Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

IMPETIGO
1. Latar Belakang

Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi


piogenik oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering terjadi pada usia
anak-anak walaupun pada orang dewasa dapat terjadi. Penularan impetigo
tergolong tinggi, terutama melalui kontak langsung. Individu yang terinfeksi
dapat menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi.
Infeksi seringkali menyebar dengan cepat di sekolah, tempat penitipan anak
atau pada tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal yang padat
penduduk. Impetigo adalah infeksi bakteri gram positif pada lapisan superficial
epidermis. Impetigo dibagi dalam dua bentuk yaitu impetigo bulosa dan impetigo
nonbulosa.
Impetigo krustosa merupakan jenis infeksi piogenik yang paling banyak
ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo). Impetigo krustosa harus diobati
secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan beberapa komplikasi terutama
glomerulonefritis akut. Terapi antibiotik topikal merupakan pilihan pertama
impetigo terutama bila lesi yang terbatas, tanpa gejala sistemik atau komplikasi
sementara terapi sistemik dipertimbangkan bila diperlukan.
2. Tempat, Waktu Kegiatan dan Peserta
Kegiatan promosi kesehatan Impetigo dilakukan pada tanggal:
Hari/ Tanggal : Kamis/ 9 Juni 2016
Waktu
: 10.30
Tempat
: Ruang Tunggu UPTD Puskesmas Lampaseh Banda Aceh
Topik
: Impetigo
Peserta
: Pasien yang sedang menunggu antrian di ruang tunggu
UPTD Puskesmas Lampaseh Banda Aceh.

3. Metode Promotif
Metode kegiatan penyuluhan dibagi dalam 3 tahap yaitu :

a. Tahap pengenalan dan penggalian pengetahuan peserta.


Setelah memberi salam dan perkenalan pemateri terlebih dahulu
menyampaikan maksud dan tujuan diberikan penyuluhan sebelum materi
disampaikan.
b. Penyampaian Materi
Materi disampaikan dengan menggunakan alat bantu penyajian berupa
leaflet. Dan disela materi penyaji memberikan kesempatan bertanya jika ada
materi yang tidak dimengerti.
c. Penutup
Setelah penyampaian materi, penyaji memberikan kesempatan peserta untuk
bertanya.
4. Materi Penyuluhan
a. Definisi Impetigo
Istilah impetigo berasal dari bahasa Latin yang berarti serangan, dan telah
digunakan untuk menjelaskan gambaran seperti letusan berkeropeng yang biasa
nampak pada daerah permukaan kulit. Impetigo adalah penyakit infeksi kulit yang
sangat menular yang umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak. Impetigo
biasanya berupa luka merah pada wajah, khususnya disekitar hidung dan mulut.
Meskipun ini biasa terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang
rusak atau terluka, ini juga dapat terjadi pada kulit yang sehat.
b. Etiologi Impetigo
Penyebabnya yang utama ialah Staphylococcus aureus dan Streptococcus
Beta hemolyticus, sedangkan Staphylococcus epidermidis merupakan penghuni
normal di kulit dan jarang menyebabkan infeksi.

c. Klasifikasi Impetigo

Impetigo contagiosa. Merupakan bentuk paling umum dari impetigo, yang


biasanya dimulai dengan noda merah pada wajah, paling sering di sekitar
hidung dan mulut. Luka dengan cepat memecah dan mengeluarkan cairan

atau nanah yang kemudian membentuk kerak berwarna kuning. Luka

tersebut mungkin gatal, akan tetapi tidak terasa sakit.


