Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

KONSEP DAN PENGERTIAN HUKUM KONTRAK


A. ISTILAH DAN PENGERTIAN HUKUM KONTRAK
Lawrence M. Friedmaan mengartikan hokum kontrak adalah Peangkat hokum
yang hanya mengatur aspek tertentu dari pasar dan mengatur jenis perjanjian
tertentu.
Kesimpulan Pengertian menurut Penulis, hokum kontrak adalah keseluruhan dari
kaidah-kaidah hokum yang mengatur hokum antara dua pihak atau lebih
berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hokum.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat dikemukakan unsur-unsur yang tercantum
dalam hokum kontrak, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Adanya kaidah hokum


Subjek hokum
Adanya presetasi
Kata sepakat
Akibat hokum

B. TEMPAT PENGATURAN HUKUM KONTRAK


Hokum kontrak diatur dalam Buku III KUH Perdata, yang terdiri atas 18 bab
dan 631 pasal. Hal-hal yang idatur dalam Buku III KUIH Perdata adalah
sebagai berikut:
1. Perikatan pada umumnya (Pasal 1233 sampai 1312 KUH Perdata)
2. Perikatan yang dilahirkan dari perjanjian (Pasal 1313 sampai dengan 1315
KUH Perdata)
3. Hapusnya Perikatan (Pasal 1381 samapai dengan 1456 Perdata)
4. Jual Beli (Pasal 1457 sampai dengan pasal 1540 KUH Perdata)
5. Tukar-menukar (Pasal 1541 sampai dengan pasal 1546 KUH Perdata)
6. Sewa menyewa (Pasal 1548 sampai dengan Pasal 1600 KUH Perdata)
7. Persetujuan untuk melakukan pekerjaan (Pasal 1601 sampai dengan 1617
KUH Pedata)
8. Persekutuan (Pasal 1618 sampai dengan Pasal 1652 KUH Perdata)
9. Badan Hukum (Pasal 1653 sampai dengan 1665 KUH Perdata)
10.Hibah (Pasal 1666 sampai dengan Pasal 1693 KUH Perdata)
11.Penitipan barang ( Pasal 1694 sampai dengan Pasal 1739 KUH Perdata)
12.Pinjam Pakai ( Pasal 1740 sampai dengan Pasal 1753 KUH Perdata)
13.Pinjam-meminjam (Pasal 1740 sampai dengan Pasal 1752 KUH Perdata)
14.Bunga tetap atau abadi (Pasal 1770 sampai dengan Pasal 1773 KUH
Perdata)
15.Perjanjian untung-untungan (Pasal 1774 sampai dengan Pasal 1791 KUH
Perdata)
16.Pemberian Kuasa (Pasal 1792 sampai dengan 1819 KUH Perdata)
17.Penanggung Utang (Pasal 1820 sampai dengan Pasal 1850 KUH Perdata)
18.Perdamaian (Pasal 1851 dampai dengan Pasal 1864 KUH Perdata)

Perjanjian
jual-beli,
tukar-menukar,
sewa-menyewa,
persekutuan,
perkumpulan, hibah, penitipan barang, pinjam pakai, bunga tetap dan abadi,
untung-untungan, pemberian kuasa, penanggung utang, dan perdamaian
merupakan perjanjian yang bersifat khusus yang disebut perjanjian
nominaat. Perjanjian nominaat adalah perjanjian yang dikenal dalam hokum
perdata. Diluar KUH Perdata dikenal juga perjanjian lainya seperti kontrak
production shring, kontrak joint venture, dll. Perjanjian jenis ini disebut
perjanjian innominaat yaitu perjanjian yang timbul, tumbuh hidup, dan
berkembang dalam praktik kehidupan masyarakat.

C. SISTEM PENGATURAN HUKUM KONTRAK


System pengaturan hokum kontrak adalah system terbuka artinya bahwa
setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian yang belum diatur dalam
undang-undang.
Menurut HR 1919 yang diarttikan perbuatan melwan hokum adalah;
1. Melanggar hak orang lain
2. Bertentangan dengan kewajiban hokum berlaku]
3. Bertentangan dengan kesusilaan
4. Bertentangan dengan kecermatan yang harus diindahkan dalam
masyarakat

