Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

EMFIEMA ON WSD DI RUANG FLAMBOYAN


RSUD TANGERANG
TAHUN 2016

CHRISTIANUS S. GHOE
150510004

Mengetahui
Pembimbing Akademik

Mengetahui
C.I

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN EMFIEMA ON WSD


A. Pengertian
Emfiema adalah terkumpulnya cairan purulen di dalam rongga pleura (Somantri,
2009). Empiema adalah pengumpulan cairan purulen (pus) dalam kavitas pleural.
Meskipun empiema bukan merupakan komplikasi lazim infeksi paru, empiema dapat saja
terjadi jika pengobatan terlambat (Smeltzer, 2002).
B. Etiologi
Emfiema timbul sebagai akibat sekunder dari penyakit paru seperti pneumonia,
TB, abses paru dan bronkiektasis. Penyebab paling umum adalah penyebaran langsung
dari infeksi ke dalam rongga pleura pada pasien dengan pneumonia yang disebabkan oleh
Strep, pneumonia.Emfiema juga mungkin timbul akibat dari luka tusuk atau sebagai
komplikasi dari operasi toraks (Porter, 2008).
C. Patofisiologi
Empiema merupakan akibat invasi hasil piogenik ke pleura, maka akan timbul
peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serosa. Dengan banyaknya
sel-sel PMN baik yang hidup maupun mati serta meningkatnya kadar protein, maka
cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk
kantong-kantong yang melokalisasi nanah tersebut. Apaila nanah membentuk bronkus,
maka timbul fistel bronkopleural yang menembus dinding torak dan keluar melalui kulit
yang disebut empiema nessensiatis. Stadium ini masih disebut empiema akut yang lama
kelamaan akan menjadi kronis (Somantri, 2009).

D. Pathway
E. Manifestasi Klinik
Pasien mengalami demam, berkeringat malam, nyeri pleura, dispnea, anoreksia,
dan penurunan berat badan. Auskultasi dada memperlihatkan tidak terdengarnya bunyi
napas dan terdapat bunyi datar saat perkusi dada, juga penurunan fremitus (vibrasi vocal
terdeteksi saat palpasi). Diagnosis ditegakkan dengan dasar hasil rontgen dada dan
torasentesis (Smeltzer, 2002).
F. Tipe Emfiema
a. Empiema Akut
Terjadi akibat infeksi sekunder dari tempat lain, bukan primer dari pleura. Pada
permulaan gejalanya mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi, nyeri dada
pleuritik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
Jika nanah (pus) tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleural (Somantri,
2009).
b. Empiema Kronis
Batas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. Disebut kronis
jika empiema berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Pada saat itu penderita akan
menegeluh badanya terasa lemas, kesehatan makin mundur, pucat, clubbing finger,
dada datar, dan ditemukan adanya tanda-tanda cairan pleura. Jika terjadi firotorak,
maka trakea dan jantung akan tertarik ke sisi yang sakit (Somantri, 2009).
G. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil dari foto rontgen torak (chest x-ray) dan
torasentesis (Somantri, 2009).
H. Penatalaksanaan Medis
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk mengalirkan kavitas pleura dan mencapai
ekspansi paru yang optimal, dicapai dengan drainase yang adekuat, antibiotic (dosis
besar), dan atu strepkinase. Drainase cairan pleural atau pus tergantung pada tahapan
penyakit dan dicapai dengan:
1. Aspirasi jarum (torasentesis) jika cairan tidak terlalu kental.

2. Drainase dada tertutup, pemasangan Tube Thoracostomy = Closed Drainage


(WSD). Indikasi pemasangan darinase ini apabila nanah sangat kental, nanah
berbentuk sudah dua minggu dan telah terjadi pyopneumathoraks. Pemasangan selang
jangan terlalu rendah, biasanya diafagma terangkat karena empiema. Pilihlah selang
yang cukup besar. Apabila tiga sampai 4 mingu tidak ada kemajuan harus ditempuh
dengan cara lain seperti pada empiema kronis.
3. Drainase dada terbuka untuk mengluarkan pus pleura yang mengental dan debris serta
mereseksi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit.
4. Dekortikasi, jika inflamasi telah bertahan lama (Baughman & Hackley, 2000)
I. Pengkajian Keperawatan
1. Biodata
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pakerjaan, agama, suku bangsa,
tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor registrasi
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak
nafas.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang sering muncul antara lain sesak napas, nyeri dada, panas tinggi dan
kelemahan.
4. Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
Pada klien dengan empiema jika akumulasi pus lebih dari 300 ml, perlu

