Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL

HIBAH PENELITIAN MAHASISWA


FAKULTAS KEDOKTERAN

Bioelectrical impedance Analysis dan Indeks Massa Tubuh Sebagai Metode


Screening Dalam Mendeteksi Pria Prediabetes

TIM :
RYAN EKA TANRI

PENDIDIKAN DOKTER
ABSTRAK

Resiko diabetes tipe 2 meningkat seiring dengan peningkatan Indeks Massa


Tubuh (IMT) diatas 25kg/m2 . Dibandingkan dengan IMT normal, resiko terkena
diabetes tipe 2 meningkat sebanyak 2-8 kali lipat pada IMT 25, 10-24 kali pada
IMT >30, dan >40 kali lipat pada IMT >35 tergantung dengan usia,jenis kelamin,
durasi dan distribusi jaringan adiposa dan etnis. Bioelectrical impedance analysis

(BIA) telah dikenal dan digunakan luas sebagai metode untuk mengestimasi
komposisi tubuh. Metode ini relatif sederhana, cepat, dan tidak invasif. Pada
penelitian ini akan dibandingkan Bioimpedance Analysis dan Indeks Massa
Tubuh sebagai metode screening orang prediabetes. Penelitian ini akan
menggunakan metode analitik observasional.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Diabetes mellitus adalah kelainan metabolik dengan karakteristik
adanya hiperglikemi karena kerusakan sekresi insulin, resistensi insulin atau
keduanya. Hiperglikemi kronik pada diabetes jangka panjang dapat
menyebabkan komplikasi pada mata, ginjal, saraf dan juga meningkatkan
kejadian penyakit jantung. (Goldenberg and Punthakee, 2013)
Menurut penelitian epidemiologi yang dilaksanakan di Indonesia,
kekerapan terjadinya diabetes di Indonesia berkisar antara 1,4% hingga 1,6%.
Sedangkan pada suatu penelitian tahun 2005 di Makassar didapatkan
prevalensi diabetes mencapai 12,5%. (Suyono, 2009)
Faktor risiko yang dapat memicu diabetes adalah bertambahnya usia,
lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani, dan
hiperinsulinemia. (Purnamasari, 2009). Obesitas merupakan akumulasi lemak
tubuh dengan jumlah jaringan adiposa yang terlalu tinggi. Cara paling umum
untuk mengukur obesitas adalah dengan menggunakan Index Massa Tubuh
(IMT). (J.Karels and R.Cooper, 2007)
Resiko diabetes tipe 2 meningkat seiring dengan peningkatan Indeks Massa
Tubuh (IMT) diatas 25kg/m2 . Dibandingkan dengan IMT normal, resiko terkena

diabetes tipe 2 meningkat sebanyak 2-8 kali lipat pada IMT 25, 10-24 kali pada IMT
>30, dan >40 kali lipat pada IMT >35 tergantung dengan usia,jenis kelamin, durasi
dan distribusi jaringan adiposa dan etnis.(Day and Bailey, 2011)

Bioelectrical impedance analysis (BIA) telah dikenal dan digunakan


luas sebagai metode untuk mengestimasi komposisi tubuh dengan
menghitung kecepatan konduksi jaringan tubuh. Metode ini relatif sederhana,
cepat, dan tidak invasif. (Shekari-Ardekani et al., 2012)
Berdasarkan analisis di atas, maka peneliti akan melakukan penelitian
bioelectrical impedance analysis, indeks massa tubuh, gula darah plasma 2
jam pada TTGO sebagai metode screening dalam mendeteksi pria
prediabetes.

B. Tujuan penelitian
a. Tujuan umum
Membandingkan Bioelecrical Impedance Analysis dan Indeks Massa
Tubuh dalam screening pre-diabetes
b. Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi apakah bioelectrical impedance analysis (BIA)
dapat dijadikan salah satu metode penyaringan yang valid untuk
screening orang prediabetes
2. Mengetahui jumlah mahasiswa prediabetes Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.

C. Manfaat penelitian
1. Manfaat praktik adalah sebagai sumber informasi bagi klinisi dalam hal
screening pre-diabetes maupun diabetes.
2. Manfaat ilmiah secara umum adalah sebagai referensi dalam menambah
literatur untuk kepentingan penelitian selanjutnya.