D. ASAS HUKUM KONTRAK


1. Asas Kebebasan Berkontrak
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan
kebebasan kepada para pihak untuk;
a. Membuat atau tidak membuat perjanjian
b. Mengadakan perjanjian dengan siapapun
c. Menentukan isi perjanian, pelaksananaan, dan persyaratannya, dan
d. Menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan.
2. Asas Konsensualisme
Asas konsensualisme adalah asas yang menyatakan bahwa perjanjian
pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan
adanya kesepakatan kedua belah pihak.
3. Asas Pacta Sunt Sevanda
Disebut juga dengan kepastian hokum. Asas pacta sunt servanda
merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati
substansi kontak yang dibuat oleh para pihak.
4. Asas itikad baik
Merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus
melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau
keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak. Adas itikad baik
dibagi menjadi iktikad baik bisbi dan iktikad baik mutlak.
5. Asas kepribadian (personalitas)
Merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang akan melakukan
atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja.
E. SUMBER HUKUM KONTRAK

Sumber hokum dapat dilihat dari keluarga hukumnya. Ada keluarga hokum
rowmawi, common law, hokum sosialis, hokum agama, dan hokum
tradisional.
1. Sumber hokum kontrak dalam civil law
pada dasarnya sumber hokum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
sumber hokum materiil yaitu tempat dari mana materi hokum itu diambil
dan hokum formal yaitu tempat memperoleh kekuatan hokum. Sumber
hokum kontrak yang berasal dari peraturan perundang-undangan ,
disajikan sebagai berikut:
a. Algemene Bepalingen van Wetgeving (AB)
b. KUH Perdata (BW)
c. KUH Dagang
d. UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat
e. UU No. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
f. UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Pilihan
Penyelesaian Sengketa
g. UU No, 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional
2. Sumber hokum kontrak Amerika
3. Dalam hokum kontrak Amerika (common law), sumber hokum dibagi
menjadi sumber hokum primer yaitu sumber hokum yang utama dan
sumber hokum sekunder yaitu sumber hokum yang kedua. Sumber hokum
sekunder terdiri dari restatement dan legal commentary.
Berdasarkan sumber hokum tersebut maka hokum kontrak yang berlaku di
Amerika Serikat dibedakan sebagai berikut;
a. Judicial Opinion (Keputusan Hukum)
b. Statutory Law (Hukum Perundang-Undangan)
c. Restatements
d. Legal Comentary (Komentar Hukum)

BAB 2
SYARAT-SYARAT SASHNYA DAN MOMENTUM TERJADINYA KONTRAK\
Unsur-unsur perjanjian, menurut teori lama adalah sebagai berikut;
1.
2.
3.
4.
5.

Adanya perbuatan hokum


Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang
Persesuaian kehendak harus dipublikasikan.dinyatakan
Perbuatan hokum terjadi karena kerja sama antara dua orang atau lebih
Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus salingh bergantung
satu sama lain
6. Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hokum
7. Akibat hokum itu untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau
timbal balik
8. Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundangundangan

Teori baru tidak hanya melihat perjanjian semata-mata, tetapi juga harus dilihat
perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. Ada tiga tahap dalam membuat
perjanjian menurut teori baru yaitu;
1. Tahap pracontractual
2. Tahap contractual
3. Tahap post contractual

B. JENIS-JENIS KONTRAK
1. Kontrak menurut Sumber Hukumnya (Sudikno Mertokusumo, 1987;11)
2. Kontrak menurut namanya
3. kontrak menurut bentuknya
4. kontrak timbal balik
5. perjanjian Cuma-Cuma atau dengan alas hak yang membebani
6. Perjanjian berdasarkan sifatnya
7. Perjanjian dari aspek larangannya

C. SYARAT-SYARAT SAHNYA KONTRAK


1. Menurut KUH Perdata (civil law)
Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya perjanjian yaitu:
- Adanya kesepakatan kedua belah pihak
- Kecapakapan untuk melakukan perbuatan hokum
- Adanya objek
- Adanya klausa yang halal
2. Menurut hokum kontrak Amerika
Empat syarat sah kontrak, yaitu:
- Adanya offer dan acceptance
- Meetingof minds
- Consideration
- Competent paries and legal subject matter
D. MOMENTUM TERJADINYA KONTRAK
1. Teoti pernyataan (Uitingstheorie)
Menurut teori ini kespekatan terjadi pada saat pihak yang menerima
penawaran menyatakan bahwa ia menerima penawaran itu.
2. Teori Pengiriman (Verzendtheorie)
Kesepakatan terjadi apabila pihak yang menerima penawaran mengirimkan
telegram
3. Teori pengetahuan (Vernemingstheorie)
Kesepakatan terjadi apabila pihak yang menawarkan mengetahui adanya
penerimaan tetapi penerimaan itu belum diterimanya.

