Anda di halaman 1dari 8

DAFTAR PUSTAKA

1. Memon MA. Panic Disorder. Medscape Reference; 2011 [updated


29/03/2011; cited on January 2012]; Available from:
http://emedicine.medscape.com.
2. Kusumadewi I, Elvira SD. Gangguan Panik. In: Elvira SD, Hadisukanto
G, editors. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2010. p.
235-41.
3. Saddock BJ, Saddock VA. Gangguan Panik dan Agorafobia. Dalam:
Kaplan HI, Sadock BJ. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku dan
Psikiatri Klinis jilid II. hal.32-46
4. Chakraburtty A. Panic Disorder. WebMD; 2009 [updated 09/02/2009;
cited on January 2012]; Available from: http://www.webmd.com.
5. Cameron, N. Personal Development and Psychopathology, A dynamic
Approach. p.257-8.
6. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder IV, 4th ed. Washington; DC: p.209-16.
7. Maslim R, editor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya; 2001.
8. Departeman Kesehatan RI. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III, cetakan pertama. Hal. 178-9
9. Cloos JM. Treatment of panic disorder. Updated on January 2005. [Cited
on January 2012]. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/497207_1
10. Maslim R, editor. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. 3rd ed. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya; 2007.

27

PENDAHULUAN
Gangguan
A.
Latar Belakang
panik ditandai dengan terjadinya serangan panik yang
spontan dan tidak diperkirakan. Serangan panik adalah periode
kecemasan
atau ketakutan yang kuat dan relative singkat (biasanya kurang dari satu
tahun), yang disertai oleh gejala somatik tertentu seperti palpitasi dan
takipnea. Gangguan ini biasa dimulai pada akhir masa remaja, awal masa
dewasa atau pada usia pertengahan. Pada umumnya tidak
ditemukan
stresor saat serangan, walaupun sering pula dihubungkan dengan adanya
stresor psikososial.
Gangguan panik biasanya berlangsung kronis, sangat bervariasi
pada tiap pasien. Dalam jangka panjang, 30-40% pasien tidak
lagi
mengalami serangan panik, 50% mengalami gejala ringan sehingga tidak
memengaruhi kehidupannya. Sisanya masih mengalami gejala
yang
bermakna.
Pada saat serangan pertama atau kedua, pasien sering
mengabaikannya dan baru menyadari setelah frekuensi dan
intensitas
bertambah. Hal ini juga dapat dipacu oleh konsumsi kafein dan nikotin
yang berlebihan.
2.1 DEFINISI
Istilah panik berasal dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah
hantu, tinggal di pegunungan dan hutan, dan perilakunya sangat
sulit
diduga. Di tahun 1895 deskripsi gangguan panik pertama kali
dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus agorafobia.
Serangan
panik merupakan ketakutan akan timbulnya serangan serta diyakini akan
segera terjadi. Individu yangmengalami serangan panik berusaha untuk
melarikan diri dari keadaan yang tidak pernah diprediksi.
(1)
Gangguan panik ditandai dengan terjadinya serangan panik yang
spontan dan tidak diperkirakan. Serangan panik adalah periode
kecemasan
atau ketakutan yang kuat dan relative singkat (biasanya kurang dari satu
tahun), yang disertai oleh gejala somatik tertentu seperti palpitasi dan
takipnea. Frekuensi pasien dengan gangguan panik mengalami
serangan panik adalah bervariasi dari serangan multiple dalam satu hari
sampai hanya beberapa serangan selama setahun. Di Amerika Serikat,
sebagian besar peneliti dibidang gangguan panik percaya bahwa
agoraphobia hampir selalu berkembang sebagai suatu komplikasi pada
pasien yangmemiliki gangguan panik.
(1)

Beberapa pencetus
terjadinya panik adalah
cedera (kecelakaan atau
operasi), penyakit,
konflik, stimulan
(kafein, kokain),
tempat tertentu
(terutama pada pasien
agorafobia)dan sertralin
(dapat menginduksi
panik
pada pasien
asimtomatik).
(1)
2.2. EPIDEMIOLOGI
Di antara beberapa gangguan cemas yang dikenal, gangguan panik
merupakan gangguan yang lebih sering dijumpai akhir-akhir ini. Dari
penelitian diketahui bahwa di negara-negara Barat, gangguan
panik
dialami oleh lebih kurang 1.7% dari populasi orang dewasa.
Angka
kejadian sepanjang hidup gangguan panik dilaporkan 1.5% sampai 5%,

sedangkan serangan panik sebanyak 3% sampai 5.6%. Di Indonesia


belum
dilakukan studi epidemiologi yang dapat menggambarkan berapa jumlah
individu yang mengalami gangguan panik, namun para
professional
merasakan adanya peningkatan jumlah kasus yang datang minta
pertolongan.
(2)
Prevalensi sepanjang hidup gangguan panik dilaporkan 1.5%
sampai 5%, sedangkan serangan panik sebanyak 3% sampai 5.6%. Suatu
penelitian di Texas terhadap lebih dari 1600 sampel yang diseleksi secara
acak, didapatkan prevalensi sepanjang hidup 3.8% untuk gangguan panik,
5.6% untuk serangan panik, serta 2.2% mengalami serangan panik
dengan
gejala yang terbatas dan tidak memenuhi kriteria diagnostik. Gangguan
panik lebih sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Panik dapat
terjadi pada umur berapapun, tetapi biasanya berkembang antara usia
18
45 tahun. Onset usia rata-rata seperti kebanyakan gangguan cemas
adalah
pada dekade ketiga.
(1, 2)
Sembilan puluh satu persen pasien dengan gangguan panik dan
84% yang dengan agorafobia mengalami setidaknya satu
gangguan
psikiatrik lainnya. Sepuluh hingga 15% pasien dengan gangguan panik
juga mengalami gangguan depresi berat. Sepertiga diantaranya
mengalami
depresi sebelum awitan gangguan panik, serta sisanya mengalami
serangan
panik selama atau sesudah awitan gangguan depresi berat.
(2)
Anxietas juga sering terdapat pada gangguan panik dengan
agorafobia. Lima belas sampai 30% mengalami fobia sosial, 220%
terdapat fobia spesifik dan 15-30% mengalami gangguan
kecemasan
hingga 30% mengalami gangguan obsesif-kompulsif.
(2)
2.3. ETIOLOGI
Terdiri atas faktor biologic, genetik dan psikososial:
Beberapa
peneliti menemukan bahwa gangguan panik
Faktor Biologik:
berhubungan dengan abnormalitas struktur dan fungsi otak. Dari
penelitian
juga diperoleh data bahwa pada otak pasien dengan gangguan
panik
beberapa neurotransmitter mengalami gangguan fungsi, yaitu serotonin,
GABA (Gamma Amino Butyric Acid) dan norepinefrin. Hal ini didukung

oleh fakta bahwa Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) efektif pada terapi
pasien-pasien dengan gangguan cemas, termasuk gangguan panik.
(2)
Berdasarkan hipotesis patofisiologi, terjadi disregulasi baik pada
sistem perifer maupun sistem saraf pusat. Pada beberapa kasus
ditemukan
peningkatan tonus simpatetik dalam sistem otonomik. Penelitian
pada
status neuroendokrin juga menemukan beberapa abnormalitas,
namun
hasilnya belum konsisten.
(2)
Serangan panik merupakan respon terhadap rasa takut yang
terkondisi yang ditampilkan oleh fear network yang terlalu sensitif, yaitu
amigdala, korteks prefrontal dan hipokampus, yang berperan
terhadap
timbulnya panik. Dalam model ini, seseorang dengan gangguan panik
menjadi takut akan terjadinya serangan panik.
(2)
Faktor biologik lain yang berhubungan dengan terjadinya serangan
panik adalah adanya zat panikogen yang digunakan terbatas
pada
penelitian, serta tampilan pencitraan dengan MRI (Magnetic Resonance
Imaging) menunjukkan ukuran lobus temporalis lebih kecil, walaupun
ukuran hipokampus normal.
(1, 2)
Zat Penyebab panik neurokimiawi yang bekerja melalui
neurotransmitter spesifik
adalah yohimbin (Yocon), suatu
antagonis
reseptor adrenergik alfa2; fenfluramine (pondimin), suatu obat pelepas
serotonin; m-chorophenylpiperazine (mCPP), suatu obat dengan
efek
serotogenik multiple; obat beta-carboline; agonis pembalik
reseptor
GABA; flumazenil, suatu antagonis reseptor GABAB, kolesistokinin; dan
kafein.
(3)
Zat penyebab panik neurokimiawi diperkirakan memiliki efek
primernya secara langsung pada reseptor noradrenergic, serotonergik,
dan
GABA pada sistem saraf pusat.
(3)
Pada
Faktorketurunan
Genetik: pertama penderita gangguan panik dengan
agorafobia mempunyai resiko 4 sampai 8 kali mendapatkan serangan
yang
sama.
(2)
Penelitian terhadap anak kembar yang telah dilakukan sampai
sekarang biasanya melaporkan bahwa kembar monozigotik adalah lebih