3. Manfaat

individu

menumbuhkan

adalah

minat

dan

sebagai
bakat

penambahan
meneliti

dalam

wawasan

untuk

rangka

proses

pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Diabetes mellitus adalah kelainan metabolik dengan karakteristik
adanya hiperglikemi karena kerusakan sekresi insulin, resistensi insulin atau

keduanya. Hiperglikemi kronik pada diabetes jangka panjang dapat


menyebabkan komplikasi pada mata, ginjal, saraf dan juga meningkatkan
kejadian penyakit jantung. Kriteria diagnostik untuk diabetes didasarkan pada
ambang batas glikemia yang berhubungan dengan penyakit mikrovaskular.
Prediabetes adalah istilah praktis yang mengacu pada impaired fasting
glucose (IFG), impaired glucose tolerance (IGT) atau Hb1Ac dari 6.0 % - 6.4%,
yang merupakan individu beresiko tinggi terkena diabetes dan komplikasinya.
(Goldenberg and Punthakee, 2013).
Impaired fasting glucose (IFG) dan impaired glucose tolerance (IGT)
adalah keadaan abnormal glukosa yang berada di tengah antara kadar glukosa
plasma normal dan kadar glukosa pada orang diabetes. IFG didefinisikan sebagai
peningkatan konsentrasi fasting plasma glucose (FPG) (100 125 mg/dl).
Sedangkan IGT didefinisikan sebagai peningkatan konsentrasi glukosa plasma 2 jam
(140 199 mg/dl) setelah mengkonsumsi 75gram glukosa pada Tes Toleransi
Glukosa Oral (TTGO).(Nathan et al., 2007)

Faktor resiko yang dapat memicu diabetes adalah bertambahnya usia,


lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani, dan
hiperinsulinemia (Purnamasari, 2009). Obesitas yang merupakan salah satu
faktor resiko diabetes adalah akumulasi lemak tubuh dengan jumlah jaringan
adiposa yang terlalu tinggi. Cara paling umum untuk mengukur obesitas
adalah dengan menggunakan Index Massa Tubuh (IMT) (Shekari-Ardekani et
al., 2012).
Index Massa Tubih (IMT) adalah metode pengukuran lemak tubuh
yang bergantung hanya pada tinggi badan dan berat badan. IMT sebenarnya
hanya merupakan pengganti untuk mengukur tingkat kegemukan dikarenakan
IMT lebih benar jika dikatakan sebagai pengukuran untuk kelebihan berat
badan daripada untuk mengukur lemak tubuh. Faktor seperti umur, jenis
kelamin, etnis, dan massa otot dapat mempengaruhi hubungan antara IMT
dengan lemak tubuh. Juga, IMT tidak dapat membedakan antara kelebihan
lemak, massa otot, atau tulang, juga tidak dapat memberikan indikasi apapun
mengenai distribusi lemak pada suatu individu. Beberapa penelitian
menyarankan metode pengukuran lemak tubuh yang lain seperti tebal lipatan

kulit, bioelectrical impedance, underwater weighing, dan dual energy x-ray


absorption yang dapat lebih akurat dibandingkan dengan IMT. ((CDC))
Bioeletrical Impedance Analysis (BIA) merupakan metode
pengukuran komposisi tubuh yang sederhana, cepat dan non-invasif dengan
kesalahan < 1% pada pengukuran ulang. Prinsip BIA adalah aliran listrik
akan mengalir di seluruh tubuh bergantung pada komposisi tubuh itu sendiri.
Komposisi tubuh sebagian besar merupakan air dan ion yang dapat dialiri
oleh aliran listrik. Air di tubuh dapat dibagi menjadi dua menurut lokasinya :
ekstraseluler (kurang lebih 45%) dan intraseluler (kurang lebih 55%). Selain
air, tubuh juga mengandung material non-konduksi yaitu lemak yang
menyebabkan resistensi pada aliran listrik. Kemampuan konduksi jaringan
adiposa sangat rendah dibanding otot dan tulang. (Dehghan and Merchant,
2008).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a) Desain penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan analitik observasional,
menggunakan desain penelitian Cross-sectional.
b) Tempat penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengambil sampel di Fakultas