4. Teori penerimaan (Ontvangstheorie)


Kesepakatan terjadi pada saat pihak yang menawarkan menerima langsung
jawaban dari pihak lawan.
E. BENTUK-BENTUK KONTRAK
Bentuk kontrak dapat dibedakan menjadi perjanjian tertulis dan lisan. Ada 3 bentuk
perjanjian tertulis yaitu:
1. Perjanjian di bawah tangan yang ditandatangani oleh para [ihak yang
bersangkutan saja
2. Perjanjian dengan saki notaris untuk melegalisir tanda tangan para pihak.
3. perjanjian yang dibuat dihadapan dan oleh notaris dalam bnentuk akta
notariel.
Didalam hokum kontrak Amerika , kontrak menurut bentuknya dibagi menjadi
informal contract yaitu kontrak dalam bentuk lazim dan formal contract adalah
kontak yang memerlukan bentuk dan cara-cara tertentu.
F. INTERPRETASI DALAM KONTRAK
Untuk melakukan penafsiran haruslah dilihat beberapa aspek, yaitu:
1. jika kata-katanya dalam kontrak memberikan berbagai penafsiran maka
harus diselidiki maksud para pihak yang membuat perjanjian
2. jika suatu perjanjian memberikan berbagai penafsiran maka harus diselidiki
pengertian yang memungkinkan perjanjian itu dapat dilaksanakan
3. jika kata-kata dalam perjanjian diberikan dua macam pengertian maka harus
dipilh pengertian yang paling selaras dengan sifat perjanjianj
4. jika ada keragu-ragua, perjanjian harus ditafsirkan atas kerugian orang yang
meminta diperjanjikan sesuatu hal, dan untuk keuntungan orang yang
mengikatkan dirinya untuk itu.
G. FUNGSI KONTRAK
Fungsi kontrak dibedakan menjadi fungsi yuridis yaitu dapat memberikan kepastian
hokum bagi para pihak dan fungsi ekonomis yaitu mneggerakkan sumber daya dari
nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi nilai yang lebih tinggi.

BAB 4
KONTRAK NOMINAAT
B. JENIS-JENIS KONTRAK NOMINAAT
Didalam KUH Perdata jenis kontrak nominaat yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

jual beli
tukar-menukar
sewa-menyewa
perjanjian melakukan pekerjaan
persekutuan perdata

6. badan hokum
7. hibah
8. penitipan barang
9. pinjam pakai
10.pinjam meminjam
11.pemberian kuasa
12.bunga tetap atau bunga abadi
13.perjanjian untung-untungan
14.penganggungan utang, dan
15.perdamaian

C. JUAL BELI
Jual beli adalah suatu persetujuan dimana penjual mengikat kan dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak lain untuk membayar harga yang
dijanjikan. Pada dasarnay terjadinya kontrak jual beli antara pihak penjual dan
pembeli adalah pada saat terjadinya persesuaian kehendak dan pernyataan
antara mereka tentang barang dan harga, meskipun barang tersebut belum
diserahkan maupun harganya belum lunas. Semua orang atau badan hokum
menjadi subjek dalam perjanjian jual beli yaitu bertindak sebagai penjual dan
pembeli dengan syarat yang bersangkutan telah dewasa dan atau sudah
menikah.
D. TUKAR MENUKAR
Perjanjian tukar menukar adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak satu
dengan pihak lainnya dimana satu pihak berkewajiban menyerahkan barang
yang ditukar begitu juga pihak lainnya berhak menerima barang yang ditukar.
Risiko dalam perjanjian tukar menukar adalah apabila brang yang menjadi objek
tuklar-menukar musnah di luar kesalahan salah satu pihak maka perjanjian itu
gugur. Pihak yang telah menyerahkan barang dapat menuntut kembali barang
yang telah diserahkan.
E. SEWA MENYEWA
Pada dasarnya sewa-menyewa dilakukan
diperkenankan tanpa perjanjian batas waktu.

untuk

waktu

tertentu,

tidak

F. PERSEKUTUAN
Persekutuan adalah persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikat
dirinya untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan dengan maksud untuk
membagi keuntungan karenanya. Persekutuan dapat dibedakan menjadi
persekutuan penuh dan persekutuan khusu. Dalam Pasal 1624 KUH
Perdata.disebutkan persekutuan mulai berlaku sejak saat terjadinya persesuaian
penyataan kehendak antara para sekutu, kecuali para sekutu menentukan lain.
G. BADAN HUKUM

Bbadan hokum adalah himpunan dari orang sebagai perkumpulan, baik


perkumpulan itu diterima sebagai diperbolehkan, atau telah didirikan untuk
maksd tertentu yang tidak bertentangan dengan undang-undang dan kesusilaan
yang baik. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang badan
hokum dapat dilihat dari:
-

KUH Perdata
KUH Dagang
NBW Belanda
Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan

Badan hokum dibedakan menurut bentuk, peraturan yang mengatur, dan


sifatnya. Menurut bentuknya badan hokum dibedakan menjadi badan hokum
privat dan public. Menurut peraturan yang mengaturnya diba=edakan
menjadi badan hokum yang terletak dalam lapangan hokum perdata BW dan
lapangan humum perdata adat. Sedangkan menurut sifatnya dibedakan
dibagi menjadi korporasi dan yayasan
Ada lima teori yang menganalisis tentang badan hokum yaitu;
a.
b.
c.
d.
e.

Teori
Teori
Teori
Teori
Teori

fiksi
konsesi
Zweckvermogen
kekayaan bersama
realis atau organic

H. HIBAH
Pada dasarnya perjanjian hibah merupakan perjanjian sepihak, karena yang paling
aktif untuk melakukan perbuatan hokum adalah si penghibah sedangkan penerima
hibah adalah pihak yang pasif.
I. PENITIPAN BARANG
Penitipan barang terjadi apabila seseorang menerima suatu barang dari orang
laindengan syarat bahwa ia akan menyimpannya dan mengembalikannya dalam
bentuk asalnya. Penitipan barang dibagi menjadi dua macam yaitu penitipan murni
(sejati) dan penitipan sekestrasi (penitipan dalam perselisihan).
J. PINJAM PAKAI
Pinjam pakai adalah suatu persetujuan dengan mana Yng Atu memberikan suatu
barang kepada pihak lainnya dengan Cuma-Cuma dengan syarat barang akan
dikembalikan setalh dipakai.
K. PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM (PAKAI HABIS)
Pinjam-meminjam adalah suatu perjanjian yang menentukan pihka pertama
menyerahkan sejumlah uang yang dapat habis terpakai kepada pihak kedua dengan

syarat bahwa pihak kedua tersebut akan mengembalikan barang sejenis kepada
pihak laindalam jumlah dan keadaan yang sama.
I. BUNGA TETAP ATAU BUNGA ABADI
Perjanjian bunga abadi merupakan perjanjian bahwa pihak yang meminjamkan
uang akan menerima pembayaran bunga atas sejumlah uang pokok yang tidak
akan diminta kembali. Bunga itu dapat diangsur.
M. PERJANJIAN UNTUNG-UNTUNGAN
Perjanjian untung-untungan dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu;
1. perjanjian pertanggungan
2. bunga cagak hidup
3. perjudian dan pertaruhan
N.PEMBERIAN KUASA
Perjanjian pemberian kuasa adalah suatu perjanjian yang berisikan pemberian
kekuasaan kepda orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas
nama orang yang memberi kuasa. Perjanjian ini dibedakan menjadi enam macam
yaitu:
-

akta umum
surat dibawah tangan
lisan
diam-diam
Cuma-Cuma
Kata khusus dan
Umum

O. PERJANJIAN PENANGGUNGAN UTANG


Ada 3 pihak yang terlibat perjanjain penanggungan utang yaitu kreditur, debitur
dan pihak ketiga. Sifat perjanjian penanggungan utang adalah bersifat accesoir
(tambahan) sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian kredit atau perjanjian
pinjaman uang antara debitur dan kreditur. Pada prinsipnya penanggung utang
tidak wajib membayar utang debitur kepada kreditur kecuali debitur lalai membayar
utangnya.
P. PERJANJIAN PERDAMAIAN
Perjanjian perdamaian disebut juag dading adalah persetujuan yang berisi bahwa
dengan menyerahkan , menjanjikan atau menahan suatu barang, kedua belah pihak
mengakhiri suatu perkara yang sedang diperiksa pengadilan ayau mencegah
timbulnya suatu perkara. Pasal 1852Perdata ditentukan bahwa orang yang
berwenang mengadakan perjanjian perdamaian adalah orang yang berwenang
untuk melepaskan haknya atas hal-hal yang termaktub dalam perjanjian itu.

