Anda di halaman 1dari 16

BAB I

STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. ADW

Umur

: 12 tahun

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Alamat

: Susukan III RT/RW 004/07 Sleman Yogyakarta

Pekerjaan

: Pelajar

Nomor Rekam Medis : 43-80-21


II.

ANAMNESIS
Autoanamnesis, tanggal 7 Juli 2014

Keluhan utama

: Bercak-bercak putih di wajah

sebelah kanan, leher, punggung, dada, lengan atas kanan


dan kiri

Keluhan tambahan

: Gatal terutama saat berkeringat

Riwayat perjalanan penyakit :


Sejak 1 bulan yang lalu timbul bercak-bercak putih. Awalnya bercak - bercak
putih timbul pada daerah wajah sebelah kanan yang menyebar ke leher, dada,
punggung, lengan atas kanan dan kiri. Keluhan tersebut terkadang disertai dengan gatal,
terutama saat berkeringat. Bercak putih tersebut bila digaruk seperti terdapat sisik putih
di atasnya.
Pasien mengatakan mandi 2 kali sehari yang hanya memakai handuknya sendiri
dan tidak pernah bertukar-tukar handuk. Selalu mengganti baju setelah mandi dan tidak
pernah menggunakan baju secara bergantian dengan anggota keluarga lain maupun
orang lain. Namun, saat pasien berkeringat pasien jarang mengganti bajunya. Selain
itu, pasien suka menggunakan pakaian berlapis-lapis dan tidak
menyerap keringat sejak 1 tahun terakhir. Pasien mengaku sudah di obati
dengan ketokonazole cream namun keluhan tidak berkurang.

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada yang terkena panu di keluarga pasien.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos mentis

BB/TB

: 32 kg/130 cm

Tanda Vital

Nadi

: 76 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu : Afebris
Status Gizi

: Normoweight

Kepala

: Normocephali

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

THT

: Faring hiperemis -/-, tonsil T1-T1

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid maupun KGB

Jantung

: Suara jantung S1-S2 reguler, murmur -/-, gallop -/-

Paru

: Suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Datar, dinding perut supel, bising usus (+) normal,


nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepatosplenomegali (-)

Ekstremitas

: Akral hangat, edema tungkai (-), capillary refill < 2 detik

Status Dermatologikus

Lokasi

Regio torakovertebra, regio brachii dextra et sinistra, regio mandibula dextra

Efloresensi

Tampak bercak hipopigmentasi berukuran milier sampai lentikuler dan


berbatas tegas disertai skuama halus di atasnya.
Foto klinis :

Gambar 1. Hipopigmentasi pada regio mandibula dextra

Gambar 2. Hipopigmentasi pada regio toraks, regio brachii dextra et sinistra

Gambar 3. Hipopigmentasi pada region vertebrae

Gambar 4. Hipopigmentasi pada regia brachii dextra


IV.

PEMERIKSAAN LAB
1. Lampu Wood (+) dengan fluoresensi kuning keemasan
2. Pemeriksaan KOH 10% pada bercak putih di dada % ditemukan hifa pendek
dan spora berkelompok (spaghetti and meatballs).

V.

RESUME
Anak ADW, laki-laki usia 12 tahun datang dengan keluhan bercak putih pada
wajah sebelah kanan, leher, dada, punggung, lengan atas kanan dan kiri. Gatal, terutama
saat berkeringat dan terdapat sisik putih. Pasien jarang mengganti baju saat berkeringat
dan suka menggunakan pakaian berlapis yang tidak menyerap
keringat. Sudah memakai ketokonazole cream namun keluhan tidak berkurang.
Pada status dermatologikus tampak bercak hipopigmentasi berukuran milier
sampai lentikuler dan berbatas tegas disertai skuama halus di atasnya pada regio
torakovertebra, regio brachii dextra et sinistra, regio mandibula dextra
Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan lampu wood (+) dengan
fluoresensi kuning keemasan dan pemeriksaan KOH 10% ditemukan hifa pendek dan
spora berkelompok (spaghetti and meatballs).

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Pitiriasis Versikolor

VII.

DIAGNOSIS BANDING
Tidak ada

VIII. RENCANA/ANJURAN PEMERIKSAAN


Tidak ada
IX.

PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
a. Menjaga kebersihan badan.
b. Menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan hindari pakaian
yang terlalu ketat.
c. Bila sedang berkeringat maka pakaian harus segera diganti.

2. Medikamentosa
a. Topikal

Suspensi selenium sulfide (selsun). Obat ini digosokkan pada lesi dan
didiamkan 15-30 menit sebelum mandi
b. Sistemik
Ketokonazol dosis 1 x 200 mg / hari selama 10 hari
X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
PITIRIASIS VERSICOLOR

DEFINISI
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang sering
terjadi disebabkan oleh Malasezia furfur,yaitu jamur yang bersifat lifopilik
dimorfik dan merupakan flora normal pada kulit manusia, ditandadi
dengan bercak lesi yang bervariasi mulai dari hipopigmentasi, kemerahan
sampai kecoklatan atau hiperpigmentasi. Penyakit jamur kulit ini adalah
penyakit yang kronik dan asimtomatik ditandai oleh bercak putih sampai
coklat yang berskuama halus. Kelainan ini umumnya menyerang badan
dan kadang- kadang terlihat di ketiak, lipat paha, tungkai atas, leher,
muka dan kulit kepala.1
SINONIM
Tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis, purpura, liver spots,
tinea flava, pitiriasis versikolor flava dan panu.1
ETIOLOGI
M. furfur (sebelumnya dikenal dengan nama Pityrosporum ovale,
P. orbiculare) adalah jamur lipofilik yang normal terdapat pada keratin
kulit dan folikel rambut. Jamur ini merupakan organisme oportunistik
yang dapat menyebabkan pityriasis versicolor Jamur ini membutuhkan
asam

lemak untuk tumbuh

Gambar. Malassezia furfurSumber (www.doctorfungus.com)3

Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Hymenomycetes
Order : Tremellales
Family : Filobasidiaceae
Genus : Malassezia.
Koloni Malassezia furfur dapat tumbuh dengan cepat dan matur
dalam 5 hari dengan suhu 30-37 C. Warna koloni Malassezia Furfur
kuning krem.2

adalah

Gambar. Koloni Malassezia Furfus sumber (www.doctorfungus.com)3


Malassezia furfur memiliki fragmen hifa dengan gambaran seperti
sphagetti atau meatboll saat dilihat dengan mikroskop. Sel jamur
terdiri dari 2 bentuk:

PATOFISIOLOGI
Pitiriasis versikolor disebabkan oleh organisme lipofilik dimorfik,
Malassezia furfur, yang hanya dapat dikultur pada media yang diperkaya
dengan asam lemak berukuran C12- sampai C14. Malassezia furfur atau

yang juga dikenal dengan nama singkat M furfur, merupakan salah satu
anggota dari flora kulit manusia normal (normal human cutaneous flora)
dan ditemukan pada bayi (infant) sebesar 18% sedangkan pada orang
dewasa mencapai 90-100%.4
Sebagian besar kasus pitiriasis versikolor dialami oleh orang yang
sehat tanpa disertai penurunan sistem kekebalan tubuh (immunologic
deficiencies). Meskipun demikian, beberapa faktor dapat memengaruhi
beberapa orang terkena Pitiriasis versikolor sekaligus memicu berubahnya
bentuk (conversion) dari ragi saprofit (saprophytic yeast) menjadi bentuk
morfologis

miselium,

parasitik.

Faktor-faktor

tersebut

antara

lain:

Kecenderungan (predisposition) genetic, lingkungan yang lembab, hangat,


immunosuppression, malnutrition, Cushing disease.4
Human peptide cathelicidin LL-37 berperan dalam pertahanan kulit
melawan Malassezia globosa. Meskipun merupakan bagian dari flora
normal, M furfur dapat juga menjadi patogen yang oportunistik. Keadaan
ini tidak menular karena patogen jamur kausatif (causative fungal
pathogen) merupakan penghuni normal pada kulit. 4
Kulit penderita pitiriasis versikolor dapat mengalami hipopigmentasi
atau hiperpigmentasi. Pada kasus hipopigmentasi, inhibitor tyrosinase
(hasil dari aksi/kerja inhibitor tyrosinase dari asam dicarboxylic yang
terbentuk melalui oksidasi beberapa asam lemak tak jenuh (unsaturated
fatty

acids)

pada

menghambat

enzim

melanocyte.

Pada

lemak

di

permukaan

yang

diperlukan

kasus

pitiriasis

kulit)

dari

secara

kompetitif

pembentukan

versikolor

dengan

pigmen
makula

hiperpigmentasi, organisme memicu pembesaran melanosom yang dibuat


oleh melanosit di lapisan basal epidermis.5
PATOGENESIS
Perubahan bentuk Malassezia dari blastospora menjadi miselium
dipengaruhi oleh berbagai faktor predisposisi. Asam dikarboksilat, yang

dibentuk oleh oksidasi enzimatis asam lemak pada lemak di permukaan


kulit, menghambat tyrosinase pada melanosit epidermis dan dengan
demikian memicu hipomelanosis. Enzim ini terdapat pada organisme
(Malassezia).5