Kedokteran Universitas Hasanuddin, dan akan dilakukan pengukuran
bioelectrical impedance analysis dan gluskosa plasma 2 jam TTGO di
Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin.
c) Waktu penelitian
Penelitian ini akan dilakukan selama 4 (empat) minggu
d) Bidang ilmu
Penelitian ini bergerak dalam bidang ilmu kesehatan.
e) Populasi dan sampel
1) Populasi
Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
2) Sampel
Jumlah sampel 30 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin dengan cara pengambilan sampel menggunakan simple
random sampling.
3) Unit yang diteliti
Unit yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil analisis BIA dan
kadar glukosa plasma 2 jam pada TTGO dari mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.
4) Alat dan bahan
a. Alat
1. Meja kerja
2. Tempat sampah biohazard
3. Tempat sampah biasa
4. Sarung tangan
5. Lancet
6. Strip gula darah
7. Alat pengukur gula darah
b. Bahan
1. Sampel darah
2. Sabun cuci tangan

f. Alur penelitian

Observasi

Persiapan

Pengambilan sampel sebanyak


30 sampel dengan metode simple
random sampling

Pengolahan sampel

Analisis data

Negatif bila kadar


glukosa plasma 2 jam
TTGO < 200mg/dL (11,1
mmol/L)

Positif bila kadar glukosa


plasma 2 jam TTGO >
200mg/dL (11,1 mmol/L)

Hasil

g. Cara pemeriksaan
Metode yang digunakan untuk melihat pengaruh bioimpedance
analysis dalam penyaringan orang prediabetes yaitu dengan melakukan
pengukuran kadar lemak dengan perangkat BIA pada sampel. Setelah
dilakukan pengukuran kadar lemak maka dilakukan pengukuran glukosa
plasma 2 jam setelah TTGO.
h. Definisi operasional
1. Bioeletrical

Impedance

Analysis

(BIA)

merupakan

metode

pengukuran komposisi tubuh dengan menggunakan aliran listrik.

2. TTGO adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mengetahui


toleransi seseorang terhadap glukosa

i. Tahapan kegiatan
No
1.
2.
3.
4.

Jenis kegiatan
Persiapan
Pengambilan sampel
Pemeriksaan sampel
Analisis data

Minggu

II

III

IV

DAFTAR PUSTAKA
(CDC), C. f. D. C. a. P. Body Mass Index : Considerations for Practitioner.
Department of Health and Human Services USA.
Day, C. & Bailey, C. J. 2011. Obesity in the pathogenesis of type 2 diabetes.
Sage Journals, 55-61.
Dehghan, M. & Merchant, A. T. 2008. Is bioelectrical impedance accurate for
use in large epidemiologic studies ? Nutrition Journal, 1-7.
Goldenberg, R. & Punthakee, Z. 2013. Definition, Classification and
Diagnosis of Diabetes, Prediabetes and Metabolic Syndrome. Canadian
Journal of Diabetes (CJD), 37, S8-S11.
J.Karels, A. & R.Cooper, B. 2007. Obesity and its role in oral health. The
Internet Journal of Allied Health Sciences and Practice, 5.
Nathan, D. M., Davidson, M. B., Defronzo, R. A., Heine, R. J., Henry, R. R.,
Pratley, R. & Zinman, B. 2007. Impaired Fasting Glucose and Impaired
Glucose Tolerance. Diabetes Care, 30, 753-759.

Purnamasari, D. 2009. Diagnosis dan klasifikasi diabetes melitus. In:


Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., K, M. S. & Setiati, S. (eds.) Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5 ed. Indonesia: InternaPublishing.
Shekari-Ardekani, M. J., Afkhami-Ardekani, M., Isfahani, M. P. & Khosravi,
S. 2012. Bioelectrical Impedance versus Body Mass Index for Predicting
Body Composition Parameters in Sedentary Job Women. IRANIAN
JOURNAL OF DIABETES AND OBESITY, 4, 172-177.
Suyono, S. 2009. Diabetes Melitus di Indonesia. In: Sudoyo, A. W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., K, M. S. & Setiati, S. (eds.) Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. 5 ed. Indonesia: InternaPublishing.