BAB 5

KETENTUAN-KETENTUAN UMUM DALAM HUKUM KONTRAK


A. SOMASI
Somasi adalah teguran dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur)
agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati
antara keduanya. Ada tiga cara terjadinya somasi yaitu:
-

debitur melaksanakan prestasi yang keliru,


debitur tidak memenuhi prestasi pada hari yang telah dijanjikan,
prestasi yang dilaksanakan oleh debitur tidak lagi berguna bagi kreditur
setelah lewat waktu yang diperjanjikian.

Somasi harus disampaikan kepada debitur dalam bentuk surat perintah atau sebuah
akta yang sejenis. Yang berwenang mengeluarkan surat perintah itu adalah kreditur
atau pejabat yang berwenang untuk itu. Pejabat yang berwenang adalah juru sita,
Badan Urusan Piutang Negara, dan lain-lain. Surat teguran harus dilakukan paling
sedikit tiga kali dengan mempertimbangkan jarak tempat kedudukan kreditur
dengan tempat tinggal debitur.
B. WAN PRESTASI
Wanprestasi adalah tidak memnuhi atau lalai melaksanakan kewajiban
sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan
debitur. Ada 4 akibat adanya wanprestasi yaitu;
-

perikatan tetap ada


debitur harus membayar ganti rugi kepada kreditur
beban resiko untuk kerugian debitur
jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik amak kreditur dapat
membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan
menggunakan Pasal 1266 KUH Perdata.

C. GANTI RUGI
Ada dua sebab timbulnya ganti rugi yaitu ganti rugi karena wanprestasi dan
perbuatan melawan hokum. Ganti rugi yang dapat dituntut kepada debitur adalah
berupa kerugian yang telah dideritanya berupa biaya-biaya dan kerugian serta
keuntungan yang sedianya akan diperoleh ini ditujukan kepada bunga-bunga.
D. KEADAAN MEMAKSA
Ketentuan ini memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak melakukan
penggantian biaya, kerugian, dan bunga dikarenakan keadaan yang berada diluar
kekuasaannya. Keadaan memaksa dapat dibedakan menjadi keadaan absolut dan
keadaan memaksa yang relative.
Ada dua teori yang membahas tentang keadaan memaksa
ketidakmungkinan dan teori penghapusan atau peniadaan kesalahan.
E. RISIKO

yaitu

teori

Dalam teori hokum dikenal suatu ajaran yang disebut dengan resicoleer (ajaran
risiko) yaitu suatu ajaran dimana seseorang berkewajiban untuk memikul kerugian,
jika ada suatu kejadian diluar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda
yang menjadi objek perjanjian.ajaran ini timbul apabila terdapat keadaan memaksa
(overmacht).

BAB 6
PENYUSUNAN, STRUKTUR, DAN ANATOMI KONTRAK
Pada dasarnya kontrak yang dibuat oleh para pihak berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya. Dengan demikian, kontrak yang dibuat oleh para
pihak disamakan dengan undang-undang.
Hal-hal yang diperhatikan oleh para pihak yang akan mengadakan dan membuat
kontrak adalah:
-

kewenangan hokum para pihak


perpajakan
alas hak yang sah
masalah keagrariaan
pilihan hokum
penyelesaian sengketa
pengakhiran kontrak
bentuk perjanjian standar.
1. Kemampuan Para Pihak
Orang-orang yang tidak berwenang untuk membuat kontrak adalah
- Minderjarigheid (dibawah umur)
- Curatele (dibawah pengampuan)
- Istri. istri kini berwenang untuk membuat kontrak.
2. Perpajakan
Dalam hal
para pihak ingin membuat perjanjian perlu dirumuskan
sedemikian rupa untuk memperkecil pajak karena transaksi bisnis adalah
transaksi kena pajak.
3. Alas Hak yang Sah
Khusus untuk perjanjian jual beli calon pembeli harus mengetahui atau
mencari tahu bahwa penjual memang mempunyai alas hak yang sah atas
barang yang dijual.
4. Masalah keagrariaan
Dalam hal para pihak tidak memahami masalah-masalah keagrariaan maka
para ahli hokum harus memberitahukan hal tersebut kepada kliennya.
5. Pilihan hokum
Pilihan hokum yaitu berkaitan dengan hokum manakah yang akan digunakan
dalam pembuatan kontrak tersebut.
6. Penyelesaian sengketa
Dalam setiap perjanjian perlu dimasukkan klausula menyenai penyelesaian
sengketa apabila salah satu pihak tidak memenuhi perjanjian atau
wanprestasi.
7. Berakhirnya kontrak