GAMBARAN KLINIS
Timbul bercak putih atau kecoklatan yang kadang-kadang gatal bila
berkeringat. Bisa pula tanpa keluhan gatal sama sekali. Lesi berupa
bercak yang berbatas tegas disertai dengan skuama halus, lesi tersebut
mempunyai ukuran, bentuk dan warna yang bermacam-macam. Hal ini
sesuai dengan namanya yaitu pitiriasis yang berarti penyakit dengan
skuama halus seperti tepung dan versikolor yang berarti berbagai
macam warna.5
Warna

lesi

mulai

dari

hipopigmentasi,

merah

muda,

kuning

kecoklatan, coklat muda atau hiperpigmentasi. Variasi warna tersebut


tergantung dari pigmen kulit penderita, paparan sinar matahari dan
lamanya penyakit. Pada orang kulit berwarna, lesi yang terjadi tampak
sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi pada orang yang berkulit pucat
maka lesi bisa berwarna kecoklatan ataupun kemerahan. Lesi yang
pertama muncul mula mula berbentuk milier yang berbatas tegas dan
makin lama makin membesar tanpa disertai peninggian ditepinya. Tempat
predileksinya terutama daerah yang ditutupi pakaian sperti dada,
punggung, perut, lengan atas, paha, leher.5
Pada kasus yang lama tanpa pengobatan, lesi dapat bergabung
membentuk gambaran seperti pulau yang luas berbentuk polisiklik.
Beberapa kasus didaerah berhawa dingin dapat sembuh spontan. Bentuk
lesi tidak teratur, berbatas tegas sampai difus dengan ukuran lesi dapat

10

milier, lentikuler, numuler sampai plakat. Ada dua bentuk yang sering
dijumpai :6
1. Bentuk makuler: berupa bercak yang agak lebar, dengan squama
halus diatasnya, dan tepi tidak meninggi.
2. Bentuk folikuler: seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut.

Gambar.
Pityriasis
versicolor
menunjukkan lesi
hiperpigmentasi dalam lesi Kaukasia (kiri atas) dan hipopigmentasi dalam
Aborijin Australia (kanan atas dan bawah ).6
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10-20%.
Bahan-bahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian
kulit yang mengalami lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan, lalu dikerok
dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempeng-lempeng
steril pula atau ditempel pada selotip. Sebagian dari bahan tersebut
diperiksa langsung dengan KOH 10% yang diberi tinta Parker biru hitam
atau biru laktofenol, dipanaskan sebentar, ditutup dengan gelas penutup
dan diperiksa di bawah mikroskop. Bila penyebabnya jamur, maka
kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan jarakjarak tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat yang dikenal dengan hifa. Pada
pitiriasis versikolor hifa tampak pendek-pendek, lurus atau bengkok
dengan banyak spora bergerombol sehingga sering disebut dengan
gambaran spaghetti and meatballs atau bacon and eggs.7

11

Gambaran sediaan langsung dengan KOH memperlihatkan hifa pendekpendek dengan spora yang bergerombol.6
2. Pemeriksaan dengan sinar wood
Dapat memberikan perubahan warna pada seluruh daerah lesi
sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang terkena infeksi akan
memperlihatkan fluoresensi warna kuning keemasan sampai orange.
Pemeriksaan

ini

memungkinkan

untuk

melihat

dengan

lebih

jelas

perubaha pigmentasi yang menyertai kelainan ini.7


3. Pemeriksaan Biakan.
Pemeriksaan dengan biakan jamur tidak terlalu bernilai secara
diagnostik karena memerlukan waktu yang lama. Pemeriksaan ini
menggunakan media biakan agar malt atau saborauds agar. Koloni yang
tumbuh berbentuk soliter, sedikit meninggi, bulat mengkilap dan lama
kelamaan akan kering dan dibawah mikroskop terlihat yeast cell bentuk
oval dengan hifa pendek.7
DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING

12

Diagnosis pada penyakit ini mudah ditegakkan karena sangat khas,


yaitu :

Klinis : Makula hipopigmentasi sampai kecoklatan ditutupi skuama

yang halus
Pemeriksaan dengan lampu woods pada kamar gelap didapatkan hasil

fluoresensi kuning keemasan


Diagnosis diperkuat dengan pemeriksaan kerokan kulit dari daerah lesi
dengan larutan KOH 10-20%. Dibawah mikroskop terlihat hifa hifa
pendek dengan spora bergerombol seperti buah anggur.7
Diagnosis banding dari penyakit jamur ini adalah :5
1. Pitiriasis alba : ditandai dengan adanya bercak kemerahan dan
skuama halus yang akan menghilang dan meninggalkan area yang
depigmentasi. Lebih sering ditemukan pada anak-anak dengan lokasi
lesi 50-60% pada muka, terutama di sekitar mulut, dagu, pipi serta
dahi. Lesi umumnya menetap dan tidak melebar, batas tidak tegas
dan tidak gatal.
2. Morbus hansen tipe T : ditandai dengan makula hipopigmentasi yang
dibatasi oleh infiltrat yang berjumlah satu atau beberapa dengan
distribusio asimetris, permukaan kering bersisik, batas tegas dan
terdapat hipoanestesi sampai anestesi. Yang penting ditanyakan
adalah

adanya

riwayat

kontak

erat

dengan

penderita

kusta

sebelumnya.