Bullous impetigo. Umumnya diderita oleh bayi dan anak dibawah usia 2
tahun. Impetigo ini tidak menyebabkan rasa sakit dan berisi cairan
biasanya pada pinggul, lengan atau leher. Kulit disekitarnya biasanya merah
dan gatal tetapi tidak terluka. Benjolan berisi cairan ini dapat pecah dan
menyisakan kerak berwarna kekuningan, dapat besar atau kecil, dan dapat
hilang lebih lama daripada impetigo jenis lainnya.

d. Patofisiologi Impetigo
Kira-kira 30% nares anterior dikolonisasi oleh S aureus. Beberapa individu
kolonisasi S aureus menyebabkan episode berulang impetigo pada hidung dan
bibir. Bakteri dapat menyebar dari hidung ke kulit yang sehat dalam waktu 7-14
hari, dengan lesi impetigo muncul 7-14 hari kemudian.
Penyebab impetigo bullous adalah gram positif, koagulase-positif, S
aureus grup II, yang paling sering adalah fag tipe 71. S aureus menghasilkan
eksotoksin eksfoliatif ekstraselular disebut exfoliatins A dan B. Eksotoksin S.
aureus menyebabkan kehilangan adhesi sel di permukaan dermis yang
menyebabkan kulit melepuh. Salah satu target protein eksotoksin A adalah
desmoglein I yang mempertahankan adhesi sel. Molekul-molekul ini juga
merupakan superantigen yang bertindak secara lokal dan mengaktifkan limfosit T.
Koagulasi dapat menyebabkan toksin untuk tetap berada dalam epidermis atas
dengan menghasilkan fibrin thrombi. Tidak seperti impetigo nonbulosa, impetigo
bullous terjadi pada kulit utuh.
Impetigo nonbulosa terjadi pada lebih dari 70% kasus pada anak usia <15
tahun dengan infeksi. Penyebabnya adalah S aureus. S aureus menghasilkan
toksin bakteritoksin dari sterptokokus.
Jika seseorang terkontak orang lain (misalnya, anggota rumah tangga,
teman-teman sekelas, rekan satu tim) yang kulitnya telah terinfeksi GABHS atau
pembawa organisme, kulit normal seseorang dapat terkolonisasi bakteri. Setelah
kulit yang sehat terkolonisasi bakteri, trauma ringan seperti lecet atau digigit
serangga, bisa mengakibatkan perkembangan lesi impetigo dalam waktu 1-2
minggu. GABHS dapat dideteksi dalam hidung dan tenggorokan dalam 2-3

minggu setelah lesi berkembang, walaupun mereka tidak memiliki gejala-gejala


faringitis streptococcus. Hal ini karena impetigo dan faringitis disebabkan oleh
berbagai jenis bakteri. Impetigo biasanya karena strain D, sedangkan faringitis
disebabkan strain A, B dan C.
e.

Tanda dan Gejala Impetigo


Impetigo berawal sebagai luka terbuka yang menimbulkan gatal, kemudian
melepuh, mengeluarkan isi lepuhannya lalu mengering dan akhirnya membentuk
keropeng.. Besarnya lepuhan bervariasi, mulai dari seukuran kacang polong
sampai seukuran cincin yang besar. Lepuhan ini berisi carian kekuningan disertai
rasa gatal. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar daerah
yang terinfeksi.
Tanda lain nya yaitu :
1. Noda merah yang dengan cepat pecah dan mengeluarkan cairan dalam
beberapa hari, kemudian membentuk bekas yang kuning kecokelatan
2. Gatal
3. Benjolan berisi cairan yang tidak terasa sakit
4. Pada bentuk yang lebih serius, luka yang berisi cairan atau nanah yang
masuk ke dalam bisul
Hanya terdapat pada anak, tidak disertai dengan gejala umum. Keluhan
utama adalah rasa gatal dengan lesi awal berupa makula eritematosa berukuran 12 mm, kemudian berubah menjadi bula atau vesikel.
f. Faktor Presdiposisi
1. Higiene yang kurang
2. Menurunnya daya tahan. Misalnya: kekurangan gizi, anemia, penyakit
kronik, neoplasma ganas dan diabetes melitus.
3. Telah ada penyakit lain di kulit, karena terjadi kerusakan di epidermis, maka
fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan
terjadinya infeksi.

g.