Di dalam Pasal 1266 KUH Perdata ditentukan bahwa: Tiap-tiap yang akan
mengakhiri kontrak harus dengan putusan pengadilan yang mempunyai
yuridiksi atas kontrak tersebut. Maksdu ketentuan ini adalah melindungi
pihak yang lemah.
8. Bentuk Standar Kontrak
Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan telah
dituangkamn dalam bentuk formulir. Hakikat dari perjanjian baku adalah
perjanjian yang telah distandardisasi isinya oleh pihak ekonomi kuat,
ssedangkan pihak lainnya hanya diminta untuk menerima atau menolak
isinya.
B. PRINSIP-PRINSIP DALAM MENYUSUN KONTRAK
Dalam mempersiapkan kontrak ada dua prinsip hokum yang harus diperhatiakn
yaitu
-

Beginselen der contrachtsvrijheid atau party autonomy, dan


Pacta sunt servanda

C. PRAPENYUSUNAN KONTRAK
4 hal yang perlu diperhatiakn sebelum menyusun kontrak yaitu:
-

Identifikasi para pihak


Penelitian awal aspek terkait
Pembuatan memorandum of understanding (MOU)
Negosiasi

D. TAHAP PENYUSUNAN
Ada 5 tahap dalam penyusunan kontak yaitu:
-

Pembuatan draft pertama yang meliputi judul kontrak, pembukaan, pihkapihak dalam kontrak, racital, isi kontrak, dan penutup.
Saling menukar draft kontrak
Jika perlu diadakan revisi
Dilakukan penyelesaian akhir
Penutup dengan penandatanganan kontrak oleh masing-masing pihak.

E. STRUKTUR DAN ANATOMI KONTRAK


1. Bagian pendahuluan
a. Subbagian pembuka
b. Subbagian pencantuman identitas para pihak
c. Subbagian penjelasan
2. Bagain isi
a. Klausula definisi
b. Klausula transaksi
c. Klausula spesifik
d. Klausula ketentuan umum
3. Bagian penutup
a. Subbagian kata penutup
b. Subbagian ruang penempatan tanda tangan

BAB 7
POLA PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG KONTRAK
A. Bentuk-bentuk penyelesaian sengketa
Pola penyelesaian sengketa dapat melalui pengadilan dan alternative penyelesaian
sengketa
Penyelesaian sengketa melalui pengadilan adalah suatu pola penyelesaian sengketa
yang terjadi antara pihak yang diselesaikan di pengadilan. Apabila mengacu
ketentuan Pasal 1 ayat (10) UU No.30 tahun 1999 maka cara penyelesaian sengketa
melalui ADR dibagi menjadi lima yaitu:
-

Konsultasi
Negosiasi
Mediasi
Konsiliasi, atau
Penilaian ahli

Didalam literature juga disebutkan dua pola penyelesaian sengketa yaitu the
bidning adjudicative procedure dan the nonbinding adjudicative procedure.
B. LITIGASI
Litigasi merupakan suatu proses gugatan, suatu sengeka diritualisasikan yang
menggantyikan sengketa sesungguhnya, yaitu para pihak dengan memberikan
kepada soerang pengambil keputusan dua pilihan yang bertentangan. Proses litigasi
mensyaratkan untuk memperbaiki atau memulihkan hubungan sehingga para hakin
atau para pengambil keputusan lainnya dapat lebih siap membuat keputusan.
C. ARBITRASE
Arbitrase adalah penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang
berdasarkan pada perjanjian yang dibuat secara tertulis oleh pihak yang
bersengketa. Pada mulanya ketentuan tentang arbita=rase diatur didalam RV
(Burgerlijk Reglement op de Rechtvoerdering) dan HIR. Ketentuan ini tidak berlaku
lagi sekrang dan telah diganti dengan UU No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase
Alternatif Penyelesaian Sengketa. Lembaga arbitrase dibagi menjadi 2 macam yaitu
arbitrase ad haoc dan arbitrase institutional. Arbitrase institusional dibagi menjadi
dua sifat yaitu nasional dan internasional.