Anda di halaman 1dari 26

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

Identitas Pasien
Nama

: Nn. F

Umur

: 16 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: BT Manai

Agama

: Islam

Masuk RS

: 21 juni 2016

II. PEMERIKSAAN
1. ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu pasien:

Keluhan utama : Nyeri dan sulit menggerakkan tungkai kanan setelah


kecelakaan lalu lintas.

Anamnesis Terpimpin :
Pasien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan Nyeri dan sulit
menggerakkan tungkai kanan setelah kecelakaan lalu lintas 2 minggu
yang lalu, mual (-), muntah (-), pingsan (-).

2. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : sakit sedang

Tekanan Darah

: 110/80 mmhg

Nadi

: 80x/menit

Pernapasan

: 19x/menit

Suhu

: 36,50C

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Status Lokalis

: Regio cruris dextra

Inspeksi : tidak tampak luka robek, deformitas (+)

Palpasi

: nyeri tekan (+)


1

3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium

WBC

: + 11,6

RBC

: 4,02

HGB

: - 11,3 g/dl

PLT

: 432x103

Hct

: -32,7%

LED

: 23 mm/jam

LYM%

: -19,9%

NEUT%

: 75,2%

b. Pemeriksaan Radiologi
Rontgen Tibia-Fibula sinistra AP/Lateral

Fractur complete anterolateral angulation 1/3 distal os tibia dan os


fibula
4.

DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Tibia Fibula Dextra 1/3 Distal

5. PENATALAKSANAAN
-

IVFD RL 20 tetes/menit

Cefotaxime 1gr iv/12 jam

Metronidazole 5 gr iv/8 jam

Gentamicin iv/8 jam

Ketorolac iv/8 jam

Ranitidine iv/12 jam

Rencana operatif

6. Prognosis
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam: bonam
Tanggal

Perjalanan penyakit

21/06/16

S: MRS dengan keluhan kaki kanan nyeri -

IVFD RL 20 tpm

(+)

cefotaxime 1 gr iv/12 j

dan

sulit

Instruksi Dokter

digerakkan

setelah -

kecelakaan lalulintas 2 minggu yang lalu, -

metronidazole 5 gr iv/8j

kelainan bentuk pada kaki kanan, mual -

gentamicin iv/8j

(-), muntah (-), pingsan (-).

ketorolac iv/8j

ranitidi iv/8j

O: Td= 110/80 mmhg

P= 19x/i
S= 36,5oC

N= 80x/I
Regio cruris dextra
A:
22/06/16

Fractur

complete

anterolateral

angulation 1/3 distal os tibia dan os fibula


S: kelainan bentuk pada kaki kanan, sulit -

IVFD RL 20 tpm

digerakkan, nyeri (+), sakit kepala (-), -

cefotaxime 1 gr iv/12 j

mual (-), muntah (-).

metronidazole 5 gr iv/8j

P= 20x/I

gentamicin iv/8j

S= 36,4oC

ketorolac iv/8j

ranitidi iv/8j

O: TD= 110/80 mmhg


N= 76x/I
Regio cruris dextra
A:
23/06/16

Fractur

complete

anterolateral

angulation 1/3 distal os tibia dan os fibula


S: kelainan bentuk pada kaki kanan, sulit -

IVFD RL 20 tpm

digerakkan, nyeri (+), sakit kepala (-), -

cefotaxime 1 gr iv/12 j

mual (-), muntah (-). Kelainan pada kulit -

metronidazole 5 gr iv/8j

di daerah yang fraktur.

gentamicin iv/8j

P= 20x/i

ketorolac iv/8j

S= 36,2oC

ranitidi iv/8j

O: TD= 110/70 mmhg


N= 72x/i
A:

Fractur

complete

anterolateral

angulation 1/3 distal os tibia dan os fibula

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi dan Penyebab Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan
epifisis dan atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa
trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada
tulang (fraktur patologik).
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan,
pemuntiran, atau penarikan. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau
tidak langsung. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan
mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bila titik tumpu
benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Tekanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan keretakan pada tulang.
Keadaan ini paling sering ditemui pada tibia, fibula, atau metatarsal. Fraktur
dapat pula terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya
oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit
paget).
2. Anatomi
Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas. Hal
ini diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia hanya
ditutupi jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi fraktur
cruris terbuka yang menimbulkan masalah dalam pengobatan.
Secara anatomi terdapat 4 grup otot yang penting di cruris:
1. otot ekstensor
2. otot abductor
3. otot triceps surae
4. otot fleksor

Keempat grup otot tersebut membentuk 3 kompartemen


Grup I

: memebentuk kompartemen anterior

Grup II

:membentuk kompartemen lateral

Grup III+IV

:membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari


kompartemen superficial dan kompartemen dalam.

Arteri:
-

arteri tibialis anterior

arteri tibialis posterior

arteri peroneus

Saraf:
1. n.tibialis anterior dan n.peroneus mempersarafi otot ekstensor dan
abductor.
2. n.tibialis posterior dan n.poplitea untuk mempersarafi otot fleksor dan
otot triceps surae.
3. Klasifikasi Fraktur
a. Komplit - tidak komplit
- Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
1. Hairline fracture (patah retak rambut)
2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya).
3. Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak)

b.

Bentuk garis patah

dan

hubungannya dengan

mekanisme

trauma
- garis patah melintang

- garis patah oblique

garis patah spiral

fraktur kompresi

c. Jumlah garis patah


- fraktur kominutif

:garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan

- fraktur segmental

:garis patah lebih dari satu tetapi tidak


berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula
fraktur bifokal.

- fraktur multipel

:garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang


berlainan tempatnya.

d. Bergeser - tidak bergeser (displaced-undisplaced)


-

fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua


fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh.

Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen


fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.
1. dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
2. dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3. dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauhi).

e. Terbuka - tertutup
-

Fraktur tertutup : bila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur


dengan udara luar atau permukaan kulit.

Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang


fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat
ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.

Grade I

: luka biasanya kecil, luka tusuk yang bersih pada tempat tulang
menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan lunak,
tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif.

Grade II

: luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak


banyak terdapat kerusakan jaringan lunak, dan tidak lebih dari
kehancuran atau kominusi fraktur tingkat sedang.

Grade III

: terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan lunak dan


struktur neurovaskuler, disertai banyak kontaminasi luka.

III A

: tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi secara


memadai oleh jaringan lunak.

III B

: terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang berat.

III C

: terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak peduli berapa


banyak kerusakan jaringan lunak yang lain.

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologis

Dilakukan foto rontgen sinar X minimal harus 2 proyeksi yaitu


AP dan lateral. Pemeriksaan radiologis pada fraktur femur selain proyeksi AP
dan lateral, proyeksi panggul dan lutut ipsilateral, termasuk AP pelvis juga
harus didapatkan. Fraktur intertrochanter dan femoral neck ipsilateral telah
dilaporkan pada 10% pasien dengan fraktur femur.
Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik, diagnosis dapat dibuat
secara klinis sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk
melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya.
Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan tanda-tanda klasik memang
diagnosanya

harus dibantu pemeriksaan

radiologis baik rontgen biasa

ataupun pemeriksaan canggih seperti MRI, contohnya untuk fraktur tulang


belakang dengan komplikasi neurologis.
5. Diagnosis
Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis
lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting
untuk dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto
rontgen untuk membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan
yang sebenarnya.
1. Anamnesa : ada trauma
Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci
jenisnya, besar-ringannya trauma, arah trauma

dan posisi penderita atau

ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).


Dari anamnesa saja dapat diduga :
- Kemungkinan politrauma.
- Kemungkinan fraktur multipel.
- Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu, misalnya : fraktur colles, fraktur
supracondylair humerus, fraktur collum femur.
- Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit
- Ada gangguan

fungsi, misalnya : fraktur femur, penderita tidak dapat

berjalan.