berkemungkinan sesuai untuk gangguan panik dibandingkan


dengan
kembar dizigotik.
(3)
Analisis
Faktor penelitian
Psikososial:mendapatkan bahwa terdapat pola ansietas akan
sosialisasi saat masa kanak, hubungan dengan orangtua yang
tidak
mendukung serta perasaan terperangkap atau terjebak. Pada kebanyakan
pasien, rasa marah dan agresivitas sulit dikendalikan. Pada pasien-pasien
dengan gangguan panik, terdapat kesulitan dalam mengendalikan
rasa marah dan fantasi-fantasi nirsadar yang terkait. Misalnya
pasien
mempunyai harapan dapat melakukan balas dendam terhadap
orang
tertentu. Harapan ini merupakan suatu ancaman terhadap figur
yang
melekat.
(2)
Menurut teori kelekatan, pasien-pasien dengan gangguan panik
memiliki gaya kelekatan yang bermasalah, antara lain dalam
bentuk
preokupasi terhadap kelekatannya itu. Mereka sering berpandangan
bahwa
perpisahan dan kelekatan sebagai sesuatu yang mutually exclusive; hal ini
karena sensitivitas yang tinggi baik akan kehilangan kebebasan maupun
kehilangan akan rasa aman dan perlindungan. Kesulitan ini tampak dalam
keseharian pasien yang cenderung menghindari perpisahan yang terlalu
menakutkan dan pada saat yang sama secara simultan juga
menghindari
kelekatan yang terlalu intens; sering hal ini tampak dalam gaya interaksi
pasien yang terlalu mengontrol orang lain.
(2)
Banyak pasien menggambarkan serangan panic berasal dari
kesedihan, seakan-akan tidak ada faktor psikologis yang terlibat , tetapi
penggalian psikodinamika sering kali mengungkapkan suatu
pemicu
psikologis yang jelas untuk serangan panik. Pasien dengan gangguan
panik
memiliki insidensi lebih tinggi peristiwa kehidupan yang penuh
ketegangan, khususnya kehilangan, dibandingkan dengan control dalam
beberapa bulan sebelum onset gangguan panik.
(3)
2.4. PERJALANAN PENYAKIT
Gangguan ini biasa dimulai pada akhir masa remaja, awal masa
dewasa atau pada usia pertengahan. Pada umumnya tidak
ditemukan
stresor saat serangan, walaupun sering pula dihubungkan dengan adanya
stresor psikososial.

(2)
Gangguan panik biasanya berlangsung kronis, sangat bervariasi
pada tiap pasien. Dalam jangka panjang, 30-40% pasien tidak
lagi
mengalami serangan panik, 50% mengalami gejala ringan sehingga tidak
memengaruhi kehidupannya. Sisanya masih mengalami gejala
yang
bermakna.
(2)
Pada saat serangan pertama atau kedua, pasien sering
mengabaikannya dan baru menyadari setelah frekuensi dan
intensitas
bertambah. Hal ini juga dapat dipacu oleh konsumsi kafein dan nikotin
yang berlebihan.
(2)
Depresi sering menyertai, yaitu pada 40-80% kasus. Walaupun
jarang terungkap ide bunuh diri, namun resiko tersebut meningkat dan
2040% diantara pasien juga mengkonsumsi alcohol atau zat lainnya. Sering
terjadi perubahan perilaku, interaksi dalam keluarga dan hasil akademis
dan pekerjaan mungkin dapat memburuk.
(2)
Agorafobia yang terjadi pada gangguan panik akan reda bila
gangguan paniknya mendapat terapi.
(2)
2.5. TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala serangan panik biasa berlangsung sekitar 10 menit, antara
lain:
(2,4) Kaku pada jari tangan dan kaki
Kondisi
ini dapatkendali
berulang
membuat
yang
Takut kehilangan
atau hingga
bahkan rasa
hampir individu
mati
mengalaminya menjadi sangat khawatir bahwa ia akan
mengalami lagi
keadaan tersebut (disebut anticipatory anxiety). Hal itu membuatnya
berulang
kali berusaha mencari pertolongan dengan pergi ke rumah-rumah
sakit
terdekat.
(2, 4,5)
Sistem pernafasan merupakan topik yang penting dalam investigasi
pasien dengan gangguan panik, karena pernafasan yang cepat dan
pendek
merupakan gejala yang sangat jelas dirasakan pasien. Disamping itu,
menurut
Donald D. Klein, gejala tersebut merupakan suffocation false alarm.
Berbeda
dengan abnormalitas kardiovaskuler, pernafasan yang tidak stabil
adalah
spesifik pada gangguan panik, termasuk sindrom hiperventilasi
dan

peningkatan variasi pernafasan. Penting diketahui bahwa peningkatan


denyut
nadi dan pernafasan yang tidak stabil bisa timbul tanpa terjadi serangan
panik.
Sebaliknya, serangan panik tidak selalu disertai pengukuran
objektif dari
hiperventilasi atau disfungsi kardiovaskuler.
(2)
Gejala mental yang dirasakan pada gangguan panik adalah rasa takut
yang hebat dan ancaman kematian atau bencana. Pasien bisa merasa
bingung
dan sulit berkonsentrasi. Tanda fisik yang menyertai adalah
takikardia,
palpitasi, dispne dan berkeringat. Penderita akan segera berusaha keluar
dari
situasi tersebut dan mencari pertolongan. Serangan dapat berlangsung
selama
20-30 menit, jarang sampai lebih dari satu jam.
(2)
Pada pemeriksaan status mental saat serangan dijumpai
ruminasi,
kesulitan bicara seperti gagap dan gangguan memori. Depresi, derealisasi
dan
depersonalisasi bisa dialami saat serangan panik. Fokus perhatian somatik
pasien adalah perasaan takut mati karena masalah jantung atau
pernafasan.
Sering pasien merasa seperti akan menjadi gila.
(2)
Kesulitan
Jantung
berdebar
bernafas
atau
nyeri
dada
Perasaan
Merasa
tercekik
takut
yang
berlebihan
Pusing
Gemetaran
atau
merasa
mau
pingsan
Mual
Berkeringat
atau
nyeri
perut