PENATALAKSANAAN
Pitiriasis versikolor dapat diobati. Pakaian, kain sprei, handuk harus
dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan
bukti infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk
menjamin pengobatan yang tuntas pengobatan ketat ini harus dilanjutkan
beberapa minggu. Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah
hipopigmentasi belum akan tampak normal sampai daerah itu menjadi

13

coklat kembali. Sesudah terkena sinar matahari lebih lama daerah-daerah


yang hipopigmentasi akan coklat kembali. Meskipun terapi nampak sudah
cukup, bila kambuh atau kena infeksi lagi merupakan hal biasa, tetapi
selalu ada respon terhadap pengobatan kembali.7
Pengobatan dapat dilakukan secara topikal dan sistemik.6

Topikal : terutama ditujukan untuk lesi yang minimal


1. Salep Whitfield yang mengandung asam salisilat (3-6% dan asam
benzoat (6-12%)
2. Selenium sulfid 2,5% yang dioleskan pada lesi, lalu dibiarkan selama
15-30 menit kemudian dibersihkan. Dilakukan 2-3 kali seminggu
selama 2-4 minggu. Selenium sulfid ini memiliki kekurangan yaitu
bau yang kurang seap serta kadang bersifat iritatif, sehingga
menyebabkan pasien kurang taat berobat.
3. Obat golongan azol : klotrimazol 1%,

mikonazol nitrat 2%,

sulkonazol 1%, ketokonazol 2%, ekonazol nitrat 1%, bifonazol 2,5%


krim, tiokonazol 1%, oksikonazol 1% dan sertakonazol. Dioleskan 1-2

kali seahri selama 2-3 minggu.


Sistemik : digunakan pada kondisi tertentu yaitu adanya resitensi
terhadap obat topikal, lesi yang luas dan sering kambuh.
1. Ketokonazol dengan dosis 200 mg sehari selama 7-10 hari atau 400
mg dosis tunggal.
2. Itrakonazol dengan dosis 200 mg per hari secara oral selama 5-7
hari
Itrakonazol bersifat keratinofilik dan lipofilik. Merupakan obat anti

jamur derivat trazol dengan spektrum luas dan lebih kuat dari ketokonazol
dan disarankan untuk kasus yang relaps atau tidak responsif terhadap
pengobatan lain.
Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah flouresensi negatif
dengan pemeriksaan lampu wood dan sediaan langsung negatif. Pitiriasis
versikolor tidak memberi respon yang baik terhadap pengobatan dengan
griseofulvin. Untuk pencegahan, dapat dilakukan dengan selalu menjaga

14

higienitas perseorangan, hindari kelembaban kulit dan menghindari


kontak langsung dengan penderita.7

PROGNOSIS
Prognosis penyakit ini umumnya baik, namun perjalanan penyakit
yang umumnya berlangsung kronik dan hilang timbul serta bila tidak
diobati lesi akan menetap dan meluas. Respon terhadap pengobatan
umunya baik, tetapi pengobatan yang bersifat permanent sukar dicapai,
karean penyakit ini mempunyai kekambuhan yang tinggi. Hal ini banyak
dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang pada umumnya sulit dieliminir.7

DAFTAR PUSTAKA

15

1. Unandar, Budimulja. Mikosis. In; Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S.


Editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 5 th ed. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI, 2008. Hal 100-105
2. Siregar, R.S. Tinea Versikolor

(Panu).

Saripati

Penyakit

Kulit.

Jakarta:EGC. 2004. Hal 11-13


3. Baillon. 2007. www.doctorfungus.com. Tanggal akses 9 Juli 2014
4. Burkhart, C. Tinea Versicolor. Emedicine. Diunduh dari: pada tanggal 9
Juli 2014
5. Nasution, M.A. 2005. Mikologi dan Mikologi kedokteran, Beberapa
Pandangan Dermatologis, Pidato jabatan pengukuhan guru besar tetap
USU. Medan. Hal 104-106
6. Wolff K, Johnson. R.A Suurmond. D. 2007. Fitzpatricks, The Color Atlas
and Synopsis of Clinical Dermatology, fifth edition. E-book : The
McGraw-Hill Companies
7. Boel, T. 2003. Mikosis Superfisial. Fakultas kedokteran Gigi USU.
Diambil

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1174/1/fkg-trelia1.pdf.
diakses tanggal 9 Juli 2014.

16