10

Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur inkomplit

dan

fraktur impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam tulang spongiosa).


2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan kompikasi umum, misalnya : shock pada fraktur
multipel, fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur
terbuka terinfeksi.

3. Pemeriksaan status lokalis


Tanda-tanda fraktur yang klasik adalah untuk tulang panjang. Fraktur
tulangtulangkecil misalnya: naviculare manus, fraktur avulsi, fraktur
intraartikuler, fraktur epifisis.

Fraktur tulang-tulang yang dalam misalnya

odontoid-cervical, cervical, dan acetabulum mempunyai tanda-tanda tersendiri.


6. Penatalaksanaan
Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4:
1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal pengobatan
perlu diperhatikan:
# Lokalisasi fraktur
# Bentuk fraktur
# Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
# Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang
dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis
dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah
komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis
di kemudian hari.

11

Posisi yang baik adalah :


- alignment yang sempurna
- aposisi yang sempurna
3. Retention; imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation;

mengembalikan

aktifitas

fungsional

semaksimal

mungkin

Pilihan Terapi
Ada 2 terapi, pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia
penderita, level aktivitas, dan pilihan dokter sendiri.
a. Terapi pada fraktur tertutup
Pilihannya adalah terapi konservatif atau operatif .
- Terapi konservatif
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang minimal
atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan

cacat di

kemudian hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan yang baik.
3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

12

Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti.


Fragen distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragen
proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam
gips.
4. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam
gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi
dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau
dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi
kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas
untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban
tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana
tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang
dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

- Terapi operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan
radiologis.
1. Reposisi tertutup fiksasi externa
Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif maka
dipasang fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang,
digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian

13

pin baja tadi disatukan secarakokoh dengan batangan logam di luar


kulit.

2. Reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna.


Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi. Setelah
tereposisi dilakukan pemasangan pen secara operatif.
Terapi operatif dengan membuka frakturnya
1. Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open Reduction and Internal
Fixation)
Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang
panjang, bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan tulang.
Keuntungan ORIF adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang
fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips
dan segera bisa dilakukan immobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi
secara operatif ini mengundang resiko infeksi tulang.

Indikasi ORIF:
14

a) fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi.
b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
c) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi, misalnya fraktur femur.
2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis dilakukan pada fraktur
kolum femur.
b. Terapi pada fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan segera. Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra rumah
sakit:
- pembidaian
- menghentikan perdarahan dengan perban tekan
- menghentikan perdarahan dengan perban klem.

Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena
40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-saving harus
selalu didahulukan dalam kerangka kerja terpadu.
Tindakan terhadap fraktur terbuka:

15

1. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta
pembidaian anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
2. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur serta
tindakan reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan dalam waktu
kurang dari 6 jam (golden period 4 jam)
3. penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.
Tindakan reposisi terbuka:
1. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang baik.
2. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/ sensitifity
test.
3. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan
dicukur.
4. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10 liter. Luka
derajat 3 harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi.
5. Tutup luka dengan doek steril
6. Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya
7. Desinfeksi anggota gerak
8. Drapping
9. Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali
neirovascular vital termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan diikuti
reposisi terbuka, kalau perlu perpanjang luka dan membuat incisi baru
untuk reposisi tebuka dengan baik.
10. Fiksasi:
a. fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan reposisinya
(unstable fracture) minimal dengan Kischner wire
b. Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya seperti
pada operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam masa golden
period untuk fraktur terbuka grade 1-2

16

c. Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak memadai
(karena sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar (dengan gips spalk
atau sirkular)
d. Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan
ketegangan, biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing biasa
atau dibuat sayatan kontra lateral.
Untuk grade 3 kalau perlu:
Pasang fikasasi externa dengan fixator externa (pin/screw dengan K
nail/wire dan acrylic cement). Usahakan agar alignment dan panjang
anggota gerak sebaik-baiknya. Apabila hanya dipasang gips, pasanglah
gips sirkuler dan kemudian gips dibelah langsung (split) setelah selesai
operasi.
e. Buat X-ray tindakan
7. Prognosis
Prognosis dari fraktur tibia fibula untuk kehidupan adalah bonam. Pada
sisi fungsi dari kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke performa
semula, namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam
terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan.
Komplikasi infeksi yang menyebabkan osteomielitis biasanya merupakan
akibat dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah reposisi
terbuka.
8. Penyembuhan Fraktur
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis.

Tidak seperti

jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan
parut. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang
mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai
sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi
fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain faktor
biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial dalam
penyembuhan fraktur.

Proses penyembuhan fraktur berbeda pada tulang

17

kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang
panjang atau tulang-tulang pendek, sehingga kedua jenis penyembuhan fraktur
ini harus dibedakan.
1. Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal
Proses penyembuhan pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu:
a. Fase Hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil
yangmelewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada
daerah frakturdan akan membentuk hematoma di antara kedua sisi fraktur.
Hematoma yang besardiliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan
dapat mengalami robekanakibat tekanan hematoma sehingga dapat terjadi
ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah
fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah
cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
b. Radang dan proliferasi seluler
Dalam delapan jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai
proliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang
tertembus. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan sel, yang menghubungkan
tempat fraktur. Hematoma yang membeku perlahan-lahan diabsorpsi dan
kapiler baru yang halus berkembang ke daerah itu.
c. Fase pembentukan kalus
Sel yang berkembang biak memiliki potensi krondrogenik dan osteogenik.
Apabila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang
dan dalam beberapa keadaan juga kartilago.

Populasi sel sekarang juga

mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan pembuluh darah baru) yang mulai


membersihkan tulang yang mati. Massa sel yang tebal, dengan pulau-pulau
tulang yang immatur dan kartilago, membentuk kalus atau bebat pada
permukaan periosteal dan endosteal. Sementara tulang fibrosa yang immature
(atau anyaman tulang) menjadi lebih padat, gerakan pada tempat fraktur
semakin berkurang dan pada empat minggu setelah cedera, fraktur menyatu.

18

d. Fase konsolidasi
Bila aktivitas osteoklastik dan osteoblastik berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi tulang lamelar.

Sistem itu sekarang cukup kaku untuk

memungkinkan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan


dekat dibelakangnya osteoblas mengisi celah-celah yang tersisa diantara
fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin
perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban yang
normal.
e. Fase remodeling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk
ulang oleh proses resorpsi dan pembentukan tulang yang terus menerus.lamela
yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya tinggi, dindingdinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk. Akhirnya,
dan terutama pada anakanak tulang akan memperoleh bentuk yang mirip
bentuk normalnya.

2. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa


Tulang kanselosa yang berlokasi pada metafisis tulang panjang, tulang
pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis.

Penyembuhan

fraktur pada daerah tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus


internal atau endosteal, walaupun eksternal kalus atau periosteal juga memiliki
peranan yang penting. Trabekula dari tulang kanselosa memiliki vaskularisasi
yang baik sehingga nekrosis yang terjadi pada permukaan daerah fraktur
19

berlangsung minimal. Proses osteogenik penyembuhan sel dari bagian


endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk woven
bone primer di dalam derah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan
kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur pada
tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana terjadi kontak lansung diantara
kedua permukaan fraktur yang berarti satu kalus endosteal. Apabila terjadi
kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. Selanjutnya woven
bone diganti oleh tulang lamelar dan tulang mengalami konsolidasi.
Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena
beberapa faktor, yaitu :
1) Vaskularisasi yang baik
2) Terdapat permukaan yang lebih luas
3) Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat
4) Hematoma memegang peranan dalam penyembuhan fraktur
3. Penyembuhan fraktur pada tulang rawan persendian
Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuannya
untuk regenerasi.

Pada fraktur intraartikuler penyembuhan tidak terjadi

melalui tulang rawan hialin, tetapi terbentuk melaui fibrokartilago.


9. Komplikasi Penyembuhan Fraktur
1. Malunion
Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi
terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus, rotasi, kependekan
atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna.
Etiologi
Fraktur tanpa pengobatan, pengobatan yang

tidak adekuat, reduksi dan

imobilisasi yang tidak baik, pengambilan keputusan serta teknik yang salah
pada awal pengobatan, osifikasi premature pada lempeng epifisis karena
adanya trauma.
Gambaran Klinis

20

Deformitas dengan bentuk yang bervariasi, gangguan fungsi anggota gerak,


nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi, ditemukan komplikasi seperti
paralysis tardi nervus ulnaris, Osteoartritis apabila terjadi pada daerah sendi,
bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang mengalami deformitas.
Radiologis
Pada foto roentgen terdapat penyambungan fraktur tetapi dalam posisi yang
tidak sesuai dengan keadaan yang normal.
Pengobatan
Konservatif

dilakukan

refrakturisasi

dengan

pembiusan

umum

dan

diimobilisasi sesuai dengan fraktur yang baru, apabila ada kependekan anggota
gerak dapat dipergunakan sepatu ortopedi. Operatif dilakukan osteotomi
koreksi (osteotomi Z) dan bone graft disertai dengan fiksasi interna, atau
dengan osteotomi dengan pemanjangan bertahap misalnya pada anak-anak,
atau dengan osteotomi yang bersifat baji.
2. Delayed Union
Delayed Union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5
bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak
bawah).
Etiologi
Sama dengan nonunion.
Gambaran Klinis
Nyeri anggota gerak dan pergerakan pada waktu berjalan, terdapat
pembengkakan, nyeri tekan, terdapat gerakan yang abnormal pada daerah
fraktur, pertambahan deformitas.
Radiologis
Tidak ada gambaran tulang baru pada ujung daerah fraktur, gambaran kista
pada ujung-ujung tulang karena adanya dekalsifikasi tulang, gambaran kalus
yang kurang disekitar fraktur.
Pengobatan

21

Konservatif dilakukan pemasangan plester untuk imobilisasi tambahan selama


2-3 bulan. Operatif dilakukan bila union diperkirakan tidak akan terjadi maka
segera dilakukan fiksasi interna dan pemberian bone graft.
3. Non union
Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8 bulan dan tidak
didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi palsu).
Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi bersamasama infeksi disebut infected pseudoartrosis. Beberapa jenis nonunion terjadi
menurut keadaan ujung-ujung fragmen tulang yaitu:
hipertrofikujung-ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari normal
yang disebut gambaran elephants foot, garis fraktur tampak dengan jelas,
ruangan antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan ikat fibrosa, pada
jenis ini vaskularisasi baik sehingga biasanya hanya diperlukan fiksasi yang
rigid tanpa pemasangan bone graft.
Atrofik/oligotrofik tidak ada tanda-tanda aktivitas seluler pada ujung
fraktur, ujung tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik dan avaskuler,
pada jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan pemasangan
bone graft.
Etiologi
Vaskularisasi yang kurang pada ujung-ujung fragmen, reduksi yang tidak
adekuat, imobilisasi yang tidak adekut sehingga terjadi pada kedua fragmen,
waktu imobilisasi yang tidak cukup, infeksi, distraksi pada kedua ujung karena
adanya traksi yang berlebihan, interposisi jaringan lunak di antara kedua
fragmen, terdapat jarak yang cukup besar antara kedua fragmen, destruksi
tulang misalnya oleh karena tumor atau osteomielitis (fraktur patologis),
disolusi hematoma fraktur oleh jaringan sinovia (fraktur intrakapsuler),
kerusakan periosteum yang hebat sewaktu terjadi fraktur atau operasi, fiksasi
interna yang tidak sempurna, delayed union yang tidak diobati, pengobatan
yang salah atau sama sekali tidak dilakukan pengobatan, terdapat benda asing
diantara kedua fraktur misalnya pemasangan screw diantara kedua fragmen.
Gambaran Klinis

