Anda di halaman 1dari 17

UNIVERSITAS INDONESIA

RANCANG BANGUN SISTEM PENGUKURAN KOEFISIENS


TRANSMISI GELOMBANG SUARA BAHAN PADAT

SKRIPSI

Komang Surya Adi Putra


1106066183

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI FISIKA
DEPOK

DESEMBER 2015

Universitas Indonesia

HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh
Nama

Komang Surya Adi Putra

NPM

1106066183

Program Studi
Judul Skripsi

S1 Fisika

Rancang

Pengukuran

Bangun
Koefisiens

Sistem
Transmisi

Gelombang Suara Bahan Padat


Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan
diterima sebagai syarat yang diperlukan untuk memperoleh
gelar Sarjana Sains pada Program Studi Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universias Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing I

: Dr. Arief Sudarmaji, M.T (

)
Penguji I

: Dr. Lingga Hermanto

Penguji II

: Dr. Sastra Kusuma Wijaya

)
(

Ditetapkan di

: Depok

Tanggal

: 28 Desember 2015

Universitas Indonesia

Ringkasan Tugas Akhir / Skripsi


Nama, NPM

: James, 1206258484

Pembimbing

: 1. Dr. Bambang Soegijono, M.Si

Judul (Indonesia)

: Perilaku Korosi Aluminium 5XXX hasil Anodisasi Variasi


Tegangan dan Waktu pada NaCl 3.5%

Judul (Inggris)

: Corrosion Behaviour of Anodized Aluminium 5xxx Alloy


with Voltage and Time Variations on 3,5% NaCl Solutions

ABSTRAK
Nama

: James

Program studi : S1- Fisika


Judul Skripsi : Perilaku Korosi Aluminium 5xxx Hasil Anodisasi Variasi
Tegangan dan Waktu pada NaCl 3.5%
Perilaku korosi paduan aluminium seri 5xxx dimana aplikasinya banyak
digunakkan pada sektor lingkungan aggresive (air laut) diketahui menggunakan
metode immersion test pada sampel yang telah dianodisasi berbagai variasi waktu
dan tegangan, serta sampel tanpa anodisasi. Proses anodisasi aluminium 5xxx
menggunakan medium elektrolit H2SO4 25% dan Pb sebagai logam inert. Variasi
tegangan pada proses anodisasi sebesar 10 V, 15 V, 20 V dan waktu selama 5

Universitas Indonesia

menit, 10 menit, 15 menit. Hasil XRD menunjukan adanya fasa Al2O3 yang
terbentuk hasil anodisasi. Uji korosi dilakukan pada medium NaCl 3.5% selama 6
hari (144 jam) untuk sampel yang dianodisasi maupun tidak. Pada proses
anodisasi pemberian tegangan dan waktu yang besar tidak begitu menghasilkan
laju korosi yang lamban. Sampel 8 adalah sampel yang mempunyai laju korosi
paling kecil. Sampel yang telah direndam mengalami penambahan massa hal ini
diakibatkan terbentuknya endapan yang ditunjukkan oleh pengujian SEM dan
mikroskop optik.
Kata kunci

: Aluminium 5xxx; Anodisasi; Uji Perendaman; Laju

Korosi.

ABSTRACT
Nama

: James

Study Program: Bachelor degree of Physics


Title

: Corrosion Behaviour of Anodized Aluminium 5XXX Alloy with


Voltage and Time Variations on 3.5% NaCl Solutions.

Corrosion behaviour of aluminium alloy type 5xxx which used in many sector
especially marine are measured by using immersion test method. Anodizing
process are using H2SO4 25% solutions and Pb as inert metal. Anodizing process
voltage variation is 10V, 15 V, and 20 V and time 5 minutes, 10 minutes, and 15
minutes in order to slow the corrosion rate. XRD results show the existence of
aluminium oxide (Al2O3) phase after sample anodized. Anodized sample and UnAnodized sample soaked into a NaCl 3.5%. Sample are measured each 1 day
soaked in a solution through 6 day. Anodizing at high voltage and time is not
showed that CPR (Corrosion Penetration Rate) linear as function time and
voltage. Sample 8 is the most resistance of corrosion. SEM and optical
microscope result show there is any sediment and pitting after immersion test
soaked after 6 day on a NaCl 3.5% solution

Universitas Indonesia

Keyword

: Aluminium 5xxx; Anodization; Immersion test; CPR

PENDAHULUAN
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi dan
merupakan unsur terbanyak setelah oksigen dan silikon. Dalam 50 tahun terakhir,
penggunaan aluminium menjadi luas dibandingkan penggunaan besi dan baja.
Perkembangan ini didasarkan oleh sifat aluminium yang ringan, resistansi
terhadap korosi, kuat, mudah diproduksi dan cukup ekonomis. Penggunaan
aluminium contohnya ada pada alat rumah tangga, industri penerbangan, maupun
otomotif. (Fontana M. G,1967).
Sifat lain yang menguntungkan dari aluminium adalah sangat mudah
difabrikasi atau mudah dibentuk, dapat dituang. Terdapat dua jenis aluminium,
antara lain aluminium murni dan aluminium paduan. Dalam keadaan murni sifat
aluminium adalah logam yang lunak, tahan lama, dan dapat ditempa dengan
penampilan luar bervariasi. Aluminium murni memiliki tensile strength 90
Mpa(ASM), terlalu lunak kekuatannya rendah untuk dapat dipakai pada
berbagai

keperluan, sedangkan aluminium paduan yang memiliki tensile

strength sebesar 200-600 MPa sifat ini dapat diperbaiki, tetapi sering kali sifat
tahan korosinya berkurang demikian pula keuletannya.
Aluminium sebagai unsur logam, merupakan material yang sangat penting
dalam bidang industri akan tetapi logam mempunyai masalah yang serius terhadap
sifat mekaniknya yaitu rentan terjadi korosi. Untuk meningkatkan ketahanan
korosi dan mekanik dibuatlah aluminium alloy salah satu contohnya Aluminium
seri 5XXX. Aluminium paduan seri 5XXX

merupakan aluminium yang

mempunyai ketahanan korosi yang baik. Penggunaan Aluminium seri 5XXX


sangat luas dengan memanfaatkan ketahanan korosinya yang cukup lama Al seri
5XXX digunakkan sebagai badan kapal dan heat exchanger tubes dikarenakan
paduan ini mempunyai konduktivitas thermal, korosi dan kekuatan yang baik.
Korosi dapat diartikan sebagai kerusakan material yang disebabkan oleh
reaksi kimia, elektrokimia yang terjadi secara alamiah dimana ada terjadi interaksi
antara material dengan beberapa faktor.Faktor yang mempengaruhi korosi adalah

Universitas Indonesia

kelembaban udara, air laut, air tawar, tanah, gas dan uap, serta interaksi yang
melibatkan reaksi kimia lainnya.Korosi sebagai sifat alamiah yang dimiliki
senyawa logam tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali, melainkan
lajunya yang dapat diperlambat atau diatur.( Uhlig H. H ,1962.)
Proses terjadinya korosi hanya dapat diperlambat melainkan tidak bisa
dicegah. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan mutu dan kualitas aluminium
itu sendiri. Peningkatan ini didukung oleh adanya metode rekayasa permukaan
atau surface treatment dengan salah satu metodenya yaitu anodisasi.(Wernick, S.,
Pinner, R. and Sheasby, P.G. ,1987)
Anodisasi adalah rangkaian elektrokimia sederhana dan merupakan
metode yang cukup ekonomis, sederhana, dan maksimal untuk merekayasa suatu
permukaan pada material. Proses anodisasi ini diharapkan membentuk senyawa
oksida logam di permukaan logam tersebut untuk mencegah proses perkaratan
lebih lanjut atau proses tersebut dinamakan pasivasi.
Hasil terbentuknya lapisan oksida dipengaruhi beberapa faktor yaitu rapat
arus, konsentrasi larutan, jenis larutan. Hubungan antara rapat arus dengan lapisan
yang terbentuk adalah semakin tinggi rapat arus semakin cepat lapisan oksida
yang terbentuk. Lapisan oksida yang terbentuk pada peningkatan arus yang tidak
optimal menyebabkan lapisan yang terbentuk tidak merata.
TINJAUAN TEORITIS
Korosi adalah suatu peristiwa kerusakan permukaan pada barang-barang
yang terbuat dari logam yang berlangsung dengan sendirinya akibat adanya
interaksi antara barang tersebut dengan lingkungan tempatnya berada.Peristiwa ini
sangat tidak dikehendaki karena dapat merusak tidak hanya fungsi namun juga
penampilan barang.Pengertian korosi yang lebih luas tidak hanya menyangkut
masalah perkaratan saja namun juga diartikan sebagai rusaknya bahan/konstruksi
logam akibat pengaruh lingkungan.Sering kali pada kondisi lingkungan tertentu
konstruksi logam mengalami kerusakan yang sangat parah meski tidak terbentuk
karat sedikitpun.

Universitas Indonesia

Korosi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari yang sederhana dan
dapat dilihat dengan kasat mata sampai pada bentuk-bentuk yang rumit dan hanya
dapat dideteksi dengan suatu peralatan khusus. Meskipun terjadinya korosi
merupakan proses alamiah yang berlangsung dengan sendirinya dan tidak dapat
dicegah secara mutlak, namun pencegahan dan penanggulangannya tetap
diperlukan.
Ditinjau dari segi termodinamika, korosi merupakan proses yang sangat
alamiah. Pada dasarnya semua logam tidak stabil. Logam murni cenderung
bereaksi dengan lingkungan di mana logam murni berada dan membentuk
senyawa oksida atau karbonat yang lebih stabil. Reaksi tersebut merupakan reaksi
elektrokimia di mana terjadi perpindahan elektron. Kecenderungan logam untuk
melepaskan elektron berbeda satu sama lain; semakin besar kecenderungan
tersebut semakin reaktif logam yang bersangkutan.
Pada umumnya terdapat beberapa jenis korosi yaitu, korosi galvanic,
korosi menyeluruh, korosi selektif, korosi intergranular, korosi sumuran. Semua
jenis korosi tersebut mengacu deret sel volta. Korosi pada lingkungan air laut
adalah korosi sumuran. Korosi sumuran pada aluminium biasanya membentuk
endapan yang berupa Al(OH)3 dan asam chloride. Sumuran terjadi ketika lapisan
oksida pada aluminium terkikis akibat beberapa faktor.
Penumbuhan lapisan oksida dapat dengan cara anodisasi. Anodisasi
merupakan proses elektrokimia sederhana. Anoda dan katoda dihubungkan pada
medium asam elektrolit berupa H2SO4 agar terjadi perpindahan ion. Perpindahan
ion menyebabkan tumbuhnya lapisan oksida yang terjadi akibat reaksi anoda dan
katoda. Faktor pertumbuhan lapisan oksida dipengaruhi oleh lamanya proses
anodisasi dan tegangan yang diberikan saat anodisasi. Lapisan oksida yang
terbentuk linear terhadap waktu dan tegangan anodisasi. Semakin besar tegangan
dan lama waktu yang diberikan akan meningkatkan ketebalan lapisan oksida.
(Henley V.F. ,1981). Besar tegangan dan lama waktu anodisasi yang terlalu besar
nilainya dapat membuat lapisan oksida rusak atau dinamakan burning.

Universitas Indonesia

Burning adalah peristiwa lapisan oksida yang telah mengalami metal


dissolution atau terlepasnya ion logam. Hal ini menyebabkan lapisan yang
terbentuk pada proses anodisasi tidak dapat menahan laju korosi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dimulai dari preparasi sampel aluminium 5083 yang
dipotong dengan dimensi 18 mm x 18 mm x 4 mm sebanyak sepuluh sampel.
Terdapat sembilan sampel yang dianodisasi dan satu sampel tanpa anodisasi.
Sampel yang telah dipotong lalu di ampelas menggunakan grid 500 dan 1000.
Sampel yang akan dianodisasi diberikan pre-treatment dengan aseton dan asam
nitrat setelah hal tersebut sampel dianodisasi dengan variasi tegangan sebesar 10V,
15 V, dan 20 V dan waktu selama 5 menit, 10 menit , dan 15 menit. Sampel yang
telah dianodisasi dilakukan pengujian XRD untuk melihat Al 2O3 yang terbentuk.
Dilakukan pengamatan visual menggunakan mikroskop optik pada sampel yang
dianodisasi maupun tanpa proses anodisasi. Setelah itu dilakukan perendaman
selama 144 jam pada volume larutan yang sesuai dengan ASTM G31-72. Sampel
yang telah direndam selama 144 jam selanjutnya diuji SEM dan Mikroskop optik.
Setelah mendapatkan data tersebut dilakukan analisa dan diskusi. Metode
penelitian secara umum ditunjukkan dalam diagram alir penelitian pada Gambar
3.1.