Pengobatan

Terapi utama impetigo adalah antibiotik, agen yang dipilih harus mencakup
perlawanan terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Obat
beta-lactam merupakan pilihan awal dalam pengobatan impetigo. Topical
antibiotik digunakan pada pasien dengan lesi kecil atau sedikit, dioleskan pada
daerah yang terkena dua atau tiga kali sehari selama 7-10 hari. Salep mupirocin
telah digunakan baik untuk lesi.
Obat antibiotik topikal yang dilaporkan berguna pada terapi impetigo
adalah:

Klindamisin (krim, losio dan sabun) berguna untuk beberapa infeksi

MRSA
Gentamisin salep atau krim dapat digunakan untuk infeksi gram positif

oleh spesies staphylococcus termasuk impetigo dan pioderma.


Hydrogen peroksida 1 % krem, mempunyai aktifitas bakterisidal yang

mempunyai durasi aksi lebih lama dari pada hydrogen peroksida cair.
Tetrasiklin berguna untuk impetigo local tetapi beresiko terjadinya reaksi
fotosensitifitas.
Antibiotik oral yang direkomendasikan sebagai terapi impetigo adalah

sepalosporin, penisilin semisintetik, penghambat beta laktamse. Jika kultur bakteri


menunjukan MRSA dan pada pasien yang tidak terjadi peningkatan dapat
diberikaan tetrasiklin, trimethoprim/sulfamethoxazole (Bactrim), klindamicin,
atau linezolid.
h. Pencegahan
Infeksi bisa dicegah dengan memelihara kebersihan dan kesehatan badan.
Goresan ringan atau luka lecet sebaiknya dicuci bersih dengan sabun dan air, bila
perlu olesi dengan zat anti-bakteri. Untuk mencegah penularan:
Hindari kontak dengan cairan yang berasal dari lepuhan di kulit
Hindari pemakaian bersama handuk, pisau cukur atau pakaian dengan
penderita
Selalu mencuci tangan setelah menangani lesi kulit.
Menjaga kulit tetap bersih adalah jalan terbaik untuk menjaga kulit tetap
sehat. Obati luka terbuka, gigitan serangga dan bentuk luka lain secara benar
dengan membersihkan area yang terluka dengan menggunakan antibiotik. Jika

seseorang dalam keluarga anda memiliki impetigo, lakukan tindakan berikut


untuk mencegahnya menular:
Cuci area yang terinfeksi dengan sabun lembut dan air mengalir
Cuci pakaian mereka yang terinfeksi setiap hari dan jangan berbagi
penggunaan
Gunakan sarung tangan ketika menggunakan salep antibiotik dan segera
cuci tangan anda setelahnya
Potong kuku anak yang terinfeksi untuk menghindari kerusakan kulit
akibat menggaruk area yang terinfeksi
Cuci tangan secara teratur
Jaga anak anda tetap dirumah sampai dokter mengizinkan
5. Tanya Jawab
1. Tanya : Apakah impetigo bisa kembali lagi pada orang yang sama?
Jawab : Bisa. Impetigo bisa mengenai siapa saja dan walaupun sudah
pernah terkena akan tetapi tidak menutupi kemungkinan penyakit
tersebut terkena kembali apabila hieginitas kurang, daya tahan
tubuh yang kurang dan ada infeksi lain.
6. Penutup.
Target promotif dari penyuluhan ini adalah para orang tua dan seluruh
pasien dari berbagai usia agar mengetahui mengenai impetigo dan diharapkan
dapat mencegah terjadinya impetigo

7. Daftar Pustaka :
Djuanda, A Hamzah M. 2007. Pioderma, in Djuanda A, Hamzah , in Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ke 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Harahap, M. 2006. Infeksi Bakteri Kulit Stafilokok dan Streptokok- Ilmu
Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.

Atlas Penyakit Kulit & Kelamin, Edisi Kedua. Fakultas Kedokteran


Airlangga.
Lewis

LS.

Impetigo

[Internet].

2014

Sept

10.

Available

http://emedicine.medscape.com/article/965254-overview#a0156.
Dokumentasi:

Banda Aceh, Juni 2016


Disetujui,
Kepala UPTD Puskesmas
Lampaseh/ Dokter Pembimbing I

Dokter Pembimbing II

dr. Nurcahayati
NIP. 19780714 200804 2 001

dr. Nila Frisanti


NIP. 19821002 201412 2 001

from: