atau periode
demam biasanya mempunyai prognosa buruk (Bagian Patologi
Klinik, 2009). Kegagalan sirkulasi ini ditandai dengan denyut nadi
terasa cepat dan lemah disertai penurunan tekanan nadi kurang
dari 20 mmHg. Terjadi hipotensi dengan tekanan darah kurang dari
80 mmHg, akral dingin, kulit lembab, dan pasien terlihat gelisah.
VI.
a.

Pemeriksaan Penunjang
Darah5
1) Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia) (
100000/I)
2) Hematokrit meningkat 20%, merupakan indikator akan
timbulnya renjatan. Kadar trombosit dan hematokrit dapat
menjadi diagnosis pasti pada DBD dengan dua kriteria
tersebut

ditambah

terjadinya

trombositopenia,

hemokonsentrasi serta dikonfirmasi secara uji serologi


hemaglutnasi
3) Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.
4) Lekosit menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga
5) Masa perdarahan memanjang
6) Protein rendah (hipoproteinemia)
7) Natrium rendah (hiponatremia)
8) SGOT/SGPT beisa meningkat
9) Asidosis metabolic
10)
b.

Urine

Eritrosit dalam tinja hampir sering ditemukan

Kadar

albumine

urine

positif

(albuminuria)

(Vasanwala,

Puvanendran, Chong, Ng, Suhail, Lee, 2011).


c.

Foto thorax

Pada pemeriksaan foto thorax dapat ditemukan efusi pleura.


Umumnya posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur di sisi kanan)
lebih baik dalam mendeteksi cairan dibandingkan dengan posisi
berdiri apalagi berbaring.
d.

USG

Pemeriksaan USG biasanya lebih disukai pada anak dan dijadikan


sebagai pertimbangan karena tidak menggunakan system pengion
(Sinar X) dan dapat diperiksa sekaligus berbagai organ pada
abdomen. Adanya acites dan cairan pleura pada pemeriksaan USG
dapat digunakan sebagai alat menentukan diagnose penyakit yang
mungkin muncul lebh berat misalnya dengan melihat ketebalan
dinding kandung empedu dan penebalan pancreas.
e.

Diagnosis Serologis4
1) IgM Elisa (Mac Elisa, IgM captured ELISA)

Banyak sekali dipakai. Uji ini dilakukan pada hari ke-4-5 infeksi virus
dengue karena IgM sudah timbul kamudian akan diikuti IgG. Bila IgM
negative uji ini perlu diulang. Apabila hari sakit ke-6 IgM msih
negative maka dilaporkan sebagai negative. IgM dapat bertahan
dalam darah samapi 2-3 bulan setelah adanya infeksi. Sensitivitas
uji Mac Elisa sedikit di bawah uji HI dengan kelebihan uji Mac Elisa
hanya memerlukan satu serum akut saja dengan spesifitas yang
sama dengan uji HI (Vasanwala dkk, 2011).
2) Identifikasi Virus
Cara diagnostic baru dengan reverse transcriptase polymerase
chain reaction (RTPCR) sifatnya sangat sensitive dan spesifik
terhadap serotype tertentu, hasil cepat didapat dan dapat diulang
dengan mudah. Cara ini dapat mendeteksi virus RNA dari specimen
yang berasal dari darah, jaringan tubuh manusia, dan nyamuk.
Sensitifitas PCR sama dengan isolasi virus namun PCR tidak begitu
dipengaruhi oleh penanganan specimen yang kurang baik bahkan

adanya antibody dalam darah juga tidak mempengaruhi hasil dari


PCR (Vasanwala dkk, 2011).
VIII. Penatalaksanaan
Pengobatan DBD bersifat suportif simptomatik dengan tujuan
memperbaiki sirkulasi dan mencegah timbulnya renjatan dan
timbulnya Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID).5

Penatalaksanaan Demam Dengue4


Penatalaksanaan kasus DD bersifat simptomatis dan suportif
meliputi :
-

Tirah baring selama fase demam akut

Antipiretik atau sponging untuk menjaga suhu tbuh tetap


dibawah 40 C, sebaiknya diberikan parasetamol

Analgesik atau sedatif ringan mungkin perlu diberikan pada


pasien yang mengalami nyeri yang parah

Terapi elektrolit dan cairan secara oral dianjurkan untuk


pasien yang berkeringat lebih atau muntah.

Penatalaksanaan Demam berdarah Dengue4


Berdasarkan ciri patofisiologis maka jelas perjalanan penyakit
DBD lebih berat

sehingga prognosis sangat tergantung pada

pengenalan dini adanya kebocoran plasma. Penatalaksanaan fase


demam pada DBD dan DD tidak jauh berbeda. Masa kritis ialah pada
atau setelah hari sakit yang ketiga yang memperlihatkan penurunan
tajam hitung trombosit dan peningkatan tajam hematokrit yang
menunjukkan
pengobatan

adanya
DBD

kehilangan

ialah

ketepatan

cairan.
volume

Kunci

keberhasilan

replacement

atau

penggantian volume, sehingga dapat mencegah syok.


Perembesan atau kebocoran plasma pada DBD terjadi mulai
hari demam ketiga hingga ketujuh dan tidak lebih dari 48 jam
sehingga fase kritis DBD ialah dari saat demam turun hingga 48 jam
kemudian. Observasi tanda vital, kadar hematokrit, trombosit dan
jumlah urin 6 jam sekali (minimal 12 jam sekali) perlu dilakukan.
Pengalaman dirumah sakit mendapatkan sekitar 60% kasus
DBD

berhasil

diatasi

hanya

dengan

larutan

kristaloid,

20%

memerlukan cairan koloid dan 15% memerlukan transfusi darah.


Cairan kristaloid yang direkomendasikan WHO untuk resusitasi awal
syok ialah Ringer laktat, Ringer asetat atau NaCL 0,9%. Ringer
memiliki kelebihan karena mengandung natrium dan sebagai base
corrector untuk mengatasi hiponatremia dan asidosis yang selalu
dijumpai pada DBD.
Saat pasien berada dalam fase demam, pemberian cairan
hanyalah untuk rumatan bukan cairan pengganti karena kebocoran
plasma belum terjadi.
Bila pada syok DBD tidak berhasil diatasi selama 30 menit
dengan resusitasi kristaloid maka cairan koloid harus diberikan (ada
3 jenis ;dekstan, gelatin dan hydroxy ethyl starch)sebanyak 1030ml/kgBB. Berat molekul cairan koloid lebih besar sehingga dapat
bertahan dalam rongga vaskular lebih lama (3-8 jam) daripada
cairan kristaloid dan memiliki kapasitas mempertahankan tekanan
onkotik vaskular lebih baik.

Pada syok berat (lebih dari 60 menit) pasca resusitasi


kristaloid (20ml/kgBB/30menit) dan diikuti pemberian cairan koloid
tetapi belum ada perbaikan maka diperlukan pemberian transfusi
darah minimal 100 ml dapat segera diberikan. Obat inotropik
diberIkan apabila telah dilakukan pemberian cairan yang memadai
tetapi syok belum dapat diatasi.

Penatalaksanaan DBD disesuaikan dengan derajat terlampir


sebagai berikut:

Kriteria memulangkan pasien :5


1. Tidak demam selama 48 jam tanpa antipiretik
2. Nafsu makan membaik
3. Tampak perbaikan secara klinis
4. Hematokrit stabil
5. Tiga hari setelah syok teratasi
6. Jumlah trombosit diatas 50.000/ml
7. Tidak dijumpai adanya distress pernafasan (akibat efusi pleura
atau asidosis).
IX.
-

Pencegahan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
a. Melakukan metode 3 M (menguras, Menutup dan
Menyingkirkan tempat perindukan nyamuk) minimal 1 x
seminggu bagi tiap keluarga
b. 100% tempat penampungan air sukar dikuras diberi
abate tiap 3 bulan
c. ABJ (angka bebas jentik) diharapkan mencapai 95%

Foging Focus dan Foging Masal


d. Foging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m
dengan selang waktu 1 minggu
e. Foging masal dilakukan 2 siklus diseluruh wilayah
suspek KLB dalam jangka waktu 1 bulan
f. Obat yang dipakai : Malation 96EC atau Fendona 30EC
dengan menggunakan Swing Fog

Penyelidikan Epidemiologi
g. Dilakukan petugas puskesmas yang terlatih dalam
waktu 3x24 jam setelah menerima laporan kasus
h. Hasil

dicatat

sebagai

dasar

tindak

lanjut

penanggulangan kasus
-

Penyuluhan

perorangan/kelompok

untuk

meningkatkan

kesadaran masyarakat.
-

Kemitraan untuk sosialisasi penanggulangan DBD.

BAB III
KESIMPULAN
Infeksi virus dengue merupakan salah satu penyakit dengan
vektor nyamuk (mosquito borne disease) yang paling penting di
seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini
mempunyai spektrum klinis dari asimptomatis, undifferentiated
febrile illness, demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue
(DBD), mencakup manifestasi paling berat yaitu sindrom syok
dengue (dengue shock syndrome/DSS).
Dalam menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan
yang tepat, pemahaman mengenai perjalanan infeksi virus dengue
harus dikuasai dengan baik. Pemantauan klinis dan laboratoris
berkala merupakan kunci tatalaksanan DBD. Akhirnya dalam
menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan pada kasus
DBD perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Penanganan yang
cepat tepat dan akurat akan dapat memberikan prognosis yang
lebih baik.