Universitas Indonesia

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

HASIL DAN DISKUSI


Hasil proses anodisasi dengan variasi tegangan dan waktu yang dilakukan
menghasilkan data berupa ketebalan yang dapat dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1. Grafik ketebalan antara waktu dan tegangan pada proses anodisasi
Ditinjau dari waktu anodisasi Gambar 4.1 menunjukan pada sampel proses
anodisasi 10 V cenderung turun selama proses anodisasi 5 15 menit dan

10

Universitas Indonesia

cenderung naik ketika sampel diberikan tegangan 15 V dan kembali turun saat
proses anodisasi 20 V selama 15 menit. Pada proses anodisasi 10 V lapisan yang
terbentuk cenderung hanya mengalami pertumbuhan lapisan oksida di beberapa
sisi saja atau tidak merata atau lapisan tersebut bukanlah porous( Thompson GE ,
1997).
Sampel pada proses anodisasi 20 V selama 15 menit mengalami penurunan
diakibatkan terjadinya peristiwa burning atau rusaknya lapisan oksida yang
diakibatkan oleh besarnya tegangan dan lamanya waktu proses anodisasi yang
menyebabkan terjadinya dissolution . (Saito, M. and Asoh, H. ,2005)

Gambar 4.2. SEM dengan perbesaran 500X setelah proses anodisasi


Gambar 4.2 mengindikasikan terbentuknya lapisan oksida setelah proses
anodisasi yang ditandai oleh bulatan merah. Bulatan merah menunjukan
terbentuknya porous layer ditandai oleh terbentuknya lubang yang terlapisi oleh
lapisan oksida. Hal tersebut didukung oleh hasil pengujian XRD yang
menunjukkan terdapatnya fasa corrundum dari Al2O3 yang berbentuk crystalline.
(Gambar 4.3)

11

Universitas Indonesia

Gambar 4.3 Hasil pengujian XRD setelah anodisasi


Gambar 4.4 menunjukkan bahwa lapisan oksida yang terbentuk setelah
proses anodisasi lebih cepat dibandingkan lapisan oksida yang terbentuk tanpa
proses anodisasi, dimana lapisan oksida tersebut mengurangi laju korosi.
Sampel 10 adalah sampel tanpa proses anodisasi yang direndam selama
144 jam pada larutan NaCl 3.5%. Hasil menunjukkan sampel 10 memiliki pola
yang linear menurung dibandingkan sampel yang telah dianodisasi. Setiap sampel
yang diukur setiap 24 jam memiliki laju korosi yang berbeda. Pada sampel 10
yang diukur setiap 24 jam hingga 144 jam grafik cenderung turun secara tajam
dibandingkan pada sampel yang telah dianodisasi.
Pada setiap sampel yang telah dianodisasi (sampel 1 sampel 9)
mempunyai pola yang sama terhadap waktu perendaman pada NaCl 3.5% yaitu
pola cenderung naik hingga perendaman dilakukan 96 jam dan turun saat
pengukuran 120 jam hingga 144 jam. Hal ini dikarenakan terbentuknya endapan
garam (Gambar 4.8) yang berwarna putih, sehingga menyebabkan penambahan
massa pada sampel.

12

Universitas Indonesia

Gambar 4.4. Grafik laju korosi vs waktu pada seluruh sampel


Gambar 4.5 menunjukkan grafik antara laju korosi dan waktu perendaman
selama 144 jam. Terlihat secara jelas produk yang diindikasikan sebagai produk
korosi terdapat ada pengukuran 120 jam hingga 144 jam. Sampel yang memiliki
ketahanan korosi yang paling baik diantara sampel yang telah dianodisasi adalah
sampel 8.
Gambar 4.5 terlihat bahwa sampel 8 memiliki perbedaan titik yang tidak
besar setiap pengukuran 24 jam hingga 144 jam jika dibandingkan sampel
lainnya. Sampel 8 memiliki nilai laju korosi yang paling rendah jika dibandingkan
sampel lainnya, yaitu sebesar 0,024430429 mm/y.

Gambar 4.5 Laju korosi antara sampel 1 hingga sampel 9

13

Universitas Indonesia

Gambar 4.6 Laju korosi rerata terhadap waktu dan tegangan proses anodisasi
Gambar 4.7 menunjukkan hasil uji SEM pada perbesaran 500X, terdapat
perbedaan morfologi pada sampel setelah perendaman NaCl maupun tidak
(Gambar 4.2). Gambar 4.7 memperlihatkan bahwa terdapat endapan putih yang
diindikasikan produk korosi hasil perendaman setelah 144 jam yang menyebabkan
terjadinya

kenaikkan

massa

pada

pengukuran

120

jam.

Gambar

4.8

memperlihatkan secara jelas endapan yang terbentuk yang ditunjukkan bulatan


berwarna hitam pada gambar.

Gambar 4.7 Hasil SEM sampel anodisasi setelah korosi pada perbesaran 500X

14

Universitas Indonesia

Gambar 4.8 Hasil SEM sampel anodisasi setelah korosi pada perbesaran 2000X

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian eksperimen dan studi literatur yang mendukung
penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan antara lain sebagai berikut :
1. Pengolahan XRD yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya lapisan oksida
yang terbentuk hasil anodisasi yang berupa fasa corrundum (-Al2O3 ). Hal ini
mungkin saja disebabkan pada sampel aluminium 5xxx memiliki kandungan
Mg yang besar. Sampel yang memiliki lapisan paling tebal adalah sampel 1
dan yang memiliki morfologi lapisan oksida paling stabil adalah sampel 8.
2. Sampel yang tanpa proses anodisasi memiliki laju rerata korosi yang
cenderung linear menurun, hal ini disebabkan oleh lapisan oksida yang kurang
melapisi permukaan logam sehingga lebih cepat terbentuknya endapan pada
sumuran. Hal ini membuktikan atau menunjukan proses anodisasi menahan
laju korosi pada lingkungan yang aggresive .
3. Pengolahan data laju korosi rata rata perendaman setelah 6 hari pada tiap
sampel, disimpulkan bahwa tegangan yang paling konsisten (tidak terjadinya
burning maupun kurangnya lapisan oksida) ditunjukkan oleh tegangan 15 V.
Jika ditinjau secara menyeluruh sampel yang memiliki ketahanan korosi
paling besar adalah sampel 8 yang pada proses anodisasi diberikan tegangan
sebesar 20 Volt selama 10 menit.

15

Universitas Indonesia

4. Sampel yang telah di anodisasi dan diuji korosi memiliki pola yang beragam
terhadap laju korosinya. Sampel yang telah dianodisasi pada tegangan 20 Volt
15 menit memiliki laju korosi yang lebih besar dibandingkan dengan 20 Volt
10 menit, hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa burning pada lapisan
oksida sehingga lapisan oksida rusak dan lebih rentan terhadap korosi
sumuran.
SARAN
Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan penelitian ini kepada
peneliti selanjutnya yaitu :
1. Perlunya pengujian SEM yang dapat membedakan lapisan oksida yang
terbentuk pada variasi dan tegangan tertentu.
2. Perlunya pengujian XRD setelah korosi agar mengetahui kandungan setelah
diuji korosi pada sampel seperti apa.
3. Perlunya dilakukan uji mekanik untuk mengetahui korelasi antara pelapisan
tersebut terhadap kekuatan mekaniknya dan membandingkan dengan sampel
tanpa pelapisan.

16

Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Davis J.R (1993), Aluminium and Aluminium Alloys (4th ed) .ASM international.
Despic_, A. and Parkhutik, V.P. (1989) in Modern Aspects of Electrochemistry, (eds J.OM.
Bockris, R.E. White and B.E. Conway), Plenum Press, New York and London, Vol.
20, pp. 401503.
Fontana M. G. (1967), Corrosion Engineering Mc Graw Hill books Coy, New York
George J. Binczewski (1995). "The Point of a Monument: A History of the Aluminum Cap of
the Washington Monument"
Henley V.F. (1981), Anodic oxidation of Aluminium and its Alloys Pergamon press,
London.
Shackelford, J.F.: Introduction to Materials Science for Engineers, 7th Edn., Pearson Prentice
Hall, Upper Saddle River, New Jersey, 2009, p. 182.
Sheasby P.G ,2001, the surface treatment and finishing of Aluminium and its Alloys 2 (sixth
edition), UK: ASM international and finishing publications.
Thompson GE (1997) Porous anodic alumina: fabrication, characterization and applications.
Thin Solid Films 297(12):192201)
Uhlig H. H ,1962, Corrosion and corrosion control John Wiley & sons, London.
Vargel, C. (2004). Corrosion of Aluminum, In: Corrosion of Aluminum Elsevier, London, pp.
92-96-97, 124
Wernick, S., Pinner, R. and Sheasby, P.G. (1987) in The Surface Treatment and Finishing of
Aluminium and its Alloys, ASM International, Finishing Publication Ltd., 5th
edition, pp. 289368

17

Universitas Indonesia