di

usahahkan peningkatan upaya dan frekuensi pernapasan serta penggunaan


otot bantu pernapasan. Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris
(pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada
asimetris (cembung pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif
dengan sputum purulen. Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat.
b) Palpasi
Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit. Pada palpasi juga ditemukan
pergerakan dinding dada tertinggal pada dada yang sakit.
c) Perkusi
Terdengar suara ketok pada sisi yang sakit, redup sampai pekak sesuai
banyaknya akumulasi pus di rongga pleura.
d) Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit.
5. Pola Aktivitas dan Istirahat

Data :Keletihan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari hari karena


sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur.
Tanda : Keletihan, gelisah, insomnia, lemah.
6. Sirkulasi
Data : Tampak lemah, jantung berdebar-debar
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung, pucat
7. Pola Hygiene
Data : Penurunan kemampuan/peningkatan aktivitas sehari-hari
Tanda :Kebersihan buruk, bau badan
8. Pola Nutrisi
Data : mual, muntah, nafsu makan buruk, penurunan berat badan
Tanda : turgor kulit buruk, edema, berkeringat
9. Rasa nyaman
Data :nyeri, sesak
Tanda : gelisah, meringis
10. Keadaan Fisik
Data : badan terasa panas, pusing
Tanda : suhu, nadi, nafas dan tekanan darah meningkat
11. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis, USG, CT Scan
J. Diagnosa Keperawatan
1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan secret
terhadap infeksi pada rongga pleura
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan menurunnya eskpansi paru sekunder
terhadap akumulasi pus dan peningkatan tekanan positif dalam rongga pleura
3. Nyeri dada berhubungan dengan faktor biologis (trauma jaringan) dan faktor fisik
(pemasangan selang dada)
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
metabolism tubuh, penurunan nafsu makan akibat sesak nafas
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan perubahan respon pernapasan terhadap
aktivitas
6. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan akibat prosedur invasive
pemasangan WSD.
K. Intervensi Keperawatan
No
Dx
1

Tujuan & Kriteria Intervensi


Rasional
Hasil
Setelah dilakukan
1. Auskultasi adanya bunyi
1. Mengetahui suara nafas
tindakan
nafas dan catat adanya
pada klien
keperawatan
2. Takipneu biasanya ada

jam bersihan
jalan nafas
menjadi efektif,
dengan kriteria
hasil :
o Menunjukkan
perilaku untuk
memperbaiki
bersihan jalan
nafas, misal
batuk efektif
dan
mengeluarkan
secret
o Tidak ada ronchi

bunyi
nafas
seperti
wheezing, ronchi.
2. Kaji frekuensi pernapasan
3. Observasi dan catat batuk
dan secret.
4. Observasi
tanda
atau
gejalan infeksi.
5. Bantu klien latihan nafas
dalam dengan keadaan
semifowler. Tunjukkan cara
batuk efektif dengan cara
menekan dada dan batuk.
6. Pasang jalan nafas melalui
oral sesuai indikasi.
7. Ambil spesimen sputum.
8. Lakukan pengisapan sesuai
indikasi
dengan
menggunakan Kateter yang
berukuran tepat.
9. Kolaborasi berikan obat
sesuai indikasi (Mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator).
10. Bantu melakukan prosedur
(bronkoskopi, trakeostomi).

dan dapat ditemukan


selama stress atau adanya
infeksi
3. Kongesti
alveolar
mengakibatkan
batuk
kering, sputum darah
dapat diakibatkan oleh
kerusakan jaringan
4. Untuk
mengidentifikasi
proses
infeksi
dan
meningkatkan intervensi
yang tepat waktu
5. Batuk adalah mekanisme
pembersihan jalan nafas
yang alami, membantu
silia
untuk
mempertahankan
jalan
nafas paten. Penekanan
menurunkan
ketidaknyamanan
dada
dan
posisi
duduk
memungkinkan
upaya
nafas lebih dalam dan
lebih kuat.
6. Untuk memperbaiki dan
mempertahankan
jalan
nafas yang efektif.
7. Untuk
memastikan
ketepatan terapi.
8. Untuk
membersihkan
jalan nafas saat sekresi
menyumbat jalan nafas.
9. Merilekskan otot halus
dan menurnkan kongesti
local, menurunkan spasme
jalan napas, mengi, dan
produksi mucus.
10. Untuk membersihkan atau
mempertahankan
jalan
nafas terbuka.

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
dalam waktu .. x
..jam setelah
diberikan
intervensi klien
mampu
mempertahankan
fungsi paru secara
normal, dengan
kriteria hasil :
o Irama,
frekuensi, dan
kedalaman
pernafasan
berada dalam
batas normal
o Pada
pemeriksaan
rontgen
thoraks
tidak
ditemukan
adanya
akumulasi
cairan
o Bunyi nafas
terdengar
jelas

1. Kaji dan catat kualitas,


frekuensi, dan kedalaman
pernapasan,
serta
melaporkan
setiap
perubahanbyang terjadi
2. Observasi tanda-tanda vital
(nadi dan pernafasan)
3. Lakukan pengisapan jalan
nafas
4. Tinggikan kepala tempat
tidur, atau minta klien duduk
tegak dikursi sangga dengan
bantal
5. Ubah posisi klien secara
sering
6. Bantu dan ajarkan klien
untuk batuk dan nafas dalam
yang efektif
7. Hindari pemerian makan
berlebih
8. Kolaborasi
dengan
tim
medis lain untuk pemberian
O2 dan obat-obatan serta
foto thoraks
9. Bantu pada bronkoskopi
atau pemasagan selang dada
jika diindikasikan.

1. Dengan mengkaji kualitas,


frekuensi, dan kedalaman
pernafasan, kita dapat
mengetahui sejauh mana
perubahan kondisi klien
2. Peningkatan
frekuensi
nafas
dan
takikardi
merupakan indikasi adanya
penurunan fungsi paru
3. Untuk
membersihkan
sekresi sesuai kebutuhan
4. Meningkatkan
istirahat,
untuk
meningkatkan
inspirasi maksimal dan
untuk memperbaiki perfusi
paru dan meningkatkan
difusi oksigen
5. Meningkatkan
usaha
pernafasan dan ventilasi
pada seluruh bagian paru
6. Menekan daerah yang
nyeri ketika batuk atau
nafas dalam. Penekanan
otot-otot
dada
serta
abdomen membuat batuk
lebih efektif
7. Distensi abdomen dapat
mengganggu
pernafasan
dan meningkatkan resiko
aspirasi
8. Pemberian
O2
dapat
menurunkan
beban
pernafasan dan mencegah
terjadinya sianosis akibat
hipoksia. Dengan foto
thoraks dapat dimonitor
kemajuan dan berkurang
nya cairan dan kembalinya
daya kembang paru
9. Untuk membersihkan atau
mempertahankan
jalan

nafas terbuka.
3

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama ..x.. jam
nyeri dada
berkurang, dengan
kriteria hasil :
o Klien
mengalami
penurunan
nyeri yang
dibuktikan
dengan :
o Menyatakan
nyeri berkurang
o Ekspresi wajah
dan posisi
tubuh relaks
o Perbaikan pada
pernapasan
o Aktivitas
meningkat
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
....jam kebutuhan
nutrisi pasien
terpenuhi, dengan
kriteria hasil :
o
Nafsu
makan
meningkat
o
BB
meningkat atau
normal sesuai
umur

1. Kaji pernyataan verbal dan

non verbal nyeri klien


2. Berikan tindakan nyaman.

Contoh : pijatan punggung,


perubahan posisi
3. Jadwalkan aktivitas untuk

keseimbangan dengan
periode istirahat tidur yang
adekuat
4. Anjurkan penggunaan

perilaku manajemen stress,


contoh : teknik relaksasi,
bimbingan imajinasi

1. Diskusikan dan jelaskan


tentang pembatasan diet
(makanan berserat tinggi,
berlemak dan air terlalu
panas atau dingin.
2. Ciptakan lingkungan yang
bersih, jauh dari bau yang
tak sedap atau sampah,
sajikan makanan dalam
keadaan hangat.
3. Berikan jam istirahat (tidur)
serta kurangi kegiatan yang
berlebihan.
4. Kaji program obat dan
mencatat kemungkinan efek
samping