22

Nyeri ringan atau sama sekali tidak ada, gerakan abnormal pada daerah fraktur
yang membentuk sendi palsu yang disebut pseudoartrosis, nyeri tekan sedikit
atau sama sekali tidak ada, pembengkakan bisa ditemukan dan bisa juga tidak
terdapat pembengkakan sama sekali, pada perabaan ditemukan rongga diantara
kedua fragmen.
Radiologis
Terdapat gambaran sklerotik pada ujung-ujung tulang, ujung-ujung tulang
berbentuk bulat dan halus, hilangnya ruangan meduler pada ujung-ujung
tulang, salah satu ujung tulang dapat berbentuk cembung dan sisi lainnya
cekung (pseudoartrosis).

Pengobatan
Fiksasi interna rigid dengan atau tanpa bone graft, eksisi fragmen kecil dekat
sendi misalnya kepala radius dan prossesus styloideus ulna, pemasangan
protesis misalnya pada fraktur leher femur, stimulasi elektrik untuk
mempercepat osteogenesis.
10. Komplikasi Fraktur Femur
1. Komplikasi Dini
-

Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur


bersifat

tertutup.

Emboli lemak.

Trauma Pembuluh darah.

Trauma Saraf.

Trombo-emboli.

Infeksi.

2. Komplikasin Lanjut
-

Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam
4 bulan.

Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai


adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.

23

Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka


diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi sering
ditemukan. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai
sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi.

Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitsn


pergerakan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi
periartikuler atau adhesi intrmuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila
fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.

Refraktur: terjadi apabila imobilisasi dilakukan sebelum terjadi union yang


solid.

BAB III
ANALISIS KASUS
Pada anamnesis didapatkan data bahwa penderita berusia 16 tahun
beralamat di BT Manai yang datang berobat ke RSUD Syekh Yusuf dengan
keluhan nyeri dan sulit menggerakkan tungkai kanan setelah kecelakaan lalu
lintas. Dari anamnesis lebih lanjut diketahui bahwa 2 minggu yang lalu pasien
mengalami kecelakaan lalulintas. Pada pemeriksaan fisik, status generalis
didapatkan pernafasan, nadi, tekanan darah dan suhu dalam batas normal. Dari
hasil pemeriksaan fisik, pada status lokalis didapatkan pada regio tibia-fibula
dextra tampak adanya deformitas yang menyingkirkan trauma jaringan lunak,
NVD baik dan ROM aktif pasif terbatas, yaitu penderita kesulitan menggerakkan
secara aktif dan pasif sendi lutut dan adanya nyeri tekan. Pemeriksaan penunjang
yang dilakukan berupa pemeriksaan radiologis dengan hasil rontgen tibia fibula
dextra AP/Lateral didapatkan adanya fraktur tibia fibula dextra 1/3 distal.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
yang telah dilakukan disimpulkan bahwa pasien ini didiagnosa dengan fraktur
tibia fibula dextra 1/3 distal. Penatalaksanaan pada pasien ini

berupa terapi

24

konservatif dengan pemberian antibiotik dan analgetik dilanjutkan terapi operatif.


Prognosis pasien ini adalah Quo ad vitam bonam dan quo ad fungtionam bonam.

DAFTAR PUSTAKA
Ruedi. P. Thomas. AO Principles of Fractures Management. New York:
AO Publishing. 2000
Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedoktran
Universitas Indonesia. Jakarta: Binarupa Aksara. 1995
Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998
Doherty M. Gerard. Current Diagnosis and Treatment Surgery.13th
Edition. New York: Mc Grow Hill. 2009
Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta:
Media Aesculapius. 2000.
Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang
Lamumpatue. 2003.

25

Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC.
2004.
Keany E. James. Femur Fracture. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/824856-treatment
Bergman, Ronald, Ph.D. Anatomy of First Aid: A Case Study Approach.
Available from:
http://www.anatomyatlases.org/firstaid/ThighInjury.shtml
Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley.
Jakarta: Widya Medika. 1995.

26