Anda di halaman 1dari 19

BAB III

HASIL PENGAMATAN

III. 1. Hasil Wawancara WPS


Tabel 3.1. Data WPS

Status

No

Nama

Asal

Umur

Ny. RS

Temanggung

29

pernikahan
Janda

Pendidikan

Agama

SMA

Islam

Nn. AN

Semarang

18

Gadis

SMP

Islam

Ny. R

Tegal

38

Janda

SD

Islam

Nn. N

Temanggung

18

Gadis

SD

Islam

Ny. W

Ambarawa

26

Kawin

SMP

Islam

Nn. Z

Semarang

33

Gadis

S1

Islam

Nn. N

Semarang

20

Gadis

SMP

Islam

8.

Ny. I

Palembang

34

Gadis

S1

Kristen

9.

Nn. E

Semarang

20

Gadis

SMA

Islam

10

Ny. P

Semarang

20

Janda

SD

Islam

Wawancara

dilakukan

di

Gedung

Resosialisasi/Rehabilitasi

Argorejo pada hari Kamis tanggal 17 Maret 2016 kepada 10 orang WPS,
yaitu: 5 WPS dari Semarang, 2 WPS dari Temanggung, 1 WPS dari
Ambarawa, 1 WPS dari Tegal, dan 1 WPS dari Palembang. Berdasarkan
tingkat pendidikannya, terdapat 2 orang yang merupakan lulusan S1

(20%), 2 orang lulus SMA (20%), 3 orang lulus SMP (30%), dan 3 orang
lulus SD (30%).
Riwayat bekerja di Sunan Kuning berbeda-beda setiap orangnya, 5
orang WPS sudah bekerja kurang lebih 1 tahun, 1 orang bekerja selama 8
bulan, 1 orang selama 3 bulan, 2 orang selama 2 orang, dan 1 orang selama
1 bulan. Latar belakang responden bekerja di Sunan Kuning seluruhnya
karena alasan ekonomi (100%).
Tabel 3.2. Informasi Pemahaman dan Skrining IMS

Mendapatkan
No

info tentang
IMS

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Pemahaman

Alasan Skrining

Kesadaran Skrining

Pemahaman

Untuk mengetahui

cukup

Kesadaran sendiri

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

cukup

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

IMS

Ya

Ya

Pemahaman
8

Ya

Untuk mengetahui

cukup

PMS

Ya

Pemahaman

Untuk mengetahui

Disuruh resos

Kesadaran sendiri

Disuruh resos

Disuruh resos

Disuruh resos

Disuruh resos

Kesadaran sendiri
Kesadaran sendiri

10

Ya

cukup

PMS

Pemahaman

Untuk mengetahui

kurang

PMS

Disuruh resos

Dari hasil wawancara yang dilakukan pada responden, semua


responden mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai IMS dan
HIV dan pembinaan yang dilakukan di wilayah Sunan Kuning oleh Klinik
Griya ASA. Dari hasil wawancara tersebut, pemahaman mengenai IMS,
60% memiliki pengetahuan yang kurang mengenai IMS (infeksi menular
seksual) dan 40% memiliki pengetahuan yang cukup. Sebagian WPS
hanya mengetahui mengenai pengertian dan cara penularan IMS akan
tetapi kurang mengerti bagaimana gejala yang timbul bila terinfeksi serta
kesadaran untuk segera berobat masih kurang. Para WPS sering tidak sadar
dirinya mengalami infeksi menular seksual sampai para WPS melakukan
Skrining. Seluruh WPS hanya menggunakan obat yang diberikan dari
Griya ASA untuk mengobati penyakitnya.
Semua responden (100%) melakukan skrining di klinik Griya ASA
dan mengaku melakukan skrining, 4 dari 10 WPS melakukan Skrining
secara rutin setiap 2 minggu sekali atas kesadaran sendiri dan 6 sisanya
melakukan Skrining atas perintah petugas resosialisasi. Seluruh responden
juga menyatakan bahwa skrining tersebut sangat penting untuk mengetahui
mereka terinfeksi atau tidak.

Gambar 3.1. Riwayat Pengobatan IMS

Berdasarkan wawancara, WPS yang pernah mengidap IMS (5 dari


10 WPS) dengan keluhan keputihan yang sudah diobati di klinik Griya
ASA, mengatakan bahwa IMS yang dideritanya sembuh setelah dilakukan
pengobatan. Pada saat pemeriksaan Skrining dilakukan pada tanggal 17
Maret 2016, terdapat 4 WPS yang secara laboratorium ditemukan sel
radang dengan keluhan atau tanpa keluhan.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 responden, 6 responden
mengaku sudah pernah melakukan VCT dan hasil VCT yang dilakukan
tersebut menyatakan mereka bebas dari HIV.
Berdasarkan informasi dari 10 WPS yang diwawancarai, 10 dari 10
responden memiliki kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol.
Dari hasil wawancara juga didapatkan bahwa 8 responden (80%)
menyatakan selalu menawarkan kondom kepada tamu mereka dan
konsisten untuk menawarkan kondom terlebih dahulu kepada tamu lalu
apabila tamu menolak menggunakan kondom maka mereka tidak mau
melayani tamu tersebut, namun 2 responden (20%) mengatakan bahwa

mereka masih mau melakukan hubungan seksual unsafe pada tamu yang
memaksa tidak menggunakan kondom.

III. 2. Kunjungan ke Resosialisasi


Dari wawancara kepada petugas resosialisasi dan petugas lapangan
Griya ASA, didapatkan data mengenai peran pengurus resosialisasi.
Berdasarkan hasil wawancara, untuk masalah kesehatan, pengurus
resosialisasi bekerja sama dengan klinik Griya ASA dan telah menjalankan
beberapa program, diantaranya mewajibkan WPS untuk mengikuti
pembinaan (sekolah), melakukan skrining IMS, melakukan deteksi dini
HIV melalui klinik VCT, mengadakan senam setiap 1 minggu sekali pada
pukul 06.00 WIB dengan pembagian jadwal Gang 1, 2, dan 3 setiap hari
Jumat dan Gang 4, 5, 6 setiap hari Sabtu, penyediaan kondom serta
menjatuhkan sanksi bagi WPS yang melanggar tata tertib. Program dan
tata tertib tersebut berlaku untuk WPS yang tinggal di Sunan Kuning
maupun WPS yang berstatus freelance (panggilan) / yang tinggal di kos.
Kegiatan Skrining IMS dilakukan 2 minggu sekali, dimana klinik
IMS Griya ASA hanya menjangkau WPS di gang 4, 5, dan, 6, tetapi tidak
menutup kemungkinan WPS di gang 1, 2, dan 3 untuk datang dan
memeriksakan diri di klinik IMS Griya ASA. Hal ini karena WPS yang
berada di gang 1, 2, dan 3 merupakan jangkauan dari wilayah kerja
Puskesmas Lebdosari.
Klinik IMS Griya ASA juga menjalin hubungan baik dengan tim
outreach seperti melalui kerjasama untuk melakukan penyuluhan kepada

WPS, menyediakan pemateri penyuluhan, dan melaporkan WPS yang


terkena IMS ke tim outreach agar dapat dilakukan pendekatan personal.
Upaya pencegahan lainnya yang telah dilakukan adalah dengan
mewajibkan penggunaan kondom di Sunan Kuning, akan tetapi
pemantauan apakah WPS tersebut benar-benar memakai kondom atau
tidak sulit dilakukan karena setiap WPS hanya diwajibkan menawarkan
kondom kepada pelanggan akan tetapi keputusan ditangan pelanggan,
selain itu belum ada sanksi khusus yang diberikan kepada WPS yang tidak
menggunakan kondom.

III. 3. Pengamatan Klinik IMS


III. 3. 1. Kegiatan Klinik
Kegiatan yang dilakukan di klinik IMS antara lain skrining IMS,
VCT, dan Mobile VCT dan IMS yang dilaksanakan di panti-panti pijat,
jalanan, terminal, serta di perkumpulan yang ada di kelurahan dan
kecamatan. Jangkauan VCT dan Mobile VCT lebih dititikberatkan ke ibu
hamil dan ibu rumah tangga. Waktu pelaksaaan Mobile IMS adalah 1
bulan sekali, sedangkan Mobile VCT 3 bulan sekali.
III. 3. 2. Man (SDM)

1 orang petugas PKBI (bidan)

1 orang dokter yang merangkap sebagai CST

1 orang analis/petugas laboratorium

2 orang admin

1 orang konselor

III. 3. 3. Sarana prasarana


Ruang Registrasi dan Ruang Tunggu
Ruang registrasi yang ada di Klinik IMS juga digunakan sebagai
ruang tunggu pasien meskipun tidak terdapat kursi untuk menunggu.
Kondisi ruangan cukup nyaman, karena dilengkapi dengan kipas angin,
sirkulasi udara yang cukup, dan penerangan ruangan cukup baik.
Ruang Pemeriksaan
Di dalam ruang pemeriksaan, terdapat meja untuk meletakkan
peralatan pemeriksaan, applicator, lampu sorot, bedgyn, ember, lemari
penyimpanan obat, AC, dan tempat sampah serta baskom tertutup yang
berisi spekulum. Di samping itu, di dinding ruang pemeriksaan juga
terdapat SOP pemeriksaan. Ada wastafel untuk mencuci tangan dan
keadaan wastafel cukup bersih.
Terdapat

peralatan

dan

bahan

untuk

membuat

preparat

pemeriksaan, 1 buah mikroskop, dan peralatan pengecatan serta buku


catatan pemeriksaan
a. Alur Pelayanan
Alur

kegiatan

skrining

IMS

di

Klinik

IMS

Gedung

Resosialisasi/Rehabilitasi Argorejo adalah sebagai berikut:

Register

Laboratorium

Pengambilan Sekret

Hasil
Terapi / Konseling
Positif

Negatif

VCT
Gambar 3.2. Alur Pelayanan Klinik IMS

Pernah IMS / Tidak


VCT

Uraian dari alur kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:


1. Data yang dicatat di Register :
- Identitas :

No. Registrasi (nama dan tanggal lahir), alamat, umur, umur


hubungan seks pertama, jenis kelamin, pasangan tetap,
status perkawinan, status kehamilan, usia kehamilan,
pendidikan terakhir, daerah asal, faktor risiko, pekerjaan,
tipe KD, tanggal kunjungan, kunjungan ke, alasan
kunjungan, jenis kontak

- Faktor Risiko : Hubungan seks terakhir, cara hubungan seks, kondom


hubungan seks terakhir, pelicin, minum antibiotik 1 hari
yang lalu, jumlah pasangan seks 1 minggu terakhir, kondom
hubungan seks 1 minggu terakhir, tipe KD pasangan tetap,
pekerjaan pelanggan, lama jadi PS, cuci vagina 1 minggu
terakhir.
- Keluhan IMS
2. Data yang dicatat di Ruang Pemeriksaan:
-

Tanda klinis IMS

pH vagina

Pengobatan topikal dan injeksi

3. Data yang dicatat di Ruang Laboratorium:


-

PMN Uretra/ Serviks

Diplokokus Intrasel Uretra/ Serviks

PMN Anus

Diplokokus Intrasel Anus

T. Vaginalis

Kandida

Sniff Test

Clue cells

4. Data yang dicatat di Ruang Dokter:


-

Diagnosa
-

Pengobatan

Konseling pengobatan

Informasi umum IMS/ HIV/ AIDS

Informasi perilaku seks aman (A,B,C)

Informasi layanan VCT

Jumlah materi KIE diberikan

Dirujuk ke VCT

Dirujuk ke RS

Kartu rujukan pasangan

Nama pemeriksa

III. 3. 3. Metode
Dalam melaksanakan kegiatan di klinik IMS telah terbentuk SOP
untuk pelayanan IMS beserta cara pengambilan dan pemeriksaan
spesimen. Petugas yang melaksanakan tindakan telah melakukan tugas
sesuai dengan SOP yang ada, yaitu:
Pelayanan IMS

Setelah dari ruang administrasi, pasien dipersilakan untuk ke ruang


pemeriksaan, petugas administrasi membawa baki berisi slide dan CM
pasien dan menyerahkan kepada petugas pemeriksaan
1. Kenalkan diri pada pasien dan jelaskan posisi Anda di klinik IMS
2. Menganamnesa keluhan pasien dan mengisi CM
3. Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan, adalah :
Tujuan pengambilan sediaan
Cara pengambilan sediaan
Berapa lama harus menunggu hasil
Pasien membuka pakaian dalamnya
Menaiki meja pemeriksaan
4. Setelah membuka pakaian dalam, minta pasien untuk naik ke meja
pemeriksaan, bimbing pasien untuk mendapatkan posisi yang baik
dalam melakukan pemeriksaan
5. Tutupi bagian bawah tubuh pasien dengan selimut atau kain untuk
membuat pasien lebih nyaman
6. Tenangkan pasien, beri dukungan, minta pasien untuk rileks dan
petugas memulai pemeriksaan fisik
Cara pengambilan spesimen
Pengambilan sampel sekret vagina:
- Pengambilan sampel pasien wanita dilakukan oleh pemeriksa wanita
(bidan)

- Menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan


dan menganjurkan kepada pasien untuk merasa rileks
- Setiap pengambilan sampel untuk masing-masing pemeriksaan harus
menggunakan spekulum/cotton applicator steril
- Masukkan daun spekulum cocor bebek steril dalam keadaan tertutup
dengan posisi tegak/vertikal ke dalam vagina dan setelah seluruhnya
masuk, kemudian putar pelan-pelan sampai daun spekulum dalam
posisi datar/horizontal. Buka spekulum dan dengan bantuan lampu sorot
vagina, cari serviks. Kunci spekulum pada posisi itu sehingga serviks
terfiksasi
- Lakukan pemeriksaan serviks, vagina dan pengambilan spesimen
- Dari forniks posterior dan dinding vagina: dengan cotton applicator
steril untuk pembuatan sediaan, mengoleskan pada kaca objek dalam
lingkaran 2 kali (untuk ditetes NaCl 0,9% dan KOH 10%)
- Pengambilan spesimen dari endoserviks dengan cotton aplicator steril
untuk pembuatan sediaan, mengoleskan pada kaca objek untuk
dilakukan pengecatan Methylen Blue
- Untuk pemeriksaan pH, setelah cotton applicator dioleskan pada kaca
objek, juga dioleskan pada pita pH untuk mengetahui pH vagina
- Lepas spekulum: kunci spekulum dilepaskan sehingga spekulum dalam
posisi tertutup, putar spekulum 90 derajat sehingga daun spekulum
dalam posisi tegak, dan keluarkan spekulum perlahan-lahan
Cara pemeriksaan spesimen
Pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh seorang analis.
Pemeriksaan Sediaan Kering:

- Keringkan sediaan diudara


- Fiksasi dengan melewatkannya diatas api
- Genangi/Tetesi sediaan dengan Methylen blue 0.3% - 1% selama
30 detik
- Cuci dengan air mengalir
- Keringkan sediaan
- Periksa sediaan dibawah mikroskop dengan lensa objektif 100x
menggunakan minyak imersi untuk melihat adanya lekosit PMN
dan diplokokus intraseluler
- Interpretasi hasil:

Lekosit PMN Positif bila:


o Ditemukan 30 PMN/lpb (sampel sekret wanita)
o Ditemukan 5 PMN/lpb (sampel sekret uretra pria)

Diplokokus Positif bila:


o Ditemukan 1 Diplokokus Intrasel/100 lpb

Pemeriksaan sediaan basah vagina


- Teteskan 1 tetes NaCl 0,9 % pada salah satu hapusan, aduk
dengan ujung kaca penutup (cover glass)
- Tutup menggunakan kaca penutup dengan menempelkan salah
satu sisi kaca penutup pada sediaan dan menutupnya secara
perlahan.

- Teteskan 1 tetes KOH 10 % pada hapusan yang lainnya, cium


ada tidaknya bau amis, aduk dengan kaca penutup (cover glass)
kemudian tutup dengan kaca penutup
- Periksa sediaan NaCl terlebih dahulu dibawah mikroskop
dengan lensa objektif 10x dan 40x untuk melihat adanya
Trichomonas vaginalis dan Clue cell
- Periksa sediaan KOH 10% dibawah mikroskop dengan lensa
objektif 10x dan 40x untuk melihat adanya bentuk-bentuk
Kandida
- Interpretasi hasil:
Trichomonas vaginalis positif bila ditemukan 1 T. vaginalis
(bentuk seperti layang-layang dan bergerak) pada sediaan
NaCl 0.9%
Clue cell positif bila 25% dari epitel yang ditemukan
permukaannya di tutupi oleh bakteri pada sediaan NaCl 0.9%
Kandida positif bila ditemukan 1 pseudohypae dan atau
blatospora pada sediaan KOH 10%.

Untuk pelayanan klinik mobile IMS dan VCT ditambahkan SOP


sebagai berikut:
1. Tahapan Persiapan
a. Tim klinik melakukan koordinasi dengan Behaviour Changes
Intervention (BCI) atau orang kunci lain untuk melakukan asesmen

lokasi dan menentukan lokasi yang akan digunakan sebagai tempat


mobile klinik
b. Tim klinik dan tim BCI memilih waktu dan lokasi pelayanan sesuai
kriteria
i. Lokasi cukup dekat dengan kelompok sasaran
ii. Lokasi cukup aman dan layak bagi kelompok sasaran
iii. Mendapat ijin dari yang berwenang
c. Bersama-sama menentukan jadwal dan waktu pelayanan sedapat
mungkin disesuaikan dengan kelompok sasaran dan memastikan
bahwa mobile klinik dapat dilaksanakan
d. Satu minggu sebelum pelaksanaan tim melakukan konfirmasi
pelaksanaan mobile klinik kepada orang kunci atau pihak terkait di
lokasi
e. Jumlah klien minimal 10 orang

2.

Tahapan Pelaksanaan
Pelaksanaan pelayanan oleh petugas dilaksanakan sesuai standar

pelayanan yang ada, dengan catatan khusus:


a. Konselor VCT
Setiba di lokasi konselor VCT mempersiapkan ruang konseling
senyaman mungkin dengan posisi konseling
b. Petugas laboratorium
Sebelum menuju lokasi memastikan:

1. Mikroskop harus ditempatkan di dalam kotak kayu


2. Mikropipet, rotator, sentrifuge ditempatkan dalam kotak
atau kardus
3. Reagensia dan bahan-bahan cair ditempatkan di dalam
kotak plastik
4. Reagen RPR dan determin sifilis serta reagensia HIV
ditempatkan dalam cool box yang diberi es dan reagen tidak
boleh menempel dengan es
5. Peralatan pengambilan darah ditempatkan dalam satu kotak
plastik khusus
6. Perlengkapan laboratorium lain dimasukkan dalam satu
kardus
Setiba di lokasi:
1. Alasi meja laboratorium dengan taplak meja plastik
2. Siapkan 2 tempat sampah untuk sampah infeksius dan noninfeksius dan lapisi dengan kantong plastik
3. Siapkan bahan-bahan dan tempat pengambilan darah
4. Siapkan peralatan dan bahan untuk pewarnaan dan sediaan
basah
5. Tempatkan rotator, sentrifuge, mikroskop di atas meja
bebas getaran atau di lantai
6. Melakukan

prosedur

selanjutnya

mengikuti

pemeriksaan lab sederhana dan anti-HIV


c. Alur pelayanan IMS dan VCT sesuai dengan standart

protap

d. Penyimpanan dokumen IMS, VCT, dan laboratorium untuk


sementara disimpan dalam tas/tempat teratur/tempat tertutup dan
akan dipindahkan ke lemari file segera sesudah tiba kembali di
klinik dan menjadi tanggung jawab konselor dan petugas
administrasi
e. Petugas admministrasi dapat dirangkap oleh perawat untuk
pelayanan IMS dan konselor untuk VCT
f. Konselor perlu memberikan informasi jelas, mengenai tempat,
waktu pelayanan VCT yang dapat diakses klien setiap waktu
3.

Tahapan Pelaporan
Evaluasi dan hasil pelayanan mobile klinik dilaporkan oleh tim

dalam pelaporan narasi bulanan


III. 3. 4. Proses pemeriksaan pasien IMS
Setiap 2 minggu sekali WPS wajib melakukan skrining IMS, bagi
mereka yang mendapatkan hasil positif akan diberikan obat dan akan di
evaluasi setiap 1 minggu oleh petugas Klinik IMS dengan mewajibkan
untuk kontrol di Klinik IMS. Selain itu dilakukan konseling dan
pendekatan personal IRA (Individual Risk Assessment) kepada WPS
tersebut.
III. 3. 5. Universal Precaution
Perlindungan diri
Petugas yang melakukan tindakan selalu menggunakan sarung tangan
pelindung (handscoen).

Sterilisasi alat
Alat alat yang telah digunakan dilakukan sterilisasi dengan alat
khusus sterilisasi di dalam ruang pemeriksaan.
Pembuangan limbah
Tempat sampah yang ada di dalam ruang pemeriksaan menggunakan
ember biasa yang di dalamnya terdapat kantong plastik hitam, tetapi
untuk alat suntik yang telah dipakai dibuang di dalam kotak biasa yang
semestinya di dalam kotak kuning.
III. 3. 6. Kerjasama Klinik Griya ASA dengan Elemen lain
a.

Feedback ke outreach
Klinik IMS bertujuan untuk memonitor hasil kegiatan outreach di
lingkungan Resosialisasi Argorejo. Kegiatan outreach yang menjadi
sorotan bagi klinik IMS dalam hal ini adalah angka kejadian dan
penularan IMS, yang meliputi angka kejadian GO baru dan episode
GO/servisitis. Feedback ke outreach yang dilakukan antara lain
adalah:
1. Feedback ke outreach mengenai jumlah WPS yang belum
melakukan skrining
Dari data di klinik IMS akan diketahui jumlah WPS yang belum
skrining. Data tersebut akan dilaporkan kepada pihak outreach
untuk ditindaklanjuti dengan melakukan pendekatan kepada WPS
yang belum melakukan skrining, sehingga diharapkan jumlah WPS
yang memeriksakan diri untuk skrining mencapai 100%.
2. Feedback ke outreach mengenai angka kejadian GO baru

Bila ditemukan kasus GO baru, klinik IMS bertugas untuk


memberikan feedback ke outreach agar melakukan pendekatan
secara personal mengenai pengetahuan IMS, cara penularan,
pencegahan, dan perubahan perilaku berisiko.
3. Feedback

ke

outreach

mengenai

angka

kejadian

episode

GO/servisitis berulang
Bila ditemukan kasus episode GO/servisitis (berulang), klinik IMS
memberikan feedback ke outreach agar diberikan sanksi yang tegas
bagi WPS seperti sekolah malam.
b.

Feedback ke pengurus resosialisasi


Jumlah kejadian IMS yang ditemukan melalui skrining IMS akan
dilaporkan ke pihak resosialisasi sehingga pihak resosialisasi dapat
menindaklanjuti, antara lain menegur, memberikan sanksi seperti
pemberhentian WPS sementara. Pihak resosialisasi pun perlu
memberikan dukungan bagi para WPS dalam menurunkan angka
kejadian IMS dengan membuat peraturan mengenai pemakaian
kondom 100%.

c.

Feedback ke petugas PE (peer educator)


Jumlah WPS yang belum skrining dan WPS yang terkena IMS
diinformasikan kepada PE sehingga PE dapat melakukan pendekatan
interpersonal yang lebih gencar seperti sistem jemput bola.

III. 3. 7. Kunjungan ke Mucikari

Kami melakukan kunjungan kepada seorang mucikari dengan


inisial nama Tn. T. Tn. T mengatakan mendukung program skrining IMS
dan selalu mengingatkan WPS untuk melakukan skrining. Beberapa WPS
sudah menyadari pentingnya skrining, namun masih banyak juga WPS
yang malas dan enggan melakukan skrining. Hal itu menjadi tugas dan
tanggung jawab mucikari untuk selalu mengingatkan para WPS asuhannya
untuk melakukan skrining dan memantau hasil dari skrining tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara, Tn. T mengetahui hasil skrining
anak asuhnya yang positif IMS dan selalu memantau hasil skrining WPS
asuhannya. Tn. T juga memberlakukan peraturan kepada anak asuhnya
yang positif IMS untuk libur bekerja sampai anak asuhnya sembuh dari
penyakit infeksi menular seksual.