1. Ketidaksesuaian
antara
pekerjaan verbal dan non
verbal dapat memberikan
petunjuk derajat nyeri,
kebutuhan/keefektifan
intervensi
2. Meningkatkan relaksasi dan
membantu
klien
memfokuskan
perhatian
pada sesuatu di samping
dari
sendiri
atau
ketidaknyamanan
3. Mencegah kelelahan/terlalu
lelah
dan
dapat
meningkatkan
koping
terhadap
stress/ketidaknyamanan
4. Meningkatkan rasa sehat,
dapat
menurunkan
kebutuhan analgesik dan
meningkatkan
penyembuhan
1. Serat tinggi, lemak,air
terlalu panas/dingin dapat
merangsang lambung dan
sluran usus.
2. Situasi yang nyaman, rileks
akan merangsang nafsu
makan.
3. Mengurangi
pemakaian
energi yang berlebihan
4. Faktor
ini
dapat
mempengaruhi
nafsu
makan, asupan makan atau
absorsi.
5. Untuk
menentukan
kemampuan dan kesiapan
saluran
usus

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatn ..
jam intoleransi
aktivitas dapat
teratasi, dengan
kriteri hasil :
o Melaporkan
peningkatan
toleransi
aktivitas
terhadap
aktivitas yang
dapat diukur
dengan tak
adanya dypsnea,
kelemahan
berlebihan
o Tanda tanda
vital dalam
rentang normal

5. Auskultasi
guna
mengetahui adanya dan
karakter bising usus
6. Beri banyak makanan kecil
sesuai indikasi
7. Monitor intake dan output
dalam 24 jam
8. Kolaborasi dengan tim
kesehatan lain :
a. Terapi gizi : Diet
TKTP rendah
serat, susu
b. Obat-obatan atau
vitamin

mengendalikan
proses
pencernaan
6. Untuk
mengurangi
perasaan begahyang dapat
menyertai makan dengan
porsi yang lebih besar
7. Mengetahui jumlah output
dapat merencenakan jumlah
makanan.
8. Mengandung
zat yang
diperlukan , untuk proses
pertumbuhan

1. Evaluasi respon pasen


terhadap aktivitas. Catat
laporan dypsnea,
peningkitan kelemahan, dan
perubahan tanda-tanda
vital.
2. Catat faktor terkait terapi,
seperti efek samping dan
interaksi obat.
3. Bantu pasien memilih
posisi yang nyaman untuk
aktivitas dan istirahat
4. Jelaskan pentingnya
istirahat dalam rencana
pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan
istirahat
5. Libatkan klien/kerabat
dalam perencanaan
aktivitas sebanyak mungkin
6. Bantu aktivitas perawatan
diri
yang
diperlukan.
Berikan
peningkatan
kemajuan aktivitas selama
fase penyembuhan.

1. Pasien mungkin nyaman


dengan posisi kepala
tinggi, tidur di kursi atau
menunuduk ke depan meja.
2. Dapat mempengaruhi
keberadaan dan tingkat
keletihan.
3. Menurunkan stress dan
rangsangan berlebih,
meningkatkan istirahat
4. Tirah baring dipertahankan
selama fase akut untuk
menurunkan
kebutuhan
metabolik,
menghemat
energi untuk penyembuhan.
Pembatasan
aktivitas
ditentukan dengan respon
individual
terhadap
aktivitas dan perbaikan
kegagalan pernafasan.
5. Member
kesempatan
kepada
klien
untuk
melakuan aktivitas penting
yang diinginkan selama
periode penting.

7. Tingkatkan tingkat latihan

6. Meminimalkan

kelelahan

atau
aktivitas
secara
bertahap
8. Beri oksigen tambahan,
obat sesuai indikasi.

dan
membantukeseimbangan
suplai
dan
kebutuhan
oksigen.
7. Hal tersebut merupakan
metode
penghematan
energy
8. Untuk memperbaiki fungsi
pernafasan.