Anda di halaman 1dari 3

Perdarahan di Luar Haid Karena Trauma

Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari
jaringan. Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat
atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang
sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat
menimbulkan kecederaan.
1. Perlukaan Akibat Koitus
Perlukaan yang terjadi akibat koitus pertama ialah robeknya selapit hymen. Robekan
selaput hymen biasanya terjadi pada dinding belakang dan menimbulkan perdarahan sedikit, yang
kemudian akan berhenti secaraspontan. Akan tetapi, walaupun jarang, perdarahan bisa
demikian banyaknya, sehingga diperlukan pertolongan dokter untuk menghentikannya
Pada keadaan-keadaan tertentu perlukaan akibatkoitus dapat lebih berat. Koitus yang
dilakukansecara kasar dan keras, misalnya oleh laki-lakiyang menderita psikopatia seksualis
atau yangsedang mabuk, akan menimbulkan perlukaan-perlukaan vulva dan vagina yang luas
denganperdarahan banyak. Lebih-lebih bila wanita menolak untuk melakukan hubungan
seksual. Penolakan itu di sertai adduksi pada kedua paha, lordose lumbal, dan ketegangan
pada otot-otot pelvis. Dalam keadaan demikian koitus hanya mungkin dilakukan bila pihak
laki-laki memaksanya dengan kasar dan kekerasan. Factor predisposisidari pihak wanita
untuk mengalami trauma pada koitus adalah hypoplasia genitalis, penyempitan introitus
vagina, vagina yang kaku dan hymen yangtebal. Tidak adanya pengalaman, sedang mabuk,
memiliki penis yang besar merupakan faktor-faktor dari pihak laki-laki yang memudahkan
terjadinya trauma pada wkatu koitus
Robekan forniks posterior vagina dapat merupakan perlukaan yang tidak jarang
terjadi. Apabila wanita mengalami orgasme ketika koitus, bisa terjadi kenaikan tekanan intraabdominal, sehingga kavum Douglasi menonjol. Tekanan penis yang berulang pada kavum
Douglasi ytang menonjol ini dapat menyebabkan perlukaan pada forniks posterior. Pada
wanita yang telah mengalami histerektomo total, vagina bagian atas menjadi kaku dan
pendek, sehingga lebih mudah terjadi perlukaan pada forniks posterior waktu koitus. Faktorfaktor yang memberi predisposisi terhadap perlukaan diforniks posterior karena koitus ialah
kala nifas dan masa pasca menoupause. Perlukaan akibat koitus di forniks posterior
umumnya melintang; perlukaan tersebut, walaupun jarang, dapat menembus kavum douglasi,

sehingga usus-usus halus bisa keluar. Bahwa perdarahan-perdarahan terjadi segera setelah
koitus, dan dengan pemeriksaan inspekulo. Pada pemeriksaan segera tampak tempat, bentuk,
dan besarnya luka. Karena ada kemungkinan terputusnya pembuluh-pembuluh darah arterial,
penjahitan luka harus dilakukan dengan teliti.
2. Perlukaan Akibat Trauma Aksidental
Letak jalan lahir yang terlindung menjadi sebab tidak seberapa seringnya terjadi
perlukaan langsung. Perlukaan langsung pada alat genital terjadi akibat patah tulang panggul,
atau akibat jatuh duduk dengan genitalia eksterna kena suatu benda.
3. Hematoma vulva
Bentuk perlukaan yang paling sering terjadi ialah hematoma pada vulva. Hematoma
dapat mula-mula berukuran kecil untuk kemudian bisa menjadi cepat membesar. Terdapatnya
hematoma yang tampak kecil dari luar belum berarti bahwa bekuan darah di dalamnya sedikit.
Perdarahan dapat menjalar sekitar vagina dan mengumpul di dalam ligamentum latum. Bila
banyak darah terkumpul dalam hematoma, dapat timbul gejala syok dan anemia. Kulit
permukaan hematoma berwarna kebiru-biruan, mengkilat, tipis, dan mudah robek.
Khususnya yang terbentuk dengan cepat dapat menyebabkan rasa nyeri mencekam
yang sering menjadi keluhan utama. Hematoma dengan ukuran sedang dapat diserap spontan,
jaringan yang melapisi gumpalan hematoma dapat menghilang karena mengalami nekrosis
akibat penekanan sehingga terjadi perdarahan yang banyak proses ini dapat diikuti oleh
leukhore yang berlangsung lama dan perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan.
Uterus akan teraba lebih besar dan lebih lunak daripada keadaan normalnya, keadaan ini
mungkin disebabkan oleh kebocoran pembuluh darah yang mengalami nekrosis akibat
tekanan yang lama. Yang lebih jarang terjadi, pembuluh darah yang ruptur terletak diatas
vasia pelvik dan keadaan tersebut hematoma akan terbentuk diatasnya. Hematoma vulva
mudah didiagnosis dengan adanya rasa nyeri perinium yang hebat dan tumbuh infeksi yang
menyeluruh, dengan ukuran yang bervariasi. (Icesmi dan Sudarti, 2014)
Penanganan hematoma tergantung dari besarnya hematoma itu. Bila hematoma
kecil,cukup diberi analgetika, sambil diobservasi apakah hematoma tidak bertambah besar. Tetapi,
jika hematoma besar, hendaknya segera dibuka, dan dilakukan pengeluaran bekuan-bekuan darah.
Perdarahan arterial yang ada harus segera dihentikan dengan mengikat pembuluh darah yang
terputus. Selanjutnya dilakukan tamponade pada ruang luka yang sebelumnya darah diisi oleh
bekuan darah.

4. Perlukaan Akibat Benda Asing


Seringkali penderita dengan psikopatia seksualis memasukkan benda-benda ke dalam
vagina atau urethra. Benda asing ini tetap tinggal di vagina karena kelupaan, atau karena
memang penderita sendiri tidak ingin mengeluarkannya. Pengaruh benda asing dalam vagina
tergantung dari bentuk dan jenis benda itu. Benda-benda yang terbuat dari kain dengn cepat
menimbulkan infeksi disertai leukore yang berbau.
Pesarium yang dipasang untuk prolapsus uteri dapat pula menimbulkan iritasi dan
perlukaan, apabila tidak beruang dikeluarkan dan dibersihkan. Pesarium yang terlalu lama
divagina dapat untuk sebagan terbenam dalam dinding vagina. Perlukaan pada vagina atau
uterus bisa juga terjadi apabila digunakan benda untuk melakukan abortus provokatus.
Karena benda tersebut tidak sucihama, bahaya terbesar selain perdarahan ialah infeksi septik
dengan segala akibatnya.