Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Kelainan kulit akibat jamur atau dermatomikosis umumnya digolongkan
menjadi 2 kelompok, yakni: mikosis superfisial dan mikosis subkutan.3
Mikosis superfisial adalah infeksi jamur yang mengenai jaringan mati pada
kulit, kuku, dan rambut. Perbedaan dasar antara mikosis superfisial dan subkutan
dalam beberapa buku dibedakan atas reaksi jaringan. Pada mikosis superfisial
(Nondermatofitosis) tidak terjadi reaksi inflamasi atau jikapun terjadi maka akan
terjadi reaksi inflamasi yang ringan, yakni pada3
1. Ptiriasis vesikolor
2. Folikulitis malassezia
3. Piedra
4. Tinea nigra
Pada mikosis subkutan, meskipun yang diserang bukan jaringan hidup, tetapi reaksi
inflamasi tetap terjadi yang diakibatkan oleh metabolit jamur, yakni pada kelompok
dermatofitosis. 3
Mikosis subkutan adalah kelainan akibat jamur yang melibatkan jaringan di
bawah kulit misalkan misetoma, kromomikosis, zigomikosis subkutan, sporotrikosis,
rinosporidiosis. 3
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,
misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan
golongan jamur dermatofita. Jamur ini dapat menginvasi seluruh lapisan stratum
korneum dan menghasilkan gejala melalui aktivasi respon imun pejamu. 3

BAB II
TINJAUAAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI
Onikomikosis adalah infeksi jamur pada lempeng kuku, yang dapat disebabkan
oleh dermatofita, kandida, dan jamur lain. 1
2.2. EPIDEMIOLOGI
Perkembangan baru-baru ini infeksi jamur di Amerika Serikat dapat dilacak ke
imigrasi dermatofita besar, terutama Trichophyton rubrum, dari Afrika Barat dan Asia
Tenggara ke Amerika Utara dan Eropa. Insiden onikomikosis telah dilaporkan 2-13%
di Multicenter North America.Sebuah survei di Kanada menunjukkan prevalensi 6,5%
onikomikosis. Onikomikosis mempengaruhi setengah dari semua gangguan kuku, dan
onikomikosis adalah penyakit kuku yang paling umum pada orang dewasa.
Onikomikosis didiagnosis pada anak-anak disebabkan oleh infeksi dermatofit
kejadiannya lebih dari 20%.6 Kuku kaki jauh lebih mungkin terinfeksi daripada kuku
tangan. 30 % pasien dengan infeksi jamur kulit juga memiliki onikomikosis. Insiden
onikomikosis semakin meningkat, karena faktor-faktor seperti diabetes melitus,
imunosupresi, dan peningkatan umur. Studi di Kerajaan Inggris, Spanyol, dan
Finlandia menemukan tingkat prevalensi onikomikosis meningkat menjadi 3-8%. 2
Onikomikosis

mempengaruhi

orang

dari

semua

ras.

Onikomikosis

mempengaruhi laki-laki lebih sering daripada perempuan. Namun, infeksi Candida


lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Penelitian
menunjukkan bahwa orang dewasa adalah 30 kali lebih mungkin untuk memiliki
onikomikosis daripada anak-anak. Onikomikosis telah dilaporkan terjadi pada 2,6%
anak-anak muda dari 18 tahun, tetapi sebanyak 90% dari orang tua. 2
Jamur bisa diperoleh melalui hubungan dengan orang yang terinfeksi atau
berhubungan dengan permukaan seperti lantai kamar mandi dimana jamur tersebut
ada. Orang yang lebih tua, orang yang menderita diabetes, dan orang yang sedikit
sirkulasi pada kakinya yang terutama mudah terinfeksi jamur. 2,3
2.3. ETIOLOGI
Dermatofita adalah jamur yang paling sering menyebabkan onikomikosis di
negara-negara barat beriklim. Dermatofita terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporon,
2

Epidermophyton dan Trichophyton. Trichophyton rubrum dan Trichophyton


interdigitale merupakan penyebab sekitar 90% kasus.6 Dermatofita lain yang mungkin
terlibat adalah Epidermophyton floccosum, Trichophyton violaceum, Microsporum
gypseum, Trichophyton tonsurans, Trichophyton soudanense (dianggap oleh sebagian
orang Afrika varian T. rubrum daripada spesies penuh) dan Trichophyton verrucosum.
3

Sementara itu, Candida dan jamur non-dermatofita lebih sering terlibat di daerah
tropis dan subtropis dengan iklim panas dan lembab. Onikomikosis nondermatofita
disebabkan oleh jamur (Fusarium spesies, Scopulariopsis brevicaulis, Aspergillus
spesies) menjadi lebih umum di seluruh dunia, jumlahnya hingga 15% dari kasus di
beberapa negara. Onikomikosis akibat Candida adalah jarang. 2,3
2.4. PATOGENESIS
Patogenesis onikomikosis tergantung pada subtipe klinis. Dalam onikomikosis
subungual distal dan lateral, bentuk yang paling umum dari onikomikosis, jamur
menyebar dari plantar kulit dan menyerang melalui hiponikium kuku. Peradangan
yang terjadi pada bagian kuku ini menyebabkan tanda-tanda fisik onikomikosis
subungual distal dan lateral yang khas. Onikomikosis superfisial putih jarang terjadi,
disebabkan oleh invasi langsung dari permukaan lempeng kuku. Pada onikomikosis
subungual proksimal jamur menembus melalui matriks kuku-kuku proksimal dan
menginvasi sebagian lempeng kuku proksimal dalam. Endonyx onikomikosis adalah
varian dari onikomikosis subungual distal dan lateral di mana jamur menginfeksi
melalui kulit dan langsung menyerang lempeng kuku.
Invasi kuku oleh Candida tidak umum terjadi karena jamur membutuhkan
respon imun yang menurun sebagai faktor predisposisi untuk dapat menembus kuku.
Meskipun Candida sering terdapat pada lipat kuku proksimal atau ruang subungual
pada pasien dengan paronikia kronis atau onikolisis, pada pasien infeksi Candida
hanya terjadi sekunder.2
2.5. FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor

predisposisi

yang

memudahkan

terjadinya

onikomikosis

yaitu

kelembaban, oklusi, trauma berulang pada kuku serta penurunan imunitas. Gaya hidup
tertentu misalnya penggunaan kaos kaki dan sepatu tertutup terus menerus, olahraga
berlebihan, penggunaan tempat mandi umum, akan memudahkan mendapat
onikomikosis.

Penurunan

imunitas

dapat

terjadi

pada

orangtua,

pasien
3

immunocompromised, penggunaan obat imunosupresan dan antibiotik jangka panjang.


Pada anak-anak onikomikosis jarang ditemukan, kemungkinan dihubungkan dengan
pajanan terhadap penyebab relatif jarang, pertumbuhan kuku yang lebih cepat, dan
prevalensi tinea pedis yang rendah.5
2.6. GEJALA KLINIS
Onikomikosis biasanya asimtomatik, karena itu, pasien biasanya pertama kali
hadir untuk alasan kecantikan fisik tanpa keluhan. Ketika penyakit berkembang,
onikomikosis dapat mengganggu aktivitas berdiri, berjalan, dan berolahraga. Pasien
dapat mengeluh parestesia, nyeri, ketidaknyamanan, dan kehilangan ketangkasan.
Mereka juga dapat melaporkan kehilangan harga diri dan kurangnya interaksi sosial.
Anamnesis yang cermat dapat mengungkapkan banyak faktor-faktor risiko
lingkungan dan pekerjaan. 2
Kuku yang terinfeksi memiliki bentuk yang tidak normal tetapi tidak gatal atau
terasa sakit sekali. Infeksi ringan hanya memberikan sedikit gejala atau bahkan tidak
menimbulkan gejala. Pada infeksi yang lebih berat, kuku tampak keputihan, menebal
dan terlepas dari dasar kuku. Biasanya sisa-sisa peradangan terkumpul dibawah ujung
kuku. 4
Pada onikomikosis yang disebabkan dermatofita, yakni tinea unguium,
gambaran tersering adalah distrofi dan debris pada kuku subungual distal. Sedangkan
yang disebabkan kandida sering didahului oleh paronikia atau peradangan jaringan
sekeliling kuku yang kronik akibat pekerjaan basah atau iritasi kronik. 1
Ada empat jenis onikomikosis :
1. Onikomikosis subungual distal dan lateral (OSDL)

Gambar 1. Onikomikosis subungual distal dan lateral : hiperkeratosis subungual, onikolisis dan alur
kuning (dikutip dari eMedicine Journal : Onychomycosis)

Onikomikosis subungual distal dan lateral adalah bentuk yang paling umum dari tinea
unguium, biasanya disebabkan oleh Trichophyton rubrum. Bentuk ini mulai dari tepi
4

distal atau distolateral. Proses ini menjalar ke proksimal dan di bawah kuku terbentuk
sisa kuku yang hancur.

2,3

Jamur menyerang dasar kuku di bawah lempeng kuku

melalui hiponikium dan bergerak ke arah proksimal. Kulit telapak kaki dan tangan
merupakan lokasi infeksi primer. Invasi juga dapat dimulai dari lateral.

Dalam

onikomikosis subungual distal dan lateral, kuku menunjukkan hiperkeratosis


subungual dan onikolisis, yang biasanya berwarna kuning-putih. Coretan kuning dan
atau daerah onikolitik kuning di bagian tengah lempeng kuku yang umumnya diamati.
2,3

2. Onikomikosis superfisial putih (OSPT)

Gambar 2. Onikomikosis superfisial putih


(dikutip dari eMedicine Journal : Onychomycosis)

Disebabkan oleh invasi jamur ke lapisan superfisial lempeng kuku yang


membentuk "pulau-pulau putih" di lempeng.

2,3

Terjadi bila jamur menginvasi

langsung lapisan superfisial lempeng kuku. 5 Kuku menjadi kasar dan runtuh dengan
mudah. Jumlahnya hanya 10 % dari kasus onikomikosis.

2,3

Penyebab tersering adalah

T. mentagrophytes. 5
3. Onikomikosis subungual proksimal (OSP)

Gambar 3. Onikomikosis subungual proksimal : leukonikia proksimal


(dikutip dari eMedicine Jurnal : Onychomycosis)

Infeksi dimulai dari lipatan kuku proksimal melalui kutikula dan masuk ke kuku
yang baru terbentuk, selanjutnya bergerak ke arah distal. 5 Muncul daerah leukonikia
di lempeng kuku proksimal yang bergerak distal dengan pertumbuhan kuku. Ini
adalah bentuk umum tinea unguium pada orang sehat tapi ditemukan lebih banyak
pada pasien immunocompromised. 2,3
4. Onikomikosis kandida (OK)

Gambar 4. Onikomikosis kandida pada pasien dengan kandidiasis mukokutaneous kronis.


Onikomikosis total dan paronikia. (dikutip dari eMedicine Journal : Onychomycosis)

Spesies Candida menyerang kuku biasanya terjadi pada orang yang sering
membenamkan

tangan

mereka

di

dalam

air. Dapat

terjadi

pada

pasien

immunocompromised, dan pada orang dengan kandidiasis mukokutan kronis.

2,3

Infeksi dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu : (1) Dimulai sebagai paronikia yang
kemudian menginvasi matriks kuku sehingga memberikan gambaran klinis depresi
transversal kuku sehingga kuku menjadi cekung, kasar, dan akhirnya distrofi. (2) Pada
kandidiasis mukokutan kronis, kandida langsung menginvasi lempeng kuku sehingga
baru pada stadium lanjut tampak sebagai pembengkakan lipat kuku proksimal dan
lateral yang membentuk gambaran pseudoclubbing atau chicken drumstick. (3) Invasi
pada kuku yang telah onikolisis, terutama pada tangan, tampak sebagai hiperkeratosis
subungual dengan massa abu-abu kekuningan di bawahnya.
Pada keadaan lanjut keempat tipe tersebut akan menunjukkan gambaran distrofik
total. 5
2.7. DIAGNOSIS
Penyebab pasti ditentukan dengan dengan pemeriksaan kerokan kuku dengan
KOH 20 % untuk mempermudah lisis keratin. Zat pewarna tambahan misalnya tinta
Parker blue-black atau pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur.5 Dapat

pula dilakukan biakan untuk menemukan elemen jamur dengan media agar
Sabouraud.3
Bila secara klinis kecurigaan onikomikosis besar tetapi hasil sediaan
mikroskopik langsung maupun biakan jamur negatif, pemeriksaan histopatologi dapat
membantu. Dapat dilakukan biopsi kuku atau cukup nail clipping pada OSDL.
Pemeriksaan ini sekaligus membantu memastikan bahwa jamur terdapat dalam
lempeng kuku dan bukan merupakan komensal atau kontaminan di luar lempeng
kuku. 5
2.8. DIAGNOSIS BANDING
- Psoriasis kuku
Pada psoriasis kuku, gambaran nail pitting dan tanda onikolisis berupa tetesan
minyak warna coklat kemerahan yang tidak ada pada onikomikosis serta
keterlibatan jari pada kedua tangan dapat membedakannya dari onikomikosis. 5

Gambar 5. Psoriasis kuku


(dikutip dari eMedicine Journal : Nail Psoriasis)

- Liken planus
Terjadi inflamasi dasar kuku yang mempengaruhi matriks kuku. Bila tidak
diterapi, matriks dapat dirusak dengan timbulnya pterigium di mana kulit kutikel
tumbuh di atas dan menutupi lempeng kuku yang tipis. Secara khas, area lunula
lebih terangkat dibandingkan bagian distal. 2,3,6

Gambar 6. Liken planus


(dikutip dari American Academy Dermatology Journal : Lichen planus)

2.9. PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan onikomikosis adalah menghilangkan faktor predisposisi
yang memudahkan terjadinya penyakit, serta terapi dengan obat anti-jamur yang
sesuai dengan penyebab dan keadaan patologi kuku.5 Untuk membatasi
kemungkinan kambuh, kuku harus tetap pendek, kaki harus dikeringkan setelah
mandi, kaus kaki yang menyerap keringat harus dipakai, dan bedak kaki anti
jamur dapat digunakan. 1-4
Terapi topikal
Obat topikal berbentuk krim dan solusio sulit untuk penetrasi ke dalam kuku,
sehingga tidak efektif untuk pengobatan onikomikosis. Obat topikal formulasi
khusus dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam kuku, yaitu :
-

Bifonazol-urea : kombinasi derivat azol, yaitu bifonazol 1 % dengan urea 40


% dalam bentuk salep. Urea untuk melisiskan kuku yang rusak sehingga
penetrasi obat jamur meningkat. Namun dapat terjadi iritasi kulit di sekitar
kuku oleh karena urea.

Amorolfine : merupakan derivat morfolin yang bersifat fungisidal.


Digunakan dalam bentuk cat kuku konsentrasi 5 %.

Ciclopiroxolamin 8 %: suatu derivat piridon dengan spectrum anti jamur


luas, juga digunakan dalam bentuk cat kuku.

Diperlukan ketekunan pasien karena umumnya masa pengobatan panjang.


Meskipun penggunaan obat topikal mempunyai keterbatasan, namun masih
mempunyai tempat untuk pengobatan onikomikosis karena tidak adanya risiko
sistemik, relatif lebih murah, dan dapat sebagai kombinasi dengan obat oral
untuk memperpendek masa pengobatan, selain itu bentuk cat kuku mudah
digunakan. 5
Terapi sistemik :
Obat sistemik yang dapat digunakan untuk pengobatan onikomikosis adalah
flukonazol, itrakonazol, dan terbinafin. 5 Griseofulvin tidak lagi merupakan obat
pilihan untuk tinea unguium karena memerlukan waktu lama, sehingga
kemungkinan terjadi efek samping lebih besar, serta kurang efektif.

1,5

Derivat

azol bersifat fungistatik tetapi mempunyai spektrum antijamur yang luas,


sedangkan terbinafin bersifat fungisidal tetapi efektivitas terutama pada
dermatofita.
8

Itrakonazol 200 mg/hari selama 3-4 bulan, atau 400 mg per hari selama
seminggu tiap bulan selama 3-4 bulan, baik untuk penyebab dermatofita
maupun kandida. 1-5

Terbinafin 250 mg/hari selama 3 bulan. Obat ini sangat efektif terhadap
dermatofit, tetapi kurang efektif terhadap Candida.5

Dapat pula diberikan flukonazol 150-300 mg/hari. 1-4

2.10. PROGNOSIS
Meskipun diterapi dengan obat dosis optimal, 1 di antara 5 kasus onikomikosis
ternyata tidak memberi respon baik. Penyebab kegagalan diduga adalah diagnosis
yang tidak akurat, salah identifikasi penyebab, adanya penyakit yang lain. Pada
beberapa kasus, karakteristik kuku tertentu, yaitu pertumbuhan lambat serta sangat
tebal juga merupakan penyulit, selain faktor predisposisi terutama keadaan
immunocompromised.5

BAB III
KESIMPULAN
Trichophyton rubrum dan Trichophyton interdigitale merupakan penyebab sekitar
90% kasus onikomikosis. Secara garis besar. Onikomikosis mempengaruhi setengah
dari semua gangguan kuku, dan onikomikosis adalah penyakit kuku yang paling
umum pada orang dewasa. Onikomikosis didiagnosis pada anak-anak disebabkan oleh
infeksi dermatofit kejadiannya lebih dari 20%.6 30 % pasien dengan infeksi jamur
kulit juga memiliki onikomikosis. Insiden onikomikosis semakin meningkat, karena
faktor-faktor seperti diabetes melitus, imunosupresi, dan peningkatan umur.
Patogenesis onikomikosis tergantung pada subtipe klinis. Dalam onikomikosis
subungual distal dan lateral, bentuk yang paling umum dari onikomikosis, jamur
menyebar dari plantar kulit dan menyerang melalui hiponikium kuku.
Onikomikosis biasanya asimtomatik, karena itu, pasien biasanya pertama kali
hadir untuk alasan kecantikan fisik tanpa keluhan. Ketika penyakit berkembang,
onikomikosis dapat mengganggu aktivitas berdiri, berjalan, dan berolahraga. Pasien
dapat mengeluh parestesia, nyeri, ketidaknyamanan, dan kehilangan ketangkasan.
Penyebab pasti ditentukan dengan dengan pemeriksaan kerokan kuku dengan
KOH 20 % untuk mempermudah lisis keratin. Zat pewarna tambahan misalnya tinta
Parker blue-black atau pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur.5 Dapat
pula dilakukan biakan untuk menemukan elemen jamur dengan media agar
Sabouraud.3
Griseofulvin tidak lagi merupakan obat pilihan untuk tinea unguium karena
memerlukan waktu lama, sehingga kemungkinan terjadi efek samping lebih besar,
serta kurang efektif.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsoe E, Linuwih SM, Wisnu IM .Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia.
Jakarta : PT Medical Multimedia Indonesia; 2005.
2. Antonella
Tosti.
Onychomycosis.
eMedicine
Journal.
http://emedicine.medscape.com/article/1105828. Diperbarui tanggal 21 Januari
2015. Tanggal akses 30 Agustus 2015.
3. Menaldi SL, Bramono K, Indriatmi W. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
7. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2015.
4. Anonim.Onikomikosis.http://medicastore.com/penyakit/663/Onikomikosis.ht
ml. Tanggal akses 30 Agustus 2015.
5. Budimulja Unandar, dkk. Onikomikosis. Dalam : Dermatomikosis
Superfisialis. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
6. Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatricks The Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology. Fifth Edition. The McGraw-Hill
Companies; 2007.
7.

11